Sang Dewi: Pertemuan Tak Terduga di Lombok
Sang Dewi: Pertemuan Tak Terduga di Lombok
Aku sama sekali tak menyangka bakal ketemu Dewi di lobby sebuah hotel berbintang di kawasan pantai Senggigi, Lombok, bersama seorang laki-laki Cina yang sudah cukup umur — mungkin sekitar 55 tahun — yang aku tahu pasti bukan suaminya. Mereka bergandengan mesra melintasi lobby tanpa memperhatikan sekitarnya. Aku yakin dia tidak melihat keberadaanku di sana; mereka menuju sebuah mobil mewah yang sudah menunggu di depan lobby dan melesat pergi.
Aku tak bisa memikirkan hal itu lebih lama karena acara "Manager Gathering" segera dimulai. Hari ini adalah hari terakhir dari tiga hari acara yang diselenggarakan kantor pusat. Acara yang rencananya selesai pukul 19:00 molor dan baru ditutup pukul 21:30.
Dari kejauhan kulihat Dewi melewati lobby sendirian menuju lift. Kupercepat jalanku untuk menyapanya sebelum dia masuk.
"Dewi!!" teriakku sambil berlari menenteng map hasil meeting tadi.
"Mas Hendra!!" jawabnya kaget sambil menyalamiku.
"Lagi berlibur nih, mana Agus kok sendirian?" tanyaku, pura-pura tidak tahu — padahal aku yakin Agus, suaminya, tidak ikut. Entah dengan siapa dia pergi.
"Ah, enggak, Mas. Kebetulan ada acara keluarga. Mas Agus lagi ke Medan ada tugas kantor, mungkin baru bulan depan balik. Maklum, baru dapat promosi jadi harus kelihatan rajin ke daerah," jawabnya. Aku yakin dia berbohong, tapi aku tak bisa bertanya lebih lanjut. Pintu lift sudah terbuka; dia segera masuk. Aku ingin mengikutinya tapi takut mengganggu acaranya.
"Aku di kamar 502. Kalau perlu teman ngobrol atau bantuan lain, just call me," kataku lancang sebelum pintu lift tertutup. Sesaat aku masih terbengong di depan lift hingga tersadar dan pergi ke kamarku.
Telepon berbunyi ketika aku sedang asik mandi air panas menyegarkan badan setelah seharian mengikuti acara yang melelahkan. Sambil tetap telanjang aku terima telepon itu — dan di luar dugaan, ternyata suara Dewi di seberang sana.
"Malam, Mas. Udah tidur? Maaf, ngganggu nih," suara merdu dari seberang sana.
"Ah, enggak. Baru juga mandi, ini belum selesai — masih telanjang lagi," jawabku.
"Wah, kalau saja bisa lihat dari telepon, pasti asik deh," suaranya kembali terdengar manja.
"Boleh, asal nggak keberatan. Aku sih oke-oke saja," jawabku asal.
"Emang Mas sendirian di sana?" tanyanya dengan nada selidik.
"Iya dong. Emangnya asrama satu kamar rame-rame? Kalau kamu kan enak ada temannya, jadi nggak sepi," aku mulai memancing.
"Ah, enggak, Mas. Dewi lagi sendirian nih, sepi deh. Teman-temanku pada ada acara keluar; aku lagi nggak enak badan jadi tinggal sendirian di kamar."
"Yang tadi pagi itu?" pancingku.
"Yang mana sih?" dia berusaha mengelak.
"Emang ada berapa sih? Itu bapak yang tadi pagi naik BMW hitam."
Tak terdengar suara jawaban.
"Halo? Dewi? Halo, halo?" Aku mulai khawatir.
"Mas, ke sini deh. Ngobrol di sini kan lebih asik. Aku tunggu ya — kamar 1003," jawabnya, langsung menutup telepon.
Sejenak aku tercenung. Kamar itu adalah deretan kamar suite karena semua jajaran direksi menginap di kamar dengan nomor 10 ke atas alias kelas suite. Tak mau terlalu lama dalam keraguan, tanpa menyelesaikan mandi aku langsung berpakaian dan menuju kamar Dewi yang letaknya cukup jauh dari tempatku — alias menyeberang dari sayap utara ke selatan. Aku berusaha untuk tidak terlihat kawan-kawan, karena sudah pasti mereka akan mengajak bergabung dan tentu saja sulit untuk menolak serta melepaskan diri.
Setelah berjalan agak memutar menyusur pantai di keremangan lampu taman, akhirnya aku temukan kamar yang dimaksud. Aku berdiri agak ragu di depan pintu sebelum memencet bel. Tak lama kemudian muncullah wajah cantik Dewi dari balik pintu dan langsung mempersilakan masuk.
Dewi hanya mengenakan pakaian tidur tipis warna putih; bisa kulihat bayangan bra hitam berenda dan setelan celana dalamnya. Sambil mempersilakan aku duduk, Dewi mengambil minuman dan mengangsurkannya padaku. Bisa kunikmati belahan buah dadanya yang putih montok saat dia membungkuk memberikan minuman itu.
Kami duduk di ruang tamu. Tanpa canggung, Dewi duduk di sebelahku; bau parfumnya tercium begitu lembut dan romantis. Kami saling tukar cerita mengenai panorama alam Lombok. Selama pembicaraan mataku sering mencuri pandang pada buah dadanya yang menantang, apalagi ketika dia agak membungkuk — aku bisa menikmati keindahan bukit mulusnya yang masih terbungkus bra hitam dari celah pakaian tidurnya. Sesekali bukit itu menyenggol lenganku ketika dia tertawa mendekat. Kami seperti sahabat lama yang baru bertemu, padahal sehari-hari kami tidaklah terlalu akrab karena Dewi memang pendiam. Sedangkan dengan suaminya, aku terkadang bermain tenis.
"Emang kamu ke sini sama siapa?" tanyaku setelah kekakuan di antara kami mencair.
Dia memandangku tajam. Kubalas dengan pandangan tak kalah tajamnya. Wajahnya memerah — terlihat makin cantik dengan sorot mata indahnya; bibirnya yang tipis seksi dengan sapuan lipstik tipis membuatnya makin menawan.
"Mas, tolong jaga rahasia ini. Rahasia keluargaku, dan tak seorangpun tahu kecuali kita. Aku tak kuat menahan rahasia ini sendirian; aku perlu teman yang bisa dipercaya untuk curhat. Mas bisa kan?" katanya dengan mimik serius. Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil menatapnya tajam untuk menengok isi hatinya.
"Aku tahu Mas Agus sering main perempuan, dan sekarang selingkuh dengan sekretarisnya. Aku juga tahu kalau dia ke Medan bersama sekretarisnya itu. Aku sudah capek mengingatkan kelakuannya itu, tapi dia tidak pernah berubah. Akhirnya kuputuskan untuk membalas perlakuannya — aku ingin membalas yang lebih menyakitkan. Aku tahu ini bukan jalan terbaik, tapi aku sudah putus asa. Maka di sinilah aku sekarang. Kalau Mas lihat aku tadi pagi, dia adalah bosku, direktur marketing, bukan Mas Agus. Aku mencari orang yang status kedudukan dan levelnya di atas Mas Agus. Dua dari empat direktur sudah pernah tidur denganku. Memang bukan kepuasan fisik yang aku cari, tapi aku puas secara batin telah membalas kelakuan Mas Agus — meski secara seksual aku tidak mendapat kepuasan dari mereka. Mas kan tahu, apalah artinya bercinta dengan orang setua mereka; nafsunya saja yang gede, tak sebanding dengan tenaganya — maklum, rata-rata di atas 50 tahun alias seusia papa-ku. Untuk kepuasan seks, aku bisa dapatkan dari beberapa anak buahnya yang masih muda dan rata-rata masih bujangan. Aku tak peduli apa kata mereka tentang aku; yang penting aku puas membalas perlakuan Mas Agus melebihi perlakuannya padaku," dia bercerita dengan lancarnya sambil diselingi menghisap Marlboro putih.
Aku terdiam. Tercengang, kaget, marah, cemburu, nafsu — semua bercampur menjadi satu. Tak bisa berkata-kata. Kejantananku sudah menegang mendengar penuturannya.
Dewi, tetanggaku yang selama ini aku kenal sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik, pendiam, cantik, imut-imut, ramah, dan tidak pernah terdengar gosip — ternyata menyimpan begitu banyak misteri dalam dirinya.
Sungguh beruntung orang-orang yang telah menikmati kehangatan dan kemolekan tubuh Dewi. Entah apakah aku termasuk orang yang beruntung tersebut.
Kupandangi wajah Dewi — sungguh cantik sekali, begitu manis, terlalu sayang untuk dilewatkan. Tubuhnya yang montok putih mulus pasti membuat laki-laki normal menelan ludah menikmati postur tubuhnya. Meski tidak terlalu tinggi, mungkin 160 cm, potongan tubuh yang proporsional dan penampilannya yang modis — ditambah lekuk tubuhnya yang tergolong seksi — pasti akan menarik perhatian banyak laki-laki.
Dia menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku terdiam, membiarkan dia menumpahkan segala apa yang dipendamnya. Kami sama-sama terdiam. Kuberanikan diri untuk membelai rambutnya yang keemasan tergerai di pundak; dia diam, hanya menatapku penuh misteri. Tanpa kuduga, Dewi langsung melayangkan ciumannya di bibirku — begitu halus dan lembut bibir tipis itu melumat bibirku. Segera kubalas dengan lumatan bibir yang ringan. Lidah kami bermain dan saling bertautan; napas kami menyatu dalam kehangatan.
Ciuman kami makin lama makin panas. Tanganku mengelus rambut dan punggungnya, lalu tanpa kusadari sudah berada di daerah dadanya yang lembut. Kuremas buah dadanya yang montok — sungguh padat dan kenyal. Ciuman Dewi makin ganas di mulutku; lidahnya sudah menjelajah ke mulutku, menggigit ringan bibirku dan menyedot lidahku. Napasnya sudah turun naik menahan birahi, begitu pula nafsuku yang sudah memuncak hingga kepala.
"Mas, puaskan aku. Sudah dua hari aku melayani si tua itu dan belum mendapatkan kepuasan. Kini dia mencampakkan aku seperti pelacur ketika istrinya meminta dia segera pulang," katanya, menatapku kali ini dengan tatapan sayu.
Tanpa kesulitan segera kubuka baju tidurnya hingga tampak tubuhnya yang putih mulus terbungkus bra hitam — sungguh kontras, makin menambah kesan seksi. Dewi begitu bernafsu melepas bajuku; bibirnya menyusuri dadaku sambil melepas celanaku sekaligus dengan celana dalamnya. Dia berhenti di selangkanganku, memegang batang kejantananku yang 17 cm, dan memandangku dengan sorot mata kagum disertai senyum penuh arti. Dia lalu berlutut di antara kakiku, masih mengenakan bikininya. Kubiarkan saja karena aku masih ingin menikmati penampilannya seperti itu lebih lama.
"Yes, I like it," komentarnya, langsung menjilati kejantananku dari ujung hingga pangkal batangnya, berulang-ulang, lalu memasukkannya ke mulutnya. Begitu sempurna dia bermain oral, pertanda sudah banyak pengalaman. Melihat bibir Dewi yang tipis dan mungil mempermainkan kejantananku, nafsuku makin naik tinggi. Kupegang kepalanya dan mendorongnya supaya penisku lebih dalam masuk dalam mulut mungilnya. Sambil mengulum, tangan mungilnya ikut mengocok batang penisku yang tidak tertampung di mulutnya.
"Very big, keras lagi," komentarnya di sela-sela kulumannya. Tentu saja keras, karena sudah tiga hari tidak tersalurkan.
Penisku semakin cepat meluncur keluar masuk mulutnya; tangannya pun semakin keras mencengkeram dan mengocoknya. Dengan lihai lidahnya menari-nari di kepala penisku — tarian lidah layaknya seorang profesional. Sungguh pintar, dan dia tahu timing untuk mengocok, mengulum, dan menjilat. Suatu kombinasi yang membawaku terbang dalam kenikmatan bersama Dewi yang cantik.
Cukup lama Dewi berlutut di selangkanganku menikmati kejantananku, sepertinya dia ingin menelan semua kejantananku — sedangkan aku sendiri belum banyak menjamah dan menikmati tubuhnya.
Bersambung...