Wanita Penggoda — Bagian 5
Wanita Penggoda — Bagian 5
Pak Iwan kaget melihat reaksiku yang tiba-tiba menerimanya. Kekagetan itu semakin menjadi ketika tanganku menjamah batang kemaluannya yang masih tersembunyi di balik celana, kuelus dengan lembut. Makin terangsang, aku langsung jongkok di hadapannya, kuturunkan celananya, dan batang kemaluan Pak Iwan yang sudah mulai mengeras terpampang jelas di depanku. Panjangnya kira-kira 20 cm — bentuk dan ukurannya tidak jauh berbeda dari milik kepala sekolahku dulu, hanya kulitnya agak keriput karena usia yang jauh berbeda. Kuperkirakan Pak Iwan berusia sekitar 60 tahun.
Seranganku bukan hanya lidah saja. Kucoba memasukkan batang Pak Iwan ke dalam mulutku, dan hal itu membuatnya makin mengelinjang — matanya merem-melek, tangannya mengusap-usap kepalaku. Kulakukan itu sekitar 15 menit, kusudahi ketika batangnya sudah basah oleh ludahku dan vaginaku sendiri mulai kembang-kempis ingin ditusuk. Aku lalu berbaring di tempat tidur sementara Pak Iwan melepaskan baju dan celananya hingga bugil. Kulihat dia berjalan mendekat; kakiku kulebarkan sehingga aroma vaginaku menyerbak ke ruang tidurku.
"Nov, bau apa ini, wangi sekali..." kata Pak Iwan.
"Bau vagina Nov. Pak Iwan mau, kan?"
"Wow, mau sekali."
Pak Iwan — ayah budeku — berdiri di samping tempat tidur, batang kemaluannya yang menggantung tegang menghadapku, masih basah oleh ludahku. Namun alih-alih langsung naik, ia berjongkok dekat pahaku. Tangannya yang juga sudah keriput mulai mengusap sekitar pahaku yang putih dan mulus, lalu kepalanya yang agak botak didekatkan ke vaginaku. Hidungnya mengendus-endus.
"Nov, wangi sekali ya. Pasti rasanya enak. Boleh Bapak coba sekarang?"
"Silakan, Pak. Mau diapain juga boleh, yang penting enak buat Bapak."
"Terima kasih ya, Nov."
Lidah Pak Iwan mulai menyapu bibir vaginaku, lalu ditusukkannya ke dalam liang vaginaku dan disedot-sedot — membuatku melintir keenakan. Maklum, sudah dua bulan tubuhku tidak disentuh laki-laki.
"Aahh... aahh... Pak... enak sekali lidah Bapak... vagina Nov rasanya ditarik-tarik... arghh... terus... terus, Pak... arghh..."
"Vaginamu enak sekali, Nov... seumur hidup baru kali ini saya nemu vagina begini enak... slurpp..."
Vaginaku disedot berkali-kali hingga aku menggelinjang ke kiri dan ke kanan, membanting-bantingkan kepalaku. Rasa nikmat yang sungguh baru kualami dari Pak Iwan — dari pria-pria sebelumnya belum pernah senikmat ini. Setelah sekitar 15 menit, cairan putih kental mulai membasahi vaginaku dan dengan cekatan Pak Iwan melahapnya habis.
Setelah puas, Pak Iwan berdiri di sisi tempat tidur, tubuhku diputarnya hingga kakiku menjuntai ke bawah, lalu batangnya diarahkan tepat ke vaginaku yang sudah basah. Batang itu ditempelkan di liang vaginaku dan mulai dihentakkan keluar-masuk. Setelah beberapa kali hentakan, batangnya berhasil masuk penuh. Rasanya mirip dengan milik ayahku — panjang dan besarnya nyaris sama — bedanya hanya pada kulit yang agak keriput yang menimbulkan sensasi geli tersendiri dari gesekan di dalamku.
"Ahh... ehh, Pak... batang Bapak membuat saya geli-geli enak... habis agak keriput, gesekannya bikin saya kelojotan keenakan."
"Oh iya, vaginamu juga rasanya enak sekali. Punya saya seperti dijepit dan dipelintir... aahh... aahh..."
Vaginaku disodok selama hampir satu jam hingga tubuhku kejang saat mencapai orgasme — cairan putih kental mengalir deras dari vaginaku yang masih tertusuk batang Pak Iwan yang tetap keras dan tegang. "Ohh... ohh... aarghh... arghh... aahh... aahh... sshh... sedap sekali, Pak..." Tubuhku lemas sampai ke tulang, namun Pak Iwan masih bertenaga. Tanganku ditariknya, tubuhku digendong oleh tubuhnya yang lebih kecil — tapi tenaganya luar biasa. Sekarang giliran Pak Iwan yang berbaring dan tubuhku terbaring lemas di atasnya, batangnya tetap tertancap di vaginaku selama pergantian posisi itu.
Hentakan terus berlanjut, hampir satu jam lagi vaginaku diserang bertubi-tubi. Payudaraku yang putih dan ranum pun sudah menjadi bulan-bulanan mulut Pak Iwan — diisap, dikenyot, putingku cokelat ditarik-tarik oleh giginya yang mulai ompong. Vaginaku akhirnya mengeluarkan cairan putih kental untuk kedua kalinya.
"Argh... argh... aagghh... oohh... oohh... Pak... saya keluar lagi... nich... aagghh..."
Tubuhku lemas di atas tubuh Pak Iwan untuk kedua kalinya. Pak Iwan yang masih bertenaga kemudian memutarkan badanku hingga posisi berubah — aku menungging dan disodok dari belakang. Posisi itu berlangsung sekitar satu jam lagi; aku hampir tidak merasakan apa-apa karena tubuhku sudah terlalu lemas.
Pak Iwan akhirnya mencapai puncak kenikmatan untuk pertama kalinya, sementara aku sudah mencapainya untuk ketiga kali.
"Aghh... aghh... Pak, aku keluar lagi... aghh... sshh... oohh... oohh... nikmat sekali, Pak..."
"Aghh... aawww... oohh... Nov, aku juga keluar nih... vaginamu luar biasa sekali... tapi aku masih belum terlalu puas... lumayanlah, vaginamu memang nikmat..."
Cairanku membasahi paha dan vaginaku dengan deras. Sementara cairan Pak Iwan yang hangat dan kental membasahi punggungku — karena sesaat sebelum keluar, batangnya sudah dicabutnya dari vaginaku. Lalu ambruklah tubuh Pak Iwan di atas tubuhku yang sudah lebih dulu ambruk.
Setengah delapan malam aku terbangun, sehabis tiga jam melayani Pak Iwan. Ia sudah tidak ada di kamarku. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, aku keluar untuk makan malam — hanya berbalut daster, tanpa BH atau celana dalam. Di ruang makan, Pak Iwan baru saja selesai makan dan akan pergi; dia hanya tersenyum, kubalas dengan senyuman pula.
Jam 11.30 malam, setelah nonton TV, aku beranjak ke kamar untuk istirahat. Belum sempat lelap, pintu kamarku terbuka — Pak Iwan berdiri di sana dengan piyama model baju handuk.
"Eh, Pak Iwan. Ada apa, Pak?"
"Maaf ya, Nov... boleh aku masuk?"
"Silakan, Pak."
Pak Iwan masuk dan duduk di sampingku. Aku menyesuaikan posisi duduk di sebelahnya.
"Nov, maaf ya tadi siang. Saya berbuat salah."
"Eh, nggak apa-apa kok, Pak. Nov senang kok, Nov benar-benar puas tadi siang. Bagaimana dengan Bapak — puas nggak?"
"Ah yang benar, Nov, kamu nggak apa-apa? Saya memang belum puas tadi siang. Bisa nggak kamu muasin saya malam ini? Saya lagi coba pakai tangkur buaya."
"Ah, masa sih, Pak — tadi siang belum puas? Kalau malam ini Bapak mau, boleh saja, tapi badan saya agak capek gara-gara tadi siang."
"Nggak apa-apa kok, Nov. Kalau kamu capek, diam saja, biar saya yang berpacu. OK?"
"OK deh, terserah Bapak."
Pak Iwan langsung melepas piyamanya setelah aku setuju. Batangnya yang sudah menggantung keras menantang ke arahku. Dasterku langsung diloloskannya dari tubuhku, dan kami pun melakukan hubungan layaknya suami-istri. Malam itu aku dibuatnya pingsan sampai tiga kali. Permainan berlangsung dari pukul 00.00 hingga kira-kira pukul 05.00 pagi ketika terdengar kokok ayam. Hebatnya, selama lima jam itu Pak Iwan hanya mencapai orgasme sekali — di akhir permainan — sementara aku lima kali orgasme dan tiga kali pingsan. Dan yang lebih mengagumkan, batang Pak Iwan selama permainan berlangsung tetap tertancap di dalam vaginaku, bermain dalam berbagai posisi, tetap keras dan tegang selama lima jam penuh.
Hubunganku dengan Pak Iwan tidak hanya terjadi di rumah Pakde dan Bude di Surabaya. Kami melakukannya juga di Malang, Banyuwangi, dan Bali. Selama empat bulan hubungan kami, dua bulan aku berada di Banyuwangi, sisanya kami lakukan di Bali, Malang, dan Surabaya. Namun setelah empat bulan, hubungan kami akhirnya terbongkar oleh anak Pak Iwan sendiri — Budeku — saat aku sedang telanjang di atas Pak Iwan yang juga bugil. Kami tidak tahu bahwa Bude dan Pakde pulang dari luar negeri hari itu. Ketika Bude membuka pintu kamarku, dia langsung pingsan melihat ayahnya berbuat mesum dengan keponakannya sendiri.
Hari itu juga aku diusir dari Surabaya, sementara Pak Iwan pulang ke Banyuwangi. Dengan uang hasil pemberian Pak Iwan selama kami berhubungan, aku kembali ke Jakarta — bukan ke rumah, melainkan ke bengkel ayahku, karena sejak kejadian yang bermula dariku, ayah dan ibu sudah berpisah rumah. Ibu tinggal di rumah, ayah tinggal di bengkel yang di atasnya ada dua ruang tidur.
"Yaah... Nov pulang, Yah..."
"Hah... Nov, kamu... kabarnya gimana?"
Ayah memelukku setelah hampir enam bulan kami tidak bertemu. Setelah kuceritakan nasibku, ayah bersedia menerimaku tinggal bersamanya di bengkel. Sejak saat itu hingga kini — sudah dua bulan aku tinggal bersama ayahku — nostalgia kami pun muncul: melakukan hubungan layaknya suami-istri.
Sekarang aku hidup bersama ayahku. Aku seperti istri baginya: melayani hidupnya, berkomitmen tidak melanjutkan kuliah, dan membuang jauh-jauh pikiran tentang para lelaki korban godaanku dulu — kepala sekolah, paman, dan Pak Iwan. Kini pikiranku hanya untuk melayani ayah dan membantunya di bengkel.
Inilah kisahku sebagai wanita penggoda. Semoga para pembaca tidak ada yang bernasib seperti diriku.
TAMAT