Tante Girang Janda Kaya
Tante Girang Janda Kaya
Drama kehidupan memang tak pernah bisa kita tebak — terserah sutradara Yang Kuasa saja, sedangkan kita hanya pemainnya yang diwajibkan menjalani peran masing-masing. Begitu pun yang terjadi padaku saat ini, yang tak pernah menyangka bahwa aku kini menjadi seorang tante girang yang suka cerita mesum.
Setahun aku hidup sekasur dengan Amir, suamiku, selama itu pula aku tidak pernah merasakan apa yang dinamakan nikmat seksual. Padahal kata teman-teman, malam pertama adalah malam yang paling indah. Bagiku, malam pertama adalah malam neraka. Ternyata Amir mengidap diabetes parah yang sangat mengganggu kejantanannya di atas ranjang. Selama lima tahun kami menikah, ia hanya mampu mencumbu, mencium, dan mengelus-elus saja — selebihnya hanya keluhan-keluhan kekecewaan.
Amir sering mencoba merangsang dirinya dengan memutar film yang kami saksikan berdua sebelum melakukan aktivitas seksual. Tapi apa yang terjadi? Amir tetap saja loyo, tak mampu ereksi — justru aku yang sangat terangsang. Konyol sekali. Aku mendapat pelajaran seksual dari film-film mesum yang diputar Amir, sering berkhayal disetubuhi laki-laki jantan, dan kerap melakukan masturbasi ringan untuk melampiaskan hasrat yang tertahan.
Suatu hari Amir harus terbaring di rumah sakit akibat penyakitnya, hampir satu bulan lamanya. Aku semakin merasa kesepian. Suatu ketika aku harus pergi menebus obat di sebuah apotek besar dan harus antre lama. Karena bosan, aku memutuskan keluar dan mencari suasana segar — pergi ke sebuah mal, makan dan minum di sebuah restoran, dan duduk sendiri di sudut yang agak belakang.
Karena ramainya restoran, hampir semua bangku terisi. Tidak lama kemudian seorang pemuda tampan meminta izin duduk di hadapanku karena rupanya hanya bangku itu yang tersisa. Dia ramah dan sopan, penuh senyum.
Singkat cerita, kami berkenalan dan ngobrol panjang. Dalam obrolan itu ia membuka sedikit tentang dirinya — masih bujangan, orang tuanya tinggal di luar negeri, dan di Medan ia tinggal bersama adik perempuannya yang masih SMA. Hampir satu jam kami mengobrol, dan aku sempat memberikan kartu namaku lengkap dengan nomor telepon. Lelaki brondong itu bernama Hendy — badannya tegap, tinggi, kulitnya sawo matang, macho. Sebelum berpisah, kami bersalaman, dan Hendy cukup lama menggenggam jemariku seraya menatap dalam-dalam mataku diiringi senyum manis penuh arti. Aku membalasnya tak kalah manis. Kemudian kami berpisah untuk kembali ke kesibukan masing-masing.
Dalam perjalanan pulang aku kesasar — sudah tiga kali. Sewaktu menyetir, pikiranku terus melayang ke anak muda itu. Hanya untuk jalan pulang ke kawasan perumahanku, aku malah nyasar ke Sisingamangaraja, lalu balik ke Balai Kota, terus jalan sambil melamun, dan tahu-tahu sudah di kawasan Gagak Hitam. Apes, tapi oke saja.
Sudah satu minggu usia perkenalanku dengan Hendy, dan setiap hari aku merasa rindu padanya. Suamiku Amir masih terbaring di rumah sakit, namun kewajibanku mengurusinya tak pernah absen. Akhirnya aku memberanikan diri menelponnya. Kukatakan aku sangat kangen padanya, dan ia pun sama. Kami pun janjian untuk bertemu di tempat kami berkenalan dulu. Hendy mengajak jalan-jalan, tapi aku menolak karena takut dilihat orang yang kenal. Akhirnya kami sepakat bertemu di tempat yang aman dan sepi — sebuah penginapan. Hendy membawaku ke hotel berbintang dengan mobilnya, sementara mobilku kuparkir di mal demi menjaga privasi.
Di hotel itu kami mendapat kamar di lantai empat. Sepi memang, tapi suasananya hening, syahdu, dan romantis. "Kamu sering kemari?" tanyaku. Dia menggeleng dan tersenyum. "Baru kali ini, Tante." "Jangan panggil aku tante terus dong," pintaku. Lagi-lagi dia tersenyum. "Baik, Ricca," katanya.
Kami saling memandang, masih berdiri berhadapan di depan jendela kamar. Tak sepatah kata pun keluar. Jantungku semakin berdebar keras, logikaku mati total, dan perasaanku tak karuan — bercampur antara bahagia, haru, nikmat, romantis, dan takut.
Tiba-tiba, entah karena apa, kami secara bersamaan saling merangkul dan berpelukan erat. Kubenamkan kepalaku di dada Hendy; semakin erat ia memelukku, kedua lenganku melingkar di pinggangnya. Kami masih membisu. Tak lama kemudian aku menangis tanpa Hendy sadari. Air mataku yang hangat membasahi dadanya.
"Kamu menangis, Ricca?" tanyanya. Aku diam, isakku semakin serius. "Kenapa?" tanyanya lagi sambil menghapus air mataku dengan lembutnya. "Kamu menyesal kemari?" Aku menggeleng.
Dia menuntunku ke tempat tidur. Aku berbaring di bagian pinggir ranjang, Hendy duduk di sebelahku sambil membelai rambutku — wuih, rasanya selangit. Aku menarik tangannya untuk mendekapku; ia menurut. Aku memeluknya erat-erat, lalu ia mencium keningku. Tampaknya ia benar-benar sayang padaku. Kucium pipinya, dan aku semakin membara. Maklum, sekian tahun aku hanya bisa melihat-lihat saja, belum pernah merasakan nikmatnya laki-laki.
Hendy membuka kancing bajunya satu per satu. Kutarik tangannya memberi isyarat agar ia membuka kancing pakaianku juga — ia menurut. Semakin ia membuka kancingku, semakin terangsang aku. Dalam sekejap aku sudah telanjang bulat. Hendy memandangi tubuhku yang putih mulus, tak henti-hentinya memuji dan menggelengkan kepala tanda kekagumannya.
Ia pun dalam sekejap sudah bugil. Astaga, jantan sekali dia — kontolnya besar dan ereksinya begitu keras. Napasku semakin tak beraturan. Hendy mengelus payudaraku lalu mengisapnya — nikmat sekali, aku sangat terangsang. Ia menciumi dadaku dan leherku. Aku tak kalah aktif — kupegang dan kuelus-elus kontolnya. Terbayang semua adegan yang pernah kusaksikan di film bokep, dan aku pun menunduk tanpa sadar, menghisap kontolnya. Masih kaku memang gayaku, tapi lumayanlah untuk pemula. Ia menggeliat setiap kujilati kepala penisnya. Sementara itu jari-jemarinya mengelus-elus kemaluanku dengan penuh kelembutan.
Vaginaku sudah basah tak karuan oleh emosi yang meluap. Aku lupa segalanya. Akhirnya kami sama-sama mengambil posisi di tengah ranjang — aku berbaring dan membuka selangkanganku, siap. Hendy memasukkan kontolnya ke dalam vaginaku. Sakit memang pada awalnya, tapi makin lama makin nikmat. Ia terus menggoyang. Aku sesekali meladeninya hingga air maninya tumpah muncrat di dalam vaginaku. Aku pun sepertinya sudah mencapai puncak — bahkan sudah dua kali duluan.
Astaga. Setelah kami bangkit dari ranjang, kami melihat darah segar menodai seprei putih. Hendy bingung, aku bingung. Akhirnya aku teringat dan kujelaskan bahwa selama menikah aku belum pernah disetubuhi suamiku karena ia impoten akibat penyakit kencing manisnya.
"Jadi kamu masih perawan?" tanyanya heran. Aku menjelaskannya lagi, dan ia memelukku penuh rasa sayang dan kemesraan yang dalam. Kami masih bugil, saling berangkulan, tubuh kami saling merapat. Aku mencium bibirnya tanda sayangku pula. Seharusnya kegadisanku ini milik suamiku — kenapa harus Hendy yang mendapatkannya? Ah, masa bodo. Aku sendiri bingung.
Hampir satu hari kami di kamar hotel itu. Sudah tiga kali aku melakukan hubungan dengan anak muda ini. Tidak semua gaya bisa kami praktikkan — aku belum berpengalaman, dan tampaknya ia juga begitu; selalu tidak tahan lama. Tapi lumayan untuk pemula.
Setelah beristirahat dan makan, kami tiduran sambil ngobrol. Menjelang sore aku bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuh. Hendy ikut mandi bersama. Kami saling memeluk, saling mencium, tertawa, bahkan bercanda sambil mengelus-elus kontolnya. Brondongku itu pun tak kalah kreatif — dimainkannya puting payudaraku, dan aku langsung terangsang. Kami pun melakukannya lagi dengan posisi berdiri, tubuh kami masih basah dan penuh sabun mandi. Nikmat sekali.
Hendy agak lama melakukan senggama kali ini — maklum, sudah beberapa ronde. Ia pun tampak perlu sedikit kerja keras. Dirangsangnya aku, diciuminya bagian luar vaginaku, dijilatinya tepinya dan dalamnya. Aku menggeliat kenikmatan. Aku pun tak mau kalah — kukocok kontol Hendy yang sudah tegang dan membesar itu, lalu kutempelkan di antara kedua payudaraku, kumainkan meniru adegan di film bokep.
Tak kusangka, dengan adegan begitu Hendy mampu memuncratkan air maninya dan menyemprot ke arah wajahku. Aneh, aku tidak jijik — bahkan kululurkan ke mukaku dan kurasakan nikmat yang dalam. "Kamu curang, belum apa-apa sudah keluar," seruku. "Sorry, nggak tahan," jawabnya.
Aku tarik dia dan kutuntun kontolnya masuk ke dalam kemaluanku. Kudekap dia dalam-dalam, kucium bibirnya, dan kugoyang-goyang pinggulku sejadinya. Hendy diam saja, tampak sedikit ngilu, tapi tetap kugoyang. Dan akhirnya aku yang puas kali ini — tanpa sadar aku mencubit perutnya keras-keras dan setengah berteriak melepas klimaks yang paling nikmat.
Setelah selesai mandi dan berdandan, baru terasa alat vitalku perih — mungkin karena aku terlalu bernafsu. Sebelum kami meninggalkan kamar, kami sempat saling berpelukan di depan cermin. Tak banyak kata yang bisa kami keluarkan, kami membisu saling memeluk.
"Aku sayang kamu, Ricca," terdengar suara Hendy setengah berbisik seraya menatap wajahku dalam-dalam. Aku masih diam. Ia mengulang kata-kata itu hingga tiga kali. Aku masih diam, dan tak kuduga — aku meneteskan air mata. "Aku juga sayang kamu, Hendy," kataku lirih. "Sayang itu bisa abadi, tapi cinta sifatnya bisa sementara," sambungku. Hendy menyeka air mataku dengan jemarinya. Aku tampak bodoh dan cengeng. Kenapa aku bisa tunduk dan pasrah pada anak muda ini?
Setelah puas dengan adegan perpisahan itu, kami melangkah keluar kamar. Setelah check out, kami menuju Gatot Subroto dan berpisah di pelataran parkir. Aku sempat mengecup pipinya; ia membalasnya dengan mencium tanganku. Hendy kembali ke rumahnya, dan aku pulang dengan gejolak jiwa yang sangat berkecamuk — rasa sedih, bahagia, puas, cinta, sayang, semuanya bercampur aduk.
Ketika memasuki halaman rumahku, aku terkejut sekali. Banyak orang berkumpul di sana, dan ada bendera kuning dipasang. Aku mulai gugup. Saat keluar dari mobil, kudapati keluarga Mas Amir sudah berkumpul, ada yang menangis. Ya ampun — Mas Amir, suamiku tercinta, sudah dipanggil Yang Kuasa. Aku sempat dicerca pihak keluarganya karena sulit dihubungi. Wajar saja — HP-ku sudah kumatikan sejak di hotel dan belum kuhidupkan. Mas Amir sudah terbujur kaku di tempat tidur. Ia pergi untuk selamanya, meninggalkan aku dan seluruh kekayaannya yang melimpah. Dan kini aku bergelar tante girang, janda kaya, yang kesepian — dalam arti yang sebenarnya.
Tiga hari kemudian aku menghubungi Hendy via ponsel. Yang menjawab seorang perempuan dengan suara lembut. Aku sempat panas, tapi berusaha tidak cemburu. Perempuan itu menjelaskan bahwa ia adik kandung Hendy, dan Hendy sudah berangkat ke Amerika secara mendadak karena dipanggil oleh papa mamanya untuk urusan penting.
Kini aku telah kehilangan kontak dengan Hendy — sekaligus akan kehilangan dia. Aku kehilangan dua orang laki-laki yang pernah mengisi hidupku. Sejak saat itu sampai kini aku selalu merindukan laki-laki macho seperti Hendy. Sudah tiga tahun aku tidak ada kontak lagi dengannya, dan selama itu pula aku mengisi hidupku hanya dengan belanja, jalan-jalan, nonton, macam-macam. Yang paling konyol, aku menjadi pemburu anak-anak muda tampan. Mungkin saja ini sudah garis hidupku.
Namun jujur, aku tak pernah menyesali apa yang aku alami sekarang. Aku berharap suatu saat nanti bisa berjumpa kembali dengan Hendy, dan kalau ada jodoh, aku ingin menjadi pendamping hidupnya sampai maut yang memisahkan.