18px

Bab 1

Simpanan Janda Kaya

Joned (21) termenung menatap langit kamar kost 4x4 meter itu. Sekeliling ruang berwarna cokelat muda dihiasi poster "hot" Madonna, Britney Spears, dan Angelina Jolie. Pria tampan ini dirundung kebingungan; perjalanan hidupnya terasa tak beruntung.

Di bufet sisi meja belajar yang berdekatan dengan televisi LG layar datar 32 inci, bertumpuk novel karangan penulis-penulis terkenal: "Ketika Cinta Bertasbih" dan "Ayat-Ayat Cinta" karya Habiburrahman El Shirazy, novel usang "Asmara Jaya" dan "Melawat ke Barat" karya Adinegoro (Djamaludin, Datuk Madjo Sutan), juga Bibliotheque Orientale, "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata, plus buku-buku penulis terkenal lainnya, tersusun rapi.

Selaras dengan itu, meja kaca berukuran mini dipenuhi gantungan kunci, koleksi abadi yang memikat. Sepasang kursi unik berdesain oriental modern menginjak lantai berkarpet merah tua. Deretan sepatu dan sandal tersimpan rapi dalam kotak plastik transparan besar. Tak heran, kamar kost di Jalan Pramuka Banjarmasin itu terasa begitu nyaman.

Hanya saja, ada yang mengundang tanda tanya: lima foto terpampang menggambarkan Joned mesra bersama perempuan yang pantas disebut ibu, berlatar Pantai Sanur Bali. "Itu Tante Vie," ungkapnya saat saya temui di kamar kost. "Umurnya 43 tahun, tinggal di Balikpapan, punya perusahaan cabang di Banjarmasin, juga rumah Spanish minimalis di Jalan Brigjend H. Hasan Baseri."

Dikisahkan pria muda berbadan tinggi besar ini, sudah setahun dia menjadi "simpanan" perempuan kaya itu. Segala kebutuhan—dari motor, sewa kost, handphone, hingga biaya kuliah dan uang saku—dijamin oleh tante yang tampak cantik itu. "Dua minggu sekali beliau datang, selain urusan bisnis juga menghabiskan waktu untuk... yah, abang ngerti lah," celoteh Joned.

Diceritakannya, awal pertemuan dengan Tante Vie terjadi lewat perantara (kawan) di sebuah kafe hotel berbintang tiga di Jalan Lambung Mangkurat. "Aku diminta berpura-pura jadi pebisnis, ujung-ujungnya malah akrab," ujarnya.

Tiga kali bertemu, pembicaraan tak lagi sebatas bisnis, melainkan curhat—khususnya seputar rumah tangga Tante Vie yang bersuamikan warga keturunan kaya raya, namun sudah uzur. "Kala itu aku mulai memahami karakter Tante Vie yang terlihat 'haus' soal pemenuhan kebutuhan batin," ujarnya, mengerutkan dahi dengan mimik serius.

Suatu hari, selesai makan malam, sambung Joned, dia diajak bernyanyi di karaoke. Keakraban itu berlanjut ke kafe untuk menikmati suasana romantis. Menjelang larut malam, Honda CRV yang dikemudikan Tante Vie tidak berbalik ke kost-kostan Joned, melainkan berbelok ke sebuah hotel bintang empat di Jalan Achmad Yani km 4,5. "Di situlah 'pertempuran' pertama terjadi. Tante Vie mengaku merasakan sentuhan yang luar biasa," ungkapnya sambil menunduk mengutak-atik Blackberry Dakota.

Permulaan itu menjadi dasar kisah percintaan selanjutnya. Tante Vie seperti ketagihan, ujar Joned—terbukti dari frekuensi kunjungannya ke Banjarmasin yang semula sebulan sekali kini menjadi dua pekan sekali. "Aku larut; karena terlalu terpengaruh, pacarku yang setia pun kuputus," katanya, membuka kulkas mini di sudut kamar dan mempersilakan saya menyeruput air mineral.

Keterikatan dengan Tante Vie makin hari makin menguat. Joned pun harus taat pada berbagai aturan perempuan yang telah "menyelamatkan" situasi ekonominya selama setahun terakhir. "Aku tak bisa berbuat apa-apa selain memuaskan Tante Vie, dengan konsekuensi finansial. Dan ini yang sesungguhnya bertolak belakang dengan hati nuraniku. Tapi apa mau dikata?" tegasnya dengan nada pasrah.

Tiba-tiba HP Joned berbunyi. Sembari meminta saya jeda sebentar, pria berahang kokoh itu beranjak ke meja belajar. "Maaf, Bang, dari dia," ujarnya dengan ekspresi yang berubah.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya