18px

Pijat Malam di Hotel

Pijat Malam di Hotel

Sebagai seorang konsultan, aku sering pergi keluar kota dan menginap di hotel, bisa sampai berbulan-bulan lamanya. Seringnya menginap sekamar bareng dengan anggota tim lainnya, namun kadang juga menginap sendirian. Pekerjaanku yang bersifat proyek jelas sering menuntut waktu ekstra dan kerja keras, sehingga membuatku mengalami keletihan baik fisik maupun mental. Kalau sudah begitu, aku segera mencari tukang pijat untuk mengendorkan urat saraf yang telah amat tegang.

Giliranku kali ini mendapatkan proyek di Kota B yang berhawa sejuk dan merupakan kota idolaku. Dulu aku sempat lama berdiam di kota ini ketika kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di negeri ini. Sebagaimana proyek-proyek lain yang sering kukerjakan, tidak ada pengecualian — proyek ini juga menuntut energi dan pikiran ekstra keras karena ketatnya jadwal. Salah satu hal yang menyebalkan di kota ini adalah masalah taksi yang buruk kondisinya dan lagi jarang mau menggunakan argo sehingga harus selalu melakukan negosiasi terlebih dahulu. Oleh sebab itu, sering aku mencari hotel terdekat dengan lokasi proyek sehingga dapat dicapai dengan jalan kaki hanya beberapa menit.

Minggu ini adalah puncak-puncaknya pekerjaan sehingga keletihan amat sangat terasa. Hal ini menyebabkan aku malas pulang akhir pekan ke Kota J di mana aku tinggal. Kurencanakan Sabtu pagi saja untuk pulang menggunakan kereta api. Karena anggota tim lain selalu pulang ke J di akhir minggu, kini tinggal aku sendirian.

Setelah makan malam di restoran hotel, aku masuk ke kamar sambil nonton acara-acara TV. Berhubung hotel ini bukan hotel mewah, channel acara TV-nya pun terbatas. Setelah satu jam aku mulai dihinggapi kejenuhan. Mau tidur masih amat susah karena malam baru jam delapanan, dan badan yang amat lelah ternyata malah membuat sulit untuk segera beristirahat. Tiba-tiba aku teringat biasanya hotel ada info layanan pijat. Kucari-cari brosurnya tidak kutemukan. Tanpa kurang akal, kutelpon operator untuk menanyakan apakah di hotel ini bisa dicarikan tukang pijat. Ah, lega rasanya ketika dijawab bisa dan akan segera diantar.

Sambil menunggu kedatangan tukang pijat, aku mulai mencoba kembali menikmati acara-acara di layar TV. Tapi ternyata pikiranku sudah mulai melantur membayangkan nikmatnya ketika badan yang pegal hebat ini mendapatkan terapi pijat. Ah, beginilah nikmatnya masih bujangan. Sebagai lelaki berusia 35 aku jelas termasuk telat menikah — biarin, masih enak sendiri kok. Waktu masih bisa diatur sesuka hati. Coba kalau berkeluarga sebagaimana kawan-kawanku itu, pasti mereka harus buru-buru pulang sementara masih harus berjuang mendapatkan tiket kereta karena penuhnya calon penumpang di akhir minggu.

Sejam kemudian ada suara ketukan pintu. Sudah datang, batinku dengan girang. Ketika kubuka aku agak sedikit heran karena tukang pijatnya ibu-ibu berumur sekitar 45 tahun. Tinggi tubuh sekitar 155 cm, berkulit kuning bersih, wajah sudah menunjukkan usianya yang memang sudah matang. Mengenakan jaket kain dan bercelana jeans yang agak ketat. Dengan santunnya dia permisi untuk masuk. Kupersilakan dia masuk sementara pengantarnya yang adalah bellboy kemudian pergi meninggalkannya.

Setelah di dalam kamar, kupersilakan duduk dulu di kursi pojok kamar. Aku izin sebentar ke toilet untuk pipis, karena aku memang termasuk orang yang tidak tahan dingin — sudah di kota yang dingin, ber-AC pula — sehingga sering pipis. Daripada nanti pas di tengah-tengah acara pemijatan aku kebelet, mendingan kukeringkan dulu. Kan nggak nyaman pas lagi merem-melek dipijat eh kebelet pipis, pasti merepotkan.

Setelah selesai dari toilet, kulepas kaos dan celana pendekku sehingga tinggal CD saja. Lalu kulihat ibu itu membuka jaketnya sehingga hanya memakai kaos ketat hitam saja. Wah, ternyata si ibu ini masih bagus juga badannya — kelihatan perut masih kencang. Tanpa banyak buang waktu, langsung aku tengkurap di atas ranjang. Ibu tukang pijat mendekat dan mengatakan maaf serta mohon izin untuk mulai pemijatan. Pertama yang dipijat adalah telapak kaki. Ah nyamannya. Telapak kakiku yang telah kaku-kaku ditekan-tekan dan kemudian diurut.

Aku tak mau banyak bicara agar Si Ibu lebih fokus pada pekerjaannya dan aku bisa berkonsentrasi menikmati pijatan secara maksimal. Setelah selesai dari telapak kaki, mulailah naik menuju ke betisku yang tak kalah kakunya. Rupanya betis kaku kalau dipijat menimbulkan rasa nyeri sehingga aku sedikit meringis. Rupanya Si Ibu tahu kesakitanku, lalu sedikit dikurangi tekanannya. Selesai ditekan-tekan kemudian diurut-urut, dipakailah krim agar licin.

Begitu sampai menuju paha, tiba-tiba kudengar suaranya.

"Den, maaf, CD-nya dilepas saja biar nggak kotor kena minyak. Maaf ya."

Karena logis alasannya, ya kulepas saja meskipun membuatku kikuk — aku sering dipijat tetapi biasanya oleh pria tuna netra. Kulepas CD-ku dengan hanya mengangkat pantat, lalu kuperosotkan keluar dari kaki. Aku mapan lagi agar pijatan dapat diteruskan. Mulanya paha luar yang mendapatkan giliran. Setelah kedua sisi paha luar selesai, baru dilanjutkan dengan paha dalam. Dengan mengurut dari arah bawah menuju atas — stop press! Bisakah anda bayangkan?

Jari-jarinya — kayaknya ibu jarinya, aku nggak bisa lihat sih — secara halus menyenggol kantong-kantong kejantananku. Serr. Kudiamkan. Kemudian pantatku mulai dijamahnya dengan cara melingkar dari bawah ke atas, luar, terus turun masuk ke dalam, dan berakhir di ujung selangkangan, persisnya tengah-tengah antara kedua kantong kejantananku. Serr, serr. Enak sekali. Aku heran agak lama juga dia bermain di wilayah sensitif ini. Tapi biarlah, enak ini. Hehe. Eh ketika sedang enak-enaknya menikmati jari-jari lihainya yang baru pertama kali kunikmati sensasinya, tiba-tiba rambahannya sudah menuju ke pinggang. Agak kecewa juga, tapi kutahan — biarlah dia menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan prosedur standar pemijatan yang dia praktikkan.

Begitu selesai dengan leher belakang sebagai bagian teratas yang dirambahnya, tiba-tiba dengan santainya dia memerintahkan untuk telentang. Wah kacau ini. Bisa ketahuan nih kalau adikku ternyata telah terjaga. Tapi ya sudahlah, biarkan segalanya berlalu dengan alamiah. Yang sudah telanjur tegak, biarlah begitu. Hehe.

Mulai lagi Si Ibu dari bawah, yaitu bagian depan telapak kaki. Mulai saat ini sudah tidak mampu lagi kunikmati pijatan dari detik ke detik. Aku hanya memikirkan apa yang akan dia lakukan ketika sudah merembet ke arah paha. Gara-gara pikiranku sudah terpandu oleh kerja hormon testosteronku, maka jelas sudah — adikku semakin percaya diri untuk mengeras sebelum sentuhan terjadi.

Akhirnya tiba juga saat-saat yang kunantikan. Rupanya teknik yang dia lakukan di bagian pantatku tadi dipraktikkan juga di bagian depan. Aduh mami, enaknya minta ampun, eh nambah. Sempat kutatap wajahnya — kulihat sekilas-sekilas dia melirik adikku. Hmm, rupanya dia ingin tahu efek pijatannya apakah membuahkan hasil atau tidak. Dan tidak salah dia. Sukses besar — bahkan si adik telah sedikit menitikkan cairan.

Ketika itu dia mencuri pandang ke aku. Aku menangkapnya. Mulai kuamati wajahnya untuk melihat lebih jelas seperti apa sebenarnya tampang Ibu ini. Biasa aja. Tidak menarik. Bahkan sudah ada beberapa kerutan — sedikit, tidak terlalu muluslah wajahnya. Tapi tidak berpengaruhlah itu, karena nyatanya adikku tetap saja berdiri kayak tonggak, sedikit miring karena gravitasi.

Lagi asyik-asyiknya melayang-layang imaji akibat aksi pijatan-pijatan yang berbentuk lingkaran-lingkaran itu, tiba-tiba rambahannya sudah menuju perut. Ah, sedikit down. Sedikit kecewa. Tunggu dulu — rupanya ketika di perut masih ada harapan untuk mendapatkan sentuhan-sentuhan dahsyat itu. Ketika gerak maju-mundur di perut dengan formasi melingkar luar-dalam, ternyata setiap mundur gerakannya dibablaskan sehingga si adik tetap bisa menikmati sentuhan-sentuhan. Bedanya sekarang yang mendapatkan anugerah adalah bagian kepala adik. Sip, sip bener ini. Kok ya ada tukang pijat sehebat ini. Apakah karena sudah ibu-ibu, pengalamannya memijat bertahun-tahun yang membuatnya menjadi piawai begini? Mestinya iya.

Lalu pijatan berakhir di bagian dada. Begitu selesai...

"Mau diapain lagi, Den?"

"Maksud Ibu?" tukasku.

Tersenyum simpul dia, dan tahu-tahu tangannya pura-pura pijat-pijat lagi di selangkangan, tetapi dengan titik kontak gesekan ke 'adik' semakin besar dan lama.

"Oh, tahu aku maksudnya," pikirku.

Tanpa kujawab, mulai kuelus punggungnya — dia duduk di pinggir ranjang dengan membelakangi. Dia diam dan mulai berani hanya mengelus khusus adikku saja, tidak lagi pura-pura menyentuh bagian lain. Kusingkap pelan kaosnya. Astaga, rupanya kondisi dalamnya terawat mulus. Tak kusangka, padahal sudah seumur itu. Menggelegaklah kelelakianku. Tanpa terkontrol lagi, aku yang tadinya telentang bangkit duduk sehingga punggungnya berhadapan dengan tubuh depanku. Tanganku yang kiri menyingkap kaosnya lebih ke atas lagi, sementara yang kanan ke depan menjamah sang tetek.

Dia sengaja mencondongkan dirinya ke arahku agar lebih mepet. Kulepas kaosnya dan dibantu dia, sehingga sekarang setengah telanjang dia. Bulu ketiaknya tidak dicukur. Gairahku malah semakin meledak — kubalikkan badannya agar menghadapku. Dia menunduk, mungkin malu atau minder karena umur atau ketidakcantikannya, entahlah. Yang pasti, dia telah dengan ahlinya melepaskan 'nafsuku' dari kandangnya. Kurebahkan dia dengan masih tetap pakai BH, karena aku lebih suka menjamah teteknya dengan cara menyelinapkan tangan.

Kuserbu ketiaknya yang berbulu agak lebat itu sambil terus meremas tetek. Kutindih dia. Celana jeans masih belum dilepas. Kususupkan tangan kananku ke dalamnya, menyentuh 'vegi'-nya. Basah. Kupindahkan serangan ciumanku ke lehernya. Dia mendesah, lalu mengerang-ngerang lembut. Kehabisan napas aku — ketika kutarik kepalaku naik untuk mengambil udara, ditarik lagi kepalaku. Ah rupanya G-spot-nya ada di leher belakang telinga sebelah kanan. Kuhajar lama dengan dengusan napas hidungku di wilayah itu. Semakin liar polahnya. Tangan kananku semakin dibasahi dengan banyak cairan. Kulepas tanganku dan kusuruh dia bangkit.

"Lepaskan BH dan celana ya."

Tanpa tunggu lama, wajahnya yang sudah merah merona itu mengangguk dan cepat-cepat semua yang kuinginkan dilepasnya. Kupandangi sebentar teteknya — masih lumayan bulat. Kupandangi 'vegi'-nya — wow, alangkah lebatnya. Kurebahkan lagi dengan segera. Kutindih lagi dia. Dia mengerang hebat. Napasku memburu berat. Kukangkangkan pahanya, dan bless — rudalku telah menghunjam 'vegi'-nya yang telah banjir itu. Kusodok-sodok sekuat tenaga. Semakin keras erangannya. Kuseret pahanya ke pinggir ranjang — dengan berdiri, kuangkat kakinya menumpang di pundakku, kuarahkan kembali rudalku menuju 'vegi'-nya yang lenyap ditelan jembut, kusibakkan terlebih dulu, lalu bless, bless.

"Argh, arghh, yang cepat, Den, arghh, kencangin lagi Den, auhh, ahh."

Menjelang sepuluh menit mulai terasa hangat adikku.

"Akkhu, sudah mau keluar, Bik, ahh, ahh."

"Akkh, bibik juga, Den, ahh, argh."

Dan tanpa dapat dibendung lagi, jebollah lahar panas dari rudalku menyemburi lembahnya yang rimbun itu, pada saat yang bersamaan. Sensasi kimiawi dari surga telah mengurasku menuju keletihan. Entah kenapa badanku yang sebelumnya sudah lelah banget ternyata masih mampu mengeluarkan tenaga sebesar ini. Ibu ini memang lihai. Luar biasa, kuakui.

Setelah berbaring-baring sekitar 15 menit, Si Ibu minta izin ke toilet untuk bersih-bersih diri. Kusiapkan amplop untuk memberinya kompensasi atas jasa kenikmatan luar biasa yang baru sekali ini kurasakan seumur hidupku. Tanpa dibukanya amplop itu, sambil mengucapkan terima kasih dengan sopan, dia keluar kamar setelah mengenakan jaketnya kembali.

Sejak mengenal kenikmatan 'pijat hotel' itu, aku mulai sering mencoba-coba. Di Kota B banyak sekali panti yang berkedok pijat namun sesungguhnya yang ditawarkan adalah lebih dari sekadar pijat. Awalnya kucoba yang muda-muda dan cantik, akhirnya aku kembali mencari yang telah senior — karena yang masih muda kuanggap belum banyak pengalaman dan tidak banyak kenikmatan yang kuraih. Di samping itu lebih aman secara kesehatan, sementara yang muda dan cantik laris diantri banyak pria dari berbagai lapisan dengan kondisi kesehatan yang sulit terkontrol pula.

Demikianlah kisah keperjakaan yang hilang di tangan sang Ibu Pemijat. Aku tidak menyesal. Bahkan malah sulit melupakannya. Yang kusesali adalah mengapa kenikmatan yang sedemikian dahsyatnya baru kuketahui setelah setua ini.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya