18px

Selingkuh dengan Heni

Selingkuh dengan Heni

Cerita ini bermula dari satu kejadian menyebalkan: ban mobil yang aku kendarai bocor karena tersusuk paku saat aku mau ke luar kota. Waktu mau mengganti ban serepku, ternyata kunci roda yang aku bawa tidak pas. Sial sekali hari itu. Terpaksa aku berjalan kira-kira 3 km untuk menghampiri rumah yang ada mobil angkotnya — berharap semoga pemiliknya punya kunci yang pas dengan baut mobilku.

"Assalamu alaikum...!" sapaku dengan wajah sedikit memelas di depan pintu rumah yang sedikit reot, maklum di kampung yang jauh dari kota.

"Wa alaikum salam..." terdengar jawaban seorang wanita, namun belum nampak batang hidung yang punya suara.

Mendengar suara itu, kuberanikan diri sedikit melongok ke dalam rumah. Ops, ternyata ada seorang wanita kira-kira berusia 25 tahunan sedang menyusui anaknya. Oh, my God — lumayan juga parasnya untuk ukuran wanita di kampung ini. Dan tentunya yang membuatku terkesima adalah buah dadanya yang indah, tampak terbuka, sedang diisap sama anaknya yang masih berusia balita.

"Maaf, Mbak, apa saya bisa pinjam kunci roda mobilnya?" tanyaku sambil tak putus mata memandang sebuah keindahan, seraya mengkhayal andai aku yang menikmati buah dada yang indah itu.

"Oh, sebentar, Pak, saya tanya dulu suami saya!" Jawab wanita tadi sambil terburu-buru menutup dada indahnya — mungkin karena ia sadar betapa aku menikmatinya.

Singkat cerita, kunci roda tersebut berhasil aku pinjam dan bergegas kugunakan untuk mengganti ban yang bocor dengan ban cadangan. Tentunya dengan alasan mengucapkan terima kasih, kami sempat berbincang dan berkenalan.

"Maaf, Pak, rencananya mau ke mana?" tanya wanita itu.

"Oh, saya mau ke kota X dalam rangka tugas kantor," jawabku sekenanya.

"Sebenarnya saya juga mau ke kota itu untuk menemui saudara yang katanya berdomisili di sana, tapi alamatnya belum begitu jelas. Kebetulan suami saya tidak bisa mengantar karena kendaraan angkotnya masih rusak," kata wanita itu, diamini oleh suaminya yang baru bangun tidur dan ikut menemani kami berbincang-bincang.

Pucuk dicinta ulam tiba, begitulah kata pepatah. Tanpa melewatkan kesempatan untuk dapat berlama-lama dengan wanita itu — apalagi dia akan berangkat sendiri tanpa suami dan anaknya, dengan alasan suaminya masih harus menyelesaikan perbaikan angkot yang masih rusak — aku pun menawarkan tumpangan. Apalagi aku memang hanya sendiri di kendaraanku.

Sepanjang perjalanan kami ngobrol panjang lebar tentang segalanya dan akhirnya dapat kuketahui nama wanita itu adalah Heni. Sampailah kami di kota tujuan.

"Mbak Heni rencana mau nginap di mana? Kan hari sudah mulai gelap, tentunya sulit mencari alamat saudaranya waktu begini," tanyaku.

"Entahlah, Mas, soalnya saya tidak punya cukup uang kalau harus menginap di penginapan," jawab Heni dengan sedikit kebingungan.

"Bagaimana jika kita menginap dulu di penginapan tempat saya menginap? Esok hari baru kita sama-sama mencari alamat saudara Mbak itu!" tawarku kepada Heni.

"Tapi, Mas, apa tidak merepotkan?" tanyanya dengan nada ragu tapi mau.

"Ya, nggak lah. Kan Mbak Heni sudah menolong saya, jadi tidak ada salahnya kalau saya membalas pertolongan itu." Jawabku, sementara dalam hati bersorak: YESS!

"Ya deh, Mas. Saya ikut Mas aja!" jawabnya pasrah.

Setiba di penginapan, ternyata kamar yang tersedia tinggal satu yang kosong — yang lainnya sudah dipesan tamu lain dan tidak bisa diganggu gugat karena sudah dibayar penuh.

"Aduh, Mbak, kamarnya cuma ada satu yang kosong, gimana nih?" Tanpa menunggu jawaban, langsung kujawab sendiri dengan sedikit memaksa. "Udahlah, Mbak, Mbak tidur di kamar saya saja, biar saya yang tidur di sofa."

"Tapi, Mas..." jawabnya ragu. Namun akhirnya, seperti kerbau dicucuk hidungnya, ia ikut di belakangku menuju kamar sambil aku angkatkan tas Heni dan tasku sendiri.

Setelah masuk ke dalam kamar dan menyelesaikan segala urusan dengan room service yang mengantar ke ruangan yang kupesan, kami terdiam sejenak. Heni terduduk di sofa sambil memandangku bingung.

"Silakan mandi dulu, Mbak. Itu handuk bersih, dan ini sabun cair dan sampo saya yang bisa Mbak pakai. Saya rapikan dulu perlengkapan saya. Nanti selesai mandi kita cari makan malam di luar saja, karena penginapan ini tidak menyiapkan makan malam yang sesuai dengan selera saya." Sambil menyodorkan perlengkapan mandiku ke Heni, ia pun menurut saja.

Setelah semuanya beres, kami keluar penginapan mencari rumah makan yang biasa aku datangi jika berkunjung ke kota ini. Sambil makan, kami banyak bercerita. Khusus dari Heni, dapat kuperoleh cerita bahwa ia baru tiga tahun menikah dengan suaminya yang masih kerabat dekat dan pilihan orang tuanya.

Namun dalam perjalanan pernikahannya, suaminya kurang memberi perhatian selayaknya suami kepada istri — selain hanya untuk melampiaskan nafsu seksnya. Untuk urusan lainnya, suaminya kurang mau tahu, termasuk urusan mengunjungi saudaranya di kota ini.

Tibalah waktu kami kembali ke penginapan untuk istirahat. Sesuai janjiku, aku yang tidur di sofa sedangkan Heni di tempat tidur. Maklum, Heni masih menganut kebiasaan di kampung: tidur harus menggunakan sarung, tanpa memakai sehelai benang pun di badannya selain balutan sarung yang sudah agak kumal.

Nampak jelas bentuk tubuhnya, khususnya payudara yang kutaksir berukuran 36 B, menyembul di balik sarung yang dikenakannya — terlihat di keremangan lampu tidur yang menyala redup. Hal ini membuatku semakin gelisah menahan gejolak yang dari tadi ingin berontak tanpa aturan yang jelas.

Rupanya Heni melihat kegelisahanku dan menyangka aku tersiksa karena harus tidur di sofa — padahal bukan itu penyebabnya. Akhirnya dia pun bersuara.

"Mas, nggak bisa tidur ya? Sudah, Mas, di sini saja. Toh, tempat tidur ini masih cukup luas."

Tentunya ini kesempatan emas 24 karat yang tidak boleh kusia-siakan. Dengan sedikit jual mahal aku menjawab, "Ya deh. Memang agak kurang nyaman nih tidur di sofa, tapi Mbak tidak keberatan kan?"

"Nggak kok, Mas. Silakan saja," jawabnya.

Bergegaslah aku dengan langkah seorang kesatria menuju ke tempat tidur di samping Heni. Ternyata Heni sempat melihat ada yang menyembul keras di balik celana pendekku — memang kebiasaanku tidak mengenakan celana dalam kalau tidur.

"Ihh, Mas, itu apa yang berdiri di balik celana Mas?" Heni bertanya dengan polos.

"Ahh, Mbak kok lihat aja. Ini kan gara-gara Mbak juga," jawabku sekenanya, sementara dalam hati berkata: tunggu tanggal mainnya.

Sejenak kami berdua terdiam dengan pikiran masing-masing. Selanjutnya aku mencoba menyentuh tangan Heni — dan tidak ada penolakan dari Heni, yang membuatku semakin berani menarik tangannya dan memeluk dirinya dengan sikap yang sangat mesra.

"Mas, jangan panggil aku Mbak ya. Sebut saja namaku." Tiba-tiba Heni bersuara.

"Oh ya," jawabku.

"Maaf, Mas. Heni koq merasa nyaman dekat Mas — tidak seperti suami Heni yang tidak pernah memberikan kemesraan seperti yang Mas berikan ini," kata Heni lagi.

"Akupun begitu, Heni. Awal melihatmu, ingin rasanya aku memelukmu!" jawabku sedikit merayu.

Sambil memeluk dari belakang dan mencium belakang telinga selanjutnya leher bagian belakangnya — yang tanpa penolakan, bahkan terlihat Heni begitu menikmati — aku beranikan untuk mengelus kening, selanjutnya turun ke dada dan terus meremasinya dengan halus, terutama sekitar puting yang nampak kian mengeras.

Tidak ada jawaban atau kata yang keluar dari mulut Heni selain desahan napas yang semakin memburu tidak teratur, menandakan Heni sudah mulai terangsang. Selanjutnya tanganku turun meraba perut dan terus menemukan rimbunan bulu-bulu tebal di antara dua lembah yang terasa mulai lembab, selanjutnya mencair oleh lelehan air kenikmatan wanita yang sedang mendaki ke arah puncak kenikmatan.

Tidak dinyana, Heni membalikkan badannya, melepaskan sarung kumal yang melapisi tubuh mulusnya yang baru kali inilah terlihat dengan jelas. Di balik keluguan wanita desa, ternyata menyimpan suatu kekuatan yang mampu memecah naluri lelaki yang menggeliat dengan panasnya.

"Mas...!" Sambil meremas kemaluanku yang sudah ditelanjangi oleh tangan halus Heni seperti meremas jagung yang akan dipipil.

"Aku tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini dari suamiku... akhhh, akkhh!"

Heni semakin tidak dapat menguasai dirinya, apalagi saat kulumat habis puting payudaranya yang kian mengeras. Berangsur kuturun ke pusar perut dan ke lubang kenikmatan.

"Okhh, okkhhhh, Mas, nikmat, akhhkk..." Tak kuasa Heni menahan erangannya.

Kami berdua sudah semakin larut dalam hasrat birahi yang bergelora dengan tubuh yang tak satu helai benang pun masih melekat, diterangi cahaya lampu tidur yang temaram.

"Heni, aku sudah nggak tahan lagi, pengen bercinta sama kamu!"

Kata-kata itu meluncur dari mulutku yang semakin tidak karuan, karena kemaluanku sudah berada dalam kuluman mulut Heni yang dengan ganasnya melahap habis sampai ke pangkal batang — bahkan pelirku pun tak luput dari sedotannya.

Heni rupanya mengerti dengan kata-kataku. Maka dengan selangkangan terbuka dalam posisi telungkup, ia memasukkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya secara perlahan tapi pasti, naik turun tidak beraturan.

"Oh, Mas, nikkkkmattttt...!" Heni mulai mengoceh kesetanan. "Mas, kemaluanmu enak sekali..." tambah Heni.

Aku pun semakin keras memompa dan membanting tubuhnya ke kasur untuk merubah posisi dengan doggy style, menggenjotnya dengan tetap meremas payudara Heni.

"Mas, aku capek..." keluh Heni.

Kubalikkan tubuhnya ke posisi missionary sebagai posisi pamungkas karena kemaluanku sudah mulai terasa berdenyut keras.

"Ohkkhhh, Mas, aku nggak tahan, akh...!" Heni mengoceh dengan lemahnya, sementara remasan vaginanya semakin memelintir batang kemaluanku.

"Oh, Heni, tahan sebentar. Aku juga mau keluar," pintaku kepada Heni sembari meninggikan RPM genjotanku.

Dan tiba-tiba...

"AKHH...!" teriak Heni, bersamaan dengan itu aku pun tak dapat lagi menahan semburan spermaku ke dalam vagina Heni sambil tetap mengisap puting payudaranya yang kian mengeras.

"Ohhhh..."

Kami berdua tidak dapat menggambarkan apa yang terjadi tadi. Yang jelas, aku dan Heni sudah tidak bertenaga lagi untuk bergerak dan tetap membiarkan tubuhku tengkurap di atas tubuh Heni dengan kemaluan yang masih tertancap di dalamnya.

Semenit kemudian aku berangsur tertidur di samping tubuh bugil Heni, si wanita desa, dengan ceceran cairan kami berdua yang membasahi tubuh dan sprei tempat tidur bercampur keringat.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 03.30. Aku terbangun dan mendapatkan Heni masih tertidur dengan ceceran yang mulai mengering di badan kami berdua dan sprei tempat tidur. Kubangunkan Heni dan kuajak untuk bersih-bersih di kamar mandi.

"Mas, maafin Heni ya. Koq Heni malah mengajak Mas bercinta," kata Heni menyesal, namun masih menyimpan hasrat terpendam.

"Nggak apa-apa kok, Heni. Aku juga senang dengan apa yang telah kita perbuat. Habis kamu seksi, bikin aku nafsu aja," kataku nakal menggoda, sembari menyandarkan badannya ke dadaku.

"Akh, Mas ini bikin malu aja," sambil mencubit perutku.

"Jujur deh, Mas. Heni baru kali ini merasakan bercinta yang betul-betul membuat Heni serasa terbang ke awan," sambung Heni.

Sambil mengelus kemaluanku yang mengecil tapi mulai nampak tanda-tanda akan bangun lagi.

"Mas, boleh nggak Heni minta lagi?" pinta Heni.

Why not, pikirku, tapi gengsi dong kalau aku langsung mengiyakan.

"Gimana ya... tapi aku sudah capek nih," jawabku untuk memancing pelayanan yang lebih ekstra.

"Trus gimana dong, Mas?" Heni benar-benar sudah memelas.

"Heni mesti tahu dong apa yang kumau!" jawabku.

Tanpa ba-bi-bu, Heni langsung mengulum kemaluanku dengan ganasnya. Tanganku tidak melewatkan untuk meremas-remas payudara Heni yang mulai mengeras juga. Rupanya tak puas, ia menggigit halus putingku yang membuat diriku melayang ke langit ketujuh.

"Heni, kita pindah ke sofa aja yuk!"

Sembari bangkit dari tempat tidur dan menuju sofa, gantian Heni yang kumanjakan dari ujung kaki sampai kuduknya.

"Ahkk, Mas, terus, Mas..." erang Heni.

Heni benar-benar sudah tidak bisa menguasai dirinya sampai teriak-teriak, sehingga harus dengan cepat kubekap mulutnya agar tidak mengganggu tamu lainnya di penginapan itu.

"Mas, cepat bercinta sama aku, Mas. Sudah tidak tahan nih..." suara lirih Heni memintaku.

Blass...

"Akhhh..." lirih Heni sekali lagi.

Entah karena suasana malam itu yang semakin sepi atau memang nafsu sudah begitu dominan menguasai otak kami berdua, langsung saja dengan posisi Heni yang nungging di sofa kubenamkan batang kemaluanku — yang juga sudah ingin mengakhiri permainan dahsyat ini — kugenjot berulang-ulang ke dalam vagina Heni, dan terakhir tersemburlah cairan maniku yang sudah encer akibat terlalu banyak yang dikeluarkan untuk memuaskan hasrat kami berdua.

"Ohhhh, Heni..."

Bersamaan dengan orgasmenya Heni, yang membuat lututku semakin tak kuasa menahan lemasnya, mengantarkan kami untuk terduduk lemas sejenak di sofa.

Akhirnya kami bersih-bersih di kamar mandi dan tertidur sampai pagi harinya.

"Mas, kapan kita bisa ketemu lagi?" tanya Heni.

"Aku akan menghubungimu lagi jika ada waktu, Hen," jawabku.

Singkat cerita, keesokan harinya aku mengantarkan Heni menemui alamat saudaranya dan sebelumnya mampir di toko HP untuk membelikan Heni ponsel yang bisa kugunakan bila ingin menemuinya. Kisah ini berlanjut di tempat yang lain dan kesempatan yang lain — tentunya tanpa sepengetahuan suami Heni.

Sudah dua minggu lebaran lewat. Aku mulai disibukkan dengan kerjaan kantor yang memadati hari-hariku — tak pandang bulu siang atau malam, bos seakan tidak mau tahu dengan apa yang kurasakan.

Tanpa disadari, ponselku sudah berbunyi sebanyak tiga kali tanpa pernah kujawab mengingat padatnya waktu yang mengejarku. Oh, ternyata ada telepon dari orang yang sudah lama tidak kutemui: Heni, si wanita desa yang dulu pernah kurengguk manis madunya.

"Hallo!"

"Hei, Mas, ke mana saja, tidak pernah meneleponku?" suara Heni menjawab di seberang sana.

"Oh ya, maaf. Aku sangat sibuk. Apa kabarmu?" tanyaku.

"Aku baik-baik saja, Mas. Kapan kita bisa ketemu? Aku kangen nih — banyak yang ingin kuceritakan sama Mas," Heni menjawab dengan nada memelas.

"Oke, minggu depan saya ada waktu lowong. Bisa nggak Heni datang ke kotaku?" jawabku sambil memberikan pilihan.

"Oh, tentu. Aku sekarang sudah bebas karena suamiku sebulan yang lalu berangkat ke Arab Saudi menjadi TKI." Jawab Heni menerangkan keberadaan suaminya.

Waktu berlalu. Seminggu kemudian sesuai janji yang kusampaikan, Heni datang ke kotaku dengan menggunakan bus umum yang kujemput di terminal batas kota. Dengan bahagianya kusambut kedatangan Heni yang terlihat cukup lelah karena harus menempuh perjalanan dengan kendaraan yang kurang begitu nyaman.

Segera kuantarkan Heni dengan perlengkapannya menuju ke sebuah penginapan sekelas hotel berbintang kelas tiga yang membuat takjub mata Heni yang tidak menyangka akan menerima sambutan semeriah itu.

Tentunya hal ini tidaklah menjadi suatu yang menyulitkan dibanding penghasilan dan fasilitas yang diberikan kepadaku sebagai salah satu tenaga fungsional di perusahaanku.

Aku mengerti Heni begitu lelah sehingga tidak sedikitpun aku mau menyentuhnya. Biarlah Heni membersihkan badannya dan beristirahat, sementara aku kembali ke kantor merampungkan sisa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Sore itu sekitar pukul 16.30 aku menuju ke hotel tempat Heni kuinapkan, dengan tentunya tidak lupa sebelumnya mampir di butik terdekat, membelikan beberapa potong gaun dan lingerie yang cocok dengan tubuh Heni.

Karena kutahu apalah artinya seorang dari desa dengan penghasilan suaminya yang seadanya — takkan mampu membelikan pakaian seperti yang kubelikan. Padahal aku ingin Heni tampak menarik saat kubawa menikmati kehidupan kota malam ini.

"Eh, Mas sudah datang. Maaf, aku baru mandi, belum sempat berpakaian rapi." Heni menyambutku dengan balutan handuk yang nampak jelas garis dan lekukan tubuhnya.

Glek... Kutahan napasku untuk mengatur keseimbangan gerakan yang berada dalam celana dalamku melihat tubuh Heni yang memang sudah cukup lama aku rindukan.

"Heni, sini sebentar," ujarku memanggil Heni yang akan beranjak ke kamar mandi.

"Iya, Mas, ada apa?" Heni bertanya sambil mendekat ke arahku.

Sehingga begitu dalam jarak capaianku, kurengkuh Heni dan kucium dengan penuh nafsu kedua belah bibirnya yang merah merekah asli tanpa sapuan lipstik.

Ciumanku rupanya mendapat balasan yang tidak kalah ganasnya, sambil terdengar erangan-erangan kecil saat bibirku menelusuri leher dan melumat habis dua gundukan payudaranya berukuran 36 B yang belum tertutupi BH atau apapun, sehingga aku bebas seliar-liarnya memainkan peran ini.

"Akh, Mas, akkuu, kangggennn, Masss..." terdengar lirih suara Heni merintih kenikmatan saat tubuhnya kutidurkan di tempat tidur hotel, sambil tetap lidahku memainkan puting payudaranya secara bergantian, dan terus menjalar sampai ke pusar di perut Heni.

"Akh, Masss, ennnaakkkhhss..." lirih Heni yang menambah semangatku untuk terus bertarung.

Menyadari tubuhnya sudah telanjang bulat tanpa satu pun benang yang melindungi, Heni berusaha bangkit mengambil alih posisi dengan membanting tubuhku ke bawah dan melucuti baju serta celanaku hingga tidak tersisa sedikitpun secarik kain untuk menutupi tubuhku.

Ia meraih batang kenikmatan yang sedari tadi sudah berdiri dengan tegak, selanjutnya memasukkan ke dalam mulut mungilnya yang dihiasi bibir yang seksi, dengan terus menyedot keluar-masuk tanpa memberiku kesempatan untuk mengatakan jangan.

"Ohh, nikmat sekali, Heni. Terus, sayang..." ucapku meracau sebelum menyadari bahwa lubang vaginanya yang indah sudah dipertontonkan di mukaku — sehingga tanpa membuang kesempatan, kami melakukan posisi 69.

"Heni, aku rindu kamu..." ucapku sambil menikmati isapan Heni di kemaluanku yang sudah mulai terasa ada kedut-kedutannya.

Aku menegakkan posisi tubuhku dari posisi 69 sementara Heni masih melumat habis kemaluanku hingga dasar batangnya, sehingga terasa gigitan bibir Heni di pelirku. Aku pun mengimbanginya dengan meremas kedua belah payudara Heni yang sudah sangat keras menjulang karena dibaluti nafsu yang memuncak.

Setelah beberapa saat kami merubah posisi ke posisi klasik, Heni dengan lembutnya membelai kemaluanku untuk dibimbing ke dalam lubang vaginanya secara perlahan-lahan.

"Akhhhhhssssss..." Heni mengulangi meracau dengan lirih saat batang kemaluanku mendesak ke dalam lubang vagina Heni. Kaki Heni mengapit dan menjepit tubuhku seakan tidak rela kemaluanku yang sudah menancap di dalamnya lepas.

Aku pun tidak pernah rela melepaskan kenikmatan ini — dengan memberikan efek getar keluar-masuk kemaluanku secara cepat ke dalam vagina Heni yang berakibat tersemburlah teriakan kecil dari mulut Heni.

"Ohhh, Masss, eennnaakk!!!"

Beberapa menit kemudian, dengan posisi yang tidak berubah, terasa kemaluanku semakin berdenyut keras.

"Oh, Heni, rasanya aku mau keluar."

"Tahan dikit, Mas. Heni mau keluar juga. Kita sama-sama ya," jawab Heni memelas.

Tentunya mendapat sinyal seperti itu, kuperkuat getaran alami yang terasa mulai berdenyut.

"Ohh, ohhh, ohhh, Mas, aku keluaarrr...!" jerit Heni mengimbangi keluhan lirikku saat lahar panas telah menyembur.

"Ohhhh..."

Pertarungan selesai. Aku melihat jam menunjukkan pukul 17.15 — jadi kami bercinta kurang lebih tiga perempat jam. Kulihat Heni terkulai lemas di sisiku dengan percikan air mani yang tersembur saat gerakan kami yang tidak terkontrol.

"Heni, mandi yuk. Kitakan belum makan malam?" ajakku ke Heni yang terlihat enggan membuka matanya setelah melepaskan rindu birahi yang ditahannya selama ini.

"Iya, Mas. Kita barengan aja," jawab Heni sambil menjulurkan tangannya minta ditunutun ke kamar mandi — akibat lututnya yang masih lemas.

Malam itu kami menghabiskan waktu di sebuah kafe dengan pemandangan menghadap ke laut. Sungguh indah panorama malam itu, apalagi Heni dengan balutan gaun malam yang kubelikan khusus untuknya. Hilang sudah sosok Heni sebagai wanita dari desa — semuanya terpoles dengan balutan suasana kota.

Cukup panjang lebar Heni bercerita: mulai dari kisah suaminya yang mulai tidak betah dengan kehidupannya sekarang hingga persoalan perkawinannya yang mulai goyah akibat suaminya sudah mulai tergoda dengan gadis lain.

Menjelang tengah malam kami kembali ke hotel untuk menghabiskan segala kerinduan birahi yang telah lama kunanti.

Heni beranjak menaiki tempat tidur dengan lingerie tipis, sedangkan aku mengenakan kaos T-shirt dan celana model Hawaii tanpa menggunakan celana dalam. Sesaat kemudian Heni merapatkan tubuhnya dalam dekapanku dan kucium dengan mesra kening, selanjutnya disaksikan keremangan malam dengan lampu kamar yang temaram, kukecup bibirnya.

Heni pun membalas dengan kecupan yang tak kalah mesranya. Entah siapa yang memulai, kami berdua sudah saling melepaskan balutan kain yang menempel di badan hingga nampaklah di keremangan lampu redup dua tubuh yang saling menyatukan diri seakan tak terpisahkan.

Payudara Heni semakin mengeras dengan jilatan bibirku yang kian ganas yang mengalir dari payudara hingga ke bawah pusar — di mana terdapat sebuah gua kenikmatan yang dirimbuni padang rumput hitam yang mengeluarkan bau khas, semakin membawaku untuk menyiraminya dengan jilatan-jilatan yang hanya Heni yang bisa menterjemahkan rasanya. Sementara itu Heni tidak mau ketinggalan dalam permainan ini, meremas-remas batang kemaluanku yang sedari tadi juga sudah berontak untuk tetap berdiri dengan angkuhnya.

"Mas, puaskan aku, Mas..." Heni meminta dengan lirih di telingaku.

"Tentu, sayang..." Aku pun menjawabnya dengan terbata-bata akibat remasan dan kuluman Heni terhadap batang kemaluanku yang kian mengeras dan membesar tidak seperti biasanya.

"Ahkkkhhh, uhhhkh..." Heni terus mengerang menikmati saat kemaluanku secara perlahan kumasukkan ke dalam liang vaginanya yang mulai licin oleh cairan kenikmatan yang keluar dari sumbernya.

Entah sudah berapa banyak waktu yang kami habiskan, karena saat itu yang ada hanyalah kenikmatan birahi yang berulang-ulang kami capai, sehingga pada akhirnya kami menghabiskan malam itu dengan tidur tanpa dibalut sehelai benang pun hingga kokok ayam jantan di pagi hari yang membangunkan kami berdua.

Keesokan paginya, walau ayam sudah berkokok dengan riuhnya, rupanya mataku benar-benar sangat sulit untuk dibuka. Entah bagaimana ceritanya, dalam keadaan terlelap aku merasakan ada sesuatu yang meremas-remas batang kemaluanku dengan sangat nikmat. Begitu tersadar, aku melihat Heni dengan penuh nafsu meremas-remas batang kemaluanku yang nampak mulai menegakkan keberaniannya, sembari menggesek-gesekkan bibir vaginanya ke pahaku yang penuh ditumbuhi bulu.

"Akhss...!"

Tersadarku saat itu jika Heni sudah ingin memulai lagi permainan ini.

"Kenapa, sayang?" tanyaku kepada Heni pura-pura bingung.

"Oh, Mas. Heni pengen lagi..." pintanya lirih.

Tanpa menunggu jawaban dariku, Heni langsung menjilati sekujur tubuhku, khususnya di daerah sekitar perut hingga pelirku yang mulai berdenyut akibat rangsangan yang dilakukannya.

"Sabar, sayang. Aku pun tidak akan melewatkan kenikmatan ini," kataku dengan napas memburu.

Aroma sperma dan cairan vagina Heni yang belum sempat dibersihkan — hasil pertarungan tadi malam — begitu membaur menambah rangsangan yang mengasyikkan bagi kami berdua.

Dan saat Heni mulai melahap habis batang kemaluanku ke dalam mulut mungilnya, kuraih selangkangan Heni yang terbuka dan mulutku menjilatinya dengan sedikit menggigit halus kelentitnya, sehingga membuat Heni begitu menikmatinya.

"Ups, ups..." Suara erangan Heni yang tertahan akibat masih mengulum batang kemaluanku yang sudah kembali menunjukkan keaslian bentuknya.

"Oh, Heni, nikmatttttt..." Kataku lirih.

Tubuh Heni kubalikkan ke posisi missionary dengan mengganjal pantatnya dengan bantal, dan kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kenikmatan. Dengan nakalnya kugoyangkan, yang menimbulkan suara cepak-cepok.

"Ohkksssss, Masss, nikmat...!" sekali lagi Heni menjerit nikmat ketika aku menggoyangkan batang kemaluanku seakan mengebor dengan RPM tinggi.

Setelah berjalan beberapa puluh menit, aku membisikkan kata ke telinga Heni.

"Sayang, kamu pindah ke atas..." Tanpa menjawab, Heni menuruti kemauanku. Dengan posisi tegak, wajah menutup mata menghadap ke langit-langit kamar, Heni menggoyangkan pantatnya sambil sekali-kali memutarnya. Kedua payudara indah itu bergerak naik-turun mengikuti irama gerakan Heni, diiringi suara erangan seperti seekor serigala yang melolong saat bulan purnama.

"Mas, aduh, aaksss, aku mau keluarrr..." Heni melolong.

"Tahan, sayang. Aku pun terasa mau keluar juga," jawabku memohon untuk keluar bersama-sama.

"Akhhhh, sayanggggg, sudah nggak tahannnn..." Heni menjerit dan di saat bersamaan pula aku mengeluarkan semburan lava dari sumbernya.

"Ohhhh, yessssssss!!!!"

Bagai makhluk yang sudah tidak bernyawa, kami berdua ambruk di tempat tidur hotel akibat kehabisan tenaga setelah pertarungan yang maha dahsyat di pagi hari ini.

Namun hal itu tidak berlangsung lama — karena selang beberapa menit, dengan saling memapah kami berdua berdiri menuju kamar mandi dan berendam di bathtub dengan kucuran air hangat, untuk selanjutnya berkemas, berpakaian, dan menuju restoran hotel untuk sarapan pagi.

Hari ini merupakan sisa waktu yang akan kami habiskan sebelum Heni kembali ke desanya setelah mendapat kabar bahwa sang suami akan kembali ke kampung halaman akibat ada permasalahan di tempat kerjanya di Saudi Arabia sehingga ia harus kembali lebih cepat dari waktu yang direncanakan.

Tiga bulan berikutnya, Heni mengabarkan bahwa ia sudah telat menstruasi — yang tentunya adalah hasil pertarungan nafsu birahi kami berdua. Untunglah suami Heni sudah kembali sehingga tidak ada kecurigaan jika janin yang dikandung Heni adalah hasil sebuah perselingkuhanku dengan Heni yang indah. Entah akankah terulang lagi — hanya kami berdua yang tahu.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya