18px

Teman Istriku

Teman Istriku

Kisah ini terjadi beberapa bulan berselang saat kami sedang berada di kota B, kota kelahiran istriku. Kebetulan kami mempunyai rumah di sana dan saat itu sedang liburan anak sekolah.

Sudah dua hari kami berada di kota, hampir seluruh sudutnya kami jelajahi, dan anak-anak pun sangat senang menikmati liburan dengan mengunjungi berbagai lokasi wisata di kota berhawa sejuk itu.

Saat itu kami sedang berada di sebuah factory outlet ketika sebuah suara terdengar: "Hey... apa kabar?" Seorang wanita berusia sedikit di atas istriku tiba-tiba setengah berteriak menegur Anita.

"Eh... Mira... apa kabar?" jawab istriku yang langsung menghampiri wanita itu. Mereka berpelukan.

"Pa... ingat kan, ini Mira?" kata istriku.

"Tentu saja aku ingat. Apa kabar?" tanyaku menyalaminya.

Mira adalah sahabat istriku saat masih kuliah. Wajahnya khas Sunda — tidak terlalu cantik, namun putih dan bersih. Terakhir kami bertemu empat tahun lalu di suatu pesta di Jakarta; ketika itu ia datang dengan suaminya, seorang arsitek.

Kedua wanita lalu ngobrol, entah apa yang dibicarakan. Tampak mereka bicara tak putus-putusnya bahkan istriku nampaknya lupa kalau ia sedang belanja. Aku pun melangkah meninggalkan mereka, menggandeng anak-anakku meneruskan belanja, kubiarkan istriku melepas kerinduan dengan sahabatnya.

Sesaat kemudian kedua wanita itu menghampiriku dan Mira pamit pulang.

"Kasihan... ia sudah bercerai," kata istriku di mobil.

"Lho, kok?" tanyaku.

"Suaminya kawin lagi dengan wanita lain, dan ia tidak mau dimadu — ya akhirnya mereka cerai. Sudah tiga tahun ia menjanda," panjang lebar istriku menjelaskan.

"Lalu?" tanyaku.

"Ya sudah... Mira sekarang membuka butik," jelas Anita.

Percakapan berhenti sampai di situ karena anak-anak mulai cerewet minta makan dan kami pun berhenti di sebuah restoran langganan kami.

"Pa... Mira kusuruh ke sini ya, sebelum kita pulang, biar dia menginap di sini...," istriku membuka percakapan sore itu ketika kami sedang santai di teras rumah kami yang terletak agak di bagian atas kota.

"Boleh," jawabku. Sungguh, saat itu tidak ada satu pun pemikiran yang aneh-aneh melintas di benakku — aku sedang melepas semua pikiran tentang pekerjaan dan benar-benar bersantai. Lagi pula, anak-anak juga tidak mau tinggal diam.

Anita mengambil HP-nya, setengah jam ia ngobrol dengan sahabatnya itu, dan menjelang pukul delapan, ketika kami baru saja menyelesaikan makan malam, suara mobil memasuki halaman.

"Hai...!" sapa Mira ketika kami menyambutnya. Malam itu ia nampak segar dengan celana panjang yang mencetak bentuk pantatnya dan atasan model sekarang yang agak gombrong. Sampai saat itu, kembali aku belum "memikirkan hal itu" sama sekali.

Istriku segera menarik tangan wanita itu dan mengajaknya masuk, sementara pembantu kami membawakan barang bawaannya. Rumah kami agak besar dan masih memiliki sebuah kamar yang tidak terpakai — ke situlah barang bawaan Mira diletakkan.

Malam itu aku masuk kamar duluan, setelah anak-anak tertidur, sementara istriku masih asyik ngobrol dengan kawannya. Tak lama kemudian aku pun terlelap.

Rasa hangat dan geli yang nikmat menyadarkanku, dan aku tahu mulut istriku sudah mengulum batang kemaluanku yang segera berdiri walau aku sendiri masih setengah sadar. Entah kapan celanaku sudah turun sampai ke lutut, aku benar-benar tak tahu.

Sesaat kemudian, tanpa melepaskan mulutnya dari batang kemaluanku, celanaku sudah terlepas seluruhnya, menyusul baju lainnya.

Setelah saling mencumbu, menjilat, dan bergumul, akhirnya dengan posisi di atas, Anita memasukkan batang kemaluanku ke dalam vaginanya yang hangat itu dan mulai bergoyang — mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat, sementara mulutnya berdesis seperti orang kepedasan.

"Srrrt..." aku tak tahan lagi dan melepaskan air maniku lebih dahulu dalam vagina istriku yang masih terus bergoyang mengejar puncak kenikmatannya. Akhirnya beberapa puluh detik kemudian istriku melenguh dan mendesis-desis ketika ia menggapai klimaksnya.

Tubuh istriku ambruk di atas tubuhku, dan — plop — kemaluanku terlepas dengan sendirinya. Kami berciuman dan saling memeluk. Walaupun banyak petualangan yang kami jalani, setiap kali berhubungan seks kami tetap sangat puas, dan nilai keintiman yang ada di antara kami kalau sedang berdua sangat berbeda dibanding kalau sedang "bertualang".

Kami tidak banyak bercakap malam itu — capek setelah seharian berputar-putar dan belanja, ditambah nikmatnya seks yang baru saja kami rasakan, membuat kami segera terlelap dalam selimut, berpelukan telanjang bulat.

Pagi-pagi aku sudah terjaga. Melihat istriku masih tidur, aku lalu mengenakan celana pendek dan kaos oblong, masuk kamar mandi yang ada di dalam kamar, cuci muka, lalu keluar ke ruang makan mencari kopi.

Saat melintas dapur, kulihat Mira sedang asyik mengaduk kopi di gelas. Ketika melihatku, ia tersenyum.

Mira hanya mengenakan baju tidur yang agak tipis, dan buah dadanya yang saat itu tidak menggunakan bra membayang jelas. Masih pagi, baru bangun — melihat pemandangan seperti itu, langsung saja "adik kecil" di selangkangan berontak keras.

"Mas, kopinya suka manis?" tanya Mira.

"Lho, mana pembantu? Masa kamu yang bikin?" tanyaku.

"Kusuruh ke pasar. Mira ingin masak kalau boleh — tanya Anita deh, hobi Mira kan masak," jawabnya.

"Jangan terlalu manis... nanti bisa diabetes," jawabku.

Siang itu aku bersantai di kamar sementara istriku dan Mira asyik memasak. Anak-anakku juga asyik dengan urusan mereka masing-masing di kamar.

"Hey... makanan sudah siap!" teriak istriku. Hawa dingin kota Bandung serta suasana yang nyaman sungguh membuat kami lapar.

Mataku sempat menelusuri tubuh Mira yang tampak sibuk mengambilkan nasi dan menyiapkan lauk-pauk. Dengan tank top ketat dan celana jeans yang dikenakannya, tubuhnya tercetak jelas. Sesungguhnya wanita ini bukan tipe yang akan langsung menarik perhatian — berusia menjelang pertengahan, wajahnya biasa saja, tubuhnya pun sudah tidak sekencang gadis muda. Namun kulitnya sangat putih dan bersih, dan dari penampilan serta cara bicaranya terlihat jelas ia bukan "petualang". Yang agak "mengganggu" pikiranku adalah soal tiga tahun bercerai itu — jangan-jangan sudah rapat kembali.

Pepes ikan mas, sayur asam, sambal, dan ayam goreng yang nikmat dalam waktu singkat bersih tandas. Beberapa saat kemudian aku sudah terbuai dalam mimpi, tidak lagi mempedulikan apa yang diperbuat istriku, sahabatnya, dan anak-anak.

Setelah mandi sore kami menyempatkan diri pergi ke mal, beli jagung bakar, makan malam, dan menjelang pukul sembilan malam kami sudah kembali ke rumah. Anak-anak langsung masuk kamar dan sesaat kemudian suasana sudah sepi.

Aku sedang membaca di kamar ketika istriku masuk dan duduk di sampingku. Dengan wajah yang berbinar-binar ia berkata, "Pa... menurut Papa, Mira bagaimana?"

"Bagaimana apa?" tanyaku.

"Ah... Mama kan melihat Papa memperhatikan Mira waktu makan siang tadi. Minat?" lanjut istriku.

"Mmm, bukan gitu," lalu kusampaikan isi pikiranku siang tadi. Istriku mencubitku. "Buktikan — mau tahu lubangnya masih ada atau nggak?" jawab Anita. "Mm... tapi kan dia teman Mama, dan belum tentu memahami gaya hidup kita," jawabku. Langsung saja ada yang terasa bergerak di antara pahaku — kalau iya, lumayan juga, pikirku.

Sudah terlalu lama istriku mengenal diriku. Kali ini dia yang menjadi "pengatur laku". "Sudah, pokoknya Papa nurut saja. Nggak rugi deh," lalu sambil mencium pipiku ia beranjak keluar kamar.

Aku mencoba kembali ke bacaanku, namun konsentrasiku sudah buyar.

Sekitar lima belas menit kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah istriku bersama Mira yang sudah berganti pakaian dengan daster. Wajahnya tampak segar dengan rambut diikat ke belakang, sementara dadanya tampak menggantung lepas — sayang daster batik yang dikenakannya agak tebal sehingga tidak ada bayangan yang timbul.

"Ngobrol di sini saja ya, Mir... Pa, boleh kan Mira ngobrol dulu di sini? Pembantu belum tidur, masih nonton TV; di kamar Mira nggak enak, nggak ada exhaust fan-nya." Memang terkadang istriku merokok — terbayang kan kalau asap tidak bisa keluar dari kamar.

Walau awalnya agak canggung, sebentar saja pembicaraan kami sudah rileks. Anita duduk di sisiku dan kami bersandar santai di ranjang, sementara Mira duduk di ujung ranjang. Kami ngobrol segala hal sampai suatu saat istriku bertanya — aku yakin ia sudah menanyakan ini sebelumnya, tapi diulangi lagi untukku.

"Mir... kalau boleh tahu, kamu kan sudah pisah tiga tahun sama mantanmu. Nah, kalau 'kepingin itu'... bagaimana kamu mengatasinya?" Tanpa tedeng aling-aling Anita bertanya, membuat wajah Mira merah bagai kepiting rebus.

"Ya... gitu deh... sudah ah, kok nanyain yang begituan sih...," jawab Mira tersipu.

Tiba-tiba Anita bangkit, lalu mengambil laptop yang biasa kugunakan, meletakkannya di pangkuannya, dan menyalakannya sambil memanggil Mira mendekat.

Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan istriku. Walau aku tahu apa yang ada di pikirannya, sekejap kemudian terdengar suara Mira berteriak kecil: "Ih, gila ya kamu...!" sambil melirik ke arahku.

Berkali-kali terdengar jerit tertahan Mira saat melihat apa yang tersaji di laptop — kumpulan gambar dan foto "petualangan" kami, bermacam occasion yang sudah kukompilasi dalam suatu album: ada yang istriku sedang "dikeroyok", ada yang sedang swinging dengan pasangan lain, dan macam-macam lainnya.

"Sebentar ya," kata Anita yang lalu beranjak ke kamar mandi. Mira tidak menjawab namun matanya terus menatap layar laptop dengan wajah yang berubah-ubah — antara percaya dan tidak, antara ingin tahu dan tertarik. Ia masih asyik men-scroll gambar-gambar itu.

Anita yang sudah kembali duduk di dekatku langsung menyusupkan tangannya ke dalam celana pendek yang kukenakan. Ia merangkul leherku, mencium bibirku — lidah kami saling bertautan dan tangannya dengan nakal memainkan kemaluanku. Beberapa saat kemudian celana yang kukenakan sudah terlepas.

Ketika Anita menengok, ia terpana — karena saat itu istriku sedang asyik menjilat dan menghisap batang kemaluanku. Ketika istriku melihat bahwa sahabatnya memperhatikan, ia menghentikan gerakannya dan memberi tanda agar mendekat. Entah sadar atau tidak, Mira mendekati kami dan duduk di samping tempat tidur.

Tiba-tiba istriku menarik tangan Mira dan meletakkannya di batang kemaluanku yang sudah mengeras.

Tangan yang terasa dingin bertemu dengan batang kemaluan yang sangat panas — memberikan sensasi padaku. Benar seperti kata istriku: Mira sudah terlalu lama tidak menyentuh laki-laki. Sesaat kemudian dua mulut mungil menjadikan batang kemaluanku sebagai "mainan" — saat Mira menghisap kepalanya, istriku menjilati bijiku, dan begitu bergantian. Kujulurkan tanganku, kutarik Mira agar merayap ke atas, dan sesaat kemudian bibirnya sudah berpagutan dengan bibirku.

Ketika dasternya kulepas, buah dadanya terpampang jelas — puting susunya lebih besar dari istriku, merah agak kehitaman, kontras dengan kulitnya yang putih. Walau sudah tidak terlalu padat dan agak turun sedikit, tetap menarik.

Mulutku melumat puting susu yang sudah mengeras itu, dan tanganku menyusup ke bawah pusarnya — terasa selangkangan yang lembab, agak basah, dengan bulu-bulu yang cukup lebat.

Istriku yang mengerti apa yang kuinginkan menghentikan gerakannya menjilati kemaluanku, lalu memberi kesempatan padaku untuk mengubah posisi.

Kubaringkan Mira telentang dan kucium bibirnya, lalu perlahan jilatanku merambat turun — lehernya, pundaknya, buah dadanya ganti berganti kujilati dan kuhisap putingnya, sementara ia hanya memejamkan mata, mengerang lirih.

Lidahku turun terus ke bawah, dan ketika sampai di perutnya ia mulai menggelinjang. Kuambil bantal, kuminta ia mengganjal pinggulnya, dan kini aku mulai konsentrasi pada vagina yang merekah membasah itu.

Dengan kedua tanganku kusibak bulu-bulu di area itu, kubuka vaginanya, dan lidahku mulai menari-nari di klitorisnya — sesekali menerobos masuk dan kembali menjilat, menghisap, dan menjilat.

Anita yang rupanya tidak tahan dari belakang juga "menyerang"ku.

"Ssshh... aduh... sudah tidak tahan...!" Sesekali kepalaku dijepitnya dengan pahanya, dan aku mengerti — sudah terlalu lama ia "haus". Ketika aku menyudahi permainan lidahku dan merayap naik ke atas tubuhnya, serta merta tangannya menyambut dan memelukku. Setelah batang kemaluanku terarah dengan tepat, dengan perlahan mulai kubenamkan.

Mira mengerang, membuka pahanya semakin lebar. Setelah kepalaku masuk, dengan satu hentakan yang diiringi desahan keras dari wanita ini, kubenamkan batang kemaluanku hingga habis.

Kubiarkan sesaat kemaluanku terendam dalam vagina yang sangat hangat namun "legit" itu. Memang kelebihan wanita Jawa Barat umumnya bisa membuat vaginanya terasa nikmat — tidak kering, agak basah sedikit, tapi legit. Baru kemudian kutarik sedikit, lalu kubenamkan lagi, demikian berulang-ulang, sementara Mira memeluk dan kakinya bahkan melingkari pinggangku.

Tiba-tiba kurasakan sensasi lain — ternyata istriku mengusap dan memegangi bijiku saat batang kemaluanku bergerak memompa naik-turun di vagina Mira. Bahkan sesaat kemudian bukan lagi usapan yang kurasakan, melainkan jilatan. Gila — rasa nikmat yang luar biasa menyerangku. Batang kemaluanku terbenam dijepit kemaluan Mira, dan lidah Anita menjilati bijiku; sesekali batangku terjilat saat tertarik keluar.

Aku tahu kalau begini terus tidak lama lagi pasti tumbang. Maka kuubah posisi — tanpa melepaskan batang kemaluanku dari vaginanya, kubalik posisi hingga Mira kini di atasku. Kini aku punya "mainan" tambahan: buah dada yang bergoyang dan menggayut di atasku dengan leluasa kuremas, sesekali putingnya kuhisap. Di sisi lain, istriku pun jadi lebih leluasa "menggarap" kemaluan ku yang sedang menyatu dalam vagina sahabatnya itu.

Mira mulai bergerak teratur. Mungkin terlalu lama tidak merasakan kemaluan laki-laki membuatnya tidak tahan terlalu lama — ia naik-turun di atasku dengan teratur, semakin lama semakin cepat, kemaluannya mulai menghangat. Aku "membantunya" dengan menghisap puting susunya. Akhirnya dengan satu teriakan tertahan ia melemparkan kepalanya ke belakang, mencengkeram pundakku, dan mendesah lirih: "Ah... sss... hhh... ah... aduh... keluar...!" Lalu ia ambruk di atas dadaku.

Kucium bibirnya dan dengan perlahan kurebahkan ia ke samping. Sesungguhnya aku yakin kalau kuteruskan sedikit lagi ia masih bisa menggapai satu klimaks lagi — namun aku juga tahu istriku sudah menanti.

Kusuruh Anita menungging, dan dari belakang batang kemaluanku yang masih basah kuyup oleh lendir Mira menerobos masuk ke lubang vagina istriku yang juga sudah basah.

Kami sudah mengenal satu sama lain sangat baik, maka irama yang berkembang sudah dalam kontrol kami. Karena desakan di bijiku sudah sedemikian kuat, kuberi tanda pada Anita untuk meningkatkan kecepatan, dan akhirnya — srrrt... creeet — air maniku menyembur deras mengisi vagina istriku, sementara istriku pun mencapai klimaks pada saat yang sama dan mendesah-desah keras.

Cukup lama kami terdiam dan berpelukan bertiga dalam keadaan telanjang. Ganti berganti kedua wanita itu mencium bibirku, tangan mereka mengelus dan mengusap kemaluanku yang masih basah.

Belum terlalu terasa beristirahat, Mira sudah mulai memainkan kembali mulutnya di selangkanganku, sementara Anita berjongkok di atas wajahku dan lidahku langsung menerobos masuk ke lubang vaginanya. Vagina istriku walau sudah banyak yang "menikmati" namun tetap terawat dan terasa nikmat — klitorisnya pun masih tetap mungil kemerahan. Sekitar lima menit kami dalam posisi itu sebelum berbalik.

Kini kembali aku di atas Mira yang dengan melebarkan kakinya menerima kemaluanku, sementara Anita memelukku dari belakang, menjilati leher dan belakang telingaku, kadang lidahnya turun ke bawah hingga ke belahan pantatku.

Aku menggenjot Mira yang terlentang di bawah tubuhku dengan teratur dan pada irama yang tetap. Bibir kami saling bertemu dalam ciuman yang panas; istriku mengelus dan mengusap bijiku yang memberikan sensasi nikmat. Seperti tadi, Mira yang masih haus itu kembali mencapai klimaks lebih dulu.

"Mas... ah... cepat... cepat... aduh... enaak... hhh...!" Dan setelah seluruh tubuhnya menegang, ia tergolek lemas. Aku berhenti sebentar tanpa mencabut kemaluanku yang masih terbenam dalam vagina yang berdenyut-denyut itu. Semenit kemudian mulai lagi kugerakkan maju-mundur secara teratur.

"Waw... geli... ah... aduhh...!" Mira merintih dan mendesah, namun aku meneruskan gerakanku dengan cepat mengejar ejakulasi kedua. "Aduh... keluar lagi... ah...!" Dan istriku pun semakin giat mengusap dan meremas bijiku. Ketika aku merasa tak tahan lagi, kucabut kemaluanku dari vagina Mira dan istriku segera membuka mulutnya menerima kemaluanku yang basah penuh lendir itu.

Tidak sampai dua menit, aku setengah menjambak rambutnya dan menembakkan air maniku dalam mulut Anita yang tanpa ragu langsung menelannya.

Setelah melemas, kemaluanku dilepas dari mulutnya — namun bukan berarti berhenti, karena lidahnya masih terus menjilati hingga batang kemaluanku bersih dari cairan.

Kali ini aku perlu waktu setengah jam untuk dapat "bangkit" kembali, dan setengah jam lebih dikocok dalam vagina Anita untuk kemudian melepaskan isinya yang sudah semakin sedikit dalam vagina yang sejak awal belum sempat diisi air maniku.

Entah jam berapa Mira kembali ke kamarnya, karena saat aku berada dalam pelukannya dengan wajahku terbenam di antara buah dadanya, aku terlelap.

Saat terjaga paginya aku diberi ciuman yang amat manis dari istriku sambil berbisik, "Mira bilang terima kasih — punya Papa jauh lebih enak dari mantannya dulu, katanya." Aku hanya tersenyum karena benar-benar merasa habis, terkuras energi dan air maniku.

Hampir tengah hari baru aku beranjak dari tempat tidur setelah anak-anak ribut tidak karuan mengajak pergi.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya