Terjebak Pesona (Bagian 1): Pelayanan Hangat di Kamar Hotel
Terjebak Pesona (Bagian 1): Pelayanan Hangat di Kamar Hotel
Hari Minggu seperti biasa adalah hari yang tidak sibuk. Tidak banyak tamu yang datang, maklum sebagian besar dari mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, kecuali yang sedang dinas ke luar kota. Hari biasa saya menerima rata-rata tiga hingga empat tamu, tapi kalau Hari Minggu paling banyak dua, bahkan terkadang hanya satu. Selama tinggal di hotel tak pernah saya lewatkan hari tanpa tamu — tiada hari tanpa tamu. Entah karena kepintaran "marketing" Om Lok atau karena kepintaran saya melayani tamu, saya tak tahu. Tapi sesepi apa pun, selalu ada laki-laki yang memerlukan pelayanan dan kehangatan tubuh saya.
Jarum jam baru menunjukkan pukul 7:38 pagi, saya masih terlelap. Kemarin tenaga saya habis terkuras; lima tamu datang beruntun sejak pagi, berselang tidak lebih dari 45 menit antara satu tamu dengan tamu berikutnya. Hari yang benar-benar melelahkan — saya baru tidur hampir pukul tiga dinihari.
Telepon berbunyi. Biasanya Om Lok membawakan masakan kesukaan saya saat Hari Minggu seperti ini sambil menemani saya ngobrol. Mungkin karena saya primadona andalannya — atau tepatnya sapi perahannya — dia memperlakukan saya dengan agak istimewa. Ternyata kali ini dia tidak datang, melainkan berpesan bahwa akan ada tamu pagi ini, sekitar pukul sembilan. Mata saya masih berat, tubuh saya terasa habis memikul beban berat, capek semua, tulang-tulang seakan copot. Sebenarnya saya berencana memanggil Massage Service di hotel pagi itu, tapi instruksi Om Lok sudah lebih dulu datang. Seperti biasanya, saya tak mungkin menolak.
Ingin saya lanjutkan tidur, tapi saya takut kebabalasan. Biasanya kalau Minggu begini saya memang bangun telat, terkadang jam sepuluh bahkan jam sebelas — toh biasanya tamu baru datang setelah jam dua belas atau bahkan sore.
Sambil ngedumel menahan kantuk yang masih menggantung, saya mandi. Saya rendam tubuh dalam air hangat di bathtub — terasa nyaman. Pelarianku dari kelelahan memang berendam air panas, bisa lebih dari 30 menit saya lakukan itu. Kali ini saya ingin berendam lebih lama sambil mencoba aroma terapi rempah-rempah yang diberikan tamu saya kemarin.
Pukul 9:50 tamu saya sudah datang. Di luar dugaan, orangnya relatif masih muda, tidak lebih dari 40 tahun, penampilan simpatik dan cukup tampan dibanding tamu lainnya. Saya terpesona dengan penampilannya — beruntunglah saya hari ini, teriak hati saya. Langsung hilang rasa capek yang masih menggelayut. Namanya Hari. Saya tidak tahu apakah dia Tionghoa atau bukan karena kulitnya kecoklatan tapi matanya sipit, tapi kini saya tak peduli lagi — yang penting tamuku sudah di sini.
Karena masih pagi, kami tidak terburu-buru. Kami bahkan sempat sarapan bersama di kamar. Saya layani dia sarapan seperti seorang istri yang melayani suaminya di meja makan. Saya begitu antusias karena teringat saat-saat indah dulu — suatu rutinitas yang membosankan waktu itu, tapi sungguh terasa membahagiakan bila saya mengingatnya sekarang. Sudah lama saya tak melayani sarapan seperti ini; ada kesenangan tersendiri bagiku, dan suasana pagi yang ceria itu membawa saya ikut terpengaruh — meski yang saya layani bukan suami saya, bahkan baru satu jam yang lalu saya kenal.
Hampir satu jam kami makan, dilanjutkan bersantai sambil menonton Doraemon — acara anak-anak kesukaan saya karena itu berarti hari Minggu, di mana kebanyakan orang berkumpul bersama keluarga. Terkadang saya menangis sendirian sambil menontonnya, teringat betapa ramainya dengan anak-anak tetangga kalau Doraemon sudah tayang.
Saya minta room boy membersihkan meja kamar. Mereka sudah mengenal saya, sehingga agak terheran-heran melihat saya bersama seorang laki-laki sepagi ini — karena tidak pernah ada tamu yang menginap di kamar saya. Tentu saja tidak berani dia mengatakannya.
Sambil menonton kami duduk di sofa yang entah sudah berapa puluh kali saya pakai untuk bercinta. Suasananya sangat santai; saya mengenakan celana pendek dan kaus putih bergambar Snoopy, seperti dulu kalau saya di rumah. Sungguh terasa bukan seperti sedang bekerja, melainkan seperti berlibur di hotel bersama suami atau pacar. Bahkan saya biarkan rambut saya yang masih basah tanpa dikeringkan.
Saya sajikan camilan seadanya yang ada di kamar dan saya buatkan kopi. Sesekali saya suapkan ke mulutnya — saya terbawa suasana santai yang mengharukan itu. Perlahan tapi pasti, tangan Hari mulai menjamah tubuh saya: paha, punggung, dan bagian lainnya, tapi masih dalam batas normal seperti orang berpacaran.
Ketika Doraemon sudah habis, dia mulai mencium pipi saya. Entah kenapa tiba-tiba saya merinding dibuatnya. Saya menoleh, dibalas dengan senyuman manis. Dia mengangkat dagu saya, memandang dalam-dalam, lalu dengan lembut bibirnya menyentuh bibir saya. Mesra sekali dia melumat bibir saya. Tiba-tiba jantung saya berdetak kencang — saya merasakan sentuhan yang berbeda saat bibir kami beradu, begitu pula saat lidah kami saling menyapa dengan lembut.
Pagi itu suasana hati saya begitu gembira. Rasa capek semalam terlupakan sudah. Tangan saya mulai meraba-raba pahanya, dan rabaan tangan Hari sudah sampai ke dada saya — dia mengelus mesra sambil kami terus berciuman.
Tidak lama kemudian dia melepas kaus yang saya pakai. Dipandanginya dada saya yang masih terbungkus bra putih biasa — bra polos yang tidak biasa saya pakai kalau menerima tamu.
"Kamu cantik deh, meski tanpa makeup," pujinya, lalu kembali menciumi pipi dan bibir saya seraya mulai meremas dada saya. Tangan saya membalas dengan meremas selangkangannya yang sudah tegang. Saya buka sabuk dan ritsleting celananya, menyusupkan tangan ke dalam celana dalamnya dan meremas-remas kejantanannya. Dia mendesah sambil menciumi leher saya.
Kami saling melucuti pakaian sambil terus berciuman. Sepuluh menit kemudian kami sudah sama-sama telanjang. Pujian kembali keluar darinya; saya hanya tersenyum sedikit bangga, meski tidak tahu apakah itu pujian tulus atau sekadar basa-basi.
Hari memangku saya dan merebahkan saya ke ranjang. Dilepasnya satu-satunya penutup tubuh saya, dan saya sambut ciuman serta cumbuannya yang penuh kemesraan. Tangannya mulai memainkan klitoris saya sementara mulutnya mengulum puting saya dengan liar — saya mendesah nikmat. Ciumannya turun ke perut, diteruskan ke selangkangan. Dia tidak langsung ke vagina saya, melainkan justru menciumi paha dan sekitar selangkangan, membuat saya semakin mendesah terbakar birahi. Jeritan saya akhirnya tak tertahankan ketika lidahnya menyentuh klitoris saya. Terasa nikmat sekali, apalagi ketika lidah itu menari-nari menyusuri vagina saya — melayang rasanya, tanpa sadar saya meremas-remas rambutnya.
Saya tak tahan lebih lama lagi. Saya minta kami ber-69 agar bisa saling memberi kenikmatan. Hampir saja saya orgasme lebih dulu kalau tidak dihentikannya. Dia memandang saya dengan senyum puas karena berhasil mempermainkan dan membawa saya terbang melayang.
Saya sudah telentang menantinya, siap melayani kemauannya — kali ini dengan senang hati, berbeda dari biasanya saat melayani tamu. Saya sambut dan peluk tubuhnya ketika dia mulai menindih saya. Ciumannya mendarat di bibir saya; sambil saling melumat, dia menyapukan kepala penisnya ke vagina saya yang basah.
Saya mendesah tertahan saat penisnya membelah liang kenikmatan saya. Suatu kenikmatan menjalar dari vagina ke seluruh tubuh saya. Saya menegang sesaat merasakan kenikmatan itu, dan semakin nikmat ketika Hari mulai mengocok perlahan penuh perasaan diiringi ciuman mesra — semakin cepat membawa saya melayang tinggi. Saya jepitkan kaki ke punggungnya; penisnya semakin dalam mengisi relung vagina saya. Meski tidak terlalu besar, terasa begitu memenuhi ruangan kenikmatan tubuh saya. Saya mendesah lepas saat kocokannya makin cepat. Saya peluk erat tubuhnya, apalagi ketika dia menjilati telinga saya — saya menggelinjang geli dan nikmat, semakin erat pelukan saya.
Kaki saya diangkat ke pundaknya; lebih dalam lagi penisnya menyodok. Saya menjerit dalam kenikmatan yang tak bisa saya gambarkan. Terlalu indah permainan pagi ini — saya merengkuh puncak kenikmatan begitu cepat. Jeritan saya mengiringi denyutan otot vagina yang meremas penis Hari. Dia menatap saya tajam seakan menikmati ekspresi kenikmatan dari wajah saya. Saya sedikit malu dibuatnya, tapi dia hanya tersenyum melihat saya orgasme.
Tanpa memberi istirahat, Hari membalik tubuh saya. Saya perhatikan dia memasangkan kondom yang bentuknya aneh, tapi tidak sempat saya perhatikan lebih lanjut karena dia sudah melesakkan penisnya kembali. Saya merasakan kenikmatan yang berbeda dari kondom itu — entah kondom macam apa yang dia pakai, tapi semakin nikmat saja rasanya. Kami melakukannya dengan posisi doggie — posisi favorit saya biasanya. Tapi dengan Hari saya membenci posisi ini karena tidak bisa melihat wajah tampannya. Sodokan Hari semakin keras mengaduk-aduk vagina saya; sungguh luar biasa pengaruh kondom itu, antara geli, nikmat, dan sedikit sakit — semua bercampur menjadi desah dan jeritan kenikmatan saya.
Semakin keras saya mendesah, semakin keras pula dia menyodok. Tidak lama kemudian saya pun mencapai puncak kenikmatan untuk kedua kalinya pagi itu. Jeritan kenikmatan saya tidak menghentikan kocokannya — justru gerakannya semakin cepat dan liar, sehingga dengan cepat saya pun naik kembali menuju puncak. Belum setengah jam kami bercinta tapi saya sudah orgasme dua kali, sementara tamu saya belum menunjukkan tanda-tanda orgasme. Saya malu untuk meminta istirahat, sehingga saya tahan kenikmatan demi kenikmatan — dan orgasme berikutnya menyusul tidak lama kemudian.
Melihat saya kewalahan, akhirnya dia memberi saya istirahat setelah hampir 45 menit.
"Ih, kamu kuat banget deh. Ampun aku," komentarku. Dia hanya tersenyum tanpa menjawab.
Saya telentang mengatur napas yang masih menderu. Sendi-sendi saya terasa ngilu.
"Kamu marah tidak kalau aku pakai tali?" tanyanya dengan ragu.
"Maksudnya?"
"Kamu kuikat di ranjang. Kalau kamu tidak keberatan sih, tapi kalau tidak mau ya tidak aku paksa," jawabnya memelas.
Hampir saja emosi saya naik — permintaannya aneh bagi saya. Tapi karena dia minta dengan memelas begitu, apalagi dia sudah memberiku kepuasan demi kepuasan, rasanya tak tega saya menolaknya. Toh tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Tanpa menjawab, saya langsung telentang dengan tangan dan kaki terbuka.
Wajahnya bersinar gembira. Segera dia mengambil traveling bag yang tadi dibawanya, mengeluarkan tali — atau lebih tepatnya kain yang dipilin menyerupai tali, mungkin supaya tidak melukai kulit — lalu dengan cekatan dia mengikat kedua tangan dan kedua kaki saya ke keempat kaki ranjang.
Bersambung...