18px

Siksa yang Membawa Nikmat

Siksa yang Membawa Nikmat

Akhir-akhir ini banyak ditentang kekerasan dalam keluarga, khususnya tindak kekerasan suami terhadap istrinya. Aku pun sebagai wanita semula juga setuju dengan penentangan itu. Tetapi pengalaman yang kujalani memberikan pandangan lain; aku bisa menerima, bahkan amat menikmati kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadapku.

Aku ingin membagi pengalamanku ini berdasarkan kenyataan di lapangan, bahwa banyak wanita mengalami kekerasan dari suaminya dan mereka mengadakan penentangan tersebut—baik berupa tindakan untuk minta cerai maupun penentangan yang dilakukan secara psikologis saja karena merasa tidak berdaya. Penentangan, khususnya secara psikologis, malah membuat wanita menderita tanpa bisa berbuat apa-apa. Pengalamanku ini perlu kubagi, pertama karena di balik rasa sakit yang tak terperikan itu ternyata ada rasa nikmat yang jauh lebih besar daripada melayani suami secara "normal". Kedua, ternyata banyak juga pasangan suami istri yang mengalami masalah kelainan ini—baik si istri maupun si suami—tetapi karena tidak memahami permasalahannya, mereka mengambil jalan pintas untuk bercerai.

Ceritaku ini kuawali dengan pertanyaan yang kutujukan kepada Anda, khususnya kepada sesama wanita. Pernahkah Anda menginginkan, setiap saat, menangis menjerit-jerit kesakitan sambil meronta-ronta berkelojotan dengan tubuh berlumur darah penuh luka? Sama dengan Anda, aku pun tak pernah menginginkan hal itu, bahkan memikirkannya saja tidak pernah. Tapi nasib membuatku setiap saat membiarkan tubuhku disiksa sampai aku harus menjerit melolong kesakitan. Namun akhirnya aku bisa menerima hal itu, bahkan kini aku bisa menikmatinya—kini justru aku yang memintanya bila Ifan tidak menyiksaku.

Aku benar-benar menjadi ketagihan untuk mengalami siksaan yang mendatangkan rasa sakit tak terperikan, sebab ternyata di balik rasa sakit yang amat sangat, bila sampai ke tahap tertentu ketahanan kita, justru akan kita rasakan kenikmatan yang jauh lebih hebat daripada melakukan seks secara normal. Bagi suami pun hal ini mendatangkan rasa nikmat yang jauh lebih besar saat tubuh si istri mengejang keras menahan rasa sakit yang hebat, sebab pada saat itulah vagina si istri akan menjepit kuat kemaluan si suami—dan tentu saja ini mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa.

Ketika aku berpacaran dengan Ifan, aku pun tidak pernah membayangkan akan mengalami nasib seperti itu. Ifan penuh perhatian, amat menyayangiku, dan selalu memanjakanku. Ia juga punya masa depan yang pasti sebagai pengusaha muda yang sukses. Ia benar-benar pria idola gadis-gadis, amat sempurna tiada cacat sedikit pun, gagah dan tampan. Aku pun harus bersaing ketat dengan gadis-gadis lain untuk mendapatkannya, karena itu aku amat bahagia bisa bersanding di pelaminan dengannya.

Aku gemetar ketika harus tidur berdua dengan Ifan seusai pesta pernikahan di malam pertama; bagiku malam itu adalah pertama kalinya aku tidur di samping seorang pria. Tubuhku menggigil dan keringat membanjiri sekujur badanku ketika tangan Ifan mulai menyelinap di balik gaun tidurku dan dengan lembut meremas susuku. Aku ingin mencegah tangan itu meneruskan remasannya, tapi aku sadar bahwa aku kini adalah istrinya. Aku pasrah saja ketika tangannya mulai membuka baju tidurku dan dengan pelan melepas satu per satu pakaianku hingga aku tergolek telanjang bulat di sisinya. Sebenarnya aku malu sekali ketika ia memandangi tubuhku yang telanjang, tapi aku menyadari bahwa Ifan kini adalah suamiku, karena itu kubiarkan saja ketika bibirnya mulai mengulum puting susuku. Tubuhku bagaikan terkena aliran listrik, panas dingin tidak karuan ketika lidahnya mulai menari di susuku, menyebabkan rasa nikmat yang belum pernah kurasakan. Apalagi ketika kemudian tangan Ifan mulai membelai dan mengelus kemaluanku sementara mulutnya tetap mengulum kedua susuku bergantian. Gairah mulai menggelora dalam tubuhku dan aku mulai menyambut cumbuannya. Tak ada lagi rasa malu; gejolak dalam diriku membuatku lupa segalanya. Kupagut dan kupeluk tubuh Ifan dengan gemas dan liar, dan baik mulut maupun tangannya pun semakin liar menjelajahi bagian-bagian peka di tubuhku, membuat gairahku semakin menggelora. Aku sudah menantikan saat-saat yang membahagiakan ketika Ifan mulai menindih tubuhku dan bagian tubuhnya mendesak ingin menerobos masuk. Aku semakin liar dan ganas memagut dan memeluknya, seolah ingin seluruh tubuhnya kulumat dan kumasukkan ke dalam tubuhku.

Tiba-tiba Ifan mengeluh, lalu lemas terkulai di atas tubuhku. Nafsunya yang tadi menggelora membakar dirinya padam seketika meski ia tetap memelukku erat-erat. Aku yang menginginkan lebih banyak lagi darinya seketika ikut mendingin dan kembali seperti semula. Ifan dengan lemas turun dari atas tubuhku lalu terpekur diam. Ia memohon maaf atas perlakuannya padaku. Aku bisa memahami sepenuhnya bila ia masih mengingat Ida, karena itu aku membelai kepalanya dengan penuh kasih.

Ternyata kejadian tersebut tidak hanya sekali itu saja. Aku tetap amat bahagia mendampinginya, kecuali dalam satu hal: setiap dia mau melakukan tugasnya sebagai suami, pasti terhenti di tengah jalan.

Sekali dua kali aku masih bisa menerimanya, tapi setelah berkali-kali gagal, di hati kecilku mulai tumbuh kekecewaan dan kekesalan juga. Namun semua itu kupendam dalam-dalam dan tidak kuperlihatkan betapa kecewa hatiku setiap kali gelora nafsu yang sedang bergolak naik tiba-tiba harus dipadamkan. Aku tetap berusaha tampak bahagia, apalagi Ifan semakin memanjakan dan memperhatikan aku. Hampir semua hal tak boleh kukerjakan sendiri; dia sendiri yang mengerjakannya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kuperbuat setiap Ifan memohon maaf atas kegagalannya. Meski sebulan sudah aku menjadi pengantin, aku masih tetap perawan.

Malam itu kami menonton video porno di kamar tamu dan adegan-adegan di film itu membuat kami terangsang. Satu per satu pakaian kami lepas dari tubuh kami dan kami bercumbu di sofa. Tapi kembali ketika sedang mendaki ke puncak kenikmatan, Ifan melemas lagi. Entah siapa yang memulai, kami bertengkar—dan itulah pertengkaran pertama kami sejak berpacaran. Pertengkaran semakin hebat dan membuat kami lepas kendali sampai dia membentak:

"Ika, kupukul kau kalau nggak diam!"

Dibentak seperti itu bukannya membuatku takut, malah aku menantangnya:

"Coba, ayo pukul... ayo pukul..." kataku sambil mendekat.

"Ika... kuperingatkan kau..." bentaknya. Tampak ia benar-benar menahan amarah yang luar biasa; wajahnya merah padam, matanya melotot, dan giginya berkerot-kerot. Tapi aku tidak takut sama sekali, malah membuatku semakin berani. Mungkin kekecewaan yang selama ini kucoba sembunyikan akhirnya meledak juga.

"Ayo kalau kau lelaki, pukul aku... wong kau selama ini terbukti bukan lelaki..."

Perkataanku belum selesai ketika Ifan tiba-tiba merenggut cambuk hiasan yang menempel di dinding ruang tamu. Seolah tidak percaya melihatnya, ia mengangkat cambuk itu dan...

"Auughh...!" Aku melolong keras sekali. Tubuhku terasa terbelah menjadi dua oleh rasa sakit yang tak pernah terbayangkan ketika cambuk itu mendera tepat di dadaku, melibas kedua susuku terus melingkar ke punggungku. Kakiku terasa lemah dan tidak sanggup menopang tubuhku; aku jatuh berlutut di karpet. Belum sempat aku mengambil napas kembali, aku menjerit sekuat-kuatnya ketika Ifan kembali menyabetkan cambuk ke punggungku. Gemeretak gigiku menahan rasa sakit yang menyeruak ke seluruh tubuh hingga kepala ini seolah meledak ketika cambuk itu kembali mendera kedua susuku, melibas melingkar memotong tubuhku. Limbung aku seketika merasakan rasa sakit yang tiada terperikan itu dan aku jatuh terguling di karpet. Tampaknya kemarahan Ifan belum turun; belum sempat aku mengambil napas, kembali punggungku serasa terbelah oleh rasa sakit yang seolah meledakkan kepalaku.

Aku terus berusaha menghindar dengan berguling-guling di karpet sambil meringkukkan tubuhku sekecil mungkin, tapi Ifan terus mengejar dan menyabetkan cambuk itu berkali-kali.

"Aadduuhh... huuhuuhuu... aampuunn... hhentikkaann... aadduhh... ssaakitt... hhuuhhuuhhuu... aampuunn..." Aku memohon-mohon pada Ifan untuk segera menghentikan cambukan itu.

Tiba-tiba Ifan membuang cambuk di tangannya. Kukira selesai, tetapi ternyata tidak. Ifan menubruk tubuhku yang meringkuk di lantai, menelentangkanku dengan kasar, lalu ia menindihku dan tangannya dengan keras meremas kedua susuku yang luka akibat sabetan cambuk tadi. Aku merintih dan menangis kesakitan; rasa sakit akibat cambukan belum habis, kini ditambah dengan Ifan yang dengan buas dan liar mengulum dan menggigit kedua puting susuku.

Aku kembali menjerit-jerit kesakitan, tapi Ifan malah semakin ganas meremas, menggigit, dan entah apalagi yang dilakukannya padaku. Ketika kurasakan giginya menggigit puting susuku kuat-kuat, aku meronta-ronta sambil menangis karena rasa sakit yang tak tertahankan lagi, sampai aku ingin pingsan saja.

Dengan kasar direnggangkannya kedua pahaku dan kembali milik Ifan berusaha menembus lubang kemaluanku. Ia dengan liar dan ganas menekankan miliknya sambil tetap menggigit susuku, membuat aku menangis menjerit-jerit kesakitan. Ifan bukannya reda melainkan bertambah ganas dan kuat menekankan miliknya dan... krekk... terasa ada sesuatu yang robek dalam lubang kemaluanku.

Aku menjerit pelahan; rasa pedih terasa dalam kemaluanku dan aku mendorong Ifan, tetapi apalah artinya tenagaku melawan Ifan yang seperti kesetanan itu. Semakin aku mengaduh kesakitan ia malah semakin kuat dan cepat mengayun-ayunkan bagian bawah tubuhnya sehingga miliknya bergerak keluar masuk dalam lubang kemaluanku. Rasa nikmat mulai menyeruak di sela-sela rasa sakit yang masih mendenyut-denyut di seluruh tubuhku, dan rasa nikmat itu semakin lama semakin nyata kurasakan, hampir mengalahkan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhku.

Kupagut tubuh Ifan yang masih terus menindih dan meremas kedua susuku. Ia semakin liar menggerak-gerakkan miliknya dalam rongga tubuhku, membuatku melayang di awan kenikmatan, sampai pada suatu saat ia merangkulku sekuat-kuatnya sambil membenamkan miliknya sedalam mungkin dan menggerakkannya secepat mungkin, menyebabkan rasa nikmat yang belum pernah kurasakan. Aku melenguh dan memagutnya sekuat-kuatnya, dan kami larut dalam kenikmatan yang tiada tara. Namun bersamaan dengan itu, rasa sakit yang amat sangat kembali menyeruak ke otakku hingga kepalaku terasa mau meledak ketika pada puncaknya Ifan menggigit puting susuku kuat-kuat.

Tubuhku meronta dan mengejang menahan rasa sakit yang amat sangat, dan tiba-tiba vaginaku menjepit milik Ifan dengan kuat sehingga ia kesulitan menggerakkannya. Namun tampaknya justru hal itulah yang membawa Ifan ke puncak kenikmatan; terasa cairan hangat menyemprot dari miliknya, menjadikan rasa sakit dan rasa nikmat yang kurasakan bercampur menjadi satu yang tak terhingga.

Hampir pingsan aku merasakannya. Tubuhku lemas seolah tak bertenaga. Rasa sakit yang mendenyut-denyut menyadarkanku, dan kutolakkan tubuh Ifan yang masih menindihku. Berbagai perasaan mengaduk-aduk dalam diriku: marah, terkejut, menyesal, sekaligus juga senang, bercampur aduk. Marah sebab aku tak menyangka Ifan memukuliku seperti itu. Terkejut, aku tak menyangka Ifan yang biasanya menyayangiku tiba-tiba berubah menjadi setan yang berbuat sekasar itu. Menyesal mengapa Ifan sampai berbuat seliar itu memperkosaku, padahal aku menginginkan diperlakukan dengan lembut dan hangat. Tapi aku juga senang—ternyata Ifan tidak impoten seperti yang kutakutkan—dan aku juga senang bisa mempersembahkan keperawananku kepada suamiku.

Aku menangis tersedu-sedu, tidak saja oleh berbagai rasa yang mengaduk-aduk perasaanku seperti yang kuceriterakan di atas, tapi juga oleh rasa sakit yang mendenyut-denyut di sekujur tubuhku. Rasa sakit seolah menyentak-nyentak dari bekas cambukan di punggung dan dada, dan bekas gigitan Ifan di puting susuku. Ada pula rasa perih di selangkanganku.

Rupanya isak tangisku menyadarkan Ifan yang masih tergolek lemas setelah kutolakkan dari atas tubuhku. Dengan cepat ia memelukku dan memohon-mohon maaf sambil ikut menangis.

Semula aku masih marah dan kutolakkan tangannya yang mau memelukku. Tapi Ifan benar-benar menangis seperti anak kecil, memohon-mohon maaf dan berjanji tidak akan berbuat kasar lagi kepadaku. Akhirnya luluh juga hatiku, dan ketika entah ke berapa puluh kalinya ia memohon maaf, dengan pelan kuanggukkan kepalaku dan kubiarkan tangannya memelukku. Ia amat senang aku memaafkannya; dengan cepat ia bangkit dan menuju kotak P3K. Diambilnya obat dan kapas. Ifan kembali menjadi Ifan yang selama ini kukenal—kembali lembut dan penuh kasih sayang. Dengan masih memohon-mohon maaf serta berjanji tidak akan memukulku, diambilnya handuk dan dibasahinya dengan air hangat. Disekanya tubuhku yang penuh dengan bilur-bilur; beberapa di antaranya sampai mengeluarkan darah.

Aku merintih ketika luka-luka bekas cambukan itu terkena handuk basah. Rasa pedih yang amat sangat menyentak-nyentak sampai ke otakku, apalagi setelah diusap dengan obat luka yang amat pedih kurasakan. Aku tidak hanya merintih, tetapi menangis sambil mengaduh kesakitan.

Tiba-tiba kurasakan tangan Ifan gemetar dan matanya yang tadi lembut berubah menjadi ganas, kembali seperti tadi ketika ia memperkosaku. Aku semakin meringis kesakitan sambil mengaduh keras-keras ketika tangannya yang sedang mengusapkan obat pedih ke susuku tiba-tiba mencengkeram kedua susuku dengan kuatnya. Aku meronta-ronta, tapi Ifan tampak sudah lupa diri. Dengan kasar kedua tanganku yang berusaha menutupi susuku dipegangnya dan ditekan ke atas kepalaku. Dengan ganas dan liar kembali bibirnya mengulum puting susuku yang masih sakit, membuatku menjerit kesakitan.

Jeritanku dan rontaanku malah membuatnya semakin ganas; tidak saja ia mengulum kedua puting susuku, ia pun menggigitnya keras-keras sehingga aku semakin keras menjerit-jerit kesakitan sambil meronta-ronta ingin lepas dari tindihannya. Namun Ifan justru semakin liar dan ganas. Kepalanya terus turun dari dadaku, menjelajahi perutku, lalu—aku tak tahu bagaimana melukiskan rasanya—ketika kurasakan lidahnya menyentuh kelentitku sementara kedua tangannya kini meremas-remas susuku sekuat-kuatnya. Rasa nikmat bercampur rasa sakit membuatku semakin meronta-ronta.

Aku semakin menjerit-jerit histeris, tidak tahu apakah jerit kesakitan atau jerit kenikmatan, ketika kurasakan kelentitku dihisapnya kuat-kuat sehingga hampir seluruhnya masuk ke dalam rongga mulutnya dan kurasakan lidahnya bergerak lincah ke sana ke mari mempermainkan kelentitku di sela-sela giginya. Namun kemudian aku benar-benar menjerit kesakitan, bahkan sampai meraung-raung, ketika kurasakan gigi-gigi Ifan menggigit dan mengunyah kelentitku. Aku benar-benar merasakan rasa sakit yang amat luar biasa. Semakin aku menjerit, semakin buas pula Ifan menggigit dan mengunyah kelentitku.

Aku sudah hampir pingsan ketika Ifan menghentikan gigitan dan kunyahannya. Ia kembali berubah menjadi binatang buas yang mengerikan. Dengan kasar direnggangkannya kedua pahaku dan kembali ia menindihku sambil memasukkan miliknya ke dalam kemaluanku. Aku meronta-ronta sekuat-kuatnya karena sambil menggerakkan miliknya keluar masuk, kini mulutnya kembali menggigit dan mengunyah kedua puting susuku secara bergantian. Semakin kuat aku meronta, semakin keras aku menjerit dan menangis kesakitan, Ifan pun semakin ganas, sampai akhirnya terasa tubuhnya menekan tubuhku sekuat-kuatnya dan giginya yang tajam menggigit puting susuku hingga aku meronta sekuat-kuatnya dan kembali terasa cairan hangat menyemprot ke dalam lubang kemaluanku. Ada rasa nikmat, tapi rasa nikmat itu masih terkalahkan oleh rasa sakit yang tiada tara.

Kami tergolek lemas; tenagaku benar-benar sudah habis, tak kuasa aku menggerakkan ujung jariku saja. Kubiarkan Ifan tetap terbaring menindihku. Aku menangis tersedu, tidak saja oleh rasa sakit yang masih mendenyut-denyut dari bekas cambukan di punggung dan bekas gigitan Ifan di kedua susuku, melainkan lebih oleh rasa sakit hati dan kecewa. Betapa Ifan yang kucintai sepenuh hati, yang ingin kuserahkan segenap hidupku jiwa ragaku, tega berbuat sekasar itu padaku.

Mendengar tangisku, Ifan tersadar dan dengan cepat meloncat dari atas tubuhku. Aku bisa bernapas lega sebab ia sudah tidak menindihku lagi. Ifan tampak melotot memandangi tubuhku yang telanjang dan darah meleleh dari kedua puting susuku yang luka akibat gigitannya. Ifan tersadar dan kembali menangis memohon-mohon ampun. Aku yang masih lemas tak mampu menolak tangannya yang mengusap-usap kedua putingku yang luka, meski sebenarnya aku ingin marah dan tak sudi disentuh. Tapi mulutku tak bisa menahan aduhanku ketika Ifan membersihkan darah yang mulai mengering dari puting susuku. Mula-mula ia dengan hati-hati membersihkan darah dari sekitar puting susuku, namun lama-lama ketika mendengar rintih kesakitan dari mulutku, tangannya semakin kuat mencengkeram kedua susuku. Pasti saja aku merintih lebih keras sambil meronta-ronta.

Selanjutnya Ifan semakin ganas meremas-remas dan mencubit puting susuku, bahkan memilin-milinnya sehingga terasa darah kembali merembes keluar membasahi tangannya. Akibatnya aku semakin meronta-ronta dan rintihan kesakitanku semakin keras, dan Ifan pun semakin liar, semakin ganas, dan semakin buas memperlakukanku yang sudah tidak bisa melawan lagi. Ketika rasa sakit tak bisa kutahan lagi, aku meronta-ronta sambil menjerit-jerit kesakitan, tetapi justru hal itu semakin membuat Ifan buas dan liar. Ditelentangkan kembali aku yang berusaha telungkup agar kedua susuku selamat dari remasannya; direnggangkannya kedua pahaku dan ia sudah di atas tubuhku. Dengan ganas dan liar ia kembali menyetubuhi aku, sambil mulutnya mengulum, menggigit, dan mengunyah kedua susuku secara bergantian. Aku hanya bisa meronta dan menjerit kesakitan, namun Ifan semakin liar dan cepat, sampai akhirnya ia menggigit putingku sekuat-kuatnya ketika mencapai puncaknya dan aku pun menjerit sekeras-kerasnya karena menahan rasa sakit yang tak terperikan.

Rasa sakit yang amat sangat menjadikan tubuhku mengejang dan akibatnya milik Ifan terjepit kuat oleh vaginaku yang menegang dan mengencang. Ifan kesulitan menggerakkan miliknya karena kuatnya jepitan vaginaku, namun hal itu justru membuat Ifan semakin kuat menekan dan menarik miliknya sambil dari mulutnya yang menggigit puting susuku juga keluar erang kenikmatan, sampai akhirnya kembali terasa cairan hangat menyemprot ke dalam vaginaku. Rasa sakit yang amat sangat membuat pandanganku gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku tersadar dari pingsanku ketika kurasakan rasa sakit berdenyut-denyut dari dadaku. Ketika kubuka mata, Ifan tampak membersihkan darah yang semakin banyak merembes membasahi kedua susuku. Mendengar desis kesakitanku, tangannya meremas susuku semakin kuat. Hal ini membuatku kembali mengerang kesakitan sambil meronta.

Tampaknya eranganku kembali merangsang Ifan; ia semakin kuat meremas-remas susuku, lalu kembali ia mengulum, mengunyah, dan menggigit keduanya, sehingga aku kembali menjerit-jerit kesakitan. Namun hal ini justru membuat Ifan bertambah ganas dan kembali ia dengan liar dan ganasnya naik ke tubuhku. Aku hanya bisa menangis menjerit-jerit kesakitan ketika ia mengayun-ayunkan pantatnya di atas tubuhku sambil mulutnya mengunyah dan menggigiti kedua puting susuku. Kembali rasa sakit yang amat sangat membuat tubuhku mengejang menahan rasa sakit, dan kembali milik Ifan terjepit vaginaku sekuat-kuatnya sampai ia tidak bisa dengan mudah menggerak-gerakkan miliknya keluar masuk.

Aku masih tergolek lemas, tak kuasa menggerakkan sedikit pun semua anggota tubuhku, ketika Ifan terpaksa berangkat ke kantor karena cuti bulan madunya habis. Ia harus bertugas ke luar daerah selama seminggu. Ia tampak amat khawatir dan sebenarnya tidak ingin pergi, tapi bosnya di kantor telah meneleponnya. Ketika akan berangkat, kembali Ifan menangis tersedu-sedu meminta maaf. Meski di satu sisi hatiku aku amat marah dan menyesal kawin dengannya yang memperlakukan aku dengan liar dan ganas sampai aku menderita rasa sakit yang tiada terperikan, namun di sisi relung hatiku yang lain aku tetap mencintainya dengan tulus. Akhirnya aku menganggukkan kepala sambil membelai kepalanya yang tersedu-sedu di dadaku, ketika ia kembali dengan pandangan mata yang amat memelas meminta maaf. Aku berusaha tersenyum ketika menganggukkan kepalaku dan mendorongnya untuk pergi bekerja. Akhirnya Ifan mau berangkat ke kantor.

Sepeninggal Ifan aku tercenung sendirian. Tubuhku masih sakit semua setelah semalam entah berapa kali kami bercinta. Di satu sisi aku merasa bahagia karena ternyata Ifan tidak impoten seperti yang selama ini kupikirkan—sebulan setelah pernikahan aku masih perawan; tapi di sisi lain aku mulai khawatir mengapa gairah Ifan justru terangsang ketika aku merintih kesakitan dan semakin ganas dan liar ketika aku menangis meronta kesakitan. Jangan-jangan... aku tak berani meneruskan andai-andai dalam pikiranku.

Kusibakkan selimutku dan aku yang masih telanjang, dengan tertatih-tatih, berjalan menuju cermin. Rasa sakit yang amat pedih terasa di selangkanganku. Ketika aku berdiri di muka cermin, tampak masih ada darah mengering di pangkal pahaku.

Melihat itu aku bangga sebab aku bisa mempersembahkan keperawananku kepada Ifan yang amat kucintai. Tapi ketika mataku terarah ke bayangan tubuhku yang telanjang, aku bergidik ngeri. Masih terlihat jelas bilur-bilur merah tua malang melintang di sekujur tubuhku bekas cambukan tadi malam; dan tampak jelas pula bekas gigi-gigi Ifan di kedua puting susuku dan daerah di sekitarnya. Luka-luka itu masih merembeskan darah dan rasa sakitnya masih mendenyut-denyut, amat menyakitkan.

Kembali aku bertanya-tanya. Seribu satu pertanyaan masih berputar di kepalaku. Mengapa Ifan justru terangsang hebat setelah mencambuki aku? Mengapa ketika aku meronta sambil menangis menjerit-jerit kesakitan justru Ifan menubrukku dengan ganas dan akhirnya berhasil merobek selaput keperawananku? Mengapa setelah itu ketika membelai tubuhku yang sakit dan aku merintih kesakitan justru gairah Ifan bangkit lagi? Mengapa Ifan semakin ganas menggigiti kedua susuku sampai aku meronta-ronta dan menangis kesakitan? Apakah Ifan...? Pertanyaan itu sengaja tak kuteruskan sebab aku takut sendiri akan jawabannya.

Dengan malas aku kembali berbaring sambil mengambil roti lapis yang tadi sudah disiapkan Ifan ketika mau berangkat. Ketika memegang roti panggang lapis daging dan susu hangat di gelas, aku teringat Ifan—betapa dia masih menyempatkan menyiapkan makanan itu untukku, betapa dia penuh penyesalan sampai menangis ketika gairahnya telah mereda dan melihat tubuhku yang penuh luka. Namun kenapa ia kembali menjadi ganas dan liar begitu mendengar rintih kesakitanku? Apakah aku harus mengalami hal seperti ini setiap melayani Ifan? Kembali aku tidak berani menjawab. Aku takut membayangkan kenyataan yang terbentang di hadapanku.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya