18px

Satinah: Bintang Malam Penuh Dendam

Satinah: Bintang Malam Penuh Dendam

Laki-laki gendut dengan tahi lalat di pipinya itu dipersilakan duduk di meja terbaik, tepat di depan panggung, di tengah klub malam yang temaram namun hingar-bingar dengan musik. Lima orang sexy dancer baru saja menyelesaikan tarian erotis yang menggoda para pengunjung klub yang berkerumun di sekeliling panggung—tampang mupeng sambil bersuit-suit dan berusaha menjamah mereka. Seorang pembawa acara yang kebanci-bancian mengumumkan pertunjukan berikutnya.

"Yang berikutnya pendatang baru di sini," begitu kata pembawa acara.

Semua lampu mendadak dimatikan dan musik berhenti, lalu berganti irama hip hop dengan lirik menjurus cabul. Seberkas sinar terang menerangi panggung, menunjukkan sesosok tubuh perempuan di tengah-tengahnya. Perempuan itu duduk di bangku dan menunduk sehingga wajahnya tak jelas terlihat. Pakaiannya adalah kostum mirip seragam polisi wanita—tapi jelas bukan seragam polwan betulan, karena mustahil ada polwan yang berani bertugas dengan pakaian seseksi itu. Dia mengenakan blus ketat berwarna biru berlengan pendek yang tidak sampai menutup perut, lengkap dengan lencana dan tanda pangkat bohong-bohongan. Dia juga mengenakan rok lipit supermini hitam yang hanya menutup bagian atas paha, dengan ikat pinggang lebar dan borgol yang menggantung di sana, serta sepasang sepatu boot hitam berhak tinggi yang jelas bukan yang biasa dipakai polwan betulan. Di kepalanya dia mengenakan topi polisi. Lampu sorot perlahan memudar, digantikan lampu warna-warni yang menerangi panggung. Penonton bersorak menyambut dia.

Satinah—bintang baru di klub malam itu. Satinah tidak lain adalah mantan polwan yang berhenti dari pekerjaannya semula setelah diperkosa, lalu dipermalukan oleh pemberitaan yang meramaikan media. Setelah dia menghilang, entah apa yang terjadi kepadanya, sampai akhirnya dia tampil di panggung itu.

Satinah mulai bergoyang. Di tangannya dia memegang pentungan polisi—mirip dengan yang dulu dipakai si jaket hitam untuk memerawaninya. Dia mulai melangkah anggun berkeliling panggung. Ketika kembali ke tengah, dia memutar-mutar pentungan di tangannya. Dia mengibaskan rambutnya yang kini panjang dan indah—tak lagi pendek seperti ketika menjadi polisi betulan. Satinah membalik badan dan memain-mainkan pentungannya di belakang pantatnya, lalu pelan-pelan menungging sambil menggesek-gesekkan pentungan itu sepanjang garis selangkangannya. Kemudian dia berdiri tegak lagi, berbalik menghadap penonton, dan menjilat-jilat ujung pentungan. Dia lalu menaruh pentungan itu di panggung dan melepas topinya. Ketika dia melempar topinya ke penonton, terlihatlah wajahnya yang bermakeup tebal—eye shadow biru dan lipstik merah menyala. Satinah tersenyum ke penonton lalu menjilat bibirnya yang sensual.

Dia terus menari erotis sambil bergerak ke dekat bangku. Kemudian, sambil membelakangi penonton, dia menumpukan kedua tangan ke bangku dan membungkuk ke depan sampai pantatnya menonjol menantang. Setiap mata di depan panggung memandang ketika bokong Satinah bergoyang dari kanan ke kiri. Lalu suara pun membahana:

"Buka! Buka! Buka!" Penonton berseru-seru riuh.

Satinah tersenyum polos, menunjukkan wajah pura-pura kaget dengan membelalak sambil menutup mulut dengan tangan. Lalu satu tangannya berkacak pinggang sementara tangan satunya memberi isyarat—mengacungkan telunjuk lalu menggoyang-goyangkannya. Kemudian dia pelan-pelan membuka satu demi satu kancing blusnya dengan hati-hati, sehingga blus pendek itu tidak langsung tersingkap. Akhirnya, setelah semua kancing terbuka, dia tiba-tiba membuka blusnya dengan sentakan dan langsung melemparnya ke penonton.

Blus itu mendarat begitu saja tanpa ada yang menyambut, karena penonton melihat apa yang Satinah kenakan di bawahnya: serangkaian sabuk kulit mirip tali-tali bra, hanya saja tidak ada bagian cup yang menutup payudara 36C-nya. Kedua bulatan mempesona itu menonjol dikelilingi bebatan sabuk kulit hitam. Putingnya ditutup dua penutup yang ujungnya digantungi rumbai-rumbai yang ikut bergoyang seiring goyangan dada Satinah, sementara dia terus menari di tengah siulan dan teriakan nakal penonton. Satinah terus menggoda penonton dengan mencengkeram dan memain-mainkan kedua buah dadanya. Lalu dia menundukkan kepala, menaikkan salah satu buah dadanya, kemudian menjilatinya. Penonton menyaksikan sambil menganga, air liur mereka sampai menetes.

Kemudian—entah siapa yang mulai—terdengar lagi seruan: "Buka! Buka! Buka!" Penonton ingin lebih. Dengan senang hati Satinah menuruti permintaan itu. Dia melepas payudaranya, membuka ikat pinggangnya, lalu membuka roknya. Rok itu jatuh, memperlihatkan celana dalam g-string yang hanya menutupi memeknya. Ketika dia berbalik badan, tampaklah bahwa di bagian belakang hanya sebaris tipis kain yang menyelip di antara kedua belahan pantatnya yang montok. Penonton bertepuk tangan dan bersuit-suit kegirangan.

Melihat reaksi penonton, Satinah kembali ke bangku dan memungut pentungan polisi yang tadi ditaruhnya. Kembali dia gunakan pentungan itu untuk mengelus-elus memeknya, sementara wajahnya menunjukkan ekspresi dilanda birahi. Di depan penonton, Satinah seolah-olah bermasturbasi menggunakan pentungan itu. Musik sengaja dikecilkan volumenya agar terdengar suara-suara penuh nafsu dari bibir si mantan polwan. Tepuk tangan dan riuh suara penonton mencapai puncak ketika di panggung kedua tangannya menggenggam pentungan yang sudah mendesak ke celana dalamnya—wajahnya terkulai ke belakang, matanya terpejam, mulutnya terbuka lebar, dan melolong penuh nafsu.

Pertunjukan Satinah pun usai dengan matinya lampu dan kata-kata pembawa acara: "Sekali lagi tepuk tangan untuk bintang baru kita, Miss Satinah!"

Laki-laki gendut bertahi lalat di pipi itu menyaksikan seluruh pertunjukan dengan antusias, sampai-sampai dia tak memperhatikan bahwa seorang laki-laki lain—berkacamata hitam, bertato, berjaket hitam—duduk di kursi di sebelahnya. Si jaket hitam mencolek bahu laki-laki gendut itu dan mengajaknya bersalaman.

"Selamat ya, Bung. Debut anak buah anda sukses," kata si jaket hitam.

"Hehehe, dia kan jadi anak buah kamu sekarang," balas si gendut.

"Sesuai perjanjian, anda boleh gratis pakai dia kapan saja," kata si jaket hitam lagi.

"Habis ini ya, tolong siapin tempatnya. Aku udah pengen nyoba dia dari dulu."

"Sip, Bos. Silakan tunggu di kamar belakang. Nanti dia kusuruh datang ke sana."

Sayang sekali, si gendut tidak menyadari bahwa dia telah dijerumuskan oleh atasannya sendiri. Ajun Komisaris Dadang selama ini menjadi beking si jaket hitam—pemimpin sindikat penjual manusia yang hendak ditangkap Satinah. Ketika Satinah meminta izin menggerebek sindikat si jaket hitam, Dadang sengaja mengulur waktu agar bisa memberitahu teman-temannya dan menyiapkan jebakan untuk Satinah. Tertangkap dan diperkosanya Satinah adalah akibat rencana Dadang dan si jaket hitam. Tidak hanya itu—datangnya para wartawan ke TKP sebelum polisi, dan ramainya pemberitaan sesudahnya, juga digerakkan oleh pasangan polisi korup dan penjahat itu.

Dadang terus memantau Satinah setelah dia mengundurkan diri, dan menawarkan Satinah ikut suatu program rehabilitasi. Namun sebetulnya program itu adalah jebakan terakhir, dan Satinah kembali jatuh ke tangan si jaket hitam. Selanjutnya sang polwan cantik itu digojlok dan dihancurkan semangatnya sedemikian rupa—dengan pemerkosaan dan penyiksaan—hingga akhirnya Satinah berhasil dijinakkan untuk menjadi seorang perempuan pemuas nafsu yang biasa diperdagangkan si jaket hitam. Malam itu adalah malam pertama Satinah memulai kehidupan barunya.

Satinah sudah berganti pakaian dan menunggu orang pertama yang akan dilayaninya di dalam suatu kamar di belakang klub. Kini dia mengenakan set lingerie putih berenda yang seksi. Dia duduk di atas tempat tidur sambil tangannya meraba-raba daerah intimnya sendiri. Rambut hitamnya yang panjang menjuntai menutupi sebagian wajahnya yang bermakeup tebal. Pintu kamar terbuka dan tertutup kembali ketika si beking Dadang memasuki ruangan dan berjalan mendekati Satinah. Dia memandangi wajah mantan atasannya itu penuh harap sambil berdiri untuk menyambutnya.

"Kita ketemu lagi, Satinah," kata Dadang sambil tersenyum sinis.

Perwira bertubuh gemuk itu tidak banyak bicara. Dia langsung membalikkan tubuh Satinah dan mendorong mantan polwan itu sampai terbungkuk di atas tempat tidur, lalu langsung memelorotkan celana dalam Satinah. Sambil menoleh, terlihat Dadang membuka celana. Tangan-tangan Dadang mencengkeram pantat bulat Satinah—terlihatlah tato hati yang dibuat si jaket hitam di atas pantat kiri Satinah. Beberapa detik kemudian Dadang langsung menyerudukkan kontolnya yang sudah tegang ke lubang yang sudah diimpi-impikannya sejak pertama kali Satinah masuk menjadi anak buahnya.

Satinah menanggapi dengan mengangkat kaki kirinya dan melibatkannya ke belakang, memeluk tubuh gendut Dadang. Kemaluannya sudah basah dan menjepit senjata Dadang, seolah-olah ingin segera mengeluarkan apa yang dikandungnya. Erangan dan desahan keluar dari mulut Satinah.

"Enak kan, Satinah? Ayo, bilang," perintah Dadang.

"Enak," kata Satinah di tengah rintihan. "Enak," katanya lagi.

"Hahaha!" Dadang tertawa. "Memang kamu cocoknya buat dientot, Satinah. Badan bohai, tampang cakep—ngapain kamu jadi polisi? Mendingan kamu jadi lonte. Gimana, Satinah? Suka sama pekerjaan kamu sekarang, kan?"

"Suka."

Omongan Satinah sudah tersesuaikan dengan kehancuran mental yang telah dialaminya. Dia tak lagi seorang polwan dengan semangat berapi-api untuk memberantas kejahatan. Kini dia telah menjadi seonggok daging untuk memuaskan nafsu lelaki, tanpa keinginan selain menuruti birahi. Kakinya menarik tubuh Dadang lebih dekat, pantatnya bergerak-gerak membalas gerakan Dadang. Pinggul Dadang pun terus menghantamnya berulang kali, sementara tangan si perwira polisi mencengkeram buah dada besar Satinah. Persetubuhan terus berlanjut seiring terjerumusnya Satinah ke dunia hitam—di benaknya kini hanya ada nafsu, tanpa ada niat untuk berhenti.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya