18px

Bab 1

Suami Lugu Ternyata Dahsyat

Aku Deby. Setelah lulus kuliah aku langsung bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di Jakarta. Belum lama aku lulus dan bekerja, kedua orang tuaku yang sudah berusia senja menyuruhku menikah dengan salah satu putra kerabat jauh mereka. Aku menuruti saja kemauan kedua orang tuaku, walaupun sekarang sudah bukan zamannya lagi menerapkan pernikahan ala Siti Nurbaya.

Aku langsung nikah tanpa pacaran sebelumnya.

Lelaki itu โ€” untuk selanjutnya aku sebut saja "abang" โ€” lebih tua dari aku. Resepsi pernikahan kami berjalan lancar. Malam pertama lewat begitu saja. Tidak ada gulat seru yang menggebu-gebu. Kami langsung tertidur karena ternyata menjalani resepsi itu sangat melelahkan, walaupun cuma senyum dan salaman.

Ketika paginya aku bangun, dia tidak ada di sebelahku โ€” aku memang tidur duluan semalam. Aku keluar dari kamar untuk membuat secangkir kopi di dapur; dia lagi baca koran. Setelah minum kopi dan mandi, aku segera bersiap-siap ke kantor. Aku memang tidak bisa cuti walaupun baru nikah โ€” bosku minta dengan sangat aku menunda cuti nikah karena ada proyek besar yang harus selesai dalam waktu dekat, dan porsi kerjaan yang menjadi bagianku penting sekali untuk keberhasilan proyek ini. Walaupun kesal, ya aku iya saja.

"Deby ke kantor ya, Bang. Pulangnya mungkin malam, ngejar deadline proyek," ujarku sambil mengenakan sepatu di ruang tengah.

"Iya," jawabnya singkat.

Entah apa yang ada di benaknya, kok malam pertamaku bisa lewat begitu saja tanpa dia nyolek-nyolek aku, istrinya yang baru saja dinikahinya. Masa bodoh ah โ€” aku juga terpaksa nikah sama dia untuk menyenangkan kedua ortu saja. Dia tidak mau menyentuh aku, ya tidak masalah juga; mantan-mantan pacarku di luar banyak yang bersedia menyentuh aku begitu aku kasih sinyal.

Di kantor ramai sekali. Teman-teman kerjaku yang perempuan cipika-cipiki sambil menggodaku betapa nikmatnya malam pertama โ€” aku cuma senyum-senyum saja, tidak tahu bahwa semalam aku tidur saja sampai pagi, tidak ada yang nyolek-nyolek. Yang lelaki hanya menyalami aku; kelihatan sekali mereka kecewa dengan keputusanku untuk menikah, artinya tidak bisa dugem lagi bareng mereka. Malamnya aku pulang dengan segudang rasa lelah akibat kerja keras di kantor, itu pun belum selesai kerjaanku. Bos menyuruhku pulang duluan walau tim yang lain masih terus menggeluti kerjaannya masing-masing โ€” toleransi buat pengantin baru, kata bos โ€” disambut gemuruh tawa dari seluruh tim ketika aku pamit duluan.

Setibanya di rumah, dia belum pulang padahal sudah malam banget. Aku hanya merebahkan badanku yang capek di ranjang tanpa melepas pakaian kerja. Tiba-tiba, "Udah pulang kamu?" tanyanya sambil masuk ke kamar.

"Sorry, Bang. Tadi Deby nggak sempat masak, kita pesan makanan delivery aja ya?" jawabku.

Kami menyantap makan malam kami setelah pesanan datang.

Dibandingkan teman-teman perempuan di kantor, dan juga pengakuan teman-teman lelaiku, aku termasuk wanita yang cantik, menawan, serta seksi. Selain itu aku orang yang mudah mencairkan suasana dan nyambung jika diajak bercerita. Makanya aku bingung banget ngeliat kelakuan suamiku itu โ€” tidak tahu lugu atau jutek; sampai aku pun tidak tahu mau ngomong apa sama dia. Walaupun dijodohkan, tapi namanya malam pertama tidak ngapa-ngapain itu aneh juga untukku. Mana ada kucing yang nolak ikan asin.

Setelah mandi dia nonton TV. Karena tidak ada acara yang menarik menurutnya, dia duduk di meja kerjanya meneruskan pekerjaan kantor yang dibawanya pulang. Sudah jam 23.30, aku sudah ngantuk menunggu movenya, tapi kayanya malam ini bakal lewat lagi begitu saja. Aku menghampirinya.

"Belum selesai kerjanya, Bang?"

"Belum," jawabnya singkat, tanpa memandang wajahku yang berdiri di samping meja kerjanya.

"Ya udah, kalau gitu Deby tidur duluan ya," jawabku dengan tetap senyum manis walaupun bete banget.

Malam itu rupanya sofa menjadi tempat tidurnya karena keesokan harinya aku bangun dan dia tidak ada di ranjang. Kukira dia olahraga atau apa, ketika aku keluar kamar ternyata dia sedang tidur di sofa. Rupanya malam kemarin pun dia tidur di sofa. Aneh banget โ€” takut aku makan kali ya, padahal aku sudah jinak banget. Aku segera membuatkan secangkir kopi untuknya dan kembali ke sofa.

"Bang, kok nggak tidur di kamar? Entar masuk angin loh," kataku melihat dia menggeliat terbangun karena suara sandalku memecah keheningan pagi itu.

"Nggak apa-apa kok. Takut ngeganggu kamu yang udah bobo duluan," jawabnya sambil mengusap mata.

"Deby buatin kopi nih."

"Nggak, nggak usah, aku bisa buat sendiri kok."

"Udah, nih," ujarku sambil menyodorkan secangkir kopi kepadanya. Buset, juteknya โ€” bukannya terima kasih sudah dibuatkan kopi sama istrinya. Setelah itu aku sengaja duduk mepet di sampingnya, sangat dekat hingga paha kami berdua bersentuhan. Pagi itu seperti biasa aku menggunakan celana pendek dan kaos oblong yang kebesaran โ€” seragam rumahku.

"Nggak ngantor?" tanyanya. Aku sengaja menaruh tanganku di pahanya dan menatapnya.

"Jam sembilan lewat dikit baru aku berangkat. Abang?"

"Sama, aku juga. Kita berangkat bareng, mau nggak?"

"Siap, komandan," jawabku sambil tertawa. Lumayan, gunung es mulai merespons sinyalku. Waktu sebelum berangkat ke kantor itu kami gunakan untuk bercanda dan saling mengenal lebih dekat. Hari itu terasa sangat singkat; tugas-tugas di kantor terasa lebih ringan mungkin karena suasana hatiku yang sedang senang.

Sepulang kantor dia menjemputku. Sambil bergandengan tangan kami menuju mobil lalu meluncur ke sebuah rumah makan yang bersuasana romantis. Sambil menunggu pesanan, aku mencoba membuka pembicaraan.

"Bang, Deby seneng deh abang ajak makan. Ini kan resepsi khusus buat kita berdua aja ya, Bang?"

Kemudian aku banyak cerita tentang kerjaan di kantor dan problema yang aku hadapi; dia hanya menjadi pendengar yang baik tanpa banyak berkomentar. Kemudian makanan dihidangkan dan selanjutnya kami makan, aku selingi dengan menyuapinya. Dia merespons dengan menyuapi aku juga. Kami duduk bersebelahan โ€” sudah aku atur gitu. Pembicaraan terhenti karena mulut masing-masing sibuk mengunyah. Setelah makan kami pun pulang. Lumayanlah, gunung es lebih mencair dibandingkan semalam.

Sesampainya di rumah, dia mandi duluan dan langsung menonton TV. Jam 21.00, aku baru selesai mandi, hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan. Aku sedang mencari baju kaos di lemari. Tiba-tiba pintu terbuka โ€” refleks langsung dia menutup pintu sambil meminta maaf.

Aku yakin, walaupun hanya beberapa detik, dia pasti melihat kedua payudaraku yang lumayan besar dan masih kencang banget.

"Deb, sorry, aku mau ngambil bantal. Aku nggak ngintip kok," ujarnya dari luar kamar.

Walaupun jengkel, tapi aku jadi geli sendiri melihat kelakuan bodoh seorang lelaki yang judulnya suamiku itu. Apa impoten kali ya, sampai tidak tergiur sama sekali melihat payudaraku tadi.

Kukira gunung esnya makin cair karena sejak tadi pagi dia nampak lebih ceria. Tapi ternyata...

"Nggak apa-apa, masuk aja..." teriakku dari dalam kamar. Dengan menggunakan tangan kiri, dia menutup matanya sedangkan tangan kanannya meraba-raba permukaan tempat tidur untuk mencari bantal.

"Udah, nggak usah nutupin mata, ntar kesandung-sandung lagi," kataku sambil mencolek pinggangnya.

"Sorry, aku bukan mau ngintip tadi, aku beneran nggak sengaja," katanya lagi.

"Nyantai aja, Deby yang diintip kok abang yang panik," balasku sambil tertawa. "Eh, nggak pegel apa tidur di sofa? Enakan tidur di sini bareng Deby," sambungku sambil menepuk tempat tidur. "Udah, cepetan, TV-nya dimatiin dulu," lanjutku sambil sedikit mendorongnya. Lumayan, gunung es nurut juga sama aku โ€” selangkah lebih maju.

Setelah TV dimatikan, dia kembali ke kamar. Di kamar aku sudah berada di atas tempat tidur. "Bobo sini, Bang," kataku sambil membetulkan posisi bantal yang berada di sampingku. Dia merebahkan tubuhnya tepat di sampingku dan langsung memejamkan matanya.

"Abang masih punya pacar ya waktu kita nikah?" Dia membuka matanya pelan-pelan, menatap wajahku yang sangat dekat dengan wajahnya karena posisiku yang menindih sebagian tubuhnya.

"Nggak, emang napa?" tanyanya balik.

"Penasaran aja. Abisnya abang dingin banget, serem tau," jawabku sambil tersenyum.

"Aku cuman kaget aja, keadaan berubah drastis banget," jawabnya.

"Ohh, Deby kira abang jeruk makan jeruk."

"Aku masih normal kali," jawabnya. Tanganku perlahan mulai memeluk perutnya. Sepertinya sinyal yang aku berikan tidak sia-sia sama sekali walaupun belum membuahkan hasil. Ternyata ada juga lelaki macam ini di dunia.

Karena tidak bisa lagi menahan kantuk, akhirnya kami berdua tertidur sampai pagi โ€” hanya tertidur tanpa melakukan sesuatu. Keesokan harinya aku bangun terlebih dahulu; sepanjang malam aku memeluknya dan tertidur dengan posisi setengah tubuhku menindih tubuhnya. Aku tidak memeriksa ada yang tegang tidak di selangkangannya. Aku menyesal tidak memeriksa โ€” kalau tegang, artinya dia masih normal seperti yang diucapkannya.

"Bang, bangun! Nggak ngantor?" tanyaku sambil menjepit hidungnya. Dia menggeliat dan bangun sambil mengucek-ngucek mata.

Pagi itu di kantor aku memberi perhatian lebih padanya, terus saja mengirim SMS menanyakan kegiatannya dan lain-lain. Aku terus mengirimkan sinyal-sinyal kepadanya dan kayanya responnya positif.

Malamnya aku sampai duluan di rumah. Hari ini hari Jumat, besok kami berdua libur. Aku menyiapkan strategiku untuk mendorong dia mau memelukku. Aku sudah menyiapkan makan malam buat dia. Aku mengenakan kaos berlambang MU dengan celana pendek โ€” karena kegedean bajunya aku atur hingga bahu sebelah kananku terlihat keluar dari leher baju. Dia bengong melihat aku pakai baju kayak gitu.

"Kenapa kok abang bengong?"

"Tu kan kaos aku," katanya.

"Iya, emang istri nggak boleh pake baju suaminya?" tanyaku balik.

"Boleh aja sih. Eh tapi kamu cantik loh kayak gitu. Aku sampai terpana ngeliatnya."

"Bisa merayu juga toh abang. Kalau cantik mah Deby dari kecil, Bang. Abang baru nyadar ya kalau istri abang cantik?" aku menggodanya. "Udah makan dulu sana, keburu dingin," kataku lagi.

"Masakanmu enak, Deb."

"Tuh kan, selain cantik, istri abang koki yang baik juga ya." Dia senyum-senyum saja mendengar ocehanku.

Sehabis makan, dia menyamperin aku yang lagi nonton film di TV. "Duduk sini, Bang, dekat Deby." Perlahan dia duduk di sampingku. Aku langsung menarik tangannya dan menggenggam jemarinya erat-erat. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa; aku langsung menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia menaikan tangannya sedikit agar aku bisa meletakkan kepalaku di dadanya. Tanganku menyusuri pinggangnya lalu kupeluk.

"Deb, kalau mau minta tolong atau mau ngomong sesuatu, kasih tahu aja. Aku siap bantu kok," katanya untuk memecah suasana.

"Abang masih belum nerima kenyataan kalau kita udah nikah ya?" jawabku pelan.

"Sekarang udah nggak, abis kamu baik, cantik lagi."

"Ih, gombal," jawabku sambil mencubit pinggangnya. "Kalau Deby sih pasrah aja, orang tuaku mau nyuruh apa juga, yang penting pekerjaan Deby nggak keganggu. Deby mau minta sesuatu sama abang, boleh nggak?"

"Minta apa?"

"Ehm, gimana ngomongnya ya," jawabku.

"Udah, bilang aja, nggak usah malu."

"Beneran nih, nggak papa?"

"Iya, beneran. Terus, apa?"

"Boleh minta cium nggak?"

"Ooh..." langsung dia mencium pipiku.

"Iiihh, bukan di situ, tapi di sini," kataku sambil menunjuk bibir.

Dia tidak merespons, padahal sinyal yang kuberikan sudah kuat banget. "Abang nggak mau ya? Nggak apa-apa deh kalau gitu," kataku dengan nada sedikit kecewa.

"Nggak, aku cuma..."

"Cuma apa, Bang?" kataku karena dia diam sejenak.

"Belum pernah ciuman," jawabnya malu-malu, mukanya memerah.

"Astaga, jadi kalau kita ciuman, itu first kiss abang dong?" Aku mengangkat wajahnya yang tertunduk malu. "Deby perempuan pertama yang abang cium di bibir ya? Deby ajarain dulu ya, terus nanti kalau udah bisa, abang bales."

Segera kucium bibirnya. Mula-mula hanya menempelkan bibir, kemudian aku mulai memagut bibirnya dan menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya.

"Dibales dong," kataku di sela-sela seranganku ke bibirnya. Alhamdulillah, dia membalas ciumanku dengan cara yang sama seperti yang kuajarkan.

"Mmhhh," lenguhku. Setelah beberapa menit, kulepaskan ciumanku. Aku tertawa lepas sambil memandangnya. "Nah, bibir abang udah nggak perjaka lagi," kataku sambil menepuk dadaku. "Hebat juga kamu ya, master banget deh kayaknya, ngasih kursus juga ya?"

"Ya nggak lah. Deby juga baru pertama kali praktek nih. Tau dari baca buku dan liat film bokep, ternyata rasanya dahsyat ya," jawabku.

"Jadi bibir kamu sekarang juga udah nggak perawan nih," candanya.

"Apa lagi yang masih perawan?"

"Ya semuanya lah," jawabku.

"Mau dong nyobain."

"Sok atuh, silakan," jawabku sambil menarik tangannya mendekati tubuhku.

"Aku becanda kok."

"Beneran juga nggak apa-apa. Nanggung kan rasanya kalau cuman gitu-gitu aja," lanjutku memancing.

"Terus maunya gimana?"

"Nggak ngerti-ngerti juga?" jawabku. Kok ada ya di dunia ini lelaki yang selugu itu. Tidak tahu deh kalau dia cuma pura-pura lugu. "Ngomongnya langsung aja, nggak usah berbelit-belit, bingung aku."

"Deby mau dipeluk sama abang," jawabku to the point sambil menarik bajunya.

"Yah, nggak tau harus gimana duluan," jawabnya.

"Kan ada film bokep, lihat dari situ aja bisa kan?"

"Aku coba deh."

Aku segera berjalan menuju kamar tidur kami dan kembali membawa kotak kecil yang isinya kumpulan DVD film-film porno dari Jepang dan Asia. "Lengkap banget. Hobby nonton ginian ya?" tanyanya sambil melihat-lihat DVD-nya.

"Eh, ini punya teman kantor. Nonton sih sering tapi kalau punya koleksi sebanyak ini, enggak deh," jawabku.

"Aku kira kamu hiper," katanya bercanda.

"Eh, hiper juga asik tau, bisa siap setiap saat," jawabku sambil tertawa dan terus mencari yang menurutku sangat bagus. "Nah, ini dia, akhirnya ketemu." Aku merapihkan DVD lain yang berantakan di atas sofa. "Nontonnya di kamar aja, supaya kalau capek bisa langsung tidur."

"Emangnya kita mau nyangkul? Kok capek?" tanyaku bercanda.

Adegan pertama: ciuman. Dia duduk di atas tempat tidur dan aku duduk di pangkuannya. "Itu namanya foreplay, Bang," kataku.

Mulailah aku memagut bibirnya; selama beberapa menit kami mempertahankan posisi seperti itu โ€” saling berpagutan bibir, kedua lidah kami saling menjalar ke seluruh rongga mulut lawan. Film pun berganti adegan: sang lelaki mulai menggerayangi tubuh si perempuan Asia. Baju si perempuan disingkap ke atas dan payudaranya mulai diemut oleh si lelaki.

"Pengen deh ditembak gitu," kataku sambil melepaskan ciuman kami. Posisiku sekarang duduk berhadapan dengannya, tetap duduk di pangkuannya.

"Ya udah, bajunya dibuka," jawabnya.

Aku membuka bajuku perlahan, sedikit demi sedikit payudaraku yang tidak tertutup bra mulai tersingkap. Seperti orang bodoh, payudaraku hanya diperhatikan tanpa berbuat apa-apa.

"Kok cuma diliatin doang? Aku pake lagi nih bajunya," kataku kesel.

"Sorry, speechless aja aku. Gede amir โ€” seumur-umur baru pernah lihat yang ginian. Sexy banget tubuh kamu," jawabnya untuk meredakan rasa keselku.

"Ah, masa begini saja sexy dan cantik? Biasa aja kali. Dijilat dong," kataku lagi sambil tersenyum.

"Nggak ah, entar lecet. Nanti kalau mandi kan nyeri."

"Jadi gimana dong?"

"Aku jilatkan aja, mau nggak?"

Kami langsung berpagutan lagi. Dia mencium bibirku, kemudian aku melepaskan ciumannya dan menarik kepalanya ke arah payudaraku. Lidahnya menjulur dan mulai menjilati melingkar di sekitar putingku; ujung putingku disentuh perlahan menggunakan ujung lidahnya.

"Mmhh, enak, Bang. Terus, terus. Yang kanan juga. Aahh," desahku yang membuat dia bersemangat melakukannya.

Lima belas menit dia menyerang kedua payudaraku. Hanya suara desahan yang keluar dari bibirku; saat tubuhku menggeliat hebat, ada cairan membasahi celanaku.

"Deb, celana kamu basah."

"Iya, Deby keluar tadi," jawabku sambil menciumi pipinya.

Adegan di film kini berubah lagi: kemaluan lelaki yang besar panjang sudah sedari tadi tegang, mulai diurut turun naik oleh si perempuan lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.

"Mau Deby gituin nggak?" tanyaku.

"Udah, nggak usah, lain kali aja," jawabnya cepat.

"Nggak apa-apa, nggak usah malu. Enak lagi," balasku. Aku segera menarik celananya dan langsung menggenggam kemaluannya yang belum menegang sama sekali di balik celana dalamnya.

"Gila, Deby udah hampir dua kali orgasme, abang berdiri aja belum."

"Aku baru sekali diginiin," jawabnya.

Aku kemudian menarik turun celananya. "Besar juga punya abang. Beda dikit lah sama yang di film," kataku sambil tersenyum.

Aku menggenggam kemaluannya dan mulai mengurut dari atas ke pangkal pahanya selama sepuluh menit, kemudian aku menempelkan bibirku ke ujung kepala kemaluannya dan menghisapnya pelan, kujilati kembali kepalanya lalu kukulum dengan mengeluarmasukkan kemaluannya ke dalam mulutku.

"Udah, udah, udah..." katanya sambil mencoba menarik kemaluannya keluar dari mulutku. Keluarlah maninya di dalam mulutku.

Aku agak terkejut dan mengeluarkan kemaluannya dari dalam mulutku sehingga muncratan mani berikutnya membasahi wajahku. Aku bisa menerimanya dan kujilati yang masih tersisa. Wah, belum apa-apa sudah ngecrot โ€” percaya deh kalau dia masih perjaka betulan. Dia membetulkan celananya lalu mengambil handuk untuk membersihkan maninya di wajahku.

"Ketelen nggak?"

"Dikit," jawabku sambil tersenyum.

Tibalah film itu di puncak aksinya โ€” si lelaki melepas celana dalam si perempuan dan mulai melumat selangkangannya.

"Rebahan deh," katanya. Saat aku berbaring di tempat tidur, dia telungkup di atasku dan mulai menciumku lagi. Kemudian dia menyerang leherku. "Mmhh," lenguhku.

Tak lama setelah itu, kedua payudaraku dimainkan, dipijat pelan dan mulai dijilat perlahan. Desahan nikmat terdengar dari mulutku ketika dia menghisap serta menggigit-gigit kecil kedua putingnya.

"Ooohh, baang, teruuss baanngg!" jeritku perlahan dan tertahan-tahan. Dia terus mengulum payudara dan putingku, kemudian turun ke arah pusarku โ€” menjilat sekeliling pusarku sambil tangannya meremas lembut kedua payudaraku. Aku menggenggam dengan kuat rambutnya sambil menjepitkan kedua kakiku ke badannya.

"Bang, Deby nggak mau di situ aja. Teruuss tuurruunn."

Dia ikuti kemauanku. Dihentikannya remasan pada kedua payudaraku; aku menaikan pinggulku dan menurunkan celanaku. Sekarang aku sudah tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhku.

"Kok nggak pake CD sih?" katanya sambil mencubit pipiku.

"Kalau nggak ada abang sih Deby pake. Tapi kalau ada abang ya nggak lah โ€” kalau tiba-tiba abang minta gimana?" jawabku.

Dia kembali menciumi pusarku sampai di atas kemaluanku yang tidak memiliki bulu sedikit pun. "Sering dicukur ya, Deb?"

"Nggak juga sih, nggak tau kenapa, bulunya lama tumbuh," jawabku.

Dia menjilati dengan lembut pusarku hingga aku menggelepar menerima rangsangan yang terasa nikmat. "Ach, uch, Bang, enak sekali!" ceracauku sambil terengah-engah. Aku memejamkan mataku, kunikmati saja ciumannya yang panas. Perlahan-lahan dengan tangan kirinya dia membuka kedua belah bibir kemaluanku.

Dengan disertai jeritan kecil, aku menekan kepalanya ke arah kemaluanku sambil mendesah. "Bang, oohh, ngg, nikmaatt, bang..." Sementara mulutnya, lidahnya terbenam di antara bibir kemaluanku yang sudah basah. Dia mengisap serta menelannya, mengecup klitorisku. Aku menjerit kecil dan menggoyangkan pantatku naik turun disertai erangan dan desahan nikmat. Cepet belajar juga dia rupanya โ€” sekali lihat di bokep langsung ngerti kudu ngapain.

Aku semakin terangsang hebat sampai pantat kuangkat-angkat agar lebih dekat dengan mulutnya. Dia pun merespons hal itu dengan memainkan lidahnya ke dalam kemaluanku, kemudian mempercepat jilatannya. Semakin cepat dia menjilat, semakin aku menjepit kepalanya di tengah kedua pahaku.

"Kalo Deby tau enaknya nggak ketulungan gini, Deby dah minta dari awal!"

Aku makin mengejang hebat dan mencoba menarik rambutnya agar kepalanya menjauh, tapi dia meneruskan permainannya hingga kurasakan suatu cairan keluar membasahi kemaluanku.

Aku mengerang panjang, "Ooohh, baang, Deby keluaarr! Mmff..." sambil menjepitkan kedua pahaku di kepalanya sampai dia sulit bernapas. Akhirnya jepitanku berangsur-angsur melemah dan aku tergeletak sambil membukakan kedua pahaku; dia bisa menghirup udara segar sejenak.

"Enak?" tanyanya.

"Iya, enak lah."

"Ya udah, gitu aja dulu ya. Kepalaku sakit banget, abis kamu jambak tadi."

"Kok udahan sih? Sorry tadi Deby keenakan jadinya narik-narik rambut abang deh."

"Entar baru nyambung lagi ya."

"Iya, tapi jangan lama-lama."

Aku hanya terbaring di tempat tidur, tubuh bugilku ditutupinya dengan selimut. Film porno itu di-pause sebentar. Dia segera menuju wastafel untuk mencuci muka; kulihat waktu menunjukkan jam 23.00. Setelah minum segelas air, dia segera kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya di sampingku.

"Deb, aku mau minta maaf kalau aku udah jutek sama kamu sejak kita nikah, sekarang aku ngerasa bersalah banget."

"Biarin aja berlalu yang kayak gitu mah, nggak usah dipikir lagi. Deby juga udah lupa. Abang juga makin hari makin asik, seneng Deby," jawabku.

"Kok jadi gerah ya," katanya sambil membuka baju kaosnya, tinggal memakai celana basket yang sejak tadi dipakainya. "Ribet banget nih selimut," kataku sambil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhku.

Aku segera memulai lagi adegan di film yang tadi kami pause. Aku menarik tangannya dan menempelkan telapak tangannya ke selangkanganku. Kini adegan di film itu bertambah panas โ€” pemeran pria mulai memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan pemeran wanita. Pemeran wanita di film itu hanya menggumam tak karuan.

"Mau coba gituan?" tanyaku.

"Kalau sekarang nggak bisa, nggak apa-apa juga. Kamu aja yang master, belum siap, apa lagi aku," jawabnya.

"Kita coba tapi pelan-pelan ya. Soalnya Deby kan masih perawan."

"Nggak apa-apa, nanti aja."

"Tapi Deby pengen banget."

"Ya udah, tapi bakal sakit loh nanti."

Dia menghentikan filmnya dan melepas celananya. Kemaluannya sudah tegang lagi โ€” boleh juga, baru ngecrot sudah bisa keras lagi.

Aku menaikan pinggulku dan pantatku disanggah dengan bantal. Dia membuka sedikit lubang kemaluanku.

"Beneran masukin sekarang?" tanyanya.

"Iya, Bang, tapi pelan-pelan ya."

Dia menggesek-gesekan kepala kemaluannya dulu pada kemaluanku yang sudah banyak lendirnya. "Ayo, Bang, cepat! Deby sudah tidak tahan lagi," pintaku dengan bernafsu. Dengan pelan tapi pasti dia masukkan kemaluannya ke dalam kemaluanku. Terasa perih ketika selaput dara ku ditembus, aku meneteskan air mata. Ada darah membekas di batang kemaluannya.

Aku mulai menggoyangkan pinggulku karena dia mengeluarmasukkan kemaluannya pelan di dalam kemaluanku. "Sakit?" tanyanya pelan.

"Udah nggak kok. Perih aja tadi, banget," jawabku.

"Mau diterusin?" tanyanya lagi.

"Iya," jawabku manja.

Perlahan mulai dia memasukkan kemaluannya ke kemaluanku sampai pada akhirnya masuk semua. Lalu dia tarik pelan-pelan juga dan dimasukkan lagi sampai mendalam โ€” terasa kemaluannya menyentuh bibir rahimku saking dalamnya. Dalam permainan ini kami saling cium, menjalarkan tangan ke sana kemari sambil mengeluarkan suara erotis di antara kami. Aku hanya menggumam sambil meremas payudaraku sendiri.

"Ennnaaakk, Bang!" Selang beberapa lama dia memaju-mundurkan pinggulnya, makin lama makin cepat. Kami hampir bersamaan orgasme dan tidak lama lagi.

"Bang, pompa yang cepat! Bang, Deby mau keluar! Ach, uch, enak, Bang!" lenguhku.

Sampai akhirnya, "Mmhh, Deby keeluuaarr..." Dengan hitungan detik kami berdua orgasme bersama sambil merapatkan pelukan, kemaluannya berkedutan di dalam kemaluanku. Lemas dan capai, kami berbaring sebentar untuk memulihkan tenaga. Orgasmeku disusul olehnya โ€” senang sekali melihat ekspresinya ketika menyemprotkan maninya di dalam kemaluanku. Cairan yang keluar dari kemaluanku bercampur sedikit dengan darah.

"Deb, sorry tadi aku keluarin di dalem," katanya.

"Nggak apa-apa kali. Kalau nanti Deby hamil, ya abang jadi bapaknya." Akhirnya kami pun kelelahan dan tertidur.

Kira-kira satu jam kami tertidur. Aku terbangun dan menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dia menyusulku ke kamar mandi, rupanya buang air kecil juga. Setelah itu kami kembali lagi ke ranjang. Gairahku timbul lagi untuk mengulang kenikmatan yang baru saja aku rasakan. Aku menggapai kemaluannya untuk kukulum.

"Mau lagi ya?" tanyanya.

"Ehm, habis nikmat, Bang. Deby mau lagi ya."

"Enak kan, Deb, kemaluanku?" katanya sambil menikmati kulumanku.

"Jelas enak, Bang. Punya abang kan besar, apalagi panjang lagi. Ada 17 cm ya, Bang? Awalannya sih perih, tapi ujungnya nikmat banget."

Dia diam tidak menjawab karena sangat menikmati kulumanku. Aku mengulum serta menjilati pelirnya hingga dia sampai terangsang berat menuju orgasme kedua. Aku berhenti menjilatinya dan ganti dengan posisi 69. Dari posisi ini kami saling mengulum lagi. Kemaluanku dia buka sedikit dengan jari dan dimasukkannya jarinya sambil dikeluar masukkan.

Selang beberapa lama melakukan pemanasan, dia berinisiatif untuk melakukan penetrasi. "Deb, kalau masih mau, kamu nungging gih, kayak di film tadi. Sepertinya nikmat juga ya," pintanya.

"Oh, mau doggy style ya? Ayo!" ajakku bersemangat.

Setelah aku siap menungging, dengan pelan ditempelkannya kepala kemaluannya ke bibir kemaluanku dan perlahan-lahan ditekan masuk sedikit demi sedikit.

"Terus, Bang! Emmff, enaakk, oohh!" aku mendesah. "Blesss!" akhirnya masuk semua batang kemaluannya ke dalam kemaluanku. Kemudian mulai menggerakkan pantatnya maju mundur; aku menggoyangkan pinggul seirama dengan gerakan pantatnya.

"Aaahh, Bang, enak sekali! Teruuss! Oohh!" aku merintih penuh nikmat.

Ada kira-kira lima menit kami saling bergoyang dan tangan kirinya menjalar ke payudaraku, diremas-remas pelan. Kemaluannya masuk semakin dalam dan dipompanya dengan semakin cepat hingga aku semakin menikmati permainan ini.

"Ooohh, baangg, Deby nggak tahan lagi!" rintihku, dan akhirnya aku mencapai orgasmeku lagi. Dia makin gencar menggenjot kemaluannya keluar masuk kemaluanku sehingga akhirnya ditekannya pantatnya dengan keras sehingga kemaluannya tenggelam habis ke dalam kemaluanku.

"Sroott, sroott, sroott..." entah berapa banyak mani yang disemprotkan di dalam kemaluanku.

Kami berdua mencapai klimaks orgasme pada saat yang sama. Sepertinya dia sudah lulus dari kursus singkat bokep. Dia mencabut kemaluannya dari kemaluanku dan terkapar di sebelahku yang telungkup di ranjang. Setelah permainan itu, kembali kami tertidur dalam posisi itu.

Ketika kami terbangun, hari sudah siang banget. Dengan mesra aku ajak dia mandi bersama. Di dalam kamar mandi kami saling membersihkan dan berciuman. Siapa dulu yang memulai kami tidak tahu โ€” secara spontan aku segera jongkok dan menjilat serta mengulum kemaluannya yang sudah tegak berdiri lagi, sambil mengocoknya pelan-pelan naik turun.

Setelah dia merasa nikmat, ganti dia yang jongkok dan minta aku berdiri sambil satu kakiku ditumpangkan di kloset WC, agar siap mendapat serangan oral-nya yang nikmat. Dia menyerang selangkanganku dengan lidah yang menari-nari ke sana kemari pada klitorisku sehingga aku mengerang sambil memegang kepalanya untuk menenggelamkannya lebih dalam ke kemaluanku. Dia menjulurkan lidahnya lebih dalam ke kemaluanku sambil mengorek-ngorek klitorisku dengan jari manisnya. Semakin hebat rangsangan yang aku rasakan sampai aku mengalami orgasme dengan derasnya โ€” lendir kenikmatan itu keluar tanpa bisa dibendung lagi. Dijilatinya dan ditelannya semua lendir kenikmatanku yang ada itu tanpa sisa.

"Gimana, Deb, rasanya permainan kita tadi? Puas tidak?"

"Puas banget, Bang. Tapi abang belum keluar."

Kami saling membersihkan diri, disiraminya seluruh tubuhku kemudian disabuni. Aku melakukan hal yang sama terhadapnya. Tubuh kami masih basah; kemaluannya mulai mengeras kembali akibat remasan tanganku, sementara dia mengusap-usap payudaraku kemudian turun mengusap bibir kemaluanku. Jarinya masuk dan mempermainkan klitorisku dengan lembut. Aku mulai mendesah. Sambil berpandangan kami saling mengusap, meremas lembut apa saja yang dapat kami sentuh, sehingga ingin main lagi.

Tanpa sempat untuk mengeringkan badan, aku ditariknya kembali ke tempat tidur. Direbahkannya diriku dan dengan agak kasar karena mulai tidak tahan, aku menarik sehingga dia jatuh menindihku. Kami saling memandang; diciumnya dengan lembut bibirku. Aku menggigit lembut bibirnya sambil tanganku mulai meraba kemaluannya yang masih tegang, kubelai dan kukocok pelan-pelan โ€” membuatnya merintih nikmat sambil memejamkan mata โ€” sementara mulut kami berdua terkunci dengan kecupan-kecupan yang makin lama makin buas. Tangannya meremas payudara dan putingku yang mengeras.

Aku bangun dan merayap ke atas tubuhnya hingga kemaluanku tepat berada di atas hidung dan mulutnya. Dia menekan pantatku dan mengecup bibir kemaluan serta klitorisku dengan lembut. Dia memainkan lidahnya pada klitorisku terus ke lubang kemaluanku.

"Ooohh, Bang, teruuss, baang!" erangku nikmat. Pantatku bergoyang mengimbangi permainan bibir dan lidahnya.

Aku tidak bisa menahan nafsuku sehingga aku memposisikan kemaluanku di atas kemaluannya, kearahkan kemaluannya ke kemaluanku kemudian pantat kuturunkan sehingga masuklah kemaluannya penuh ke lubang kemaluanku. Aku merebahkan tubuhku di atas tubuhnya. Dia mulai menggerakkan pantatnya ke atas memberi tekanan pada kemaluanku. Akupun menyambut serangannya dengan menggerakkan juga pantatku naik turun dengan perlahan-lahan. Makin cepat, makin cepat.

"Ooohh, Bang, mmff!" desahanku semakin menggila.

Tangannya tidak tinggal diam โ€” kedua payudaraku diremas dan putingku diplintir lembut menambah kenikmatan bagiku. Sekonyong-konyong aku menjatuhkan badanku ke atas dadanya sehingga remasan di payudaraku terlepas.

"Bang, Deby nggak tahaann! Oohhmmff!" lenguhku sambil memagut bibirnya, dan akupun sampai kembali. Kemaluanku berdenyut keras memeras kemaluannya yang masih nancap dengan gagahnya sehingga akhirnya dia tidak bisa menahan lebih lama lagi.

"Srroott, srroott, srroott..." maninya muncrat.

Aku menelungkup di atasnya; bibirku dipagutnya sambil memelukku erat sekali. Hebat juga si abang โ€” yang tadinya cuek saja ternyata menjadi pejantan tangguh di ranjang yang bisa membuat aku berkali-kali mendapat orgasme. Luar biasa.

Sudah selesai semuanya, baru terasa lapar karena hari sudah mau siang tapi kita sarapan saja belum. Weekend itu kami terus saja bergulat; staminanya benar-benar hebat seakan-akan dia tidak pernah puas menggenjot kemaluanku dengan kemaluannya sampai aku lemas. Lugu di awal, akhirnya jadi buas banget โ€” nikmatnya.

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’