18px

Sang Dokter dan Koas Istimewa

Sang Dokter dan Koas Istimewa

Namaku Rendi, seorang dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit negeri di kota Sumedang. Umurku 35 tahun dan aku belum menikah — bukan karena tidak ada yang mau, melainkan karena pacarku sedang menyelesaikan S3-nya di Amerika. Tinggiku 180 cm, hobi main basket, berkulit putih, dengan wajah yang rupanya membuat banyak perempuan tertarik.

Punya pacar bukan berarti aku tidak pernah "ngobyek" dengan yang lain. Terus terang, aku punya beberapa affair dengan dokter wanita di sini maupun dengan anak kedokteran yang masih koas. Tentu yang kupilih bukan sembarangan — harus yang lebih muda dan cantik. Sudah banyak yang mencoba menarik hatiku, tapi sejauh ini aku belum mau serius. Selama jauh dari pacarku, aku manfaatkan saja kesempatan yang ada.

Sudah banyak yang aku perdaya, tapi ada satu orang yang membuatku sangat penasaran. Namanya Novi, umurnya sekitar 22 tahun, anak koas dari perguruan tinggi negeri di kota yang sama. Kebetulan aku menjadi residennya. Wajahnya cantik dan tatapannya teduh; dia berjilbab lebar, berbeda dengan anak-anak lainnya. Tingginya semampai sekitar 165 cm, dengan tubuh yang padat — tidak kurus dan tidak gemuk, sesuai seleraku. Jilbabnya pun tidak mampu menutupi lekukan dadanya; kutaksir kalau tidak 36B, ya 36C. Tutur katanya yang lembut dan halus benar-benar membuatku mabuk. Apalagi dia sangat menjaga pergaulannya. Setiap kali aku coba mengajak bicara, dia selalu menundukkan wajah. Dia pun tidak menyambut tanganku ketika aku ajak bersalaman. Kulitnya sangat halus — terlihat dari pipi dan ujung tangannya — dan tahi lalat di atas bibirnya semakin menambah kesan manis.

"Nov, kita makan bareng yuk, aku yang traktir," ujarku berusaha membujuknya.

"Terima kasih, Dok... saya sama teman-teman saja," jawabnya halus.

"Jangan panggil Dok, panggil saja Kak."

"Baik, Dok... eh, Kak. Tapi terima kasih tawarannya, aku bareng teman saja."

"Kalau begitu ajak saja teman kamu sekalian," kataku setengah berharap.

"Terima kasih, Kak, nanti merepotkan. Teman-temanku makannya banyak, lho," sahutnya sambil tetap menundukkan kepala.

Gurauan ringan seperti itu yang tidak pernah kudapatkan dari pacarku atau teman affair-ku. Aku tersenyum kecil mendengar alasannya yang sangat lucu. Humoris juga dia.

"Baiklah, mungkin lain kali," kataku. "Oh ya, kalau ada masalah administrasi atau urusan pekerjaan di sini, jangan sungkan bicara ya. Nanti aku bantu."

"Terima kasih, Kak. Saya pamit dulu."

Aku memperhatikannya dari belakang. Roknya yang juga lebar tidak bisa menutupi lekukan pantatnya yang bergoyang mengikuti langkah kakinya. Perfect. Aku menggeleng dalam hati.

Dia berbeda sekali dengan Nita — anak koas dua tahun lalu yang pernah aku perdaya juga. Sama-sama berjilbab walau tak selebar Novi. Nita awalnya agak jual mahal, walau aku tahu dari caranya memandang bahwa dia menyukaiku. Dengan beberapa rayuan, akhirnya aku bisa membawanya ke hotel. Tidak dengan paksaan, dan sangat mudah. Affair kami berakhir seiring selesainya masa koas dia, juga karena dia tahu aku punya affair dengan temannya.

Novi berbeda sekali. Sangat sulit ditaklukkan. Setiap kali melihat dia, selalu aku perhatikan setiap geraknya, senyumnya, tawanya — selalu terbayang. Saat aku sedang melamun, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memeluk dan menarikku.

"Ngelamun nih..." suara itu sengaja diparaukan.

"Mhh... Rasya, kamu nih ganggu saja," ujarku sambil melepaskan pelukannya.

"Kamu sekarang jarang ke ruanganku lagi," rengeknya.

Rasya adalah sesama dokter di sini, umurnya sekitar 27 tahun dan sudah bersuami. Sayangnya suaminya bekerja di lepas pantai sehingga jarang bertemu dan memberikan nafkah batin. Memang aku sering ke ruangannya dulu — sekadar bercumbu dengan bumbu oral yang bisa membuat dia melayang. Tapi kami tidak pernah sampai melakukan lebih jauh karena dia pun tidak mau, dan aku tidak memaksa. Tidak semua affair-ku selalu berujung ke ranjang — yang penting ada pelepas rindu dan bisa memuaskanku walau tidak sampai senggama.

"Aku sibuk, Rasy, banyak yang melahirkan dan aku juga harus jadi residen," ujarku sambil memegang pinggangnya.

"Tidak ada waktu untukku? Sebentar saja..." Lalu dia memagut bibirku dan kami pun bercumbu.

Satu per satu aku buka kancing blousnya, menemukan dua gundukan kembar yang jarang dijamah pemiliknya. Aku cumbu dan ciumi dengan lembut. Tapi sepintas aku teringat Novi lagi, dan aku pun menghentikan aktivitasku.

"Kok berhenti?"

"Maaf, Rasy, aku tidak konsen. Banyak pekerjaan."

"Ya sudah..." ujarnya tersungut sambil mengancing kembali blousnya, lalu berlalu.

Sore itu aku sedang membantu persalinan. Sengaja aku panggil Novi untuk mendampingiku — wajahnya senang sekali karena jarang mendapat kesempatan seperti ini. Dia berusaha menjadi asistenku dengan baik. Saat memberikan gunting, aku sengaja pura-pura tidak sengaja menyentuh tangannya, tapi langsung dia tarik. Gagal lagi. Tapi aku sudah senang bisa melihat wajahnya dari dekat selama persalinan itu.

Sekeluar dari ruang bersalin, Novi berkata, "Terima kasih ya, Kak, jarang ada kesempatan seperti ini."

"Kamu mau aku bikin begitu?" kataku sambil melirik seorang ibu hamil yang kebetulan lewat.

"Yee, nggak lah. Makanya cepet cari istri sana..." jawabnya sambil tersenyum dan berlalu.

Aku kaget. Kok dia tahu?

Sore itu langit mendung dan gelap. Hujan mulai turun rintik-rintik ketika aku memacu Fortuner-ku keluar dari ruang parkir. Kulihat Novi berlari keluar sambil menutupi kepalanya dengan tas agar tidak terkena hujan.

"Kesempatan..." Tin, tin — aku membunyikan klakson. "Mau pulang? Bareng aja yuk, kayaknya mau hujan besar nih."

"Terima kasih, Kak. Aku naik angkot saja, sudah biasa kok."

Hujan pun semakin deras.

"Beneran, nggak apa-apa, aku antar sampai kos."

"Terima kasih, Kak, tapi nanti dilihat orang bisa jadi fitnah."

Gilaa... ini semakin membuatku jatuh cinta pada dia. Aku berjanji dalam hati: kalau saja aku bisa mendapatkan dia, aku akan putuskan semua affair-ku. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Tidak berapa lama hujan semakin deras, bahkan aku sulit melihat jalan. Sampai aku tertidur pukul 10 malam, hujan masih juga belum berhenti.

Keesokan harinya aku harus membantu persalinan lagi dan mencari Novi.

"Novi tidak masuk hari ini, Dok," sahut Rinda, teman sekampusnya, sambil membedong bayi di ruang bayi.

"Dia sakit? Aku mau minta tolong bantu persalinan lagi."

"Tidak tahu, Dok. Saya tidak dapat kabarnya," sahutnya sambil menatapku dengan sopan.

Aku perhatikan Rinda — manis juga dia. Berjilbab lebar sama seperti Novi, walau tidak secantik Novi. Tingginya paling 155 atau 160 cm, tapi tubuhnya proporsional. Kulitnya kuning bersih, dan kacamata yang dia kenakan semakin membuatnya terlihat anggun. Berbeda dengan Novi, dia tidak sungkan untuk berbicara langsung dan menatapku, walau sama-sama menjaga pergaulan.

"Ya sudah, kamu saja ya, bantu saya persalinan."

"Terima kasih, Dok," katanya sambil tersenyum.

Keesokan harinya aku masih belum menemukan Novi. Akhirnya aku dibantu Rinda lagi.

"Kamu tahu nomor telepon atau kos Novi, Rin?"

"Tidak, Dok, kita beda kos. Kenapa, Dok? Mhh, atau... hihihi, suka sama dia ya?" sahutnya sambil tersenyum.

"Tidak, cuma dia itu cekatan dan pintar. Makanya aku suka sekali kalau disistenin dia. Lagian dia juga nggak akan mau sama aku."

"Iya, Dok, banyak yang sudah mau khitbah dia, tapi dia tidak mau. Dia mau selesaikan dulu kuliahnya. Dia itu baik dan cantik lagi," ujarnya sambil mengikuti langkahku menuju ruang persalinan.

"Kamu juga cantik..." aku mulai mengeluarkan rayuanku. Kalau tidak dapat yang poin sembilan, ya minimal tujuh atau delapan juga tidak apa-apa.

Rinda tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menunduk.

Hari keempat baru kulihat Novi datang, namun tidak seperti biasanya. Biasanya Novi selalu ceria, kali ini tidak. Wajahnya murung dan tatapannya kosong. Kulihat teman-temannya berusaha bertanya dan berkumpul di sekitarnya. Entah apa yang mereka bicarakan; kadang Novi tersenyum walau getir.

Saat istirahat aku coba mendekatinya. "Kamu sakit, Nov?"

"Nggak, Kak," jawabnya lemah.

"Kenapa murung, ada masalah?"

"Ah, nggak kok." Novi mencoba tersenyum, tapi aku lihat itu tidak bisa menutupi kemurungannya. "Nggak ada masalah, cuma agak kurang sehat aja. Maaf, saya mau makan dulu, Kak," katanya sambil berlalu.

"Ya sudah, kalau kamu nggak apa-apa. Kalau butuh bantuan, jangan ragu minta tolong ke aku ya."

"Iya, Kak, terima kasih."

Esok harinya adalah hari Jumat. Aku berencana pulang agak cepat — ingin tidur dulu sebelum malam nanti pergi clubbing. Ketika aku sedang membereskan buku dan berkas ke dalam tas, tiba-tiba pintu kantorku diketuk.

"Silakan masuk."

Sesosok wanita dengan kemeja pink berbalut jas putih khas dokter, jilbab pink, dan rok putih masuk ke ruanganku. Cantik sekali dia terlihat. Wajahnya agak menunduk, walau dia berusaha memberanikan diri menatapku.

"Ada apa, Nov? Tidak mengganggu kok, saya sedang membereskan berkas. Ada yang bisa saya bantu?"

"Kakak besok ada acara?"

Aku tersentak. Tumben sekali dia bicara seperti ini. "Tidak... tidak. Ada apa? Besok aku bebas kok."

Aku pun melupakan janjiku untuk bertemu Dian — pasienku yang pernah kubantu persalinannya dan kemudian menjadi dekat denganku — karena Novi jauh lebih penting saat ini.

"Saya mau minta tolong. Besok aku mau pindah kos, apa Kakak bisa bantu bawakan barang?"

"Oh, tentu. Jam berapa?"

"Aku tunggu di kos ya, Kak, jam 9. Ini alamatnya." Novi menuliskan alamat pada secarik kertas di atas mejaku. Aku terus memandanginya tanpa berkedip. Perfect girl.

"Terima kasih ya, Kak, maaf sudah merepotkan." Saat memberikan kertas itu, dengan sedikit nakal aku pura-pura tidak sengaja menyentuh tangannya — dan tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak menarik tangannya. Dia membiarkan tanganku menyentuh tangannya.

Novi pun berlalu sambil meninggalkan ayunan pinggul yang sangat menarik. "Aku harus memilikinya." Aku segera membatalkan semua agenda dan janji, lalu segera tidur, tidak sabar menunggu esok hari — saat pertama kali kami berdua.

Esok harinya aku datang tepat waktu di alamat yang sudah diberikannya. Sebuah rumah kos yang cukup besar walau agak tua, bangunan utama pemilik rumah ada di depan, sedangkan bagian depannya merupakan gedung baru berlantai dua dengan pola bangunan khas tempat kos. Kulihat beberapa orang berkumpul di halaman depan, termasuk Novi yang mengenakan jilbab putih, kemeja biru, dan rok panjang biru dongker.

"Kenapa pindah, Nduk? Padahal Ibu senang kamu di sini, kamu suka bantuin Ibu," kata seorang wanita separuh baya.

"Iya, Bu, aku mau cari suasana lain aja, supaya bisa tenang bikin laporan."

"Kalau Kak Novi nggak ada, kalau di antara kita ada yang sakit, siapa yang bantuin?" timpal seorang wanita muda yang kutebak juga mahasiswi.

Novi tersenyum sambil mengacak-acak rambut teman kosnya itu. "Kamu boleh kok main ke sana. Bu, kenalkan, ini Dokter Rendi, yang bantuin saya pindahan." Dia memperkenalkanku pada ibu kos itu — tanpa sepatah kata pun untuk seorang pria tua yang berdiri di sebelahnya, yang wajahnya sama sekali tidak bersahabat.

"Oalah, kukira bojo mu, Nduk. Gantengnya!" kudengar ucapan ibu kos itu; aku tersenyum dalam hati.

"Ah, Ibu bisa aja..." Novi tersipu. Aku berharap itu menjadi nyata — bukan sekadar pacarnya, tapi aku ingin mengambil semuanya dari dia.

Semua temannya membantu memasukkan kardus ke dalam Fortuner-ku. Tidak lama, hanya satu jam, semua barang sudah masuk.

Kami pun segera berpamitan. Untuk pertama kalinya dia duduk bersebelahan denganku. Kutancap gas setelah sebelumnya melambaikan tangan pada ibu kos dan teman-temannya — sementara wajah pria tua yang kukira suami ibu kos itu masih tetap tidak bersahabat.

Mataku coba melirik nakal padanya. Tatapannya kosong menikmati pemandangan di luar jendela. Lekukan dadanya begitu nampak dan close up di hadapanku; napasnya naik turun semakin membusungkan dadanya yang tertutup jilbab putih. Rok biru dongker-nya berbahan lembut sehingga gampang jatuh mengikuti bentuk tubuh, memperlihatkan lekukan pahanya yang jenjang dan penuh. Novi masih menikmati pemandangan sisi jalan dan tidak sadar kalau aku memperhatikannya. Aku memacu mobil menuju alamat yang sudah dia beritahukan.

Di sebuah perumahan, rumah tipe 21 yang dia tempati. Luas tanahnya masih sangat luas dan belum termaksimalkan. Sisi kanan kiri rumah masih kosong, memberikan jarak cukup jauh dengan rumah di sampingnya.

Aku segera membantu menurunkan dan membereskan barang di rumah itu, hanya berdua. Kupandangi wajahnya, kuperhatikan tiap lekuk tubuhnya yang membuat pikiranku melayang.

Sore itu aku mandi di rumah kontrakannya — aku tidak pernah lupa membawa perlengkapan mandi di mobil. Begitu juga Novi yang mandi sebelumku, meninggalkan bau harum yang menyengat di kamar mandi.

"Kak, makan malam di sini saja ya. Sudah aku masakkan," tawarnya.

"Baiklah. Pasti masakannya enak sekali," timpalku, padahal sebenarnya aku memang ingin berlama-lama bersamanya.

Selepas makan malam kami pun bercengkerama. Semua barang telah kami rapikan bersama. "Akhirnya selesai juga ya, Nov. Capek juga ya," sahutku mencoba mencairkan suasana, sambil duduk di sebelahnya yang sedang mengupaskan mangga untukku.

Novi tersenyum manis sekali. "Iya, Kak. Kakak capek ya? Mau aku suapin mangganya?"

Aku kaget dengan tawarannya tapi berusaha tenang. "Boleh."

Dia pun memberikan mangga yang ada di tangannya. Dengan nakal aku coba melahap mangga sampai ke jarinya sehingga bibirku menyentuh jarinya. Dia menarik jarinya dari mulutku perlahan sekali, sambil tersenyum.

"Oh god... sweet," ujarku dalam hati. "Mangganya manis. Apalagi sambil lihat kamu," aku memancing.

Novi hanya tersenyum. "Mau lagi?"

Aku mengangguk. Suapan kedua ini jarinya lebih lama berada di dalam mulutku. Sengaja tidak kulepaskan, dan si empunya jari lentik itu tidak keberatan — dia hanya diam menunggu. Tangan kiriku menyentuh tangan kanannya dengan lembut; dia tidak menolak. Kitempatkan telapak tangannya yang lembut di pipiku sambil menatap wajahnya. Wajahnya bersemu merah. Mata kami saling menatap, wajah kami semakin mendekat — dekat dan dekat — sehingga aku rasakan napasnya menyentuh wajahku.

Tangan kananku meraih dagunya yang lembut seolah tidak ada tulang di sana. Sedikit kutarik dagunya sehingga bibirnya terbuka, sengal napasnya bisa kurasakan. Ini mungkin rasanya — seorang wanita yang pertama kali melakukan ciuman, wanita yang selama ini berusaha menjaga kehormatannya dan tidak pernah disentuh siapapun sebelumnya. Matanya terkatup; cantik sekali dia malam ini.

Kupagut bibirnya dengan lembut — dia tidak membalas, juga tidak menolak. Kembali kupagut bibirnya, lembut dan manis kurasakan. Kupagut bibir atas dan bawahnya bergantian. Kali ini dia mulai merespons; dia membalas pagutanku dengan memagut bibirku juga, basah dan indah. Pagutan kami semakin liar. Kupindahkan kedua tanganku ke samping wajahnya dengan posisi ibu jari menempel ke pipinya yang lembut, keempat jari berada di bawah telinganya yang masih tertutup jilbab. Semakin kutarik wajahnya mendekat; kecupanku semakin liar, yang aku yakini membangkitkan gairahnya.

"Mhh... ummm... aummmmm..." bergantian kami mengecupi bibir kami.

Kini tangan kiriku melingkari leher hingga ke pundak belakangnya, sementara tangan kananku menyusup melalui bawah jilbab putihnya yang lebar, mencari gundukan lembut tepat di dadanya. Tangan kananku menyentuh sebongkah gundukan lembut yang masih tertutup bra.

"Mhh... payudara yang sangat indah."

Tangan kananku mulai meremas lembut payudara itu. "Ehhmm... mmhmm... mmhhh..." Novi kaget dan mendesah sambil tetap berpagutan dengan bibirku. Sekitar dua menit meremas dada kirinya, tangan kananku mencoba mencari kancing kemejanya dan kubuka satu demi satu, menyisakan beberapa kancing bagian bawah yang tetap terpasang.

Tangan kananku lebih aktif lagi masuk ke dalam kemejanya. Benar saja, gundukan itu sangat lembut ketika kulit tanganku bersentuhan dengan kulit payudaranya yang halus. Tanganku menyusup di antara bra dan payudaranya, meremas lembut, dan sesekali memilin putingnya yang kecil dan kini sudah mengeras.

"Mhhh... ummmm... aahh... mhh... mmphh..." mulutnya terus meracau mencoba menikmati setiap remasanku; matanya masih saja terpejam seolah dia tidak mau melihat kejadian ini, atau sedang benar-benar meresapi rangsangan yang kubuat.

Kutarik pundaknya sehingga tubuhnya terbaring ke samping kiriku, dan aku pun menarik bibirku dari bibirnya dengan sedikit suara kecupan yang menggambarkan dua bibir yang sudah lengket dan sulit dilepaskan. "Mhuachh... aahh." Wajahnya memerah, matanya masih terpejam — cantik sekali.

Kini tangan kananku mengangkat jilbabnya ke atas, memberi ruang agar kepalaku bisa masuk ke dalamnya. Kucium bau harum dari keringatnya yang mulai mengalir. Dalam keremangan, kulihat leher jenjangnya yang putih dan halus. Tanpa membiarkan waktu berlalu, segera kukecup lehernya dengan lembut, dan kecupanku semakin ganas.

"Aahh... eengg... ehhhh... aahh... aaahhh..." mulutnya tak berhenti meracau.

Tangan kanannya meraih belakang kepalaku dan menekankannya agar semakin menempel di lehernya, sementara tangan kirinya mendekap punggungku. Untungnya jarak rumah ini dengan rumah sebelah cukup jauh sehingga desahan kami tidak terdengar keluar.

Aku tidak lupa meninggalkan cupang di lehernya, lalu ciumanku turun ke dadanya. Tangan kananku mencari kait bra di balik punggungnya — setelah kudapatkan langsung kulepaskan. Terpampanglah dua gunung kembar yang sangat mengagumkan. Benar saja: 36C. Aku mulai mencium payudara kanan Novi, masih di dalam jilbabnya, tanpa melepas semua kancing kemejanya sehingga tidak semua bagian tubuhnya terlihat. Justru itu membuat sensasi semakin terasa.

Tangan kananku sibuk meremas payudara kirinya yang kini sudah tidak berpenutup lagi. "Aaahhh... kaaakk... ahhh... mhhh... kak... aduhh... mhh..." Novi tidak kuat menahan rangsangan ini. Kepalanya menggeleng ke samping kanan dan kiri; tangan kanannya semakin kuat membenamkan wajahku ke arah dadanya.

Kini tangan kananku melepas remasan di dadanya, mulai turun ke bawah, menyentuh kakinya yang masih berkaos kaki. Kutarik roknya menyusuri betis yang tertutup kaos kaki panjang hampir selutut; setelah itu tanganku menemukan kulit halus yang putih. Kususuri paha kirinya dan roknya pun terangkat sebatas perut.

Kubelai-belai paha kirinya sementara ciumanku mendarat di payudara kirinya. "Ahhh... kaaakk... kaka... kk... ahh..." Napas Novi semakin tersengal-sengal. Aku tidak lupa meninggalkan cupang di payudara kirinya yang sangat lembut. Penisku semakin tegang.

Lalu kutarik wajahku dari dadanya dan duduk di samping tubuhnya yang terbaring. Bulir keringat mulai membasahi wajahnya yang putih; napasnya tersengal, matanya masih terpejam, bibirnya terbuka sedikit. Rok bagian kiri sudah terangkat sampai ke perut, menyisakan pemandangan paha putih jenjang nan indah, sementara betisnya masih tertutup kaos kaki yang cukup panjang.

Tangan kananku masuk ke bawah kedua lututnya, tangan kiriku masuk ke bawah lehernya. Kupagut bibirnya lagi dan dia pun memahami apa yang kumaksud — dikalung-kannya kedua tangannya ke belakang kepalaku.

"Jangan di sini ya, Sayang. Kita masuk saja ke dalam," ujarku sambil mengangkatnya; bibir kami tak henti berpagutan.

Kurebahkan tubuhnya ke kasur busa tanpa dipan khas kamar kos. Napasnya terus tersengal; kedua tangannya meremas kain sprei. Kini aku berada di antara kedua kakinya, kucoba tarik roknya sampai sebatas perut dan kukangkangkan kakinya. Ciumanku mendarat di bagian bawah perut.

"Eenngg... aahh..." Kutahu dia merasa geli dan terangsang hebat. Kedua tanganku mencoba menurunkan celana dalamnya — gerak tubuhnya sama sekali tidak menggambarkan penolakan; bahkan dia sedikit mengangkat pantatnya ketika tanganku mencoba melepasnya, sehingga mudah melewati bagian pantat. Tidak berapa lama, terlepaslah penutup itu.

Vagina muda berwarna merah muda yang sangat indah, ditumbuhi bulu halus yang rapi tercukur. Baunya pun sangat wangi. Tapi aku tidak ingin terburu-buru — aku ingin Novi membiasakan suasananya dulu.

Ciumanku jatuh ke pahanya, ke bagian sensitif paha belakang sambil mengangkat kakinya ke atas. Lalu pada saat yang tepat aku mulai turunkan ciumanku di antara selangkangannya. "Kaaakk... ahh..."

Aku menjilati bagian luar vaginanya dari bawah ke atas; vagina itu mulai lembab dan basah. Kurenggangkan lebih luas lagi kakinya dan kusibak labia mayora dan labia minora vaginanya. Kutemukan lubang kewanitaan yang masih sempit, dengan cairan bening meleleh dari dalamnya. Kujilati, dan lidahku dengan nakal mencoba masuk ke dalamnya, terus mencari dan mencari. Lalu kecupanku pindah ke atas, menemukan benjolan kecil tepat di bawah garis vagina atas — kugigit kecil, kuciumi, kusedot. Tidak ketinggalan, tangan kananku mencoba sedikit demi sedikit masuk ke dalam vaginanya.

"Aaahhh... uuhhh... mhh... phhh... ahhh... kakak... aduhh... aaahhh..." Kepalanya bergeleng tidak teratur ke kanan dan ke kiri; kedua tangannya semakin kuat menggenggam sprei. Ciumanku semakin kuat dan ganas; cairan kewanitaan semakin deras keluar.

Secara bergantian lidahku merangsang lubang vagina dan klitoris, sementara tangan kananku tidak tinggal diam. Jika lidahku sedang merangsang klitoris, maka jari tangan kananku merangsang lubang vagina; sebaliknya ketika lidahku bermain-main di dalam lubang vagina, ibu jariku menggesek dan menekan-nekan klitoris Novi.

"Aaahhh... aaaaa... uuuu... enhhhh... eeemmm... ahh... aaaa..." Tangan kanannya sekarang meremas-remas rambutku dan menekan kepalaku agar lebih dalam lagi mengeksplorasi vaginanya.

Sekitar 15 menit aku mengeksplorasi vaginanya. Dia menjambak rambutku kemudian mendorongku; kini posisi kami sama-sama duduk, napasnya tersengal-sengal, tapi sekarang dia berani membuka matanya dan menatapku. Keringat mengucur dari tubuh kami.

Tiba-tiba bibirnya langsung menyerbu bibirku. Ciuman kali ini amat liar; kadang gigi kami beradu, lidah kami saling bertukar. Aku sangat kaget ketika tangannya menarik kaosku ke atas melewati mulut kami yang tengah beradu, kemudian ciumannya turun ke leherku dan ke dadaku. Tangannya tidak berhenti sampai di situ — dia mulai membuka ikat pinggang celanaku; saat bibirnya masih menciumi dadaku, tangannya menurunkan celanaku dan kemudian celana dalamku.

Penisku yang diameternya 6 cm dan panjangnya hampir 20 cm mengacung tegak. Tangan kanannya menggenggam penisku; aku pun berdiri, dan kini wajah ayunya berada di depan penisku hanya beberapa sentimeter saja. Kulihat dia menelan ludah — mungkin kaget dengan ukurannya, atau masih ragu untuk melakukan ini.

Kupegang kepalanya yang masih menggunakan jilbab putih yang mulai kusut. Kudekatkan penisku dengan bibirnya; bibirnya masih terkatup ketika ujung penisku menempel padanya, mungkin dia masih bingung.

"Kulum, Sayang. Ciumi. Ayo..."

Lalu dia membuka bibirnya sedikit dan mencium ujung penisku — kaku, tapi menimbulkan sensasi yang dahsyat. Selain karena bibirnya yang lembut, hangat, dan basah menyentuh ujung penisku, melihat seorang wanita yang masih berpakaian lengkap dengan jilbabnya melakukan ini adalah hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

"Cuup... mpuhmm... uhhmm..." Bibirnya berkali-kali mengulum ujung penisku; sedikit demi sedikit kulumannya semakin masuk. Kutahu dia masih kaku dan belum berpengalaman, tapi bagiku sensasinya luar biasa.

Akhirnya mulutnya berani memasukkan penisku — walau tidak sampai semua karena penisku terlalu panjang dan itu akan menyakitinya.

"Shh... ahh... terus, Vi. Keluar masukin..."

Novi pun mengikuti; dia memaju-mundurkan kepalanya. "Aahh... Sayang... terus..." "Mhh... uhmmhh... cuupp... muuh..." Novi terus melakukan aktivitasnya.

Hanya 5 menit kemudian dia berhenti. "Kak... Novi nggak tahan..."

Dia menarik tubuhku; kini kami sama-sama duduk berhadapan. Aku tahu dia berada di puncak gairah dan tidak dapat lagi menahan libidonya. Aku pun merebahkannya dan menindihnya, meregangkan kedua kakinya.

Novi tampak pasrah. Dia memandangiku dan memperhatikan penisku yang tepat di hadapan vaginanya. Aku ingat sesuatu — segera kuraih celanaku yang tercecer di samping dan mengambil sesuatu dari dompet. Ya, aku selalu menyimpan kondom. Setelah membukanya dan akan kupasangkan, Novi menampik tanganku.

"Nggak usah pakai itu, Kak. Aku ingin jadi milik Kakak seutuhnya."

Aku tersentak dengan ucapannya. "Kamu yakin, Nov?"

Novi mengangguk.

Kini kuarahkan ujung penisku mendekati lubang kewanitaannya. "Tahan ya, Vi, agak sakit..." Tangan kananku menggenggam batang penis dan kugesekkan pada klitoris dan bibir kemaluan Novi hingga dia merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Aku terus berusaha menekan ke dalam kemaluan Novi yang memang sudah sangat basah itu.

Perlahan-lahan kepala penisku menerobos masuk membelah bibir kemaluan Novi. "Tahan, Kak... sakiit..." dia merintih sambil menggigit bibir bawahnya. Aku pun menghentikan kegiatanku sementara, sambil menunggu. Kumaju-mundurkan kepala penisku di bibir kemaluannya supaya tubuhnya mulai menyesuaikan. Matanya masih terpejam dan terus menggigit bibir bawahnya; napasnya tersengal.

Sedikit demi sedikit kumasukkan kembali, pelan tapi pasti. Setiap penisku masuk, Novi melengguh menahan sakit. Vaginanya masih sempit, tapi tanpa halangan penisku mulai masuk ke dalam. Kemudian dengan tiba-tiba kutekan pantatku kuat-kuat ke depan sehingga pinggulku menempel ketat pada pinggul Novi.

Dari mulut Novi terdengar jeritan halus tertahan. "Aduhh... ooooohh... aahh... sakiit... Kaak..." Badannya tertekuk ke atas dan kedua tangannya mencengkeram pinggangku dengan kuat.

Beberapa saat kemudian aku mulai menggerakkan pinggulku — mula-mula perlahan, kemudian semakin cepat, bergerak dengan kecepatan tinggi di antara kedua paha halus gadis ayu itu. Novi berusaha memegang lenganku, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak hebat akibat dorongan dan tarikan penisku. Giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng ke kiri kanan.

Novi berusaha memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membuka sebentar dan melihat wajahku dengan takjub. "Kak... aahh... oohh... ssshh..." sementara aku terus menyetubuhinya dengan ganas.

Novi sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali aku menggerakkan tubuhku — setiap gesekan di dinding liang vaginanya. Setiap kali kutarik penisku keluar dan kemudian ktekan masuk kembali, klitoris Novi terjepit pada batang penisku dan tergesek-gesek. Hal ini menimbulkan perasaan geli yang dahsyat, mengakibatkan seluruh badan Novi menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Sementara itu tanganku yang lain tidak dibiarkan menganggur — kumerengkuh punggungnya yang melengkung menahan nikmat, kemudian kusibak jilbabnya dan terlihatlah dua payudara indahnya yang masih sembunyi di balik kemeja yang sudah terbuka kancing bagian atasnya, dengan bra yang sudah tersingkap ke atas menambah sensualitas pemandangan saat itu. Kutarik punggungnya sehingga semakin melengkung ke atas; aku pun terus bermain-main pada bagian dada Novi, mencium dan kadang menggigit kedua payudaranya secara bergantian.

Dia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong, dan kakinya mati rasa. Tapi dia mencoba membuatku segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya dan menjepitkan pahanya — namun aku terus menyetubuhinya dan belum mencapai klimaks.

Dia memiringkan kepalanya dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil. "Ooooh... oooooooh... aahmm... ssstthh!" Semakin erat dia mendekap kepalaku agar semakin rekat dengan payudaranya — aku tahu pelukan itu adalah penyaluran dari rasa nikmat dan klimaks yang sebentar lagi dia rasakan. Kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik turun berkali-kali. Keseluruhan badannya berkelonjotan, dia menjerit serak, dan akhirnya larut dalam orgasme total yang dahsyat melandanya — diikuti suatu kekosongan melanda dirinya, seluruh tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan.

Novi terkulai lemas tak berdaya di atas kasur dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar, sementara penisku tetap terjepit di dalam liang vaginanya. Itulah pertama kali dia merasakan indahnya orgasme.

Selama proses orgasme Novi berlangsung, aku pun merasakan kenikmatan yang hebat — penisku yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang vaginanya merasakan sensasi luar biasa, seolah terbungkus oleh sesuatu yang lembut dan licin yang mengurut-urut seluruh batangnya, terlebih pada bagian kepala setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Novi, yang diakhiri dengan siraman cairan panas.

Tidak sampai di situ. Beberapa menit kemudian aku membalik tubuh Novi yang telah lemas hingga sekarang dia setengah berdiri tertelungkup dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arahku — doggy style.

Tanganku kini lebih leluasa meremas-remas kedua payudara Novi yang kini menggantung ke bawah, menyusup lewat kemeja bagian bawah. Dengan kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan aku menggosok-gosok kepala penisku yang telah licin oleh cairan dari dalam vagina Novi, menempatkan kepala penisku pada bibir kemaluannya dari belakang.

Dengan sedikit dorongan, kepala penisku membelah dan terjepit kuat oleh bibir-bibir kemaluan Novi. "Aaahhgg..." ketika penisku mulai menyeruak ke dalam vaginanya lagi. Kedua tanganku memegang pinggul Novi dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badannya tidak lagi bertumpu pada kasur — hanya kedua tangannya yang masih bertumpu di sana. Kedua kaki Novi dikaitkan pada pahaku.

Kutarik pinggul Novi ke arahku berbarengan dengan mendorong ke depan, sehingga disertai keluhan panjang, "Oooooooh... aahh... shhh... ahh...!" penisku terus menerobos masuk ke dalam liang vaginanya dan aku terus menekan sehingga perutku menempel ketat pada pantat Novi yang setengah terangkat.

Kumainkan pinggulku maju mundur dengan cepat sambil mulutku mendesis-desis keenakan merasakan penisku terjepit dan tergesek di dalam lubang vagina Novi yang ketat itu. "Ahh... ahhh... aahh... Kak... aduhh... mhh... terus..." mulutnya terus mengaduh, tanda nikmat tiada tara yang dia rasakan.

Tubuhnya maju mundur terdorong desakan penisku. Karena posisi pantat lebih tinggi dari kepala, kemejanya turun ke bawah memperlihatkan punggung mulus dan putih yang sebelumnya tidak pernah dilihat siapapun. Tangannya meremas sprei sambil merebahkan kepalanya di kasur.

"Shhh... ahh... Kak... aahh... aduhh... Kak..." Semakin kencang teriakannya semakin menunjukkan bahwa dia akan merasakan klimaks untuk kedua kalinya. Aku pun mempercepat doronganku.

"Terus, Kak... ahh... jangan berhenti... ahh... Kak..." Novi meracau semakin tidak karuan.

Dan... dia mendongakkan kepalanya ke atas disertai lengguhan panjang, "Aaaaaaa......hhhh..." Dia klimaks untuk kedua kalinya. Kucabut penisku dari lubang vaginanya; cairan bening semakin banyak meleleh dari vaginanya. Tubuhnya melemas dan lunglai. Napasnya tersengal; pakaian dan jilbabnya kusut tak karuan. Keringat membuat pakaiannya yang tidak dilepas sama sekali menjadi basah.

Setelah kubiarkan dia beristirahat beberapa menit sambil meresapi orgasme keduanya, aku merubah posisi dengan duduk di sisi tempat tidur dan menarik Novi duduk menghadap sambil mengangkang di pangkuanku. Kutempatkan penisku pada bibir kemaluan Novi yang tampak pasrah dengan perlakuanku, lalu kudorong sehingga kepala penisku masuk terjepit dalam liang kewanitaannya. Tangan kiriku memeluk pinggul Novi dan menariknya merapat pada badanku sehingga perlahan-lahan tapi pasti penisku menerobos masuk. Tangan kananku memeluk punggung Novi dan menekannya rapat-rapat hingga badan Novi melekat pada badanku.

Kepala Novi tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya, sehingga mulutku bisa dengan bebas melumat bibirnya yang agak basah dan terbuka itu.

Dengan sisa tenaganya Novi mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga penisku seakan mengaduk-aduk di dalam vaginanya. Karena stamina yang sudah terkuras oleh dua klimaks sebelumnya, goyangan Novi semakin melemah. Kupindahkan kedua tanganku ke arah pinggangnya dan mulai membantu mengangkat dan mendorong pinggul Novi agar terus bergoyang.

Kulihat penisku timbul tenggelam dibekap lubang vaginanya yang hangat. Rintihan tak pernah berhenti keluar dari mulutnya. Setelah sekian lama dengan posisi itu, Novi mulai bangkit lagi libidonya; dengan tenaga sisa dia mulai membantu dengan menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Kedua tangannya kini merangkul kepalaku dan membenamkannya ke kedua gunung kembarnya yang besar dan halus.

Kutahu dia akan mengalami klimaksnya yang ketiga. Kukulum dan kulumat payudaranya; kepala Novi menengadah merasakan nikmat yang tiada tara atas rangsangan pada dua titik tersensitifnya. Tak berselang kemudian Novi merasakan sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya — terus, terus, dia tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih.

Dan ketika klimaks itu datang lagi, Novi tak peduli lagi. "Aaduuuh... eeehm... ahh... Kak... aaahhh..." Dia memekik lirih sambil menjambak rambutku dan memelukku dengan kencang. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuanku.

Kemudian kugendong dan kuletakkan Novi di atas kasur dengan pantatnya di tepi kasur, kedua kakinya terjulur ke lantai. Aku mengambil posisi di antara kedua pahanya yang kutarik mengangkang dan dengan tangan kananku menuntun penisku ke dalam lubang vagina Novi yang telah siap di depannya. Kudorong penisku masuk dan kutekan badannya. Desah napasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya.

Badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan penisku. Novi benar-benar telah KO dan dibuat benar-benar tidak berdaya; hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram sprei.

Dan aku sekarang merasakan sesuatu yang mendesak dari dalam penisku, menimbulkan perasaan geli pada ujungnya. Aku mengeram panjang dengan suara tertahan. "Agh... terus..." Pinggulku menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu sehingga batang penisku terbenam seluruhnya di dalam liang vagina Novi. Dengan suatu lengguhan panjang, "Sssh... ooooh!" sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantat, aku merasakan denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air mani ke dalam vagina Novi. Ada kurang lebih lima detik aku tertelungkup di atas badan gadis ayu itu dengan seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat. Dan pada saat yang bersamaan Novi yang telah terkapar lemas merasakan siraman cairan kental hangat yang menyiram ke seluruh rongga vaginanya.

Aku melihatnya lemas dengan jilbab dan pakaian yang sudah tidak keruan bentuknya lagi. Dia menunduk sedih sambil menangis. Aku faham — gadis seperti dia tidak mungkin mudah untuk melakukan hal ini. Tapi kali ini aku benar-benar membuatnya tak berdaya dan mengikuti nafsu duniawi.

"Kak..." dia membuka percakapan di tengah hening kami menikmati pertempuran yang baru saja selesai.

"Ya, Sayang?" aku memeluknya.

"Kakak mau tanggung jawab kan? Kakak mau menikahi Novi kan?" suaranya parau.

Aku tersentak. Tidak kusangka dia langsung mengatakan itu. Tapi aku benar-benar tidak tega melihat kondisinya — dia sudah menyerahkan semuanya kepadaku. Aku pun ingin memilikinya dan mengakhiri semua kebiasaan burukku. Aku berjanji meninggalkan pacarku jika dia mau menikah denganku, dan kenyataannya sekarang itu sudah di depan mata.

"I... iya, Nov. Kakak akan tanggung jawab. Kakak akan menikahi kamu," sahutku.

Dalam wajah sedihnya kulihat bibirnya menyunggingkan sedikit senyum.

Dan kami pun tertidur saling memeluk, seakan berharap agar pagi tidak segera hadir.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya