18px

Selingkuh dengan Bos

Selingkuh dengan Bos

Singkat cerita, namaku MD. Awal perjalanan keluargaku sebenarnya cukup baik, bahkan bisa dibilang mapan. Suamiku, Mas Aa, awalnya sudah bekerja di PMA sebagai Manager Purchasing dengan penghasilan cukup besar—waktu itu kami biasa menerima sekitar Rp 25 juta per bulan. Aku menikah umur 21 tahun. Karena tergolong mahasiswi yang cerdas, aku dapat merampungkan kuliahku dalam 3,5 tahun. Karena sudah pacaran lama, aku memutuskan segera menikah dengan Mas Aa. Pernikahan kami dikaruniai 2 anak. Malangnya, anak kami yang pertama menderita sindrom autisme yang harus menjalani terapi terus-menerus dalam waktu cukup lama.

Ternyata cobaan pun datang menerpa. Saat usiaku menginjak 25 tahun, Mas Aa bersengketa dengan direksinya seorang Taiwan dan berakibat dengan pengunduran dirinya. Sebagai istri, aku coba untuk bertahan, tapi apa daya—suamiku yang saat itu sudah berumur 35 tahun mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan. Satu per satu harta kami pun habis dipergunakan, terutama karena terapi anak kami. Bahkan pertengkaran pun kerap terjadi di antara kami. Hal ini berlangsung hingga 2 tahun, rumah kami pun terpaksa dijual dan kami mengontrak karena mahalnya kehidupan di Jakarta.

Hingga puncaknya, suatu malam kami bertengkar hebat. Aku berbicara dengan agak mendesak: "Mas, kerjaan itu mending dilepas saja. Sudah boros waktu, tenaga, statusnya kontrak lagi, gajinya cuma 3 juta lagi—biaya makan kita saja tidak cukup, apalagi terapi putra kita. Mbok nyari kerjaan yang lainnya."

Entah Mas Aa kelelahan atau lagi down, saat itu ia justru marah-marah. "Emang nyari kerjaan aja gampang sekarang? Saya sudah berusaha lho, tapi dapatnya itu. Emang seperti kamu, ngurusi anak aja bisanya. Mbok sekali-sekali kita tukar kerjaan—saya yang ngurusi anak, kamu yang kerja."

Nah, dari omongan tersebutlah aku mencoba membuktikan bahwa aku, meskipun seorang wanita, bisa bekerja lebih bagus dari suamiku.

Maka mulailah aku mencari pekerjaan dengan melamar puluhan lowongan di koran. Entah karena parasku yang masih kelihatan imut-imut—waktu itu umurku masih 27 tahun dan banyak temanku yang bilang wajahku awet muda—aku diterima oleh sebuah perusahaan Bank Asing yang bonafide. Hatiku berbunga-bunga. Usai menjalani tes terakhir, perusahaan Bank tersebut setuju untuk memberikan gaji awal Rp 2,5 juta. Karena aku lulusan akuntansi, aku dimasukkan dalam staff marketing divisi deposit. Katanya mereka memang saat itu ada tim marketing yang membutuhkan staf perempuan untuk pengelolaan dana deposito.

Sewaktu diperkenalkan kepada Kepala Seksi marketingku, aku terkejut karena dia adalah Donny (samaran), teman sekolahku sewaktu SMP.

"Lho, Anda Donny, kan? Teman SMP saya."

Donny tersenyum. "Benar, Lin. Sayalah yang merekomendasikan lamaranmu, dan lagipula saya mencari seorang partner kerja yang cantik dan cerdas seperti kamu."

Aku tersipu. Dipuji oleh Donny—memang badanku waktu itu masih langsing, payudaraku juga berisi meski ukurannya hanya 34 (sebelum menjadi 38B seperti sekarang), dan dulu sempat ikut fitness. Wajahku pun masih segar. Sedangkan Donny, cowok Menado-Jawa, putih, ganteng, dan terlihat mapan—jam tangan dan bajunya saja bermerek.

Kami sempat berbincang-bincang tentang kehidupan kami sekarang karena lama tak berjumpa, lagian dia akan menjadi atasanku. Tapi karena waktu sudah pukul 16.00, Donny menawariku untuk mengantarkan pulang ke rumah dengan mobilnya. Aku pun setuju, sekalian bertanya apa pekerjaan yang harus aku lakukan keesokan harinya. Di dalam mobil kami pun bercanda layaknya teman lama. Aku pun bercerita latar belakang saya kembali bekerja. Dari yang kudapat, Donny masih membujang karena ambisinya untuk bekerja sangat besar.

Tiba-tiba Donny menyeletuk, "Lin, baju kamu besok jangan seperti ini ya."

"Lha yang gimana, Don?"

"Coba kita mampir ke butik deh, saya sih tahu bajunya tapi lupa namanya."

"OK, siapa tahu aku sudah punya di rumah baju seperti itu."

Tapi di dalam hati aku agak sedikit gelisah karena aku hanya membawa uang Rp 75.000 saja. Kalau ke butik mana cukup—paling hanya di Jembatan Merah atau Mangga Dua baru dapat baju harga segitu.

Dengan agak berdebar-debar, aku mengikuti Donny ke butik yang dimaksud.

"Nah, ini lho jenis bajunya, kayak kemeja cowok tapi lengan panjang, tapi ada juga yang tidak berlengan. Lha untuk roknya, pakai yang seperti ini saja," sambil ia mengambil rok yang mini.

Aku jadi pucat dan mukaku memerah karena dari lulus kuliah aku tidak pernah kerja, jadi tidak punya lagi baju begini. Kalau pun ada, sudah kusam. Usianya ditambah lagi harganya—kulirik Rp 85.000 per potong. Mana mungkin.

"Don, kalau pakai baju yang ada dulu gimana?" tanyaku mengiba.

"Wah jangan, Lin. Bank perusahaan kita mengutamakan penampilan, bisa kena marah saya nantinya."

Seolah mengerti situasi yang aku hadapi, Donny dengan santainya mengambil 3 stel kaos dan 3 stel rok mini untukku. "Dicoba dulu, cocok tidak? Jangan pusing bayarnya," katanya.

Wajahku memerah. Tidak ada cowok lain yang pernah membelikan baju semahal ini untukku kecuali Mas Aa, itupun sudah 2 tahun yang lalu. Setelah itu kami pun pulang.

Suamiku menanggapi dingin-dingin saja pekerjaanku. Entah dia marah atau malu, tapi semenjak itu hubungan kami jadi dingin. Mas Aa menepati janjinya mengurusi anak-anak sambil kerja, dan aku pun mulai sibuk dengan pekerjaanku. Hal ini membuat hubungan seks kami jadi dingin—Mas Aa jarang sekali menyetubuhiku, kalaupun iya, dia langsung main sodok saja, itupun paling sebulan sekali.

Justru pada saat-saat itu, karierku di bawah Donny menanjak. Donny merasa terbantu karena kehadiranku. Beberapa perhitungan deposito calon klien aku kerjakan dengan memuaskan sehingga banyak klien yang terpikat. Pernah saat menjelang 3 minggu aku mulai bekerja, Donny sempat mengajakku ke kafe untuk bertemu salah seorang klien. Ternyata klienku terpesona oleh tutur kata kami dan mau menandatangani kontrak senilai Rp 500 juta.

Itulah kontrak pertamaku yang tertinggi bersama Mas Donny. Tapi cara transfernya bagaimana—semuanya diselesaikan oleh Donny yang belakangan saya tahu tidak pernah dananya masuk Bank kami, tetapi diputar oleh Donny sendiri. Karena saya merasa berhutang budi dengan Mas Donny, aku pun mendiamkannya. Hingga esok harinya, dia mengajakku makan siang bersama di sebuah kafe.

"Lin, ini ada fee sedikit buat kamu dari kontrak kita kemarin."

Aku kaget dan terbelalak karena amplopnya tebal. "Buat apa, Don? Kok banyak?" kataku sambil berusaha menolak.

"Udah, Lin, kita satu tim. Saya jamin uangnya aman," sambil dia memperlihatkan beberapa deposito dari Bank lain dan lembaran sertifikat saham. "Yang penting bunganya kita bayarkan ke klien. Klien oke saja, kan?"

"Tapi ini berbahaya, Don," kataku takut-takut.

"Tenang aja, Lin. Saya di-back up sama beberapa atasan kita, mereka juga dapat begini, tapi lebih gede. Yang penting buatkan tanda terima blangko pakai nama Bank kita—klien kita tidak akan tahu," sambil dia menyerahkan blangko yang sama tapi bukan dibuat oleh Bank kami.

Aku sebenarnya ragu-ragu, tapi mengingat beratnya himpitan ekonomi kami—atau mungkin juga salahku, pembaca—aku terlalu trauma untuk jadi pas-pasan. Jadi begitu ada jalan menjadi cepat kaya, aku menyambarnya. Hal ini membuatku sadar di akhirnya bahwa ambisiku ternyata melewati ambisi Donny.

Uang yang aku terima saat itu berjumlah Rp 7 juta. Aku berbunga-bunga karena sudah lama aku tidak memegang uang sebanyak itu. Mas Aa suamiku sempat bertanya-tanya dari mana uang sebanyak itu berasal. Aku menutupinya dengan berkata komisi dari perusahaan.

Hal ini terjadi berulang-ulang dari bulan ke bulan. Yang di bawah Rp 500 juta kami setor ke perusahaan, dan yang di atasnya kami pergunakan untuk investasi di luar. Jadi sebenarnya tidak benar jika saya dianggap jadi pencuri uang nasabah, karena uangnya masih utuh bahkan berbunga lebih banyak. Seseorang jika sudah kaya menjadi terlalu sibuk untuk mencari investasi yang bagus, jadi kamilah yang berinvestasi. Apalagi ditambah ketakutan banyak orang akan hancurnya bank-bank domestik membuat orang-orang kaya ini memilih menyimpannya di Bank asing kami dengan bunga kecil.

Bulan demi bulan aku lalui, jutaan demi jutaan aku terima dari Donny atasanku yang baik hati—kadang 7 juta, 15, bahkan pernah hingga 30 juta. Padahal aku baru bekerja selama 9 bulan di bawah Donny.

Yang namanya marketing, akhirnya aku pun juga kebawa Donny ke tempat-tempat hiburan seperti pub atau diskotik. Kata Donny, kita harus mengerti maunya klien agar kita dipercaya. Spontan hal ini menambah akrab hubunganku dengan Donny—kadang-kadang mengajakku berdansa, tingkahnya lucu sekali, kadang-kadang berpegangan tangan. Semuanya itu aku lakukan demi entertain klienku.

Pada level ini pun aku masih bisa dikata wanita normal, meskipun spontan suamiku Mas Aa mengingatkan akan kerjaanku. Tapi aku cuek saja. Bahkan aku menikmatinya—minum sedikit bir, dapat uang banyak, punya atasan yang mau mengerti aku, dan ganteng orangnya. Hal ini membuat suamiku makin dingin terhadapku, bahkan dia sengaja pindah ke kamar anakku dengan dalih menjaga anak.

Nah, saat tiba bulan ke-12, aku dan Donny diutus ke Bali untuk mengikuti seminar perbankan. Seminarnya hanya 2 hari 1 malam saja, tapi di sinilah awal penyesalan atau pelampiasanku dimulai—ya, pelampiasan atas perlakuan suamiku yang dingin 5 bulan ini.

Hari pertama waktu seminar kami sudah mulai bosan karena isinya regulasi peraturan Bank yang sebenarnya hanya untuk Bank lokal. Jadi Donny mengajakku pergi makan malam di luar sambil pulangnya have fun di diskotik. Aku pun menyetujuinya.

Donny orangnya santun, pendengar yang baik. Entah karena pergaulannya dengan karaoke dan pub beserta segudang perempuannya, aku pun lama kelamaan jadi curhat soal suamiku yang sudah membeku 5 bulan ini. Dia agak kaget, sambil memegang tanganku dia merayu dengan gombal: "Lin, aku sanggup menghangatimu."

Malam itu tiba-tiba aku jadi deg-degan ketika disentuh tangannya—apalagi sudah lama tidak dijamah suamiku.

"Atasan playboy kamu," kataku buru-buru menarik tanganku.

"Kalau aku playboy, kamu bawahan playgirl."

Kami tertawa bersama.

Malam itu aku dan Donny menikmati sisa malam dengan menuju ke sebuah pub di sebuah hotel. Tempatnya sejuk dan ada band yang bisa menghentak-hentak tapi juga bisa romantis sekali. Malam itu entah sengaja atau tidak, Donny mengajakku minum cukup banyak, tapi semua minumanku manis dan menarik—ada yang 7 rainbow, lemon drop martini, dan semuanya ini membuat tubuhku terasa ringan dan bebas.

Kami menari, bercakap-cakap dengan ceria. Sampai waktu menunjukkan pukul 01.00, aku berdansa dengan berpelukan dengan Donny. Tidak ada rasa malu—mungkin karena pengaruh minuman atau rasa ingin disayang oleh laki-laki—aku sungguh-sungguh terbuai. Donny tetap memelukku dengan mesra. Aku memang agak terpengaruh alkohol yang kuminum, tetapi aku masih bisa berjalan dengan baik dan mengingat kamarku.

Sampai di depan kamarku, Donny pamit. "Met tidur, bawahan yang cantik."

Entah apa yang merasukiku, tiba-tiba timbul niatan untuk menggoda Donny. "Ha ha, atasanku beraninya sampai depan pintu saja," sambil membelakanginya dan membuka pintu kamarku.

Tiba-tiba Donny memelukku sambil menantang dan mendekati wajahku. "Hayo, saya sudah berani nih."

Demikian dekatnya hingga aku dapat merasakan hembusan napasnya. Seluruh saraf di tubuhku seperti bergetar memohon Donny menciumku. Dan Donny tiba-tiba mencium tepat di bibirku dengan lembut sekali, seolah-olah tidak mau menakutiku, kemudian dia berhenti.

Aku membuka mata dan memandangnya dari dekat sejenak, menunggu reaksi setelah ini. Donny mengerti apa yang wanita butuhkan—itulah kata-kata yang tepat. Dia kembali menghujaniku dengan ciuman di bibirku sambil menjulurkan lidahnya menjilati mulutku. Mendapat perlakuan seperti ini membuatku melayang. Ada hasrat yang tiba-tiba sulit kubendung, semua sarafku ikut merespons mengikuti setiap ciuman, kulumanm dan sedotan dari bibir Donny.

Ditambah hangatnya pelukan Donny malam itu, aku membiarkan Donny menciumku lebih jauh lagi. Kemudian Donny mendorongku masuk melewati pintu kamarku dan menutup pintunya. Kali ini Donny menciumku lebih hangat lagi—leherku dan telingaku dijilatinya hingga aku tenggelam dalam hasrat bersetubuh dengannya. Sambil menjilati leherku, tangannya dengan halus mulai menerobos kemejaku dan membelai perutku.

Napasku mulai terburu-buru, tubuhku menyambut setiap rangsangan yang Donny berikan. Kami masih dalam posisi berdiri. Donny tiba-tiba turun dan mulai mencium sambil menjilat pusar perutku dan area rusukku. Ada rasa nikmat dan geli yang membuatku berguma mesra: "Aaaaah, aaahhhh, aaaahhhh," menikmatinya. Tanganku juga semakin liar memeluk kepala pria ini, seolah-olah minta lebih lagi.

Ciuman Donny mulai naik dan tangannya mulai membuka kancingku, satu per satu, hingga terpampanglah payudaraku yang bulat padat dan berisi meski terbalut BH warna merah menyala. Donny mulai mencium dadaku yang terbuka dari balutan BH, ini membuatku semakin berahi dan gemas karena dia menunda untuk mencium puting susuku.

Saat Donny melepas BH-ku, dia mulai membelainya dan memegang puting payudaraku dengan mesra. "Payudaramu indah ya, Lin," bisiknya melihat susuku yang masih ranum dengan warna kuning langsat serta coklat kemerahan pada putingnya. Tiba-tiba ia menjulurkan lidah dan menjilati puting susuku dengan ganasnya.

"Heemm, niiiikmaat, Don." Tubuhku jadi lemas. Semua otot-ototku menegang karena kenikmatan.

Melihat hal ini, Donny menggendongku dan membawaku sambil terus mencium payudaraku. Donny dengan hati-hati meletakkan tubuhku dan membuka bajunya serta melucuti rokku. Aku tak kuasa mencegahnya—ada kegairahan yang terpendam dan ingin terpancarkan dengan kuatnya.

Aku sudah telanjang dan menyisakan celana dalamku yang telah basah oleh cairan vaginaku akibat rangsangan Donny. Sedangkan Donny dengan panasnya mulai merangkak turun dengan jilatan lidahnya dari semua centi permukaan payudaraku menuruni ke arah vaginaku yang sudah banjir dengan cairan, lalu mulai menarik celana dalamku ke bawah.

Sensasi geli dan nikmatnya ciuman Donny membuatku bergerak-gerak seperti cacing kepanasan, sampai Donny memegang pinggulku dan mulai menciumi area selangkangan pahaku. Aku sudah tak sabar lagi menunggu pria ini memasukkan tongkat keperkasaannya. Memang penis Donny berukuran hanya 12 cm, tapi ketika aku menggenggamnya terasa sangat tegap dan kuat.

Tapi Donny justru sangat menikmati menciumi dan menjilati area selangkangan hingga pantatku. Hingga satu titik dia merebahkan dirinya dengan kepala menghadap ke vaginaku.

Terus terang aku belum pernah merasakan dioral atau diciumi di lubang vaginaku. Aku dengan lemas menolak, "Jangan, itu kotor lho."

"Lin, vaginamu harum dan indah kok. Aku ingin merasakannya."

Dan tiba-tiba, dengan menahan kedua pahaku, Donny menggulum vaginaku tanpa sungkan-sungkan. Pinggulku menegang dan terangkat sedikit, menerima rangsangan yang hebat ini. Belum pernah aku diperlakukan seperti ini—suamiku saja paling hanya mau menggesekkan dengan tangan. Tapi Donny menggodaku dengan menciumi bibir-bibir vaginaku. Dia juga memasukkan lidahnya menjilati setiap relung di dalam mulut vaginaku. Saat dia menemukan klitorisku, dia menjilatinya dengan gerakan memutar, kadang menyedotnya dengan bibirnya.

Ini membuatku merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seluruh otot-otot vaginaku serta pinggulku berkontraksi naik turun sesuai jilatan Donny. Seringkali aku menjerit kecil, "Oouuuw, Don!" setiap kali Donny menyedot klitorisku.

Berkali-kali diperlakukan seperti itu membuatku lupa diri. Aku menarik lebih dalam lagi kepala Donny dan semakin liar. Ada rasa geli dan nikmat yang menyerang tubuhku hingga aku merasakan ada getaran cairan yang ingin menyembur keluar.

"Donny, aaaakkk, uuu, mau keluar!"

Tetap saja Donny menjilati klitorisku, bahkan semakin cepat.

"Aaaaah, aku orgasme, Don. Kamu pintar, Don."

Donny melihatku dengan mesra. "Gimana, Lin, enak kan?"

"Tapi kamu kan juga belum keluar apa-apa, Don?" tanyaku bingung.

"Sebentar lagi giliranku ya," kata Donny sambil menindihku dan mulai menciumi payudaraku dengan panasnya.

Mendapat perlakuan ini aku mulai berani meraba tubuhnya, kadang membalas ciuman ke arah susunya Donny. Cukup lama kami bergumul hampir 10 menit, hingga tiba-tiba Donny melebarkan pahaku sambil mengarahkan penisnya ke arah vaginaku.

Sleppp—vaginaku menerima penis Donny dan tiba-tiba ada sensasi nikmat yang kembali menyerangku, seolah-olah ada yang menggelitik dari dalam vaginaku. Gerakan keluar masuk penis Donny aku ikuti dengan kontraksi pinggulku, sampai-sampai karena enaknya, penis Donny berbunyi ketika memasuki lubang kenikmatanku: slrep, slep.

Sudah hampir 15 menit aku merasakan kenikmatan itu. Saat Donny menindihku semakin kuat, aku semakin menikmatinya sampai pada satu puncak aku merasakan seluruh tubuhku bergetar hebat, otot-otot vaginaku menegang, aku mendesis sambil merasa ingin pipis—dan aku kembali orgasme lagi hingga ranjang kami basah.

Donny rupanya juga sudah hampir mencapai puncak kenikmatannya. Terbukti akhirnya aku merasakan penis Donny berdenyut-denyut dan menyemburkan spermanya di dalam vaginaku, sambil kemudian rebah di atasku. Aku tidak takut hamil karena sudah sejak lama memakai KB suntik.

Donny inilah yang kemudian mengajariku meraih kenikmatan dan kekayaan. Dialah yang mengajariku semua trik di dunia perbankan, menarik klien, mendekati atasan, dan sebagainya. Masih ada lagi kisahku mengenai persetubuhan pertama dengan klienku serta caraku mendapat hati dari atasan-atasan perusahaanku. Semoga melalui cerita-ceritaku ini teman-teman dapat menilai aku bukan dari satu sisi saja.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya