Bab 1
Widya, Istri Sepupuku
Kang Asep masih di Belanda dan tidak akan pulang dalam waktu satu setengah bulan ini. Teh Widya, istri Kang Asep — sepupuku — masih sibuk mengurusi perusahaan tours and travel miliknya. Sedangkan aku, Willy, sedang memandang cermin di depan dan dengan seksama menelusuri perutku sendiri.
"Hmm, otot perutku sudah lumayan juga!" pikirku bangga. "1... 2... 3... 4... 5... 6... Yup, enam buah petak."
Sepulang kuliah, aku langsung pergi ke pusat kebugaran. Memang itulah hobiku — aku termasuk cowok yang sangat mementingkan penampilan. Apalagi semenjak kejadian beberapa waktu lalu bersama Teh Widya. Aku sangat suka dengan tubuh sempurnanya Teh Widya, dan aku ingin agar Teh Widya tergila-gila melihat tubuhku. Teh Widya dan aku memang selalu menjaga kebugaran tubuh agar selalu tetap fit.
Sehabis mandi, dengan hanya mengenakan celana jeans Levis 501, aku merebahkan tubuhku sebentar di tempat tidur. Kuambil remote control dan kuarahkan ke sound system di kamarku. Blue Danube Waltz karya Johann Strauss yang dibawakan oleh Vienna Opera Orchestra dengan Peter Falk sebagai konduktor mulai menggema di kamarku. Kuletakkan kedua telapak tanganku di bagian belakang kepala sebagai pengganti bantal. Keadaan tubuh yang dingin sehabis mandi, ditambah rasa lelah sehabis membakar lemak dan membentuk tubuh di pusat kebugaran, membuat mataku terasa mulai berat, dan... beberapa saat kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.
Entah mengapa, aku bermimpi sedang bermain bersama kucing kesayanganku yang sudah lama tiada. Dalam mimpiku aku kembali menjadi aku yang masih kecil. Aku berlari berusaha mengejar kucingku yang sedang berlari dan melompat berusaha menangkap kupu-kupu yang terbang di sela-sela bunga anggrek milik ayahku. Aku sangat gembira saat itu. Akhirnya kucingku tak sanggup lagi mengejar kupu-kupu itu, seperti aku yang tak sanggup lagi mengejar kucing kesayanganku. Aku duduk di kursi tepat di sebelah bunga anggrek berwarna ungu kesayangan ayahku. Kucingku mengikutiku dan duduk di pangkuanku. Terasa di perutku bulu-bulu halus kucingku yang sedang menjilati kaki depannya. Aku mulai kegelian — rasanya geli sekali, ingin rasanya aku tertawa, ha, ha, hi, hi... hingga saking gelinya aku pun terbangun.
Aku mulai membuka kedua kelopak mataku perlahan. Aku merasakan sesuatu yang membuatku geli di perutku, tapi itu bukan kucing seperti yang di dalam mimpi. Ternyata yang membuatku geli adalah sebuah telapak tangan yang mungil dan mulus sedang mengusap-usap perutku. Aku kaget dan secara refleks menengadahkan kepala untuk mencari tahu tangan siapa itu gerangan.
"Oh, Teh Widya, baru pulang, Mbak?" tanyaku lirih.
Teh Widya hanya menundukkan kepalanya. Setiap aku menatap Teh Widya, selalu aku tertegun dan terpesona dibuatnya. Wajahnya yang sangat cantik — sudahlah, tak mungkin aku lukiskan keindahannya dengan kata-kata.
"Nggak, Mbak udah dari tadi sampai di rumah, bahkan Mbak udah sempet mandi segala," jawabnya.
Memang tampak olehku rambutnya yang hitam legam, panjang dan tebal itu masih sedikit basah.
"Aduh, eh, apa-apaan nih!"
Aku tak bisa menggerakkan kedua tangan dan kedua kakiku. Aku berusaha menggerakkannya; akhirnya aku sadar — kedua tanganku terikat ke bagian kiri dan kanan tempat tidurku, sedangkan kakiku terikat ke bagian bawah tempat tidur. Keadaanku saat itu persis seperti orang yang disalib.
"Aduh, Mbak, jangan bercanda ah! Aku nggak bisa ngapa-ngapain nih! Mbak, aduuh, geli ah!"
Teh Widya hanya tersenyum dengan tidak mempedulikan ocehanku. Dia terus meraba perutku dengan jari jemari lentiknya, menelusuri setiap lekukan di perutku.
"Aduh, Mbak, udah ah, nggak tahan nih!" kataku memohon.
"Sst, diam ah, jangan banyak omong!" Kemudian Teh Widya menghentikan permainan jarinya di perutku.
"Aku nggak bisa tenang tadi di kantor, rasanya pengen cepet pulang dan ketemu kamu," ujar Mbak Wid sambil membelai rambutku. "Pekerjaan Mbak di kantor jadi nggak bener, Mbak nggak bisa konsentrasi mikirin kamu. Dan pekerjaan Mbak jadi sedikit kacau. Untuk itu, kamu harus dihukum! Dan sekarang kamu harus siap menerima hukumanmu," kembali ujar Teh Widya sambil mengedipkan sebelah matanya, membuatnya semakin cantik.
"Oh, God, the Fallen Angel...!" kataku dalam hati.
"Tapi nggak usah diiket gini dong, Mbak!" kataku sedikit memohon.
"Udah diam, ikatan ini hanya hukuman pendahuluan, nanti masih banyak hukuman yang lebih berat lagi," kata Teh Widya sambil tersenyum. "Willyku, sayangku, siap ya — hukumanmu baru akan dimulai!" bisiknya dengan senyum yang mendesirkan sesuatu di tubuhku.
Teh Widya bangkit dan pergi menuju sound system-ku. Terlihat olehku ia mengenakan pakaian tidur kesukaannya — pakaian yang terbuat dari bahan yang sangat indah, benar-benar jatuh dan pas di tubuhnya yang tinggi semampai. "Benar-benar wanita yang sempurna," pikirku.
Dia mengganti CD Johann Strauss-ku dengan sebuah CD yang lain. Dia mematikan lampu utama kamarku dan menghidupkan lampu tidur yang terletak di kiri dan kanan tempat tidurku. Teh Widya menyandarkan dirinya di tembok, tersenyum padaku, lalu berjalan perlahan ke arahku dengan gayanya yang sedikit genit, diiringi lagu klasik kesukaannya, Capriccio Italien karya Tchaikovsky.
"Kamu tau lagu ini kan, sayangku? Lagu ini membuatku sedikit nakal," kata Teh Widya sambil menaiki tempat tidurku.
Teh Widya merangkak perlahan di sebelah kananku. Dia mengatur rambutnya yang bak untaian mutiara hitam itu ke sebelah kanan. Setelah dekat dengan tanganku yang terikat, Mbak Wid mencium telapak tangan kananku.
"Cup!" Suara kecupan di tanganku membuat diriku mulai bergairah.
Teh Widya tidak hanya mengecup telapak tanganku. Dia mulai menjilati pergelangan tanganku dengan sekali-kali menggigit — mulai dari telapak tangan kananku, terus ke arah pergelangan, terus dan terus sampai di bahu kananku. Aku kegelian setengah mati.
"Aduh, Mbak, uughh, geli, Mbak!" kataku lirih.
Aku hanya bisa menggerakkan bahu dan kepalaku sedikit saja karena kedua tangan dan kakiku masih terikat.
Dari bahu kananku, Teh Widya melangkahiku dengan tetap merangkak. Dia berpindah ke sebelah kiriku dan melakukan hal yang sama dengan tangan kiriku. Teh Widya menelusuri tangan kiriku dengan lidahnya. Tanganku menjadi basah oleh ludah yang menempel di lidahnya, membuat rasa geli yang tidak tertahankan.
"Ouughh, Wid!" Aku tak sadar telah menghilangkan kata "Mbak". "Ghh... ah, Wid, geli, ss... sayang!"
Teh Widya tidak peduli. Dia terus melakukan hal itu berulang-ulang. Sesampai lidahnya menjilati dan menggigit bahuku, Teh Widya mendekatkan wajahnya yang indah cantik rupawan itu ke wajahku.
"Ayo sayang, cium aku!" pinta Teh Widya sambil membasahi bibirnya dengan lidahnya.
Tapi Teh Widya memang pandai mengangkat libidoku. Setiap aku berusaha mencium bibirnya, dia selalu mengangkat kepalanya untuk menghindar dari kecupanku. Hal itu dilakukannya berulang-ulang, membuatku makin penasaran.
"Sabar sayang, belum saatnya!" katanya.
Teh Widya melangkahi tubuhku yang masih terikat sehingga kini tubuhku berada di antara kedua kakinya. Wajahnya yang cantik mulai menciumi leherku. Kurasakan hembusan kecil nafasnya yang hangat di sekitar leherku — perasaanku mulai tidak karuan. Teh Widya terus menciumi dan menjilati leherku disertai gigitan-gigitan kecil. Wajahnya mulai menuruni leherku menuju ke dadaku. Seperti yang telah kuduga, kedua belah bibir mungil nan indah bagaikan bunga mawar yang merekah itu mulai mempermainkan puting susuku — dari yang kiri terus ke kanan.
"Oohh, Wid, kamu nakal!" kataku lirih menahan rasa geli yang kini sudah bercampur nikmat.
Setelah puas, Teh Widya mulai menuruni dadaku dan melakukan hal yang sama dengan perutku. Di sini Teh Widya bermain agak sedikit lebih lama. Tak percuma aku membuang uang, waktu dan tenaga untuk membentuk perutku — Teh Widya tampak menikmati tonjolan-tonjolan yang berpetak-petak di perutku.
"Ahh, Wid, terus, sayang, aku suka!" kataku.
Teh Widya menyudahi mempermainkan otot perutku. Sekarang dia sedikit mundur dan menduduki pahaku, lalu mengekakkan tubuhnya. Dan kemudian sekali lagi dia mengedipkan sebelah matanya.
"Ahh!" Aku sedikit mendesah ketika tangannya membelai dan meremas celana jeansku tepat di bagian yang membungkus kemaluanku.
Teh Widya terus meremas, meremas, dan meremas. Setiap remasan membuatku menaikkan sedikit pinggulku. Aku menikmati gerakan tangan Sang Bidadari yang sedang duduk di atasku itu.
Sedang enak-enaknya aku menikmati remasan tangan Teh Widya, tiba-tiba dengan buasnya dia membuka ikat pinggangku dan menariknya sampai terlepas total dari celana jeansku, lalu melemparnya ke lantai. Celanaku ditariknya ke bawah sampai ke betisku. Sekarang satu-satunya yang menutupi kejantananku hanyalah celana dalamku saja. Teh Widya kembali menunduk dan mulai menciumi celana dalamku, kadang meremas-remasnya dengan kuat. Tak lama kemudian Teh Widya menggigit ujung celana dalamku dan menariknya ke bawah sampai menumpuk menjadi satu dengan jeans-ku yang sudah ada di betisku.
Kini tak ada lagi yang menutupi kejantananku.
"Willy sayang, ini hukumanmu, kamu suka kan?" bisik Teh Widya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja. Belum sempat aku berpikir jauh, Teh Widya dengan sedikit kasar mengambil dan mencengkeram batang kejantananku yang sedikit mengeras tapi belum mencapai kekerasan maksimum. Teh Widya menunduk lagi dan mendekatkan wajahnya ke batang kejantananku.
"Hmmpff!" Aku menahan nafas untuk menahan gejolak jiwaku.
Teh Widya menyingkap rambutnya dan mulai menjilati kepala batang kejantananku. Lidahnya bermain dengan lincah. Tidak hanya itu, dia pun menjilati dua buah biji pelerku dan sekali-kali mengulumnya, dan akhirnya tiba saatnya dia mengulum batang rudalku. Yang nampak olehku hanyalah gerakan naik turun kepalanya.
"Ah, Wid, ughh, ohh, ahh..." Tak hentinya aku mendesah.
Aku hanya bisa sedikit menggelinjang karena tubuhku masih terikat. Entah berapa lama Teh Widya mempermainkan batang rudalku. Ludahnya yang hangat, gerakan lidahnya yang lincah, kuluman bibirnya, dan sedotan mulutnya memang membawakan surga bagiku. Satu menit, dua menit, lima menit atau lebih — dia terus mengulum dan menjilat batangku. Hingga akhirnya dia berhenti dan berdiri di belakang kakiku yang masih terikat.
"Sayangku, kamu suka ya?" katanya dengan manja. "Aku pergi dulu ya, nggak lama kok."
"Hey, hey, Teh Widya, mau ke mana?" kataku.
Teh Widya tidak mempedulikanku. Dia malah masuk kamar mandi. Aku heran apa yang akan dia lakukan, sementara gairahku mulai tak tertahankan. Tak berapa lama kemudian pintu kamar mandi pun terbuka. Teh Widya keluar dari sana dengan hanya menggunakan handuk yang membalut tubuhnya — tepat membungkus tubuh surgawi Teh Widya mulai dari sebatas puting susunya sampai dengan perbatasan antara paha dan lekuk pantatnya.
Mbak Wid sesekali berputar-putar di sampingku.
"Gimana, aku nggak kalah seksi sama kamu kan, sayang?" tanya Teh Widya.
Aku tak bisa menjawab, aku hanya berulang kali menelan ludahku sendiri. Teh Widya kemudian menaiki tempat tidurku dari belakang dan melangkahi kedua kakiku yang masih terikat sehingga kini kedua kakiku tepat berada di antara kedua kaki Teh Widya. Dia kemudian berjalan pelan-pelan ke arah wajahku.
"Oh, Lord...!" gumamku.
Aku dapat melihat celana putih berenda-renda yang sedikit transparan — terlihat olehku samar-samar bulu halus yang membayang di kemaluannya yang terbungkus kain tipis berenda itu.
"Kamu mau ini kan?" tanya Teh Widya.
Teh Widya terus berjalan dengan sangat perlahan menuju wajahku, yang kemudian... astaga, dia menduduki wajahku. Aku mengerti dengan pasti apa yang harus kulakukan. Tapi Sang Bidadari ini memang nakal sekali. Setiap aku mengangkat kepala dan mendekatkan mulutku ke arah kemaluannya yang masih tertutup kain putih tipis itu, Teh Widya selalu mengangkat pantatnya sehingga aku gagal menyentuhkan mulutku ke arah surga yang masih tertutup itu. Hal itu dilakukannya berulang kali — dia berjongkok lagi, aku mengangkat kepala, dia bangun, berjongkok, bangun, terus itu dilakukannya beberapa kali. Aku berpikir keras bagaimana caranya menghentikan semua ini.
Bersambung...