18px

Pesta Seks di Villa Mewah (Bagian 1)

Pesta Seks di Villa Mewah (Bagian 1)

Di suatu pagi di puncak villa kawasan Batu, Malang—sebuah rumah besar bergaya Eropa dengan taman yang sangat indah. Di garasi terdapat tujuh buah mobil, satu di antaranya sebuah limousine. Dinding tembok yang tinggi dan kokoh mengelilingi rumah yang luasnya hampir sepertiga luas Pulau Bali. Di halaman belakang terdapat kolam renang dengan air yang jernih, lapangan tenis, lapangan basket, dan lapangan bola. Di situ terdapat 50 pembantu, semuanya wanita.

Rumah itu memiliki 100 kamar, satu di antaranya adalah kamar utama yang berisi segala macam kemewahan—mulai dari TV 100 inci sampai AC yang membuat kamar sesejuk kutub utara. Di sebuah sudut kamar terdapat tempat tidur berukuran tiga kali tempat tidur biasa. Di situlah tergolek pemandangan yang akan membuat darah kita mendidih.

Di situ tergolek sepasang manusia yang mabuk asmara—keduanya telanjang dengan posisi saling berangkulan. Begitu indahnya. Si cowok bernama Sony dan si cewek bernama Rini. Sony adalah lelaki sejati dengan tubuh tinggi kekar, 180 cm dan 78 kg. Ditambah ukuran batang kemaluannya yang lumayan panjang—sekitar 17 cm dengan diameter 12 cm. Pasangannya, Rini, bertubuh seksi dengan kulit seputih salju, tinggi 175 cm dan berat 60 kg. Wajahnya secantik tokoh Marimar, rambutnya panjang indah tergerai, hidungnya mancung, bibirnya sensual, lehernya jenjang, payudaranya montok dan teracung sekitar 36C, perutnya datar dan kencang, pinggangnya langsing, pantatnya semok. Dan kemaluannya—tampak daging vagina yang memerah segar dengan bibir yang sempit, dikelilingi bulu kemaluan yang halus rapi membentuk segitiga. Terpelihara baik, bersih, sempurna.

Lima menit kemudian terdengar bunyi weker dengan nyaringnya. Sony mendadak terbangun dari tidurnya. Dia melihat Rini yang masih tertidur pulas di sebelahnya, lalu mengamati wajah pacarnya itu dengan seksama—mencium keningnya, lalu bibirnya yang sensual. Rini pun terbangun dan kaget melihat Sony memandangnya penuh arti.

"Sony sayang, kenapa memandangku seperti itu?" tanyanya penasaran sambil tangannya memilin puting susu Sony.

"Tidak kok, Sayang—aku cuma kagum dengan kecantikanmu yang tiada duanya ini," jawab Sony sambil mencium mesra bibir Rini.

"Oh, Sony Sayang, aku tercipta memang untuk kamu seorang—aku milikmu seutuhnya, Sony," jawabnya sambil memeluk tubuh Sony.

"Oh, Rini sayang—kau memang bidadariku. Oh, I love you so much, honey. Oh, my baby, my darling..."

Mereka berdua saling peluk dan dekap—sungguh indahnya. Tapi beberapa menit kemudian telepon berbunyi; keduanya sempat tersentak karena sedang asyik bertempur. Telepon diangkat Rini.

"Halo?"

"Halo, bisa bicara dengan Sony?"

"Ini dari siapa ya?"

"Saya tantenya Sony—Tante Nadya di Surabaya."

"Tunggu sebentar!"

"Sayang, ada telepon dari tantemuq—di Surabaya."

"Tante siapa, Sayang?"

"Katanya Tante Nadya."

"Oh, baiklah—biar kuterima, Sayang."

"Halo, Sony di sini."

"Halo, Sony keponakanku sayang! Bagaimana kabarmu sekarang—dan tadi itu siapa? Nah, ketahuan ya? Pasti cewekmu. Tante bisa menebak—pasti kalian berdua sekarang dalam keadaan bugil... hayo, ngaku!"

"Aduh, Tante gimana sih—masa pagi-pagi sudah ngomong jorok. Sony baik-baik saja kok. Dan terus terang, cewek tadi itu memang cewek Sony."

"Gimana, Son—memeknya tentu lebih enak dari punya Tante, iya kan? Tante senang keponakan Tante tersayang sekarang telah berbahagia."

"Tante, please—jangan ungkit masa lalu, OK. Oh ya, Tante ada perlu apa?"

"Oh ya, lupa—sorry, Son. Tante kelepasan. Begini, Son: Tante mau minta tolong sama kamu. Tante mau pinjam tempat tinggal, sehari saja. Boleh khan?"

"Untuk apa, Tante? Sony jadi bingung."

"Begini, Son—Tante dengan teman-teman Tante ingin mengadakan pesta sesama anggota 'Lesbian'. Boleh kan?"

"Apa? E—tidak, Tante. Sony tidak mengizinkan Tante mengadakan pesta itu. Tante tahu kan sekarang Sony sudah tidak sendirian lagi? Gimana dengan Rini—dia akan merasa kecewa dan bisa-bisa kami berdua akan berpisah selamanya. Padahal Sony sangat mencintai Rini."

"Sony, ingat kejadian sewaktu kita berdua masih tinggal seatap dulu. Kalau kamu tidak mau, Tante akan menyerahkan kaset video tentang kita kepada Oom kamu—dan tentunya nanti akan sampai ke tangan ibu dan ayah kamu. Bagaimana, Sony—kamu pilih kehormatan atau mengizinkan usul Tante tadi?"

"Jaa... ddii—oh my God, Tante tidak adil sama Sony. Tante curang—saya melakukannya karena Tante yang mulai. Tapi... ok, ok, ok deh. Tante menang kali ini. Sony akan pikirkan dulu—nanti Sony akan telepon lagi."

"Ingat, Sony—besok kamu harus telepon Tante. Soalnya acaranya akan dilaksanakan hari Minggu lusa, dan tentunya kamu harus ikut dalam pesta itu."

"Ya... ya, Tante. Nanti Sony akan telepon. OK, Tante, bye."

Tubuh Sony menjadi lunglai. Dia melihat Rini dengan tubuh bugilnya tertidur lagi. Sony duduk di tepi tempat tidur; pikirannya melayang tentang kejadian saat dia dan tantenya melakukan hubungan yang tidak seharusnya. Sony sangat menyesal akan kejadian itu.

Tanpa dia sadari, Rini bangun dari tidurnya lalu mendekap tubuh Sony dari belakang dengan penuh kelembutan.

"Sony sayang, ada apa? Kok kelihatannya sedih?" kata Rini sambil mencium pundak Sony dengan mesra.

"Rini sayang, boleh aku berterus terang sama kamu? Tapi aku mohon kamu jangan marah. Ingat cinta kita berdua, OK Sayang..." katanya sambil mencium tangan Rini.

"Ya, tentu dong, Sayang—aku akan terima apapun yang akan kau katakan," jawab Rini seraya menghibur Sony.

"Eehhmm... tadi itu Tante Nadya—istrinya Oom-ku, kakak ibuku. Aku dulu sewaktu masih kuliah tinggal dengan Oom dan Tante-ku itu. Kamu tahu kan, aku dulu itu bagaimana—kalau melihat body cewek seksi sedikit saja aku pasti tertarik, walaupun dia sudah kepala empat sekalipun."

"Terus..."

"Stop, Sayang—aku kayaknya sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kalau saya tidak salah tebak, kamu pasti ada 'main' sama Tante kamu ya, kan?"

"Oh my God, Rini—bagaimana kau bisa menebak jalan pikiranku? Aku menyesal sekali karena perbuatanku itu. Rini sayang, apakah kamu masih mau jadi kekasihku?"

"Sony sayang, aku sudah menyerahkan 'mahkota'-ku padamu—tentu karena aku sangat mencintai kamu. Dan Rini ingin selamanya ada di samping kamu, Sayang," jawab Rini sambil berdiri di depan Sony.

Sony merasa menyesal lalu memeluk Rini erat di pinggangnya. Rini mengelus-elus rambut Sony.

"Sudah, Sayang! Rini tidak akan meninggalkan kamu."

"Ohh, Rini sayang—sungguh mulia hatimu."

Sony menitikkan air mata untuk kedua kalinya.

"Tapi, Rini sayang—masih ada lagi persoalan yang lebih rumit dari ini."

"Sony sayang, kan Rini sudah bilang—apapun persoalannya tidak sulit bagi Rini. Ayo, katakan saja—mungkin Rini bisa membantu!" jawabnya tegas.

"Eee... begini, Sayang. Tadi Tante Nadya minta izin untuk mengadakan pesta di tempat kita."

"Sony sayang, khan cuma pesta biasa—biarin saja, tidak apa-apa. Masa sama tantenya sendiri kok gitu?"

"Rini sayang, itu bukan pesta biasa. Itu pesta seks sesama anggota Lesbian yang mewajibkan semua orang yang ikut harus telanjang. Dan nanti aku akan jadi barang mainan bagi mereka—aku harus melayani semua teman-teman Tante, sekitar tujuh orang termasuk dia sendiri. Tadi sebetulnya sudah saya tolak, tapi dia mengancam akan memberikan kaset video tentang hubungan kami dulu kepada Oom-ku. Aduh, mati aku..."

"Sony sayang, benarkah kaset itu ada?"

"Benar sekali, Sayang. Tante orangnya memang agak licik. Aduh, gimana dong—besok saya harus mengambil keputusan."

"Sony sayang, mungkin inilah ujian bagi Rini. Kita berdua tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tante kamu memang lihai. Benar juga nasihat ibu kamu—semakin cantik seorang wanita, semakin licik dan kejam dia."

"Terus kita harus bagaimana ini, Sayang?" Sony memeluk tubuh Rini.

"Kalau begitu, Rini terpaksa memberi izin sama kamu. Rini tidak mau kamu putus hubungan dengan orang tua kamu—dan Rini juga tidak ingin kehilangan kamu, Sayang."

"Ohh, Sayang—betapa mulianya cintamu. Aku sangat bahagia punya pacar seperti kamu."

"Tapi dengan syarat—Rini harus ikut juga, karena Rini nanti akan merekam semua yang terjadi. Jadi nanti bila terjadi apa-apa, kita siap dengan pembelaan kita."

"Eee, Sayang—kamu licik juga rupanya. Tapi boleh juga usulmu. Jadi kamu rela punyaku diobok-obok mereka?" kata Sony sambil mengecup bibir Rini.

"Sony sayang, Rini rela—asalkan Sony bahagia," ucap Rini manja, lalu memeluk Sony dengan mesranya.

"Terus bagaimana dengan pembantu-pembantu kita, Sayang?"

"Besok kita suruh saja mereka membersihkan rumah kita yang ada di Malang—biar mereka sibuk di sana dan tidak mengganggu kita. OK!"

"Wah, Rini sayang—aku sungguh bahagia sekali punya pacar seperti kamu. Kamu cerdas dan uhuuii..." kata Sony sambil mengecup puting susu Rini yang memang teracung itu.

"Ahh, kamu nakal ya—awas, aku gigit kontolmu nanti!" ancam Rini.

"Gigit aja—siapa takut!" tantang Sony sambil terus menjilati puting itu.

Secepat peluru, Rini memegang batang kemaluan Sony yang sudah tegang itu lalu digigitnya kepala kemaluan yang besar itu.

"Auwww! Sakit, Sayang!"

"Katanya tadi mau digigit—mau lagi, ayo!"

"Kamu tega ya... aku nangis nih... ooeekk, ooeekk!"

"Aduh, Sayang... cup, cuup, cupp—jangan nangis. Ini, minum 'susu' dulu ya," kata Rini sambil merapatkan kepala Sony ke payudaranya yang montok.

Sony menjulurkan lidahnya dan menjilati ujung puting sensitif itu.

"Uuuhh... oohh..." Rini mulai mendesah sambil menggelinjang.

Sementara mulut Sony melumat puting payudara kirinya, tangannya memilin-milin puting yang satu lagi. Tubuh Rini semakin menggeliat merasakan kenikmatan yang tak terhingga. Puting susu Rini langsung tertelan mulut Sony dan digelitiki dengan buasnya oleh lidahnya, membuat mata Rini mendelik-delik keenakan. Dengan kecupan dan sedotan yang bertubi-tubi, seluruh bagian ujung payudara itu menjadi basah kuyup. Dari puting kiri sampai puting kanannya—semua mendapat perhatian Sony.

"Sonn... auuhh..." Rini mendesah dan menjerit keenakan tak terkendali.

Tubuhnya yang tengah dilanda hawa nafsu menggeliat-geliat tak tentu arah. Sony pun tidak mau kalah—dia jilati lembah di antara kedua bukit membusung di dada Rini, sementara jari-jemari kedua tangannya memainkan kedua puting di puncak bukit-bukit tersebut.

Puting susu Rini yang tinggi dan runcing kembali menjadi santapan lezat mulut Sony. Bunyi kecepak-kecepak dan seruput-seruput terdengar dari mulut Sony yang terus-menerus melumat dan menghisap puting susu Rini. Tubuh Rini pun dilengkungkannya ke atas, membuat payudaranya semakin mencuat—yang tentunya semakin membuat gairah birahinya membulak-bulak. Sedotan-sedotan Sony pada puting susu Rini semakin menjadi-jadi, seakan tidak mau melepaskan benda antik yang begitu menggairahkan ini.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya