18px

Rahasia Ranjang Tante dan Keponakan

Rahasia Ranjang Tante dan Keponakan

Merasakan apa yang baru saja dilakukan tantenya terhadap penisnya, Randy menjadi berani. Dibukanya ritsleting atas daster tantenya. Tampak di depan matanya buah dada yang lebih besar dari kepunyaan Susan, beserta tonjolan mungil puting Tante Betty yang berwarna merah kecoklatan. Randy sudah tidak sabar. Ia langsung mengulum puting susu tantenya yang sudah mulai menegang itu, dan buah dada tantenya pun terasa mengeras.

Tante Betty kebingungan dengan apa yang dilakukan keponakannya. Sekilas hampir saja ia beranjak bangun untuk menegurnya. Tapi jangan-jangan ia tahu apa yang kulakukan tadi, pikir Tante Betty. Ia menjadi takut sendiri — pasti memalukan jika keponakannya melapor ke mamanya.

Akhirnya dengan pasrah, Tante Betty tetap berpura-pura tidur. Apalagi sentuhan lidah Randy pada putingnya membawa kenikmatan yang luar biasa. Ia bahkan mulai menikmatinya sepenuhnya ketika kuluman Randy disertai gigitan kecil. Tante Betty menggigit bibir karena cumbuan keponakannya.

"Ssshhh..." tanpa sadar Tante Betty mendesah penuh kenikmatan saat Randy mengulum putingnya. Ia pun memegangi kepala keponakannya dengan lembut seolah tidak ingin aktivitas itu berhenti. Kesadarannya mulai kabur dan seluruh persendian tubuhnya menjadi sangat lemas.

Randy tahu bahwa tantenya berpura-pura tidur. Ia juga tahu bahwa tantenya benar-benar menikmati semua yang dilakukannya. Hal ini semakin membangkitkan keberaniannya. Ia segera membuka daster Tante Betty sambil terus mengulum puting serta meremas-remas tubuhnya, lalu menjilati seluruh tubuh tantenya.

"Enghh... ahhng... ahh... ngggssssh..." Tante Betty mendesah tanpa mampu menahan apa yang dilakukan keponakannya itu. Tubuhnya seperti tidak mau berhenti dijilati. Saat ini ia hanya ingin terus disentuh dengan penuh kemesraan.

Napas Randy mulai ngos-ngosan. Dorongan hasratnya membuat ia segera membuka celana dalam Tante Betty. Pemandangan bulu-bulu halus di sekitar kemaluannya membuat Randy semakin bernafsu. Diarahkannya batang penisnya ke dalam selangkangan Tante Betty.

Perlahan, batang penisnya masuk ke dalam lubang kemaluan tantenya. Tante Betty merasakan tubuhnya dimasuki sesuatu yang terasa luar biasa enaknya. Matanya terpejam dalam-dalam. Tubuhnya mulai merespons gerakan naik turun Randy, napasnya tak teratur dipenuhi dorongan nafsu yang makin tinggi.

"Aahh... essshh... ahh..." Tante Betty mulai mengerang kenikmatan. Ia memegangi pantat Randy untuk membantu gerakan naik turunnya.

Mendengar suara desahan itu, Susan pun terbangun. Ia terhenyak melihat tubuh tantenya dalam keadaan telanjang ditindih Randy. Dilihatnya Randy dengan penuh nafsu menyetubuhi Tante Betty, sementara sang Tante justru merespons dengan desahan-desahan. Tangan Randy memegangi paha Tante Betty dan pinggangnya terus bergerak di sela-sela selangkangan itu. Melihat adegan sepupu serta mendengar desahan tantenya dalam ruangan yang remang-remang ini membuat Susan mulai terangsang.

Tanpa sadar Susan mendekati wajah tantenya. Diciumnya bibir Tante Betty. Tante Betty yang sudah di awang-awang segera merespons ciuman itu dengan lumatan penuh birahi. Randy masih asyik dengan gerakan maju-mundurnya.

"Engg... ssshhh... nikmat, Ran..." desah Susan di sela-sela ciumannya dengan Tante Betty.

Penis Randy terasa semakin tersedot. Suara cecapak semakin keras dan berirama seiring gerakan penis Randy memasuki liang vagina Tante Betty.

Susan semakin larut dalam permainan tante dan sepupunya. Vaginanya pun telah membasah karena terangsang. Kepala Susan kemudian bergerak turun, bibirnya mengulum puting Tante Betty sementara tangannya meremas-remas buah dadanya.

"Enghsss... enghh... terussshhin... engshh..." Tante Betty semakin merasa terbang di awang-awang. Gerakan Randy membuat vaginanya terasa sangat nikmat, jilatan lidah Susan pada putingnya semakin membuat nafsunya menjadi-jadi. Napasnya semakin tak teratur. Cumbuan kedua keponakannya itu memenuhi kebutuhan seksualnya yang sudah tertahan belasan tahun. Tubuhnya pun ikut maju-mundur mengimbangi gerakan Randy, dan ia semakin mempererat pelukannya. Tiba-tiba tubuh Tante Betty menegang dan vaginanya berdenyut-denyut seperti meledakkan sesuatu. Ia merasa tubuhnya hancur berkeping-keping dalam kenikmatan.

"Ran, ganti aku aja, Tante udah lemas tuh," ucap Susan tanpa malu-malu. Ia segera mengangkangkan kakinya. Nafsunya sudah memuncak dan harus dipenuhi. Seluruh tubuhnya seperti menuntut untuk dicumbui.

Randy menarik penisnya dari kemaluan tantenya yang telah terkulai lemas, lalu mengarahkannya ke lubang kemaluan Susan yang telah mengangkang. Penisnya langsung tersedot masuk. Ditindihnya tubuh sepupunya itu.

Mereka sudah dikuasai birahi yang tak tertahankan. Kebutuhan yang saling memuaskan itu membuat tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Randy menciumi buah dada Susan sambil pinggangnya melakukan gerakan naik turun, sementara Susan melingkarkan tangan pada punggung Randy.

"Enghh... terusshh, Ran... masukin terus... enggsshh..." desah Susan dengan mata terpejam.

Dengan perlahan Randy menarik tubuh Susan agar duduk di atas pinggangnya. Posisi ini membuat penisnya bisa masuk lebih dalam. Tangan Randy memegangi pantat sepupunya, dan Susan merasakan vaginanya terisi lebih penuh.

Randy semakin merasakan penisnya tersedot oleh kemaluan sepupunya. Susan yang berada di atas mulai menggerakkan badannya. Keduanya larut dalam gerakan berirama — Randy semakin memperdalam gerakannya, Susan mencontoh gerakan tantenya dengan menggoyang-goyangkan pinggul.

"Enghh... terus, Ran... enghh... enaaakk..." mata Susan terpejam dan bibirnya mendesah.

Randy terus menggerakkan pinggul semakin cepat. Goyangan Susan pun semakin cepat pula. Kedua tubuh itu telah menyatu dalam kebutuhan yang tak tertahankan. Vaginanya terasa semakin berdenyut-denyut oleh sodokan penis sepupunya.

"Lebihh kerashh... enghh lagi..." Susan merasakan tubuhnya akan meledak.

Gerakan keduanya menjadi semakin cepat dan keras. Tiba-tiba tubuh keduanya menegang secara bersamaan — tanda mereka mencapai puncak kenikmatan berbarengan. Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah tertidur pulas dalam keadaan telanjang.

Peristiwa semalam tampaknya dianggap seperti tidak pernah ada oleh Tante Betty. Saat sarapan, ia tampak berusaha bersikap santai. Ia sudah mengenakan busana kerja — blus krem dan rok span abu-abu.

"Ran, kamu mau ke mana hari ini?" tanya Tante Betty sambil mengoleskan mentega pada roti tawarnya.

"Mungkin ke toko buku, ada novel Sidney Sheldon yang baru," ucap Randy sambil berpura-pura membaca koran. Ia masih sungkan mengingat apa yang dilakukannya semalam, takut kalau Tante Betty melapor ke mamanya.

"Kalau gitu, ini buat beli novelnya," ucap Tante Betty sambil menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribuan.

Randy mendongakkan kepala dengan terheran-heran. Dilihatnya Tante Betty mengangguk — tanda ia harus menerima uang itu.

"Makasih ya, Tante," ucap Randy sambil menyorongkan badan memeluknya. Mereka berpelukan erat.

Tiba-tiba Tante Betty berbisik, "Yang tadi malem jangan kasih tahu siapa-siapa ya, Ran."

"Iya, Tante." Kemaluan Randy terasa mengeras.

"Terus, kalau Randy takut tidur sendirian, tidur di kamar Tante aja ya," ucap Tante Betty dengan nada datar, tidak ingin Randy menangkap keinginannya. Tapi bagi Randy, kata-kata itu seperti undangan yang sangat jelas maksudnya.

Randy sedikit melonggarkan pelukannya dan melihat wajah Tante Betty tampak agak memerah. Hasrat untuk mengulangi aktivitas semalam menggelegak dalam dirinya. Tanpa sadar diciumnya bibir Tante Betty — pertama lembut, kemudian semakin ganas. Kebutuhannya mulai tak tertahankan. Tante Betty sempat gelagapan, tidak mengira Randy sudah berani terang-terangan. Namun beberapa detik kemudian ia mulai membalas ciuman itu. Mereka saling melumat dan menghisap. Ia bahkan membiarkan tangan Randy membuka kancing blusnya, menyisihkan BH dan meremas buah dadanya. Semakin lama, buah dada itu terasa mengeras.

"Sudah, Ran. Tante mau ke kantor," ucap Tante Betty sambil berpura-pura tidak mau. Namun Randy tidak peduli. Ia mulai menciumi leher tantenya dengan lembut, sementara tangannya mengangkat rok span abu-abu itu hingga celana dalam Tante Betty terlihat, lalu mulai menggerayangi sesuatu yang ada di baliknya.

"Ash... neghh... udah, Ran..." desah Tante Betty. Ia tidak ingin terlambat — tender proyek dua miliar itu bisa hilang. Namun apa yang dilakukan keponakannya ini benar-benar terasa nikmat.

Akhirnya ia membalikkan badan dan segera menurunkan celana dalamnya.

"Udah, Ran, dari belakang aja," ucap Tante Betty dengan sungguh-sungguh. Rani, teman kantornya, pernah mengatakan bahwa pria bersetubuh lewat belakang akan cepat ejakulasi — setidaknya ia masih sempat merasakan persetubuhan dan tidak terlambat ke kantor.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Randy. Dipelorotkannya celana pendeknya. Batang penisnya tampak sudah sangat tegang. Perlahan diarahkannya ke vagina Tante Betty dari belakang.

Perlahan penis Randy mulai memasuki lubang kemaluan Tante Betty. Lututnya seperti hampir copot ketika penis itu masuk ke dalam. Tante Betty pun langsung merasa lemas dan menahan badannya pada sandaran sofa, posisinya seperti orang yang akan naik kuda.

"Eenghh... nikmat... terussshh..." desah Tante Betty sambil memejamkan mata.

Randy memegangi pinggang tantenya dan terus menyodok-nyodokkan penisnya. Penisnya terasa seperti dipijat dan disedot. Ia kemudian ikut membungkuk agar tangannya dapat meremas buah dada Tante Betty yang ranum menggantung.

Gerakan mereka makin lama makin cepat. Tante Betty sudah tertelungkup di sandaran sofa dan Randy menyetubuhinya dari belakang. Kenikmatan itu semakin membuat ia lupa urusan kantornya.

"Terussshh, Ran... enakkk..." desah Tante Betty.

Beberapa saat kemudian Randy mempercepat gerakannya, memeluk erat tubuh tantenya sementara pinggangnya masih bergerak maju-mundur. Tiba-tiba tubuhnya mengejang sambil penisnya disorongkan sedalam-dalamnya ke lubang kemaluan Tante Betty. Ia telah sampai di puncak kenikmatan. Sperma Randy membasahi lubang kemaluan Tante Betty. Ia kemudian menarik penisnya dan menjatuhkan badannya ke sofa.

Tante Betty segera menaikkan celana dalamnya dan merapikan blus serta roknya. Dilihatnya keponakannya memandang dengan mesra. Tampaknya kecanggungan di antara mereka sudah luntur, berganti hubungan dua lawan jenis yang saling membutuhkan. Tante Betty pun mau tidak mau mulai mengakui bahwa ia tidak lagi melihat Randy sebagai keponakannya, melainkan sebagai pria yang mampu memberikan kepuasan seksualnya.

"Udah ya, Tante ke kantor dulu," ucap Tante Betty sambil mendekati Randy. Mereka berciuman dengan mesra seperti sepasang kekasih. Setelah melihat jam di dinding, Tante Betty segera beranjak ke garasi. Ia sudah terlambat sepuluh menit. Tak lama kemudian deru suara mobil berbunyi dan semakin lama semakin menghilang. Randy pun segera memakai celananya dan tertidur di sofa.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya