Bab 1
Ramuan Pahit Nek Julia
Aku meminum ramuan yang diberikan Nek Julia. Pahit sekali rasanya. Aku dipaksa meminumnya, dengan dibantu oleh suaminya yang aku panggil Pak Joseph.
Aku terus menggigil. Menurut Nek Julia, untung lebih cepat ketahuan. Kalau tidak, aku bisa mati—setidaknya gila. Ini masih bisa tertolong, kata mereka juga.
Setelah lulus kuliah, aku ditempatkan di sebuah desa di Kalimantan, sebuah perkampungan yang jauh dari keramaian. Kampung itu dikelilingi oleh hutan lebat. Aku terserang malaria. Mulanya aku merasa demam biasa—ternyata malaria tropikana.
Sebagai ahli penyuluhan, aku mengajari mereka bagaimana bertanam pohon rotan dan pembibitannya, agar tidak menebang sembarangan dan dibiarkan begitu saja karena rotan akan cepat habis.
Pak Joseph adalah kepala suku di desa itu, dan Nek Julia adalah seorang berpengetahuan dalam pengobatan supranatural dan ramuan-ramuan.
Setelah meminum ramuan itu, aku diselimuti kemudian dikeloni oleh Nek Julia yang berumur 62 tahun dan memiliki 11 cucu. Aku segan kepada suaminya, tapi justru suaminya mengatakan, "Biar tidak menggigil lagi." Tak lama, tengkukku dipijat kuat, demikian pula betis dan pinggangku, tentu saja dengan minyak pijat ramuannya. Satu jam kemudian, rasa dingin dan gigilku berangsur tenang. Aku disuapi dengan nasi bubur dan makan lahap sekali karena sudah tiga hari tidak makan.
Kata Nek Julia, nanti kalau aku sudah sembuh, aku harus membayar syaratnya. Aku siap—syarat apa pun akan kubayar asalkan aku sembuh, kata ku, aku sudah tidak tahan.
Aku tertidur. Pukul 14.00, aku dibangunkan lalu dipijat lagi. Aku menjerit-jerit dipijat nenek tua itu. Orang desa mendengar jeritanku, tapi mereka tidak berani masuk—sudah menjadi kebiasaan, kalau Nek Julia mengobati pasiennya dia cukup meletakkan selendang merahnya di tanda atau di mana saja, orang tidak berani lagi masuk. Itu salah satu syaratnya. Lalu aku diberi minuman ramuan yang pahit itu lagi; kalau tidak untuk sembuh, aku tidak mungkin meminumnya.
Dua hari kemudian, aku segar. Nek Julia memintaku berjemur di bawah matahari pagi selama satu jam sampai aku berkeringat. Lalu aku dibawanya ke rumah. Disuruhnya aku hanya memakai sarung saja untuk dipijat. Dia memijatku mulai dari ujung jari kaki sampai ke kepalaku. Aku benar-benar menjerit.
Tiba-tiba suaminya datang dan berteriak dari luar, mengatakan dia mau ke hutan mengambil rotan. Nek Julia kembali memijat pahaku dan membuka celana dalamku. Katanya semua harus dipijat. Aku pasrah saja. Aku telentang dan Nek Julia mengurut kemaluanku. Disentakkannya kemaluan itu dengan tiba-tiba dan aku menjerit kesakitan.
"Sabar. Kemaluan seperti ini tidak bagus. Harus besar dan panjang," katanya.
Setelah rasa sakitnya menghilang, tiba-tiba Nek Julia memulas kemaluanku dengan kuat ke kanan dan ke kiri. Kembali aku menjerit. Warga desa yang mendengar jeritanku hanya tertawa terbahak-bahak karena mereka sudah terbiasa mendengar orang menjerit ketika dipijat.
Nek Julia mengeluarkan pucuk rotan muda yang sudah bersih dari dalam tas rajutan khas Dayak-nya. Dia lumuri dengan minyak pijat lalu dibacakan mantra. Rotan muda itu dipukulkan ke kemaluanku. Aku kesakitan. Ada lima kali pukulan itu, dan sebanyak itu pula aku menjerit. Aku merasa kemaluan membesar dan memanjang.
"Sudah cukup sebesar dan sepanjang ini?" tanya Nek Julia.
Betapa besar dan panjangnya kemaluanku—tiga kali ukuran biasanya.
"Sudah!" kataku cepat.
"Kamu harus bayar syaratnya," kata Nek Julia padaku.
"Berapa aku harus bayar, Nek?"
"Tidak pakai uang."
"Lalu?"
Dinaikkannya kain sarungku ke perutku hingga dari pusar ke bawah aku bertelanjang. Nek Julia menaiki tubuhku; kedua kakinya mengangkang di antara kedua kakiku, dia menaikkan sarungnya pula. Perlahan kemaluanku dituntunnya memasuki memeknya. Perlahan dan terus dia menekan tubuhnya sampai kemaluanku memenuhi liang memeknya.
Aku melihat ke pintu yang masih terbuka.
"Jangan takut. Orang tidak berani masuk," katanya yakin.
Nikmat sekali rasanya. Semua batangku sudah terkubur dalam memeknya dan terasa kemaluanku seperti dipijat-pijat di dalam. Tak lama, aku memuntahkan spermaku. Nek Julia terus memutar-mutar pinggulnya dan matanya terpejam.
Anehnya, kemaluanku terus tegang mengeras, tidak ada tanda-tanda melemas. Nek Julia terus memutar-mutar kemaluanku dalam memeknya itu sampai akhirnya Nek Julia memelukku kuat dan merebahkan tubuhnya di atas tubuhku.
Nek Julia mendesah dan mengatakan dia sudah sampai. Setelah itu ditiupnya dahuku, dan kemaluanku perlahan-lahan melemas dan keluar dengan sendirinya dari memek Nek Julia.
Nek Julia mampu menyetel kemaluanku agar tegang beberapa kali orgasme tanpa berhenti. Dia baru akan berhenti kalau Nek Julia sudah orgasme dengan meniup keningku tiga kali.
Dia membersihkan kemaluanku dan aku pipis ke kamar mandi. Aku disuruhnya tidur dan aku tertidur nyenyak. Sore pukul 16.00, aku dibangunkannya. Aku disuruh makan nasi dengan lauk kancil yang baru diburu oleh Pak Joseph. Aku makan lahap sekali—masakannya enak.
Selesai makan, aku disuruh duduk di kursi. Nek Julia mengangkangkan kedua kakiku dan meletakkan kedua kakiku di pundaknya. Sarungku disingkapnya dan dia menjilati kemaluanku. Aku melihat betapa gagahnya kemaluanku—aku bangga dengan kemaluan seperti itu.
Ketika dia menjilati kemaluanku, ujung jempol kakiku dimasukkannya ke dalam memeknya dan digoyang-goyangnya. Buah pelirku digenggamnya dengan tangan kirinya. Kemaluanku dia lahap dengan buas dan rakus. Lama sekali aku merasakan nikmat—ada 35 menit, spermaku belum juga keluar.
"Kok belum keluar juga, nek?" tanyaku.
"Aku yang menentukan keluar atau tidak," katanya. "Tunggu puas dulu."
Dalam hatiku, terserahlah. Yang penting aku merasakan terus melayang dan nikmat disuapi dan dijilati seperti itu. Nek Julia ahli sekali menjilati kemaluanku. Aku dapat merasakan, telapak kaki bagian luar sudah dibasahi oleh lendir. Aku heran, kenapa Nek Julia setua ini masih punya nafsu yang kuat.
Nek Julia melepaskan genggamannya pada buah pelirku. Kini dia menjilatinya dengan lembut dan aku berada di puncak kenikmatan. Aku menyemburkan spermaku beberapa kali di mulutnya. Aku mendengar Nek Julia menelan spermaku dengan puas.
"Bagaimana, enak?"
"Enak sekali, nek."
Direngkuhnya aku ke lantai beralaskan tikar. Kami beristirahat dan berpelukan. Nikmat sekali memeluk nenek di tengah hutan ini.
"Apakah nenek selalu melakukan ini kepada pasien nenek?"
"Tidak. Hanya bersama pasien yang kulakukan begini—itu karena aku menyukainya," kata Nek Julia. Semuanya adalah laki-laki muda yang dia sukai dan dia cintai.
"Bagaimana dengan Pak Joseph, Nek?"
"Dia tidak tahu. Makanya pandai-pandai menjaga rahasia," tegasnya. Aku mengangguk.
"Tapi kalau ketahuan orang lain atau suami nenek bagaimana?" tanyaku.
"Mereka tidak berani berbuat apa-apa. Aku katakan, ini adalah cara pengobatanku—jadi mereka tidak percaya ini atas kehendakku, tapi atas kehendak orang halus yang mengikutiku. Lagi pula, mana ada orang percaya aku mau bersetubuh, kan aku sudah tua. Tapi mereka percaya, kalau roh yang mengikutiku adalah gadis muda dan cantik," jelas Nek Julia.
Aku mengangguk kagum.
Tiga tahun, aku dan Nek Julia terus melakukan hal itu di setiap ada kesempatan. Kalau aku mau menyetubuhinya, aku katakan kepada Pak Joseph agar Nek Julia datang ke rumah karena aku mau dipijat. Malam atau sorenya, pasti Nek Julia datang ke rumahku.
Tamat