18px

Rahasia Panas di Balik Dinding Petak

Rahasia Panas di Balik Dinding Petak

Sehabis menikah aku langsung mengikuti suami tinggal di Ibu Kota, Jakarta. Sebagai pegawai negeri, suamiku hanya bisa mengontrak rumah petak untuk tempat kami berteduh dan seseorang memiliki alamat untuk pulang. Sangat beda rasanya dengan rumah di kota asalku, Salatiga, di mana hubungan antar manusia masih demikian kental dan saling memanusiakan antara satu dengan yang lain. Sementara di Jakarta yang aku rasakan, pertemuan antar manusia semata-mata lebih didorong oleh kebutuhan duniawi. Hubungan akan berarti baik apabila seseorang bisa memberikan manfaat dunia lebih besar dari yang lain. Di Jakarta orang lebih berhitung pada masalah jumlah dengan mengorbankan mutu โ€” kalau aku bisa memberi lebih banyak dari yang lain berarti aku lebih baik, dan pantas menerima sikap hormat yang lebih tinggi.

Demikianlah suamiku yang dosen universitas negeri, notabene pegawai negeri dengan embel-embel Ir. di depan namanya plus MM di belakangnya, tidak mampu meraih penampilan dan nilai yang layak di tengah masyarakat sekitarku.

Di sebelah rumahku tinggal keluarga Mas Tondy. Keluarga Mas Tondy sudah tinggal di kawasan itu selama lebih dari lima tahun; kami adalah tetangga baru bagi mereka. Walaupun begitu, kami bertetangga cukup akrab dan sangat harmonis. Mas Tondy sendiri adalah penjaga gudang di daerah Cakung yang mengontrak petak di sebelah kanan rumahku. Aku akui keluarga itu lebih memiliki nilai karena tampilan dunianya jauh lebih dari tampilan kami. Walaupun mengontrak, gaya hidup Mas Tondy beserta keluarga tak kalah dengan keluarga kami yang notabene memiliki pendidikan lebih baik dari mereka. Itulah kenyataan metropolitan yang kadang susah dipahami akal sehat.

Kebutuhan MCK kami berhimpitan, hanya dibatasi oleh selembar gedek yang rawan bolong-bolong. Hanya sikap morallah yang membatasi kami dalam arti yang lebih jauh. Bagi kami โ€” khususnya bagi aku dan Dik Narti istri Mas Tondy โ€” sumur adalah segala-galanya. Hampir sembilan puluh persen waktu kami habiskan di seputar sumur dan MCK-nya itu. Suami kami masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Bedanya, kalau suamiku, Mas Naryo, seharian siang dia tak ada di rumah; sementara kalau Dik Narti, seharian malamnya suaminya jaga gudang di Cakung.

Antara para suami kami praktis jarang berpapasan karena waktu kesibukannya yang saling terbalik. Sementara kami para istri pun kesibukan melayani suaminya jatuh pada waktu yang berbeda. Sebagai suami istri muda, Dik Narti baru keluar dari kamarnya menuju ke sumur sekitar jam 11 siang โ€” tentu dia harus siap melayani berbagai kebutuhan suaminya yang baru pulang setiap jam 6 pagi itu. Aku sendiri bercengkerama dengan suamiku pada malam harinya sepulang dari pekerjaannya.

Telah lima hari Dik Narti pulang ke desanya dengan maksud menjemput adik lelakinya untuk diajak membantu di Jakarta. Kulihat Mas Tondy menyiapkan sendiri segala kebutuhan sehari-harinya, mulai sekitar jam 10 atau 11 pagi, seusai tidur sepulang jaga malam. Dia mencuci pakaiannya, membersihkan rumah, mencuci perabot dapur, dan sebagainya. Mau tidak mau aku sering berpapasan di seputar sumur yang memang kami pakai berdua. Walaupun begitu kami jarang saling bicara. Aku lebih senang begitu โ€” aku takut omongan tetangga yang gampang usil.

Mas Tondy hampir seharian selalu berpakaian minimum dengan alasan udara Jakarta yang panas. Tanpa ewuh-pekewuh dia selalu hanya bercelana pendek dan melepas kaus kemejanya. Aku suka mencuri pandang. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang itu tampak gagah: tegap, padat, kekar, dan berotot. Mungkin pekerjaannya sebagai penjaga gudang memang pantas memiliki tubuh seperti itu โ€” tubuh yang diam-diam kuimpikan dalam setiap khayalan seks kalau sedang bermasturbasi, saat Mas Naryo sedang kerja tentunya.

Menurutku, Mas Tondy hanya cocok jadi suamiku. Selain tinggi tubuh kami yang di atas rata-rata, kami masing-masing punya tubuh indah terawat. Tubuh Dik Narti sendiri tidak seseksi tubuhku karena aku punya jadwal tetap berolahraga di pusat kebugaran. Sementara tubuh Mas Naryo sudah jelas kalah set dari tubuh suami tetanggaku itu. Walaupun sama-sama tegap dan kekar, tubuh Mas Naryo tidak berlekak-lekuk dengan otot seperti halnya tubuh Mas Tondy. Kadang aku suka berkhayal kotor kalau melihat Mas Tondy asyik mencuci pakaian kotornya dengan hanya mengenakan celana boxer ketat. Bagaimana rasanya ditiduri lelaki macho nan jantan seperti dia? Apakah ukuran kontolnya juga sama dengan ukuran kontol suamiku? Ah, lelaki macho seperti dia, pasti barangnya gede punya โ€” panjang, keras, dan berotot. Memikirkan hal itu aku merasa pusing sendiri...

Pagi itu aku sedang masak di dapurku yang sempit. Panasnya udara Jakarta memaksaku mondar-mandir di dapur dan sumur hanya menggunakan kutang dan handuk yang kuikatkan seenaknya, membuat auratku yang indah ini terpampang menggoda. Ketika itulah, tiba-tiba Mas Tondy muncul di pintu.

"Mbakyu Larsih, aku mau minta tolong sedikit nih," sambil terus nyerobot memasuki rumahku. Aku kaget โ€” mau apa dia? Kulihat wajahnya yang ganteng itu tampak kemerahan, matanya seperti kucing lapar melihat ikan asin, menatap mataku. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak. Antara khawatir dan ingin menolong tetangga, aku bangun berdiri mengikuti langkahnya.

"Ada apa, Mas Tondy?" Aku melihat sorot matanya yang semakin menakutkanku.

"Jangan marah ya Mbak. Masalahnya aku bener-bener nggak tahan nih. Dik Narti kan sudah lima hari pulang kampung. Aa... kku... mm... maaf ya Mbak, tadi pagi saat pulang jaga malam aku mendengar Mbak dan Mas Naryo masih ada di kamar sedang asyik masyuk."

Deg, hatiku. Kenapa Mas Tondy teganya ngomong begitu padaku? Aku nggak sempat berpikir lebih jauh saat dengan serta merta dia meraih tubuhku dengan tangannya yang kuat, membungkam mulutku, kemudian beringsut merebahkan aku ke kasur.

Kamarku yang memang hanya terpisah oleh dinding gedek dapurku membuatnya mudah untuk melampiaskan hawa nafsunya. Dengan sigapnya dia jejalkan gombal dari kantongnya ke mulutku โ€” yang aku rasa telah dia siapkan sebelumnya. Kemudian dengan kekuatan ototnya ditelikungnya tanganku untuk diikatkan ke ranjangku. Aku langsung dilanda ketakutan yang amat sangat. Aku ingat suamiku, ingat sanak keluargaku. Mungkinkah Mas Tondy mau membunuhku? Tetapi justru ketakutanku itulah yang membuatku lemas dan langsung menyerah.

"Mbak Larsih nggak usah takut, aku nggak akan nyakitin Mbak kok. Aku hanya perlu sebentar saja. Aku sudah pengin banget nih. Tadi pagi saat Mas Naryo menyetubuhi Mbak Larsih, aku ngintip dari balik dinding," dia berbisik dengan tajam ke telingaku untuk meyakinkan bahwa aku nggak akan disakitinya.

"Aku nggak tahan Mbak, tolongin aku Mbak..." dia langsung merangsek buah dadaku dengan buasnya. Aku melawannya karena hal semacam ini tak pernah sama sekali terbit dalam pikiran dan bayanganku.

"Aku nggak tahan bener Mbak... tolongin aku Mbak..." kini ketiakku dia ruyaki sambil menyedot dan menciumi habis-habisan. Dengan tanganku yang terikat, sisa tenagaku sama sekali nggak sebanding dengan penjaga gudang berotot ini. Dengan kasar penuh nafsu kain penutup tubuhku dia tarik dan lepasi dengan mudahnya. Tangannya yang kasar dan kokoh itu langsung mengelus-elus pahaku. Kemudian dengan cepat juga jari-jarinya menyeruak ke kemaluanku. Aku tidak begitu saja bisa menerima kenyataan ini. Aku menangis pilu walaupun hanya air mataku saja yang menampakkan tangisku. Aku menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda penolakan atas perbuatan Mas Tondy ini. Dia sudah sangat keterlaluan. Berlaku senonoh. Tidak menghormati aku, suamiku, keluargaku. Aku sangat takut akan aib yang akan menimpa kami.

Tetapi Mas Tondy terus membisiki aku, "Tenang Mbak Larsih, nggak apa-apa. Jangan takut, nggak ada yang bakalan tahu. Hanya kita berdua saja yang tahu. Aku berjanji untuk seumur hidupku hanya akan menjadi rahasia kita berdua saja."

Benar atau tidak kata-katanya itu, ternyata mampu memberikan aku kesejukan. Setidak-tidaknya melerai rasa takutku bahwa dia akan melukaiku. Seakan-akan aku diberinya pilihan: melawan dengan risiko dia akan bertindak brutal, atau menyerah pasrah dengan risiko aku harus melayani nafsu birahinya. Menyadari keterbatasanku saat ini, pilihan keduaiah yang aku pilih.

Kini aku mulai merasakan secara rinci apa yang sedang dia lakukan padaku. Jari-jarinya yang kasar terus menari-nari di kemaluanku, terasa sangat menggelitiki saraf-saraf peka birahiku. Aku mulai merasakan kenikmatan. Aku merasakan jari-jari Mas Tondy sangat pintar membangkitkan kehausan birahi para wanita.

Melihat aku bersikap menyerah dan pasrah, dia semakin ganas melumati ketiak yang kemudian melata bergeser ke leherku, ke tepian kupingku, lalu ke payudaraku.

"Mbak Larsih, Mbak sangat cantik sekali. Aku tadi pagi mengintip Mbak yang sedang digauli Mas Naryo โ€” oh Mbak, aku nggak tahan melihat wajah Mbak yang menggelinjang menerima kenikmatan dari Mas Naryo. Sekarang Mbak mesti nyobain kenikmatan dari aku, ya Mbak?"

Kemudian dengan pelan tetapi pasti Mas Tondy membelah selangkanganku. Dia menempatkan tubuh atletisnya tepat di antara selangkanganku, dan dengan sekejap aku merasakan sesuatu yang hangat panas mendesak-desaki kemaluanku. Aku sudah tahu โ€” itu kontolnya. Tapi yang membuatku kaget, ukuran kontolnya ternyata sama persis seperti bayanganku selama ini.

Rasa pasrah dan menyerahku hanya memberikanku satu pilihan: nikmatilah! Akupun pasrah, mencoba mencari kenikmatannya. Saat Mas Tondy terus mendesakkan kontol pisang tanduknya dengan cara mendorong menaik-turunkan tubuhnya memompakan kontolnya ke kemaluanku, dengan refleks aku membalasnya dengan memainkan pantatku.

Aku memutar-mutar bokong kemudian menaik-turunkannya untuk menjemput kontolnya. Aku merasakan rasa gatal yang luar biasa nikmat terasa di lubang vaginaku. Aku juga mulai merasakan cairan birahiku yang membanjir di dalamnya. Dan itu langsung diketahui oleh Mas Tondy yang semakin cepat dan keras mendesakkan kontolnya ke kemaluanku.

Tanpa ayal lagi, akhirnya seluruh batangan kontol Mas Tondy tenggelam dilahap kemaluanku. Hoohh, aku tidak menduga bahwa aku akan mendapatkan kenikmatan yang sangat luar biasa di pagi hari ini. Kontol super Mas Tondy yang berada dalam terkaman nonokku keluar masuk menggelitiki dinding-dinding peka vaginaku. Aku menggelinjang, mendesah, dan merintih lirih. Aku ikut memompa mengimbangi pompaan Mas Tondy.

Mas Tondy menatapku sesaat sementara kontolnya terus memompa memekku. Kemudian dia lepaskan sumpal mulutku untuk selanjutnya dia daratkan bibirnya ke bibirku. Kami saling melumat. Aku merasa sangat kehausan. Lepas dari sumpal itu sungguh melegakan. Dan kini sikapku adalah ingin memberikan sepenuhnya kepuasan kepada Mas Tondy. Aku sudah memasuki gerbang nafsu sendiri. Aku sudah lupa dengan tanggung jawab moralku sebagai istri dari Mas Naryo. Yang ada di pikiranku saat ini adalah perasaan ingin menikmati peristiwa ini sepuas-puasnya. Aku sangat ingin meraih nikmatnya madu dari lelaki jantan ini di tubuhku. Aku melumat habis-habisan bibir seksinya, menghisap-hisap lidahnya, menyedot ludahnya. Aku mengerang dan meracau:

"Mas Tondy, maafin aku ya... aku tadi takut banget. Mas Tondy, uuhh... kontolmu ennaakk banget. Mas Tondy, maafin Mbak Larsih ya... Mas Tondii... teruuszzhh... ennhhaakk bangett..."

Dan Tondy terus memompakan kontolnya ke memekku dengan mantap. Kami telah meraih irama persanggamaan bersama, sedang mengejar kepuasan puncak.

Akhirnya tali yang mengikat tanganku pun dilepaskannya. Kini tak ada lagi pemerkosaan. Yang ada adalah kesepakatan bersama untuk meraih puncak nikmat birahi. Keringat mulai membanjir dari tubuh-tubuh kami. Mas Tondy menggenjot dan aku menjemput.

Kakiku kunaikkan ke pundaknya yang kokoh hingga kontol Mas Tondy terasa mentok menyentuh rahimku. Nikmat yang kurasakan sungguh luar biasa. Dari penyebab awalnya โ€” di mana norma sopan dan adab tak lagi dijadikan batasan โ€” membuat aku juga bisa berlaku semauku. Kini kurenggut kepala Mas Tondy yang berambut cepak itu, kudekatkan ke wajahku, dan kukenyoti bibirnya sambil kukasari kepalanya. Nonokku yang gatalnya semakin nggak ketulungan membuat aku jadi buas, binal, dan liar... suatu peristiwa yang tak pernah terjadi saat aku bersanggama dengan suamiku selama ini. Mungkin ini pengaruh dari tubuhnya yang atletis itu, atau aroma keringatnya yang maskulin, atau nikmatnya dientot dengan kontolnya yang dahsyat itu? Aku tak tahu.

Aku menggelinjang-gelinjang dengan sangat hebatnya. Aku berteriak histeris tertahan sebagai wujud pelampiasan nafsu birahiku yang tak terkendali. Aku ingin dipuaskan sejadi-jadinya. Aku berguling ke atas. Dengan rambutku yang telah lepas terurai dari ikatannya dan dengan keringat yang semakin membasahi tubuhku, aku tumpangi tubuh Mas Tondy. Aku desakkan habis-habisan nonokku ke kontolnya untuk menggaruk lebih keras kegatalan birahi di dalamnya. Aku sangat gelisah dan resah menunggu hadirnya orgasmeku. Setiap kali aku mendongak dan menyibakkan rambut kemudian kembali menunduk histeris. Tangan-tanganku mencekal bukit otot di dada Mas Tondy hingga kukuku menancap dalam ke dagingnya. Mas Tondypun seakan tak mau kalah โ€” dia membenamkan wajah tampannya ke payudaraku untuk menyusui kedua belah payudaraku yang ranum itu sepuasnya. Sementara di bawah sana, rasa gatal yang sangat nikmat mendesaki nonokku. Aku tahu ini sebagai tanda bahwa tak akan lama cairan birahiku akan tumpah ruah. Aku sudah demikian lupa diri.

Akhirnya kami sama-sama mencapai kepuasan puncak. Cairan hangat yang menyemprot dari kontol Mas Tondy ke dalam nonokku langsung disambut dengan muntahan berlimpah cairan birahi nonokku. Aku langsung tersungkur sementara kedutan-kedutan kontol Mas Tondy belum sepenuhnya usai.

