18px

Terjerat Nafsu Nyonya Majikan

Terjerat Nafsu Nyonya Majikan

Tujuanku datang ke Jakarta sebenarnya untuk mengubah nasib. Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata kehidupan di kota besar justru lebih keras daripada di desa. Aku sempat terlunta-lunta, tanpa ada seorang pun yang mau peduli. Selembar ijazah SMP yang kubawa dari desa ternyata tidak ada artinya sama sekali di kota ini. Jangankan hanya ijazah SMP, lulusan sarjana saja masih banyak yang menganggur. Daripada jadi gelandangan, aku bekerja apa saja asalkan bisa mendapat uang untuk menyambung hidup. Sedangkan untuk kembali ke kampung, rasanya malu sekali karena gagal menaklukkan kota metropolitan yang selalu menjadi tumpuan orang-orang kampung sepertiku.

Seperti hari-hari biasanya, siang itu udara di Jakarta terasa begitu panas. Seharian ini aku kembali mencoba mencari pekerjaan. Tapi seperti yang selalu terjadi, tidak ada satu pun yang melirik, apalagi memperhatikan lamaran dan ijazahku. Keputusasaan mulai menghinggapi diriku. Entah sudah berapa kilometer aku berjalan kaki, sementara pakaianku sudah basah oleh keringat dan wajahku terasa tebal oleh debu. Aku berteduh di bawah pohon sambil menghilangkan pegal-pegal di kaki.

Setiap hari aku berjalan. Tidur pun di mana saja. Sementara bekal yang kubawa dari kampung semakin menipis. Tiga atau empat hari lagi aku pasti sudah tidak sanggup lagi bertahan, karena bekal yang kubawa juga tinggal cukup untuk makan beberapa hari, itupun hanya sekali sehari.

Di bawah kerindangan pepohonan, aku memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang dan orang-orang yang selalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada seorang pun yang peduli satu sama lain. Tiba-tiba pandangan mataku tertuju kepada seorang wanita yang tampak kesal karena mobilnya mogok. Dia ingin meminta bantuan, tapi orang-orang yang berlalu lalang tidak ada yang peduli. Entah kenapa aku jadi merasa kasihan, padahal aku sendiri perlu dikasihani. Aku bangkit berdiri dan melangkah menghampirinya.

"Mobilnya mogok, Nyonya?" tegurku dengan sikap ramah.

"Eh, iya. Nggak tahu ya kenapa, tiba-tiba saja mogok," sahutnya sambil memandangiku penuh curiga.

"Boleh saya lihat?" ujarku meminta izin.

"Silakan kalau bisa."

Waktu di kampung aku sering bantu-bantu paman yang buka bengkel motor. Kadang ada juga mobil yang minta diperbaiki. Tapi namanya di kampung, jarang orang yang punya motor, apalagi mobil. Makanya usaha paman tidak pernah bisa maju, hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

Seperti seorang ahli mesin, aku coba melihat-lihat dan memeriksa segala kemungkinan yang membuat mesin mobil ini tidak mau hidup. Dan entah mendapat pertolongan dari mana, aku menemukan juga penyakitnya. Setelah kuperbaiki, mobil itu akhirnya bisa hidup kembali. Tentu saja wanita pemilik mobil ini jadi senang, padahal semula dia sudah putus asa. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan uang lembaran dua puluh ribu, langsung disodorkan padaku. Tapi aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Kenapa? Kurang?" tanyanya.

"Tidak, Nyonya. Terima kasih," ucapku menolak halus.

"Kalau kurang, nanti saya tambah," katanya lagi.

"Terima kasih, Nyonya. Saya cuma menolong saja. Saya tidak mengharapkan imbalan," kataku tetap menolak. Padahal uang itu nilainya besar sekali bagiku.

Wanita yang kuperkirakan berusia sekitar tiga puluh delapan tahun itu memandangiku dengan kening berkerut. Seakan dia tidak percaya kalau di kota yang super sibuk, dengan orang-orangnya yang selalu mementingkan diri sendiri tanpa peduli lingkungan sekitar, ternyata masih ada orang yang dengan tulus mau menolong sesamanya.

"Maaf, kelihatannya kamu dari kampung?" ujarnya bernada bertanya ingin memastikan.

"Iya, Nyonya. Baru seminggu saya datang dari kampung," sahutku polos.

"Terus, tujuannya mau ke mana?" tanyanya lagi.

"Cari kerja," sahutku tetap polos.

"Punya ijazah apa?"

"Cuma SMP."

"Wah, sulit kalau cuma SMP. Sarjana saja banyak yang jadi pengangguran kok. Tapi kalau kamu benar-benar mau kerja, kamu bisa kerja di rumahku," katanya langsung menawarkan.

"Kerja apa, Nyonya?" tanyaku langsung semangat.

"Apa saja. Kebetulan aku perlu pembantu laki-laki, tapi aku perlu yang bisa setir mobil. Kamu bisa setir mobil? Kalau memang bisa, kebetulan sekali," sahutnya.

Sesaat aku jadi tertegun. Sungguh aku tidak menyangka bahwa ijazah yang kubawa dari kampung hanya bisa dipakai untuk jadi pembantu. Tapi aku memang membutuhkan pekerjaan saat ini. Daripada jadi gelandangan, tanpa berpikir panjang lagi aku langsung menerima pekerjaan yang ditawarkan wanita itu, dan detik itu juga aku ikut bersamanya ke rumahnya.

Ternyata rumahnya besar dan megah sekali. Bagian dalamnya pun terisi segala macam perabotan yang serba mewah dan lux. Aku sampai terkagum-kagum, seakan memasuki sebuah istana. Aku diberi sebuah kamar lengkap dengan tempat tidur, lemari pakaian, meja, dan satu kursi, letaknya bersebelahan dengan dapur. Ada empat kamar yang berjajar dan semuanya sudah terisi oleh pembantu yang bekerja di rumah ini. Bahkan tiga orang pembantu wanita menempati satu kamar. Aku hitung, semua yang bekerja di rumah ini ada tujuh orang. Kalau ditambah denganku, berarti delapan orang. Tapi memang pantas — mengurus rumah sebesar ini tidak mungkin bisa dikerjakan oleh satu orang.

Setelah beberapa hari bekerja di rumah ini aku sudah bisa mengetahui bahwa majikanku, Nyonya Wulandari, selalu sibuk dan jarang berada di rumah. Suaminya pun lebih sering berada di luar kota atau ke luar negeri. Sedangkan kedua anaknya sekarang sekolah di luar negeri. Aku jadi heran sendiri, entah bagaimana cara mereka mencari uang hingga bisa sekaya itu.

Tapi memang nasib, rezeki, maut, dan jodoh berada di tangan Tuhan. Dari jadi pembantu yang tugasnya membersihkan rumah dan merawat tanaman, aku diangkat jadi sopir pribadi Nyonya Majikan. Bukan hanya jadi sopir, tapi juga sekaligus jadi pengawalnya. Ke mana saja Nyonya Majikan pergi, aku selalu berada di sampingnya. Karena harus selalu mendampinginya, tentu saja Nyonya membelikan aku beberapa potong pakaian yang pantas. Terus terang, pada dasarnya memang aku tampan dan memiliki tubuh yang tegap, atletis, dan berotot. Maka Nyonya pun jadi kesengsem begitu melihat penampilanku, setelah tiga bulan lamanya aku bekerja jadi sopir dan pengawal pribadinya.

Aku bisa berkata begitu karena bukan cuma jadi sopir dan pengawal saja. Tapi juga jadi pendampingnya di ranjang dan menjadi penghangat tubuhnya, mengisi kegersangan dan kesunyian hatinya yang selalu ditinggal suami. Dan aku pun menempati kamar lain yang jauh lebih besar dan lebih bagus, tidak lagi menempati kamar khusus untuk pembantu.

Semua bisa terjadi ketika malam itu aku baru saja mengantar Nyonya pergi berbelanja. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku langsung dipanggil untuk menemuinya. Semula aku ragu dan hampir tidak percaya karena langsung disuruh masuk ke dalam kamarnya. Tapi memang Nyonya memintaku masuk ke dalam kamarnya yang besar dan mewah itu, lalu menyuruhku menutup pintu setelah aku berada di dalamnya.

Aku tertegun, apalagi saat melihat Nyonya Majikanku itu hanya mengenakan pakaian tidur yang sangat tipis sehingga setiap lekuk bentuk tubuhnya membayang begitu jelas. Dan di balik pakaiannya yang tipis itu, dia tidak mengenakan apa-apa lagi. Beberapa kali aku menelan ludah sendiri memandang keindahan tubuhnya. Sekujur tubuhku mendadak menggeletar seperti terserang demam ketika dia menghampiri dan langsung melingkarkan kedua tangannya ke leherku.

"Nyonya..."

"Malam ini kau tidur di sini bersamaku."

"Eh, oh...?!"

Belum lagi aku bisa mengeluarkan kata-kata lebih banyak, Nyonya Wulandari sudah menyumpal mulutku dengan pagutan bibirnya yang indah dan hangat menggairahkan. Tentu saja aku jadi gelagapan, kaget setengah mati. Dadaku berdebar menggemuruh tidak menentu. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam dada. Ragu-ragu aku memegang pinggangnya.

Nyonya Wulandari membawaku ke pembaringannya yang besar dan empuk. Dia melepaskan baju yang kukenakan sebelum menanggalkan penutup tubuhnya sendiri dan membiarkannya tergeletak di lantai.

Mataku seketika jadi nanar. Meskipun usia Nyonya Wulandari sudah hampir berkepala empat, tapi dia merawat kecantikan dan tubuhnya dengan baik sehingga tubuhnya tetap ramping, padat, dan berisi. Bagaimanapun aku lelaki normal. Aku tahu apa yang diinginkan Nyonya Wulandari. Apalagi aku tahu sudah dua minggu ini suaminya berada di luar negeri dan sudah barang tentu Nyonya Wulandari merasa kesepian.

"Oh, ah..."

Nyonya Wulandari mendesis dan menggeliat saat ujung lidahku yang basah dan hangat mulai bermain dan menggelitik bagian atas dadanya yang membusung dan agak kemerahan. Jari-jari tanganku pun tidak bisa diam, membelai dan meremas dadanya yang padat dan kenyal dengan penuh gairah. Bahkan jari-jariku mulai menelusuri setiap bagian tubuhnya yang membangkitkan selera. Aku melihat Nyonya Wulandari sudah tidak kuasa lagi menekan gairahnya. Sesekali dia merintih dengan suara tertahan sambil mendesak-desakkan tubuhnya, mengajakku untuk segera mendaki hingga ke puncak kenikmatan yang tertinggi. Tapi aku belum ingin membawanya terbang ke surga dunia itu. Aku ingin merasakan dan menikmati dulu keindahan tubuhnya dan kehalusan kulitnya yang putih bagai kapas.

"Aduh, oh. Ahh... cepetan dong, aku sudah nggak tahan nih..." desah Nyonya Wulandari dengan suara rintihannya yang tertahan.

Nyonya Wulandari menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih dan mulus. Tapi aku sudah tidak bisa lagi merasakan kehalusan kulit pahanya karena sudah basah oleh keringat. Nyonya majikanku itu benar-benar sudah tidak mampu lebih lama lagi bertahan. Dia memaksaku untuk cepat-cepat membawanya mendaki hingga ke puncak kenikmatan. Aku mengangkat tubuhku dengan bertumpu pada kedua tangan. Perlahan namun pasti aku mulai menekan pinggulku ke bawah. Saat itu kedua mata Nyonya Wulandari terpejam dan bibirnya yang selalu memerah dengan bentuk yang indah mengeluarkan suara desisan panjang saat merasakan bagian kebanggaan tubuhku yang kini sudah sangat keras dan berdenyut hangat mulai menyentuh dan menekan, mendobrak benteng pertahanannya yang terakhir. Akhirnya batang penisku menembus masuk sampai ke tempat yang paling dalam di vaginanya.

"Okh, aah...!"

Nyonya Wulandari melipat kedua kakinya di belakang pinggangku dan terus menekan pinggulku dengan kakinya hingga batang kebanggaanku melesak masuk dan terbenam ke dalam telaga hangat yang menjanjikan berjuta kenikmatan itu. Perlahan namun pasti aku mulai membuat gerakan-gerakan yang mengakibatkan Nyonya Wulandari mulai tersentak dalam pendakiannya menuju puncak.

Memang pada mulanya gerakan-gerakan tubuhku cukup lembut dan teratur. Namun tidak sampai hitungan menit, gerakan-gerakan tubuhku mulai liar dan tidak terkendali lagi. Beberapa kali Nyonya Wulandari memekik dan mengejangkan tubuhnya. Dia menggigiti dada serta bahuku. Bahkan jari-jari kukunya yang tajam dan runcing mulai mengoyak kulit punggungku. Terasa perih, tapi juga sangat nikmat. Nyonya Wulandari bahkan menjilati tetesan darah yang keluar dari luka di bahu dan dadaku akibat gigitan giginya yang cukup kuat.

Dan dia jadi semakin liar, hingga pada akhirnya wanita itu memekik cukup keras dengan sekujur tubuh mengejang saat mencapai puncak kenikmatan tertinggi. Pada saat yang hampir bersamaan, sekujur tubuhku juga menegang dan dari bibirku keluar suara rintihan kecil. Hanya beberapa detik kemudian aku sudah menggelimpang ke samping sambil menghembuskan napas panjang. Nyonya Wulandari langsung memeluk dan merebahkan kepalanya di dadaku yang basah berkeringat. Aku memeluk punggungnya yang terbuka, merasakan kehalusan kulitnya yang basah berkeringat. Nyonya Wulandari menarik selimut, menutupi tubuh kami berdua. Aku sempat memberikan sebuah kecupan kecil di bibirnya sebelum memejamkan mata, membayangkan semua yang baru saja terjadi hingga terbawa ke dalam mimpi yang indah.

Sejak malam itu aku kerap kali dipanggil ke dalam kamarnya. Dan kalau sudah begitu, menjelang pagi aku baru keluar dari sana dengan tubuh yang letih. Semula aku memang merasa beruntung bisa menikmati keindahan dan kehangatan tubuh Nyonya Majikanku. Tapi lama-kelamaan aku mulai dihinggapi perasaan takut. Betapa tidak, ternyata Nyonya Wulandari tidak pernah puas kalau hanya satu atau dua kali bertempur dalam semalam. Aku baru menyadari bahwa Nyonya Majikanku itu seorang maniak yang tidak pernah puas dalam bercinta di atas ranjang.

Bukan hanya malam saja. Pagi, siang, sore, dan kapan saja kalau dia menginginkan, aku tidak boleh menolak. Tidak hanya di rumah, tapi juga di hotel atau tempat-tempat lain yang memungkinkan. Aku sudah mulai kewalahan menghadapinya. Tapi Nyonya Wulandari selalu memberiku obat perangsang kalau aku sudah mulai tidak mampu lagi melayani keinginannya yang selalu berkobar-kobar itu. Aku tetap jadi sopir dan pengawal pribadinya, tapi juga jadi kekasihnya di atas ranjang.

Mungkin karena aku sudah mulai loyo, Nyonya Wulandari membawaku ke sebuah pusat kebugaran — orang-orang menyebutnya fitness centre. Di sana aku dilatih dengan berbagai macam alat agar tubuhku tetap segar, kekar, dan berotot. Dua kali dalam seminggu aku selalu datang ke tempat itu. Memang tidak kecil biayanya, tapi aku tidak pernah memikirkannya karena semua ditanggung Nyonya Wulandari. Menu makanankupun tidak sama dengan pembantu yang lainnya — Nyonya Wulandari sudah memerintahkan juru masaknya agar memberiku menu bergizi, bahkan dia sendiri yang membuat daftar makanan khusus untukku.

Terus terang, aku merasa tidak enak karena diperlakukan istimewa. Tapi tampaknya semua pembantu di rumah ini sudah tidak asing lagi dengan keadaan itu. Bahkan dari Bi Minah yang tugasnya memasak, aku baru tahu bahwa bukan hanya aku yang sudah menjadi korban kebuasan nafsu seks Nyonya Wulandari. Sudah beberapa pemuda seusiaku yang jadi korban, dan mereka rata-rata melarikan diri karena tidak tahan dengan perlakuannya.

Aku memang sudah tidak bisa lagi menikmati permainan di atas ranjang itu. Apalagi Nyonya Wulandari sudah mulai menggunakan cara-cara yang mengerikan untuk memuaskan hasrat biologisnya yang liar. Aku pernah diikat, dicambuk, dan didera hingga kulit tubuhku terkoyak. Tapi Nyonya Wulandari malah mendapat kepuasan dari situ. Wanita ini benar-benar seorang maniak. Dan aku semakin tidak tahan dengan perlakuannya yang semakin liar dan brutal. Meskipun kondisi tubuhku dijaga dan menu makanku terjamin gizinya, batinku semakin tersiksa. Beberapa orang pembantu sudah menyarankan agar aku pergi saja dari rumah ini. Rumah yang besar dan megah penuh kemewahan ini ternyata hanya sebuah neraka bagiku.

Aku memang ingin lari, tapi belum punya kesempatan. Namun rupanya Tuhan mengabulkan keinginanku itu. Malam itu suami Nyonya Wulandari tiba-tiba datang. Aku sendiri yang menjemputnya di bandara, bersama Nyonya Wulandari. Dalam perjalanan aku tahu bahwa suami Nyonya Majikanku itu hanya singgah semalam — besok pagi dia sudah harus kembali ke Tokyo. Dari kaca spion aku melihat tidak ada gurat kekecewaan di wajah Nyonya Wulandari, padahal sudah hampir sebulan suaminya pergi dan kini pulang hanya semalam saja. Nyonya Wulandari malah tersenyum dan mencium pipi suaminya yang kendur dan berkeriput.

Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku bergegas ke kamar. Inilah kesempatanku untuk kabur dari rumah neraka ini karena Nyonya Wulandari sedang sibuk dengan suaminya. Aku langsung mengemasi pakaian dan apa saja milikku yang bisa termuat ke dalam tas ransel. Saat melihat buku tabungan, aku tersenyum sendiri. Sejak bekerja di rumah ini dan menjadi pemuas nafsu Nyonya Majikan, tabunganku di bank sudah lumayan banyak juga, karena Nyonya Wulandari memang tidak segan-segan memberiku uang dalam jumlah yang tidak sedikit dan tidak sepeserpun uang itu aku gunakan — semuanya aku simpan di bank. Aku masukkan buku tabungan itu ke dalam tas ransel di antara tumpukan pakaian. Tidak ada yang tahu kalau aku punya cukup banyak simpanan di bank, bahkan Nyonya Wulandari sendiri tidak tahu. Karena rencananya memang mau kabur, aku tidak perlu berpamitan. Aku keluar lewat jendela.

Malam itu aku berhasil melarikan diri dari rumah Nyonya Wulandari. Terbebas dari siksaan batin akibat terus-menerus dipaksa dan didera untuk memuaskan nafsu birahinya yang liar dan brutal. Tapi ketika aku lewat di depan garasi, ayunan langkah kakiku terhenti. Kulihat Bi Minah ada di sana, seperti sengaja menunggu. Dadaku jadi berdebar kencang. Aku melangkah menghampirinya. Wanita bertubuh gemuk itu mengembangkan senyumnya.

"Jangan datang lagi ke sini. Cepat pergi, nanti Nyonya keburu tahu..." kata Bi Minah sambil menepuk pundakku.

"Terima kasih, Bi," ucapku.

Bi Minah kembali tersenyum. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku bergegas meninggalkan rumah itu. Aku langsung mencegat taksi yang kebetulan lewat dan meminta untuk membawaku ke sebuah hotel.

Untuk pertama kalinya, malam itu aku bisa tidur nyenyak di dalam kamar hotel. Dan keesokan harinya, setelah mengambil semua uangku yang ada di bank, aku langsung ke stasiun kereta. Aku sudah bertekad untuk kembali ke desa dan tidak ingin datang lagi ke Jakarta.

Dari hasil tabunganku selama bekerja dan menjadi pemuas nafsu Nyonya Wulandari, aku bisa membuka usaha di desa. Bahkan kini aku sudah punya istri yang cantik dan seorang anak yang lucu. Aku selalu berharap, apa yang terjadi pada diriku jangan sampai terjadi pada orang lain. Kemewahan memang tidak selamanya bisa dinikmati — justru kemewahan bisa menghancurkan diri jika tidak mampu mengendalikannya.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya