Rencana Gelap Sang Tetangga
Rencana Gelap Sang Tetangga
Satu hal yang membuat aku betah memandangi Noni adalah bulu ketiaknya yang lebat — hitam kontras dengan tonjolan buah dadanya yang sangat putih mulus. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia tidak mencukurnya, tapi justru itulah yang paling membuatku bernafsu. Bagaimanapun juga, dia adalah tetanggaku dan suaminya adalah temanku. Namun cerita istriku yang mengatakan suami Noni impoten jelas membuatku menghayal tak karuan. Entah ide dari mana, aku langsung berbicara kepada istriku yang sepertinya sudah mulai pulas.
"Mahh..." panggilku pelan.
"Hemmm..." istriku hanya menggunam.
"Gimana kalau kita kerjain Noni?"
"Hahhhh?!" Istriku terkejut dan membuka matanya. "Maksud Papa bagaimana?"
Aku agak ragu menyampaikannya, tapi karena sudah terlanjur, akhirnya kuungkapkan juga. "Yaahh, kita kerjain Noni sampai dia gak tahan menahan nafsunya."
"Buat apa sih, dan gimana caranya?" uber istriku.
Aku menguraikan cara memancing birahi Noni — misalnya dengan pura-pura tidak sengaja memperlihatkan senjataku, atau saat kami sedang bercinta. Istriku agak terkejut, apalagi setelah aku uraikan tujuan akhirnya: aku ingin menikmati tubuh Noni. Dia marah dan tersinggung.
"Papa sudah gila ya? Mentang-mentang Mama sudah nggak menarik lagi," ambek istriku.
Untunglah setelah aku beri penjelasan bahwa ini hanya sekadar fun dan aku hanya mengungkapkan tanpa memaksa, istriku mulai melunak. Akhirnya kata-kata yang kutunggu-tunggu pun terucap dari mulutnya.
"Oke deh, Pah — kayaknya sih seru juga. Tapi inget, jangan sampai kecantol, dan jangan ngurangin jatah Mama," ancam istriku.
Aku senang sekali mendengarnya. Langsung kucium keningnya. "So pasti dong, Mah — lagian selama ini kan Mama sendiri yang gak mau tiap hari." Istriku hanya terdiam cemberut manja, mungkin juga membenarkan libidoku yang terlalu tinggi dan libidonya yang cenderung rendah.
Keesokan paginya, kebetulan hari Sabtu. Setelah kompromi dengan istriku, kami menjalankan rencana pertama: pukul 5.30 pagi, istriku keluar berolahraga dan tentunya bertemu dengan Noni yang biasa berolahraga pagi. Aku mengintip mereka dari jendela atas rumah dengan deg-degan. Setelah melihat mereka ngobrol serius, aku mulai menjalankan aksiku. Yakin istriku sedang membicarakan soal nafsuku yang tinggi dan libidonya yang rendah, aku membuka celana pendekku hingga telanjang, kontolku berdiri menunjuk langit, lalu aku berjalan melewati jendela sambil menyampirkan handuk di pundakku, seolah-olah mau mandi. Aku yakin mereka melihat dengan jelas karena kamarku yang terang benderang kontras dengan suasana pagi yang belum begitu terang di luar. Untuk memastikannya, aku balik lagi berpura-pura ada yang tertinggal, dan lewat sekali lagi.
Sesampai di kamar mandi, aku segera menyiram kepalaku yang panas akibat birahi yang naik. Siraman air dingin memang menetralkan otakku yang panas dengan segar.
Setelah mandi, aku duduk di teras berteman secangkir kopi dan koran. Kulihat mereka berdua masih mengobrol. Aku mengangguk ke Noni yang kebetulan menatapku — sebagai sapaan. Kulihat rona merah di wajahnya; entah apa yang dibicarakan istriku saat itu.
Masih dengan peluh bercucuran, istriku yang masih kelihatan seksi memberikan jempol ke arahku yang sedang asyik membaca koran. Pasti pertanda bagus, pikirku. Aku segera menyusulnya dan menanyakannya.
"Gimana, Mah?"
Istriku cuma senyum-senyum saja. "Kok jadi Papa yang nafsu sih," candanya.
Aku setengah malu juga. Akhirnya istriku bercerita: katanya wajah Noni kelihatan horny saat mendengar bahwa nafsuku berlebihan, apalagi pas melihat aku lewat dengan senjata tegang di jendela — roman mukanya berubah.
"Sepertinya Noni sangat bernafsu, Pah," kata istriku.
"Malah dia bilang Mama beruntung punya suami kayak Papa. Tidak seperti dia yang cuma dipuaskan oleh jari suaminya aja."
"Ooohhh..." aku cuma mengangguk setelah tahu begitu.
"Terus selanjutnya gimana, Mah?" pancing aku.
"Yaah, terserah Papa aja — kan Papa yang punya rencana," kata istriku.
Aku terdiam dengan seribu khayalan indah. "Ok deh, kita mikir dulu ya, Mah."
Aku kembali melanjutkan membaca koran yang sempat tertunda. Baru saja duduk, aku melihat suami Noni berangkat kerja dengan mobilnya. Ia sempat menyapaku.
"Pak, lagi santai nih? Yuk berangkat, Pak," sapanya akrab.
Aku menjawab dengan tersenyum dan melambaikan tangan.
Pucuk dicinta ulam tiba, pikirku. Ini kesempatan besar — Noni di rumah sendiri. Tapi gimana caranya? Aku memutar otak, konsentrasi tidak pada koran tapi mencari cara untuk memancing gairah Noni dan menyetubuhinya. Gimana, gimana, gimana...
Sedang asyiknya mikir, tiba-tiba orang yang sedang aku khayalkan ada di depan mata.
"Wuiih, lagi nyantai nih, Pak? Mbak Linda ada, Pak?" sapanya sambil menyebut nama istriku.
"Eeeh, Mbak Noni — ada di dalam, Mbak, masuk aja," jawabku setengah gugup.
Noni melangkah memasuki rumahku. Aku cuma memperhatikan pantatnya yang bahenol bergoyang seolah memanggilku untuk meremasnya. Aku kembali hanyut dengan pikiranku, tapi keberadaan Noni di rumah jelas membuatku segera beranjak dari teras dan masuk juga. Ternyata mereka sedang asyik ngobrol di ruang tamu, obrolan yang mendadak terhenti setelah aku masuk.
"Haaaayo, pagi-pagi sudah ngegosip — pasti lagi ngobrolin yang seru nih," candaku.
Mereka berdua hanya tersenyum. Aku segera masuk ke kamar dan merebahkan diri, menatap langit kamar. Mataku tertuju pada jendela kamar yang gordengnya terbuka. Karena di kamar posisinya lebih terang dari di ruang tamu, tentunya mereka bisa melihat aku meskipun aku tidak bisa melihat mereka.
Reflek aku bangkit dari tempat tidur, menggeser sofa ke sudut yang kuperkirakan mereka dapat melihat, lalu aku lepas celana pendekku dan mulai mengocok senjataku. Sungguh nikmat — aku bayangkan Noni sedang melihatku dan sedang horny. Kontolku langsung kaku.
Tapi tiba-tiba pintu kamarku terbuka; istriku masuk dan langsung menutup kembali pintu kamar.
"Pa, apa-apaan sih, pagi-pagi udah ngocok? Dari ruang tamu kan kelihatan!" semprot istriku.
"Haaah, masa iya?" tanyaku pura-pura bego.
"Noni sampai malu dan pulang, tuh," cerocosnya lagi.
Aku hanya terdiam. Mendengar Noni pulang, mendadak gairahku drop. Aku kenakan kembali celanaku.
Sampai siang aku sama sekali belum menemukan cara yang tepat untuk memancingnya, sampai istriku pergi arisan. Aku cuma rebahan di kamar memikirkan cara untuk menikmati tubuh Noni.
"Pasti lagi mikirin Noni nih, bengong terus. Awas ya, bertindak sendiri tanpa Mama. Mama mau arisan dulu sebentar," ancam istriku. Aku cuma mengangguk.
Beberapa menit setelah istriku pergi, aku terbangun karena di depan rumah terdengar suara gaduh. Aku keluar dan melihat anakku yang laki-laki bersama temannya ada di teras, dan Noni berdiri dengan wajah ketakutan. Ternyata bola yang dimainkan anakku dan temannya mengenai lampu taman rumah Noni hingga pecah. Aku segera meminta maaf ke Noni dan berjanji akan menggantinya. Anakku dan temannya kusuruh bermain di lapangan yang agak jauh dari rumah.
"Mbak Noni, aku pamit dulu ya, mau beli lampu buat gantiin," pamitku.
"Eeeh, nggak usah, Pak — biar aja, namanya juga anak-anak. Lagian aku ada lampu bekasnya yang dari developer di gudang. Kalau nggak keberatan, nanti tolong dipasangin yang bekasnya aja."
Aku lihat memang lampu yang pecah sudah bukan standar dari developer. Otakku jadi panas melihat cara bicaranya dengan senyumnya yang membuatku horny sendiri.
"Kalau gitu, Mbak, tolong ambil lampunya — nanti aku pasang," kataku.
"Waaah, aku nggak sampe, Pak. Tolong diambilin di dalam," senyumnya.
Kesempatan datang tanpa direncanakan. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Noni menunjukkan gudang di atas kamar mandinya — ia memanfaatkan ruang kosong di atasnya untuk gudang.
"Wuih, busyet — tinggi, Mbak. Aku nggak sampe. Ada tangga, Mbak?"
"Nggak ada, Pak. Kalau pakai bangku sampe nggak?"
"Coba aja."
Noni berjalan ke dapur mengambil bangku. Lambaian pinggulnya yang bulat seolah memanggilku untuk segera menikmatinya, meskipun tertutup rapat oleh dasternya.
Lamunanku terputus setelah Noni menaruh bangku tepat di depanku. Aku segera naik, tapi ternyata tanganku masih tak sampai meraih handle pintu gudang.
"Gak sampe, Mbak," kataku. Aku lihat Noni agak kebingungan.
"Dulu naruhnya gimana, Mbak?"
"Dulu kan ada tukang yang naruh — mereka punya tangga."
"Kalau gitu, aku pinjem tangga dulu ya, Mbak, sama tetangga."
Aku segera keluar mencari pinjaman tangga. Tapi sebelum kembali, aku mampir ke rumah dulu. Aku lepaskan celana dalamku hingga hanya mengenakan celana pendek berbahan kaos saja. Kemudian aku kembali ke rumah Noni dengan membawa tangga aluminium.
Akhirnya aku berhasil mengambil lampunya dan langsung memasangnya. Tapi ternyata dudukan lampunya berbeda — yang lama lebih besar. Aku kembali ke dalam untuk mencari dudukan lampu lama, mengacak-acak semuanya, tapi tidak ketemu juga. Aku turun dan memanggil Noni — tapi tidak ada sahutan. Pasti ada di kamar, pikirku. Wah, bisa gagal rencanaku kalau Noni di kamar terus.
Aku segera menuju kamarnya, tapi sebelum mengetuk, niat isengku timbul. Aku coba mengintip dari lubang kunci — dan kudapat pemandangan yang bagus. Di atas tempat tidurnya, jarinya meremas buah dadanya sendiri sementara tangan yang satunya menggesek klitorisnya. Aku gemetar menahan nafsu; kontolku langsung membesar dan mengeras. Andai saja tangan aku yang meremas buah dadanya itu.
Sedang asyiknya mengkhayal, tiba-tiba Noni beranjak dari tempat tidur dan mengenakan pakaian kembali — mungkin ia ingat ada tamu. Aku segera lari dan pura-pura mencari sesuatu di gudang. Kontolku yang masih tegang kubiarkan menonjol jelas di celana pendekku yang tanpa celana dalam.
"Loooh, nyari apalagi, Pak?" Aku lihat muka Noni memerah. Dia pasti melihat tonjolan besar di celanaku.
"Ini, Mbak — dudukannya beda sama lampu yang pecah." Aku turun dari tangga dan menunjukkannya kepadanya, pura-pura tidak tahu keadaan celanaku. Noni tampak sedikit resah saat berbicara.
"Jadi gimana ya, Pak? Mesti beli baru dong?" Suara Noni terdengar serak, mungkin ia menahan nafsu melihat senjataku di balik celana pendekku, apalagi dia tadi sedang masturbasi.
Aku pura-pura berpikir — padahal dalam hati aku bersorak karena sudah 60% Noni kukuasai. Tapi benar sih, aku juga sedang mikir: bagaimana caranya masuk ke kamarnya dan menikmati tubuhnya yang begitu sempurna.
"Kayanya dulu ada, Pak — coba aku yang cari." Suara Noni mengagetkan lamunanku. Lalu dia menaiki tangga. Sepertinya Noni sengaja memancingku — aku di bawah dengan jelas melihat paha gempalnya yang putih mulus tak bercela. Dan ternyata Noni sama sekali tidak mengenakan celana dalam! Tapi sepertinya Noni cuek saja. Semakin lama dia di atas, semakin aku tak tahan. Senjataku sudah basah oleh pelumas, pertanda siap melaksanakan tugasnya.
Setelah beberapa menit mencari dan tidak ada juga, Noni turun dari tangga. Tapi naas buat dia — atau mungkin memang disengaja — ia tergelincir dari anak tangga pertama. Tidak terlalu tinggi, tapi cukup membuatnya kehilangan keseimbangan. Aku reflek menangkap tubuhnya dan memeluknya dari belakang. Sungguh nikmat sekali — meskipun masih terhalang celana dalamku dan dasternya, senjataku dapat merasakan kenyalnya pantat Noni. Dan aku yakin Noni pun merasakannya.
"Makasih, Pak," Noni tersipu malu. "Maaf," balas aku bersamaan.
"Nggak papa kok. Tapi kok tadi seperti ada yang ngeganjel di pantatku, ya?" Sepertinya Noni mulai berani.
Aku pun membalasnya dengan gurauan. "Ooooh, itu pertanda senjata siap melaksanakan tugas."
"Tugas apa nih?" Noni semakin terpancing.
Aku sudah lupa janji dengan istriku yang tidak boleh bertindak tanpa sepengetahuannya. Aku sudah dikuasai nafsu. "Tugas ini, Mbak," kataku sambil langsung merangkulnya dalam pelukanku dan melumat bibirnya dengan nafsu. Ternyata Noni pun dengan buas membalas ciumanku — mungkin ia pun sudah menunggu keberanianku. Ciuman kami panas membara, lidah kami saling melilit. Tangan Noni langsung meremas senjataku; mungkin baru kali ini ia melihat senjata yang sungguh-sungguh tegang sehingga ia begitu liar meremasnya. Aku balas meremas buah dadanya yang kenyal. Meskipun dari luar sudah bisa kupastikan bahwa Noni tidak mengenakan bra, putingnya langsung mencuat. Aku pilin pelan-pelan putingnya; tangan satunya meremas bongkahan pantatnya yang mulus. Cumbuan kami semakin panas bergelora — tapi tiba-tiba...
"Sebentar, Mas." Noni berlari ke depan — ternyata dia mengunci pintu depan.
"Sini, Mas," dia memanggilku masuk ke kamarnya.
Aku segera berlari kecil menuju kamarnya. Noni langsung melepas dasternya — bugil tanpa sehelai benang pun di hadapanku. Sungguh keindahan yang luar biasa. Aku terpana sejenak melihat putih mulusnya badan Noni, bulu kemaluannya yang lebat dan menghitam kontras dengan kulitnya yang bersih, lekuk pinggangnya yang sungguh indah.
Tapi hanya sekejap aku terpana. Aku langsung melepas kaos dan celana pendekku; kontolku yang dari tadi mengeras menunjuk ke atas. Ternyata aku kalah buas dengan Noni — dia langsung berjongkok di depanku dan melumat senjataku dengan rakusnya.
Lidahnya yang lembut terasa hangat menggelitik penisku. Mataku terpejam menikmati cumbuannya yang sungguh liar — mungkin karena selama ini Noni tidak pernah melihat senjata yang benar-benar kaku dan keras. Kadang ia mengocoknya dengan cepat; aliran kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhku.
Aku segera menariknya ke atas lalu mencium bibirnya. Napasnya yang terasa wangi memompa semangatku untuk terus melumat bibirnya. Aku dorong tubuhnya yang aduhai ke ranjang. Lidahku menjalar ke lehernya yang jenjang dan putih, tanganku aktif meremas buah dadanya dengan lembut. Putingnya yang masih kecil dan agak memerah kupilin. Dari mataku hanya berjarak beberapa sentimeter ke bulu ketiaknya yang begitu lebat. Kuhirup aromanya yang khas dan wangi. Lidahku mulai menjalar ke ketiak dan melingkari buah dadanya yang kenyal; saat lidahku yang hangat melumat putingnya, Noni semakin mendesah tak karuan. Rambutku habis dijambaknya, kepalaku terus ditekan ke buah dadanya, dan aku semakin semangat.
Tidak ada sejengkal tubuh Noni yang luput dari sapuan lidahku — bahkan pinggul, pantat, dan pahanya. Apalagi saat lidahku sampai di daerah kemaluannya yang berbulu lebat. Setelah bersusah payah meminggirkan bulunya yang lebat, lidahku sampai juga ke klitorisnya. Kemaluannya sudah basah. Kulumat klitnya dengan lembut — Noni semakin hanyut, tangannya meremas seprei sebagai pertanda menahan nikmat yang kuberikan. Lidahku kini masuk ke dalam lubang kemaluannya. Aku semakin asyik dengan aroma kewanitaan Noni yang begitu wangi dan menambah birahiku.
Tapi sedang asyiknya aku mencumbu vaginanya, Noni tiba-tiba bangun dan langsung mendorongku terlentang. Lalu dengan sekali sentakan, pantatnya yang bulat dan mulus langsung berada di atas perutku. Tangannya menuntun senjataku, dan perlahan pantatnya turun — kepala kemaluanku mulai menyeruak masuk ke dalam memeknya yang basah. Meskipun basah, kurasakan jepitan memeknya sangat ketat, mungkin karena selama ini hanya jari yang masuk ke dalam vaginanya.
Senti demi senti senjataku memasuki vaginanya, berbarengan dengan pantat Noni yang turun. Sampai akhirnya kurasakan seluruh batang kontolku tertanam dalam vaginanya — sungguh pengalaman yang indah dan nikmat yang luar biasa. Noni terdiam sejenak menikmati penuhnya senjataku di dalam kemaluannya. Tak lama kemudian pantatnya yang bahenol dan mulus mulai bergoyang — kadang ke depan ke belakang, kadang ke atas ke bawah. Peluh sudah bercucuran di tubuh kami. Tanganku tidak tinggal diam, memberikan rangsangan pada dua buah dadanya. Goyangan pinggul Noni semakin lama semakin cepat dan tak beraturan — kontolku seperti diurut dengan lembut.
Aku mencoba menahan ejakulasi sekuat mungkin. Tak lama berselang, kurasakan denyutan vagina Noni di batang kontolku semakin menguat, dan akhirnya Noni berteriak keras melepas orgasmenya. Giginya menancap keras di bahuku.
Orgasme Noni kurasakan seperti hangat yang melingkupi batang senjataku. Tubuhnya yang sintal tertelungkup di atas tubuhku, kontolku masih terbenam di dalam memeknya. Kubiarkan ia sejenak menikmati sisa-sisa orgasmenya.
Setelah beberapa menit, aku berbisik di telinganya, "Mbak, lanjut ya — aku masih tanggung nih."
Noni tersenyum dan bangkit dari atas tubuhku; ia duduk di pinggir ranjang. "Makasih ya, Mas — baru kali ini aku mengalami orgasme yang luar biasa." Ia kembali melumat bibirku. Aku yang masih terlentang menerima cumbuan Noni yang semakin liar — seluruh tubuhku dijilatinya dengan rakusnya, bahkan lidahnya yang nakal menyedot dan menjilat putingku. Sungguh nikmat.
Akhirnya aku ambil alih kendali. Dengan gaya konvensional aku kembali memasukkan senjataku ke dalam kemaluannya — sudah agak mudah tapi tetap masih ketat menjepit. Pantatku bergerak turun-naik sambil lidahku mengisap buah dadanya bergantian. Wajah Noni yang cantik memerah, pertanda birahinya kembali naik. Aku atur tempo permainan, ingin sebisa mungkin memberikan kepuasan lebih padanya.
Entah sudah berapa gaya yang kulakukan, entah sudah berapa kali. Yang terakhir kuingat adalah gaya doggy yang benar-benar luar biasa — pantatnya yang besar memberikan sensasi tersendiri saat aku menggerakkan senjataku keluar-masuk. Dan aku benar-benar tidak sanggup lagi menahan spermaku. Aku pacu sekencang mungkin; pantat Noni yang kenyal bergoyang seirama dengan hentakan.
Aku masih ingat satu kesadaran: "Mbak — di luar atau di dalam?"
Noni menjawab dengan serak karena nafsunya, "Di dalam aja, Mas — aku lagi nggak subur."
Tidak perlu waktu lama setelah Noni menjawab. Kuhentakkan keras senjataku di dalam vaginanya; seluruh tubuhku meregang kaku. Aliran kenikmatan menuju penisku dan memuntahkan laharnya ke dalam vagina Noni — ada sekitar sepuluh kedutan nikmat kutumpahkan ke dalamnya. Sementara itu Noni kulihat menggigit seprei di hadapannya; mungkin ia pun mengalami orgasme untuk kesekian kalinya.