18px

Tidak Mau tapi Menikmatinya

Tidak Mau tapi Menikmatinya

Pertemanan adalah suatu hal yang sangat penting dalam hidup seseorang—tempat kita bisa saling berbagi dan saling menolong dalam kesulitan. Tapi arti pertemanan tidaklah seindah yang sering dibicarakan orang, setidaknya bagi Helena—sebut saja demikian namanya.

Kisah nyata ini dipaparkan oleh responden yang bersangkutan, dilengkapi dengan foto diri dan foto lainnya sebagai bukti penguat. Tapi karena etika yang harus dipegang teguh, data-data pendukung tersebut tidak akan pernah diekspose kepada siapapun. Menurut pengakuan Helena, kejadian berikut ini terjadi beberapa bulan yang lalu ketika liburan sekolah anaknya tiba.


Sebagai keluarga dari kalangan atas, menghabiskan waktu liburan berbintang lima di Nusa Dua Bali bukanlah masalah bagi keluarga Helena. Selama beberapa hari Helena menghabiskan waktu liburan bersama suami dan dua orang anaknya di sana. Setelah beberapa hari, suami Helena mengajaknya ke Lombok. Tapi dengan alasan bosan dengan tempat itu—juga karena perjalanan dengan kapal feri yang cukup memakan waktu—Helena menolak ajakan suaminya.

Akhirnya suami dan kedua anaknya berangkat ke Lombok tanpa Helena. Helena, 30 tahun, walau sudah punya dua anak, penampilan dan gayanya mirip gadis kota masa kini. Wajah sangat cantik, berkulit putih, dan tubuh sintal selalu membuat lelaki manapun tertarik. Salah satu nilai lebih dari rumah tangga Helena adalah kebebasan yang diberikan suaminya untuk bergaul atau jalan dengan siapa saja, asal Helena selalu jujur kepadanya. Hal ini terjadi karena sang suami sangat tahu akan libido Helena yang sangat tinggi hingga agak kewalahan melayani kebutuhan seksualnya. Dan nilai lebih dari Helena adalah kejujurannya kepada suami bila dia jalan dan main dengan pria lain.

Pagi itu di restoran hotel, ketika Helena sedang makan pagi...

"Hei...!" terdengar suara diiringi tepukan tangan di pundak Helena.

"Hei, Ani... Abiem... Pak Randi..." sahut Helena senang ketika melihat mereka bertiga.

"Mana suamimu?" tanya Ani.

"Sedang ke Lombok dengan anak-anak," jawab Helena.

"Duduklah di sini, temani aku makan..." kata Helena.

Mereka pun segera duduk dan makan pagi bersama satu meja. Ani dan Abiem adalah teman bisnis suami Helena di Jakarta, sedangkan Randi adalah seorang dokter, duda, yang menjadi dokter keluarga Helena. Randi dikenalkan kepada keluarga Helena oleh Ani dan Abiem.

"Nanti malam kita turun yuk? Kita habiskan malam bersama di diskotik," ajak Abiem kepada Helena.

"Entahlah..." kata Helena.

"Loh, kenapa? Ayolah, Bu Helena, kita sekali-sekali bergembira bersama," kata Randi ikut menyela sambil tersenyum menatap Helena.

"Ikutlah, Helena... Masa cuma aku seorang ceweknya..." kata Ani.

"Baiklah kalau begitu... Aku ikut," kata Helena sambil tersenyum.

"Kamu tinggal di kamar berapa?" tanya Abiem kepada Helena.

"Aku di suite room..." kata Helena sambil menyebutkan nomor kamarnya.

"Ha? Kalau begitu kita bersebelahan dong," kata Ani sambil menyebutkan nomor kamar mereka.

"Yee... Kok aku tidak tahu, ya? Kapan kalian check-in?" tanya Helena.

"Semalam. Tadinya kami mau tinggal di kamar lain, tapi karena sudah penuh, akhirnya kami ditunjukkan kamar yang masih kosong..." kata Abiem.

"Tahu nggak kalau kamar kita terhubung oleh connecting door, Ni?" kata Helena kepada Ani.

"Iya? Berarti kita bisa kumpul-kumpul nih..." kata Ani girang.

"Oke deh, Helena... Nanti malam kita pergi bareng ke diskotik, ya?" ujar Abiem.

"Aku bawa minuman enak dari Prancis nanti..." kata Abiem lagi.

"Baiklah. Kalian mau ke mana?" tanya Helena.

"Kami ada keperluan dulu. Bye..." kata Ani sambil bangkit diikuti Abiem dan Randi, lalu mereka pergi.

Malamnya, dengan memakai T-shirt ketat plus rok katun sangat mini sehingga paha mulusnya tampak indah, Helena berangkat bersama mereka ke diskotik.

"Kita minum dulu biar hangat," kata Abiem sambil menuang minuman bawaannya ke dalam gelas dan menyodorkannya kepada Helena.

"Okay... Siapa takut..." kata Helena sambil meneguk minumannya.

"Hm... Enak... Manis... Give me more, please," kata Helena kepada Abiem. Abiem pun segera menuang lagi minuman ke gelas Helena yang sudah kosong.

"Jangan terlalu banyak, Helena... Nanti kamu jadi hot, loh..." kata Ani sambil tertawa. Mereka tertawa-tawa sambil menikmati minuman berakohol diiringi lagu yang diputar DJ.

"Turun, yuk..." ajak Randi kepada Helena.

"Ayo..." kata Helena sambil bangkit.

Perasaannya sudah mulai terpengaruh alkohol. Akhirnya Ani dan Abiem serta Helena dan Randi melantai mengikuti hentakan irama yang cepat. Sampai akhirnya ketika lagu berganti ke irama slow, Helena dan Randi saling berangkulan dan berdansa mengikuti alunan irama lagu.

"Mmhh..." Helena mendesah hampir tak terdengar ketika dadanya bersentuhan dengan dada Randi.

Entah karena pengaruh alkohol atau memang karena libido Helena yang tinggi, puting susunya mengeras dan makin mengeras ketika dadanya bersentuhan dengan badan Randi. Gairah Helena bangkit karenanya. Tapi Helena masih bisa menahan diri. Mereka terus menikmati waktu yang ada sambil meneguk minuman hingga wajah mereka memerah. Helena benar-benar menikmati malam itu selagi bisa bebas dari beban pekerjaan dan anak-anaknya. Sampai ketika waktu menunjukkan jam 01.00 pagi mereka segera pulang ke hotel.

"Kita ngobrol di kamar saja, yuk?" kata Abiem.

"Okay... Nanti aku buka connecting door-nya," kata Helena sambil berlalu menuju kamarnya.

Sementara Ani, Abiem, dan Randi masih duduk-duduk di lobi. Sesampai di kamar, Helena segera membuka connecting door-nya, lalu mengetuk pintu sebelahnya. Tidak ada jawaban.

"Ah, masih pada di bawah barangkali..." pikir Helena sambil merebahkan badannya di ranjang.

Hampir setengah jam menunggu, ternyata mereka tidak datang juga. Akhirnya Helena memutuskan untuk berendam air hangat dan mandi selama beberapa menit.

"Hei... Sorry kami kelamaan..." suara Ani yang tiba-tiba masuk ke kamar mandi mengagetkan Helena yang baru saja memakai kimono.

"Abiem dan Randi di ruang tengah..." kata Ani lagi sambil agak sempoyongan.

"Kamar kamu enak juga ada ruang tamunya... Kita bisa ngobrol di sini..." kata Ani lagi.

"Shit!! Ngapain kumpul di kamar aku?" bisik hati Helena.

"Hei perempuan! Cepatlah kemari... Kita habiskan sisa minuman tadi," terdengar suara Abiem memanggil. Akhirnya mereka berempat kembali meneguk bergelas-gelas alkohol bawaan Abiem.

"Ohh... Gawat! Kenapa aku jadi pengen..." hati Helena berbisik ketika pengaruh alkohol mulai menjalar di tubuhnya.

Terasa oleh Helena buah dada serta puting susunya mulai mengeras lagi, sementara memeknya terasa berdenyut basah menahan gairah.

"Aku akan hirup udara segar dulu..." kata Helena sambil bangkit agak terhuyung menuju teras. Dihirupnya udara malam dalam-dalam untuk mengurangi sesuatu di dalam tubuhnya yang mulai menggoda imannya.

"Ohh..." tiba-tiba terdengar suara Abiem mendesah keras dari dalam. Helena segera mengintip untuk melihat apa yang terjadi.

"Oh my God!" batin Helena ketika melihat apa yang terjadi. Gairah dan denyutan memeknya semakin terasa menggoda.

Di depan matanya, Helena melihat bagaimana Ani berciuman dengan suaminya di kursi sambil tangannya mengocok kontol Abiem yang sudah tegak. Celana Abiem hanya dibuka dan dipelorotkan sebatas pahanya saja.

"Ohh... Cepat hisap kontol aku, bitch!" kata Abiem kepada Ani. Dengan serta merta Ani menurunkan kepalanya, lalu kontol Abiem sudah dilahapnya sambil tetap dikocok pelan.

"Ooh..." desah Abiem ketika lidah Ani menjilati kepala kontolnya sambil batangnya tetap dikocok tangan Ani.

"Apa yang harus aku lakukan?" batin Helena ketika melihat kontol Abiem yang basah dijilat dan dihisap mulut Ani.

Gairahnya semakin memuncak. Dengan mata agak nanar terus dilihatnya Ani dan Abiem. Antara sadar dan tidak, tak terasa ketika Randi menempelkan tubuhnya dari belakang. Tangan Randi menyusuri kaki Helena dari betis sampai paha, lalu naik ke pantatnya yang belum sempat dipakaikan pakaian dalam sejak selesai mandi tadi.

"Hei! Pak Randi ngapain?!" kata Helena kaget sambil menepis tangan Randi dari pantatnya.

"Kita sama-sama tahu, sama-sama mau kan..." kata Randi sambil mendekati Helena.

Helena segera menghindar dan berlari menuju kamarnya melewati Ani dan Abiem yang sedang asyik melakukan oral seks. Ani dan Abiem sampai kaget dan menghentikan cumbuan mereka ketika melihat Helena melintas. Di dalam kamarnya Helena masih bingung dan teringat akan oral seks Ani dan Abiem serta perlakuan Randi kepadanya. Sebetulnya gairah Helena sudah sangat memuncak saat itu, tapi entah kenapa masih ada rasa ragu di hatinya.

"Ada apa, Helena?" tiba-tiba Ani masuk kamar dan menghampiri Helena yang masih berdiri.

"Entahlah, An... Aku... Aku tidak tahu..." kata Helena sambil melepas kimono lalu segera memakai celana dalamnya.

Tapi ketika Helena akan memakai bra, tiba-tiba Ani memeluknya dari belakang hingga Helena tidak jadi memakainya.

"Ayolah, Helena, kita nikmati malam ini..." bisik Ani ke telinga Helena.

"Mmhh..." desah Helena ketika tangan Ani mengusap seluruh badannya. Usapan dan belaian tangan Ani kembali mengobarkan gairah Helena yang sempat surut.

"Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini?" bisik Ani lagi sambil tangannya meremas kedua buah dada Helena dari belakang.

"Ohh..." desah Helena sambil terpejam menikmati sensasi jari tangan Ani ketika memainkan dan memelintir puting susunya.

"Mmhh... Ohh..." desah Helena makin keras ketika lidah dan bibir Ani menyusuri telinga, tengkuk, dan lehernya, sementara tangannya tetap meremas dan memainkan puting susu Helena.

"Nikmati saja malam ini..." bisik Ani sambil membalikkan badan Helena dan merebahkannya di ranjang.

"Oww..." jerit lirih Helena ketika lidah dan bibir Ani menciumi dan menjilati buah dada serta puting susunya.

"Aniihh... Oohhsshh..." jerit Helena makin keras ketika jari Ani masuk ke celana dalam dan menggosok memeknya.

Tubuh Helena menggeliat terbawa rasa nikmat dan terlepasnya himpitan gairah yang tertahan sebelumnya.

"Kamu menyukai ini?" bisik Ani sambil lidah dan mulutnya turun menyusuri perut, sementara tangannya melepas celana dalam yang dipakai Helena.

"Ohh... Anniihh..." jerit Helena ketika ada rasa nikmat yang menjalar ketika lidah Ani dengan liar menyusuri belahan memeknya.

"Ohh, Ani... Enakkhh..." desah Helena waktu lidah Ani menjilati kelentit dan sesekali mengulumnya.

"Anniihh... Akku... Keluarrhh...!" jerit Helena sambil menggelinjang dan mendesakkan kepala Ani ke memeknya ketika ada semburan hangat disertai rasa nikmat yang luar biasa.

Ani tersenyum sambil bangkit lalu memeluk dan melumat bibir Helena.

"Aku baru kali ini merasakan bercumbu dengan wanita... Ternyata memuaskan..." bisik Helena sambil sesekali mengecup bibir Ani. Ketika Helena dan Ani saling lumat bibir, terasa oleh Helena ada tangan yang menjamah, membelai, dan meremas pelan buah dadanya.

"Sayang, kamu layani si Randi..." Abiem menyuruh dan menarik tubuh Ani dari atas tubuh Helena.

"Kamu menyukai permainan istriku, Helena?" kata Abiem yang sudah telanjang bulat sambil menindih tubuh Helena serta mulai menciumi leher lalu turun ke buah dadanya.

"Jangaann!!" teriak Helena sambil meronta menjauhkan wajah Abiem dari buah dadanya. Tapi Abiem dengan cepat memegang kedua tangan Helena, lalu lidah dan mulutnya kembali meneruskan menjilati buah dada dan puting susu Helena.

"Ohh... Jangaannhh... Janghh... Jangannhh..." rintih Helena di antara rasa malu, rasa terhina, serta rasa nikmat ketika lidah Abiem bisa memberikan semua itu. Apalagi ketika kontol Abiem yang tegang mengesek-gesek memeknya yang sudah basah. Bahkan ketika lidah Abiem turun ke perut, turun lagi hingga mencapai memeknya, Helena kembali menggelepar dalam kenikmatan walau hatinya menolak diperlakukan demikian.

"Jangannhh, Biem...!" jerit lirih Helena ketika Abiem mulai mengarahkan kontolnya ke lubang memeknya. Ani—yang sedang asyik disetubuhi Randi—sempat menghentikan persetubuhannya lalu bangkit dan mencoba memegang kontol Abiem agar tidak menyetubuhi Helena.

"Sudah! Kamu nikmati saja kontol si Randi sana!" kata Abiem agak keras sambil mendorong tubuh Ani.

"Sudahlah, Ani... Sini!" kata Randi sambil menarik dan merebahkan tubuh Ani di karpet lalu kembali menyetubuhi istri temannya itu.

"Ohh...!" terdengar desah Helena ketika kontol Abiem masuk ke memeknya, lalu dengan kasar dan cepat Abiem menggenjotnya.

"Jangan, Biemm... Lepaskan aku!" jerit lirih Helena di sela rasa sakit dan nikmat ketika kontol Abiem keluar-masuk memeknya.

"Fuck you, bitch!" kata Abiem sambil mengangkat satu kaki Helena dan ditahan oleh pundaknya.

"Ohh... Memekmu nikmat, Helena..." kata Abiem sambil memompa kontolnya lebih dalam dengan posisi demikian.

"Ohh... Mmhh..." desah Helena sambil terpejam. Rasa sakit yang ada kini berganti rasa nikmat yang luar biasa.

"Bagaimana rasanya, sayang..." terdengar suara Ani di samping Helena ketika Ani mengganti posisi dengan doggy style di atas ranjang.

"Kamu nikmati saja malam ini, Helena... Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini..." Randi menyela sambil mengenjot memek Ani dalam posisi menungging.

"Mmhh... Sshh... Ohh..." Helena hanya menjawab dengan desahan pertanda sedang menikmati kenikmatan ketika Abiem dengan ganas mengeluarmasukkan kontolnya ke memeknya.

"Ooww... Ohh...!" terdengar suara Helena menjerit sambil memegang tangan Abiem dengan kencang, sementara tubuhnya menggeliat serta mendesakkan memeknya ke kontol Abiem dan menggoyangnya dengan cepat.

"Serr! Serr! Serr!" memek Helena kembali mengeluarkan air kenikmatan yang menyembur hangat.

"Ohh... Fuck you! Fuck you!" kata Abiem sambil menggenjot kontolnya makin cepat dan makin cepat.

"Crott! Croott! Crott!" Air mani Abiem menyembur banyak di dalam memek Helena.

"Oohh...!!" desah Abiem sambil merebahkan tubuhnya menindih tubuh Helena.

Helena hanya bisa memejamkan mata setelahnya. Rasa lelah serta pengaruh alkohol yang masih ada membuatnya tak mempedulikan lagi keadaan di sekelilingnya. Yang sempat terdengar oleh telinganya adalah teriakan kenikmatan yang keluar dari mulut Ani dan Randi yang sedang asyik bersetubuh di depan suami Ani sendiri. Mata Helena sedikit demi sedikit makin berat. Hanya rasa nyaman dan sisa-sisa kenikmatan di memeknya yang berdenyut-denyut yang menemaninya hingga Helena tertidur.

Helena tertidur sampai siang hari dalam keadaan telanjang bulat, tubuhnya terselimuti bed cover. Tak terdengar olehnya ketukan pintu dari cleaning service. Sehingga ketika petugas membuka pintu dengan kunci cadangan, dia begitu terkejut melihat tubuh molek tergolek di ranjang.

"Eh... Maaf, Bu... Saya kira tidak ada siapa-siapa di dalam," kata petugas kebersihan tersebut.

"Tidak apa-apa... Kembali lagi saja dan bereskan kamar saya nanti agak siang..." kata Helena sambil menyelimuti tubuhnya lebih rapat.

Setelah petugas itu keluar, Helena hanya bisa merenungi apa yang terjadi semalam. Helena sendiri merasa heran—dirinya tidak mau dipaksa, diperkosa, entah apapun namanya, tapi yang jelas dirinya begitu menikmati perlakuan orang lain yang begitu kasar padanya pada akhirnya.

Helena memang sangat suka berpetualang seks dari sebelum menikah sampai sekarang, tapi belum pernah merasakan sensasi kenikmatan seperti yang dirasakan semalam. Ingin rasa hati Helena menceritakan hal ini kepada suaminya, tapi pertentangan batin terjadi dalam hatinya karena hal ini menyangkut teman-teman baik suaminya. Bahkan terbersit keinginan Helena untuk kembali mendapatkan sensasi kenikmatan dengan menjadi objek pemaksaan seksual.

E N D

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya