18px

Selingkuh Hati: Santi

Selingkuh Hati: Santi

Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu (baca: Perselingkuhan Istri Muda 1–3), aku masih melakukannya beberapa kali sampai kami benar-benar menghentikannya. Walaupun demikian, kami masih tetap berkomunikasi. Walau dalam batinku kadang-kadang menginginkannya, aku tetap harus menghormatinya dan hubungan kami hanya sebatas teman kerja biasa. Untuk itu aku berusaha mengalihkan perhatianku agar tidak sesering mungkin bertemu dengannya.

Di kantorku ada seorang teman yang juga merupakan teman dekat Anita — Santi namanya. Mereka berdua bergabung dengan perusahaan kami bersamaan, sehingga memang sudah akrab sejak pertama masuk kerja. Dibandingkan dengan Anita, Santi bertubuh sedikit lebih tinggi dan langsing. Berparas manis, bahkan aku terkadang memandangnya sebagai wanita yang cantik. Rambutnya sebahu dan bergelombang. Walaupun tidak memiliki payudara yang besar, bila sedang berjalan ia terlihat seksi sekali.

Sama dengan Anita, aku dengan Santi memiliki hubungan yang dekat — bahkan aku rasa lebih dekat. Aku sering memijatnya di jam kantor apabila Santi merasa pegal dan lelah. Pada saat memijatnya, aku sering memperhatikan payudaranya yang tidak besar, namun ingin sekali aku menyentuhnya. Hmm...

Seringnya aku bercanda atau memijatnya membuat suasana di kantor menjadikan itu hal yang biasa. Walaupun ada sorot mata cemburu — terutama dari laki-laki yang menyukai Santi — kami acuh saja, karena kami berdua menganggap satu sama lain hanya sebagai teman biasa dan tidak ada perasaan apa pun di antara kami. Sampai suatu saat...

Santi tinggal di kos sejak dia kuliah. Berasal dari NTB, orang tuanya masih tinggal di sana. Suatu hari, akhir pekan di bulan Mei lalu, aku ditelepon untuk segera datang ke kosnya di bilangan Menteng.

"Ada apa sih, San?" tanyaku.

"Tolongin gue dong, gue nggak bisa ngeluarin DVD dari komputer. Kemarin karena hang, gue matiin aja. Tapi sejak itu DVD-rom gue nggak bisa dibuka. Hari ini gue harus balikin DVD ke rental," katanya.

"Emang nggak bisa dipaksa? Setahu gue ada lubang kecil di depan yang bisa dicolok untuk dibuka secara manual — lubangnya kecil, lu sodok aja pakai lidi atau kawat kecil, atau klip kertas yang dilurusin dulu."

"Woi, lu mau bantu gue nggak? Gue nggak mau maksa DVD-rom gue. Ntar gue kena pidana perkosaan, lu mau tanggung jawab?" jawabnya ketus.

"Sett, dah nih bocah! Galak amat sih lu?"

"Emang!" katanya.

"Ya udah, gue ke sana. Eh, depan kos lu udah nggak ada beling kan? Kalau masih ada, tolong sapuin dulu ya? Ntar kaki gue luka."

"Emang lu ke sini nyeker, nggak pakai alas kaki? Cepet ke sini, bawel!"

Tak lama setelah itu, aku pun meluncur ke arah Menteng.

Sesampainya di depan kos Santi, terlihat sepi sekali. Berkali-kali aku ketuk pagar, tetapi tidak ada sahutan. Santi memang berada di lantai dua dan posisi kamarnya ada di belakang, jadi wajar bila ia tidak mendengar ketukanku. Tidak sabar karena matahari mulai terasa panas, aku telepon Santi.

"Woi, San, gue di depan nih, bukain pagar dong?"

"Iya, sebentar, gue turun," kata Santi, lalu langsung mematikan telepon.

Tidak lama kemudian ia datang dan langsung membukakan pagar.

"Sepi amat sih, San? Pada ke mana orang-orangnya?" tanyaku.

"Ada kok. Mungkin mereka nggak denger aja. Teman kos banyak yang keluar. Kalau si Mbak — pembantu — ada di belakang," jawab Santi.

Setelah menutup pintu pagar, Santi masuk ke dalam dan aku mengikutinya dari belakang. Hari itu Santi menggunakan celana pendek gombrong di atas lutut dengan kaos warna putih. Aku terus mengikutinya sambil memperhatikan tubuhnya yang berjalan dengan gemulai, memperlihatkan lekukan badan dan bongkahan pantatnya yang bulat. Sesampainya di dalam kamar, aku langsung menghampiri komputernya dan membuka perlengkapan yang sudah kusiapkan dari rumah.

Akhirnya aku berhasil mengeluarkan DVD secara manual. Setelah kuhidupkan, aku mencoba DVD-rom untuk memastikan drive tersebut masih bisa digunakan seperti semula. Setelah yakin semuanya beres, aku pun berniat pamit pulang.

"Emang ngapain lu pulang buru-buru? Ngapel juga nggak, kan?"

"Iya sih, gue cuma nggak enak aja lama-lama di sini. Nggak enak sama temen-temen kos yang lain. Lagian ntar cowok lu dateng gimana?"

"Temen kos yang lain di lantai dua pergi keluar — entah ke mana. Kalau cowok gue lagi ke Medan."

Konon, dengan pacarnya ini Santi pernah hamil dan memiliki anak di luar nikah karena hubungan mereka ditentang keluarga. Karena sesuatu hal, keluarganya menutupinya — sampai saat ini mereka belum menikah, walau sudah pacaran sejak SMA.

"Mending lu bantuin gue bersih-bersih kamar," kata Santi kemudian.

"Bersiin kamar lu? Emang apanya lagi yang dibersihin?" aku menjawab sambil celingak-celinguk sekeliling kamar.

Memang banyak sekali barang yang menumpuk di kamar kos Santi, tetapi semuanya ditata apik dan tidak ada sedikit pun kotoran yang terlihat. Aku pun menghampiri kamar mandinya yang terletak di dalam kamar — itu pun terlihat bersih. Sementara Santi memperhatikanku dengan heran.

"Apanya yang dibersihin? Oo, maksud lu barang-barang ini mau 'dibersihin', dikeluarin gitu?" tanyaku.

"Bukan! Maksud gue lu bantuin ngangkat barang-barang ini. Gue mau bersihin di belakangnya. Kelihatannya sih bersih, tapi hanya di atas doang. Gue mau bersihin barang di atas lemari itu," Santi menerangkan sambil menunjuk tumpukan barangnya di atas lemari. Memang banyak sekali. Dan baru aku perhatikan ada sedikit debu dan sarang laba-laba di sana.

"Woi, ditanya malah bengong! Males ya? Hahahaha."

"Ayoo lah, nggak. Gue tadi baru liat ada sarang laba-laba. Ternyata lu penyayang binatang juga, toh? Ngerajutin sarang di atas lemari."

"Cerewet amat sih! Udah, sekarang kita mulai," kata Santi.

"Eh, di sini ada minum nggak? Nanti kalau gue haus gimana?"

"Ya ada dong. Emang gue kos di sini nggak pernah minum? Dikira gue onta, cuma minum sekali lalu tahan puasa dua hari? Di kulkas ada tuh. Kalau mau, tapi self-service ya!"

Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar celotehan Santi, sementara Santi melotot menahan kesal. Kami pun mulai bekerja. Sambil sesekali terbatuk-batuk karena debu di atas lemari ternyata banyak sekali, kami bergotong royong melakukan proyek kebersihan. Aku bertugas mengangkat barang-barangnya, sementara Santi yang bertugas membersihkan.

Di saat-saat tertentu, berulang kali payudara Santi terlihat olehku — hal itu membuat aku tambah bersemangat bekerja, walau terbatuk-batuk diterjang badai debu. Setelah hampir satu setengah jam, kami pun selesai. Aku duduk di lantai bersandar pada tempat tidurnya untuk melepas lelah. Tak lama kemudian Santi membawa dua gelas minuman dan menyodorkan satu gelas kepadaku.

"Eh, katanya self-service? Ini gelas isinya apa?"

"Minyak rem!" kata Santi sengit.

Sambil tertawa aku menerima gelas yang disodorkan, minum sedikit, lalu meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur. Kemudian aku berdiri dan berjalan ke belakang kamar.

"Ehh, mau ke mana lu? Dikasih minum malah kabur," tanya Santi.

"Minjem kamar mandi lu, gue mau cuci muka. Muka gue lengket," jawabku.

"Jangan ngabisin sabun gue ya? Kalau makenya banyak, pakai sabun colek aja, atau yang di kotak plastik itu, ada Rinso."

"Terus, habis itu digilis sama mesin kan? Emang muka gue muka dandang?"

Santi tertawa mendengar jawabanku, sementara aku mulai membilas mukaku kemudian membersihkannya dengan sabun muka milik Santi.

Setelah itu, aku kembali ke kamarnya. Kulihat Santi sedang menonton DVD Lord of the Rings yang tadi macet di komputernya. Mungkin karena takut macet lagi, ia menontonnya dengan player DVD. Saat itu Santi menonton sambil memijat-mijat kakinya sendiri.

"Kenapa kaki lu, San?" tanyaku.

"Rada pegel nih."

"Sini gue pijitin. Eh, mau nggak?"

"Ya mau lah, pakai nanya segala. Di kantor aja mau, apalagi kalau lagi bener-bener butuh?"

Aku pun segera ambil posisi. Santi duduk di lantai dengan bersandar pada tempat tidur, sementara aku di samping kakinya. Sambil memijat, aku bertanya, "Emang lu belum nonton film ini?"

"Udah yang bagian depan doang, yang belakang-belakang belum. Karena macet, gue belum sempat nonton lagi."

Kami tidak banyak bicara — terutama Santi, karena asyik menonton film yang diputarnya. Sesekali ia meringis menahan sakit pijatanku. Setelah kedua kakinya kupijat, Santi minta punggungnya juga kupermak. Posisi pun kami rubah, sekarang aku di belakang Santi. Sambil menonton, aku melakukan pijatan dari bahunya, turun ke pinggang, kemudian ke bahu lagi, terakhir dari bahu turun ke telapak tangan.

Karena yang ditonton adalah sesi terakhir, film yang diputar tidak lama. Setelah Santi mematikan DVD-nya, ia mengubah ke channel lokal dan kembali menghampiriku. Kali ini ia tidak duduk di lantai, tapi di pinggir tempat tidurnya.

"Pijetin kaki gue lagi dong? Ntar balik ke punggung lagi ya?"

"Iya, tapi lu jangan molor. Nanti gue pulang gimana?"

"Emang kenapa, lu mau gue anterin pulang ke rumah?"

"Kagak. Maksudnya, masa gue ngeluarin diri dari kos sendirian."

"Nggak lah, nggak tidur kok. Udahlah, ayoo dong," pinta Santi.

Aku pun mulai memijat kakinya satu per satu. Sambil memijat dan dipijat, kami mengobrol soal kantor dan pengalaman-pengalaman yang pernah kami lalui masing-masing, sesekali melirik acara di TV bila ada yang menarik. Karena posisi Santi duduk di pinggir tempat tidur dengan kaki menapak di lantai sedangkan aku duduk di lantai menghadap kakinya, leherku mulai pegal. Aku pun membalikkan badan untuk bersandar ke tempat tidur. Dengan posisi itu aku bisa melihat TV tanpa harus memalingkan kepala — namun kondisi ini mengharuskan kepalaku berada di depan selangkangan Santi.

"Sorry San, rada pegel leher gue. Nggak papa kan? Kaki lu dinaikkan ke pundak gue aja," tanyaku.

"Nggak papa. Malah enak bisa nindih pundak lu. Hehehe."

Sambil nonton dan mengobrol, kupijat kakinya dari bawah ke atas, kiri dan kanan. Entah sadar atau tidak, sesekali Santi merapatkan selangkangannya di belakang kepalaku. Karena aku tidak enak, aku tidak mau berbuat banyak — takut Santi tidak suka dengan ulahku. Terakhir, setelah memijat dari atas lutut hingga mata kaki, kupijat telapak kakinya. Setelah selesai, aku kembali memijat ke atas kedua kakinya sambil membalikkan badan agar bisa memijat keduanya dengan kedua tanganku. Begitu berbalik, aku melihat Santi sudah merebahkan badannya di tempat tidur.

"San, udah enak kakinya? Mau diterusin atau nggak?" tanyaku.

"Terusin dulu dong," pinta Santi.

Aku pun meneruskan pijatan hingga pangkal pahanya. Tetapi aku tidak berani terlalu lama berada di situ. Aku naikkan tangan hingga ke perutnya, kemudian turun lagi ke kaki. Karena Santi diam saja, aku mulai memberanikan diri memasuki celah kakinya yang terbungkus celana pendek — itu pun tidak lama, takut Santi marah. Tidak terasa, ulahku itu membuatku ikut memanas.

"San, mau dipijat mana lagi?" tanya aku sambil tangan memasuki celah celananya.

"Terserah deh, yang mana?"

"Kalau yang tengah?" tanyaku dengan ceroboh, lalu menahan napas menanti jawabannya.

"Terserah..."

Hawa yang panas di luar bertambah panas mendengar jawaban Santi. Kedua tanganku pun semakin nakal memasuki celah celana pendeknya lebih dalam — yang satu ke arah bawah memijat bongkahan pantatnya yang bulat, yang satu memijat pangkal pahanya di depan vaginanya. Sesekali aku melakukan elusan di vaginanya yang masih tertutup celana dalam dengan menggunakan kelingkingku.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya