Sang Dewi: Rahasia Malam di Lombok
Sang Dewi: Rahasia Malam di Lombok
Paginya aku bangun kesiangan. Kulihat Dewi sudah tidak ada di sampingku; jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Entah jam berapa kami baru bisa tidur tadi malam — mungkin pukul dua atau tiga.
Kulihat Dewi sudah ada di ruang tamu, hanya mengenakan kemejaku, sedang menelepon seseorang. Sepertinya dia bicara dengan suaminya, Agus. Kubiarkan dia menyelesaikannya; aku ke kamar mandi membersihkan diri supaya segar.
Ketika aku keluar kamar mandi, kulihat Dewi sedang bercakap dengan pelayan yang mengantarkan sarapan. Tanpa risih, dia masih hanya mengenakan kemeja itu — dengan dua kancing atas terbuka. Aku yakin sedikit atau banyak pelayan itu melihat bagian dalam tubuh Dewi. Di luar dugaanku, Dewi membungkuk di meja ketika menandatangani bon. Sudah pasti si pelayan yang berdiri di depannya bisa menikmati kedua buah dada Dewi yang menggantung di balik kemeja. Dengan senyum tanpa rasa bersalah dia mengangsurkan kembali bon itu disertai ucapan terima kasih — sepertinya dia menikmati ketika memperlihatkan bagian tubuhnya kepada orang lain. Sebenarnya aku cemburu melihat hal itu, tapi apa hakku mencemburui Dewi? Tak ada alasan.
"Mas, kita extend sehari yuk," ajak Dewi. Sebenarnya tanpa diminta pun aku ingin mengusulkan hal itu, tapi aku harus mengurus administrasi check-out kamarku dulu dan memikirkan alasan kepada rekan-rekan tentang ketidakbersamaanku dengan yang lain — tentu menimbulkan banyak pertanyaan.
Segera setelah kukembalikan kemejaku dan memberikan morning kiss, aku meninggalkan Dewi menuju kamarku untuk mengatur check-out. Karena penerbangan ke Jakarta baru sore hari, tentu banyak teman yang jalan-jalan menikmati indahnya Lombok.
Kukemasi barangku di kamar dan kumasukkan ke dalam traveling bag. Kupanggil room boy untuk mengantar tasku ke kamar 1003 guna menghindari kecurigaan rekan-rekan. Mengenai administrasi dan pembayaran sudah ada yang mengurus.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11:30. Aku segera kembali ke kamar Dewi, tapi sialnya ketika melintas kolam renang, aku kepergok rekan-rekan yang sedang berenang. Mereka memanggilku; dengan terpaksa aku bergabung karena ada atasanku di sana — tidak enak kalau menolak. Tak banyak tamu hotel di kolam itu, mungkin hanya kami ditambah beberapa bule yang menikmati kolam renang indah itu. Apalagi suasana agak berawan hingga nyaman untuk bersantai di luar, di tepi kolam.
Entah sudah berapa lama aku bersama mereka ketika di seberang kulihat Dewi datang dengan mengenakan pakaian renang merahnya yang model two-pieces. Aku yakin pandangan kami semua tertuju padanya.
Dengan tenangnya dia masuk kolam dan berenang santai. Gayanya seolah menggoda laki-laki yang melihatnya — apalagi dengan postur tubuhnya yang seksi dan wajah cantik imut-imut. Tentu sebagai laki-laki normal tak akan melepaskan pemandangan ini. Kudengar komentar kagum dari rekan-rekanku; ada perasaan bangga bahwa semalam aku telah menikmati kehangatan tubuh seksi itu.
Melihat serombongan laki-laki di tepi kolam, bukannya membuat Dewi risih — dia malah bergaya lebih erotis dan sepertinya dengan sengaja memamerkan keseksian tubuhnya. Baru kusadari, mungkin dia termasuk exhibisionis yang suka menggoda dengan memamerkan tubuhnya; mungkin karena kurang mendapatkan perhatian dan pujian dari suaminya. Sepertinya dia ingin membuktikan bahwa banyak orang yang tertarik pada postur tubuhnya.
Aku melirik Pak Sys, direktur operasi, bosku. Kulihat sorot mata kagum di wajahnya. Laki-laki bujang berumur 45 tahun itu seolah tak berkedip melihat pose dan gaya Dewi saat berenang — seolah ingin menelannya bulat-bulat. Aku tahu dia memang penikmat wanita cantik; dengan wajah yang masih tampan tentu tak sulit baginya mendapatkan wanita, apalagi ditambah tunjangan dananya.
"Waow, gila, bagus banget bodynya — perfect," komentarnya.
Tidak lebih satu jam dia di kolam — berenang maupun santai di kursi yang ada di sepanjang tepi kolam. Dewi mengemasi barangnya dan menghilang di balik bebatuan alam tepi kolam. Setengah jam kemudian kami semua bubar seiring dengan menghilangnya Dewi dari pandangan kami.
Aku menyelinap meninggalkan mereka menuju kamar Dewi. Ternyata pintunya tidak tertutup dengan benar; kubuka pintu itu perlahan, bermaksud mengagetkannya. Tak kujumpai Dewi di ruang tamu maupun ruang tengah, begitu juga di kamar mandi depan.
Kudekati kamar tidur yang pintunya sedikit terbuka. Aku kaget ketika mendengar desahan pelan dari kamar itu. Ketika kubuka pelan pintu itu, bukan main kagetnya ketika kulihat Dewi sedang telentang membuka kakinya lebar dengan kepala seseorang di antara kakinya — dia sedang menerima jilatan dari laki-laki itu dengan ganasnya. Terlihat tubuh Dewi menggeliat dan mendesah nikmat. Mereka sepertinya tak mengetahui kehadiranku. Tangan Dewi meremas kepala yang sedang mengusap vaginanya. Laki-laki itu berlutut masih mengenakan celana renang, menjilati vagina Dewi. Entah sudah berapa lama mereka melakukannya; yang jelas belum terlalu lama karena swimsuit bagian atas Dewi belum juga terbuka, masih menutupi buah dadanya yang montok.
Perasaan cemburu, kecewa, marah, dan benci berkecamuk di kepalaku — tapi anehnya, bukannya menghentikan mereka, aku justru menikmatinya. Perlahan perasaan-perasaan itu berubah menjadi nafsu dan gairah. Kurasakan sensasi yang aneh; yang jelas, aku mulai menikmati melihat mereka bercinta. Kejantananku perlahan menegang dari balik celanaku. Lidah laki-laki itu mulai menyusuri perut Dewi; tangannya sudah meremas buah dadanya yang masih terbungkus ketat.
Aku masih berdiri terbengong di pintu, tak tahu harus berbuat apa. Tanpa kusadari tanganku sudah meremas kejantananku yang makin menegang.
Pria itu menindih tubuh Dewi; mereka berciuman dan bergulingan di ranjang yang semalam dia pakai bercinta denganku. Tubuh Dewi di atas, menciumi dada bidang pria itu. Ciumannya terus turun hingga bawah perut; tangan Dewi mulai melepas celana renangnya dan menggapai kejantanan yang nongol dari baliknya. Tidak terlalu besar tapi kelihatan begitu tegang dan panjang. Mulut mungil Dewi segera mengulum dan mempermainkannya; dengan segera penis itu meluncur keluar masuk mulut Dewi hingga hampir semuanya. Hidung Dewi terkadang menyentuh rambut pubis pria itu; sesekali Dewi mempermainkan kepala dan batang penis dengan lidahnya — dijilatinya dari ujung hingga pangkal. Begitu pandainya dia memainkan irama; pria itu mendesis-desis dalam kenikmatan kuluman sang Dewi.
Ketika Dewi mengulum pria itu, posisi tubuhnya nungging membelakangi, hingga terlihat bibir vaginanya seolah mengundang dan menantang. Dengan penuh gairah Dewi mengocok penis pria itu; hanya desis kenikmatan keluar dari mulutnya sambil tangannya memegang kepala Dewi dan menekan untuk lebih dalam memasukkan penisnya.
"Aahh... aahh..." jerit pria itu seiring dengan semprotan sperma di wajah Dewi, yang tak mau membuang kesempatan — langsung memasukkan penis yang menyemprot itu ke mulutnya. Tanpa ragu, Dewi membiarkan pria itu mengeluarkan spermanya di dalam mulutnya dan tanpa ragu pula dia menelannya. Terlihat tetasan putih di ujung bibirnya; sperma yang tak tertampung di mulutnya menetes ke bibir dan dagunya. Dewi lalu menyapukan penis yang melemas itu ke wajahnya sambil tersenyum.
Ketika Dewi berdiri, dia melihat keberadaanku.
"Eh, Mas, udah lama di situ?" tanya Dewi dengan santainya sambil berjalan ke arahku — tiada nada terkejut atas kehadiranku.
Kutinggalkan mereka berdua di kamar; aku menuju balkon mengambil udara segar sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan. Perasaanku bercampur aduk antara cemburu, marah, benci, dan perasaan aneh lainnya setelah menyaksikan sensasi itu.
Dengan hanya berbalut handuk di dadanya, Dewi mendekatiku dan langsung memelukku dari belakang. Aku ingin marah, tapi sadar bahwa bukan hakku untuk cemburu dan marah.
"Mas marah ya?" tanyanya sambil tetap memelukku dan mengelus dadaku. Aku diam saja.
"Kenapa Mas Hendra marah? Ini kan hanya kesenangan — just for fun. Apa bedanya aku bercinta sama Mas atau aku dengan Fredy? Toh sama-sama penyelewengan," katanya mencoba mencari pembenaran atas tindakannya. Ternyata laki-laki itu bernama Fredy.
"Kenapa nggak sekalian saja secara bersama-sama main bertiga? Toh ini juga kesenangan — just for fun," kataku sekenanya sambil mendongkol karena kehilangan kesempatan untuk menikmati tubuh Dewi sendirian.
"Kalau Mas nggak keberatan, aku juga ingin melakukannya — just for fun. Lagian aku belum pernah melakukan seks bertiga seperti itu; asik kali ya?" jawabnya tetap tanpa rasa bersalah. Tentu saja itu mengagetkanku.
"Emang kamu ingin melakukannya?" tanyaku mempertegas.
"Kalau Mas nggak keberatan. Tapi kalau Mas nggak mau, ya nggak apa-apa; akan kusuruh Fredy pulang. Tapi terus terang aku jadi ingin mencobanya," tegasnya sambil merajuk manja.
Aku diam saja memikirkan kata-katanya. Tangan Dewi sudah mulai mengelus selangkanganku.
"Gimana, Mas? Dia pergi atau tinggal?" desaknya.
Aku belum memberikan jawaban — terlalu sayang untuk membagi tubuh Dewi dengan laki-laki lain, apalagi sekelas Fredy yang jauh dari menarik kecuali postur tubuhnya yang atletis.
"Pleese..." Dewi terus mendesakku. Tangannya sudah masuk ke balik celanaku dan meremas kejantananku yang mulai menegang, membuatku tidak bisa berpikir jernih lagi.
"Oke deh, terserah kamu. Toh ini acaramu; aku kan hanya kebetulan berada di tempat yang tepat," jawabku.
"Thanks, Mas!" jawabnya girang. Dia bergeser ke depanku dan hendak langsung memelukku, tapi aku menghindar — kusuruh dia membersihkan diri dulu dari bekas sperma.
Dipanggilnya Fredy ke balkon. Dengan penuh selidik kuamati penampilannya; baru aku sadar bahwa Fredy adalah lifeguard kolam renang tadi. Sebagai seorang perenang, tubuhnya memang atletis dan seksi meski tidak terlalu tampan.
"Mas, kenalin, si Fredy. Fredy, ini Mas Hendra," katanya memperkenalkan kami, lalu meninggalkan kami berdua dan masuk kamar mandi.
Fredy sudah mengenakan kembali celana renangnya. Kami duduk dan ngobrol di ruang tamu dekat balkon sambil menunggu Dewi keluar kamar mandi. Ternyata Fredy adalah putra asli daerah Lombok yang sudah lima tahun kerja di hotel ini. Tampangnya yang keras memperlihatkan guratan pekerja keras; meski usianya masih sekitar 25 tahun, garis wajahnya jauh lebih dewasa dan menggambarkan kematangan hidup. Sudah tiga tahun menikah dengan tetangga satu desa dan dikaruniai satu anak.
Bersambung...