18px

Putri Keraton (Bagian 2)

Putri Keraton (Bagian 2)

Sesaat setelah pintu kamar hotel kukunci, segera kupeluk Vera yang diam pasrah dengan mata tertutup rapat—tepat di belakang pintu. Kukecup lembut keningnya, lalu turun sedikit ke mata kanan, mata kiri, hidung, dan pipi. Dengan tangan kiri kuangkat dagunya perlahan; sempat Vera membuka matanya dan memandang sayu, sebelum tertutup kembali. Semakin dekat bibirku ke bibirnya, desah napas hangat yang memburu menerpa sebagian wajahku. Kemudian dengan lembut kuletakkan bibirku di atas bibirnya yang merekah, basah, siap dan pasrah. Kecupan lembut itu menambah riak gelombang birahi yang semakin memuncak; dengan perlahan kujulurkan lidahku untuk menyentuh ujung lidahnya yang tersentak berdetak, sebelum maju perlahan menelusuri panjang lidahku—ditambah hisapan lembut yang membuat lenguhnya muncul perlahan disertai tubuh yang melemas.

"Hhmmhh..." desahnya saat kulepaskan bibirku dari pagutannya yang sedikit mulai liar.

Perlahan kususupkan jari jemariku mulai dari punggung ke tengkuk, terus naik ke atas menyibakkan rambut sebahunya. Secara bersamaan Vera menengadah, memberikan lehernya yang jenjang untuk kukecup—jilat perlahan dari leher sebelah kiri menuju ke telinga belakang kiri, diiringi napasku yang semakin memburu, dan berakhir dengan lenguhan panjang dari Vera.

"Aaagghh..."

Kemudian kulepaskan blazer biru tuanya sehingga nampak pangkal lengannya yang mulus, karena Vera menggunakan lengan buntung. Kukecup pangkal lengan sebelah kiri itu, sementara jari jemari tangan kananku mengusap lembut pangkal lengan yang satunya, dan berakhir dengan genggaman tangan kami yang menyatu.

"Mas Elmoo... aagghh," desah Vera bergetar.

Matanya kembali memandangku sayu, dan perlahan dalam pelukanku kutuntun dia mendekati ranjang. Kubukakan kancing demi kancing bajunya sementara Vera terus memandangku sayu, seolah mengatakan: lakukanlah. Segera setelah seluruh kancing terbuka, kudapati dadanya yang sangat putih mulus dengan bra berwarna gading berhiaskan renda-renda kecil di bagian atasnya. Kukecup, kujilat seluruh bidang dada yang tidak tertutup bra, kuhirup dalam-dalam bau harum lembut yang semakin santer membuaiku untuk senantiasa memperlakukannya dengan lembut—bersama-sama menari di atas ombak gelora cinta yang menjilat bak lidah api—berakhir dengan dekapanku yang erat pada Vera.

Kubuka tali pengait branya; segeralah tersembul buah dada yang selama ini mungkin hanya dilihat oleh suaminya. Tidak besar, dengan puting berwarna merah muda yang menjungkit menantang untuk disentuh. Kulanjutkan membuka ritsleting roknya, sebelum perlahan kubaringkan Vera di atas ranjang yang empuk, sementara suhu ruangan belum terasa dingin karena hembusan udara AC yang belum cukup lama menyejukkan kamar.

Vera hingga saat ini masih bersikap pasif dan pasrah, seperti layaknya putri keraton yang menerima keadaannya. Sekarang kutindih tubuhnya dengan sebagian tubuhku dan kembali kupermainkan leher jenjang kanannya hingga ke belakang telinga, dengan iringan rintihan Vera yang mendesah lembut laksana irama jazz. Kecupanku pun terus turun menuruni garis lehernya secara perlahan, untuk kembali mendaki bukit gunung kembar yang mungkin selama ini hanya mengenal sentuhan seorang lelaki—sementara aku adalah lelaki kedua yang beruntung bisa menyentuh dan menghisapnya dengan lembut, diiringi belaian ringan jari-jariku yang mengusap seluruh permukaan kulit kedua bukit itu.

Hentakan tubuh Vera diiringi dengan gerak refleks tangannya yang berusaha menangkap tanganku dan menekannya kuat ke payudaranya, disertai tekukan lututnya serta mata yang terpejam rapat, menandakan gejolak birahi yang tak tertahankan. Kutelusuri lekuk tubuhnya untuk menggapai tepi celana dalamnya, dan segera kuturunkan—dibantu Vera yang mengangkat pinggulnya.

Oh, indah sekali rambut halus hitam yang tertata rapi, bagaikan hamparan rumput hitam dengan panjang seragam dan terawat baik. Tekanan ringan pada kedua pinggulnya serta hisapan lembut di pundaknya kembali menyentakkan Vera, disertai jeritan lirih.

"Arrgghh..." diiring dengan tekanan pinggulnya melawan ke atas.

Jilatan demi jilatan kembali merayap menuruni belahan tengah buah dadanya, menuju ke perut. Secara refleks pun Vera membentangkan kedua belah pangkal pahanya dengan gerakan alami. Tanpa kesulitan, kecupan bibirku bisa sampai di belahan tengah bibir bawahnya, disambut dengan mengalirnya cairan putih bening kental dalam jumlah cukup banyak—berkelok-kelok seperti anak sungai membasahi rerumputan akibat terbukanya bendungan. Jilatan sedikit kasar untuk mengangkat cairan itu, diakhiri dengan hisapan kuat untuk membersihkan seluruh aliran kental ini, terasakan bagai dibetotnya sesuatu jauh dari dalam, meluluh-lantakkan tulang belulang di tubuh.

"El... mo..." jeritan Vera diiringi gerak liar pinggulnya dan tarikan kuat mencengkeram bed cover saat kulakukan hisapan kuat tadi.

"El... mo... masukkan. Aku ngga kuat lagi," pintanya dalam nada bergetar mengharap.

Segera kubuka kaos yang sedari tadi belum kulepaskan, demikian juga seluruh pakaian yang masih menyelimuti tubuhku. Ketika aku mulai menindih tubuh mulus Vera, sensasi kulit nan lembut menyengat seluruh saraf sensitif di tubuhku dan mengakibatkan urat-urat di penisku menyembul kuat memberikan guratan biru tegas membekas. Secara refleks Vera kembali menekukkan lututnya dan membuka bebas, memberikan jalan bagi penisku untuk segera memasuki relung vaginanya.

Vera kembali memandangku sayu dan berkata perlahan, "Lakukanlah... aku rela bersamamu."

Perlahan kuarahkan penisku untuk mulai menelusuri lorong kenikmatan dengan relungnya yang kuyakin akan menjepit kuat. Ketika kujumpai ujung lorong itu, perlahan kuturunkan penis tersebut untuk mulai menerobos, membor layaknya paku bumi—diiringi dengan mata Vera yang terus meredup dan terpejam, seiring gigitannya pada sudut bibirnya untuk menambah sensasi kenikmatan yang mulai berjalan. Sebaliknya, kurasakan juga sodokan perlahan penisku yang serasa membuka lipatan-lipatan lunak tak berujung, terus ke dalam, diikuti jepitan kuat sesudahnya yang memberikan sensasi tak terkirakan.

"Aaakkhh..." erangan panjang Vera disertai dengan mengejang kakunya seluruh tungkai kakinya yang panjang, mengakhiri perjalanan penisku mencapai lorong yang paling dalam. Remasan kuat di bed cover menandakan perjalanan kenikmatan Vera yang masih belum berakhir.

Buah dada kenyal tepat berada di bawah dadaku dan bisa kurasakan kehangatannya yang terus berdenyut, mengalir membawa gelombang birahi bertalu-talu. Sunggingan senyum manis Vera menghias ujung bibirnya ketika mata bening itu bertatapan dengan mataku dalam jarak yang begitu dekat—diiringi lenguh napasnya yang tetap memburu, semakin menggila. Kedutan halus yang malu-malu dilakukannya sambil tetap memandangku dan tersenyum manis.

"Hebat... teruskan," pujiku, untuk menambah kepercayaan dirinya.

Pujianku memberinya keberanian untuk segera melakukan manuver itu. Seiring kembali terpejamnya mata lentik tersebut, remasan kuat berirama mengurut penisku, membangkitkan seluruh titik saraf di tubuhku untuk terpusat pada gerakannya, remasannya.

Perlahan kulakukan perlawanan dengan menggenjot penisku mengimbangi remasannya, diiringi lenguh napas yang terus memburu seperti derak bantalan rel kereta yang dilalui.

"Hhshshshhshhs..." dengus napasku tak dapat kukendalikan.

"Uuugghh... uugghh..." Vera tak kalah serunya merintih.

Buliran keringat sebesar jagung mulai membasahi keningku dan menetes di dadanya. Demikian juga butiran keringat Vera mulai membasahi tubuhnya, khususnya di pundaknya, sehingga geraian rambut yang basah dan menempel menambah pesona yang memompa birahiku untuk mendaki mencapai puncaknya.

Gerakanku semakin seirama dengan hentakan pinggul Vera. Entah karena kuatnya ikatan emosi atau memang karena seirama begitu, hentakan yang menghunjam semakin kuat dan cepat, berakhir dengan:

"Ellmmoo!" teriakan Vera sesaat sebelum aku mencapai puncaknya.

Tubuh Vera mengejang sesaat sebelum akhirnya membujur lemas, diam tak bergerak. Wajah ayunya meninggalkan buliran keringat halus yang membentuk guratan ketika kuraba, menuruni leher jenjangnya dan berkilap tertimpa cahaya lampu kamar. Tak bosan kupandang wajahnya yang memang ayu.

Tak lama Vera mulai membuka matanya dan memandangku kembali dengan senyum khasnya. Sebagai balasannya, kuangkat penisku perlahan. Secara refleks Vera berusaha menahanku tetap berada di dalamnya, namun tetap kuangkat perlahan. Segera kubalikkan tubuh lemasnya. Kupandang punggung halusnya dengan beberapa helai rambut yang masih menempel basah oleh keringat; kuraba perlahan, menyingkap helai-helai rambut itu untuk mendapatkan punggungnya secara utuh. Buliran keringat nampak jelas pada kedua belah bahunya, menggodaku untuk kembali menjilatnya—terus merayap ke atas, menelusuri leher jenjangnya dan membasahi rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar tengkuknya dengan air liurku.

Rintihan nikmat kembali terdengar seiring bangkit kembalinya gelora gairah yang sempat mendatar setelah mencapai puncak. "Eegghh."

Permainan jari-jariku yang merayap naik-turun menelusuri seluruh lekuk tubuh Vera segera memicu kembali adrenalinku—terlebih rintihan nikmat itu semakin cepat memburu, dan hanya membutuhkan waktu yang teramat singkat untuk segera membangkitkannya.

Kembali kutindih tubuh Vera dari belakang dan kuarahkan penisku yang sedari tadi tetap menegang, sementara belahan kaki yang tampak sangat indah itu kembali terbuka lebar, menyisakan lubang yang masih terbuka dan berdenyut halus dengan lendir yang membasahi sekelilingnya. Kuingin memasukinya kembali secara perlahan, menikmati sensasi kenikmatan saat kumasuki relungnya—secara perlahan, dengan jepitan yang kurasakan lebih kuat dari sebelumnya.

"El... ce... pat lakukan, aku tak tahan... Eell," rintihnya perlahan namun terdengar jelas.

Perlahan namun pasti, terus kudorong masuk penisku hingga mencapai jarak terjauhnya, dan segera kuayunkan berirama. Gerakanku kali ini diimbangi dengan lenguhannya tiap kali ujung penisku menyentuh mulut rahimnya. "Arrkkh... terus El... arrkkhh." Semakin lama genjotanku semakin bertenaga seiring memuncaknya sensasi yang menumpuk di ujung penis, ingin menyemburkan sperma yang sedari tadi tertahan. Jepitan liang vagina Vera pun semakin mantap kurasakan.

Butiran keringat bak pasir di tepi pantai yang membasahi pundaknya kembali keluar dengan derasnya, berubah membesar menyerupai butiran jagung, tersebar merata hingga ke punggungnya—berkilap tertimpa cahaya lampu. Hingga ketika tiba saatnya, ujung penisku berdenyut kencang, dan dalam satu, dua tusukan terakhir yang kuhunjamkan sekuat tenaga sedalam-dalamnya, diiringi teriakan Vera disertai gelengan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan cepat—"srett... srett... srett"—semburan maniku menelusuri panjang penisku dan menerjang masuk, menabrak dinding rahimnya, melemparkan puncak kenikmatan hingga ke ujungnya dan jatuh demikian terjal dalam kelelahan nikmat yang tak berujung.

"Aaacchh..." jeritan terakhir Vera sebelum dia kembali terjatuh dan diam dalam kelelahan yang teramat sangat.

Peluh yang bercucuran bercampur jadi satu ketika tubuhku ambruk menindih tubuh mulus Vera. Bau harum keringat segera membuaiku dalam mimpi terindah bersama Vera.

"Thanks, Ver," ucapku sesaat sebelum terlelap.

"Thanks juga, El," sahutnya lemah.

Luluh-lantak rasanya tubuhku malam itu, terkuras habis setelah sebelumnya banyak tersita oleh urusan dinas. Namun apa yang kuberikan saat itu memberikan makna dan kesan yang sangat mendalam di lubuk hati Vera—karena baru kali ini dia merasa begitu dihargai dan diperlakukan manja, sebagaimana layaknya seorang istri yang memiliki kedudukan sama.


Dua bulan berikutnya kuterima sebuah email.

Kepada: [email protected]
Dari: mayang@...

Dear honey,

Thanks, ya. Saat ini aku sudah hamil dari benihmu malam itu. Aku lagi bingung tapi senang, Mas, dan Mas adalah orang pertama yang kuberitahu.

Mas Bram sendiri belum kuberitahu; rencananya nanti malam. Aduh, Mas Elmo, sorry ya, nulisnya berantakan—abis lagi seneng dan juga bingung.

Kapan Mas ke mari lagi? Tolong beritahu lewat email saja, ya, soalnya adik juga mau diusap sama Mas.

Salam sayang selalu,
Mayang

END

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya