18px

Bab 1

Tergoda Wanita Hamil

Saya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di selatan Jakarta. Awal cerita saya dimulai saat menghadiri sebuah acara pemberian penghargaan, di mana saya datang bersama teman saya, sebut saja Hamdan. Saya diperkenalkan oleh teman saya kepada salah satu tamu yang hadir di acara tersebut — dan setelah dipertegas, nama tamu tersebut adalah DB, yang belakangan saya ketahui adalah salah satu artis Indonesia. Singkat cerita, malam itu berlalu begitu saja.

Seminggu setelah perkenalan tersebut, saya ditawari untuk menggarap proyek perayaan Hari Ulang Tahun oleh teman yang mengenalkan saya dengan DB. Memang bidang saya adalah hiburan. Teman saya yang mengenalkan saya itu namanya Shebi. Singkat kata, saya terima proyek yang diberikan oleh Shebi. Ternyata yang punya kerjaan itu adalah DB, untuk perayaan ulang tahunnya yang ke-34.

Saya pun dipertemukan oleh Shebi dengan DB di rumah DB yang terlihat cukup megah. Saya dan Shebi menunggu DB yang sedang mandi di ruang keluarga. Di sana saya ngobrol cukup banyak dengan Shebi — yang perlu pembaca ketahui, Shebi sedang hamil 7 bulan. Obrolan berlangsung santai dan menyerempet ke masalah kehidupan seks Shebi. Ternyata Shebi, yang memiliki tinggi 170 cm, ukuran BH 38, dan tubuh ideal, memiliki libido yang cukup tinggi. Shebi pun mulai merapatkan posisi duduknya mendekati saya, karena kami duduk di sofa panjang yang sama.

"Dra, coba kamu pegang perutku — sepertinya jabang bayiku ini ingin berkenalan denganmu!" kata Shebi.

"Ah, kamu bisa saja, Sheb," kata saya, yang belum menangkap arti sinyal dari Shebi itu.

"Kalau nggak percaya, coba saja kamu pegang perutku ini!" ujar Shebi yang kali ini memaksa tangan saya untuk memegang perutnya yang sudah terlihat buncit.

Dan benar, sepertinya ada yang bergerak-gerak dari dalam perutnya.

"Dra, kamu pernah ngerasain begituan dengan orang hamil?" ujar Shebi yang membuat saya kaget.

"Mmm, belum tuh, Sheb. Memangnya enak apa rasanya?" tanya saya heran.

"Wah, endang loh rasanya. Itu kuketahui dari suami dan brondong-brondongku," ujar Shebi yang membuat saya tersentak.

"Mmm, begitu," kata saya agak sok tenang, meskipun tegangan tubuh sudah naik.

"Kok jawabannya cuma segitu? Apa kamu nggak mau nyobain?" ucap Shebi sedikit kesal karena tanggapan saya hanya sebatas itu, sementara posisi kami sudah semakin dekat.

Shebi menarik sedikit ke atas long dress yang dikenakannya, terlihat paha mulus yang sedikit memperlihatkan timbunan lemak di sisi-sisinya dan sedikit CD hitam. Saya pun terdiam sejenak, lalu memegang kepala dan menatapnya untuk meyakinkannya.

"Sheb, bukannya aku tidak ingin mencoba tawaran yang spektakuler ini, tetapi kamu harus lihat kita ini di mana. Bila kamu tawari aku di posisi yang tepat, tentulah aku tak akan menolak," kata saya mencoba menenangkan suasana yang semakin panas itu.

Saya sadar bahwa kami datang ke tempat DB dalam rangka suatu pekerjaan, dan saya termasuk orang yang menjunjung tinggi profesionalisme.

"Aku tau apa yang kamu khawatirkan, Dra," balas Shebi sambil menutup bibir saya dengan jari telunjuknya.

"Kau harus tau bahwa DB itu penganut seks bebas, dan tentu dia tak akan marah kalau kita bercinta di sini. Lagipun di sini tidak ada orang lain selain DB," kata Shebi mencoba meyakinkan saya, sambil perlahan mengangkat kaos yang saya pakai ke atas dan jarinya bermain di atas puting saya sambil memainkan lidahnya sendiri, membasahi bibirnya yang sudah basah.

Mendengar perkataannya yang meyakinkan, ditambah dengan perlakuannya yang mencoba merangsang birahi saya, saya semakin yakin dengan situasi yang ada. Saya pun mulai berani meraba dada Shebi yang besar tanpa membuka pakaian yang melekat di tubuhnya. Shebi pun bertambah liar dengan menyusupkan tangannya mencari batang kemaluan saya yang sudah menegang sejak tadi. Sambil memilin putingnya tanpa membuka pakaiannya, tangan kiri saya pun bergerak ke bawah sambil membiarkan tangan kanan saya tetap berada di atas, dan Shebi pun mendesah.

Sampai di tempat yang saya tuju, tangan kiri saya meraba dari luar CD Shebi — terasa ada yang basah dan lengket di sana. Lalu bibir kami pun saling mendekat dan terjadi perciuman yang cukup lama. Kami pun terlihat sudah semakin berkeringat. Kemudian tangan yang berada di daerah sensitif Shebi mulai aktif melorotkan CD hitam Shebi, dan saya merasakan sentuhan bulu-bulu lebat yang sepertinya tertata rapi. Shebi pun telah sukses mengeluarkan senjata kemaluan saya dan mengocok-ngocoknya perlahan.

Merasa penasaran ingin melihat kemaluan orang hamil, saya menghentikan ciuman kami dan turun ke arah kemaluan Shebi yang duduk di sofa. Tebakan saya benar — liang kemaluan Shebi yang lebat ternyata benar-benar tertata rapi. Saya pun mulai tergiur untuk merasakan bibir kewanitaan itu dengan mulai menjilatinya secara lembut.

"Achh... achh... kamu pintar, Dra! Truus... Draa...!" Shebi pun terlihat sudah tidak dapat mengontrol ucapan dan intensitas suaranya.

Shebi meluruskan tubuhnya di atas sofa sambil mengocok senjata kemaluan saya. Mendapat perlawanan yang demikian nafsunya, saya pun merubah posisi menjadi 69 — saya di bawah dan Shebi di atas. Ternyata benar kata orang, kemaluan orang yang sedang hamil itu gurih rasanya.

Lima belas menit berlalu dalam posisi 69.

"Dra, please! Masukin sekarang, Say!" pinta Shebi yang sudah tidak kuasa lagi menahan gejolak nafsunya.

Mendengar itu saya tidak langsung menuruti, tetapi tetap saja mengigit, menjilat, dan meludahi liang kewanitaannya, terutama klitorisnya yang sudah mengkilap karena basah.

"Dra, kamu jahat!" teriak Shebi, diikuti dengan melelehnya air kemaluan Shebi yang cukup banyak dari liang senggamanya, menandakan Shebi sudah mencapai orgasmenya. Saya jilat habis cairan kental yang keluar itu sampai tidak tersisa. Senjata kejantanan saya yang terhenti bergerak itu dikulum oleh Shebi. Karena orgasmenya, Shebi mengulum kemaluan saya hingga menjadi merah. Lalu dengan bantuan tangan, saya masukkan kembali senjata saya ke dalam mulut Shebi sambil menaik-turunkannya di dalamnya.

"Aawww!" saya berteriak karena batang kemaluan saya tergigit Shebi. "Kamu nakal ya?" kata saya sambil menarik batang kejantanan saya dari mulutnya, lalu mengarahkannya ke vagina Shebi.

Saya tidak langsung memasukkannya, tetapi memainkannya terlebih dulu di bibir vaginanya sampai Shebi sendiri yang memajukan pantatnya agar batang kemaluan saya dapat langsung masuk — tetapi tetap saja saya tahan agar tidak masuk.

"Dra, kamu jahat!" ujar Shebi kesal.

"Habis kamu duluan yang mulai!" jawab saya.

Tanpa kami sadari, ternyata pertempuran kami dari tadi sudah ada yang mengawasi — yaitu DB, yang entah dari kapan sudah ada di dekat kami, mengenakan daster tanpa BH. Pemandangan itu kami ketahui karena daster DB sudah ada di bawah kakinya. Karena saya merasa sudah tidak tahan, akhirnya saya mulai memasukkan penis saya perlahan tapi pasti ke liang senggama Shebi. Memang awalnya sulit, tetapi karena Shebi minta untuk terus dipaksa, akhirnya masuk juga.

"Achh... achh!" teriak Shebi dengan wajah memerah, entah karena nafsu atau karena sakit.

Ternyata liang kemaluan orang yang sedang hamil itu lebih hangat dibandingkan kemaluan wanita normal. Karena sempit dan hangatnya liang senggama Shebi, membuat saya tidak dapat bertahan lama. Meskipun goyangan Shebi tidak terlalu hot, tetapi tetap saja rasanya lebih asyik dari liang kemaluan wanita yang tidak hamil.

"Sheb, aku mau keluar!" kata saya di tengah-tengah nikmatnya persetubuhan kami. "Aku keluarkan di mana, Say?" tanya saya menambahkan.

"Terserah kau saja, Dra!" jawab Shebi yang ternyata juga sudah orgasme kembali.

Akhirnya karena lebih enak, saya keluarkan cairan panas itu di dalam vaginanya — "Cret... cret... cret..." mungkin sampai tujuh kali air mani saya tersembur di dalam liang senggama Shebi.

"Ohh, ternyata kalian di sini sudah nyolong start ya?" ujar DB yang membuka pembicaraan.

"Abis kita udah nggak tahan, Mbak!" jawab Shebi.

"Trus gimana proyek ultahku?" tanya DB sambil memakai dasternya kembali yang tadi dilepaskan, karena DB dari tadi menyaksikan pergulatan kami sambil bermasturbasi.

"Kalau masalah itu tenang, di sini sudah ada ahlinya — tinggal kucuran dananya saja, konsepnya sudah Indra susun kok!" jawab Shebi sambil menahan saya untuk mengeluarkan penis saya dari liang senggamanya.

"Ooo, ok, aku percaya," kata DB. "Tapi biar Indra istirahat dong! Masa kamu monopoli sendiri itu batang!" jawab DB sambil mengambil wine yang ada di mini bar, lalu duduk di sana memperhatikan kami yang akhirnya mengambil pakaian masing-masing.

"Dra, kamu besok bisa ambil dananya di sini," kata DB.

"Lo nggak mau nyobain punyanya Indra?" celetuk Shebi. "Ntar nyesel?" tambahnya.

"Jangan sekarang deh, abis tanggung — sebentar lagi Bapak mau jemput gue," jawab DB.

"Ooo," jawab Shebi yang sepertinya mengetahui bahwa DB kalau main itu tidak cukup kalau hanya 3 atau 4 ronde saja.

"Ya sudah, kami pamit dulu deh kalau gitu — biar besok si Indra saja yang datang ke sini sendiri," kata Shebi.

Saya yang dari tadi diam saja hanya manggut tanda setuju untuk datang lagi esok.

"Tapi besok kamu datangnya malam saja ya!" pinta DB.

"Ooo, sekalian kamu cobain ya?" pancing Shebi sambil tersenyum.

"Apa kamu mau ikutan, Sheb?" tanya DB.

"Nggak ah, abis main sama lo harus lama. Gue takut kandungan gue bermasalah lagi. Kalau dokter gue bilang nggak apa-apa sih gue ok aja, tapi kalau kebanyakan digenjot nanti bocor lagi!" kata Shebi sambil tertawa.

"Ya udah, nggak pa-pa. Tapi kamu pasti datang kan, Dra?" tanya DB.

"Ya," jawab saya singkat.

"Ya sudah, kita cabut ya?" ujar Shebi ke DB.

"Ya, ok lah."

"Bye, Dra — jangan lupa ya, atau kontrak kita batal nih!" sambil mencubit dagu saya.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya