18px

Sebuah Tantangan (Bagian 5)

Sebuah Tantangan (Bagian 5)

Untuk kesekian kalinya desah dan jeritan nikmat menggema memenuhi kamar. Kami berpacu menuju puncak birahi yang tak terlihat entah di mana; meja tempatku telentang bergoyang dengan hebatnya, sehebat gempuran penis JJ pada vaginaku. Tangannya yang kekar dengan kasar meremas-remas buah dadaku yang ikut bergoyang.

Tatapan matanya tak pernah lepas dari wajahku yang tengah mengerang dalam nikmat โ€” mungkin pemandangan yang tak pernah didapatkannya selama ini dariku, dan dia ingin menikmatinya sepuasnya.

Sepertinya dia begitu menikmati semua dariku. Tangannya menjamah seluruh bagian tubuhku tanpa terlewatkan sedikit pun. Sudah berpuluh laki-laki yang dia berikan kesempatan seperti ini, tapi baru kali ini bisa mendapatkannya sendiri โ€” suatu penantian panjang yang tak boleh disia-siakan.

Kurasakan tubuh JJ mulai menegang dan beberapa detik kemudian kurasakan penisnya membesar, disusul denyutan kuat yang menyemburkan sperma ke liang vagina. Aku menjerit tak menyangka denyutan itu begitu kuat menghantam syaraf-syaraf dalam vaginaku. Begitu nikmat. Kubiarkan dia menikmati saat-saat orgasmenya; dicengkeramnya buah dadaku dengan keras hingga terasa sakit, tapi aku diam saja.

JJ mencabut penisnya begitu selesai dan menghempaskan tubuhnya di ranjang, kelelahan yang hebat setelah bercinta cukup lama dengan penuh gairah menggebu. Kudekati dia; napasnya masih menderu dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Kuciumi penis yang masih penuh sperma, lalu kumasukkan ke mulut. Tak kupedulikan teriakan kagetnya โ€” penis itu sudah keluar-masuk mulutku, kujilati sisa-sisa sperma yang masih ada hingga bersih.

Akhirnya kami berdua terkapar di atas ranjang. Meskipun aku belum orgasme, tapi merasa puas dengan permainan barusan. Rasanya tidak ada salahnya untuk mengulangi lagi babak kedua.

"Apa yang kudengar dari tamu-tamu itu ternyata tidak benar โ€” yang benar adalah jauh lebih hebat dari itu. Pantesan setiap kali tamu kusodori kamu, selanjutnya minta kamu temani," katanya setelah bisa mengatur napas dengan normal.

"Setelah ini kamu mau ke mana? Pulang atau nemani aku hingga besok, kalau mau sih?" tanyanya.

Kalau pertanyaan itu diucapkan satu jam yang lalu aku pasti memilih pulang, tapi setelah merasakan apa yang baru saja aku alami, aku jadi bimbang. Pinginnya sih sampai besok, tapi malu mengucapkannya.

"Ya sudah, kalau kamu nggak mau, aku nggak maksa kok. Yang penting aku sudah bisa merasakan servismu yang selama ini hanya kudengar dari orang lain. Setelah tahu bagaimana kamu melayaniku barusan, rasanya kok sayang kalau aku harus menyerahkan tubuhmu ke laki-laki lain seperti biasanya โ€” kini ada perasaan tidak rela," lanjutnya.

Aku tak peduli perasaan maupun omongannya barusan; toh selama ini dia memang tak punya perasaan. Aku tengah berpikir bagaimana cara minta menginap tanpa kelihatan menginginkannya.

"Hei Lily, sungguh bodoh kamu. Kenapa sekarang menginginkannya? Padahal dia laki-laki yang kau benci selama ini," aku berusaha menepis keinginan gila itu, tapi ternyata nafsu lebih unggul dalam kecamuk di kepalaku. Kini tinggal bagaimana cara memintanya.

JJ berdiri menuju meja di sebelah bar, diambilnya bungkusan yang terbungkus rapi dan diberikan padaku.

"Ini untuk kamu, mudah-mudahan kamu suka dan cocok ukurannya," katanya sambil menyuruhku membukanya.

Ternyata isinya adalah dua pasang pakaian dalam mini, baju tidur satin transparan warna pink, dan kaos ungu DKNY yang ketat. Kucoba satu persatu; ternyata ukurannya cocok dengan tubuhku dan enak dipakai.

"Terima kasih, Koh. Aku jadi pingin mencobanya sekarang," kataku.

"Ya sudah, pakai saja. Nanti kita ke diskotek kalau kamu mau," jawabnya. Aku melihat peluang untuk tetap tinggal tanpa rasa malu.

"Beneran nih? Kalau begitu aku mandi dulu," kataku.

Ketika aku di kamar mandi, kudengar telepon kamar berbunyi. Kuangkat dari kamar mandi; ternyata dari Yeni yang ingin bicara denganku.

"Gimana? Kamu ingin mengumpat aku atau mau ngucapin terima kasih?" godanya.

"Sialan, kamu telah menjebakku," kataku pura-pura marah.

"Jangan marah begitu dong, non. Aku juga taruhan sama dia โ€” kalau nggak bisa membujukmu menemaninya, aku harus menemani JJ ke Tretes. Dan aku menang dua kali sekaligus: di samping dapat tiga kali lipat bayaranmu yang selangit, aku juga dapat sepuluh juta," katanya dengan nada gembira.

"Dasar monyet," umpatku.

"Tapi dia mainnya hebat kan? Lalu kamu diberi hadiah apa?" godanya.

"Kok kamu tahu?"

"Iya dong, aku kan beberapa kali bobok sama dia. Bahkan kemarin, sebelum sama Indra, siangnya sempat melayani JJ โ€” KO deh rasanya. Makanya kalau sama dia pasti minta seorang lagi untuk berbagi; kalau nggak gitu bisa keok kita, lha wong dia itu hyper. Biasanya dia minta jatah kalau habis memberi order gede โ€” aku sih oke saja, toh juga enjoy, meski pada mulanya muak," lanjutnya.

"Dia minta aku menginap sih, gimana baiknya," tanyaku berpura-pura.

"Kalau masih kuat, terima saja. Tapi kamu mau nggak bobok sama orang yang selama ini kamu benci?" tanyanya mengingatkan.

"Ah, brengsek kamu," tukasku.

"Udah ah, aku mandi dulu, kita mau ke diskotek. Ikut yuk."

"Nggak ah, mending ngelonin Yudi daripada keluar sama si bandot tua."

"Tapi sebenarnya kamu menyukainya kan?" godanya.

"Iya sih, permainannya itu, penuh kejutan."

Setelah kubujuk, akhirnya Yeni dan Yudi setuju untuk menemani ke diskotek. Kami pun pergi tak lama kemudian.

Malam itu diskotek begitu ramai. Untunglah JJ cukup dikenal di sana hingga tak susah mendapatkan tempat duduk. Ketika house music bergema, kuajak Yudi joging โ€” lima lagu telah terlewati. Saat kembali ke tempat duduk kami, kulihat JJ berbicara dengan seorang bapak-bapak seusianya; dia mengenalkanku tapi aku tidak ingat lagi namanya.

"Dia adalah orang keempat yang menginginkanmu," bisiknya setelah orang itu pergi.

"Yeni mana?" tanya Yudi.

"Ke toilet," jawab JJ.

"Dia dapat orderan quickie. Kalau kamu mau bisa aku atur, kerja ringan duit lumayan โ€” semalam bisa tiga-empat kali kalau sama aku. Paling lama sepuluh menit, harus pakai kondom," bisiknya di telingaku tanpa setahu Yudi.

Aku belum pernah melakukan hal seperti itu, tapi membuatku tertarik karena tentu mempunyai sensasi tersendiri.

"Aku belum pernah sih, tapi boleh juga dicoba," kataku tertarik.

"Mau coba? Tapi tarifnya nggak sampai separuh biasanya. Toh hanya oral, buka celana, nungging, selesai โ€” dan bayar di tempat," jelasnya di sela hingar-bingar musik.

"Boleh," jawabku. Uang bukanlah masalah kali ini; sensasinya yang ingin kurasakan.

"Tunggu sebentar," katanya lalu berdiri meninggalkanku.

Yeni sudah datang bergabung kembali. Dengan senyum mengembang di bibir, dia duduk di samping Yudi; matanya mengedip ke arahku penuh arti. Lima menit kemudian JJ datang bersama bapak yang tadi.

"Tanpa oral, selesai atau tidak sepuluh menit keluar," bisiknya sambil menyelipkan kondom di tanganku, sebelum aku digandeng menuju toilet.

Tak kusangka ternyata toilet laki-laki penuh dan harus antre untuk memakainya. Memang toilet laki-laki lebih bebas; wanita bisa keluar-masuk tidak seperti toilet wanita.

Sepuluh menit kami menunggu di depan toilet sebelum tiba giliran kami. Toilet itu cukup sempit dan agak bau. Entah bagaimana mereka bisa melakukan ini di tempat seperti ini.

Tanpa basa-basi, Pak Tua itu segera memelukku, meremas-remas buah dada dan pantatku dengan kasarnya, diciuminya pipi, leher, dan bibirku meski aku berusaha menutup mulut rapat-rapat. Aroma rokok bercampur alkohol tercium dari mulutnya.

Tanpa menghiraukan jamahan tangannya di sekujur tubuhku, secepatnya kubuka resleting celananya dan kukeluarkan penis yang sudah menegang โ€” hanya sebesar genggamanku dan tidak bertambah besar setelah kuremas-remas dan kukocok.

Tangan-tangan Pak Tua itu sudah menyusup di balik kaos dan bra, melanjutkan remasan dan memainkan puting begitu mendapatkannya. Setelah memasangkan kondom โ€” yang aku khawatir kebesaran hingga bisa terlepas โ€” kulorotkan celana jeans beserta celana dalam sekaligus dan nungging di depannya dengan tangan bersandar pada dinding toilet.

Pak Tua itu mulai mengusap-usapkan penisnya pada vaginaku. Tentu agak sulit bagiku karena tanpa pemanasan. Meski bukan pertama kali aku melakukan hal ini di toilet umum, tapi di tempat seramai ini adalah pengalaman pertama, dan tentu menjadi kesulitan tersendiri.

Kubasahi penis itu dengan ludah, dan tanpa kesulitan dia mendorong masuk menikmati vaginaku โ€” penis kelima yang menikmatinya. Pak Tua mulai mengocokku dari belakang, diiringi hingar-bingar alunan "Lemon Tree" versi house music yang menerobos masuk ke toilet. Tak ada desahan kenikmatan, tak ada jeritan histeria; semua berlangsung seperti mesin โ€” hanya kocokan, rabaan, dan remasan di seluruh tubuhku menghiasi persetubuhan ini. Aku yang terbiasa main di tempat tenang dan romantis agak kesulitan menyesuaikan diri dan menikmati kocokannya, meskipun aku berusaha menikmati sensasinya.

Alunan "Lemon Tree" versi house music itu mengiringi kocokan kami. Tanpa sadar tubuhku bergoyang mengikuti alunan musik, dan sebelum lagu itu habis kurasakan denyutan-denyutan mengenai vaginaku. Seperti kata JJ, semua serba cepat โ€” mungkin hanya dua sampai tiga menit dia mengocokku; lebih lama ngantrinya.

Aku segera berbalik menghadapnya, kulepas kondom dari penisnya dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah kuminta dia mengaitkan kembali braku, kami merapikan pakaian masing-masing. Pak Tua mengangsurkan beberapa lembar lima puluh ribuan ke tanganku, lalu kami keluar bersama-sama diiringi sorot mata tajam dari para pengantre toilet. Aku tak peduli. Sungguh aneh, hingga kami berpisah di depan toilet aku tidak tahu nama Pak Tua yang telah menjamah sekujur tubuh dan mengobok-obok vaginaku barusan.

Ketika aku kembali bergabung dengan JJ, Yeni dan Yudi sudah tidak kulihat.

Bersambung...

โ† SebelumnyaDaftar BabSelanjutnya โ†’