18px

Pijatan Mesra Sang Suami Pinjaman

Pijatan Mesra Sang Suami Pinjaman

Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertopang oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku — nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.

"Nikmati, Rida! Nikmati apa yang kamu rasakan sekarang!" suara Yanti masih berbisik lembut.

Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di bagian atas payudaraku yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.

"Ini kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku!" kata Yanti lagi.

Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dalam posisinya.

"Ayo, Mas! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu!" kata Yanti lagi.

"Tentu saja, Sayang, asal kamu izinkan," kata suara berat Mas Sandi.

Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu kudukku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat — sangat pandai sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan kanannya berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku.

"Oh, Mas, jangan, Mas...!" aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan melemparnya jauh-jauh.

Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa keadaanku. Aku sudah terbius suasana.

Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku — dari punggung, lalu ke perut, naik ke atas, dan leherku pun mendapat giliran diciumnya dengan mesra. Aku mendesah nikmat. Sementara desahan-desahan kecil terdengar pula dari mulut Yanti.

Aku melirik sejenak ke arah Yanti — rupanya dia sedang bermasturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruang pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Perasaanku sudah tidak malu-malu lagi; aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti bersama lelaki yang bukan suamiku.

"Buka ya BH-nya, Rida," kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.

Beberapa detik kemudian BH itu terlepas, dan terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras — rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang sambil mengangkat pinggulnya.

"Akh, nikmat... ooh, nikmat sekali!" begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu, sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.

Kini kedua payudaraku sudah diremas dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang, sambil bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mata — rupanya Yanti berusaha melepas celana dalamku. Maka kuangkat pantatku sejenak untuk memudahkannya. Setelah lepas, celana dalam itu pun dibuang jauh oleh Yanti.

Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang. Mas Sandi mengikuti gerakanku dari belakang; kini dia tidak berlutut, melainkan duduk tepat di belakang tubuhku dengan kedua kaki diselonjorkan. Pantatku pun berada di antara selangkangannya. Terasa ada tonjolan keras di sana — rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.

Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Dengan posisi telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi kemudian...

"Awwh, ooh, eisth, aakh...!" aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku. Terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan berbagai sensasi yang menyatu di tubuhku.

Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka dengan bernafsu. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur antara kami. Tercium aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini sedikit pun.

Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun justru menimbulkan kenikmatan yang teramat sangat. Sementara di bawah, Yanti semakin mengasyikkan — dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir, banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.

"Mmmhh, akh, mmhh...!" bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.

Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku semakin keras dan Yanti menjilat, mencium serta menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku. Keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku — otomatis ciuman Yanti terlepas. Orgasmeku semakin terasa ketika jari telunjuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.

Perlakuan Yanti itu berulang-ulang — mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak rasanya saat itu.

"Aakh, awwh, nikmat, terus, Yanti, ooh, yang cepat, akh...!" teriakku.

Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.

"Ayo, cantik! Nikmatilah orgasmemu, jangan ditahan, keluarkan semuanya, Sayang! Nikmatilah, nikmatilah! Oh, kamu cantik sekali saat orgasme!" begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.

"Aakh, Mas, aduh, Yanti, nikmat, oh, enak sekali...!" teriakku.

Akhirnya tubuhku yang mengejang mulai mengendur, diikuti dengan meredanya gelombang orgasmeku.

Perlahan tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.

Dia berbisik padaku, "Ini belum seberapa, Sayang, nanti akan kamu rasakan punya suamiku," sambil berkata demikian dia mencium keningku.

Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke mana, karena pada saat itu mataku masih terpejam, seakan enggan terbuka.

Entah berapa lama aku terlelap. Ketika tersadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi. Mereka tidak ada di kamar, rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding — sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku dan berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan musik klasik yang berasal dari ruang tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu — yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu — mataku menemukan suatu pemandangan di mana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.

Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis di vaginanya. Hal itu membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.

Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya, dan sejenak dia menghentikan gerakannya lalu menengok ke belakang ke arahku.

"Akh, Mas, jangan berhenti dong! Oh...!" kata Yanti.

Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruang tamu. Aku kembali gelagapan, resah, dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.

"Oh, Ridha, nikmat sekali loh! Aku, ooh, mmh...!" kata Yanti kepadaku.

Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalanya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya dan menarik-narik pantat itu dengan keras. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Semakin mengkilat saja penis itu.

"Oh, Mas, aku hampir sampai! Terus, Mas, terus! Lebih keras lagi, ooh, akh...!" kata Yanti.

Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya. Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuh dalam posisi push-up.

"Mas, aku keluar! Aakh, mhh, nikmat, mmh...!" kata Yanti dengan tubuh mengejang.

Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya kini berpindah melingkar di punggung.

Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penisnya menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.

"Owhh, banyak sekali Sayang, keluarnya. Hangat sekali memekmu!" kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.

Dapat kubayangkan perasaan Yanti saat itu — betapa nikmatnya dia. Aku pun belingsatan, mengubah-ubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan mengubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penisnya. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi — dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.

Dengan segera Yanti menungging. Lalu Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.

"Giliranmu, Mas! Ayo!" kata Yanti.

Tangan Mas Sandi menggenggam penisnya dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya — dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.

"Owwh, Mas, aakh...!"

"Aduh, Yanti, jepit, Sayang!" kata Mas Sandi.

Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju. Sungguh pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin cepat tempo gerakan mereka, semakin aku terangsang. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku kini mulai menyentuh kelentitku.

Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku menikmati masturbasiku tanpa lepas memandangi mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti — aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti, dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasuki penis Mas Sandi.

Bersambung....

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya