Bab 1
Tante yang Memberikan Kenikmatan dan Uang
Malam begitu gelap saat suara riuh orang tertahan suara musik yang begitu keras, terlihat badan-badan yang meliuk-liuk di tengah arena diskotik saling berhadapan membebaskan rasa penat yang begitu dalam. Dari kejauhan saya melihat beberapa wanita yang tampil menggoda dengan pakaian malam mereka, menunjukkan lekukan kaki indah dengan belahan dada yang terlihat begitu menawan. Sudah menjadi tabiat saya mencari pasangan seks di tempat tersebut, dan memang perlu duit untuk bisa merasakan meki-meki liar wanita malam. Namun kali ini ada yang berbeda โ kalau biasanya saya yang membayar, kali ini malah saya yang dibayar untuk pekerjaan yang sangat saya senangi ini.
Ceritanya dimulai ketika saya mengoyangkan badan di tengah-tengah keramaian orang yang saling berjoget dengan musik keras dari sang DJ. Saat sedang bergoyang, saya berusaha menggoda cewek taksiran saya namun perlahan keberadaan cewek tersebut tergusur seiring dengan datangnya seorang wanita yang saya taksir berumur 30-an.
"Nggak kok, lagi berdua sama kamu," jawab saya dengan nada bercanda.
"Hahaha, kamu bisa aja. Nama saya Putri, 32," katanya memperkenalkan diri.
"Owh, Tante Putri. Saya Handy, 25," jawab saya memperkenalkan diri juga.
"Ih, jangan 'tante' dong, masih muda dan kencang gini," katanya sambil bergoyang dan sedikit meremas kedua payudaranya.
Memang Tante Putri mempunyai badan yang semok dengan payudara yang luar biasa besarnya, apalagi dipadukan dengan pakaian ketat miliknya yang memperlihatkan payudaranya seperti buah pepaya yang sudah matang. Kami lalu terus mengobrol sambil terus bergoyang saling menggoda. Tante Putri ini terlihat masih sangat muda walau umurnya sudah 32 tahun.
"Tunggu dulu. Nah, yang paling lama keluarnya, dia pemenangnya. Kamu nanti dapat 5 juta," katanya.
"Ahh, nggak mau ah sama tante girang, masih kurang tuh," jawab saya setengah bercanda.
"Ih, mata duitan. Kalau gitu 10 juta, tapi kalau kalah kamu nggak tante kasih."
"Mhhh, gimana ya... Oke deh kalau sama tante," jawab saya setuju sambil memasukkan jari saya di belahan dada Tante Putri.
"Bukan tante yang nge-blow kamu, tapi teman tante. Ayo sini," katanya sambil menarik saya.
Kami pun pergi dari kerumunan orang yang sedang berdansa menuju sudut ruangan tersebut. Di sana sudah ada dua orang, seorang pria dan wanita yang tampaknya teman Tante Putri. Kami berkenalan โ nama mereka Jay (25), salah seorang kontestan, dan Tante Ceska (32). Belum lama berkenalan, muncul empat orang lagi secara bersamaan: Jacky (21) dan Cinta (24), kontestan permainan gila tante-tante ini, serta Tante Sarah (30) dan Tante Jupe (31). Kami lalu mengobrol sebentar, dan dari situ saya tahu kalau mereka para tante ini adalah istri pejabat dan pemilik perusahaan kaya yang mencari kesenangan di kala para suami mereka sibuk "kerja lembur."
Kami lalu menuju sebuah ruangan di lantai dua diskotik tersebut. Di sana kami berempat โ para kontestan โ disejajarkan berjejer, kemudian para tante memilih target mereka. Sedikit penjelasan: pasangan pertama adalah Tante Sarah dan Andry. Tante Sarah tinggi dengan payudara yang terbilang kecil namun dia yang paling cantik dari semua yang ada, sedangkan Andry berbadan kekar โ mungkin rajin fitness. Pasangan kedua ada Jacky dan Tante Putri; Jacky berbadan kecil dengan tinggi yang sama dengan Tante Putri. Pasangan ketiga ada Cinta dan Tante Ceska; Cinta badannya hampir sama seperti saya hanya lebih tinggi, sedangkan Tante Ceska berbadan seksi dengan kulit eksotis seperti anak muda berumur 20-an. Terakhir ada saya dengan Tante Jupe, yang berpostur bontot dengan kulit putih bersih โ badannya tidak jauh beda dengan Tante Putri namun payudaranya jauh lebih besar. Kalau diumpamakan, Tante Jupe dan Tante Putri kayak duo serigala.
Sesaat kemudian para tante membuat peraturan: pertama, tidak boleh memakai alat bantu seperti minyak dan sejenisnya; kedua, hanya boleh di-blow, tidak boleh memakai payudara dan kemaluan. Setelah peraturan selesai dibacakan, para tante mulai membuka baju kami berempat hingga akhirnya tersisa hanya pakaian dalam kami, lalu mereka mulai bergaya erotis di depan kami sambil melepas satu per satu pakaian mereka hingga menyisakan bra dan celana dalam โ namun hanya Tante Jupe yang tidak memakai bra.
