18px

Pesta Seks di Kolam Renang

Pesta Seks di Kolam Renang

Setelah itu, Sony turun dan langsung berjalan dengan santai menuju kolam. Batang kemaluannya tetap mengacung ke depan dengan telur kembarnya bergoyang sana-sini. Dia melihat cewek-cewek itu sedang asyik dengan kegiatan masing-masing. Dia mencari di mana Rini berada. Oh, di situ rupanya. Rini sedang asyik menjilati kemaluan tantenya dengan posisi menungging, sementara dari belakang Tante Sari menjilati kemaluan Rini. Mereka menjerit-jerit keenakan. Sementara itu, Tante Nadya asyik menjilati kemaluan Tante Ratih yang berbaring di atas mulutnya. Tante Ratih merintih, "Ohh..." Mereka semua tidak tahu akan kedatangan Sony.

"Hai, cewek! Siapa yang mau batang kemaluan? Ayo ke sini!" teriak Sony sambil memegangi batang kemaluannya yang berdiri kokoh.

Semua mata langsung tertuju ke batang kemaluan Sony yang memang luar biasa. Mereka menghentikan kegiatan masing-masing, lalu berlarian ke arah Sony. Rupanya mereka ingin merasakan batang kemaluan itu. Kekasihnya sendiri, si Rini, sampai tidak percaya bagaimana batang kemaluan "Yayang"-nya bisa dua kali lipat besarnya dari biasanya. Padahal dengan ukuran biasa saja Rini sudah dibikin "KO", apalagi sekarang. Lalu dia berjalan menghampiri Sony yang sedang dikeroyok banyak cewek.

"OK, semuanya nanti akan dapat. Ayo, Tante-Tante berbaris sejajar dengan posisi menungging, ya!" teriaknya.

"Sony sayang, kamu pakai obat ya? Kontolmu jadi besar dua kali lipat dari biasanya," bisik Rini.

"Rini sayang, kamu ikut baris ya, nanti kamu dapat giliran pertama. Eh, Rini sayang, kamu harus tahan sakitnya, ya!" bisik Sony sambil dikecupnya bibir pacarnya itu.

Begitulah, mereka semua berbaris sejajar dengan posisi menungging — yang paling ujung Rini, disusul Tante Nadya dan seterusnya. Dengan perlahan Sony menghampiri Rini.

"Maaf Tante-Tante, Sony mulai dari pacar Sony sendiri dulu, ya," ucapnya.

"Huu, huu, KKN nih!" teriak mereka semua.

Tapi tak digubris oleh Sony. Saat Sony mulai beraksi, Rini tidak menolak. Tiba-tiba dia merasakan batang kemaluan Sony dipukul-pukulkan pada pantatnya, membuatnya kegelian. Lalu batang kemaluannya diserudukkan ke liang kemaluan Rini, tapi sulit sekali. Dia coba lagi dan gagal. "Aah, seret sekali, kayak perawan," kata Sony.

Rini menjerit, "Auwww!" Lalu Rini berbalik membantu Sony dengan mengoleskan air ludahnya pada batang kemaluan itu, tapi masih juga tidak berhasil menerobos liang kemaluannya. Rini menyaksikan Sony berusaha lagi, dan perlahan kepala batang kemaluannya masuk ke lubang kemaluan Rini yang sempit. Rini merasakan sedikit pedih.

"Sony sayang, sudahlah. Batang kemaluanmu tidak bisa masuk, terlalu besar sih," pinta Rini.

"Sebentar sayang, tahan dulu ya. Ini sudah masuk kepalanya, tahan sayang..." jawabnya sambil terus mendesak lubang kemaluan Rini.

"Sreet... sret... sreett..."
"Aauuwww..."

Rini menjerit merasakan batang kemaluan Sony seakan tembus hingga ke perutnya. Digerak-gerakkan pantatnya, Rini kegelian. Meskipun hanya setengah yang masuk, liang kemaluannya akhirnya banjir juga dan dia merasakan kenikmatan saat batang kemaluan Sony maju mundur di dalamnya. Sesekali pantat Rini ditepuk Sony untuk menambah semangat, sementara susu Rini dibiarkan bergelantungan bebas dan tangan Sony sibuk memegang pinggul Rini, memaju-mundurkan pantatnya. Saat batang kemaluan masuk dalam, Rini terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali Sony menciumi punggung Rini yang ditumbuhi bulu-bulu halus, sementara batang kemaluannya terus bergerak keluar-masuk. Rini pun berusaha menggerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan sehingga batang kemaluan Sony yang cuma setengah masuk itu terasa terjepit kuat.

Sony semakin cepat memaju-mundurkan batang kemaluannya.

"Ohh... oohh... Rini, sudah mau keluar nih... ohh... Sonn... sshh... aahh..."

Goyangan Sony sudah tidak beraturan.

"Ohh... Sonn, kau sungguh perkasa... aahh..."

Sony mempercepat goyangan.

"Aahh... Rini... keluar sayang... oohh..."

Rini menggelinjang dengan hebat, dan Sony merasakan cairan hangat keluar membasahi pahanya.

Sony hanya butuh sepuluh menit untuk meng-"KO" Rini, padahal biasanya sampai berjam-jam.

Kemudian giliran Tante Nadya. Tampak oleh Sony kemaluan tantenya dengan bibir kenyal yang sudah agak menggelambir itu begitu basah dan mulai membengkak. Sony mendorong sedikit tubuh tantenya ke depan sehingga pantatnya agak naik, yang lebih memudahkan batang kemaluannya untuk melakukan tusukan ke dalam. Setelah itu langsung disodoknya batang kemaluannya ke lubang kemaluan yang menganga itu. Tubuh Tante Nadya terhenyak hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya sodokan Sony, sementara mulutnya menjerit kecil. Dalam sekejap, batang kemaluan Sony yang besar itu masuk seluruhnya, ditelan oleh lubang kemaluan yang langsung menjepit kuat. Jepitan yang berdenyut-denyut itu semakin menambah gairah Sony yang memang sudah menggelora.

"Ahh... Son, kamu lebih perkasa dari dulu... ohh... ya... teruskan... ohh..." rintihnya.

Sony menarik batang kemaluannya dengan cepat sampai hampir keluar, lalu ditusukkan kembali dengan cepat. Kemudian ditarik dan disodokkan lagi, berulang-ulang tanpa henti. Dorongan yang keras ditambah sensasi kenikmatan yang luar biasa membuat Tante Nadya beberapa kali nyaris terjerembab. Rini yang tadi terkapar pun tidak mau ketinggalan beraksi. Sony melihatnya duduk mengangkang di hadapan Tante Nadya, memamerkan lubang kemaluannya yang kembali basah. Tante Nadya langsung menyambar lubang kemaluan yang mulai berdenyut-denyut keras itu.

"Iiihh... Tante... aahh!" Rini menjerit sekeras-kerasnya.

Tante Nadya mencucukkan lidahnya masuk ke dalam lubang kemaluan Rini yang semakin banjir saja. Semakin lama semakin dalam merambah seluruh dinding lorong kenikmatan yang begitu licin. Setiap sentuhan lidahnya pada permukaan dinding yang basah dan mengkilap itu ibarat tegangan listrik jutaan volt yang menyetrum Rini. Seketika tubuh Rini mengejang ke belakang. Susu montok yang menggantung kencang di dadanya kelihatan semakin membusung. Tangan Sony yang menggapai untuk memegang kedua bukit kembar yang menggairahkan itu tidak berhasil mencapainya — jaraknya terlalu jauh, sementara Sony masih sibuk menyetubuhi Tante Nadya. Dengan sedikit mengejang, Sony menggenjot batang kemaluannya kembali ke dalam lubang kemaluan tantenya sekuat-kuatnya. Tantenya pun makin memperganas serangan lidah dan mulutnya pada kemaluan Rini.

Akhirnya, dalam waktu lima menit, perjuangan Sony membuahkan hasil. Tante Nadya melenguh panjang — itu tandanya dia telah mencapai klimaks. Bersamaan dengan itu, Rini pun mencapai klimaksnya, lalu kembali terkapar. Cairan tantenya yang agak bening muncrat ke paha Sony.

Wuih, benar-benar hebat Sony — sudah dua orang korbannya yang terkapar.

Sekarang giliran Tante Sari yang sudah menungging, dan tampak jelas lubang kemaluannya beserta lubang anusnya. Sony tidak langsung memasukkan batang kemaluannya yang dari tadi masih berdiri tegak itu, tapi mempermainkan lidahnya di sekitar kemaluan dan kedua pantatnya. Samar-samar terdengar desahan Tante Sari. Segera batang kemaluannya ditempelkan di permukaan lubang kemaluannya. Terdengar desahan Tante Sari menguat, dan Sony mulai menggerakkan batang kemaluannya maju mundur. Nikmat sekali, meskipun tidak bisa masuk semua karena batang kemaluan Sony terlalu panjang. Tante Sari tampak menikmatinya dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian, Tante Sari menjerit dan...

"Crot... crit... cret..."

Lendir hangat kembali membasahi batang kemaluan Sony. Lalu pelan-pelan Sony kembali menggerakkan batang kemaluannya maju mundur. Sony iseng melihat lubang dubur Tante Sari yang agak mencuat keluar, lalu dicobanya memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang dubur yang basah itu. Terdengar rintihan kecil, "Ssstt... ah, Son, pelan-pelan dong!" Rintihan itu justru membuat Sony semakin bergairah. Tiba-tiba Sony ingin sekali mencoba menikmati lubang dubur yang kelihatannya masih "perawan" itu. Pelan-pelan batang kemaluannya yang masih basah dan licin itu ditariknya keluar dari lubang kemaluan Tante Sari. Kepala batang kemaluannya yang mengeras ditempelkan di permukaan lubang dubur tantenya, lalu Sony mencoba menekan masuk. Karena licin oleh cairan tadi, kepala kemaluannya segera melesak ke dalam. Tante Sari mengeluh, "Akhh... aduh, Son... sst, ohh..." Sony berhenti sesaat, dan Tante Sari bertanya, "Kok dimasukin di situ, Son? Sakit?"

Lalu Sony menarik batang kemaluannya keluar dari lubang dubur itu dan beralih ke Tante Ratih. Tampaklah pantat dan kemaluannya merekah dan basah. Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Sony menjilati kemaluannya dan lubang pantatnya terlebih dahulu. Cairan dari lubang kemaluan Tante Ratih mulai membasahi bibirnya, ditambah ludah Sony.

Sony mengarahkan batang kemaluannya ke lubang kemaluan Tante Ratih dan menekan masuk perlahan-lahan, sambil merasakan gesekan daging mereka berdua. Suara becek terdengar dari pertemuan batang kemaluan dan lubang kemaluan. Cukup lama Sony memompanya. Lima menit kemudian...

"Ohh... Sonn... aku... keluuaarr... ahh... yes..."

Muncratlah cairan membasahi paha Sony untuk keempat kalinya.

"Oh, Sony, kau sungguh hebat... aduh, nikmatnya..."

Hingga saat itu Sony masih perkasa. Dia menghampiri Tante Tiara yang lebih "semok" dengan gumpalan pantat yang begitu montok. Sony langsung meremas-remas pantat Tante Tiara dengan bersemangat.

"Auuh..." Tante Tiara mendesah kecil.

Kemudian kaki Tante Tiara direnggangkan sedikit sampai terlihat lubang kemaluannya dari bawah. Sony langsung menusukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang kemaluan itu, dan keduanya dapat masuk dengan mudah. Pada usianya sekarang, kemaluan Tante Tiara memang sudah agak lebih lebar dibanding dulu, tetapi masih cukup sempit dan lentur. Sony mempermainkan jari-jarinya di dalam.

"Iiih... Sony... uuhh!" jerit Tante Tiara liar.

Apalagi setelah Sony mulai menjilati kemaluannya dengan lidahnya.

"Aaahh... Soonnyy!" Tante Tiara menjerit panjang.

Sony menyodokkan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan Tante Tiara, sementara tangannya mulai berpetualang di dadanya. Diremas-remas susu yang kenyal itu — terasa pas di tangan. Sony jadi ingat saat bermain bola voli, bolanya pas di tangannya. Tak ketinggalan pula puting susu yang begitu cepat menegang turut menjadi korban keganasan tangannya.

Sony terus memompa batang kemaluannya masuk-keluar di lubang kemaluan Tante Tiara dengan cepat, makin lama makin cepat. Sampai-sampai bunyi kecipak-kecipak akibat selangkangan mereka yang berbenturan cukup keras terdengar jelas. Tiba-tiba lubang kemaluan Tante Tiara menjepit batang kemaluan Sony dengan sangat kuat. Tubuh Tante Tiara mulai menggelinjang, napasnya mulai tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

"Ohh... oohh... Tante sudah mau keluar nih... sshh... aahh..."

"Aahh, jancuk tenan, Tante keluar, Son... oohh..."

Dia menggelinjang dengan hebat, dan cairan hangat keluar membasahi paha Sony. Dia langsung terkapar dengan lubang kemaluannya yang masih mengeluarkan cairan terus.

Sony berpindah ke Tante Dini yang sudah pasrah menungging. Dari belakang, Tante Dini merasakan Sony mulai menggila menjilati kemaluannya yang kelihatan merekah. Sony menjauh dan napas Tante Dini semakin membesar. Tante Dini terkejut saat lubang kemaluannya digeser-geser oleh batang kemaluan Sony yang besar itu. Tante Dini mengarahkan pantatnya ke belakang, dan Sony justru menjauhkan batang kemaluannya — sebuah godaan yang membuat Tante Dini penasaran ingin merasakannya lagi.

Tante Dini merasakan batang kemaluan Sony kini mulai mendesak liang kemaluannya lagi, lalu terpeleset. Sony tampak kesulitan mengepaskan batang kemaluannya. Kini ujung batang kemaluan itu sudah tepat pada lubang kemaluan Tante Dini, dan perlahan-lahan Sony maju sedikit demi sedikit menuju dinding kemaluannya. Tante Dini menunggu, merasakan gesekan perlahan yang menimbulkan sensasi hebat pada tubuhnya. Saat batang kemaluan Sony sudah seluruhnya mengisi liang kemaluannya, Sony diam sesaat sambil membelai-belai pinggang Tante Dini yang bulat. Tante Dini merasakan semuanya, dan Sony mencengkeram pinggangnya kuat-kuat sebelum mulai bergerak maju mundur membelah kemaluannya. Tante Dini mengimbangi dengan memutar-mutar pantatnya seperti penari perut; Sony mengimbangi dengan sodokan-sodokan gilanya. Pinggul Tante Dini dipakainya sebagai setir — jika ingin gerakan lambat, ditariknya pinggul itu kuat-kuat sehingga Tante Dini tidak bisa bergerak, demikian pula sebaliknya. Tante Dini merasakan telur kemaluan Sony menghantam pantatnya sebelah bawah saat batang kemaluan masuk total. Pantat Tante Dini terus bergerak dan batang kemaluan Sony tidak tinggal diam, semua tenaga telah dikerahkan oleh Tante Dini untuk memperoleh kepuasan maksimum. Tapi lima menit kemudian...

"Ahh... Sonn..."

"Crot... cret..."

Muncratlah cairan Sony membasahi batang kemaluannya dan paha Sony.

Sony masih perkasa. Dia menghampiri Tante Irene yang menunggingkan pantatnya dan minta ditusuk. Sony mulai mengarahkan batang kemaluannya ke lubang kemaluan Tante Irene yang tampak menganga berwarna merah jambu. Sony memegang pinggul Tante Irene dan mengayun pinggulnya dengan irama yang teratur. Sesekali tangannya berpindah untuk meremas susu yang montok. Beberapa lama kemudian napas Tante Irene mulai memburu dan makin menderu seiring semakin kerasnya hentakan Sony. Kemudian Tante Irene mulai mengerang...

"Oohh... aku... ohh... keluarr... ahh..."

"Crot... crit... cret..."

Sony langsung menuju korban terakhir, Tante Nita, yang juga sedang menungging. Lubang kemaluannya yang berwarna merah muda agak merekah. Sony perlahan-lahan menusukkan batang kemaluannya, masuk sepertiga. Tangan kiri Sony meremas-remas susunya yang mulai mengeras. Tante Nita menekan badannya ke belakang sehingga batang kemaluan Sony amblas masuk ke dalam. Sony mulai melakukan aksi tarik-dorong. Napas Tante Nita mulai tak teratur dan cengkeraman tangannya pada tangan Sony semakin kuat.

"Hhh... Son, aku mau keluar... ahhs..."

Muncratlah semua cairan Tante Nita.

Demikianlah kisahku tentang pesta seks yang berlangsung beberapa hari itu. Sungguh menyenangkan.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya