18px

Sampah Cinta

Sampah Cinta

Suatu hari aku bangun pagi sekali. Hari itu aku kuliah siang jam sebelas, sementara jam di kamarku masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Maunya sih tidur lagi, tapi kantukku sudah hilang dan tidak bisa tidur lagi โ€” mungkin gara-gara kemarin aku tidur terlalu awal, kira-kira setengah delapan malam.

Ini adalah hari kedua aku sendirian di rumah. Orang tuaku selalu sibuk; Papa sedang mengurus bisnis di Malaysia ditemani Mama yang kebetulan juga mau berobat di sana, sedangkan pembantu satu-satunya juga sedang pulang kampung sejak lima hari yang lalu karena saudaranya meninggal. Janjinya sore ini dia akan kembali โ€” yah, kuharap begitulah, karena aku capek sekali selama tiga hari ini harus mengurus makan dan beres-beres sendiri.

Aku pun turun ke bawah tanpa mengenakan apapun. Ya, telanjang โ€” sudah menjadi kebiasaanku bila di rumah tidak ada siapa-siapa, aku selalu tak berbusana, rasanya nyaman dan sehat. Di dapur aku mengambil sebungkus mie keriting dan memasaknya. Setelah matang, aku membawa sarapanku ke atas untuk menikmatinya di balkon kamarku. Sebelumnya aku terlebih dulu mengambil daster kuningku yang berdada rendah untuk menutupi tubuhku yang polos โ€” walaupun ekshibisionis, aku harus tahu batasannya; tidak enak kalau kelihatan tetangga sekitar.

Kunikmati sarapanku di serambi balkon sambil menikmati udara pagi yang segar, suasananya tenang dihiasi oleh kicau burung dan kupu-kupu yang beterbangan di taman bawah sana. Sehabis sarapan, aku menyalakan sebatang rokok sambil berdiri bersandar di balkon. Beberapa orang yang sedang joging melintasi depan rumahku; salah satunya adalah Tante Lia, tetangga dan teman mamaku. Beliau menyapaku dari jalan, dan aku pun tersenyum membalas salamnya.

Sebuah truk sampah berhenti di setiap rumah untuk melaksanakan tugas hariannya mengambil sampah. Tak lama kemudian, truk itu berjalan ke arah sini dan berhenti tak jauh dari rumahku. Seorang petugas sampah turun mengambil kantong-kantong sampah dari rumah sekitar situ. Tukang sampah itu berbadan tinggi dan agak gemuk, usianya sekitar tiga puluhan, mukanya bundar dengan hidung yang besar. Sambil mengisap rokok, kuperhatikan dia selama beberapa saat โ€” sedang mengangkat kantong sampah lalu melemparkannya ke bak truk. Pelan-pelan aku mulai berpikir yang jorok-jorok; pagi-pagi begini, niat isengku sudah timbul.

"Pagi, Non!" sapanya ketika melewati rumahku.

"Pagi, Bang!" balasku.

"Eh, Bang, tunggu bentar โ€” di dapur masih ada lagi sampahnya nih, sebentar ya!" lanjutku.

Aku mematikan rokokku dan turun sambil membawa piring dan gelas bekas sarapan tadi. Setelah menaruhnya di pencucian, aku langsung ke depan membukakan pintu. Kebetulan tong sampah di dapur memang sudah penuh sesak, soalnya sejak Mama pergi belum ada yang membereskannya.

"Bang, tolongin saya bisa nggak? Pembantu saya lagi nggak ada, jadi sudah dua hari tuh sampah numpuk di dapur โ€” bantu saya beresin dong ya, ntar saya kasih duit rokok deh!" pintaku dengan nada manja.

"Hhmm, OK deh, Non... Mana sampahnya, biar Abang bantu beresin!" katanya.

Aku membukakan pagar dan mempersilakannya masuk. Dia memperhatikanku terus sambil berjalan ke dalam, sesekali matanya mencuri-curi pandang ke belahan dadaku yang menantang di balik dasterku yang rendah โ€” entah dia tahu atau tidak bahwa di baliknya aku tidak memakai apapun lagi.

"Sepi ya, Non, sendirian di rumah nih? Lagi pada ke mana?" tanyanya.

"Iya, Bang, semua lagi keluar nih, sudah dari kemarin lusa sendirian," jawabku. "Tuh, Bang, udah penuh gitu โ€” tolong ya!" lanjutku sambil menunjuk pada tong sampah biru besar di dapur.

Si Abang tukang sampah mengangkat tong besar itu, sedangkan aku menumpuk beberapa dus bekas makanan dan menampungnya di tanganku.

"Bang, Bang, bentar dong โ€” ini masih ada yang mau dimasukin, ups!" Dengan sengaja aku melonggarkan tanganku sehingga dus-dus itu terjatuh semua.

"Duh, sori nih, Bang โ€” udah, saya yang beresin aja!" lanjutku kemudian.

Aku pun berjongkok dan menunduk memunguti dus-dus itu. Dengan begini, payudaraku terlihat jelas sekali di balik potongan dasterku yang rendah dan lebar. Dia terbelalak melihat buah dadaku yang menggantung indah; putingnya pun sekilas tersingkap dari balik dasterku. Aku tahu dari tadi matanya terus tertumbuk ke daerah dadaku, tapi aku pura-pura cuek sambil terus membereskan dus itu โ€” bahkan sengaja kutundukkan lagi tubuhku sehingga makin terlihatlah keindahan di baliknya. Perlahan kulihat kakinya melangkah mendekatiku, lalu ikut jongkok. Tapi bukannya membantu membereskan sampah, malah menyusupkan tangan ke belahan dadaku dan mencaplok daging kenyal di baliknya.

"Kurang ajar!" bentakku sambil menepis tangannya.

Tentu ini tidak membuatnya mundur. Dengan sigap ditangkapnya kedua tanganku, tubuhku diangkatnya hingga berdiri, lalu dihimpit ke tembok di sebelahku. Sesungguhnya sikap berontakku dan jeritan itu hanyalah pura-pura belaka, untuk memanas-manasi nafsunya. Tangannya yang kokoh dengan mudah mengunci dua pergelanganku dan mengangkatnya ke atas. Tangannya yang lain meremas dadaku dengan kasar.

"Jangan, Bang... Hentikan... Engghh!" erangku meringis karena kerasnya remasan itu, tubuhku masih meronta pelan.

"Diam, Non โ€” Non sendiri kan yang mancing-mancing saya begini," katanya berani.

Wajahnya mendekatiku, mencari-cari bibirku. Aku menggeleng-geleng pura-pura menolak dicium olehnya, namun tetap saja akhirnya tidak bisa menghindar dari lumatan bibirnya. Aku bisa merasakan napasnya yang menderu dan bau badannya yang tidak enak โ€” maklum, banyak bergaul dengan sampah โ€” tapi birahi yang meninggi membuat semuanya terlupakan.

Sebentar saja aku sudah memainkan lidahku membalas cipokannya. Tangannya mulai mengelus pahaku yang putih mulus sambil menyingkap dasterku. Setelah meremas pantatku sejenak, tangannya lalu mengelus vaginaku yang berbulu lebat. Mataku membeliak ketika tangan itu meremas daerah segitigaku, dengan jarinya sedikit masuk ke sana โ€” desahan tertahan keluar dari mulutku yang sedang berciuman.

"Nggak usah malu-malu, Non โ€” udah basah gini kok, nggak pakai apa-apa lagi. Non juga mau kan?" seringainya mesum.

Dia melepaskan pergelanganku setelah aku berhenti meronta dan ia yakin telah menguasaiku. Dipelorotnya dasterku dari bahu kiri sehingga payudara kiriku kini terbuka sudah, bulat kencang dengan puting kemerahannya yang menantang. Dengan penuh nafsu dilumatnya payudara itu sambil tangannya menggerayangi pantatku. Aku hanya bisa mendesah-desah dalam posisi berdiri bersandar ke tembok; putingku makin mengeras karena permainan mulutnya yang nakal.

Tiba-tiba seseorang muncul di pintu dapur dan tercengang melihat adegan di depannya. Orang itu tak lain adalah temannya yang menyetir truk sampah โ€” rupanya dia menunggu lama di truk sehingga turun untuk memanggil temannya agar segera kembali. Ternyata temannya itu sedang berasyik-masyuk denganku di dapur.

"Wei, sialan lo โ€” ngentot nggak ngajak-ngajak, gua dibiarin sendiri di mobil!" kata si sopir.

"Ayo, masih pagi kok โ€” kita istirahat sebentar, kapan lagi ngerasain amoy cantik gini!" ajak tukang sampah yang menggerayangiku.

Si sopir bergegas mendekati kami sambil melepaskan seragam dinas kebersihannya. Tubuhnya lumayan berisi dengan kulit hitam terbakar matahari. Kini aku dihimpit dari depan dan belakang oleh mereka. Tubuhku bersandar pada si sopir yang mendekap sambil meremas payudara kiriku serta meraba-raba paha dan pantatku, sedangkan temannya yang dipanggil Din menurunkan bahu kananku โ€” maka kedua payudaraku pun tersingkap.

Si Din mengenyot payudara kananku dengan kencang sampai pipinya kembung-kempot, tangannya mengelus kemaluanku. Si sopir mulai menciumi belakang telingaku serta menggelitik kupingku dengan lidahnya. Hal ini menyebabkan tubuhku menggeliat dan makin mendesah. Sambil menciumiku, si sopir mengangkat dasterku yang telah berantakan. Secara refleks aku mengangkat kedua tangan, membiarkan satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhku lepas melalui kepalaku.

"Wah, bener-bener rezeki nomplok nih bisa dapet cewek putih mulus gini!" sahut si sopir mengagumi tubuhku.

Selanjutnya aku disuruh berlutut, lalu mereka membuka celananya di depanku. Aku sempat terpana melihat penis mereka yang sudah berdiri tegak, keduanya keras, berurat, dan hitam. Milik si sopir sedikit lebih panjang daripada punya si Din.

"Ayo, Non โ€” pilih aja mana yang mau diservis duluan," kata si sopir cengengesan.

Kugenggam kedua penis itu dan sengaja memainkannya dengan kocokan serta pijatan agar nafsu keduanya semakin membara. Aku tersenyum nakal melihat reaksi mereka.

"Uuhh... ohh... asoy banget kocokannya, Non!" desah si Din.

Aku mulai membuka lebar mulutku dan memasukkan penis Din ke dalamnya. Dengan penuh perasaan aku mengulum penis itu sambil tanganku mengocok penis si sopir. Sesaat kemudian aku mengeluarkan penis si Din dan beralih ke si sopir. Sepertinya servis mulutku membuatnya ketagihan; ia menahan kepalaku dengan tangannya seolah tak rela melepasnya.

Bersambung...

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’