"Nggak muat branya," kata Tante Jupe berbisik.
Lalu celana dalam kami mulai dilepas dan terpampanglah senjata kami di hadapan tante-tante ini. Kemaluan saya masih belum tegang dan butuh waktu untuk Tante Jupe membuatnya berdiri. Suara liur mulai bercampur dengan hisapan-hisapan kemaluan terdengar riuh di setiap sudut ruangan โ ada yang tiduran di kasur, ada yang duduk di kursi โ dengan berbagai gaya mereka berusaha membuat kami keluar dengan cepat.
"Mmmm, enak banget hisapan tante," kata saya memuji kehebatan Tante Jupe. Dia hanya terus berusaha membuat saya keluar. Dengan susah payah saya menahan nafsu agar tidak menyembur keluar. Payudara Tante Jupe yang besar itu mulai saya mainin โ saya remas-remas dan terkadang saya plintir putingnya yang sebesar kelingking lelaki dewasa. Kemudian Tante Jupe melepas hisapannya lalu membawa saya menuju sudut ruangan. Di sana ia meminta saya duduk di sebuah kursi kotak sambil bersandar di dinding, kaki kiri saya dia angkat ke atas kursi hingga kini saya mengangkang dengan satu kaki tertekuk di lantai, kemudian dengan cepat ia mulai jongkok di depan saya dan memulai kembali menghisap kemaluan saya.
"Slurp... Slurppp... Slurppp~" begitulah bunyi hisapan Tante Jupe.
Untuk menghilangkan fokus saya agar tidak ncrot duluan, saya lalu memalingkan wajah dan melihat sekitar. Dari posisi saya yang di pojok, saya bisa melihat keseluruhan ruangan. Saya bisa melihat Tante Sarah yang sedang berlutut sambil mengulum kemaluan Andry yang terlentang tiduran di atas kasur. Sementara itu Tante Putri sedang asik berlutut dengan gaya nungging di atas sofa panjang yang diduduki oleh Jacky โ mulut dan tangan Tante Putri berfokus pada kemaluan Jacky, sedangkan pinggul Tante Putri bergoyang-goyang dengan jelas, jari-jari Jacky sudah masuk dan mengobok-ngobok kemaluan Tante Putri dengan celana dalam yang masih dipakainya. Sementara di lantai bawah saya bisa lihat Tante Ceska yang tertutup rambutnya sedang berada tepat di atas kemaluan Cinta, sementara Cinta menjilati kemaluan Tante Ceska โ mereka berdua membuat gaya 69 yang erotis.
Melihat mereka, saya jadi punya ide untuk menganggu Tante Jupe yang jilatan dan hisapannya sungguh membuat saya keenakan. Tangan saya meremas kedua bongkahan payudaranya, sedangkan kaki kanan saya mulai mengelus-elus kemaluan Tante Jupe dari luar celana dalamnya. Beberapa saat, kemaluannya terasa basah dan lengket. Payudaranya semakin gencar saya mainin, sedangkan jempol kaki saya sudah menusuk-nusuk kemaluannya dari luar celana dalamnya. Tante Jupe berusaha menghindar dengan mengangkat pantatnya namun kaki saya mengikuti ke mana ia bergerak. Kemudian ia berlutut dan kedua kakinya berusaha menahan laju kaki saya โ namun itu malah mempermudah saya karena ada pijakan, saya cukup mengoyangkan telapak kaki saya untuk mengesek kemaluan Tante Jupe dari luar celana dalamnya.
Merasa usahanya sia-sia, ia lalu melepas kaki saya dan kini dia sudah berlutut tegap. Ia sedikit menoleh ke belakang lalu kembali menatap saya. Payudaranya yang besar kemudian ia angkat dan diletakkannya di atas pangkal paha saya, kemudian tangannya mulai mengocok kemaluan saya, sementara kaki saya kembali mengobok kemaluannya. Kali ini celana dalamnya saya tarik sedikit dengan jari kaki saya โ karena posisinya yang sedang berlutut tegap, celana dalamnya dengan mudah jatuh hingga ke lantai.
Beberapa saat kemudian saya merasakan kemaluan saya yang diapit payudara Tante Jupe โ ternyata ia curang dengan memakainya.
"Udah, kamu dikasih berapa sih sama si Putri?" tanya dia.
"Udah, tante kasih kamu 20 juta kalau kamu diam, nggak kasih tahu siapa-siapa," jawabnya.
Saya lalu membiarkan Tante Jupe menggunakan payudaranya untuk merangsang saya, sementara kaki saya yang terlalu dekat dengan tubuhnya tidak dapat lagi menjangkau kemaluannya. Namun saya tidak kehabisan akal โ saya lalu menggunakan jemari tangan saya untuk merangsangnya, jari saya masuk dan mengobok kemaluan Tante Jupe dengan segala cara untuk membuatnya KO, begitu pula dengan Tante Jupe yang berusaha membuat saya keluar dengan kemampuannya. Namun karena fokus saya berubah, aliran nafsu saya berubah pula.
"Yeaaahhhh!" terdengar suara teriakan gembira ketika Tante Sarah berhasil membuat Andry ngecrot duluan. "Sialan, saya kira dia bisa tahan, badannya aja yang gede," kata Tante Jupe yang sewot karena kontestannya KO duluan.
"Kamu nih kapan keluarnya?" kata Tante Jupe sewot. Saya menjawabnya dengan kembali mengobok kemaluannya.
"Mhhhh..." Saya bisa lihat Tante Jupe yang sudah terangsang dengan jemari saya di kemaluannya โ ia mulai memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya, walaupun ia masih mengapit kemaluan saya dengan payudaranya yang terus ia naik-turunkan.
"Saya yang kedua!" Kali ini teriakan Tante Putri yang berhasil membuat Jacky ngecrot.
"Mmmmhhhh ahhhhhh..." teriakan ketiga yang setengah berbisik โ cairannya begitu banyak keluar โ dan yang ketiga bukan Cinta atau saya, tapi Tante Jupe. Cairannya membasahi jari tangan kanan saya yang langsung saya hisap habis. Tante Jupe sempat terhenti karena getaran hebat di selangkangannya. Saat itu Tante Ceska yang membelakangi saya sudah setengah jongkok di atas kepala Cinta โ dengan tangan terbuka ia mengisyaratkan bahwa Cinta sudah keluar juga.
"Tante, mereka datang tuh," kata saya, dan dengan cepat Tante Jupe menurunkan payudaranya agar tidak ketahuan.
Tante Jupe yang melihat saya masih ON langsung kegirangan,
"Gimana, Yun, belum keluar kan? Hahaha, saya menang!"
"Eh, fotoin dong, Sarah!" kata Tante Putri yang meminta Tante Sarah memotret saya dan Tante Putri dengan HP-nya, kemudian Tante Putri dan Jacky, lalu kami bertiga.
"Ehh, udah jam 2 nih, suami saya takutnya pulang duluan," kata Tante Sarah yang takut ketahuan suaminya. Akhirnya mereka semua setuju untuk pulang. Sebelumnya mereka membayar Andry, Cinta, dan Jacky, sementara saya mendapat tawaran lagi.
"Tante, gimana aku? Tadi janjinya mau kasih, kalau nggak aku bocorin nih," kata saya pada Tante Jupe.
Benar saja, beberapa saat kemudian SMS masuk dari banking menyatakan rekening saya bertambah 20 juta.
"Tenang aja, tante kasih 20 juta. Kalau kamu mau ikut tante malam ini."
"Ini, Tante," dan benar saja 20 juta kembali masuk ke rekening saya.
Lalu Tante Putri menggandeng tangan saya keluar menuju parkiran. Kami melewati Tante Jupe yang kelihatan kesal karena kehilangan banyak uang. Kemudian Tante Jupe memanggil Tante Putri.
"Ehh, Put, saya ikut kamu ya, supir saya nggak tahu di mana nih."
Lalu kami bertiga mulai naik ke atas mobil โ saya sebagai pengemudinya, sementara Tante Putri dan Jupe duduk di belakang saya.
"Lah, tahulaah โ selain kamu bayar ke saya, kamu juga bayar ke cowok kamu tadi kan?"
"Tuh cowok depan. Baru kali ini saya dibuat keluar, padahal tujuannya saya yang buat dia keluar."
"Haaa... kamu dibuat 'keluar' sama dia? Pantesan aja kamu cemberut kayak gitu."
Akhirnya terjadi perbincangan antara mereka berdua. Tanpa meminta izin saya, mereka akhirnya setuju untuk melakukannya โ Tante Putri yang duluan, Tante Jupe setelah Tante Putri.
"Tante, kalau 2 orang servicenya, beda juga harganya."
"Udah, saya kasih kamu 20 juta lagi gimana? Tapi servicenya harus mantap," kata Tante Jupe.
"Hahaha, oke. Tenang aja, aku bakalan buat tante keluar kedua kali," kata saya bercanda.
"Coba aja kalau bisa. Kalau bisa, tante tambahin 20 juta lagi."
Kedua tante tersebut berencana mengerjai saya, namun saya lebih pintar dari mereka. Lalu kami menuju sebuah rumah besar yang adalah rumah Tante Jupe โ semua penghuninya sudah tertidur dan hanya seorang satpam yang masih terjaga. Saya disuruh ngumpet agar tidak ketahuan. Lalu kami memasuki garasi yang langsung ditutup oleh Tante Jupe. Kami langsung menuju kamar utama yang berada di lantai dua โ kamar yang sangat besar. Sebelum itu saya meminta diri untuk membersihkan tubuh, biar mereka berdua lebih bergairah. Selagi membersihkan diri, saya berusaha onani agar bisa bertahan lama โ salah satu trik saya, apalagi saya harus menghadapi Tante Putri dulu.
Setelah onani dan membersihkan diri saya lalu keluar, dan di depan saya sudah ada Tante Putri yang bugil menunggu โ langsung mengangkangkan kakinya. Cahaya yang terang membuat kemaluannya yang dicukur rapi terlihat oleh saya. Handuk saya langsung saya lepas; kemaluan saya yang tadinya sudah mengecil kembali tegang, dan dengan sekali hentakan kemaluan saya masuk menelusuri kemaluan Tante Putri yang sudah basah.
"Awww, awww..." teriak Tante Putri ketika saya menghentak pinggul saya ke arah kemaluannya. Terasa enak sekali permainan Tante Putri dengan gaya konvensional ini. Sambil itu saya menelusuri payudara Tante Putri yang sedikit lebih kecil dari payudara Tante Jupe yang besar itu โ putingnya saya jilati dan beberapa kali kami berciuman mesra, lidah kami saling membelit dan bertukar cairan. Beberapa saat kemudian saya mulai melihat tanda Tante Putri sudah menuju puncaknya โ kemaluannya berkedut lebih kencang. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan; saya mengambil posisi berlutut tegap dan tanpa aba-aba mengoncang tubuh Tante Putri. Ia berteriak tak terkendali.
"Aahhhh! Ahhh! Ahhh! Auuuu! Mmmh! Yahhhhh!" erangannya yang langsung ditutup Tante Jupe takut membangunkan seisi rumah. Tubuh Tante Putri mulai bergetar; dengan cepatnya ia merangkul saya, bermaksud membuat saya menimpa dirinya โ kakinya mencengkeram pinggang saya dengan erat agar kemaluan saya diam di dalamnya. Namun karena kuda-kuda saya yang baik, Tante Putri malah saya angkat mendekap dengan tubuh saya yang tegap berlutut. Ia memeluk erat saya sambil kakinya mendekap pinggang saya.
"Ahhhhhh... saya keluaaarrrr!" erangannya sambil ia bergetar di atas tubuh saya.
Terasa cairan hangat milik Tante Putri keluar membasahi seluruh kemaluan saya. Perlahan cengkeraman tangannya mulai melemah seiring dia terhempas di atas kasur lembut milik Tante Jupe dan suaminya.
Belum sempat saya menarik kemaluan saya, tangan Tante Jupe sudah menarik keluar kemaluan saya. Dia lalu menyuruh saya tidur terlentang di samping Tante Putri, sementara ia mengambil posisi WOT. Tangan saya meremas payudaranya dan dengan perlahan ia mulai menurunkan badannya hingga kemaluan saya bergesekan dengan kemaluannya yang tak langsung dimasukkan โ ia masih bermain dengan kemaluan saya yang penuh cairan milik Tante Putri.
"Ahhhh... mmmhh..." ekspresi Tante Jupe ketika kemaluan saya mulai memasuki kemaluannya yang terasa berbeda dengan milik Tante Putri โ selain tidak berbulu alias botak, kemaluannya juga terasa sangat sempit untuk ukuran seorang istri.
"Ahhh!" erangannya ketika kemaluan saya masuk sepenuhnya.
"Sering kok, gimana seret ya, kayak perawan kan?" katanya membanggakan kemaluannya yang sempit tersebut.
"Sempit banget, Tante. Tapi nggak bakalan buat aku ngecrot duluan."
Tangan Tante Jupe melarang saya untuk merangsang payudaranya, sementara dengan pengalamannya ia berusaha membuat saya keluar duluan. Dia memegang kendali sepenuhnya โ memutar pinggulnya kiri ke kanan, naik turun di atas kemaluan saya. Tangannya memegang erat tangan saya yang di atas kepala. Karena posisinya yang agak membungkuk, payudaranya menggantung ke arah wajah saya โ yang langsung saya manfaatkan dengan mencari puting payudaranya. Tante Jupe bergetar sesaat setelah puting payudaranya saya sentuh dengan lidah, dan sempat beberapa saat saya kenyot.
"Ini titik lemahnya Tante Jupe, pantas dia nggak mau saya rangsang," pikir saya dalam hati.
Tante Jupe berusaha menggenjot kemaluan saya dan saya berusaha mendapatkan puting payudaranya โ kini fokus saya sudah berubah. Nikmatnya kemaluan Tante Jupe yang bagai seorang wanita muda sudah tak lagi saya rasakan sepenuhnya karena fokus saya adalah putingnya yang sesekali lepas dari pengawasan lidah saya.
Sesekali Tante Jupe berhenti menggenjot saya dan hanya mengoyangkan pinggulnya dalam-dalam ke arah kemaluan saya, yang sebenarnya membuat saya keenakan. Biasanya saya yang membuat cewek keenakan, tapi kali ini saya yang dibuat enak oleh wanita yang sangat berpengalaman dalam urusan kelamin ini.
Lama juga di posisi ini โ ada sekitar 30 menit Tante Jupe berada di posisi WOT. Bahkan Tante Putri yang tadinya terbaring lemas di samping kami sudah tidak ada di tempatnya; ia sudah duduk di sebuah kursi sambil menyalakan TV. Suara TV dan erangan saya dan Tante Jupe seakan beradu.
Namun tiba-tiba Tante Jupe berhenti sejenak โ ia duduk tegap di atas kemaluan saya, tangannya yang memegang tangan saya lepas dan berpindah menekan lutut saya. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan: payudaranya langsung saya remas, putingnya saya mainin. Saya bisa melihat ekspresi Tante Jupe yang seakan menahan sesuatu. Kaki saya langsung saya tekuk kemudian pinggul saya goyangkan perlahan.
"Sayangggg..." lenguhnya panjang ketika seluruh badannya bergetar. Emputan kemaluannya semakin terasa. Saya lalu sedikit mengangkat kepala dan dengan cepat saya kenyot puting payudara kanannya. Tante Jupe menahan erangan orgasmenya dengan memeluk saya erat โ terasa keringat kami saling bercampur, apalagi tubuh Tante Jupe yang sudah basah. Saya membiarkan Tante Jupe memeluk saya sambil bergetar merasakan sisa orgasmenya.
"Gimana, Yun, udah?" kata Tante Putri yang penasaran.
"Buat tante puas malam ini, Dy," katanya sambil kami berciuman hangat.
Saya lalu memulai babak baru lagi dengan Tante Putri. Jujur saya sering main threesome sama cewek-cewek muda, namun kali ini berbeda โ bukan hanya soal umur, tapi pengalaman mereka membuat saya harus "curang" terlebih dahulu. Padahal saya bisa membuat mereka KO duluan. Tante Jupe masih tergeletak lemas di samping kami menutup matanya; cairan orgasme Tante Jupe membasahi tempat kami bermain tadi โ sungguh banyak cairannya. Menurut saya sungguh beruntung suami Tante Jupe ini: selain memiliki bodi yang luar biasa, cantik, loyal dengan uang, nafsunya juga sangat tinggi. Tak kalah dengan Tante Jupe, Tante Putri juga 11-12 โ pokoknya malam ini saya beruntung banget. Sudah dapat dua tante HOT, dapat duitnya lagi; terhitung 60 juta sudah masuk dalam rekening saya malam ini. Padahal malam-malam sebelumnya saya bisa menghabiskan 5 juta untuk menyewa seorang wanita penghibur.
"Tante, posisi yang tante suka apa?" tanya saya sama Tante Putri.
"Oke, kita main ya," kata saya sambil membalikkan badan Tante Putri menghadap kepala ranjang, tangannya bertumpu di kasur, sementara ia setengah berlutut. Saya dari belakang memainkan kemaluannya yang sudah kembali basah โ awalnya dengan tempo yang pelan, lama-kelamaan saya tambah temponya. Benar saja, Tante Putri meracau tak menentu ketika kemaluan saya masuk keluar kemaluannya.
"Yahhh, teruuss sayaangg, entotinn... enakkkk, mmmhh, kemaluanmu enak sayanngg, teruusss!" katanya meminta saya terus. Sambil saya "main" dengan Tante Putri, ternyata Tante Jupe sudah membersihkan dirinya lalu kembali ke ranjang. Kali ini ia berbincang panas dengan saya yang sedang mengerjai temannya.
"Belum dong, kamu kuat banget sihh. Biasanya cowok-cowok udah KO tante buat pas tante di atas mereka."
"Aku kan beda, Tante, hehehehe," tawa saya sambil terus menggenjot Tante Putri yang terus meracau minta saya tidak berhenti.
"Punyamu keluarin di kemaluan tante aja ya? Nanti tante tambahin 20 juta lagi kalau kamu menuhin punya tante dengan spermamu."
"Mhhh, gimana ya... oke lah. Tapi dengan syarat tante ikuti semua kemauan aku."
"Oke kalau gitu. Aku selesain ini dulu ya," kata saya untuk menyelesaikan pertarungan dengan Tante Putri.
Saya lalu mulai mengubah posisi. Yang tadinya berlutut sambil memainkan payudara Tante Putri, kini kaki kiri saya saya angkat membuat kuda-kuda, tangan saya sedikit menekan pinggul Tante Putri agar turun ke bawah sehingga kemaluan saya bisa dengan leluasa masuk sepenuhnya.
Tanpa aba-aba, Tante Putri saya genjot dengan kekuatan penuh โ membuat tubuhnya tergoncang-goncang dan bunyi pangkal paha saya bertemu pantat seksinya. "Plakkk, plakkk, plakkk, plakk."
"Ahhhh, uhhh, yahhh, sssttt, fuckkk, mmmmm, yahhh, uhhh, auu, auu, awww, yahh, aaawww!" erangan Tante Putri. Tak butuh waktu lama untuk membuat Tante Putri keluar lagi.
"Awwwwwww..." erangan Tante Putri disertai tubuhnya yang bergetar. Kemaluan saya saya tanam sedalam-dalamnya membuat Tante Putri tak berdaya. Satu menit saya biarkan kemaluan saya tetap di dalamnya yang sangat becek itu sebelum akhirnya saya pamitan dengan kemaluannya.
"Uuhhhh, enak banget, Dy, kemaluanmu. Tante puas banget. Tante jadi basah gini."
"Kemaluan tante juga legit. Masih mau nggak, Tan?"
"Mmhhh, pinggang tante keram nih. Tante udahan aja, kamu lanjutin sama Jupe aja."
Saya lalu bangkit dari tempat tidur dan mengajak Tante Jupe untuk sedikit bersih-bersih di kamar mandinya. Saya menyiram tubuh kami dengan air hangat โ terasa segar banget. Di bawah guyuran shower, saya mendekap tubuh mungil Tante Jupe dari belakang; kemaluan saya sengaja mengapit di selangkangannya, tangan saya meremas gemas payudaranya dan sesekali saya plintir putingnya.
"Aku mau nanya nih, kok kemaluan tante sempit ya, nggak kayak yang lain?"
"Ini karena tante sering ngerawatnya. Tante kan dokter kulit." Oh, pantas saja kulitnya halus beda sama yang lain.
"Dan juga suami tante kemaluannya kecil, nggak kayak punya kamu. Nanti kalau dia tidur sama tante, kemaluannya longgar kan bisa curiga dia," jawabnya โ ia memang sengaja merawat agar tidak ketahuan kalau dia sering main dengan cowok lain.
"Suami tante kerjanya apa sih? Kok nggak ada di rumah?"
"Suami tante itu kapten kapal pesiar, makanya dia sebulan hanya pulang selama tiga hari aja. Curiga pun tak masalah, dia juga paling main di luar sana."
Sambil membersihkan diri kami berbincang-bincang dan saya tahu kalau Tante Jupe belum memiliki anak dan dia adalah seorang istri yang perlu kehangatan biologis. Dia juga seseorang yang bisa dibilang sangat kaya โ harta dari suaminya yang berlimpah dan juga miliknya pribadi. Selain seorang dokter, ia memiliki klinik kecantikan yang sangat terkenal dan memiliki cabang di beberapa kota.
"Tante nggak takut hamil sama saya? Sperma saya kuat loh," tanya saya bercanda.
"Buktikan kalau gitu," jawabnya dengan senyum.
Setelah bersih-bersih, saya lalu mengeringkan badan kami berdua dengan sentuhan-sentuhan erotis di sekujur tubuh Tante Jupe yang pasrah.
"Ehh, mau kemana?" tanyanya bingung ketika saya menarik tangannya keluar ruang kamarnya.
"Udah, tante ikut aja. Katanya mau dihamili," jawab saya nakal.
"Kalau gitu, ke bawah. Aku nggak bisa ngecrot kalau nggak ada sensasinya."
"Nggak bakalan, kalau tante diam," saya berusaha meyakinkan Tante Jupe, yang akhirnya menerima tantangan saya.
Kami lalu menuju ruangan depan, di atas sebuah sofa datar yang sengaja saya atur agar bisa melihat keluar jendela โ di mana seorang satpam tengah terjaga sambil menonton televisi.
"Nggak bakalan, Tante. Cahaya di dalam kan nggak ada; yang ada hanya cahaya dari luar. Dari dalam bisa lihat keluar, tapi dari luar nggak bisa."
"Kan kalau nggak gini, nggak bakalan aku keluar, Tante."
Dan dimulailah babak kedua saya dengan Tante Jupe. Saya menyuruhnya gaya doggy style โ gaya favorit saya. Ia merangkak di atas sofa sambil berpegangan di lengan sofa; pandangan kami tertuju pada sosok di balik kaca jendela yang tak tahu kalau tuannya sedang dikerjai tepat di depan matanya. Perlahan kemaluan saya menyeruak masuk ke kemaluannya yang sudah basah. Dengan mudah kemaluan saya masuk, namun kemaluannya masih tetap seret dan rapat.
"Tante, tahan suaranya ya," kata saya sebelum mengambil ancang-ancang mengenjotnya dengan brutal.
"Ahhh, ahhh, mmm, mmp, mmmppphhh, awww..." begitulah erangan Tante Jupe yang berusaha menahan suaranya agar tidak keluar, sementara tubuhnya tergoncang hebat karena sentakan kuat di kemaluannya.
Sekitar lima menit saya mengentot Tante Jupe dengan kasarnya sebelum akhirnya saya mengajaknya berdiri โ dengan kemaluan saya masih di kemaluannya, saya mengentotnya berdiri menghadap jendela. Sungguh luar biasa; dengan posisi seperti ini, apit kemaluan Tante Jupe lebih terasa. Tanpa menurunkan tempo gerakan, saya menghajar Tante Jupe sampai-sampai ia tak kuat menahan jeritan yang akhirnya saya tahan dengan tangan saya.
"Mmmmhhpp, mhhhppp, yahhhh, mmhhppp, enak sayang kemaluanmu enak banget. Entot tante sayang. Uhhhh, siall enak banget, mhhhhpp, tante udah nggak kuat nih," celotehnya. Saya langsung melepas kemaluan saya ketika Tante Jupe berkata tidak kuat lagi.
"Kenapa berhenti, sayang?" tanya Tante Jupe yang klimaksnya tertunda, tangannya berusaha memegang kemaluan saya dan mengarahkannya ke kemaluannya.
"Jangan dulu dong, kita keluar bareng-bareng aja," kata saya lalu membalikkan tubuh Tante Jupe. Saya yang badannya memang lebih besar darinya lalu mengangkat tubuhnya; Tante Jupe yang mengerti maksud saya langsung melingkarkan kakinya erat di pinggang saya dan tangannya merangkul saya erat agar tidak terjatuh. Namun lagi-lagi dia mencari kemaluan saya untuk dimasukkan ke kemaluannya yang tepat di atas kemaluan saya. Karena kasihan, saya akhirnya memperbolehkan dia menikmati kemaluan saya selagi saya menggendong dan membawa Tante Jupe menuju halaman belakangnya yang ternyata sangat luas.
Saya mengecek setiap sudut tempat dan akhirnya menemukan sebuah gundukan tanah bak bukit kecil yang berada tepat di bawah jembatan buatan โ terhalang pandangan apabila ada orang yang memeriksa ke arah belakang.
"Payudara tante nih, asli atau palsu? Kok besar banget?"
"Kalau ini asli, sayang. Mmmhuuu," jawabnya bergetar ketika saya mengulum puting payudaranya.
"Owww, pantes aja tante begitu bernafsu. Ternyata ini titik sensitifnya," kata saya sambil terus mengenyot payudaranya.
"Mmmmmmm, jangan dikenyot terus nanti tante keluar loh," katanya mengingatkan saya.
"Nggak, tanya aja. Apa mereka nggak terangsang melihat tante yang seksi ini?" jawab saya sambil menurunkan Tante Jupe dari gendongan dan membaringkannya di atas rumput lalu menyandarkannya di atas bukit tanah.
"Tante pernah nggak, ngentot sama pasien tante di klinik?" sambil membuka kedua kaki Tante Jupe yang tertekuk, bersiap dengan posisi konvensional.
"Udah, kamu cepat entot tante, malah cerita," jawabnya sewot.
"Tante cerita aja sambil aku entot, biar dapat sensasinya."
"Ia, tante pernah, dua kali. Awww!" pekiknya ketika kemaluan saya masuk ke kemaluannya.
"Tante terus cerita aja sambil aku entot tante ya."
Sambil dengan perlahan saya mengentot Tante Jupe dengan tempo dan ritme pelan, Tante Jupe mulai bercerita.
Waktu itu tante sedang sepi. Datang satu pasangan yang minta diperiksa โ itu ceweknya. Tapi karena tante nakal, yang cowok juga tante kasih diskon periksa kulit gratis. Awalnya cuma niat menggodanya, namun si cowok juga agresif โ jadi tante memeriksa si cowok sedangkan si cewek diperiksa rekan tante. Waktu itu tante cuma nyepong kemaluannya dan tante suruh mainin payudara tante. Sampai akhirnya ia ngecrot di mulut tante. Terus yang kedua, waktu itu memang pasiennya cowok dan dia sudah dua kali ke tempat tante. Kali pertama dia ganjen banget liatin payudara tante terus; nah kali kedua tante kerjain. Sengaja tante taruh dia di jadwal akhir dan sesampainya dia di sana, tante berlama-lama dengan dia. Lagian suster dan dokter lainnya udah balik, hanya dia pasien terakhirnya karena tante udah suruh mereka pulang selain satpam. Dan terjadilah seperti kamu sekarang ini โ tante disentot di atas ranjang. Butuh dua ronde untuk tante keluar sekali. Kalau nggak karena waktu dan takut ketahuan, udah tante lanjutin sampai puas.
"Kalau nggak nakal kamu, nggak bakalan ngentot tante. Ehh, tapi ngomong-ngomong enak juga ya, disentot kayak gini sambil cerita."
"Hal gila apa lagi yang pernah tante lakuin?" tanya saya sambil merangsang payudaranya.
"Apa ya... Mm, oh ya โ tapi kamu jangan bilang-bilang ya. Tante pernah disentot suami Tante Putri dan Tante Sarah."
"Ya, mereka tahu kalau tante kesepian, makanya mereka bantu tante. Kalau sama suaminya Tante Sarah, udah dari tante belum nikah. Tapi sekarang udah nggak lagi, takut ketahuan."
"Umur 25 tante udah nikah, sehabis sekolah kedokteran tante langsung nikah."
"Nggak keduanya. Ke arah kebebasan โ karena kalau sama dia tante bisa bebas," jawabnya sambil menutup matanya.
"Pengen sih, malah pengen banget. Cuma karena sering banget tante pakai obat biar nggak hamil, efeknya sampai sekarang. Makanya kalau tante main jarang pakai pelindung. Lagian sperma suami tante juga kualitasnya standar."
"Terus gimana tante mau dapat anak kalau keadaannya kayak gitu?"
"Nggak dong. Malam pertama aja dia kira tante masih perawan karena tante operasi keperawanan sama teman tante. Suami tante ngizinin tante untuk suntik sperma apabila ingin punya anak, karena ia merasa kalau dirinya yang salah nggak bisa buat anak."
Menjawab tantangan Tante Jupe, saya lalu merapatkan kakinya kemudian menekuk kakinya ke arah kanan sehingga kemaluannya kini terasa sangat sempit. Badannya tetap saya arahkan ke arah saya sambil tangan saya menekan pinggulnya.
"Uhhhh, enak bangettt sayang. Kemaluanmu terasa banget."
Saya lalu berusaha merangsang payudara Tante Jupe karena saya sudah mencapai batas. Gerakan saya percepat seketika.
"Ahhhh, ahhhh, ahhhh!" erangannya ketika saya mempercepat gerakan yang tadinya sangat slow.
"Mmmhhh, tante mau keluar," lenguhnya โ yang langsung saya jawab dengan melepas kemaluan saya.
"Loh, kok dicabut lagi? Jangan buat tante tersiksa dong, sayang."
Saya lalu membalikkan tubuh kami. Yang tadinya bersandar di bawah bukit, sekarang kami tetap bersandar namun di atas bukit. Tubuh Tante Jupe merangkak dengan kepala di bawah sementara kakinya di atas bukit. Saya lalu mengenjotnya dengan posisi doggy style.
"Awww, aw, yahhh, tante keluarrrr! Ahhhhhh!" erangannya yang saya sambut dengan gerakan yang tak berhenti. Tante Jupe mengalami klimaks yang begitu lama, tubuhnya terasa bergetar sepenuhnya. Saya pun tak berhenti meskipun Tante Jupe mengalami klimaks, karena saya juga mengejar hal yang sama. Hingga akhirnya saya membenamkan kemaluan saya dalam-dalam ke kemaluannya.
"Crooott, croott, crroooottt, crooottt, crroooootttt, croootttt..."
Erangan saya yang menghentakkan keras kemaluannya, menyemburkan cairan yang menurut saya sangat banyak. Tubuh saya bergetar di atas tubuhnya โ kemaluan saya masih belum ciut walau sudah sekitar satu menit melewati masa orgasme. Namun belum berhenti di situ โ terasa kontraksi kemaluan Tante Jupe yang sangat kuat menghisap kemaluan saya serta sperma saya. Dan sekali lagi Tante Jupe bergetar dengan hebatnya.
"Ahhhhhh, tante keluar lagi, Dy..." ternyata ia mengalami multiple orgasme yang membuat tubuhnya tegang beberapa saat lalu jatuh lemas.
"Mmmmhhh, Dy, baru kali ini tante dibuat enak kayak gini. Kemaluanmu emang perkasa."
"Kemaluan tante juga enak banget, empotannya terasa meremas kuat."
Kami beristirahat sejenak dari pertempuran yang melelahkan itu โ bukan karena saya dibuat KO Tante Jupe, tapi karena saya harus membuat dua tante berpengalaman KO sehingga segala usaha saya kerahkan, walaupun dengan curang. Kami lalu bersih-bersih, dan kemudian pagi harinya saya dan Tante Putri meninggalkan kediaman Tante Jupe menuju kos saya. Terhitung 60 juta dari dua tante hot itu sudah masuk rekening saya.
Setelah kejadian tersebut saya masih kontak-kontakan dengan Tante Putri dan Tante Jupe. Namun karena Tante Jupe begitu menjaga privasi, kami tidak pernah bertemu bertatap muka setelah kejadian tersebut. Sedangkan Tante Putri menjadikan saya sebagai brondong perkasanya โ setiap dua minggu sekali kami jalan dan menghabiskan waktu di kamar hotel.