Untuk sesaat kami memang beristirahat. Namun nafsu birahi yang masih berakar kuat di tubuh kami masing-masing mendorong kami untuk melakukannya lagi dan lagi. Siang hari itu kami habiskan bak pengantin baru โ€” bercinta sepuasnya dalam berbagai gaya dan tempat di rumah itu, diakhiri dengan gaya anjing yang spektakuler di ranjangku.

Siang itu untuk pertama kalinya aku berhasil meraih orgasmeku berkali-kali. Satu hal yang tak akan pernah kudapatkan kalau aku bercinta dengan suamiku sendiri. Nyaris dua jam kami bercinta; aku terkapar terbadai kelelahan di pelukan Mas Tondy.

Tiba-tiba aku dilanda perasaan sangat menyesal. Aku seharusnya tak melakukannya. Aku merasa benar-benar kotor. Namun, saat aku masih melamun dalam penyesalan, tiba-tiba Mas Tondy bangkit dari ranjangku. Dia mencium keningku dan berlalu. Kudengar bisikan terima kasih dari bibirnya. Tiba-tiba aku merasa ingin sekali lagi menangkapnya untuk mengecup bibir seksinya sekali lagi, tapi dia telah hilang di balik pintu.

Siang itu aku tidak masak. Rasa penat di sekujur tubuhku akibat disenggamai lelaki gagah itu membuatku bermalasan sepanjang hari. Saat Mas Naryo pulang sore harinya, kulihat dia membawa bungkusan plastik di tangannya โ€” mie goreng dan puyunghai kesukaanku. Seakan melupakan apa yang telah terjadi siang tadi, kini aku duduk makan bersama suamiku dengan perasaan penuh galau. Pada Mas Naryo aku sampaikan keinginanku untuk beberapa waktu pulang mudik. Aku bilang sudah kangen sama sanak famili di Salatiga. Mas Naryo menatap aku, menatap mataku โ€” berusaha membaca relung hatiku. Dia setuju aku pulang. Dia menyadari bahwa aku masih dalam proses adaptasi dalam menyelami kehidupan Jakarta. Dia akan menjemputku saat kembali ke Jakarta nanti.

Rupanya permintaanku pulang dia sambut dengan sebuah rencana yang memberikan kejutan bagiku. Sesudah barang tiga minggu dengan penuh rindu aku menunggu jemputan Mas Naryo, dia meneleponku. Dia bilang tidak bisa datang menjemputku karena kesibukan di kampusnya. Tetapi dia telah mengirimkan lima lembar tiket Garuda yang bisa aku ambil di kantor Garuda Semarang. Dia minta supaya aku mengajak serta kedua orang tuaku dan dua orang adikku yang sedang liburan sekolah. Sesuai dengan hari yang ditetapkan, Mas Naryo menjemputku di bandara Soekarno-Hatta. Aku heran โ€” ternyata Mas Naryo bisa menyopir mobil sendiri.

Dan kejutan yang paling hebat dari Mas Naryo adalah saat mobil tidak meluncur ke rumah yang kukenal sebagai rumah kami selama ini. Melalui jalan tol Jagorawi, Mas Naryo membawa mobilnya ke kompleks perumahan dosen di Cibubur. Kami memasuki rumah baru kami yang besar dan luas. Segala barang-barang dari rumah lama telah dipindahkan seluruhnya ke rumah baru ini. Aku melihat bagaimana orang tuaku dan adik-adikku menyambut gembira atas limpahan rezeki dan rahmat kepada kami. Di depan mereka Mas Naryo merangkul aku dan mencium pipiku, yang kusambut dengan sepenuh hangat hatiku. Aku membulatkan tekad untuk sepenuhnya mengabdi dan mendukung segala usaha dan karier Mas Naryo suamiku.

Namun hubungan mesumku dengan Mas Tondy tak berakhir begitu saja. Walaupun kami sudah tinggal berjauhan, kerinduan untuk mengulangi peristiwa indah di hari itu selalu terpatri kuat di benakku dan di benak Mas Tondy. Tak heran sejak peristiwa nikmat di rumah kontrakanku itu, secara teratur kami masih berhubungan. Kami sering bertemu untuk menyalurkan nafsu hewaniah kami di mana saja kami mau โ€” di hotel, motel, Puncak, Carita, dan tempat-tempat perselingkuhan lainnya.

Akupun baru sadar sekarang, Mas Naryo adalah suami sahku, tetapi Mas Tondylah suami seksualku yang sebenarnya...

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’