Sang Dewi: Permainan Ranjang Tiga Insan
Sang Dewi: Permainan Ranjang Tiga Insan
Dewi memeluknya erat. Tiba-tiba kudengar Fredy berteriak lagi — tapi kali ini agak aneh, bukan teriakan kenikmatan, melainkan lebih seperti geli. Rupanya Dewi mempermainkannya; diremasnya penis Fredy yang masih di vaginanya dengan otot vagina yang memang kuat mencengkeram dan meremas. Dewi tersenyum nakal melihat ekspresi Fredy yang aneh menerima remasan itu, hingga akhirnya Fredy tak tahan dan turun dari tubuh Dewi.
Aku tak mau membiarkan Dewi menganggur terlalu lama. Kubalikkan tubuhnya untuk doggie; dengan sekali dorong, melesaklah penisku di vaginanya untuk kedua kalinya.
"Aaghh... yes!" desahnya menerima penisku.
Aku langsung mengocok dengan cepat. Buah dadanya yang montok mengayun bebas dan langsung disambut remasan oleh Fredy yang telentang di sampingnya; Dewi merespons dengan mencium bibir Fredy. Melihat mereka berciuman membuatku makin terangsang. Kusodok dengan keras hingga penisku menyentuh dinding dalam vagina Dewi — sesaat ciuman mereka terlepas, tapi dia kembali mengulum bibir Fredy. Kocokanku makin cepat dan keras; dengan pegangan pada pinggulnya aku bisa lebih bebas melesakkan penisku sedalam-dalamnya.
Desah kenikmatan Dewi tertahan di bibir Fredy; mungkin tak tahan menerima kocokanku. Kini Dewi memeluk tubuh Fredy sambil menelusupkan kepalanya di leher Fredy. Kutarik rambutnya ke belakang hingga ciumannya terlepas; kusodok dengan keras — dia menjerit, entah sakit atau nikmat. Kepala Fredy sudah berada di bawah buah dada Dewi yang bergantung memukul lembut wajahnya. Penis Fredy kembali menegang dalam genggaman Dewi; sungguh cepat dia pulih. Kembali Fredy memasang kondom kedua.
Di luar dugaan, ketika aku sedang asik mengocok menuju puncak kenikmatan, Dewi berontak dari pelukanku hingga penisku tercabut — dan langsung duduk di atas kejantanan Fredy yang memang kelihatan sudah keras. Aku mau protes, tetapi melihat Dewi sudah melayang dalam kenikmatan sambil berhula-hop di atas Fredy, tak tega mengganggunya.
Aku berdiri dan kusodorkan penisku ke mulut Dewi; langsung disambut dengan kuluman dan kocokan mulutnya. Kupegang kepalanya dan kukocokkan penisku ke mulutnya; Dewi melayani sambil tetap menggoyang pinggulnya mengocok Fredy. Dua penis tertanam di tubuhnya, atas dan bawah — dia kelihatan begitu menikmati dua kocokan sekaligus. Tak lama kemudian Dewi memeluk pantatku, memegang erat penisku.
"Aahh... yes!" Tubuhnya menegang; pegangannya menguat. Dia mengalami orgasme lagi. Ternyata beberapa detik kemudian disusul teriakan yang sama dari Fredy — rupanya mereka mencapai puncak secara bersamaan. Untuk kedua kalinya hari ini Fredy orgasme di vagina Dewi; entah mimpi apa dia tadi malam bisa mendapat kenikmatan seperti ini.
Dewi langsung telentang terkulai di samping Fredy. Kudekati dia untuk melanjutkan hasratku yang belum kesampaian.
"Ntar, Mas — kasih aku istirahat sebentar. Udah terlalu banyak keluar nih," katanya lemas. Tapi tak kuhiraukan; aku bersiap untuk kembali memasukkan penisku ketika tiba-tiba HP-ku berbunyi. Aku ingin membiarkannya, tapi Dewi memaksaku menerimanya. Dengan perasaan dongkol kuambil HP dari kantong celana — ternyata si Bos, Pak Sys.
"Halo, sore, Pak," jawabku agak gugup.
"Hei, Hendra, di mana kamu? Udah ditungguin yang lainnya nih," suara dari seberang agak keras, terdengar nada marah.
"Eh, anu — maaf, Pak, lagi ada urusan pribadi. Kalau boleh, aku berangkat besok pagi dengan penerbangan pertama langsung ke Jakarta. Maklum, Pak, baru pertama ke Lombok," jawabku gugup sambil berharap-harap cemas.
"Bilang kek dari tadi — kan kita nggak perlu nunggu. Oke, selamat bersenang-senang," katanya langsung memutuskan hubungan.
"Mas, bos kamu keren lho — kelihatan cool banget. Meski kelihatan agak berumur, tapi boleh juga kelihatannya," Dewi berkomentar mengagetkanku.
"Emang kamu tahu bosku yang mana?" tanyaku heran.
"Kira-kira sih. Kalau nggak salah tadi di kolam yang mengenakan topi merah Ferrari — benar kan, Mas? Dari cara kalian menghormati dia sudah kelihatan kalau dia bos," jawab Dewi. Mengagumkan, ternyata pengamatannya tajam.
"Iya, emang betul dia. Emang kenapa?"
"Kenalin dong, Mas," Dewi merajuk seperti anak kecil minta dibelikan permen. Agak ragu aku menanggapinya karena pengertian "kenal" dalam hal ini pasti mempunyai konteks yang lebih luas.
Setelah mempertimbangkan agak lama, akhirnya aku menurutinya untuk mengenalkan Dewi kepada Pak Sys. Segera kuhubungi beliau untuk minta bicara sebentar secara pribadi sebelum berangkat; untung beliau setuju. Terpaksa kuurungkan niatku untuk merengkuh kenikmatan bersama Dewi lebih jauh. Kukenakan kembali pakaianku — meski tanpa celana dalam — dan kutemui Pak Sys di tepi kolam renang.
Dengan agak bingung aku kemukakan rencanaku dan keinginan Dewi. Seperti kuduga, tanpa berpikir panjang beliau menyanggupi untuk berkenalan dengan Dewi. Kamipun berpisah setelah kuberitahu kamar Dewi; beliau menemui rekan lainnya dan mengambil traveling bag-nya, sedang aku kembali ke kamar.
Ternyata di kamar kudapati Dewi sedang nungging menerima kocokan Fredy dari belakang. Dewi hanya menolehku sejenak lalu meneruskan desahannya. Gila si Dewi — benar-benar sex machine. Belum setengah jam kutinggalkan kamar ini, dia sudah bercinta lagi dengan Fredy untuk kesekian kalinya. Dongkol juga aku; tadi aku mau melanjutkan tapi dia bilang capek, sekarang dia melayani Fredy. Aku khawatir kalau mereka belum selesai saat Pak Sys datang.
Untunglah, lagi-lagi Fredy tak bisa bertahan lama menghadapi panasnya gairah Dewi — dan untuk kesekian kalinya dia orgasme di vagina Dewi. Agak kaget ketika kuperhatikan lebih cermat; ternyata Fredy sudah tidak memakai kondom lagi. Berarti yang terakhir dia telah menyirami vagina Dewi dengan spermanya — itu pun kalau masih ada cadangan sperma.
Dewi segera meminta Fredy untuk kembali berpakaian dan segera meninggalkan kamar. Diangsurkannya beberapa lembar ratusan ribu ke tangan Fredy.
"Ah, nggak usah, Mbak. Begini saja aku sudah sangat senang kok," tolak Fredy.
"Aku tidak memberi uang untuk jasamu ini, tapi aku memberi untuk anakmu," kata Dewi, langsung meninggalkannya menuju kamar mandi.
Sepeninggal Fredy, kususul Dewi di kamar mandi. Ternyata dia sedang membersihkan vaginanya dari sperma Fredy.
"Bosku sudah oke mau berkenalan; beliau bersedia menemuimu sebelum pulang. Sekarang apa rencanamu?" tanyaku.
"Suruh saja dia menunda kepulangannya sampai besok; kita bisa check out dan pulang bersama," jawabnya sambil menyiramkan air hangat di sekujur tubuhnya.
"Terus aku gimana?" tanyaku bengong dengan rencananya. Tentu saja aku nggak bisa sekamar dengan mereka — lebih baik aku pulang sekarang saja dan menyerahkan kesempatan mendapatkan kehangatan tubuh Dewi kepada Pak Sys.
"Nggak usah khawatir, Mas. Serahkan padaku; percaya deh," jawab Dewi meyakinkan.
Melihat tubuh molek Dewi dengan rambut basah, hasrat birahiku yang tertunda naik lagi. Kurangkul dia dan kuciumi tubuh wanginya.
"Mas, sebentar lagi bosMu datang lho," katanya mengingatkanku.
"Tapi aku dari tadi belum orgasme; Fredy saja sudah berkali-kali mendapatkannya," protesku.
"Oke, tapi cepetan ya, sebelum dia datang," katanya sambil berjongkok di depanku, membuka resleting celanaku, mengeluarkan penis, dan langsung mengulumnya — sekadar untuk membasahi.
Kuberdirikan Dewi dan kubalik membelakangi. Dia agak berjongkok menghadap cermin di meja wastafel kamar mandi. Dengan mudah penisku menerobos masuk liang vaginanya; Dewi menggigit bibir bawahnya saat penisku melesak masuk. Langsung kukocok dengan cepat. Dari cermin bisa kulihat wajah Dewi yang menahan desah dan buah dadanya yang montok menggantung indah. Kupegangi pantatnya dan kukocok makin cepat; desahannya sudah keluar dengan lepas.
Aku berusaha mencapai puncak orgasme dengan cepat sebelum Pak Sys datang. Kuremas buah dadanya — sungguh indah melihat bayangan kami di cermin saat bercinta. Puncak kenikmatan yang biasa kuperlambat kini kuusahakan secepat mungkin, tapi rupanya semakin dipercepat semakin susah meraihnya. Ternyata aku tidak bisa melakukan quickie. Kubalikkan tubuh Dewi dan kududukkan di meja wastafel itu; kembali aku mengocok dengan cepat, kali ini sambil berhadapan. Berharap Pak Sys tidak datang terlalu cepat; kocokanku semakin cepat dan keras. Desahan Dewi yang lepas makin menggairahkan; kuciumi pipi dan bibirnya dengan gemas melihat bibirnya yang merekah mendesah.
Sepuluh menit sudah berlalu, belum juga ada tanda-tanda orgasme dariku. Melihat aku kesulitan mencapai orgasme, Dewi mendorong tubuhku dan memintaku telentang di lantai kamar mandi — hanya beralaskan handuk yang habis dia pakai tadi. Dewi langsung melesakkan penisku ke vaginanya dengan posisi dia di atas. Dengan berjongkok, tubuhnya turun naik mengocok penisku sambil pinggangnya berputar-putar, membuat penisku serasa terpilin. Kami berdua sama-sama mendesah lepas; kuraih dan kuremas kedua buah dadanya. Kami seolah berpacu menuju puncak kenikmatan.
"Ding dong... ding dong..." Kudengar bel pintu berbunyi mengagetkan kami berdua. Kami saling berpandangan. Dewi tersenyum menggoda melihat sorot kekecewaan di wajahku; diciumnya bibirku dan dia langsung berdiri. Penisku tercabut dari vaginanya — kembali aku harus menunda atau malah melupakan orgasme yang tertunda dari tadi.
"Cepat buka pintu; ntar dia marah lho. Rapikan dulu baju, Mas," perintahnya sambil mengenakan piyamanya, tanpa pakaian dalam.
"Sialan... sialan... sialaan..." jerit hatiku sambil berdiri dan menutup resleting celanaku.
Ketika kubuka pintu kamar, Pak Sys berdiri di depan pintu dengan traveling bag-nya. Rupanya dia memang menunda kepulangannya hingga besok — tentu saja ini membuatku kecewa. Hilanglah kesempatan untuk berdua mereguk kenikmatan bersama Dewi.
"Masuk, Pak. Dewi masih di kamar mandi," aku mempersilakan Pak Sys sambil mengambil traveling bag-nya.
"Wah, bagus juga kamar ini. Pemandangannya juga indah dan agak terpencil," komentar Pak Sys ketika duduk di sofa ruang tamu.
Dewi keluar dari kamar ketika aku mengambilkan minuman untuk Pak Sys. Dengan tetap memakai piyama — yang aku yakin masih tanpa pakaian dalam — dia menghampiri kami dan langsung mengulurkan tangannya ke arah Pak Sys.
"Dewi."
"Sys."
Dewi duduk di sampingku di sofa panjang menghadap ke arah Pak Sys. Kami ngobrol ringan seputar pemandangan alam di Lombok; suasana jadi makin akrab seolah kami teman lama yang baru bertemu. Baik Dewi maupun Pak Sys ternyata cepat akrab.
Ketika ngobrol, berulang kali Dewi membungkuk. Aku yakin Pak Sys telah melihat pemandangan indah buah dada Dewi.
"Sudut pandang pantai dari sini sangat indah," kata Pak Sys ketika berdiri di balkon menatap deburan ombak di kala senja.
"Akan lebih indah dari balkon kamar. Coba saja dan bandingkan," tambah Dewi sambil berdiri mengajak Pak Sys menuju kamar.
Mereka berdua menuju kamar. Dewi sempat melirik nakal ke arahku, sementara Pak Sys melirikku dengan pandangan penuh arti.
Bersambung...