Selingkuh Hati: Tamat
Selingkuh Hati: Tamat
Santi mengangguk sambil tersenyum manis kepadaku. "Dari dulu aku memang sudah tertarik dan suka dengan kamu. Di mataku, kamu orangnya baik, calm, dan sopan. Aku juga sudah menduga bahwa kamu bisa bermain seks berulang-ulang tanpa lelah. Terbukti kamu sudah orgasme dua kali tapi malah terlihat segar. Kok, kamu bisa seperti itu sih, minum obat ya?"
Aku mendengarkannya sambil berulang-ulang mengecup lengannya dan kemudian membelai wajahnya. "Minum obat? Obat apa? Obat-obitan? Hehehehe, enak aja. Aku kan nggak ada persiapan kalau akhirnya aku ML sama kamu? Eh, semalam aku sih emang minum obat diare," jawabku enteng.
"Eh, emang kamu kenapa?"
"Sakit perut lah. Emang sakit panu?"
"Sekarang masih nggak?"
"Nggak, udah sembuh kok. Kenapa?"
"Ooh, kirain masih sakit perut. Bisa gawat! Kalau kamu orgasme, yang keluar bukan dari penis, tapi dari pantat! Kalau gitu kan, gue yang bingung. Hahaha."
"Idih, jorok amat sih lu! Nggak disangka, cantik-cantik jorok. Hahahaha."
"Ee, jangan asal ya! Gini-gini juga lu mau sama gue! Buktinya mau jilatin vagina gue — dari depan sama dari belakang, kan?"
"Habis, aku kan emang pengen banget nyetubuhi kamu. Lihat pantat kamu aja aku udah horny, apalagi bersetubuh!"
Santi tertawa mendengar celotehanku itu. Kemudian aku bangun untuk meneguk segelas air yang tadi diletakkan di meja. Sementara Santi ke kamar mandi, aku yang sudah selesai minum mengikutinya. Di dalam kamar mandi, Santi membasuh vaginanya dengan air, kemudian mengeringkannya dengan handuk. Aku memperhatikannya dengan seksama. Setelah selesai, aku menghampirinya dan memberi kecupan mesra pada tengkuknya.
"San, aku mau lagi, boleh ya?"
Dengan posisi berdiri, aku sisipkan penisku yang sudah agak mengeras ke vaginanya dari belakang, sementara tanganku yang satu meremas payudaranya dari dalam bajunya. Setelah mengangguk, Santi merespons dengan menunggingkan pantatnya dan mengangkat satu kakinya ke kakus. Diiringi desahan panjang, aku menggenjotnya perlahan-lahan. Desahan demi desahan mengiringi menit dan gerakan kami yang semakin kencang. Dalam posisi yang sama itu kami melewati kenikmatan bersetubuh dengan rasa sayang dan mesra.
Sambil berpegangan di pinggir bak mandi, Santi merespons setiap gerakan aku yang menyetubuhinya sambil meremas pantatnya yang kenyal. Akhirnya persetubuhan kami diakhiri dengan jeritan tertahan dari Santi yang merespons orgasmenya, sementara aku mendekapnya erat saat aku merasakan orgasmeku dan menyemprotkan cairan cintaku di dalam vaginanya.
Santi menghempaskan tubuhnya di pinggir bak mandinya. Peluh dan rasa nikmat menjalar di tubuh kami berdua. Dengan penis masih tertancap di vaginanya, aku membelai lembut rambutnya dan memberi kecupan sayang ke pelipis kirinya. Santi berbalik dan mengecup lembut bibirku.
Setelah itu, sambil memegang penisku, Santi berkata, "Aku bersihkan, ya?"
Dengan tersenyum aku mengangguk. Kemudian Santi mengambil gayung dan mulai membersihkan penisku. Setelah mengeringkan dengan handuk, sambil berjongkok Santi mengocok penisku dengan perlahan, kemudian mengulumnya dengan lembut sekali. Aku menikmati permainannya dengan memejamkan mata. Rasa nikmat dan geli menjalar di dalam tubuhku dengan cepat. Aku menariknya berdiri dan mencium bibirnya dengan dahsyat sambil memainkan klitorisnya, kemudian menariknya kembali ke kamar tidur.
Di kamar, aku duduk di pinggir tempat tidur dan menarik Santi agar duduk di pangkuanku. Santi mengerti dengan permainanku kali ini. Dengan segera ia mengambil posisi dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Sedikit demi sedikit penisku amblas ke dalam vagina Santi yang duduk berhadapan denganku. Setelah masuk semua, aku mencium bibirnya yang indah dengan penuh nafsu dan semangat.
Santi merespons ciumanku dengan menyedot ujung lidahku, sambil berusaha melucuti kaosku. Aku pun ikut membantu. Setelah BH kubuka, terpampanglah payudaranya yang indah — tidak besar, tapi membuat nafsuku tambah bergelora. Walaupun ada sedikit lipatan lemak di tubuhnya, nafsuku bertambah naik saat melihat tubuhnya bugil.
Sambil bergerak naik turun, tubuhnya tidak luput kuserang dengan remasan dan jilatan lidahku. Dengan tangan kiri meremas payudara kanannya, aku menyedot payudara kirinya dengan memainkan putingnya dengan ujung lidahku. Kemudian aku menjilati dan mencium setiap senti tubuhnya bagian depan sambil meremas pantatnya dari depan. Sementara Santi menggerakkan tubuhnya semakin liar — naik turun dan memutar pantatnya. Saat itu penisku seperti diremas dari atas, nikmat dan panas. Seiring waktu, gejolak orgasme pun semakin dekat.
Gerakan-gerakan Santi yang kian liar membuat orgasmeku tidak tertahan. Dengan dekapan yang kencang pada tubuh Santi, aku merapatkan tubuhnya padaku sambil melepas orgasmeku. Setelah itu aku mencium leher dan bibirnya dengan mesra.
Aku tahu Santi belum sampai. Oleh sebab itu, masih dalam pelukanku, aku mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di tempat tidur. Dengan gaya konvensional, aku setubuhi kembali tubuhnya dari atas. Tubuhnya yang indah dan wajahnya yang cantik tidak menyulitkan libidoku untuk bangkit. Dengan memegang pergelangan tangannya di kiri dan kanan kepalanya, aku menjilati tubuhnya dan payudaranya, tidak ketinggalan lengan dan ketiaknya.
Bunyi khas vagina yang becek karena cairannya dan spermaku — ditambah tubuhnya yang berguncang karena sodokanku — menambah nafsu untuk menyetubuhinya semakin memuncak. Santi yang telentang dengan kaki-kakinya melebar segera mengunci tubuhku rapat-rapat. Diiringi desahan panjang dan erangan tertahan, ia pun orgasme dalam pelukanku. Setelah reda, aku merapatkan kakinya di depanku. Sambil memeluk kakinya, aku menyetubuhinya untuk mendapatkan kenikmatan puncak. Dan terjadilah. Dengan melepas pelukan pada kakinya dan memeluk tubuhnya rapat-rapat, aku tekan penisku dalam-dalam ke vaginanya dan menyemprotlah cairan cintaku dengan derasnya.
Masih dalam posisi memeluk, aku menciumnya kembali. Senyuman manis terhampar di wajahnya, walau aku melihat ada rasa lelah di sana. Aku mencium seluruh wajah dan dagunya sambil berkata, "Kamu lelah sekali, San. Kamu istirahat dulu ya?"
Santi merengut. "Emang, kamu mau ke mana, pulang?"
"Iya, udah mau malam, San. Nanti kalau malam-malam aku tiba-tiba berubah jadi semangka gimana?" kataku.
"Biarin! Aku taruh aja di kulkas. Kan aku bisa ngeluarin kapan aja aku mau."
"Maksud kamu, aku harus tinggal di sini gitu?" kataku dengan lembut.
Santi diam mendengar pertanyaanku. Tiba-tiba tangannya bergerak dan memelukku rapat-rapat.
"Santi, walau bagaimanapun aku harus tetap pulang ya? Kapan pun kamu mau jalan atau bertemu, aku usahakan pasti datang kok. Nggak enak, nanti kalau ketahuan sama pacar kamu, gimana?"
Perkataanku itu membuat pikiranku kosong beberapa saat. Sebenarnya aku berkata seperti itu dengan penuh pertentangan di dalam batinku. Aku memang suka sekali dengan Santi sejak dulu. Tapi karena ia sudah punya tunangan dan kami berbeda prinsip, aku kemudian mundur. Oleh sebab itu akhirnya aku mengalihkan perhatianku kepada Anita, yang masih satu prinsip denganku — walau akhirnya dia menikah dengan teman kuliahnya.
Walau dengan berat hati, akhirnya Santi mengizinkan aku pulang. Sebenarnya aku memang ingin sekali menerima tawarannya untuk menginap di kosnya. Tetapi ada banyak hal yang harus aku utamakan, tidak hanya seks atau perasaan sayangku padanya.
I long to know your touch. I wish to kiss your lips. I want you to be mine. I have no idea of how you feel. I am risking all, I know.
Setelah hari itu, aku masih sering bertemu dengan Santi di kantor. Baik di jam makan siang maupun setelah jam kantor, aku masih menyempatkan diri bertemu dengannya sesuai janjiku. Hanya saja aku harus tetap memendam perasaanku yang sebenarnya padanya. Walau pada kenyataannya aku beberapa kali bermain seks dengannya, perasaan sayangku padanya dapat kutenggelamkan dengan nafsuku itu.
Beberapa kali aku menyetubuhinya setelah kejadian itu — baik di kosnya maupun di hotel dekat kantorku. Kalau keinginan kami sudah memuncak, pernah pula kami lakukan di kantor. Dengan menghadap ke kaca gedung, kami melakukannya dengan cepat sambil menikmati pemandangan kota Jakarta dari balik kaca. Sudah tentu kami melakukannya dengan posisi berdiri dan berpakaian lengkap — hanya menyibakkan roknya (pernah dengan celana panjang) dan aku cukup membuka resletingku, aku menyetubuhinya dari belakang. Atau berhadapan dengan kaki Santi yang satu naik ke atas kursi. Walaupun ruangan yang kami pergunakan adalah ruangan sisa tak terpakai di belakang ruangan utama dan kedap suara, kami tetap merasa was-was dan berhati-hati bila bermain seks.
Demikianlah pengalamanku dengan Santi, wanita yang pernah kucintai sesaat walau masih tetap kusayangi. Biarpun aku samarkan, aku rasa ia akan tahu siapa yang diceritakan di atas — walau aku yakin dia tidak pernah membaca situs ini. Tetapi apabila membaca cerita ini, maafin aku ya...
Time has not diminished the feelings you create inside of me. My soul quivers when I think of our closeness, of our hearts entwined. I savor your touch. It awakens sensations that I thought could only belong to those discovering new love. I gave you all of me when we made our commitment to each other. I am yours, since then, until forever. I love you.
Tamat