Riri: Hasrat Terlarang Sang Istri Setia (Bagian 1)
Riri: Hasrat Terlarang Sang Istri Setia (Bagian 1)
Mungkin pembaca bertanya-tanya kenapa aku menceritakan kisah yang sebenarnya memalukan bila diketahui orang lain ini? Aku sendiri sesungguhnya juga bingung kenapa aku nekat menceritakan kisah ini pada para pembaca. Tetapi yang jelas, ada sensasi tersendiri yang kurasakan bila kisah gila ini dapat dibaca oleh banyak orang. Apalagi melalui internet, identitasku jelas tidak akan diketahui oleh orang lain.
Sebelum kupaparkan kisah gilaku ini, ada baiknya aku memperkenalkan sedikit diri pada para pembaca, agar ketika membaca kisah nyata ini para pembaca mempunyai bayangan yang jelas tentang pelaku — sekaligus penulis — dalam kisah yang sangat sensasional ini.
Sebut saja namaku Riri, seorang wanita yang saat ini berusia 27 tahun dan telah bersuami. Menurut banyak teman, aku adalah seorang perempuan yang cukup cantik dengan kulit putih bersih. Walaupun demikian, postur tubuhku sebenarnya terhitung ramping dan kecil — tinggi badanku hanya 154 cm. Tetapi meskipun bertubuh ramping, pantatku cukup bulat dan berisi, sedangkan buah dadaku yang hanya berukuran 34 juga tampak padat dan serasi dengan bentuk tubuhku.
Aku bekerja sebagai karyawati staf akuntansi pada sebuah toserba yang cukup besar di kotaku, sehingga aku mengenal banyak relasi dari para pekerja perusahaan lain yang memasok barang ke toko tempatku bekerja. Dari sinilah kisah yang akan kupaparkan ini bermula.
Sebagai seorang istri, aku sebenarnya merupakan tipe istri yang sangat setia pada suami. Aku selalu berprinsip, tidak ada lelaki lain yang menyentuh hati dan tubuhku kecuali suamiku yang sangat kucintai. Dan sebelum kisah ini terjadi, aku memang selalu dapat menjaga kesetiaan itu. Jangankan disentuh, tertarik dengan lelaki lain pun merupakan pantangan bagiku.
Tetapi begitulah, beberapa bulan terakhir justru suamiku mempunyai khayalan gila. Ia seringkali mengatakan padaku bahwa ia selalu terangsang jika membayangkan diriku bersetubuh dengan lelaki lain. Entahlah, mungkin ia terpengaruh cerita kawan-kawannya, atau mungkin juga termakan oleh bacaan-bacaan seks yang sering dibacanya. Pada awalnya, aku jengkel setiap kali ia mengatakan hal itu padaku. Namun lama kelamaan, entah kenapa, aku juga mulai terangsang oleh khayalan-khayalannya.
Setiap ia mengatakan dirinya ingin melihat aku digumuli lelaki lain, tiba-tiba dadaku berdebar-debar — tanda kalau aku juga mulai terangsang dengan fantasinya itu. Bersamaan dengan itu, di toko tempatku bekerja aku semakin akrab dengan seorang karyawan perusahaan distribusi yang biasa datang memasok barang. Sebutlah namanya Mas Roni. Ia seorang lelaki berbadan tinggi besar dan cukup atletis, tingginya lebih dari 180 cm, berusia sekitar 35 tahun. Sungguh aku tidak pernah mempunyai pikiran atau perasaan tertarik padanya.
Pada awalnya hubunganku dengannya biasa-biasa saja, sebatas hubungan kerja. Namun begitulah, Mas Roni yang berstatus duda itu selalu bersikap baik padaku. Kuakui, ia merupakan pria yang simpatik dan sangat pandai mengambil hati orang lain. Begitu perhatiannya pada diriku, Mas Roni seringkali memberikan hadiah padaku — misalnya saat lebaran dan tahun baru, ia memberiku bonus yang cukup besar, padahal tidak satu pun karyawan lain di tokoku yang mendapatkannya. Bahkan saat datang ke tokoku, ia kadang bersedia membantu pekerjaanku. Mas Roni bisa melakukan itu karena ia sangat akrab dengan bosku.
Hingga suatu ketika, sewaktu aku sedang menghitung keuangan bulanan perusahaan, tiba-tiba Mas Roni muncul di depan meja kerjaku.
"Aduh sibuknya, sampai nggak lihat ada orang datang," sapa Mas Roni klise.
"Eh, sorry Mas, ini baru ngitung keuangan akhir bulan," jawabku.
"Jangan terlalu serius, nanti nggak kelihatan cakepnya lho!" Mas Roni masih bergurau.
"Ah, Mas Roni bisa aja," aku menjawab pendek sambil tetap berkonsentrasi ke pekerjaanku.
Setelah itu seperti biasanya, di sela-sela pekerjaanku, aku dan Mas Roni mengobrol dan bersendau-gurau ke sana kemari. Tidak terasa sudah satu jam aku mengobrol dengannya.
"Ri, aku mau ngasih hadiah tahun baru, Riri mau terima nggak?" tanyanya tiba-tiba.
"Siapa sih yang nggak mau dikasih hadiah. Mau dong, asal hadiahnya yang banyak lho," jawabku bergurau.
"Aku juga punya syarat lho, Ri. Hadiah itu akan kuberikan kalau Riri mau memejamkan mata. Mau nggak?" tanyanya lagi.
"Serius nih? Oke, kalau cuman itu syaratnya, aku mau," kataku sambil memejamkan mata.
"Awas jangan buka mata sampai aku memberi aba-aba!" kata Mas Roni lagi.
Sambil terpejam, aku penasaran hadiah apa yang akan diberikannya. Tetapi ya ampun — pada saat mataku terpejam, tiba-tiba aku merasakan ada benda yang lunak menyentuh bibirku. Tidak hanya menyentuh, benda itu juga melumat bibirku dengan halus. Aku langsung tahu: Mas Roni sedang menciumku. Maka aku langsung membuka mata. Dari sisi meja di hadapanku, Mas Roni membungkuk dan menciumi diriku. Tetapi anehnya, setelah itu aku tidak berusaha menghindar.
Untuk beberapa lama, Mas Roni masih melumat bibirku. Kalau mau jujur, aku juga ikut menikmatinya. Bahkan beberapa saat secara refleks aku juga membalas melumat bibir Mas Roni — sampai kemudian aku sadar, lalu kudorong dadanya hingga ia terjengkang ke belakang.
"Mas, seharusnya ini nggak boleh terjadi," kataku dengan nada tergetar menahan malu dan sungkan yang menggumpal di hatiku.
Mas Roni terdiam beberapa saat.
"Maaf Ri, mungkin aku terlalu nekat. Seharusnya aku sadar kamu sudah menjadi milik orang lain. Tetapi inilah kenyataannya — aku sangat sayang padamu, Ri," ujarnya dengan lirih sambil meninggalkanku.
Seketika itu aku merasa sangat menyesal. Aku merasa telah mengkhianati suamiku. Tetapi uniknya, peristiwa semacam itu masih terulang hingga beberapa kali. Setiap kesempatan Mas Roni berkunjung ke tokoku, ia selalu memberiku "hadiah" seperti itu — tentu kalau kawan-kawanku tidak ada yang melihat. Meskipun pada akhirnya aku menolaknya, aku tidak pernah marah terhadap tindakan Mas Roni itu.
Entahlah, aku sendiri bingung. Aku tidak tahu apakah ini karena pengaruh khayalan suamiku yang terangsang membayangkan aku berselingkuh, ataukah karena aku jatuh cinta pada Mas Roni. Sekali lagi, aku tidak tahu. Bahkan dari hari ke hari aku semakin dekat dan akrab dengannya.
Hingga pada suatu saat, Mas Roni mengajakku jalan-jalan. Awalnya aku selalu menolak — aku khawatir kedekatanku dengannya menjadi penyebab perselingkuhan yang sesungguhnya. Tetapi karena ia selalu mendesakku, akhirnya aku pun menerima ajakannya dengan syarat agar salah seorang kawan kerjaku ikut serta. Dengan mengajak kawan, aku berharap Mas Roni tidak akan berani melakukan hal yang tidak-tidak.
Begitulah, pada hari Minggu, aku dan Mas Roni akhirnya jadi berangkat jalan-jalan. Agar suamiku tidak curiga, aku katakan padanya bahwa hari itu aku ada lembur hingga sore hari. Selain aku dan Mas Roni, ikut juga kawan kerjaku Yani dan pacarnya. Berempat kami mengendarai mobil inventaris perusahaan Mas Roni. Kami jalan-jalan ke suatu lokawisata pegunungan yang cukup jauh dari kotaku, sengaja memilih tempat yang jauh agar tidak mengundang kecurigaan tetangga, keluarga, dan terutama suamiku.
Setelah lebih dari satu jam berputar-putar di sekitar lokasi wisata, Mas Roni dan pacar Yani mengajak istirahat di sebuah losmen. Yani dan pacarnya menyewa satu kamar, dan kedua orang itu langsung hilang di balik pintu tertutup. Maklum, keduanya baru dimabuk cinta. Aku dengan suamiku waktu pacaran dulu juga begitu, jadi aku maklum saja.
Mas Roni juga menyewa satu kamar di sebelahnya. Aku sebenarnya juga berniat menyewa kamar sendiri, tetapi Mas Roni melarangku.
"Ngapain boros-boros, kalau sekadar istirahat satu kamar saja. Tuh, bed-nya ada dua," ujarnya.
Akhirnya aku mengalah dan numpang di kamar yang disewa Mas Roni.
Kami mengobrol dan tertawa cekikikan membicarakan Yani dan pacarnya di kamar sebelah. Apalagi, Yani dan pacarnya seperti sengaja mendesah-desah hingga kedengaran di telinga kami. Sejujurnya aku dag-dig-dug juga mendengar desahan Yani yang mirip suara orang terengah-engah itu. Entah kenapa dadaku semakin berdegup kencang ketika mendengar desahan Yani dan membayangkan apa yang sedang mereka lakukan di kamar sebelah. Untuk beberapa saat, aku dan Mas Roni diam terpaku.
Tiba-tiba Mas Roni menarik tanganku hingga aku terduduk di pangkuannya yang saat itu sedang duduk di tepi tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa dia langsung mencium bibirku. Aku tidak sempat menghindar; bahkan aku juga membiarkan ketika bibir dan kumis Mas Roni menempel ke bibirku hingga beberapa saat. Dadaku semakin berdegup kencang ketika kurasakan bibir Mas Roni melumat mulutku. Lidah Mas Roni menelusup ke celah bibirku dan menggelitik hampir semua rongga mulutku. Mendapat serangan mendadak itu darahku seperti berdesir, sementara bulu tengkukku merinding.
Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Kudorong dada Mas Roni supaya ia melepas pelukannya.
"Mas, jangan Mas, ini nggak pantas kita lakukan!" kataku terbata-bata.
Mas Roni memang melepas ciumannya di bibirku, tetapi kedua tangannya yang kekar dan kuat itu masih tetap memeluk pinggang rampingku dengan erat. Aku masih terduduk di pangkuannya.
"Kenapa nggak pantas, toh aku sama dengan suamimu — yaitu sama-sama mencintaimu," ujar Mas Roni yang terdengar seperti desahan.
Setelah itu Mas Roni kembali mendaratkan ciuman. Ia menjilati dan menciumi seluruh wajahku, lalu merembet ke leher dan telingaku. Aku memang pasif dan diam, namun perlahan tapi pasti nafsu birahi semakin kuat menguasaiku. Harus kuakui, Mas Roni sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya di leherku benar-benar telah membuat diriku terbakar dalam kenikmatan. Bahkan dengan suamiku sendiri pun aku belum pernah merasakan rangsangan sehebat ini.
Mas Roni sendiri nampaknya juga mulai terangsang. Aku dapat merasakan napasnya mulai terengah-engah, sementara aku sendiri semakin tidak kuat untuk menahan erangan. Maka aku pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku. Setelah itu tiba-tiba tangan Mas Roni yang kekar itu membuka kancing bajuku. Tak ayal lagi, buah dadaku yang berwarna putih bersih itu terbuka di depan Mas Roni. Secara refleks aku masih berusaha memberontak.
"Cukup, Mas — jangan sampai ke situ. Aku takut," kataku sambil meronta dari pelukannya.
"Takut dengan siapa Ri, toh nggak ada yang tahu. Percayalah denganku," jawab Mas Roni dengan napas yang semakin memburu.
Seperti tidak peduli dengan protesku, Mas Roni yang telah melepas bajuku kini ganti sibuk melepas BH-ku. Meskipun aku masih berusaha meronta, hal itu tidak berguna sama sekali — sebab tubuh Mas Roni yang besar dan kuat itu mendekapku sangat erat.
Kini, di pelukan Mas Roni, buah dadaku terbuka tanpa tertutup sehelai kain pun. Aku berusaha menutupinya dengan mendekapkan lengan di dadaku, tetapi dengan cepat tangan Mas Roni memegangi lenganku dan merentangkannya. Setelah itu Mas Roni mengangkatku dan merebahkanku di tempat tidur. Tanpa membuang waktu, bibir Mas Roni melumat salah satu buah dadaku, sementara salah satu tangannya juga langsung meremas-remas buah dadaku yang lainnya. Bagai seekor singa buas ia menjilati dan meremas buah dada yang kenyal dan putih ini.
Kini aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan mengerang karena kenikmatan yang mencengkeram diriku. Aku menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat ketika bibir dan lidah Mas Roni menjilat dan melumat puting susuku.
"Ri, da... dadamu putih dan in... indah sekali. A... aku makin nggak ta... tahan..., sayang..." kata Mas Roni terputus-putus karena nafsu birahi yang semakin memuncak.
Kemudian Mas Roni juga menciumi perut dan pusarku. Dengan lidahnya, ia pandai sekali menggelitik dari buah dada hingga perutku. Sekali lagi aku hanya mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora itu. Kemudian tanpa kuduga, dengan cepat Mas Roni melepaskan celana dan celana dalamku dalam satu tarikan. Lagi-lagi aku berusaha melawan, tetapi dengan tubuh besar dan tenaga kuat yang dimiliki Mas Roni, dengan mudah ia menaklukkan perlawananku.
Sekarang tubuhku yang ramping dan berkulit putih ini benar-benar telanjang total di hadapan Mas Roni. Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang di hadapan lelaki lain kecuali suamiku. Sebelumnya aku juga tidak pernah berpikir melakukan perbuatan seperti ini. Tetapi kini Mas Roni berhasil memaksaku, sementara aku seperti pasrah saja tanpa daya.
"Mas, untuk yang satu ini jangan Mas, aku tidak ingin merusak keutuhan perkawinanku!" pintaku sambil meringkuk di atas tempat tidur, melindungi buah dada dan vaginaku yang kini tanpa penutup.
"Ri... apa... kamu... nggak kasihan padaku sayang..., aku sudah terlanjur terbakar..., aku nggak kuat lagi, sayang. Please, aku... mohon," kata Mas Roni masih dengan terbata-bata dan wajah yang memelas.
Entah karena aku tidak tega atau karena aku sendiri juga sudah terbakar birahi, aku diam saja ketika Mas Roni kembali menggarap tubuhku. Bibir dan salah satu tangannya menggarap kedua buah dadaku, sementara tangan yang satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan kakiku. Mataku benar-benar merem-melek merasakan kenikmatan itu, sementara napasku juga semakin terengah-engah.
Tiba-tiba saja Mas Roni beranjak dan dengan cepat melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Kini ia sama denganku — telanjang bulat-bulat. Ya ampun, aku tidak dapat percaya: kini aku telanjang dalam satu kamar dengan lelaki yang bukan suamiku. Aku melihat tubuh Mas Roni yang memang atletis, besar dan kekar — ia jauh lebih tinggi dan lebih besar dibanding suamiku yang berperawakan sedang-sedang saja.
Tetapi yang membuat dadaku berdegup lebih keras adalah benda di selangkangan Mas Roni. Benda yang besarnya hampir sama dengan lenganku itu berwarna coklat tua dan kini tegak mengacung. Panjangnya kutaksir tidak kurang dari 22 cm, atau hampir dua kali lipat dibanding milik suamiku, sementara besarnya sekitar tiga sampai empat kali lipatnya. Sungguh aku hampir tidak percaya ada penis sebesar dan sepanjang itu. Perasaanku bercampur baur antara ngeri, gemas, dan penasaran.
Kini tubuh telanjang Mas Roni mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika merasakan dada bidang Mas Roni menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku ketika dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Baru kali ini kurasakan dekapan lelaki lain selain suamiku. Ia masih terus menciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tidak kenal lelah meremas-remas buah dadaku yang semakin kenyal. Sekali lagi, sebelumnya tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat ini.
Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang masuk dan menggelitik lubang vaginaku. Ternyata Mas Roni nekat memasukkan jari tangannya ke celah vaginaku. Ia memutar-mutarkan telunjuknya di dalam lubang vaginaku sehingga aku benar-benar hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang menderaku. Mendapat serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks aku memutar-mutarkan pantatku. Toh, aku masih berusaha menolaknya.
"Mas, jangan sampai dimasukkan jarinya — cukup di luar saja!" pintaku.
Tetapi lagi-lagi Mas Roni tidak menggubrisku. Ia selanjutnya menelusupkan kepalanya di selangkanganku, lalu bibir dan lidahnya tanpa henti melumat habis vaginaku. Aku tergetar hebat mendapat rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan kenikmatan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Mas Roni yang masih terengah-engah di selangkanganku. Kini aku benar-benar telah tenggelam dalam birahi.
Bersambung...