18px

Sebuah Tantangan (Bagian 1)

Sebuah Tantangan (Bagian 1)

Peristiwa ini terjadi ketika aku bersama dua temanku, Yeni dan Ana, menemani tiga orang tamu. Yeni-lah yang mengajak aku dan Ana untuk menemaninya melayani ketiga tamunya, masing-masing berpasangan.

Setelah ngobrol sejenak di kamar hotel, kami berenam dengan dua taksi menuju Club Deluxe di bilangan Tunjungan. Mereka ingin santai dulu sambil berkaraoke di sana.

Sebagian waitress dan mami di tempat itu sudah mengenali Yeni, apalagi aku yang sering sekali menemani tamu-tamu bersantai di situ, hingga para mami tidak perlu repot mencarikan purel untuk rombongan kami karena pasangannya sudah cukup.

Setelah memesan minuman yang kebanyakan beralkohol, kami pun bernyanyi dengan modal nekat meski suara pas-pasan. Yang penting enjoy dan tamu-tamu kami bisa rileks.

Satu jam berlalu. Snack dan minuman sudah berulang kali diganti dengan yang baru; entah berapa gelas alkohol yang telah mengisi rongga mulutku, aku tak bisa menghitungnya dan kepalaku sudah mulai agak pusing. Untunglah Tomi, pasanganku, mencegah ketika aku memesan Singapore Sling. Rupanya dia melihatku mulai agak mabuk, sebagai gantinya dipesankannya teh hangat untukku.

Slow dance, house music, ataupun joget dangdut bergantian kami lakukan, tidak hanya dengan Tomi tapi tak jarang berganti ke Yudi ataupun Indra, teman-temannya yang lain. Tak bisa dihindari, tangan mereka pun dengan nakalnya ikut menjamah pantat dan terkadang buah dadaku. Aku tak protes karena Tomi, pasanganku, melakukan hal yang sama pada Yeni atau Ana.

Ketika lagu mandarinnya Andy Lau sedang dikumandangkan Indra dengan suara falsnya, Yeni memanggil aku dan Ana ke toilet di kamar itu, meninggalkan ketiga laki-laki itu menyanyi sendiri.

"Rek, kita taruhan yuk," sambut Yeni begitu kami bertiga berada di toilet.

Aku yang sudah terbiasa berjudi langsung tertarik.

"Taruhannya gimana dan hadiahnya apa?" tanyaku penuh minat.

"Kita lakukan dengan cara yang berbeda dari biasanya," sambung Yeni. Kulihat matanya berbinar melihat aku dan Ana menyambut dengan antusias.

"Begini, kita lakukan oral pada pasangan kita masing-masing. Siapa yang bisa membuat orgasme pertama, dialah yang menang, dan yang terakhir harus membayar. Nomor dua nggak dapat apa-apa."

"Setuju, berapa taruhannya?" potong Ana langsung dengan penuh percaya diri.

"Sabar dulu, non. Nah, di sini asiknya permainan ini: yang terakhir membuat orgasme harus membayar uang bookingan pada tamu berikutnya, dan yang mencarikan tamu itu adalah pemenang pertama," jelas Yeni.

"Jadi yang kalah harus menyerahkan hasil bookingan untuk tamu yang dicarikan pemenang?" tanya Ana seolah memperjelas.

"Yap, dan tidak boleh menolak tamu macam apa pun โ€” kaya, muda, tua โ€” pokoknya terima dan layani saja tamu yang dikirim pemenang. Setuju?" jelas Yeni lagi.

"Deal," tantang Ana.

Aku diam saja.

"Gimana, Ly? Berani nggak?" tanya Ana sambil menatapku.

Sebelum aku menjawab, pintu toilet dibuka. Indra masuk.

"Eh, kalau arisan jangan di toilet dong, kami jadi batu nih sendirian," celetuknya. Tanpa mempedulikan kami, dia langsung membuka celananya dan kencing di kloset. Kami terdiam.

"Jangan lama-lama ya, ntar kami jadi patung lho," katanya sambil mencium bibir Yeni, lalu keluar.

"Aku sih setuju saja, tapi boleh usul kan? Supaya permainan lebih menarik dan menantang, gimana kalau taruhan dinaikkan? Yang kalah menyerahkan hasil bookingan sekarang ke pemenang pertama, dan juga menyerahkan uangnya pada bookingan berikutnya dari tamu yang dicarikan pemenang pertama dan kedua. Jadi looser loss all," usulku penuh percaya diri. Aku yakin bisa mengalahkan mereka; sudah sering kulihat permainan oral Yeni, sedangkan Ana meski belum kuketahui kelihaiannya, rasanya tak mungkin aku kalah darinya.

Yeni diam memandang Ana.

"Jangan terlalu besar gitu ah, kasihan yang kalah nanti. Gimana kalau setengah saja untuk bookingan sekarang, anggap saja uang panjar," kata Ana.

Setelah beberapa kali berdiskusi, akhirnya kami sepakat dengan sejumlah perubahan aturan main: pemenang yang menelan sperma mendapat hadiah penuh, bila tidak hanya separuh yang didapat; apabila mau melayani tamu pilihan pemenang kedua sekaligus โ€” alias 2 in 1 โ€” cukup menyerahkan setengah perolehan; hasil bookingan kali ini diberikan setengah ke pemenang pertama; pemenang pertama dan kedua diberi kesempatan mencarikan tamu tidak lebih dari tiga hari atau hadiah hangus.

Mungkin kami sudah sama-sama mabuk hingga membuat taruhan yang tidak umum ini. Bertiga kami kembali ke ruangan karaoke menemui pasangan masing-masing. Kupanggil waitress yang siaga di depan pintu kamar.

"Jangan sekali-kali masuk sebelum kami panggil, dan tolong redupkan lampu itu," bisikku sambil menyelipkan selembar lima puluh ribuan ke kantong bajunya.

Kami meminta ketiga laki-laki itu duduk berjejer di sofa panjang. Tanpa bicara, kami langsung jongkok di depan pasangan kami masing-masing. Mereka terlihat bingung, tapi tentu saja senang dan gembira melihat kami mulai membuka celana mereka dan mengeluarkan penis mereka.

Seperti dikomando, bersamaan kami memasukkan penis itu ke dalam mulut. Perlombaan telah dimulai. Aku yang hanya mengeluarkan penis Tomi dari lubang resleting merasa kurang bebas, maka kubuka celananya dan kulorotkan hingga ke lutut.

Kujilati seluruh penis Tomi dari ujung hingga lubang anus. Kedua kakinya kunaikkan ke atas hingga aku bebas menyapukan lidahku ke daerah sekitar selangkangannya. Kudengar dengan jelas desah kenikmatan dari Tomi, diiringi desahan Indra dan Yudi.

Kukerahkan semua kemampuanku untuk memenangkan permainan ini. Sesekali kulirik Yeni yang menuntun tangan Indra ke balik kaosnya; diremas-remasnya buah dada Yeni. Sedangkan Ana, yang berada di ujung, tak bisa kulihat triknya karena terhalang tubuh Yeni. Kepala kami bergantian turun-naik di selangkangan para laki-laki itu, berlomba menggapai tepian nafsu yang tak bertepi.

Beberapa menit berlalu. Aku semakin penasaran karena Tomi ternyata "bandel" juga. Antara mabuk dan nafsu membuatku semakin nekat. Dengan maksud membuat Tomi cepat terangsang dan orgasme, kubuka kaosku hingga menampakkan kedua bra hijau satin transparan yang tak mampu menyembunyikan tonjolan buah dadaku, dengan puting yang tampak menerawang meski lampu agak redup.

Tangan Tomi segera meraih dan meremas-remas kedua buah dadaku. Tapi tampaknya dia ingin lebih; dikeluarkannya buah dadaku dari sarangnya hingga menggantung bebas.

Ternyata aku membuat kesalahan fatal ketika melepas kaosku tadi. Indra yang duduk di sebelah Tomi justru lebih sering melototiku. Pada mulanya aku senang saja mendapat perhatian darinya meski dia sedang mendapat kuluman Yeni โ€” malahan perhatiannya lebih tercurah kepadaku saat Tomi mengeluarkan buah dadaku, padahal Yeni sudah mengikutiku melepas kaosnya.

Tiba-tiba kudengar teriakan orgasme dari Indra. Teriakan seperti itu biasanya terdengar begitu menggairahkan, tapi kali ini terdengar sangat menyeramkan bagai petir di siang hari bolong. Aku sangat kaget; hampir tak kupercaya bahwa dia yang menurutku permainannya biasa-biasa saja bisa menang.

Aku dan Ana menghentikan kuluman sejenak untuk melihat apakah Yeni menelannya atau tidak, dan kembali aku terkaget saat Yeni menelan dan menjilati sperma yang ada di mulut dan tangannya seperti menjilat es krim โ€” tak biasanya dia melakukan itu. Dengan telak dia mengalahkanku pada situasi yang seharusnya aku menangkan.

"Oke, nona-nona manis, aku sudah selesai," katanya seraya berdiri menuntun pasangannya ke toilet. Sepertinya mereka melanjutkan permainan, namun dia sempat meredupkan lampu kamar. Biar permainan lebih seru, katanya.

Kini tinggal aku dan Ana yang masih berjongkok dalam terangnya lampu kamar karaoke. Kami pun kembali berlomba memacu nafsu menuju garis tepi. Sudah kepalang tanggung, aku tak mau menjadi pecundang. Kulepas bra yang menutupi dadaku supaya Tomi lebih bergairah; kurasakan penisnya semakin menegang dalam mulutku, dan aku pun semakin liar mengulumnya. Bahkan bertambah nekat, celanaku pun akhirnya melayang dari tubuhku, menyisakan celana dalam mini string yang masih menempel.

Sempat kulihat mata Yudi melotot melihat tubuhku yang hampir telanjang. Desahan Tomi semakin keras seakan mengimbangi alunan musik dari karaoke box yang masih terus bernyanyi tanpa ada yang memperhatikan.

"Wow, semakin panas nih permainan," komentar Yeni ketika keluar dari toilet. Aku tak memperhatikan lagi karena sedang memacu nafsu Tomi menuju puncak.

"Aku akan jadi jurinya," lanjut Yeni sambil duduk di pangkuan Indra di sofa seberang.

Sambil menyusurkan lidahku di selangkangan Tomi, kulirik Ana yang tengah asyik mengulum penis Yudi. Pandanganku bertatapan dengan Yudi yang tengah mengamati tubuh โ€” terutama buah dadaku โ€” yang tengah dalam remasan pasanganku. Kembali kepala kami mengangguk-angguk di selangkangan pasangan masing-masing, memacu nafsu menuju tepian birahi.

Namun untuk kedua kalinya aku dikagetkan teriakan orgasme yang menggelegar bagaikan suara guntur di siang hari, merontokkan segala kebanggaan yang selama ini kumiliki. Teriakan itu terasa sangat menyeramkan; baru kali ini aku begitu membenci teriakan orgasme dari laki-laki, terutama dari Yudi. Lemaslah lututku seketika.

Kini kulihat Ana tengah menjilati sperma yang ada di bibir dan sekitar wajahnya sambil tersenyum penuh kemenangan memandangku. Pandangan itu terlihat begitu penuh cemooh. Aku benar-benar merasa bagaikan seorang pecundang di hadapan Ana dan Yeni.

Bersambung...

โ† Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya โ†’