Surga Perselingkuhan Lima Lelaki
Surga Perselingkuhan Lima Lelaki
Waktu itu aku tidak berpikir untuk menyeleweng, tapi dasar nasib—akhirnya aku terjeblos ke acara surga perselingkuhan, bukan dengan satu laki-laki tetapi sekaligus dengan lima lelaki. Gila, bener deh.
Sebelumnya, kudeskripsikan dulu siapa dan bagaimana gambaran diriku. Sebelum aku memulainya, aku ingin berterima kasih kepada keponakanku yang telah berbaik hati meminjamkan e-mailnya sehingga aku bisa menceritakan kisahku ini. Aku tidak akan memberitahu siapakah dia, demi nama baik kami bersama, karena aku juga mengetahui bahwa dia menyukai seks bebas sama seperti diriku.
Aku seorang wanita berumur 30 tahun, ibu dari dua anak, statusku sudah menikah dengan seorang suami yang telah terikat perkawinan selama 15 tahun. Aku menikah setelah berhasil meraih gelar kesarjanaanku di kota Bandung.
Suamiku normal-normal saja, demikian juga hubungan seksual kami—aku melakukan hubungan seks dua atau tiga kali seminggu dengannya. Tetapi semuanya berubah ketika aku mengalami sesuatu yang tidak kuduga-duga tiga bulan yang lalu; ternyata kemampuan seksku lebih dari yang kukira sebelumnya.
Namaku biasanya dipanggil Retno. Tinggi badanku sekitar 156 cm, berat badan 49 kg, ukuran BH-ku 34C, pinggulku yang agak besar berukuran 100 cm—semakin menonjol dengan pinggangku yang hanya 58 cm. Walaupun dari rahimku telah terlahir dua anakku, body-ku sih oke-oke saja, hampir tidak ada perubahan yang mencolok. Sorry, aku menggambarkan semua ini dengan detail—siapa tahu Anda bisa berkenalan dengan teman-temanku di lain kesempatan.
Kembali pada kejadian yang gila. Mula-mula aku bertemu temanku, Merry, sobat sewaktu di SMA dulu, di sebuah mall ketika aku belanja. Saat itu ia bersama dua teman laki-lakinya yang langsung dikenalkan padaku—bernama Yanto dan Iman. Ternyata mereka merupakan teman yang enak diajak bicara, dan akhirnya kami menjadi akrab setelah perkenalan dilanjutkan di sebuah restoran.
Setelah pertemuan itu Yanto sering menelepon ke rumahku walaupun ia sudah tahu bahwa aku ini seorang istri dengan dua orang anak. Tentunya dalam pembicaraan telepon itu ia merayu gombal, tetapi tetap ia menjadi teman bicara yang enak. Ia berusaha mengajakku makan siang dengan gigihnya dan akhirnya aku menyerah juga—dengan syarat makan siang ramai-ramai.
Pada hari yang dijanjikan, akhirnya aku, Merry, dan Yanto bersama Iman dan tiga temannya yang bernama Eko, Benny, dan Adi—yang rata-rata delapan tahun lebih tua dariku dan Merry—makan siang bersama di sebuah restoran yang ada fasilitas karaokenya. Kami makan dengan ramainya sambil berkaraoke; memang aku senang berkaraoke.
"Ayo, Ret, nyanyi!" mereka menyemangatiku kala aku melantunkan lagu. Ternyata kelima cowok eksekutif itu merupakan teman yang enak untuk gaul, wawasannya luas dan menyenangkan. Akhirnya kami cepat menjadi akrab—inilah kekeliruanku.
Seminggu kemudian aku diundang lagi, kali ini oleh Iman untuk makan siang dan berkaraoke. Aku langsung menyetujuinya tanpa banyak tanya. Aku membolos masuk kantor setelah waktu makan siang dan pergi ke tempat karaoke bersama mereka—aku bekerja di sebuah perusahaan konsultan sebagai salah satu manajer. Nah, di saat itulah terjadi sesuatu yang tidak kuduga. Ternyata aku dibawa ke sebuah karaoke khusus—bukan restoran, melainkan sebuah kamar tertutup dengan kursi panjang—dan kali ini Merry tidak ikut, jadi hanya aku dengan kelima cowok itu saja.
Karena sudah telanjur masuk, akhirnya kucoba menenangkan diri meski agak deg-degan pada awalnya. Suasana menjadi seru ketika secara bergantian kami bernyanyi berkaraoke.
Aku pun dipesankan minuman whisky-cola yang membuat badanku hangat. Akhirnya mereka minta berdansa denganku sewaktu salah satu di antara mereka bernyanyi. Dan saat melantai itulah, lama-kelamaan mereka berani merapatkan badannya ke tubuhku dan menekan serta menggesek-gesek buah dadaku—yang lama-lama membuatku terbakar dan menikmati permainan ini. Mereka bergantian berdansa denganku.
"Retnoo, badanmu hot," Yanto berbisik di telingaku sambil bibirnya mencium belakang telingaku dan tangannya meremas buah dadaku yang putingnya sudah semakin sensitif.
"Ahh, jangan..." kataku ketika tangan itu meremas dadaku semakin panas, tetapi tanganku tetap tidak melepaskan tangan itu. "Mmhh..." Yanto akhirnya mengulum bibirku dan menindih rapat-rapat tubuhku di atas sofa. Aku lupa diri ketika jari-jari tangan Yanto bergerilya di dalam celana dalamku, menggelitik bibir kemaluanku yang sudah basah itu. Dengan liar, akhirnya kelima cowok itu ikut mengerubuti tubuhku. Tahu-tahu tubuhku sudah telanjang digeluti bersama oleh mereka. Yantolah yang lebih dahulu menusukkan batang kejantanannya ke liang kewanitaanku. Adi memasukkan batang kejantanannya ke mulutku, Iman mengisap puting kiri susuku, Eko mengisap puting susu kananku, sedangkan Benny menggosok-gosokkan batang kejantanannya di wajahku.
"Achh..." Aku mendapat orgasme pertama ketika Yanto sedang asyik-asyiknya menggenjot tubuhnya di atas tubuhku, sementara batang kejantanan Adi yang hangat itu dengan serunya bermain di mulutku.
"Retnoo..." Yanto menggeliat ketika memuntahkan maninya di dalam liang kemaluanku—hangat dan terasa kental, memenuhi liang kewanitaanku. Adi tambah semangat mengocok batang kejantanannya di mulutku. Setelah Yanto selesai, posisinya langsung diganti Benny yang sejak tadi hanya menggosok-gosokkan batang kejantanannya yang panjang besar di wajahku—langsung ditancapkan ke liang kewanitaanku yang hangat, sudah penuh dan licin dengan air mani Yanto.
"Crok... crok... crok..." bunyi batang kejantanan Benny menghunjam liang senggamaku. Benny begitu semangatnya menyetubuhi aku. "Mmmphh, aghh..." tubuhku bergetar menggeliat—bayangkan, buah dadaku dihisap putingnya oleh Eko dan Iman seperti dua bayi besar kembar; di liang senggamaku batang kejantanan Benny menghunjam dengan ganasnya; dan di mulutku, Adi akhirnya menyemprotkan maninya dengan deras dan langsung kuhisap kuat-kuat. "Aachh," terasa hangat dan asin seperti kuah tiram masuk di tenggorokanku. Bersamaan dengan itu, Benny juga menyemprotkan air maninya di liang senggamaku. Multiorgasme—aku sudah dapat tiga atau empat kali dan masih ada Iman dan Eko yang belum kebagian.
Tubuh Adi dan Benny berkelonjotan dan akhirnya terhempas. Iman mengganti posisi Adi—batang kejantanannya yang bengkok ke atas terasa penuh di mulutku. Eko menepis Benny dari atas tubuhku dan, untuk yang ketiga kalinya, liang kemaluanku dimasuki orang ketiga. Ternyata milik Eko yang paling panjang dan besar; terasa masuknya mudah karena liang kemaluanku telah penuh mani kedua orang terdahulu, tetapi terasa mantap dan nikmat batang kejantanan Eko menggesek liang kemaluanku yang sudah terasa panas dan semakin penuh.
"Crok... crok... crok... mmhh..." bunyi genjotan batang kejantanan Eko seperti bunyi kocokan orang membuat kue—terasa menjadi bunyi yang dominan di ruangan itu.
"Retnoo, isep yang kuat..." Ternyata Iman tidak kuat dengan hisapan mulutku—batang kejantanannya memuncratkan maninya di mulutku. Terasa mani Iman lebih kuat aromanya, lebih hangat, lebih kental, dan lebih banyak, memenuhi mulut dan tenggorokanku.
"Achh..." Eko juga menggeliat menyemburkan maninya di liang kewanitaanku. Tubuhku terasa lemas tetapi bergetar kuat mengiringi muncratnya air mani Eko. Rasanya aku sudah orgasme enam kali ketika akhirnya Eko tergelepar di samping tubuhku.
Selesailah siang itu pertempuran besar aku lawan lima cowok di ruang karaoke yang, walaupun ber-AC, terasa panas dan mengucurkan keringat kami semua. Celakanya di kamar itu tidak ada kamar mandi, jadi aku hanya mengelap air mani ketiga lelaki yang memenuhi liang kewanitaanku dan menetes ke pahaku—menggunakan BH dan celana dalamku saja.
Setelah semuanya terdiam dengan kejadian itu, beberapa puluh menit kemudian aku memakai BH, celana dalam, blus, dan blazer serta rok yang tadinya berserakan di lantai. Mereka pun memakai kembali baju-baju dan celananya.
Jam 5 sore aku keluar dari karaoke itu. Tadi aku masuk jam 1 siang, berarti sudah empat jam aku di dalam ruangan itu—artinya aku digilir lebih kurang 1,5 jam penuh. Wah, aku kagum juga dengan daya tahanku, walaupun rasanya kaki pegal-pegal dan ngilu.
Waktu melewati kasir, rasanya aku malu juga. Karena walaupun mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam, wajahku tetap terasa memerah. Rasanya minyak wangiku telah berubah menjadi aroma air mani—mungkin kasir wanita itu bisa mengendus baunya, atau malah sedang membayangkan kejadian yang baru saja kualami. Di kakiku terasa mani mereka merembes mengalir di pahaku. Untung sesampainya di rumah suamiku belum pulang; cepat-cepat aku ke kamar mandi membereskan semuanya.
Dan ternyata malamnya suamiku mengambil jatahnya juga. Untung aku sudah membersihkan diri, walaupun komentar suamiku membuatku deg-degan.
"Ret, punyamu kok rasanya hot banget, tebel," bisik suamiku di telingaku.
"Terima kasih ya... enak..." lanjut suamiku setelah ia menyemprotkan maninya dan tertidur pulas di sampingku. Ia tidak tahu bahwa dia baru saja menjadi orang keenam hari itu yang memuncratkan maninya untukku.
TAMAT