18px

Rahasia Kelam di Ruang Rapat

Rahasia Kelam di Ruang Rapat

Edwin mendekatiku dari atas lalu mencium bibirku dan meremas buah dadaku kemudian mengulum putingnya, sementara jilatan Pak Reza makin menggila di vaginaku — tapi aku tak berani mendesah. Lisa sudah melepas blazernya hingga kelihatan buah dadanya yang montok menantang di balik kaos you can see ketatnya. Dia hanya duduk memperhatikan kami. Tak seorang pun menyentuh champagne yang sudah kupesan — ternyata akulah yang menjadi santapan selamat, bukan champagne itu. Di saat aku lagi meregang dalam kenikmatan, kembali kami dikagetkan suara handle pintu dibuka, lalu berganti dengan ketukan.

"Andi!" teriakku panik. Aku tak ingin Andi melihatku dalam keadaan seperti ini — akan mengurangi wibawaku di matanya.

Kudorong kepala Pak Reza dengan halus dan aku mencari tank top atau blazerku, tapi terlambat. Lisa sudah membuka dengan hati-hati pintu itu dan masuklah Andi dengan membawa laptop dan dokumen-dokumennya sebelum aku sempat menutupi tubuh atasku.

Kulihat wajah Andi melongo terkaget-kaget melihat aku duduk di meja rapat dalam keadaan topless dengan kaki di atas kursi, sementara Pak Reza masih jongkok di bawahku dan Edwin ada di belakangku bertelanjang dada.

"Eh, ma... ma... maaf mengganggu," katanya lalu berbalik ke pintu, tapi Lisa segera menghalangi dan menutup kembali pintu itu.

"Udah duduk saja di sini," jawab Lisa sambil menghalangi pintu itu dengan tubuhnya.

"Tapi... tapi... ini harus ditandatangani," jawabnya belum sadar dengan apa yang terjadi.

"Nggak ada tapi. Tanda tangan mah gampang, sini aku bantu," kata Lisa sambil mengambil dokumen dan laptop dari tangan Andi dan meletakkannya di meja pojok ruangan di samping champagne.

"Taruh di sini saja. Kamu lihat sendiri kan mereka sedang sibuk," kata Lisa sambil menarik Andi duduk di sebelahnya di sofa.

Kulihat wajah Andi masih melongo kaget melihat tingkah lakuku.

"Sudah terlambat. Persetan — apa yang terjadi, terjadilah," pikirku, dan kembali telentang di meja menuruti permintaan Pak Reza. Dipelorotnya rok mini dan celana dalamku.

Pada mulanya agak risih juga bertelanjang di depan Andi, tapi selanjutnya sudah tak kuperhatikan lagi kehadirannya di ruangan itu ketika lidah Pak Reza dengan cantiknya kembali menggelitik klitorisku. Edwin membimbing tanganku dan dipegangkannya ke penisnya yang sudah tegang — ternyata dia sudah mengeluarkan penisnya dari lubang resleting. Tanpa menunggu lebih lama, kukocok penis itu.

Pak Reza melepas celana dalamku dan dilemparkannya ke arah Lisa dan Andi — ternyata Lisa sudah duduk di pangkuan Andi dan mereka sedang berciuman.

Pak Reza menarikku duduk di tepi meja. Ternyata dia masih berpakaian lengkap. Kubantu melepaskan pakaiannya, lalu aku jongkok di depannya dan kupelorotkan celananya. Ternyata dia tidak memakai celana dalam, dan wow — penisnya yang menegang membuatku terpesona, besar dengan guratan otot di batangnya menonjol dengan jelas.

Segera kujilati kepala penisnya dan memasukkan kepala penisnya ke mulutku, kupermainkan dengan lidahku di dalam. Tak tahan diperlakukan seperti itu, Pak Reza menaikkanku kembali duduk di meja, disapukannya kepala penis itu ke bibir vaginaku, pelan-pelan mendorong hingga masuk semua lalu didiamkannya sejenak — maka melesaklah penis kedua di hari ini untuk vaginaku. Dia memandangku dengan penuh nafsu, mencium bibirku, lalu mulai menggoyangkan pantatnya maju-mundur mengocok vaginaku. Tangannya meraba buah dadaku lalu wajahku, dan jarinya dimasukkan ke mulutku — kukulum dan kupermainkan jarinya dengan lidahku.

Pak Edwin mendekat lalu meremas-remas buah dadaku. Kuraih penisnya yang masih tegang nongol dari lubang resleting dan kukocok seirama kocokan Pak Reza.

Kudengar desahan dari tempat lain — ternyata Lisa sudah semi telanjang di pangkuan Andi sedang mendapat kuluman dan remasan darinya di kedua putingnya. Buah dada Lisa yang montok itu hampir menutup wajah Andi yang sedang terbenam di celah-celahnya. Melihat hal itu, Pak Edwin meninggalkan kami menuju ke Lisa dan Andi — segera dia mengulum puting Lisa yang merah menantang, berbagi dengan Andi. Mendapat kuluman dari dua orang sekaligus, Lisa sepertinya ingin berteriak tapi ditahannya dengan menggigit jarinya.

Setelah puas mengocokku dari depan sambil meremas-remas buah dadaku, Pak Reza memintaku berbalik. Maka aku berdiri membelakanginya dan tubuhku membungkuk ke depan bertumpu pada meja, kaki kananku kunaikkan di kursi. Pak Reza kembali melesakkan penisnya di vaginaku dan mengocok dengan kerasnya hingga meja rapat itu bergoyang-goyang. Dengan posisi seperti ini aku bisa melihat Lisa sedang duduk di sofa menerima jilatan Andi di vagina sambil mengulum penis Pak Edwin yang berdiri di sampingnya.

Kocokan Pak Reza serasa menggesek semua sisi dinding vaginaku — begitu nikmat hingga aku melayang dibuatnya. Ingin aku menjerit karenanya tapi kutahan dengan menggigit bibirku.

Terbuai oleh kenikmatan dari Pak Reza, tanpa kusadari ternyata Lisa, Andi, dan Edwin sudah bergeser ke meja di dekatku hingga aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Andi mempermainkan klitoris Lisa sambil mengocokkan jarinya. Ternyata dia sudah mahir juga, batinku. Sementara Pak Edwin berada di antara aku dan Lisa — sambil mengulum puting Lisa dia meremas buah dadaku.

Terkaget aku ketika melihat Andi mengusapkan penisnya di vagina Lisa. Ternyata penis Andi begitu besar — sepertinya jauh lebih besar dari punya Pak Reza, apalagi Pak Edwin. Mungkin sama besar dengan punya suamiku tapi dengan bentuk yang melengkung ke atas, membuatku ingin menikmatinya. Itu adalah bentuk penis favoritku.

Sepertinya dia kesulitan memasukkan penis besarnya ke vagina Lisa. Berulang kali dia berusaha memasukkan tapi gagal meski vagina Lisa sudah basah, dicoba lagi dan dicoba lagi hingga berhasil meski hanya separuh. Tapi Lisa sudah menggelinjang-gelinjang entah kesakitan atau ke-enak-an. Kupegang tangannya dan dia meremasnya dengan kuat saat Andi berusaha mendorong lebih dalam, memasukkan mili demi mili penisnya ke dalam vagina Lisa. Sementara kocokan Pak Reza juga tak kalah nikmatnya — goyangannya semakin bervariasi, menghunjam vaginaku dari berbagai arah dan gerakan. Tangan kami saling meremas dalam kenikmatan.

Andi mulai mengocok Lisa dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat. Desah tertahan keluar dari hidung Lisa — dia kelojotan menerima kocokan Andi meskipun menurutku masih pelan. Sambil meremas buah dada Lisa, Andi mulai mempercepat dan menyodok dengan keras. Remasan tangan Lisa makin kencang, sekencang kocokan Andi padanya.

"Aaauughh... eeghh... ss!" teriak Lisa tidak dapat menahan kenikmatan yang diberikan Andi.

"Sstt," bisikku sambil menutupkan tanganku ke mulutnya, meski aku sendiri sedang terbakar nafsu dan kenikmatan.

Andi mengocok Lisa dengan penuh gairah nafsu. Buah dada Lisa yang besar bergoyang-goyang liar seiring kocokannya, tapi segera dihentikan dengan kuluman Pak Edwin yang sepertinya tidak rela membiarkan buah dada itu bergoyang sendirian.

Kocokan Pak Reza sungguh bervariasi — baik kecepatan, arah, maupun goyangannya. Sungguh terampil dia dalam bercinta, membuatku panas-dingin dibuatnya.

Setelah puas mengocokku, Pak Reza menarik keluar penisnya dan digantikan dengan Pak Edwin mengocokku. Aku berjongkok di kursi dan tanganku bersandarkan sandaran kursi hingga Pak Edwin mengocokku dengan doggie style, tetap menghadap ke Lisa dan Andi. Pak Reza kini berdiri di sisi Andi menunggu giliran, sambil meremas dan mengulum buah dada Lisa yang montok menantang itu, menggantikan posisi Pak Edwin.

Andi mengocok Lisa makin ganas. Dengan satu kaki terangkat di pundaknya dan satu kaki lagi dipegang tangannya dalam posisi terpentang, penis Andi pasti melesak masuk ke vagina Lisa hingga menyentuh dinding terdalamnya. Dengan disertai dorongan yang keras, pasti Lisa sudah terbang ke awang-awang kenikmatan.

Andi lalu memiringkan tubuh Lisa hingga dia menghadap ke arahku, lalu kembali mengocoknya dengan keras. Buah dada Lisa ikut bergoyang-goyang seirama kocokan Andi. "Gila, hebat juga ini dia," batinku.

Kocokan Pak Edwin tidak terlalu kuperhatikan — setelah mendapatkan Pak Reza, punya Pak Edwin tidaklah terlalu berasa meski aku bisa menikmati sedikit kenikmatan yang berbeda. Dengan melihat bagaimana Andi memperlakukan Lisa, aku bisa dengan cepat bergairah kembali. Maka kugoyangkan pantatku melawan gerakan Pak Edwin, secepat kocokan Andi pada Lisa. Aku begitu horny dibuatnya sambil berharap supaya Andi tidak orgasme di vagina Lisa terlebih dahulu supaya aku bisa menikmati semprotan pertamanya.

Sambil menunggu giliran yang belum juga diberikan Andi, Pak Reza menggapai buah dadaku dan tangan satunya meremas buah dada Lisa yang lebih montok — seolah hendak membandingkan, kedua tangannya meremas dua buah dada yang berlainan bentuk dan ukuran.

Aku sudah khawatir kalau ternyata Andi menyemprotkan spermanya di vagina Lisa terlebih dahulu, karena sudah cukup lama dia mengocokkan penisnya ke vagina Lisa, sudah lebih dari setengah jam.

"Gila, kuat juga si Andi ini," batinku.

Kini Andi mengocok Lisa dengan posisi doggie di atas kursi, meniru posisiku hingga kami saling berhadapan. Buah dada Lisa yang besar menggantung dan bergoyang dengan indahnya ketika Andi mengocoknya. Pak Reza yang masih menunggu giliran dari Andi duduk di meja di antara kami hingga kami bisa mengulumnya secara bersamaan — antara kuluman dan jilatan. Lisa mengulum maka aku menjilati sisanya, begitu juga sebaliknya. Dua lidah di satu penis.

Mendapat perlakuan seperti itu dari dua wanita cantik seperti aku dan Lisa membuat Pak Reza merem-melek, tangannya meremas rambutku juga rambut Lisa. Sepertinya Lisa sudah bisa merasakan nikmatnya penis Andi yang besar itu hingga dia bisa membagi konsentrasi dengan kuluman pada penis Pak Reza.

Andi menghentikan kocokannya dan menyerahkan Lisa ke bosnya, lalu mereka bertukar tempat. Andi menggantikan posisi pada mulut Lisa setelah terlebih dahulu memutar kursi Lisa menjauh dariku. Kecewa juga aku dibuatnya karena tidak bisa menikmati penis Andi itu — ingin minta tapi masih ada perasaan segan atau gengsi. Masih bisa kulihat dengan lebih jelas betapa nikmatnya penis Andi itu hingga Lisa mengulumnya dengan ganasnya meski tak bisa memasukkan semuanya.

Aku yakin Lisa kurang bisa menikmati Pak Reza setelah merasakan penis Andi. Kocokan Pak Edwin tidak kuperhatikan lagi, tapi aku lebih menikmati melihat kuluman Lisa pada penis Andi itu meski Pak Edwin mulai melakukan variasi gerakannya. Tangannya mengelus punggung dan buah dadaku, lalu dia memutar kursi hingga aku dan Lisa berjejer, tapi Andi malah menggeser tubuhnya ke sisi lain, justru menjauhiku.

Pak Reza meremas buah dadaku sambil mengocok Lisa, sementara Pak Edwin meremas buah dada Lisa sambil mengocokku, dan Andi meremas buah dada montok yang satunya dari sisi lainnya. Kini Lisa mendapat servis dari tiga orang, sementara aku menginginkan Andi tapi dia selalu menghindariku — sepertinya dia segan menyentuhku.

"Come on, Andi, satu remasan atau satu kuluman saja darimu. I need you," jerit batinku. Tapi kembali rasa gengsi sebagai bos terhadapnya masih tinggi. Andi berciuman dengan Lisa sambil tangannya tetap meremas buah dadanya — aku iri melihatnya. Bahkan ketika Pak Reza dan Pak Edwin bertukar tempat, Andi tetap tak mau beranjak ke arahku.

Kembali aku mendapat kocokan dari Pak Reza — oh, much better than before. Kurasakan kenikmatan kembali dari Pak Reza, betapa nikmatnya sodokan dan kocokan beliau, jauh lebih nikmat dibanding Pak Edwin tadi. Kini aku kembali tenggelam dalam kenikmatan birahi. Tapi itu tak berlangsung lama ketika Pak Reza dan Pak Edwin kembali bertukar tempat — hingga tiga kali.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya