Bab 1
Vagina Ci Donna
Disaat ini aku terkenang lagi dengan cerita dan kisah seks yang sulit โ bahkan teramat sulit โ untuk kulupakan. Kehidupanku memang selalu dikelilingi oleh nafsu. Mungkin ini yang dinamakan sudah kodrat, karena hidupku senantiasa berlabuh dari satu wanita ke wanita lain, dari satu vagina ke vagina lain, kerjanya hanya mengumbar nafsu birahi yang bersarang dan berakar di alam khayal serta sadarku. Nah, kali ini pun aku coba kisahkan tentang perjalanan kisah seks yang kali ini kuambil dengan judul: Vagina Ci Donna.
Ratna, yang saat ini sedang menempuh kuliah di salah satu universitas swasta di kota Banjarmasin, tinggal bersama Ci Donna yang menyewakan salah satu dari dua kamarnya yang kosong kepadanya. Penampilan Ci Donna berbeda sekali dengan Ratna. Di usianya yang hampir dua puluh sembilan, Ci Donna boleh dibilang sangat pandai merawat tubuhnya โ kulit putih halus dengan ukuran payudara sedang. Parasnya cantik, rambutnya panjang bergelombang.
Rupanya Ci Donna yang sudah lama tidak merasakan belaian pria menyimpan โ lebih tepatnya menimbun โ libido yang secara perlahan telah menggerogoti moralnya, walaupun belum sampai mengenai akal sehatnya. Selama ditinggalkan kekasihnya sejak tujuh tahun yang lalu, ia sering merasa kesepian. Tak jarang ia berusaha memuaskan dirinya sendiri dengan berbagai peralatan dan VCD yang disewanya melalui pembantunya, karena ia sendiri sebenarnya malu kalau harus terang-terangan membeli atau menyewa benda-benda seperti itu. Demikian pula untuk bermain dengan pria yang tidak dikenal โ Ci Donna menganggap mereka tidak bersih sehingga ia takut berhubungan badan dengan mereka. Namun demikian, ini tidak mengurangi fantasinya dalam membayangkan bentuk seks yang diinginkannya. Bahkan sejak dua tahun yang lalu ia juga mulai tertarik untuk melakukan hubungan seks dengan sesamanya. Ini dapat dilihat dari reaksinya terhadap Ratna sehari-hari; tak jarang ia menelan air liur dan menjilati kedua bibirnya apabila melihat Ratna mengenakan kaos ketat saat ke kampus. Padahal bentuk tubuh Ratna begitu biasa, apalagi apabila dibandingkan dengan dirinya sendiri yang jauh lebih seksi.
Apa yang dilihatnya pada diri Ratna adalah dirinya sendiri sepuluh tahun silam ketika ia masih berada di awal-awal usia dua puluhan โ alim dan rajin, namun begitu naif. Ci Donna sendiri bertekad untuk memberinya pelajaran suatu saat. Namun sesudah agak lama tinggal bersama Ratna, barulah Ci Donna mengetahui bahwa Ratna sudah tidak perawan lagi โ ketika ia masih SMP dulu, pacarnya sendiri memperkosanya, dan sejak saat itu Ratna begitu minder dan seringkali menghindari pergaulan sekitarnya. Ci Donna mengetahui hal ini dari Ratna sendiri, yang memandang Ci Donna sebagai wanita yang sabar, bijaksana, dan dewasa.
Pucuk dicinta ulam tiba. Seminggu yang lalu adik Ci Donna yang laki-laki tiba dan hendak menginap selama satu bulan karena suatu urusan. Sekali tepuk sepuluh lalat โ inilah yang ada dalam pikiran Ci Donna melihat adiknya sendiri dan Ratna.
Suatu sore, empat hari setelah kedatangan adiknya, Ci Donna sudah mempersiapkan rencana yang baik: pertama adiknya, kemudian Ratna. Biasanya Ratna tiba di kos pukul 19.50, dan ia hendak memulai rencananya pukul 18.41 dengan melakukan pemanasan terhadap adiknya. Pukul 18.30, Donna memanggil adiknya untuk masuk ke kamarnya. Tanpa berprasangka apa pun, adiknya masuk. Dilihatnya Ci Donna yang mengenakan celana pendek jins ketat dan kaos tanpa lengan yang ketat pula, sedang menghadap cermin sambil mengikat rambutnya yang bergelombang halus. Melihat bayangan adiknya di cermin, Ci Donna tersenyum dan berkata, "Masuk saja, Cici cuma sebentar kok."
Diam-diam adiknya memperhatikan kakaknya dan berpikir, Cantik juga, walaupun sudah kepala tiga. Badannya juga begitu padat dan seksi. Ci Donna yang mengerti dirinya sedang diperhatikan hanya tersenyum simpul. Tiba-tiba ia berdiri, mendekati adiknya, dan menggandeng tangannya. Adiknya kaget sekali, namun tidak berkata apa-apa. Ci Donna membimbing adiknya menuju sebuah pintu, sambil sesekali melirik ke belakang dan tersenyum simpul ke arahnya.
Ci Donna membuka pintu kamar tersebut dan menyalakan lampunya. Ternyata apa yang dilihat adiknya adalah sesuatu yang menakjubkan, namun juga membuatnya sedikit terkejut: sebuah kamar yang cukup luas dengan seluruh dinding ditutupi bahan kedap suara berwarna merah muda. Di tengah ruangan terdapat ranjang, sebuah TV lengkap dengan stereo set yang mewah, juga dua TV hitam-putih kecil yang menampilkan situasi di ruang tamu, kamar Ratna, dan kamarnya sendiri. Namun yang membuatnya begitu kaget dan sedikit takut adalah koleksi VCD, video, dan DVD porno yang berserakan di lantai, berbagai alat bantu seksual, dan sebuah manekin lengkap dengan penis palsunya. Tahulah ia apa yang diinginkan kakaknya.
Tanpa disadarinya, Ci Donna sudah mengunci pintu kamar dan mulai melepaskan pakaiannya satu persatu โ namun berhenti sampai pakaian dalam saja. Jadilah Ci Donna hanya mengenakan bra dan celana dalam warna hitam, berdiri begitu seksi dan menggoda dengan rambutnya terikat untuk memudahkan permainan nanti.
"Sudahlah, kamu menurut saja. Toh kamu di sini hanya sebulan. Masa kamu tidak kasihan sama Cici yang sudah lama tidak merasakan hangatnya tubuh pria?"
Adiknya masih ragu. Ci Donna tahu ini dan tanpa membuang banyak waktu, ia segera maju, membuka celana pendek adiknya dengan mudah. Entah bagaimana, adiknya tidak mampu melawan. Mulailah ia mengoral batang kemaluan adiknya. Ci Donna mempercepat gerakan mengocoknya dengan tangan kanan sambil menengadah menatap wajah adiknya dengan tatapan tajam penuh birahi. Ia mendesis, "Sss... awas kalau kamu berani keluar sebelum aku. Lebih baik kamu cari kos lain saja, meskipun kamu adikku."
Sesudah berkata demikian, Ci Donna memasukkan seluruh batang kemaluan adiknya ke dalam mulutnya. Ia menggerakkan kepalanya maju mundur, membuat batang kemaluan adiknya keluar masuk dengan sangat cepat. Adik Ci Donna hanya dapat mengerang nikmat mendapat perlakuan seperti itu dari kakaknya yang ternyata sangat berpengalaman dalam hal memuaskan pasangan mainnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan kakaknya.
Di tengah-tengah permainan, Ci Donna melepaskan branya dengan tangan kirinya yang masih bebas. Diliriknya TV hitam-putih yang secara rahasia memonitor kamar Ratna. Ternyata Ratna baru saja datang dan waktu menunjukkan pukul 18.55. Tepatlah perhitungannya โ adiknya yang nafsunya sedang menanjak pasti akan mau diajaknya bekerja sama.
Ci Donna menghentikan oralnya. Tahulah ia bahwa adiknya agak kecewa.
"Tunggu sebentar. Aku ada tugas buat kamu โ bawa Ratna ke kamar ini."
Adiknya mengerti apa yang diinginkan Ci Donna. Sementara adiknya pergi memanggil Ratna, ia segera mematikan monitornya, melepas celana dalamnya yang sedikit basah, dan bersembunyi di sebelah pintu. Begitu adiknya masuk bersama Ratna, ia segera mengunci kamar lagi dan mendorong Ratna hingga jatuh ke ranjang. Ratna yang bertubuh kurus dan lelah sehabis kuliah tidak dapat memberikan perlawanan berarti. Ci Donna melucuti kaos ketat yang dikenakan Ratna dengan buas.
"Kyaaa!" Ratna menjerit, namun percuma karena ruangan tersebut kedap suara. Adik Ci Donna hanya diam karena terkejut melihat keganasan kakaknya, apalagi terhadap sesama jenis. Ci Donna telah sampai pada bra Ratna. Dengan kasar ia merenggut bra Ratna dan melemparkannya ke lantai.
"Seharusnya kamu tidak usah pakai bra sama sekali. Toh tidak memberi perbedaan yang berarti."
Ci Donna melanjutkan dengan melepas kancing celana jins Ratna, membuka ritsluitingnya, dan melepaskannya.
"Pahamu putih dan mulus juga ya."
Terakhir, Ci Donna menurunkan celana dalam Ratna. Ratna tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Ci Donna yang terus menggerayangi tubuhnya sambil sesekali menciumnya.
Tiba-tiba Ci Donna berdiri dan berjalan menuju lemari. Diambilnya sebuah dildo dan semacam losion. Ia mengolesi dildonya dengan losion tersebut dan memberikannya kepada adiknya.
"Kamu pakai juga. Aku tidak mau dia berteriak-teriak kesakitan."
Adik Ci Donna menurut. Ia melepas seluruh pakaiannya dan mulai mengolesi batang kemaluannya dengan losion yang diberikan kakaknya.
"Jangan, Ci... saya takut," kata Ratna yang sudah lemas, penuh kekhawatiran, melihat Ci Donna mengenakan dildo bergerigi dengan ukuran yang cukup mengerikan, seperti mengenakan celana dalam.
Ci Donna dengan cepat bergerak ke arah Ratna. "Diam. Mana losionnya?"
Sesudah mendapatkan losion, ia mulai mengolesi dinding vagina Ratna sambil berkata, "Kamu jangan takut, percaya sama Cici saja." Sesudah itu ia membalikkan tubuh Ratna dan melumasi lubang pantatnya pula.
"Ayo, kamu lubang yang satunya," kata Ci Donna memerintahkan adiknya untuk memasuki lubang anus Ratna yang malang. Adiknya menurut โ ia berpindah duduk di atas ranjang. Ci Donna memapah tubuh Ratna dengan lembut dan menempatkannya di atas adiknya. Ratna yang tidak berdaya hanya dapat memandang sorot mata penuh nafsu Ci Donna yang sedari tadi sibuk mengatur posisi dan membantu adiknya memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang anus Ratna.
Batang kemaluan adik Ci Donna akhirnya berhasil masuk ke dalam anus Ratna yang sudah tidak keruan bentuknya karena sedari tadi diobok-obok oleh Ci Donna. Rasa sakit bercampur nikmat membuat Ratna membelalakkan matanya; ia membuka mulutnya dan merintih, "Aaa..."
Ci Donna membaringkan Ratna dari posisi terduduk menjadi terlentang dengan adiknya di bawahnya, batang kemaluannya yang sudah menancap ke dalam lubang anus Ratna.
"Ratna, aku yakin kamu akan menyukai ini dan pasti ketagihan sesudah ini."
Ci Donna memasukkan dildonya ke dalam lubang kemaluan Ratna. Ratna yang berada di tengah dalam keadaan tak berdaya berusaha menahan nikmat bercampur nyeri di lubang kemaluan yang sudah dihujami dildo dari Ci Donna, serta batang kemaluan adik Ci Donna yang menancap di lubang anusnya. Mulailah ranjang bergoyang โ mulanya perlahan, namun semakin lama semakin cepat. Demikian pula dengan rintihan-rintihan Ratna, "Aaa... aa..."
Ratna masih mengenakan kacamata minusnya ketika permainan ini dimulai. Ci Donna tertawa melihat Ratna berusaha bertahan.
"Jangan ditahan dan jangan dilawan, Ratna โ nikmati saja, sayang."
Perlahan-lahan rintihan Ratna mulai berubah menjadi jeritan nikmat penuh birahi. "Ah... ah... yes... mmhh..." Kenikmatan disetubuhi di kedua lubangnya secara bersamaan membuat Ratna kehilangan kendali. Ratna yang sopan dan alim perlahan larut, perlahan berubah menjadi Ratna yang liar โ sifat liar yang seakan ditularkan dari Ci Donna, meracuni pikiran Ratna yang semula begitu bersih dan polos.
"Yah, teruskan... lebih cepat lagi... yahhh..."
Ratna menggenggam seprai ranjang dengan sangat kuat. Keringat meluncur deras dari sekujur tubuhnya, membuat kulitnya tampak mengkilat di bawah cahaya lampu. Hal ini membuat Ci Donna semakin bernafsu mempercepat gerakan pinggulnya. Ratna semakin menikmatinya; ia memejamkan matanya sambil memegang rambut Ci Donna.
"Enak sekali, Ci... aa... aku belum pernah... uuh... senikmat ini."
Adik Ci Donna menggeraki lubang pantat Ratna sambil meremas kedua payudara Ratna dari belakang. Walaupun ukuran payudara Ratna relatif kecil, ini tidak mengurangi rangsangan demi rangsangan yang diterimanya. "Auuh... ah..." mulut Ratna menganga dan mengeluarkan teriakan-teriakan yang semakin tidak jelas. Tubuhnya pun mulai menegang. Tahulah Ci Donna bahwa Ratna saat ini hampir mencapai puncak kenikmatan.
Ci Donna mengurangi kecepatannya dan mengubah gerakan maju mundur menjadi gerakan mengaduk dengan menggoyangkan pinggulnya. Ratna secara alami mengikuti gerakan Ci Donna dengan menyesuaikan gerakan pinggulnya, dan hal ini justru menambah kenikmatan bagi Ratna.
Sampai akhirnya tubuh Ratna benar-benar menegang dan Ratna melepaskan teriakan yang cukup panjang, memenuhi seluruh ruangan kedap suara tersebut. Sesudah itu teriakan berhenti dan seluruh ruangan menjadi sepi.
Ci Donna mencabut dildo dari lubang vagina Ratna. Ternyata dildo tersebut sudah ditutupi cairan kental, dan bahkan saat Ci Donna menariknya keluar, ada sebagian dari cairan tersebut yang menetes, ada pula yang masih merekat antara dinding vagina Ratna dengan dildo Ci Donna. Adik Ci Donna juga mencabut penisnya dari lubang anus Ratna dan merebahkan Ratna yang sudah lemas di ranjang.
Ratna masih memejamkan kedua matanya. Ci Donna melepas kacamata Ratna yang masih dikenakannya dan meletakkannya di meja di tepi ranjang.
"Lain kali kalau mau main, jangan lupa lepas dulu kacamatanya."
Ci Donna tersenyum, mencium Ratna, kemudian melepaskan dildonya dan menggelatakkannya begitu saja di lantai. Ia memandang adiknya.
"Kamu jangan bengong saja โ kamu masih punya tugas satu lagi."
Sesudah berkata demikian, ia duduk di lantai, melebarkan kedua pahanya, mengarahkan lubang vaginanya yang sudah basah ke arah adiknya. Kemudian ia menunjuk ke arah vaginanya.
"Ayo, gunakan lidahmu."
Adiknya mengerti apa yang harus dilakukan. Ia menjilat-jilat lubang kemaluan Ci Donna dengan hati-hati. Ci Donna memejamkan matanya keenakan, nafasnya tak beraturan, desahan-desahan nikmat meluncur keluar tak terkontrol dari mulutnya. Ia menjambak rambut adiknya dan menekan-nekan wajah adiknya ke lubang vaginanya.
"Errghh... aaghh... niikkmmaatt sekkaallii..."
Ci Donna benar-benar menikmati setiap hisapan dan jilatan yang diberikan adiknya ke liang kewanitaannya. Namun di tengah ambang sadar dan tidak, ia ingat bahwa ia tidak ingin mencapai orgasme dengan cara seperti ini.
"Aah... tunggu, Say... berhenti dulu... mmh... sekarang giliran Cici ngerjain punya kamu."
Adik Ci Donna menurut dan berhenti. Ci Donna bergerak kemudian berjongkok membelakangi adiknya. Kini ia dalam keadaan berjongkok menghadap pantat adiknya. Adiknya agak kebingungan dengan tingkah laku kakaknya.
Namun Donna cuek saja. Tangan kirinya ia lewatkan di antara kaki adiknya dan dengan tangannya itu ia mencengkeram buah zakar adiknya dengan halus, lalu mulai memijat-mijatnya.
"Tenang saja, Sayang โ kujamin kamu akan suka sekali."
Ci Donna tersenyum penuh nafsu dan dengan tangan kiri masih memegang buah zakar adiknya, ia mengangkat telapak tangan kanannya, meludahinya sendiri, kemudian mengerutkan tangannya. Kemudian ia melingkarkan tangan kanannya dari pinggang sebelah kanan adiknya langsung menuju ke arah batang kemaluannya. Mulailah ia mengocok-ngocoknya dengan tangan kanan yang sudah dilumasi air liurnya sendiri.
"Aaghh... duh, enak sekali, Ci..."
Ci Donna meneruskan gerakan tangannya sampai ia merasa batang kemaluan adiknya sudah cukup keras. Sesudah itu ia membalikkan badannya dan mengambil posisi nungging di lantai. Tahulah adik Ci Donna apa yang diinginkan kakaknya. Ia pun mengatur posisi di belakang kakaknya.
"Awas ya โ pokoknya aku nggak mau anal. Maenin lubangku yang biasa aja."
Adiknya menurut dan permainan dimulai. Adik Ci Donna memulai gerakannya dengan perlahan.
"Mmm... masih kurang lagi dong."
Gerakan dipercepat. Ci Donna memejamkan matanya keenakan. Ia menambah kenikmatan dengan menggesek-gesek klitorisnya sendiri, sebelumnya membasahi jari-jarinya dengan mengulumnya sendiri.
"Uuuaah... enaakk Sayang... Mmmh..."
Permainan ini berlangsung agak lama sampai Ci Donna minta ganti posisi lagi. Kali ini ia ingin disetubuhi dengan posisi tubuh menyamping. Ci Donna menyampingkan tubuhnya yang seksi dan sudah mandi keringat ke arah kanan, sementara adiknya mengangkat paha Ci Donna sebelah kanan dan menyandarkannya ke bahu sebelah kirinya. Dengan demikian ia dengan leluasa dapat memasukkan batang kemaluannya ke dalam Ci Donna. Ia mulai bergerak maju mundur.
"Aaahh... mm..."
Untuk sekadar menambah kenikmatan, ia mengarahkan tangan kanannya ke arah pantatnya sendiri dan menggerakkan jari tengahnya keluar masuk lubang pantatnya.
"Kyaahh... uuhh..."
Tubuh Ci Donna terus bergoyang-goyang, payudaranya bergerak naik turun tak beraturan mengikuti irama tubuhnya. Adik Ci Donna yang sedari tadi begitu terangsang sudah tak tahan lagi. Ia memajukan tangan kanannya guna meremas payudara kanan kakaknya itu.
"Oh, susumu begitu empuk..."
Ci Donna hanya tersenyum. Ia mencabut tangannya dari lubang pantatnya dan ikut meremas payudaranya bersama-sama dengan tangan adiknya.
Permainan terus berlangsung. Ci Donna merasakan tubuhnya sendiri mulai menegang. Ia sendiri sudah tidak mampu berpikir jernih lagi โ hanya kenikmatan yang dirasakan sekujur tubuhnya sekarang.
"Aaahh... aku mau keluar..."
Keluarlah โ Ci Donna mencapai orgasme yang diidam-idamkannya dalam posisi menyamping. Tercapailah segala keinginannya selama ini.
Demikian pula adik Ci Donna. Ia segera berdiri karena sudah tidak tahan lagi. Ci Donna mengetahui hal ini dan, karena ia sudah berhasil meraih orgasme, ia berniat membantu adiknya mengeluarkan seluruh benihnya. Ci Donna berjongkok, tersenyum menggoda ke arah adiknya, dan mulai mengocok batang kemaluannya.
"Nah, sekarang Cici ingin merasakan nikmatnya cairan kejantananmu. Ayo, Sayang... keluarkan... jangan ragu..."
Ci Donna memainkan batang kemaluan adiknya naik turun dengan gerakan memutar sambil sesekali menjilat pangkalnya.
"Aih... masih belum keluar juga. Sebentar."
Sambil mengocok dengan tangan kanan, Ci Donna memijat buah zakar adiknya.
"Ah, Ci... aku mau keluar nih..."
Ci Donna langsung mengarahkan ujung batang kemaluan adiknya ke mulutnya, menyambut cairan yang segera muncrat masuk ke dalamnya.
Ratna yang sedari tadi tergeletak lemas berusaha bangkit dan merangkak menuju Ci Donna dan adiknya.
"Ci Donna, saya juga mau," kata Ratna sambil menunjuk ke arah mulutnya sendiri.
Tetes terakhir sudah habis meluncur ke dalam mulut Ci Donna. Ia menelan sedikit dan menahan sisanya di dalam mulutnya. Ia tersenyum dengan mulut belepotan, membelai Ratna, kemudian membaringkannya dan meletakkan kepala Ratna di pangkuannya. Ratna yang sudah lemas hanya menurut seperti anak kecil.
Dengan gerakan yang lembut, Ci Donna menyentuh bibir Ratna dan menggerakkannya ke bawah dengan jari telunjuknya. Ratna mengerti apa yang dimaksud โ ia membuka mulutnya. Bibirnya bergetar. Ci Donna kembali tersenyum; ia mengarahkan mulutnya tepat di atas bibir Ratna yang sudah merekah, kemudian membuka dan memuntahkan cairan lengket yang sudah bercampur air liurnya turun memasuki mulut Ratna.
Setelah semuanya berpindah, Ci Donna tersenyum lebar, dengan sedikit sisa yang menetes dari ujung bibirnya. Kembali dengan gerakan lembut ia memberi isyarat kepada Ratna untuk menutup mulutnya. Ratna menuruti dan tersenyum bersamaan dengan Ci Donna.
"Nah, aku tidak pernah pelit kepada gadis manis seperti kamu. Ambillah bagianmu dan nikmatilah."
Ratna menelan apa yang sudah diberikan Ci Donna kepadanya.
"Terima kasih, Ci."
Kemudian ia bangkit dan duduk. Ratna menyentuh wajah Ci Donna dengan lembut, lalu kembali membuka mulutnya, bergerak maju ke arah bibir Ci Donna sambil menjulurkan lidahnya. Ci Donna yang mengerti maksud Ratna segera menyambut ciumannya dengan menjulurkan lidahnya pula. Mereka berciuman lama, saling menjilati sisa-sisa air mani hingga bersih.
Itulah perjalanan kisah seksku kali ini โ sengaja kuusung tema yang berbeda, yaitu kisah tentang Vagina Ci Donna.