Sintia: Hasrat Terlarang di Balik Hutang (Part 2)
Sintia: Hasrat Terlarang di Balik Hutang (Part 2)
"Sintia hutang banyak sama Mas." "Sin, aku juga sangat senang bisa membuat Sintia puas seperti itu," sambil dia mengecup lembut keningku. Mataku berbinar penuh rasa terima kasih. Kami berbaring telentang bersebelahan untuk beberapa saat. Kontolnya masih tegang berdiri. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Kali ini aku membersihkan diriku sendiri. Dia tetap berbaring sambil mengenangkan keindahan yang baru aku alami. Tak berapa lama kemudian aku kembali dan langsung berbaring di sampingnya. Mataku menatap lekat ke kontolnya.
"Mas pengin diapain?" tanyaku manja.
"Terserah kamu, Sin. Biasanya sama suamimu gimana dong?" dia coba memancingku.
"Biasa ya langsung dimasukin aja, Mas. Sintia jarang puas sama dia."
"Oh... terus Sintia penginnya gimana?"
"Ya kayak sama Mas tadi, Sintia puas banget. ... Sintia pengin cium punya Mas, boleh nggak?"
"Emang Sintia belum pernah?"
"Belum, Mas," agak jengah aku menjawab, "Suamiku nggak pernah mau."
"Ya silahkan kalau Sintia mau."
Tanpa menunggu komando aku segera merangkak mengarahkan kepalaku mendekati selangkangannya. Aku pegang kontolnya, kuamati dari dekat sambil sedikit melakukan gerakan mengocok. Sangat kaku dan canggung, maklum baru pertama melakukannya.
"Ayo, Sin, aku nggak apa-apa kok. Kalau Sintia suka, lakuin apa yang Sintia mau."
Dengan penuh keraguan aku mendekatkan mulutku ke kepala kontolnya. Pelan-pelan kubuka bibirku dan memasukkan kepalanya ke dalam mulutku. Hanya sampai sebatas leher kemudian kusedot perlahan. Aku tetap melakukan itu untuk beberapa saat tanpa perubahan. Dengan lembut dia memegang tangan kiriku. Dia menggenggam jemariku yang lentik dan ditariknya mendekat ke mulutnya. Dia memegang telunjukku kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Dia menggerakkan masuk keluar dengan lambat sambil sesekali dijilat dengan lidahnya saat jari lentikku masih dalam mulutnya. Aku segera paham bahwa dia sedang memberi "bimbingan" bagaimana seharusnya aku melakukannya.
Tanpa ragu aku mempraktikkan apa yang dia lakukan dengan jariku. Kontolnya kumasukkan ke dalam mulutku, kemudian kepala kuangguk-anggukkan sehingga kontolnya tergesek keluar masuk mulutku yang sensual itu. Sekalipun masih agak canggung, tapi dia mulai bisa merasakan "pelayanan" yang kuberikan. Semakin lama aku semakin tenang dan tidak kaku lagi. Kadang kumainkan lidahku di sekeliling kepala kontolnya dalam mulutku. Sepertinya aku sendiri mulai bisa merasakan sensasi dari apa yang kulakukan dengan mulut dan lidahku. Aku mulai berani bereksperimen. Kadang kukeluarkan kontolnya dari mulutku, menciumi batangnya kemudian memasukkannya kembali. Sesekali aku hanya menghisap kepalanya sambil mengocok batangnya.
"Gimana, Sin, rasanya?"
"Mas... Sintia merasakan rangsangan yang luar biasa, kontolnya Mas enak... Sintia suka, besar dan panjang lagi."
Dia bangkit berdiri di atas kasur sambil bersandar di dinding kepala ranjang. Aku langsung tahu harus bagaimana. Aku duduk bersimpuh di hadapannya dan kembali menghisap kontolnya. Kepala tetap kugerakkan maju mundur. Dan sekarang aku menemukan cara baru. Aku menjepit batang kontolnya di antara kedua bibirku yang terkatup. Kemudian aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Batang dan kepala kontolnya aku gesek dengan bibir tebalku yang terkatup. Dia membantu dengan menggerakkan pantatnya maju mundur.
"Ohhh, Sin... mulutmu enak sekali... terus, Sin."
"Mas suka? Winda sering ya giniin Mas?"
"Iya, Sin... tapi aku lebih suka kamu. Bibirmu seksi sekali. Ooohh, Sin... Winda juga suka. Isep bijiku dan jilati semuanya, Sin... ohhh."
Aku nggak mau kalah, segera kulepaskan kontolnya dari mulutku dan mulai menjilati dan menghisap bijinya sambil mengocok kontolnya. Dia membelai rambutku dan mengusap kepalaku. Aku suka sekali dan masih terus menggerayangi seluruh selangkangannya dengan lidahku.
Kemudian kami berganti posisi. Dia kembali tidur telentang dan aku dimintanya merangkak di atasnya dengan posisi kepala terbalik. Kami di posisi 69. Aku segera mengulum kontolnya, dia pun mulai menjilati nonokku. Dengan posisi ini nonokku sangat terbuka di hadapannya dan dia lebih leluasa menikmati dengan bibir dan lidahnya.
Dia menjilat dan menghisap itilku yang sudah menantang, dan jarinya mengorek nonokku. Sesekali dia menciumi bibir nonokku yang begitu merangsang. Akupun tak mau kalah, aku melakukan segala cara yang aku tahu terhadap kontolnya. Aku mainkan pakai lidah, kukocok sambil kuhisap, kumainkan kepala kontolnya mengitari dengan kedua bibirku. Sungguh nikmat sekali. Tak terlalu lama aku mulai merasakan bahwa aku sudah tidak bisa menahan lagi. Pantatku mulai bergoyang limbung kegelian, namun dia menjilati terus itilku sambil jarinya menusuk-nusuk nonokku. Akhirnya aku sampai juga di puncak nikmatku. Tubuhku menegang, gerakan anggukan kepalaku sambil menghisap kontolnya semakin menggila. Tubuhku gemetar tapi aku tetap tak rela melepas kontolnya dari mulutku. Dia semakin giat mencium itilku dan mengorek nonokku dengan jarinya.
Tubuhku tiba-tiba mematung dan dia merasakan cairan hangat meleleh keluar dari nonokku. Dia langsung menutup nonokku dengan mulutnya dan membiarkan cairan kenikmatanku membasahi lidahnya. Rasanya asin tapi sama sekali tidak amis sehingga dia tak ragu menelan cairan itu sampai tandas. Kemudian perlahan dia mulai lagi menciumi dan menjilati seluruh permukaan nonokku. Ototku sudah agak mengendur juga. Aku mulai lagi melakukan segala eksperimen dengan mulut dan lidahku ke kontolnya. Kami mulai lagi dari awal. Perlahan namun pasti, aku mulai mendaki lagi puncak kenikmatan birahiku. Dia menangkupkan kedua tangannya ke bukit pantatku dan mulai membelai dan meremas lembut. Aku menanggapinya dengan sedotan panjang di kontolnya. Lidahnya kembali menelusuri segala penjuru selangkanganku. Beberapa saat kemudian tubuhku kembali gemetar. Dia mencium bibir nonokku dan menyorongkan lidahnya sedalam mungkin ke dalam nonokku yang merangsang. Dia juga mulai merasa kalau pertahanannya mulai goyah dan bendungannya akan segera ambrol.
Aku mempercepat gerakan kepalaku dan diapun menghisap makin kuat nonokku. Dia akhirnya sudah tak kuat menahan dan... "Crooots! Crooots! Croots!" Peju hangatnya menyembur di dalam mulutku. Untuk sedetik aku agak kaget tapi aku cepat tanggap. Aku segera mempercepat gerakan kepalaku sambil menelan seluruh pejunya. "Croots... croots." Sisa pejunya kembali menyembur, dan kali ini aku menyambutnya dengan hisapan kuat di kontolnya, seakan ingin menyedot apa yang masih tersisa di dalam sana. Dia merasakan nikmat yang luar biasa. Ekspresi kenikmatan ini dia lampiaskan dengan semakin gila menjilati dan menyedot nonokku sehingga aku juga sudah hampir mencapai klimaks. Belaian lidahnya di nonokku membuat puncak itu semakin cepat tercapai. Akhirnya sekali lagi tubuhku menegang dan cairan hangat kembali meleleh dari nonokku. Lidahnya kembali menerima siraman lendir kenikmatan itu yang segera ditelannya.
Beberapa saat kemudian, dengan enggan aku bangkit dan berbaring telentang di sampingnya. Kontolnya, walaupun masih berdiri, tapi sudah tidak setegak tadi. Aku memeluknya dengan manja dan kami berciuman dengan mesra.
"Sin... gimana? Puas? Sorry tadi aku nggak tahan keluar di mulut kamu."
"Sintia puas sekali, Mas... sampai dua kali gitu lho. Sintia suka peju Mas, asin-asin gimana gitu. Kapan-kapan boleh minta lagi dong, Mas."
Aku mulai berani mengungkapkan apa yang kurasakan.
"Boleh aja, Sin, asal disisain buat Winda... hehehe."
Aku mencubit genit lengannya.
"Ihhh, Mas, paling bisa deh. Emang Mas sering gaya gituan dengan Winda?"
"Enggak lah... ini baru pertama dengan kamu, Sin."
"Ah, Mas bohong. Winda kan sering cerita ke Sintia, katanya Mas pinter ngeseks. Makanya diam-diam Sintia pengin main sama Mas."
"Udah kesampian kan keinginanmu, Sin."
"Iya sih... tapi Mas jangan marah ya. Sintia sering bayangin kita main bertiga dengan Winda. Mas mau nggak?"
Dia kaget mendengar keinginanku ini. Jujur saja aku sering berfantasi membayangkan alangkah nikmatnya bercinta dengan dia dan Winda sekaligus.
"Mau sih, Sin... tapi kan nggak mungkin. Winda pasti marah besar."
"Iya ya... Winda kan orangnya agak alim."
Kami terus berbincang hal-hal demikian sampai kira-kira 10 menit. Kemudian dengan malas kami ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di kamar mandi kami saling menyabuni dan saling membersihkan tubuh kami.
Dia jadi semakin mengagumi tubuhku. Tak ada segumpal lemak pun di tubuhku dan semuanya padat berisi. Setelah mengeringkan diri kami kembali ke atas ranjang dan berpelukan mesra. Sambil saling berciuman dia mulai menggerayangi tubuh molekku, tak bosan-bosannya dia meremas dan mengusap toketku yang sangat segar itu. Perlahan dia mulai menghujani leher dan pundakku dengan ciuman. Tak sampai di situ saja, mulutnya mulai mengarah ke dadaku. Toketku yang tegak mulai diciumi dan digigit-gigit lembut. Aku sangat menyukai apa yang dia lakukan.
"Ahhhh... iya, Mas... di situ, Mas... ahhhh, Sintia terangsang, Mas."
Lidahnya menjilati pentilku yang mungil dan keras itu. Aku semakin menggelinjang. Tanganku menyusup ke bawah ke selangkangannya. Kupegang kontolnya yang masih agak lemas. Kumainkan kontolnya dengan jari-jariku yang lentik. Mau tak mau kontolnya mulai hidup kembali. Aku dengan lembut mengocok kontolnya. Sambil masih mengulum pentilku, tangan kanannya kembali bergerilya di daerah nonokku. Jarinya dirapatkan dan ditekan ke bukit nonokku sembari digerakkan memutar. Aku juga menimpali dengan menggoyangkan pantatku dengan gerakan memutar yang seirama.
"Mas... aahhhh, Mas... enak, Mas... ahhh, terus... iya."
Sambil mendesah aku menarik pantatnya mendekat ke kepalaku. Akhirnya dia terpaksa melepaskan hisapannya di pentilku dan duduk berlutut di sisiku. Aku terus menekan pantatnya sampai akhirnya mulutku mencapai kontolnya yang sudah tegak menantang. Tangan kirinya ditempatkan di belakang kepalaku untuk menyangga kepalaku yang agak terangkat. Kontolnya kembali kukulum dan kujilati.
"Oooh, Sin... enak, Sin... aku suka, Sin..."
Diapun menggerakkan pantatnya maju mundur. Aku membuka lebar mulutku dan menjulurkan lidahku sehingga kontolnya meluncur masuk keluar mulutku tergesek lidahku. Sementara itu tangan kanannya terus menekan dan memutari nonokku. Kadang jarinya diselipkan ke celah nonokku dan mengusap itilku.
"Ahhh, Mas... Sintia nggak tahan, Mas... ahhhh... iya... aaahhhh."
Dia segera merubah posisi. Kedua tanganku diletakkan di belakang lututku dan membuka kedua lututku. Dia mengangkat pahaku sehingga nonokku menganga menghadap ke atas. Aku menahan dengan kedua tangan di belakang lututku. Dia duduk bersimpuh di hadapan nonokku. Kontolnya diarahkannya ke nonokku yang sudah menganga itu. Dia menusukkan kepala kontolnya ke nonokku dan dia tahan di sana. Kemudian dengan tangan kanannya digerakkannya kontolnya memutari mulut nonokku.
"Maasss... ahhhh... nggak tahan... ayo... ahhhhhh."
Dia sengaja tidak mau terlalu cepat menusukkan kontolnya ke nonokku. Dia menggesek-gesekkan kepala kontolnya ke itilku. Aku semakin menggelinjang menahan nikmat. Akhirnya tanggulku bobol juga. Tak heran, dengan gosokan jari saja aku tadi bisa mencapai orgasme, apalagi ini dengan kepala kontolnya โ tentu rangsangannya lebih dahsyat.
"Aaahhhhhhhhhhhh... ahhhhhhhhhhhh, Massssssss."
Rintihan itu sekaligus menandai melelehnya cairan bening dari nonokku. Aku kembali mengalami puncak orgasme hanya dengan gosokan di itilku. Kali ini dia memasukkan batang kontolnya seluruhnya ke dalam nonokku. Dia berbaring telungkup di atas tubuh molekku sambil menumpukan berat badannya di kedua sikunya. Dia mencium lembut mulutku yang masih terbuka sedikit. Aku membalas ciumannya dan mengulum bibirnya.
Dia membiarkan kontolnya terbenam dalam nonokku. Dia berbisik, "Sin... nikmat ya..."
"Oh, Mas... Sintia sampai nggak tahan... nikmat, Mas..."
Perlahan dengan gerakan yang sangat lembut dia mulai memompa batang kontolnya ke dalam nonokku yang sudah basah kuyup. Dia tahu aku pasti bisa orgasme lagi dan kali ini dia ingin merasakan semburan lumpur panas di batang kontolnya.
"Ayo, Sin... nikmati lagi... jangan ditahan. Aku akan pelan-pelan."
"Ahhhh... iya, Mas... Sintia pengin lagi... ahhhh."
Masih dengan sangat pelan dia memompa terus kontolnya ke nonokku yang ternyata masih sempit untuk ukuran wanita yang sudah menikah 2 tahun. Toketku yang menyembul tegak menggesek-gesek dadanya ketika dia turun naik. Sungguh sensasi yang luar biasa. Sengaja dia menggesekkan dadanya ke toketku.
"Aaahhhhh... ahhhhhhh... iya... ahhhh... Sintia terangsang lagi, Mas... iya..."
Kali ini dia memompa sedikit lebih kuat dan cepat.
Aku menanggapinya dengan memutar pantatku sehingga kontolnya rasanya seperti diperas-peras dalam nonokku. Gerakanku semakin liar, tanganku sudah tidak lagi menahan lututku tapi memegang pantatnya dan menekannya dengan keras ke tubuhku.
"Aaaahhhhhh... Mas... aaaaahhhhhhh."
Dia semakin kencang dan dalam memompa pantatnya. Mataku sudah terpejam rapat, kepalaku menggeleng-geleng liar ke kiri ke kanan seperti yang kulakukan di sofa tadi. Gerakanku semakin ganas dan...
"Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh........"
Aku melenguh panjang sambil menegangkan seluruh otot di tubuhku. Dia menekan dalam-dalam kontolnya ke nonokku. Jelas dia merasakan aliran hangat di sekujur batang kontolnya. Tubuhku masih terbujur kaku. Diapun menghentikan seluruh gerakannya sambil terus menekan nonokku dengan kontolnya. Beberapa saat sepertinya waktu terhenti. Tidak ada suara, tidak ada gerakan dari kami berdua. Dia memberi kesempatan kepadaku untuk menikmati klimaks yang barusan aku dapat.
Akhirnya badanku mulai mengendur. Tanganku membelai lembut kepalanya. Bibirku mencari bibirnya untuk dihadiahi ciuman yang sangat lembut dan panjang.
"Mas... Sintia sungguh nikmat. Mas jago deh. Mas belum keluar ya?"
"Jangan pikirkan aku, Sin. Yang penting Sintia bisa menikmati kepuasan."
Kemudian dengan lambat dia mulai memompa lagi. Nonokku menjadi sangat licin. Selama beberapa saat dia terus memompa lambat-lambat.
"Aaaahhhhhh... iya... iya... Mas... Sintia mau lagi... iya... ahhhh."
Aku kembali memutar pantatku mengiringi irama pompaannya. Aku mulai mendesah-desah penuh kenikmatan. Dia mencabut kontolnya dari nonokku. Dia lalu berbaring telentang di sebelahku.
"Kamu di atas, Sin."
Aku segera berjongkok di atas selangkangannya. Dia mengarahkan kepala kontolnya ke nonokku. Aku kemudian duduk di atas tubuhnya dan bertumpu pada kedua lututku. Pantatku mulai bergerak maju mundur.
"Ayo, Sin... kamu sekarang yang atur. Ohhh, iya, nikmat, Sin."
Aku semakin bersemangat memaju-mundurkan pantatku. Kedua toketku berguncang indah di hadapannya. Secara refleks kedua tangannya meremas toketku. Tangan kuletakkan di belakang pantatku sehingga tubuhku agak meliuk ke belakang membuat dadaku semakin membusung.
"Ohhh, Sin... toketmu seksi sekali. Terus, Sin... ohhh... lebih keras, Sin."
"Aaaahhhh, Mas... Sintia sudah mau sampai lagi... ahhhh... ahhhh, Mas."
"Ayo, Sin... terus, Sin. Cepat... ohhhhh, iya... iya, Sin... nonokmu enak sekali."
"Mas... ahhhh... Sintia nggak tahan. Puasi Sintia lagi, Mas... ahhhh."
Gerakan pantatku semakin cepat dan semakin cepat. Dia merasa kontolnya tergesek-gesek dinding nonokku yang sempit dan licin itu. Dengan sekuat tenaga dia mencoba menahan agar dia tidak ngecret tapi pertahanannya semakin rapuh.
"Sin... oooohhhh, Sin... aku nggak tahan... ohhh, Sin... enak... enak."
"Ahhhh... ayo, Mas... Sintia juga udah nggak tahan. Sekarang, Mas... ahhhh, sekarang."
Tepat pada detik itu bendungannya ambrol tak mampu menahan terjangan pejunya yang menyemprot kuat.
"Oooooooohhhhhhh, Sin... crooots! Crooots! Croots!"
"Aaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh, Mas... ahhhhhhhhhhh..."
Kami mencapai puncak kenikmatan bersama. Kontolnya terasa hangat di nonokku. Aku masih duduk di atasnya tapi sudah kaku tak bergerak. Nonokku hunjamkan dalam melahap seluruh batang kontolnya.
"Oooohhh, Sin... nikmat sekali. Makasih, Sin. Kamu pinter membuat aku puas."
Dia menggapai tubuhku dan ditarik menelungkup di atas tubuhnya. Toketku yang masih keras menghimpit dadanya. Dia menciumi seluruh wajahku yang ditetesi keringat.
"Mas... ahhhh... Sintia sungguh puas, Mas..."
Kemudian kami berbaring sambil berpelukan. Badan kami mulai terasa penat tapi batin kami sangat puas.
Hari sudah beranjak malam. "Mas, Sintia lapar."
"Ya udah, kita mandi dulu, terus baru cari makan malam."
Di kamar mandi, kita saling menyabuni. Kontolnya ngaceng lagi, kukocok-kocok kontolnya pelan-pelan. "Mas, kontolnya besar banget sih." Aku mulai berani bicara vulgar kepadanya, sudah tidak sungkan lagi. Selesai mandi, aku memakai kaos oblong merah dengan celana gombrang khaki. Kemudian aku pergi dengannya ke warung di depan kompleks untuk cari makan malam. Selesai makan malam, kita kembali ke rumah lagi. Aku memutar film biru yang baru dipinjam suamiku. Suamiku memang hobi nonton film begituan. Dengan dua bantal besar di atas karpet tebal kami berdua duduk berdampingan sambil nonton film.
Permainan panas di film itu membuat aku mulai bergerak menempel ke badannya dan kemudian rebah di atas pahanya. Dia mengulum bibirku dengan lembut sambil tangannya mulai bergerak dengan sentuhan halus ke toketku yang tanpa bra itu. Aku menggelinjang saat dia mulai agresif memainkan pentilku.
"Ayo, Mas, gesek lagi ya...!" pintaku bernafsu.
Aku mencium dan menjilati jari-jarinya. Kemudian dia melepaskan tangannya dari ciumanku dan kembali meremas toketku dari balik kaosku. Dipilinnya pentilku secara bergantian. Aku makin menggeliat karena nafsuku sudah memuncak. Tangannya kutarik menjauh dari toketku. Kubawa ke arah perutku. Segera dia mengilik-ilik puserku sampai aku menggeliat kegelian.
"Mas, geli."
Tangannya segera menyusup ke bawah dan menemukan karet celana gombrongku. Tangannya berusaha merayap terus ke bawah menyelip ke dalam cdku sampai menyentuh jembutku. Jangkauannya kini maksimal, padahal target belum tercapai. Aku menaikkan badanku sedikit dan kini jari-jarinya bisa mencapai belahan nonokku. Nonokku sudah basah, sehingga jari tengahnya dengan mudah menyusup ke dalam dan menemukan itilku yang sudah mengeras. Dia lalu memainkan jari tengahnya. Pinggulku mengikuti irama sentuhan jari tengahnya. Aku menggelinjang.
"Mas, lepasin pakaian Sintia, Mas, semuanya," pintaku.
Segera dia mengangkat kaosku ke atas, aku mengangkat tanganku ke atas untuk mempermudah dia membuka kaosku. Kemudian dia menarik celana gombrangku bersama cdku, aku mengangkat pantatku untuk mempermudah dia melepasnya. Setelah aku berbugil ria, segera diapun melepas semua yang menempel di badannya. Kontol besarnya sudah tegak dengan kerasnya. Dia berbaring dengan dua bantal susun di punggungnya. Aku menunduk mengulum kepala kontolnya. Hanya sebentar karena dia menyuruhku menduduki kontolnya dengan posisi membelakangi dia. Aku mulai bergerak pelan memaju-mundur pantatku untuk menggesekkan nonokku ke kontolnya. Tangannya dari belakang mulai beraksi memijit-mijit toketku. Aku menjadi sangat liar, menggeliat sambil tak henti-hentinya mendesah kenikmatan.
Gerakan dan sentakanku makin cepat dan keras sampai suatu saat kuundurkan pantatku agak ke belakang dan kontolnya lepas dari jepitan bibir nonokku. Kontolnya yang agak terangkat sudah berhadapan dengan bibir nonokku yang basah itu dan... blesss... kepala dan separuh kontolnya yang tegang keras itu amblas ke dalam nonokku.
"Maas," seruku.
"Kenapa, Sin, sakit?" tanyanya.
Aku hanya menggelengkan kepala, bukannya sakit tapi nikmat banget. Sesek rasanya nonokku kemasukan kontolnya yang besar banget itu. Nonokku berdenyut mencengkeram kontolnya, giliran dia yang mendesis.
"Sin, nikmat banget nonokmu, bisa ngemut kontolku."
Dia membalikkan badanku sehingga aku terlentang di atas karpet. Dia menundukkan mukanya dan mengulum bibirku sambil menggeser badannya ke atas. Dengan pelan ditusukkannya kontolnya ke nonokku. Diteruskannya dorongannya dan kepala kontolnya mulai memaksa menerobos masuk ke liang nonokku.
"Ouuhh..." kembali aku melenguh.
Dikocoknya kontolnya pelan sehingga kian dalam memasuki nonokku. Pelan tapi pasti dan akhirnya kurasakan seluruh nonokku penuh terisi kontolnya.
"Sin, sudah basah gini masih sempit aja nonokmu, nikmat banget deh, mana terasa banget empotannya. Terus diempot ya, Sin."
Dihunjamkannya lagi kontolnya, walau terasa sangat sesak tapi nikmat.
"Ooohhh..." aku mulai menggeliat, kaki kuangkat, melingkar ke pahanya sementara kepalaku terangkat, mendongak ke belakang dengan mataku membelalak. Tangannya bereaksi cepat, toketku diremas pelan sembari pentilnya dipijit, membuat aku makin menggila, berdesah panjang kenikmatan. "Uhhh, peluk Sintia, Mas."
Dirapatkannya badannya ke badanku dan aku merangkul ketat punggungnya. Goyangan pantatnya turun naik makin cepat sehingga bersuara "plook... ploook" karena begitu banyak cairan yang mengalir dari nonokku.
Dia kemudian mengganti posisi. Aku disuruh nungging pada sandaran sofa dengan posisi pantat sedikit terangkat, kaki mengangkang. Digesekkannya kepala kontolnya ke bibir nonokku beberapa saat, baru dihunjamkannya pelan. Doggy style!
"Maas," erangku ketika kepala kontolnya mulai menekan dan menerobos masuk ke liang nonokku. Baru setengah kontolnya masuk, "Aaauuhhh..." mataku terbelalak saking nikmatnya.
Kemudian dia mulai mengocok kontolnya keluar masuk nonokku. Aku kembali menggelinjang, menahan enjotan pantatnya. Terasa kontolnya makin keras dan kepalanya makin membesar karena gesekan di dinding nonokku.
"Ooohhh... oooohhhh," gumamku, karena dia mempercepat enjotannya.
Tiba-tiba dia menahan gerakan pantatnya, ditariknya keluar sehingga hanya sebagian kontolnya yang masih terbenam lalu disentakkannya cepat dengan gerakan pendek, kemudian ditekannya rapat ke pantatku hingga semua kontolnya tertanam dalam nonokku, lalu dibuatnya gerakan memutar. Otomatis kepala kontolnya berputar bak bor menggesek ketat dinding nonokku.
"Uuaahhh... terus, Mas... enaaaaakk!" desahku.
Tidak puas hanya menikmati putaran "bor"-nya, aku ikut mengenjot keras pantatku ke belakang dan... "uuhhh... uuuhhh," kami berdua sama-sama mengerang nikmat. Selang lebih dari 20 menit kami berpacu dengan posisi demikian, aku makin keblingsatan dengan erangan-erangan tak keruan. Dia tahu kalau aku sudah akan nyampe.
Aku ditelentangkan di atas sofa dengan kaki kiri menjuntai lantai dan kaki kanan bergantung pada sandaran sofa. Pahaku terbuka lebar dan bibir nonokku sedikit membuka setelah disodok kontolnya sejak tadi. Kini dia mulai membungkuk di atas badanku dan dengan tangan kiri menopang badannya, tangan kanannya menuntun kontolnya ke arah bibir nonokku.
"Ayo, masukin, Mas...!" pintaku.
Kepala kontolnya mulai menghunjam. "Aaahhhh...!" erangku saat seluruh kontolnya disodok masuk dan mulai dikocok turun naik langsung dengan frekuensi tinggi dan cepat.
"Ah... ah... ah... ah."
Aku tiada hentinya melenguh, badanku menggeliat dengan kepala sebentar naik sebentar turun menahan geli dan nikmat yang amat sangat. Dia terus mengocok dengan kecepatan tinggi dan menggila. Kenikmatanku sudah memuncak.
"Auuuh... m... m..." tanganku melingkar ketat di punggungnya dengan paha dan kakiku ikut membelitnya.
"Tahan dikit, Sin...!" bisiknya di kupingku sambil mempercepat sodokannya.
"Aaaahhhhhhh...!" aku menjerit panjang, kukuku serasa menembus kulit punggungnya, mengiringi puncak kenikmatanku. Berbarengan dengan lenguhan panjang, dia menyodok keras kontolnya ke nonokku diimbangi dengan goyangan kencang pantatku yang berusaha mengapung ke atas. Otot-otot bibir nonokku serasa berdenyut-denyut seperti meremas-remas kontolnya.
Crreeettt... pejunya ngecret di dalem nonokku, hangat, membuat aku merem melek sejenak. Kami berdua sama-sama nyampe.
"Oh, Sin, puas sekali ngentot denganmu...!" desahnya.
Kami masih berpelukan sebentar dengan kontolnya masih terbenam di nonokku, berciuman.
Dan aku tertidur.
Tamat