18px

Bab 1

Petualangan di Rental Internet Bersama Deasy

Cerita ini berdasarkan pengalaman saya yang sebenarnya; nama dan tempat pun asli, kecuali nama hotel dan taksi yang tidak saya sebutkan sesuai kode etik. Nama saya Andi, berasal dari keluarga sederhana. Saya tiga bersaudara, anak tertua, dengan dua adik perempuan yang keduanya sudah menikah dan menetap bersama suami masing-masing di Surabaya dan Malang. Saya tinggal bersama kedua orang tua yang sudah pensiun dari sebuah departemen di Lombok Barat.

Wajah saya biasa saja, tidak terlalu tampan. Tinggi 160 cm, berat 50 kg, kulit sawo matang. Saya pernah kuliah di perguruan tinggi swasta mengambil ilmu komputer hingga tamat, tapi sampai sekarang belum mendapat pekerjaan tetap padahal umur sudah 33 tahun. Pekerjaan sehari-hari sebagai free tour guide atau pengantar turis domestik lepas yang artinya tidak tetap — mengantar turis nusantara kalau ada orderan, tapi saya bukan gigolo.


Tiga bulan yang lalu saya kedatangan tante saya, Tante Ratna, beserta anaknya, Deasy. Tante Ratna adalah adik ibu saya yang ketiga. Ia datang untuk menghadiri seminar mewakili perusahaannya sekaligus berlibur selama sepuluh hari, dan mengajak Deasy. Deasy berumur kira-kira 20 tahun, tinggi 170 cm, berat 55 kg, dengan kulit lebih putih dari ibunya — seperti kulit wanita Tionghoa. Wajahnya cantik dan dadanya padat, berukuran sekitar 38A sesuai postur tubuhnya, mirip penyanyi dangdut Nita Thalia.

"Oh ya, Des, kita mau ke mana?"
"Saya mau kirim email, Mas."
"Beres, saya jemput jam 08.15 ya, kita ke rental internet di Mataram."

Pagi itu Deasy mengenakan setelan kemeja lengan pendek dan rok span di atas lutut warna krem yang menambah seksi tubuhnya. Kemeja itu membalut payudaranya dengan ketat. Kapan saya mendapat kesempatan untuk menikmati tubuhnya? Ah, itu mustahil. Tapi kesempatan itu datang tiba-tiba di rental internet favorit saya.

"Hei.. Mas Andi ngelamun aja, kita sudah sampai nih!"
"Oh.. ya," jawab saya tergagap-gagap.

Saya arahkan Deasy untuk mengambil tempat di pojok rental internet itu — siapa tahu ada kesempatan. Di pojok tersebut tidak terlalu lebar dan biasanya masih sepi sampai pukul 11.25. Jadilah kami duduk berdekatan; saya mencium aroma wangi parfum Deasy.

"Mas, tolong ambilkan disket saya yang jatuh."
"Mana, Des?"
"Itu, dekat kaki meja," jawab Deasy sambil terus mengetik emailnya.

Saya berjongkok untuk mencari disket itu. Disketnya ketemu, tapi yang menarik perhatian bukan disketnya — melainkan kaki Deasy yang begitu putih dan mulus, dan lebih ke atas, pahanya terlihat separuh karena roknya yang pendek. Saya menarik napas dalam-dalam; kemaluanku mulai bangun, celana saya pun terasa sesak.

"Mas, sudah ketemu belum disketnya?"
"Belum.." jawab saya sekenanya, padahal disket sudah di tangan, sambil menikmati paha yang begitu indah itu.

Tiba-tiba Deasy menggerakkan kakinya, mungkin karena pegal. Namun hal itulah yang membuat saya berdebar-debar dan melotot: rok Deasy yang tadi menampakkan paha setengah kini tersingkap hingga ke dalam, termasuk celana dalamnya yang berwarna putih bergambar hati merah. Sungguh pemandangan yang indah. Celana dalam itu kelihatan kembung dan... mmh.

"Ketemu, Mas?"
"Sudah, nih," jawab saya karena sudah tidak tahan — kemaluanku rasanya mau keluar saja.
"Gimana, Des?"
"Tinggal dikit lagi, Mas, ngetiknya."

Saya bergeser lebih dekat sambil tangan kiri merangkul bahunya. Semakin saya mengingat celana dalam putih Deasy dan pahanya yang begitu mulus, saya semakin terangsang. Saya arahkan tangan untuk membelai payudaranya yang masih kencang.

"Jangan, Mas.." sambil tangannya menepis tangan saya.

Saya turunkan kembali tangan kiri dan bertanya-tanya dalam hati, marah tidak ya Deasy? Beberapa menit kemudian—

"Mas, tolong dong pijitin bahu Deasy, pegal nih."
"Beres."
"Tapi jangan macam-macam lho."
"Nggak, Mas cuma satu macam kok, he he.."

Sambil terus memijat, saya mencari kesempatan untuk mengulangi lagi. Deasy kelihatan sudah enjoy. Dengan perlahan-lahan, kedua tangan dari bahu merambat turun ke depan membelai payudaranya sambil saya mencium lehernya.

"Jangan, Mas.." jawab Deasy sambil berusaha menyingkirkan tangan saya.

Tapi sudah kepalang tanggung. Tangan saya yang tadinya membelai kini meremas secara perlahan, disertai ciuman dan jilatan pada leher yang putih mulus itu. Deasy tampak kegelian dan semakin lama semakin tidak berkonsentrasi.

"Jang.. an.. Mas.. geli." Tangannya tidak jadi menepis tangan saya, malah memegang kedua tangan saya.

Saya lepas tangan kanan kemudian meraba paha kanan Deasy dan berusaha menyelinap ke dalam rok spannya. Beberapa saat kemudian saya teruskan ciuman ke pipi, lalu ke mulutnya — dan tanggapannya di luar dugaan: Deasy melumat bibir saya dengan ganasnya dan lihai mempermainkan lidah. Kami berpagutan dan saling meremas. Kemudian saya buka kancing kemejanya dan bra-nya yang berwarna merah jambu.

Setelah terbuka, terpampang payudara yang tegak menjulang, putih bersih, dan harum. Langsung saja saya jilat payudara sebelah kanan sambil meremas yang kiri, bergantian saya gigit putingnya. Deasy semakin melenguh, mendesis, dan semakin mendorong kepala saya lebih dalam untuk menghisap payudaranya. Tangan saya semakin masuk ke dalam roknya, berusaha memasukkan jari ke dalam celana dalamnya, lalu saya usap-usap dan masukkan jari ke dalam vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

"Ssh.. mmh.. shh.. terus, Mas," desah Deasy tak karuan sambil berusaha memasukkan tangannya ke dalam celana saya.

Saya tengok ke kanan — persewaan internet itu masih kosong, maklum masih pagi. Ini kesempatan! Saya buka celana jin karena kemaluan saya sudah berdiri dari tadi bagaikan Monas.

"Des, kita ngentot di sini ya?" tanya saya sambil membuka bra-nya yang merah dan harum.
"Nanti dilihat orang lho, Mas.. ssh.. mmh," katanya terengah-engah sambil terus mengocok-ngocok kemaluan saya.
"Nggak dilihat orang kok, Des. Mas udah nyiapin kondom nih," seraya kutunjukkan kondom model sungut lele.
"I.. ya.. Mas.. tapi pelan-pelan ya.. ssh.." katanya terengah-engah sambil jongkok dan mulai menghisap kemaluan saya perlahan, semakin dalam dan semakin cepat.
"Pe.. lan.. Des," saya berusaha memelankan hisapan mulut Deasy yang tak cukup muat.
"Gan.. tian.. ssh.. mmh.. Mas," pinta Deasy sambil melepas kemaluan saya dan duduk.

Saya jongkok dan membuka celana dalamnya yang putih, lalu menjilat sekitar vagina dan bulu-bulu halusnya, kemudian klitorisnya, dan semakin dalam ke dalam vagina sambil saya sodok dengan dua jari keluar-masuk. Beberapa menit kemudian cairan dalam vagina Deasy semakin banyak. Tiba-tiba Deasy memegang dan menjepit kepala saya seraya memuncratkan cairan kental putih — saya kira Deasy sedang orgasme.

"Mas.. ayo pasang kondomnya.. masukkan, Mas.." katanya menarik napas panjang.
"Iya, Des.. Mas Andi udah nggak tahan."

Saya pasang kondom, lalu duduk dan Deasy saya pangku. Saya memegang pinggang Deasy dan berusaha memasukkan kemaluan sambil dibimbing tangan kanannya. Pertama-tama kesulitan masuk lubang vaginanya yang masih agak rapat; baru sodokan kelima berhasil masuk.

"Mas.. pel.. an.. Mas.."
"Lagi dikit, Des," kata saya berusaha memasukkan lagi setengahnya, dan — bless — seluruh kemaluan saya pun masuk sampai mentok vagina Deasy.
"Aduh.. sakit.." lenguh Deasy.

Kedua tangan saya pindah dari pinggang ke payudara Deasy sambil menggenjot keluar-masuk, perlahan lalu semakin cepat.

"Terus.. Mas.. cepe.. tan.. ssh.. msh.." celoteh Deasy tidak karuan.

Saya teruskan genjotan dan semakin mempercepat remasan pada payudaranya. Deasy pun membantu dengan membelai kemaluan saya yang keluar-masuk semakin cepat. Clep.. clep.. begitu kira-kira bunyinya, dan saya sudah tidak tahan lagi.

"Des, Mas Andi sudah mau keluar nih.."
"Tahan.. sebe.. tar.. Mas," kata Deasy memberi aba-aba.
"Ya, sekarang, Mas bareng sama Deasy."

Akhirnya saya peluk Deasy dengan erat, saya sodok dengan cepat keluar-masuk, dan — crot crot — cairan putih kami keluar bersamaan. Saya dan Deasy terkulai lemas. Saya lihat Deasy tersenyum puas sambil kembali memakai bra merahnya dan celana dalam putih bergambar hati.

Sejak saat itu kami sering bercinta tanpa sepengetahuan tante saya. Sebelum kepulangannya, Deasy meminta berenang di pemandian umum di daerah wisata yang bagus dengan hotel yang nyaman.

"Ma, Deasy mau renang nih, boleh, khan?" kata Deasy manja pada ibunya.
"Boleh, asal pulangnya jangan kemalaman ya, soalnya besok kita udah pulang!"
"Beres!" kata Deasy sambil ngeloyor pergi.

Pagi itu saya antar Deasy ke kolam renang. Deasy membungkus tubuhnya dengan kaus kuning ketat model gaul yang memperlihatkan pusarnya, dan celana jeans yang bagian belakangnya menampakkan celana dalam berwarna pink. Mmh, sungguh pemandangan yang segar.

"Mas, Deasy ganti baju dulu!"
"Mas Andi ikutan dong.."
"Boleh aja, terserah Mas."

Wah, ini kesempatan lagi! Masih sepi pagi itu. Kami langsung masuk ke kamar ganti pakaian. Langsung saya peluk Deasy dari belakang sambil meremas payudaranya yang kenyal.

"Eh.. Mas.. nakal.. ah," seloroh Deasy manja sambil membuka celana jeansnya. Saya pun membuka pakaian hingga bugil. Deasy juga sudah melepas semuanya kecuali celana dalam pink itu.
"Cepatan, Mas, nanti ada orang ganti baju lho."
"Ya Des, sabar.. Mas pasang kondom dulu.." kata saya sambil memasang kondom sungut lele tersebut.

Deasy sudah tidak sabar — bibir saya langsung disergapnya dan dilumatnya dengan ganas. Saya pun mempermainkan ujung lidahnya sambil meremas-remas payudaranya dengan gemas. Kami berdua berciuman dan berpelukan lama sekali, seperti ingin menghabiskan sisa waktu sebelum Deasy kembali ke Malang bersama tante. Tiba-tiba Deasy melepaskan pelukannya.

"Mas, sekarang masukin ya, Deasy sudah nggak tahan nih!" katanya ngos-ngosan sambil melepas celana dalamnya.

Saya bantu dengan mengusap-usap bagian dalam vaginanya dengan dua jari, keluar-masuk, supaya vaginanya basah. Benar saja, beberapa saat kemudian vaginanya Deasy sudah mulai basah.

"Ud.. ah.. Mas.. jangan pakai tangan lagi!" katanya sambil memegang kemaluan saya dan mengarahkannya ke vaginanya.

Kami memakai gaya berdiri dan saya sodok Deasy hingga badannya menempel pada tembok.

"Ssh.. ssh.. Mas.. cepatan, Mas.." tangannya merangkul saya dengan kuat.
"Des.. enak.. terus goyang.." kata saya sambil memegang pantatnya yang bahenol.

Sodokan demi sodokan saya lakukan dengan cepat, membuat Deasy merintih-rintih dan meracau tidak karuan.

"Cepat.. Mas, Deasy.. mau.. ke.. luar!"
"I.. ya.. Des," saya genjot lebih kuat, dan beberapa saat kemudian kami berdua berpelukan erat sambil memuntahkan cairan putih secara bersama-sama.
"Ah.. enak gila rasanya.. ya, Mas," kata Deasy puas sambil mencium saya dengan lembut.
"Ya, Des, Mas juga puas. Kapan-kapan main ke Lombok lagi ya!"
"Beres, Mas!"
"Salam sayang Mas Andi buat Deasy, dan selamat jalan."


Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya