Ritual Nikmat Bersama Mbak Narsih
Ritual Nikmat Bersama Mbak Narsih
Tiba-tiba Mbak Narsih membalikkan posisinya. Mulutnya masih sibuk melumat batang kemaluanku, tetapi sekarang tubuh bagian bawahnya digeser ke atas sehingga gundukan bukit di bawah perutnya yang lebat ditumbuhi bulu hitam tepat berada di hadapan wajahku. Kedua kakinya mengangkangi wajahku sehingga jelas kulihat belahan merah jambu segar di tengah-tengah gundukan itu. Ada bau khas semacam bau cumi-cumi segar menyeruak lubang hidungku. Rupanya seperti inilah bau kemaluan wanita — seperti bau cumi-cumi. Orang Korea bilang ojingo, atau bahasa kitanya cumi-cumi. Segar dan sedikit amis.
Aku yang baru kali ini melihat dari dekat bentuk kemaluan wanita dewasa menjadi terpesona oleh pemandangan itu. Mengetahui aku diam saja, Mbak Narsih yang tadinya asyik menjilati batang kemaluanku berhenti melakukan aksinya, lalu diturunkannya pantatnya pelan-pelan sehingga lubang kemaluannya menekan hidung dan mulutku. Aku yang sedang melongo jadi gelagapan karena tiba-tiba kejatuhan memek tepat di mulut dan hidungku. (Pembaca pernah tidak kejatuhan memek? Kalau belum, bisa dicoba — suruh saja cewek pembaca mengangkang di atas dan melakukan aksi seperti itu! Pasti kaget tapi nikmat!)
Begitu liang kemaluan Mbak Narsih yang sudah basah dan panas menekan mulutku, otomatis tanpa disuruh bibirku melahap seluruh cairan yang membasahi liang kemaluannya. Rasanya sedikit agak asin. Lidahku menyeruak masuk ke dalam liang kemaluan Mbak Narsih hingga kepalanya terdongak dan pantatnya semakin menekan wajahku.
"Shh... terus Diik... ohh..." Lidahku terus menerobos liang kemaluannya, masuk sedalam-dalamnya.
Aku semakin gelagapan susah bernapas karena kemaluan Mbak Narsih begitu ketat menekan mulut dan hidungku. Tekanan pantatnya semakin ketat saat tubuhnya meliuk-liuk dan berkejat-kejat ketika kusedot tonjolan daging di sela-sela liang kemaluannya. Mbak Narsih menjerit dan semakin kuat menekankan pantatnya hingga hidung dan mulutku seolah amblas ditelan bongkahan liang kemaluannya yang menindihku.
"Upf... brr...!" Karena tak tahan susah bernapas, kusembur kencang-kencang liang kemaluannya hingga menimbulkan bunyi aneh seperti kain robek. Brrtt...!
"Ihh..." Mbak Narsih menjerit kaget atas kenakalanku itu.
"Awas ya, nanti Mbak balas kamu," jeritnya manja.
"Abis, aku tidak bisa bernapas. Mbak juga sih," balasku tak kalah manja sambil meremas-remas bongkahan pantatnya yang padat dengan gemas.
Mbak Narsih pun membalas aksiku. Kini disedotnya kuat-kuat lubang saluran kencingku. Aku sempat mengawang merasakan kenikmatan yang tiada tara ini. Aku pun balas lagi — kutekan pantatnya dan kudekatkan bibir kemaluannya ke mulutku, lalu mulai melumat bibir kemaluannya dengan gemas. Kembali Mbak Narsih menggelinjang dan akhirnya tak tahan sendiri.
"Oh... su... sudah Diik...!" desisnya. "Mbak sudah tidak kuat..."
Lantas ia mengubah posisi. Sekarang kami berhadap-hadapan dan Mbak Narsih masih di atas tubuhku. Dengan tangannya batang kemaluanku dicocokkannya ke liang kemaluannya yang sudah sangat licin. Setelah tepat, ditekannya pantatnya pelan-pelan hingga batang kemaluanku mulai menyeruak kehangatan liang kemaluannya.
Aku menggigit bibirku agar tidak melenguh. Hingga bless — hampir seluruh batang kemaluanku terbenam dalam kehangatan liang kemaluan Mbak Narsih. Mbak Narsih menghentikan gerakannya dan kami menikmati keindahan saat-saat menyatunya tubuh kami. Kami saling bertatap pandang dan tersenyum mesra.
"Aku sayang kamu, Dik..." bisik Mbak Narsih di telingaku dengan mesra.
"Aku juga, Mbak..." balasku tak kalah mesra.
Kemudian bibir kami saling berpagutan. Lidah kami saling bertaut.
Dengan pelan Mbak Narsih mulai menggoyangkan pantatnya naik turun di atas tubuhku. Batang kemaluanku semakin kencang tergesek dalam jepitan liang kemaluannya. Tanganku tak tinggal diam — kuremas buah pantat Mbak Narsih dengan gemas. Semakin lama semakin cepat Mbak Narsih menggoyangkan pantatnya di atas tubuhku. Mulutnya tak henti-hentinya mendesis dan merintih. Aku pun mengimbangi gerakannya dengan memutar pinggulku mengikuti insting. Mbak Narsih semakin liar menggoyangkan pantatnya dan rintihnya semakin kencang.
"Ouch... terus... Diik..." mulutnya terus merintih. "Mbak mau ke—"
Belum habis ia bicara, Mbak Narsih sudah sampai ke puncak. Tubuhnya meliuk dan berkejat-kejat bak terkena aliran listrik yang dahsyat. Aku pun semakin kencang memutar pantatku mengimbangi gerakannya, terdorong keinginan untuk memuaskan hasrat wanita yang kusayangi ini.
"Kamu... hebat..." bisik Mbak Narsih mesra.
Beberapa kali ia menggelepar di atas tubuhku dan akhirnya ambruk di atas perutku. Ia terdiam beberapa saat. Kubiarkan Mbak Narsih menikmati keindahan yang baru diraihnya. Aku yang sudah dua kali mengeluarkan air mani selama satu malam itu merasa belum apa-apa.
Setelah napasnya mulai teratur, kubisikkan agar Mbak Narsih mengubah posisi. Sekarang kuminta ia tengkurap di ranjang dengan kedua kakinya menjulur ke lantai hingga pantatnya yang indah menungging di tepi tempat tidur. Perutnya kuganjal dengan bantal hingga posisi menunggingnya agak tinggi. Indah sekali pemandangan yang terpampang di hadapanku.
Betapa indahnya tubuh telanjang Mbak Narsih dengan pantatnya yang menungging. Kunikmati pemandangan ini beberapa saat hingga Mbak Narsih mengomel manja.
"Ayo, tunggu apa lagi?" omelnya manja.
Aku pun menempatkan posisiku tepat di belakangnya. Dengan berdiri kucocokkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dari arah belakang. Kugesek-gesek liang kemaluannya dengan kepala batang kemaluanku agar licin. Setelah licin, dengan pelan kutekan batang kemaluanku hingga menyeruak liang kemaluan Mbak Narsih. Beberapa kali kukocok sebelum kubenamkan seluruhnya.
Mbak Narsih mulai mendesis dan dengan pelan mulai menggoyangkan pantatnya mengimbangi gerakanku. Setelah beberapa kali kocokan, dengan sekuatnya kutekan pantatku hingga seluruh batang kemaluanku amblas ke dalam liang kemaluan Mbak Narsih. Kepalanya terdongak saat tulang kemaluanku beradu dengan pantatnya. Plok... plok... plok — terdengar bunyi beradunya yang menimbulkan gairah tersendiri bagiku. Apalagi mulut Mbak Narsih kembali mendesis dan merintih saat batang kemaluanku mengocok liang kemaluannya. Aku semakin bersemangat memacu dan mengayunkan diriku dalam jepitan liang kemaluannya.
Mbak Narsih semakin liar menggoyangkan pantatnya, membuat mataku terbeliak menahan nikmat. Dengan gerakannya itu batang kemaluanku seolah-olah diremas dan dipelintir. Kutekan pantat Mbak Narsih agar tidak terlalu kencang berputar. Aku bisa bernapas lega begitu dapat mengontrol diri agar tidak terbawa permainannya. Aku ingin berlama-lama merendam batang kemaluanku dalam jepitan kehangatan liang kemaluannya. Aku tidak ingin cepat-cepat selesai.
"Ayo, kok pelan...?" protes Mbak Narsih begitu aku memperlambat tempo.
Pantatnya semakin kencang. Kembali ia memutar pantatnya semakin lama semakin cepat hingga aku kembali merasakan desakan yang sangat dahsyat dari perut bagian bawahku. Aku harus berusaha keras menahan gelegak itu dan kembali kutekan pantat Mbak Narsih agar tidak terlalu cepat berputar.
Batang kemaluanku yang terjepit dalam kehangatan liang kemaluannya seolah-olah terpelintir dan terjepit kian erat. Ujung kemaluanku terasa berdenyut-denyut seperti mau meledak. Semakin lama denyutan di ujungnya semakin kuat. Apalagi pantat Mbak Narsih bukan hanya berputar, tetapi sesekali diselingi gerakan maju mundur mengikuti ayunan pantatku. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi menahan.
"Akhh... Mbaak... aku... aku..." napaskupun tersengal hampir tak kuat lagi menahan gejolak.
Mbak Narsih semakin liar memutar pantatnya. Payudaranya berguncang seiring dengan gerakan tubuhnya yang liar. Suara beradunya pantat Mbak Narsih dengan tulang kemaluanku semakin keras bercampur dengan deru napas dan rintihan kami. Aku semakin cepat mengayunkan pantatku maju mundur, disambut gerakan meliuk dan maju mundur pantat Mbak Narsih. Gerakanku semakin tak teratur saat desakan yang sudah tak mampu kubendung akhirnya meledak. Ujung batang kemaluanku berdenyut kian kencang dalam jepitan liang kemaluan Mbak Narsih.
"Arghh..." aku melenguh kuat.
Mataku terbeliak dan tubuhku tersentak seperti terkena aliran listrik. Kucengkeram buah pantat Mbak Narsih dan kutekan dengan kuat hingga batang kemaluanku semakin dalam menghunjam ke dalam liang kemaluannya. Crat...! Crat... crat... crat... cratt... Hampir lima kali kusemburkan air maniku ke dalam rahim Mbak Narsih.
"Ouch... shh..." Mbak Narsih rupanya mengalami orgasme pada saat yang bersamaan denganku.
Tubuhnya meliuk dan ikut berkelejat, dan beberapa saat kemudian tubuh kami ambruk. Batang kemaluanku masih terjepit erat dalam liang kemaluan Mbak Narsih. Kubiarkan saja di sana — aku rasanya sudah tak punya tenaga untuk menariknya. Kutindih tubuh telanjang Mbak Narsih yang masih menungging di atas tempat tidur empuk itu. Kami sama-sama mengatur napas setelah berpacu dalam nikmat.
Kami sama-sama terdiam. Kupeluk tubuh Mbak Narsih. Tubuh kami sama-sama basah dengan keringat. Aku masih sempat merasakan liang kemaluan Mbak Narsih berdenyut-denyut menjepit batang kemaluanku yang sengaja tidak kulepas. Perlahan-lahan batang kemaluanku mulai terdorong keluar oleh denyutan liang kemaluan Mbak Narsih.
Plop — akhirnya batang kemaluanku terlepas dari jepitannya dengan sendirinya. Kugigit ujung telinga Mbak Narsih sebagai ungkapan rasa sayangku. Kami bertatapan dan saling tersenyum mesra.
"Kamu cepat pintar, sayang," bisik Mbak Narsih mesra.
"Siapa dulu dong instrukturnya," balasku sambil mencium bibirnya.
Kembali bibir kami saling bertautan. Batang kemaluanku yang baru saja terlepas dari liang kemaluan Mbak Narsih mulai berlagak lagi — perlahan namun pasti ia mulai mengeras. Mungkin capai dengan posisi menungging, Mbak Narsih pun menggulingkan tubuhnya dan kini kami saling menindih dengan posisi berhadapan kembali. Bibir kami masih tetap saling melumat dan lidah kami pun saling dorong mendorong.
Batang kemaluanku yang sudah keras kembali menempel ketat pada gundukan di selangkangan Mbak Narsih yang hangat dan mulai basah lagi. Tanganku pun tak mau diam. Kedua payudara Mbak Narsih yang padat menjadi bulan-bulanan tanganku yang sibuk meremas dan meraba ke sana ke sini.
Mendapat perlakuanku yang agak kasar, tubuh Mbak Narsih menggelinjang di bawah tindihan tubuhku. Napasnya mulai memburu. Lalu tangannya mencari-cari dan akhirnya terpeganglah batang kemaluanku yang sudah sempurna dan siap tempur. Dibimbingnya batang kemaluanku ke celah-celah di selangkangannya dan digesek-gesekannya di celah yang hangat dan sempit itu. Setelah licin, tiba-tiba kedua tangan Mbak Narsih memegang pantatku dan ditariknya hingga batang kemaluanku kembali menghunjam liang kemaluannya dan bersarang di sana.
Kembali kami mengulang persetubuhan kami. Entah berapa babak kami bertempur hari itu. Kami baru pulang ke rumah masing-masing setelah waktu check out habis, antara jam satu atau jam dua siang. Kami pun berjanji akan meneruskan ritual di Gunung Kemukus malam Jumat berikutnya.
Sampai di sini dulu kisahku. Kelak akan kuceritakan pengalaman lain bersama Mbak Narsih. Untuk itu mohon pembaca sedikit bersabar.