18px

Bab 1

Siang Bersama Nia

Namaku Firman. Aku berusia 23 tahun dan saat ini kuliah sekaligus bekerja. Cerita ini bermula pada saat aku jalan-jalan dengan teman-teman di suatu kawasan di Jakarta yang memang sudah cukup terkenal di kalangan anak muda.

Saat melintas di Jalan Sudirman, aku melihat seorang wanita dan menghentikan kendaraanku, lalu kami pun berkenalan. Wanita tersebut bernama Nia; dia berumur 19 tahun dengan tinggi kurang lebih 175 cm dan ukuran bra 36C. Aku menawarkan untuk mengantarnya pulang dan dia pun setuju, sehingga kami jalan pulang tanpa ada apa-apa.

Keesokan harinya pukul 10.00, Nia menghubungiku via HP. "Halo, Firman ya?" "Siapa nih?" tanyaku. "Nia, masa lupa—yang semalam kenalan." "Oh, iya... lagi di mana nih?" "Lagi di Blok M, kamu ada acara nggak hari ini?" "Ehm, nggak ada tuh, kenapa?" jawabku. "Bisa jemput?" "Ya udah, di mana?" "Di McDonald Blok M aja, jam 11.00." "OK." Singkat cerita, aku langsung meluncur ke Blok M.

Sesampainya di sana kami ngobrol sejenak, lalu memutuskan untuk pergi. "Mau ke mana nih?" tanyaku. "Terserah kamu aja." "Main ke rumahku sebentar, mau nggak?" "OK," jawabnya dengan santai. "Ga takut?" tanyaku. "Takut apa?" "Kalau diperkosa gimana?" Tapi dengan santainya dia menjawab, "Ga usah diperkosa juga mau kok, hehe..." sambil melirik ke arahku dan mencubit manja pinggangku. Kemudian aku bertanya, "Bener nih?" Dia menjawab, "Siapa takut?"

Lalu segera kami meluncur ke arah rumahku di bilangan Tebet yang memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai, aku mempersilahkan Nia masuk; kami duduk bersebelahan dan aku menggodanya. "Bener nih nggak takut diperkosa?" Dia malah menjawab, "Mau perkosa aku sekarang?" ujarnya sambil membusungkan dadanya yang montok itu.

Aku tidak tahu siapa yang memulai—tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu dan saling melumat, memainkan lidah di dalam mulut masing-masing. Tangan kirinya melepas bajuku dan aku tidak mau ketinggalan, aku ikut membuka kaos ketatnya dan melepas BH-nya. Ciumanku menjalar menyusuri leher dan belakang kupingnya. "Ahh, esst, terus, yang..." Nia sudah mulai meracau tidak jelas saat lidahku turun ke dadanya, di antara kedua bukitnya. Lidahku terus menjalar di buah dadanya namun tidak sampai pada putingnya. Nia mendesah-desah, "Man, isep, Man, ayo, Man, gue pengin elo isep, Man..."

Namun aku tidak memperdulikannya dan masih bermain di sekitar putingnya, lalu turun ke perut sambil perlahan-lahan tanganku membuka celananya, dan masih tersisa celana dalamnya. Akhirnya kepala Nia ditarik dan ditempelkannya payudaranya ke mulutku. "Ayo, Man, isep, Man, jangan siksa gue, Man..." Akhirnya mulutku menghisap payudara sebelah kirinya sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara sebelah kanannya. "Ohh, aah, esst, enak, Man, terus sedot yang keras, Man, gigit, Man, ohh..." racaunya. Sambil kusedot payudaranya bergantian kiri dan kanan, tanganku bergerilya di bagian pangkal pahanya sambil menggosok-gosok klitorisnya dari bagian luar celana dalamnya.

Nia pun tidak sabar; akhirnya dia membuka celanaku termasuk celana dalamku sehingga mencuatlah kontolku yang sudah berdiri tegak itu. Nia terpana. "Gila, gede banget, Man, punya elo..." Dan tanpa dikomando, langsung Nia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang mungil—terasa penuh sekali mulut itu. Nia menjilat-jilat ujung kemaluanku, terus turun ke bawah sampai seluruh batangnya terjilat olehnya.

"Ah, enak, Ni, terus, Ni..." Aku pun menahan nikmat yang luar biasa. Akhirnya aku berinisiatif memutar tubuhku sehingga posisi kami menjadi 69. Sesaat aku menjilati bagian bibir vaginanya, Nia mendesah. "Ah, enak, Man, esst, terus, Man..." Akhirnya Nia menggelinjang hebat ketika lidahku menyentuh bagian klitorisnya. "Ahh, Man, aku sampai..." sambil mulutnya terus mengelum penisku—sedotan Nia pun semakin cepat dan kuat pada penisku; aku merasakan denyut-denyut pada penisku. "Ni, gue juga mau sampai, Ni, ahh..." "Barengan ya..."

Mendengar itu, Nia makin bernafsu menyedot-nyedot dan menjilati penisku, dan akhirnya... "Crot, crot, crott..." 8 kali penisku menyemprotkan sperma dalam mulut Nia dan dia menelan semuanya, sehingga kami pun mencapai puncak secara bersamaan. Akhirnya Nia pun menggelimpang di sampingku setelah menjilati seluruh penisku hingga bersih.

"Makasih ya, Man, aku dah lama nggak orgasme sejak suami gue kabur..." kata Nia. "Emang suami kamu ke mana?" "Ga tau, tiba-tiba dia ngilang setelah gue ngelahirin anak gue." "Lho, kamu udah punya anak?" "Udah, umur setahun, Man."

Kemudian Nia memeluk aku erat-erat. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke arahku, lalu aku cium bibirnya lembut; dia pun membalasnya, tapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Kemudian Nia memegang kemaluanku yang masih terbuka dan meremas-remasnya sehingga secara otomatis kontolku langsung berdiri dan mengeras. Kemudian Nia menaiki tubuhku lalu menjilati habis seluruh tubuhku mulai dari mulut hingga ujung kaki. "Ach..." desahku sejalan dengan jilatan di tubuhku.

Kemudian Nia mengulum penisku—terlihat jelas dari atas bagaimana penisku keluar masuk mulutnya yang mungil itu. "Ah, sst, enak, Sayang, terus sedot, Sayang, achh..." desahanku semakin mengeras. Lalu kuputar tubuhku sehingga posisi 69 dengan Nia di atas tubuhku, lalu aku menjilati vagina Nia dan mengisep klitoris Nia. "Ahh, enak, Man, terus, Sayang, aku sayang kamu, achh..." desah Nia meninggi.

Kemudian Nia memutar tubuhnya kembali dan memegang kontolku yang sudah siap tempur itu, dipaskannya ke liang vagina, setelah pas, perlahan-lahan diturunkannya pantat Nia sehingga perlahan-lahan masuklah penis aku ke liang senggama Nia. "Auw, sst, ohh, gede banget sih punya kamu, yang..." lirih Nia. "Punya kamu juga sempit banget, Yang, enak, ah..." kataku.

Perlahan-lahan aku tekan terus penisku ke dalam vaginanya yang sempit itu. Akhirnya setelah amblas semuanya, Nia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun sehingga membuat penisku seperti disedot-sedot. Nia berada di atasku sekitar 15 menit sebelum akhirnya dia mengerang. "Ahh, Sayang, aku keluar, Yang, ahh..." racaunya.

Setelah itu tubuhnya melemas dan memelukku, namun karena aku sendiri juga mengejar puncak, langsung kubalik tubuhnya tanpa melepas penisku yang ada di dalam vaginanya. Setelah aku berada di atasnya, langsung kugenjot Nia dari atas terus-menerus hampir kurang lebih 20 menit hingga akhirnya Nia mengalami orgasme yang ketiga kali dalam waktu yang singkat ini.

"Ahh, Sayang, aku keluar lagi, Sayang, ahh..." desah Nia. "Kamu lama banget sih, Sayang," desah Nia sambil terus menggoyangkan pinggulnya memutar. "Ahh, terus, Sayang, sst, enak, Sayang, terus..." racaunya. "Iya, aku juga enak, Sayang, terus, Sayang, ahh, enak, Sayang, mentok banget, ah..." racauku tidak kalah hebatnya.

Akhirnya setelah menggenjot Nia selama kurang lebih 40 menit, aku merasakan seperti ada yang mendesak ingin keluar dari penisku. "Sayang, aku mau keluar, Sayang." "Mau di dalam atau di luar, Sayang?" kataku. "Bentar, Sayang, aku juga mau keluar lagi nih, ahh..." desah Nia. "Di dalem aja, Sayang, biar aku tambah puas," desah Nia lagi. "Ahh, sst, Sayang, aku keluar, Sayang, ahh..." racauku. "Barengan, Sayang, aku juga sampai, ah, ahh, oh..." desah Nia. "Ahh, Sayang, aku keluar, Sayang, ahh, sst, ohh..." desahku. "Aahh!" menyemprotlah spermaku sebanyak 9 kali. "Emmhh..." saat itu juga Nia mengalami orgasme. "Makasih ya, Sayang," kata Nia sambil mencium bibirku mesra.

Setelah itu kami langsung membersihkan diri di kamar mandi. Di dalam kamar mandi pun kami sempat "main" lagi ketika saling membersihkan—tiba-tiba Nia jongkok dan mengulum kontolku kembali, dan aku dalam posisi berdiri mencoba menahan nikmatnya. Namun aku tidak tahan menahan gejolak yang ada, maka aku duduk di tutup WC dan Nia duduk di atasku dengan posisi menghadapku, lalu dia memasukkan kembali penisku ke dalam vaginanya. "Bless, ahh, sst, enak, Sayang, ahh..." racaunya mulai menikmati permainan.

Namun setelah 15 menit aku merasa bosan dengan posisi seperti itu, maka aku suruh Nia memutar tubuhnya membelakangi aku dan aku angkat perlahan tanpa melepas penisku. Lalu aku suruh Nia menungging dengan berpegangan pada tepian bak mandi dan ketika dia menungging, langsung aku genjot maju mundur sambil meremas-remas buah dadanya yang mengayun-ayun. "Ah, Man, aku mau keluar, Man..." desahnya. "Man, aah..." terasa cairan orgasme Nia kembali membasahi penisku.

Karena kondisi Nia yang lemas, aku memutuskan untuk melepaskan penisku. Nia melanjutkannya dengan mengulum penisku hingga akhirnya... "Ni, aku mau keluar, Sayang, ah..." Sambil kutekan dalam-dalam kepalanya ke arah penisku sehingga terlihat penisku amblas semua ke mulutnya yang mungil itu. Dan ketika Nia menyedot penisku, "Ah, Ni..." akhirnya aku semprotkan seluruh spermaku ke mulut Nia dan kulihat Nia menelan semua spermaku tanpa ada yang tumpah dari mulutnya; bahkan dia membersihkan penisku dengan menjilati sisa-sisa sperma yang ada.

Setelah itu kami saling membersihkan tubuh masing-masing dan kembali ke kamar dengan tubuh yang sama-sama telanjang bulat. Kami tiduran sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami, saling mencium dan meraba, serta ngobrol-ngobrol sejenak. Tanpa terasa kami sudah berada di rumahku hampir selama 4 jam. Maka akhirnya kami mengenakan baju masing-masing dan setelah itu aku mengantarkan Nia pulang ke kostannya di daerah Blok M dan berjanji untuk saling menghubungi. Hingga saat ini kami masih sering melakukan hubungan intim.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya