Sopir Beruntung
Sopir Beruntung
"Ok... Cutt!!!" teriak seorang pria bertubuh tambun dengan keras. Seketika itu pula orang-orang yang sedari tadi diam tak bergerak apalagi bersuara mulai bergerak untuk membereskan segala sesuatu dan bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing. Itulah hal yang tergambar dari salah satu studio televisi nasional yang terkenal dengan acara kompetisi memasaknya yang cukup menyedot perhatian penonton seantero nusantara. Dari balik hiruk-pikuk orang-orang yang bekerja di balik layar program tersebut, muncullah sesosok tubuh mungil dengan dada yang cukup besar โ sekitar 34C kalau tidak salah. Dengan dibalut gaun ketat warna hijau dia berjalan dengan anggun melewati para kru yang tengah membereskan pekerjaannya.
Dia adalah Ririn Marinka, atau biasa dikenal dengan Chef Marinka, salah satu juri di ajang pencarian bakat memasak di salah satu stasiun TV nasional. Tak sedikit laki-laki yang membayangkan menikmati tubuh montok sang chef โ termasuk sang sopir dari chef itu sendiri. Sang sopir yang bernama Toto Suroto berusia 45 tahun, atau yang biasa dipanggil Bang Toyib karena pernah dipenjara 3 tahun gara-gara maling ayam milik tetangga. Ya, pembaca yang terhormat, Anda tidak salah baca โ hanya karena maling ayam, si Toto dihukum 3 tahun. Sungguh keajaiban negeri tercinta kita: seorang Toto yang mencuri ayam milik satu orang untuk menyambung hidup dihukum 3 tahun, sedangkan para koruptor yang mencuri uang rakyat miliaran rupiah paling dihukum 5 tahun, itu pun dipotong remisi dan masa tahanan, paling-paling cuma 2 tahun sudah bebas โ ditempatkan di sel khusus dengan fasilitas istimewa, berbeda dengan Bang Toyib kita yang harus berbagi satu sel dengan 8-12 orang tahanan.
Penampilan fisik Bang Toyib hampir sama dengan orang biasa: tinggi 165 cm, berat 55 kg, berkulit sawo matang, berambut lurus dipotong ala tentara dengan barisan gigi yang agak kekuningan karena kebanyakan merokok. Yang membedakan hanyalah bekas sayatan alias codet di pipi sebelah kanannya. Alasan Chef Marinka mempekerjakan si Toyib adalah karena dia pernah menyelamatkan Marinka dari perampokan. Saat itu Bang Toyib tengah bingung setelah bebas dari penjara โ tak seperti orang yang bebas dan langsung gembira bukan main, Bang Toyib malah sedih dan bingung karena kalau pulang ke kampung bisa-bisa diusir. Di saat bingung itulah dia berjalan tak tentu arah, dan melihat dua orang bersenjatakan kapak merah sedang mencegat sebuah sedan mewah BMW. Tanpa pikir panjang Bang Toyib langsung menerjang dua orang itu. Berbekal ilmu beladiri yang dipelajarinya di penjara yang diajarkan oleh salah satu teman se-selnya, Bang Toyib menghajar dua orang perampok itu sampai mereka kabur. Melihat hal itu Marinka, si pemilik mobil, langsung keluar untuk berterima kasih kepada penolongnya. Saat diberi sejumlah uang sang penolong menolaknya. Marinka bertanya apa yang bisa dibantunya. Dengan ragu Bang Toyib meminta sebuah pekerjaan dan tempat tinggal. Alhasil jadilah Bang Toyib sopir sang Chef Marinka.
Mari kita kembali ke tempat semula. Dari kejauhan melaju mobil BMW warna merah menuju pintu keluar stasiun TV swasta nasional dan tepat berhenti di depan seorang wanita cantik keturunan dengan kulit putih mulus tanpa cela dan dada yang membusung menggoda setiap laki-laki untuk meremasnya โ wanita tersebut adalah Marinka. Pintu mobil dibukakan olehnya dan dia masuk di pintu belakang.
"Langsung pulang ya, Bang!" kata Marinka sambil menyilangkan kaki mulusnya.
"Baik, Non," kata Bang Toyib sambil melirik kaki mulus majikannya lewat kaca spion. Tak lama mobil tersebut sudah berada di daerah perumahan mewah di Jakarta yang terkenal dengan rumah angkernya.
"Masukin aja mobilnya, Bang! Saya ga keluar malam ini," kata Marinka sambil melangkah masuk ke rumah.
Sebenarnya Bang Toyib ingin memulai hidup baru sejak diangkat jadi pegawai oleh Marinka, tetapi kalau setiap hari disuguhi sepasang kaki putih mulus dan dada ranum milik sang chef, niat mulia Bang Toyib pun menjadi hilang. Alhasil seminggu yang lalu, berbekal informasi dari si Ujang โ pembantu tetangga yang juga sama-sama penggemar bokep, yang selalu membanggakan dirinya berhasil meniduri majikannya istri seorang pengusaha sukses โ Bang Toyib berangkat menuju rumah seorang dukun yang lumayan jauh, di kaki Gunung Tangkuban Perahu. Setelah meminta izin pada Marinka dengan alasan ingin menjenguk saudara yang sakit, Bang Toyib pun berangkat. Saat tiba di kediaman sang dukun, sudah banyak pasien yang mengantre โ di antaranya ada orang-orang terkenal di negeri ini, mulai dari pejabat sampai artis.
"Wah banyak amat yang antre. Lho, bukannya itu si Abang Haji yang ada di TV? Kok ikutan antre? Oh mungkin mau minta obat perontok bulu kali, biar ga kayak gorila lagi," kata Bang Toyib dalam hati saat melihat salah seorang yang ikut antre di rumah sang dukun.
Sebenarnya rumah sang dukun seperti rumah-rumah kebanyakan orang desa โ bagian depan dari kayu, dinding samping dan belakang ditembok. Di depan rumah ada papan nama "Mbah Samijan โ Dukun Serba Bisa" dan kursi-kursi plastik untuk para pengantre. Di dekat pintu utama ada sebuah meja kecil yang dijaga seorang perempuan cantik berpakaian seksi dengan tanktop hijau dan celana pensil ala anak muda โ tampaknya resepsionis sang dukun.
Setelah turun dari mobil, Bang Toyib pergi menuju tempat sang resepsionis untuk memperoleh informasi dan nomor antrean.
"Misi, Mbak," kata Bang Toyib.
"Ya, ada yang bisa dibantu, Mas?" kata sang resepsionis.
"Ehm, saya mau konsultasi, Mbak," kata Bang Toyib sambil melirik belahan dada sang resepsionis yang nakal mengintip keluar dari tanktop hijaunya.
"Oh, pas banget, Mas โ Mas adalah pasien terakhir untuk hari ini. Boleh minta KTP-nya, Mas?" kata sang resepsionis ramah.
"Lho, emang udah mau tutup ya, Mbak?"
"Bukan, Mas. Di sini tiap hari hanya menerima 50 pasien saja."
"Oh, wah beruntung dong saya. Eh, antreannya masih lama ya, Mbak?"
"Kayaknya masih lama, Mas. Ini aja baru nomor 20. Udah, duduk sini aja, nemenin saya ngobrol," kata si Mbak resepsionis, yang tentu saja diterima dengan senang hati oleh Bang Toyib. Kapan lagi ngobrol sama cewek cantik?
Dari obrolannya dengan sang resepsionis โ yang ternyata bernama Indah โ Bang Toyib tahu bahwa Indah adalah istri ke-7 dari Mbah Samijan, dan semua istrinya kebanyakan masih berusia 20-an sampai 30-an, sedangkan Mbah Samijan sendiri berumur 72 tahun. Setelah menunggu agak lama, tibalah giliran Bang Toyib untuk masuk.
"Permisi, Mbah," kata Bang Toyib saat masuk ke ruangan praktek Mbah Samijan. Bang Toyib sempat bingung karena ruangan tersebut jauh dari kesan angker seperti yang digambarkan di TV โ yang selalu bernuansa gelap dan dipenuhi pernak-pernik mengerikan. Ruangan yang dimasuki Bang Toyib lebih mirip kantor: dindingnya berwarna putih, ada laptop, meja kantor, bahkan papan nama "Mbah Samijan (Dukun Serba Bisa)." Di belakang meja ada seorang pria tua bertubuh kurus dengan jenggot putih yang dikuncir, berpakaian seperti seorang direktur lengkap dengan jas, sedang mengamati layar laptopnya.
"Permisi, Mbah!" kata Bang Toyib saat memasuki ruangan. Sang dukun tetap melihat layar laptopnya sambil tangannya menunjuk kursi di depan mejanya. Bang Toyib pun duduk. Saat hendak menyampaikan maksudnya, si Mbah sudah ngomong duluan.
"Nama: Toto Suroto. Umur: 45 tahun. Pekerjaan: Sopir," kata Mbah Samijan sambil tetap melihat layar monitornya.
"Wah, hebat amat nih dukun, bisa tahu โ gue aja belum ngomong," dalam hati Bang Toyib kagum.
"Kok tahu, Mbah? Kan saya belum memperkenalkan diri," tanya Bang Toyib penasaran. Tanpa berkata apa-apa si Mbah langsung memutar laptopnya. Terpampang di situ semua data Bang Toyib.
"Hahahaha, maklum, Cu โ jaman modern si Mbah harus mengikuti," kata Mbah Samijan sambil tertawa memperlihatkan deretan gigi emasnya.
"Oh, wah, ga mau kalah ya Mbah? Hahaha," kata Bang Toyib ikut tertawa.
"Iya. Masa pakai menyan mulu. Eh, ngomong-ngomong, cucu ke sini mau apa, ya?" kata Mbah Samijan serius. Setelah Bang Toyib mengutarakan niatnya, Mbah Samijan langsung mengerang tak karuan dan nafasnya mendengus-dengus seperti orang berlari jauh.
"Lho, Mbah kenapa?" tanya Bang Toyib panik.
"AARRGGHH!" Mbah Samijan mengerang keras dan tubuhnya mengejang tak karuan. Melihat hal itu Bang Toyib ketakutan dan hendak mencari bantuan, tapi segera dicegah oleh Mbah Samijan.
"Ha... ha... ha... jangan, Cu. Mbah baik-baik saja kok," kata Mbah Samijan dengan nafas tersengal-sengal. Tak lama kemudian dari bawah meja sang dukun keluarlah sesosok tubuh seksi dengan payudara menantang, kulit halus putih tanpa cela. Pakaian mini warna merah yang dikenakannya memperlihatkan kemulusan pahanya dan tak mampu menutupi kemontokan dadanya yang tampak berlomba keluar. Wanita itu pun membenahi pakaiannya dan menyeka cairan putih di sela-sela mulutnya, lalu bergegas keluar dari ruangan.
"Wah, Mbah, kok ada Neng Aura Kasih sih?" tanya Bang Toyib melongo.
"Oh, biasa. Syarat dari Mbah โ dia minta biar tubuhnya tetap seksi dan suaranya tambah merdu, jadi setiap bulan sekali dia harus ke sini," terang Mbah Samijan.
"Wah, ntar syaratnya sama kayak itu, saya ga jadi aja deh, Mbah. Saya masih normal," kata Bang Toyib hendak pergi.
"Jangan pergi, Cu! Saya juga masih normal, kalau ga normal mana mungkin istri saya banyak. Udah duduk dulu sini!" kata Mbah Samijan.
"Lha tadi kenapa syarat Aura Kasih kayak gitu?" tanya Bang Toyib curiga sambil meletakkan pantatnya kembali di kursi.
"Syarat pasien cewek sama cowok beda, Cu. Kalau cewek ya biasa, ga jauh-jauh dari urusan selangkangan," kata Mbah Samijan cengengesan. "Kalau cowok tergantung permintaannya. Nah, untuk kasus seperti cucu ini, syaratnya mudah. Cucu tinggal masukin sperma cucu ke wadah ini, ntar Mbah proses jadi garam. Cara-nya itu rahasia 'perusahaan,' ok?" Mbah Samijan menjelaskan sambil menyerahkan sebuah wadah kecil mirip tempat obat.
"Trus garamnya diapain, Mbah?"
"Ya ditaruh di makanan lah!" kata Mbah Samijan agak emosi.
Setelah proses ritual itu selesai, Bang Toyib kembali ke Jakarta dan menunggu kesempatan untuk melancarkan aksinya.
"Heh, Toyib! Napa bengong lo? Kesambet setan apa?" Bang Toyib dikagetkan oleh suara cempreng saat melamun di dapur.
"Ah, Mak, bikin kaget aja. Toyab-Toyib kan, saya udah bilang nama saya Toto, Mak," kata Bang Toyib kepada wanita tua yang tengah mengaduk sayur sop di atas kompor itu. Wanita itu adalah Mak Imah, pembantu Marinka yang sudah ikut sejak jaman mamanya Marinka โ sudah sangat lama mengabdi.
"Kan lo udah tiga kali puasa tiga kali Lebaran ga pulang-pulang, kayak Bang Toyib," tawa Mak Imah seperti kuntilanak, membuat bulu kuduk Bang Toyib merinding.
"Yah, Mak, itu kan masa lalu. Eh, masak apa, Mak? Udah lapar nih," tanya Bang Toyib sambil menepuk-nepuk perutnya.
"Ini, tadi pagi Non Marinka minta dibikinkan sop sama perkedel kentang. Eh, To, lo tolong pisahin sayurnya ya! Gue kebelet pipis nih," kata Mak Imah. Memang, sayur dan nasi dibagi dua di sini โ yang satu untuk majikan, yang satu lagi yang agak sedikit untuk pembantu. Di rumah itu pembantu hanya Mak Imah dan Bang Toyib saja.
"Ok deh, Mak," kata Bang Toyib sambil hormat layaknya tentara. Mak Imah langsung berlari menuju kamar mandi di belakang. Melihat ada kesempatan, Bang Toyib langsung menambahkan garam dari Mbah Samijan ke dalam sayur sop tersebut.
Di dalam rumah, Marinka tengah bersantai di ruang tamu saat bel pintu berbunyi tanda ada tamu yang datang.
"Ting... tong."
"Iya, siapa ya?" kata Marinka sambil memencet tombol interkom.
"Ini gue, Mar โ Farah. Gue mau ngungsi dulu di rumah lo," kata sang tamu di seberang interkom.
Marinka pun keluar membuka pagar rumahnya dan ternyata dari balik pagar terdapat sosok wanita tinggi, berkulit sawo matang, berdada montok, dan mempunyai senyum yang menawan.
"Eh lo, Far! Gue kirain siapa, malam-malam namu," kata Marinka sambil mengecup pipi kanan dan kiri tamunya โ Farrah Quinn, yang juga sesama chef.
"Sorry deh, Mar, malam-malam namu. Abis di rumah bete," kata Farrah.
"Bete kenapa? Eh, ayo masuk dulu," kata Marinka sambil mempersilakan Farrah masuk dan tak lupa mengunci kembali pagarnya. Di dalam mereka duduk di sofa ruang tamu yang ditata secara minimalis โ hanya ada karpet, sofa berwarna coklat, dan meja kaca.
"Duduk dulu, Far!" kata Marinka setelah menutup pintu.
"Makasih, Mar," kata Farrah sambil mendaratkan pantat bulatnya di atas sofa empuk.
"Tadi lo bilang mau ngungsi, mang kenapa sampai ngungsi segala?"
"Itu biasa laki gue, Mar. Masa udah dua bulan gue dianggurin," kata Farrah agak emosi.
"Weh, dua bulan? Lumutan ga tuh onderdil lo? Hahaha," kata Marinka sambil tertawa lebar.
"Ah, lo ngejek aja, bukannya menghibur," kata Farrah agak jengkel. Belum juga Marinka menjawab, Bi Imah datang memberitahukan bahwa makan malam sudah siap.
"Yuk, Far, ikut makan! Kamu pasti belum makan kan?"
"Asik!! Nah gitu, Mar โ sekali-kali diajak makan napa? Hahaha," kata Farrah sambil tertawa renyah.
"Iya, tapi jangan sering-sering โ ntar tekor gue. Lo kalau makan ga ukuran, pasti gizinya masuk ke toket lo," kata Marinka tak mau kalah.
"Ah, lo ngejek gue! Lo sendiri, lihat proporsi badan sama toket lo โ ga seimbang tuh. Badan imut-imut tapi toketnya amit-amit," kata Farrah sambil melangkah menuju ruang makan.
"Kok amit-amit sih?" Marinka penasaran sambil mengikuti Farrah ke ruang makan.
"Iya, amit-amit pengen remes!" kata Farrah sambil berlari.
"Ih, Farrah!!!" kata Marinka sambil mengejar Farrah.
Saat tiba di meja makan, sudah tersedia berbagai macam masakan โ termasuk sop yang tadi diberi garam pelet oleh Bang Toyib.
"Mar, kok sopnya agak keasinan ya?" tanya Farrah saat menyuapkan sop ke bibirnya yang seksi.
"Iya ya, padahal biasanya enak lho sop buatan Bi Imah," kata Marinka sambil ikut merasakan sop "ajaib" itu.
"Yah, maklum lah, Mar. Mungkin pembantumu kecapekan, maklum kan udah tua," kata Farrah sambil tetap menyuapkan nasi.
"Iya ya, Far. Bi Imah udah ikut aku sejak mama masih kecil," kata Marinka membenarkan perkataan Farrah.
Mereka berdua makan tanpa curiga sedikit pun. Di dalam dapur, tampak Bang Toyib yang juga tengah asyik makan.
"Woi, Toyib! Makan ga ngajak-ngajak! Eh, mana sop gue tadi?" kata Bi Imah sambil menoyor dahi Bang Toyib.
"Ah, Bi Imah, ganggu orang makan aja. Tadi saya cariin Bi Imah ga ada โ ya udah saya makan duluan aja. Kalau sop, pas saya pisahin tadi yang di mangkok kecil kesenggol terus jatuh," terang Bang Toyib seperti senapan mesin yang tak berhenti. Padahal sisa sayur sop tadi dia sembunyikan di lemari dapur paling atas.
"Yah lo kan udah gue bilang hati-hati. Ya udah ga apa-apa," kata Bi Imah sambil mengambil nasi di magic com. Saat akan mengambil nasi terdengar gelegar halilintar, disusul dengan hujan yang sangat deras.
"Yah, Mar! Kok hujan deras amat sih. Gue nginep di sini aja ya, please!!!" kata Farrah sambil melongok keluar dari meja makan.
"Iya iya. Daripada lo di rumah bete mulu. Eh, tapi anak lo gimana? Ntar nyariin lo," kata Marinka.
"Santai, ntar gue telpon babysitter-nya," kata Farrah sambil meminum jus jeruk.
Di dalam kamarnya, Bang Toyib menunggu sang "garam" bereaksi, namun sudah dua jam suasana tetap adem ayem saja.
"Ah, sialan! Si Ujang ngasih alamat dukun palsu. Ilang deh dua juta tabungan gue," gerutu Bang Toyib yang merasa ditipu oleh sang dukun. Karena kelamaan menunggu akhirnya Bang Toyib jatuh tertidur โ dengan posisi celana yang melorot sampai dengkul.
Di saat yang sama, di kamarnya Marinka terlihat gelisah. Entah kenapa malam itu suasana terasa panas, sehingga Marinka hanya mengenakan lingerie tipis model daster warna putih dengan renda bunga warna biru, sehingga nampak dada montoknya dibalut bra warna hitam yang tampaknya kekecilan โ dadanya seperti hendak keluar dari penampungnya. Di bagian bawah terdapat segitiga keramat warna hitam senada dengan bra yang dikenakannya.
"Uh, kok malam ini gue horny banget sih? Mana panas lagi, padahal AC udah paling kenceng," gerutu Marinka sambil mengibas-ngibaskan kerah bajunya karena kegerahan.
"Minum aja ah, siapa tahu bisa agak mendingan," kata Marinka sambil beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur untuk mengambil air di kulkas.
Entah kenapa saat di dapur dia melihat kamar Bang Toyib yang agak terbuka โ dan entah apa yang merasukinya, dia mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka tersebut. Dan saat itulah dia melihat "ular" Bang Toyib yang terekspos dengan gagahnya. Marinka diam tanpa suara โ yang ada hanya suara nafasnya yang semakin lama semakin berat. Entah apa yang merasukinya, saat berada tepat di depan pintu kamar Bang Toyib dia menggesek-gesekkan tubuhnya di bingkai pintu kamar sambil mendesis-desis seperti orang kepanasan. Semakin lama dia menatap "burung" Bang Toyib, semakin berkobarlah nafsu birahi yang merambat ke daerah kewanitaannya, sehingga menimbulkan rasa gatal yang tak terkira.
"Sshhhs... uuuhhhmmmm... sssshhh..." suara Marinka yang sedang bergerak naik-turun menggesek-gesekkan tubuh mungilnya di bingkai pintu sopirnya itu. Sementara itu Bang Toyib yang tengah tertidur merasa terganggu dengan suara desisan itu, sehingga mulai terbangun. Perlahan-lahan matanya terbuka dan terpampanglah pemandangan erotis sang majikan yang tengah meliuk-liukkan tubuh indahnya.
"Eh, Non lagi ngapain, Non?" tanya Bang Toyib keheranan. Agak lama sampai dia sadar bahwa "burungnya" sedang lepas dari sangkar, sehingga cepat-cepat dia menaikkan celananya.
"Eh ini, Bang. Saya ga bisa tidur, abis panas banget malam ini. Hhhmmm... Kok burungnya dimasukin sih, Bang?" tanpa sadar pertanyaan konyol itu keluar sendirinya dari bibir Marinka tanpa dia sadari.
"Abis malu, Non. Masa panas sih, Non? Di sini adem kok," kata Bang Toyib sambil memandang tubuh montok majikannya itu.
"Iya ya, kok di sini adem. Bang, boleh ga saya tidur di sini malam ini?" kata Marinka sambil melangkah maju dan duduk di tepi ranjang Bang Toyib yang agak reyot.
"Lha ntar saya tidur di mana, Non?"
"Yah di sini aja, Bang โ nemenin saya. Kan takut tidur sendirian," kata Marinka yang mulai mendekati sang sopir.
Melihat keanehan sang majikan tersebut, Bang Toyib mulai paham bahwa ramuan garam sang dukun telah bekerja.
"Ayo deh, Non. Sini Abang temenin," kata Bang Toyib cengengesan. Marinka mulai tiduran berhadapan dengan Bang Toyib. Dipandangnya dalam-dalam muka sopirnya itu baik-baik. Semakin dilihat, semakin gatal rasa mekinya.
"Non, Non cantik deh malam ini," rayu Bang Toyib sambil matanya menatap tanpa berkedip dari gundukan kembar di dada sang majikan yang terlihat naik-turun dengan cepat.
"Ah, Abang bisa aja," jawab Marinka sambil wajahnya memerah menahan nafsu. Tanpa disadari tubuhnya mulai merapat ke tubuh Bang Toyib dan memeluk sang sopir sambil menggesek-gesekkan selangkangannya di paha sang sopir.
"Non kok main peluk aja, dingin ya, Non?" goda Bang Toyib yang mulai membayangkan kalau sebentar lagi dia akan mendapatkan tubuh molek majikannya itu.
"Huuh, Bang," jawab Marinka singkat sambil mendekatkan tubuh mungil tapi montoknya itu ke Bang Toyib.
Entah siapa yang memulai, bibir keduanya bertemu saling hisap sambil saling membelitkan lidah masing-masing. Sudah hampir 10 menit mereka berciuman dengan panas sehingga selama itu pula yang terdengar di kamar itu hanya suara desahan dan suara kecipak akibat ciuman yang penuh nafsu.
"Mmmhhhh... ah... uhhhmmmm..." desah Marinka tatkala lidah Bang Toyib membelit dengan mesra lidahnya.
Merasa sudah menaklukkan sang majikan, Bang Toyib langsung melancarkan serangan-serangannya ke arah dada sang majikan. Dengan tak sabar dia langsung melucuti lingerie tipis yang masih membungkus mesra tubuh majikannya itu sehingga terlihatlah tubuh putih mulus bak pualam milik Marinka. Tangan Bang Toyib dengan lincah langsung meremas dengan gemas gundukan putih di dada Marinka meski masih terbungkus bra warna hitam โ terasa sangat kenyal dan hangat sehingga membangunkan kontol Bang Toyib yang tadinya layu menjadi tegak perkasa.
"Wow, besar amat, Bang. Pasti enak kalau disodok ke..." kata Marinka sambil mengelus-elus kontol Bang Toyib yang sudah tegang.
"Disodok ke mana, Non?" kata Bang Toyib menggoda Marinka sambil tangan kirinya mengelus-elus paha mulus majikannya sampai ke pangkal pahanya. Walau terhalang segitiga "keramat," sentuhan-sentuhan jemari Bang Toyib di lubang meki Marinka cukup membuat sang chef kelojotan menahan birahinya.
"Ah... yah... bang, yang situ bang... uuggghh," desah Marinka yang nafsunya mulai membara.
Karena merasa sudah tak kuat lagi menahan nafsunya, Marinka langsung menindih tubuh Bang Toyib dan dengan kasar membuka celana Bang Toyib sekaligus celana dalamnya.
"Wah, sabar Non, sabar," kata Bang Toyib yang ketakutan melihat majikannya yang seperti kesetanan.
Tanpa menghiraukan kata-kata sopirnya, Marinka langsung melahap burung Bang Toyib seperti kesetanan. Mendapat serangan tiba-tiba itu, Bang Toyib hanya mendesis merasakan lidah majikannya melingkar di batang kontrolnya.
"Ssshhhh... yahhh... terus, Non. Ohhhhh... sssshhh," kata Bang Toyib sambil menjambak rambut Marinka menahan nikmat yang diberikan sang majikan.
Tak mau kalah, Bang Toyib ikut menelanjangi Marinka, dimulai dengan bra hitamnya. Dengan penuh nafsu dibukanya bra tersebut sehingga terbebaslah gunung kembar Marinka yang bulat dan besar itu, lengkap dengan puting warna pink yang menggoda.
Tak tahan oleh dada Marinka yang mental-mentul karena kegiatan menghisap kontol Bang Toyib, Bang Toyib langsung meremas tonjolan di dada itu dengan nafsu sambil memainkan puting pinknya. Mendapat serangan mendadak tersebut Marinka langsung menghentikan kegiatan menghisap kontol untuk meresapi rangsangan yang ada di dadanya, sambil mendesah-desah. Marinka ikut menggosok-gosok mekinya menggantikan tangan kiri Bang Toyib yang ikut bergabung dengan tangan kanan memerah susu Marinka.
"Ssshhhh... aaahhhhh... sudah, Bang, sudah," kata Marinka sambil mendorong kepala Bang Toyib yang tengah mencium leher putihnya sehingga meninggalkan jejak kemerahan.
Tanpa memberi kesempatan Bang Toyib untuk protes, Marinka langsung berdiri di atas batang kontol Bang Toyib yang tegak menantang. Dengan gerakan yang erotis Marinka meliuk-liukkan tubuhnya bagaikan seorang stripper, menggoda Bang Toyib yang hanya bisa menelan ludah.
Dengan perlahan Marinka memegang celana dalam hitamnya dan dengan gerakan lambat mulai menurunkannya. Bang Toyib hanya bisa melotot saat bulu kemaluan Marinka mulai terlihat, dan mulutnya menganga lebar saat Marinka sudah menanggalkan penutup tubuhnya yang terakhir itu. Marinka hanya tertawa kecil saat melihat sopirnya itu melongo.
"Udah dong, Bang, jangan dilihat terus," kata Marinka malu-malu sambil menutupi mekinya dengan tangannya.
"Ah, Non, pakai ditutup segala. Ayo dong, Non, udah ga kuat Abang," kata Bang Toyib sambil berusaha membuka tangan Marinka.
"Wah, tembem amat, Non. Pasti enak kalau burung Abang dimasukin ke situ," Bang Toyib tertawa menampakkan dua lubang akibat giginya yang hilang gara-gara dihajar massa.
"Udah ah, Bang. Daritadi digoda mulu. Ayo, mau dimasukin kagak nih?" kata Marinka sambil cemberut.
"Ya dimasukin dong, Non, udah konak banget nih Abang," kata Bang Toyib sambil melotot melihat dada Marinka yang tidak tertutupi apa-apa lagi.
Dengan perlahan Marinka mulai menurunkan pinggulnya setelah memastikan bahwa arah kontol Bang Toyib sudah pas menuju mekinya.
"Uhhsssttt... gede... amaatt... aaahhhh..." kata Marinka saat secara perlahan kontol Bang Toyib hilang ditelan mekinya.
"OOOHhhhhhh... peret... ssshhhh," desah Bang Toyib meresapi nikmat saat batang kontrolnya amblas ditelan secara sempurna oleh meki sang majikan.
Setelah mendiamkannya selama satu menit Marinka mulai menaik-turunkan badannya di atas kontol Bang Toyib yang sudah tertancap dengan sempurna di mekinya itu. Gesekan demi gesekan makin membangkitkan hasrat Marinka yang mulai mendesah-desah tak karuan menikmati persetubuhan ini.
"Ahhhh... ssshhhh... hhhuummmffhhh," desah Marinka yang makin lama makin mempercepat gerakan naik-turunnya itu.
"Gila, ternyata begini ya rasanya. Memek orang keturunan, becek tapi menggigit โ enak banget," kata Bang Toyib dalam hati.
"Ahhhh... ssshhhh... AAAAKKKKHHHH!" Marinka berteriak cukup keras saat mendapat orgasme pertamanya. Dari dalam mekinya Bang Toyib merasa kontrolnya disiram oleh cairan hangat sekaligus dihisap dengan kuat.
Di kamar itu tak ada suara kecuali suara nafas yang terdengar berat dan bersahut-sahutan. Tiba-tiba dari pintu muncul Farrah dengan gaun tidur warna ungu sepaha dengan potongan dada yang rendah sehingga menampilkan dadanya yang montok, dan sepasang paha yang mulus dengan warna kulit yang eksotis sangat serasi menambah aura seksinya.
"Wah wah, Mar! Lo tega amat sama gue โ dapat yang enak-enak ga bagi-bagi," ledek Farrah sambil masuk ke kamar tersebut.
"Eh, Farrah! Lo belum tidur?" kata Marinka sambil menengok ke arah suara yang mengagetkannya.
"Abis tadi panas banget jadi gue mau minum. Eh, ga tahunya ada suara yang mencurigakan โ gue kira maling. Eh, ternyata lo lagi enak-enakan. Bagi dikit napa, Mar?" kata Farrah sambil bersandar di samping pintu dengan melipat tangan di dadanya yang montok nan sekel.
"Eh iya, kenalin, Far โ ini sopir aku, namanya Bang Toto," kata Marinka sambil berguling ke samping yang secara otomatis melepas kontol Bang Toyib yang sedari tadi bersemayam di meki Marinka. Kontol itu terlihat mengkilat akibat cairan orgasme Marinka tadi.
"Wow, gede juga punya sopir lo, Mar. Gue pinjam bentar ya," kata Farrah saat melihat kontol Bang Toyib yang tegak mengacung sambil berjalan menuju ke arahnya. Saat kontol tersebut sudah ada di depan mukanya, dia mengamatinya dengan seksama sambil mengocoknya pelan.
"Sshhh... ooohhh... terus, Non, enak banget!" kata Bang Toyib saat merasakan kehalusan tangan Farrah yang melingkar di batang kontrolnya.
Tanpa memberi peringatan, Farrah langsung mengulum kontol Bang Toyib dengan ganas sehingga membuat empunya merem melek keenakan.
"Ohhhh... ssshhhh... aaaahh, terus, Non," kata Bang Toyib keenakan.
"PLOOOOP," suara kontol Bang Toyib yang lepas dari kuluman Farrah.
"Hhhhmmmm, gurih. Peju lo enak juga, Mar, ternyata," kata Farrah sambil memainkan lidahnya di sekitar kontol Bang Toyib. "Mau yang lebih enak, Bang?" goda Farrah sambil tersenyum genit.
"Mau dong, Non. Masa dikasih yang enak-enak ga mau," kata Bang Toyib dengan muka mesum.
Dengan cepat Farrah melepas gaun tidurnya sehingga tampak gunung kembarnya polos tanpa tertutupi selembar kain โ terlihat putingnya yang berwarna coklat yang sudah tegang, pertanda si empunya terangsang berat. Dengan cekatan Farrah meletakkan kontol Bang Toyib di antara toketnya yang montok dan mulai menggerakkannya naik-turun.
"Oh enak, Non, enak... ssshhhh," kata Bang Toyib yang merasakan tit fuck dari Farrah.
Sepuluh menit Farrah melakukan itu sampai tiba-tiba Bang Toyib berdiri dan mengangkat Farrah. Mungkin karena sudah tak tahan, Bang Toyib langsung mencium Farrah dengan ganas sambil memerah susu Farrah yang terkenal montok itu.
"Mmmhh... mmmggghhhh... hhhhmm..." suara Farrah terbungkam oleh bibir tebal Bang Toyib. Tangan Bang Toyib yang langsung menyerbu daerah pantat Farrah pun menambah getaran nafsu Farrah.
"Ayo, Non. Abang udah ga tahan nih," kata Bang Toyib yang membaringkan Farrah di samping Marinka yang tengah mengamati dua orang manusia yang tengah terbuai nafsu dari tadi.
Dengan cekatan Bang Toyib melepas celana dalam putih berenda bunga milik Farrah sehingga terpampanglah belahan meki Farrah yang berwarna coklat, dikelilingi oleh rambut halus yang dicukur rapi membentuk segitiga mengarah ke bawah.
"Wah, Non Farrah, seksi lho kalau gini! Ga kalah deh," tawa Bang Toyib meledak saat melihat tubuh polos Farrah yang selama ini jadi fantasinya.
"Ayo dong, Bang. Masa cuma dilihatin aja?" goda Farrah sambil menutupi dada dan mekinya dengan tangannya.
"Jangan dong, Non, hehehe," kata Bang Toyib yang langsung membuka paha Farrah dan menjilati mekinya dengan nafsu, tak lupa menjilati daging kecil sebesar kacang sehingga membuat Farrah semakin mengerang penuh nafsu.
"Ohhhhh... sssshhh... yah, di situ... ahhhh... mmmhhhh," desah Farrah. Mulutnya terbungkam oleh Marinka yang menyumpal mulut Farrah dengan mekinya sehingga mau tak mau Farrah harus menjilati meki Marinka. Hawa kamar itu semakin panas oleh nafsu mereka bertiga.
Merasa sudah cukup cairan yang keluar dari meki Farrah, Bang Toyib langsung menyodoknya tanpa peringatan sehingga membuat Farrah melonjak kaget dan mendorong pantat Marinka. Alhasil Marinka terdorong menuju Bang Toyib yang tengah menggenjot Farrah.
"Bruuuk! Aduh! Awww!" teriak Marinka dan Bang Toyib hampir bersamaan saat terjatuh dari ranjang dengan posisi sama-sama menyamping.
"Aduh, sorry, Mar. Abis si Abang main tusuk aja, kan gue kaget," kata Farrah sambil melihat sahabatnya itu.
"Ah lo, sakit nih," kata Marinka yang mencoba berdiri sambil mengelus-elus pinggangnya.
"Abis saya kira Non Farrah udah siap, ya udah saya genjot aja," kata Bang Toyib sambil membantu Marinka berdiri.
"Bilang-bilang dong, main tusuk aja. Eh, Mar, sini deh," kata Farrah sambil berbisik sesuatu pada Marinka. Tak lama mereka berdua cekikikan sambil melihat Bang Toyib yang bengong memandangi dua wanita cantik tanpa busana.
"Nah, ayo Bang, silakan dipilih mau yang mana," kata Farrah saat Marinka merangkak di atasnya sehingga di hadapan Bang Toyib tersedia dua meki yang berbeda warna โ yang satu dengan paha putih dan belahan meki warna pink yang menggoda, sedangkan yang satu lagi paha dengan warna eksotis dengan meki warna agak coklat.
"Wah wah wah, mimpi apa gue semalam, dapat dua cewek seksi kayak gini," kata Bang Toyib dalam hati.
Dengan perlahan Bang Toyib mendekati dua meki yang bertumpuk itu, sementara kedua pemiliknya malah sedang asyik saling cium dan saling raba. Bang Toyib memutuskan mencicipi meki Farrah Quinn lebih dulu karena dia penasaran dengannya sejak tadi. Dengan hati-hati dia mendorong kontrolnya memasuki meki Farrah yang sempit itu.
"Ohhhh... mantabsss... aaahhhh," desah Bang Toyib merasakan nikmatnya meki Farrah. Sedangkan Farrah tidak bisa berbicara banyak sebab mulutnya tertutup oleh bibir Marinka. Tak mau nganggur, tangan kanan Bang Toyib mulai menggosok-gosok itil Marinka sehingga dua orang wanita itu kian dibakar hawa nafsu.
Merasa bosan, Bang Toyib berpindah ke meki Marinka โ cuma lima menit, ganti lagi ke meki Farrah sampai...
"Ahhhh... ooohhsss... yang cepet, bang, yang cepet... aahhhh... AAAAAAAHHHHH!" desah Marinka saat mencapai orgasme keduanya sehingga membuat tubuh mungilnya kelojotan sampai akhirnya melemah dan ambruk di atas tubuh Farrah.
"Yah, Non, kok udahan sih?" kata Bang Toyib kecewa.
"Abis Bang Toto kontrolnya enak banget sih," kata Marinka dengan nafas ngos-ngosan.
"Udah, Bang. Ayo sama saya saja," kata Farrah sambil mengocok lembut kontol Bang Toyib.
"Ayo deh, Non Farrah. Non nungging ya," pinta Bang Toyib, yang langsung dilakukan oleh Farrah. Dengan penuh nafsu Bang Toyib menggenjot Farrah dengan kuat sehingga payudara Farrah terpental ke sana kemari saking kuatnya genjotan Bang Toyib.
"Oh... ooohhh... ayo bang, dikit lagi... AAAAAAKKKHHH!" teriak Farrah saat orgasme menerjangnya. Sambil menghentak-hentakkan pantatnya dia melepaskan hasrat yang selama ini terpendam.
"Bentar, Non. Abang juga mau nyampe... haaa... haaa... haaa," kata Bang Toyib sambil tetap menghujamkan kontrolnya walau Farrah telah lemas tak berdaya dan hanya mampu merem melek saja.
"Ahhh... non... Abang nyampe... AHHHHH!" Bang Toyib langsung mencopot kontrolnya dan menumpahkan air maninya di pantat Farrah sambil meratakannya.
Bang Toyib tertidur di antara dua wanita seksi itu yang juga tengah meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru saja didapatnya, hingga mereka bertiga terlelap. Sungguh pemandangan yang aneh โ seorang pria berwajah pas-pasan tidur diapit oleh dua selebriti cantik. Bagi Bang Toyib, ini adalah mimpi yang jadi kenyataan.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Di dalam kamar tempat pertempuran tadi, terlihat bayangan orang yang mengendap-endap menuju ranjang tempat Bang Toyib dan dua wanita korban kontrolnya tengah terlelap.
"Ahhhss... sshhh... Non... nanti pagi napa, Abang capek nih," kata Bang Toyib setengah sadar saat merasakan ada yang mengulum kontrolnya. Tapi dilihatnya dua orang korbannya masih tertidur di samping kanan dan kirinya. Lalu dia menengok ke bawah melihat siapa gerangan yang sedang melayaninya itu.
"Hihihihi... Yayang Toyib. Ayo dong, Aye udah ga tahan, Bang," kata orang yang tengah mengulum kontrolnya itu, sambil tersenyum memperlihatkan gigi ompongnya. Ternyata dia adalah Bi Imah.
"TIDAAAAKK!!!!!!" teriak Bang Toyib, yang diikuti oleh tawa Bi Imah yang langsung menutup pintu kamar.
TAMAT.