18px

Yanti dan Mertuanya

Yanti dan Mertuanya

Kisah ini kususun berdasarkan fakta yang kudapat dari cerita pribadi salah seorang bekas teman karib semasa kuliah dulu. Ia baru saja menikah sekitar satu setengah tahun lamanya. Yanti nama temanku itu, sementara suaminya bernama Pras. Kejadiannya bermula ketika Pras mendapat tugas luar kota dari kantornya, sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Pras memang biasanya pergi tiga sampai empat hari. Seandainya pulang pun hanya beberapa jam saja sebelum berangkat lagi. Sebagai seorang istri, Yanti tidak bisa melarangnya, apalagi itu urusan pekerjaan. Tugas itu pun berkaitan dengan promosi Pras menjadi Area Sales Manager dalam waktu dekat. Yanti tentu saja ikut senang mendengarnya, sehingga ia memberikan kebebasan penuh pada Pras untuk meningkatkan prestasinya.

Karena kesibukannya itu, Pras sering melupakan hak Yanti sebagai seorang istri. Hari-hari Yanti dipenuhi kesepian. Apalagi buah perkawinan mereka belum juga ada. Akhirnya Yanti menggunakan waktu-waktu sepi itu untuk berbagi rasa dengan mertuanya, Prambudi. Prambudi sudah sangat berumur, usianya hampir mencapai setengah abad. Saat itu ia sudah hidup sendiri tanpa pendamping hidup karena istrinya telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Kebetulan Prambudi tinggal serumah dengan mereka. Obrolan dan gurauan hampir selalu mereka lakukan setiap hari, terutama ketika Pras sedang tidak ada. Tidak jarang mereka keasyikan mengobrol hingga larut malam.

Yanti merasa obrolan dengan mertuanya sangat bermanfaat. Ia menjadi lebih terhibur dan tidak lagi merasa kesepian seperti hari-hari sebelumnya. Begitu pula dengan Prambudi. Ia yang tadinya pendiam kini berubah menjadi lebih periang. Sejak itulah mereka saling mengisi hari-hari luang dengan obrolan kecil yang menyenangkan. Rasa jenuh yang dirasakan Yanti pun terobati. Dan harus diakuinya, pengetahuan mertuanya memang sangat luas. Cara penyampaiannya pun cukup diplomatis, memancarkan wibawa seorang yang telah berpengalaman.

Suatu hari, mertuanya bercerita tentang kecantikan istrinya semasa masih hidup. Bahwa istrinya dulu tergolong wanita yang banyak disukai pria lain. Selain parasnya yang cantik dan lembut, ia juga memiliki lekuk tubuh yang mengagumkan. Lelaki mana pun yang meliriknya pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Makanya, aku beruntung mendapatkan ibumu dulu... tapi sayang, ia begitu cepat meninggalkanku," kata mertuanya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

Malam pun semakin larut, seiring pembicaraan mertua Yanti yang sudah tidak menentu arahnya. Sampai akhirnya hal-hal yang bersifat pribadi pun diceritakan tanpa rasa canggung. Singkatnya, almarhumah ibu mertuanya adalah istri yang cantik sekaligus memuaskan dalam setiap permainan ranjang yang pernah mereka lakukan.

"Entah berapa kali setiap malam kami lakukan, yang jelas tidak pernah terlewat," kata mertuanya mengenang masa lalu.

"Pernah aku dibikin kewalahan karena lupa minum obat," lanjut Prambudi dengan santainya, mengupas seluruh rahasia rumah tangganya.

"Kamu belum mengantuk, Yanti?" tanya mertuanya sambil merapatkan duduknya ke sisi Yanti.

Saat itu mereka duduk di sofa panjang di ruang tamu. Yanti mulai curiga dengan sikap mertuanya, apalagi tangan Prambudi sudah mulai memegang bahunya.

Tatapan mata Prambudi begitu tajam, seolah-olah ingin mengulangi kenangan indah bersama istrinya. Yanti semakin terkejut ketika mertuanya berkata, "Kamu cantik, Yanti... maukah kamu barang sejenak melayaniku?" pinta mertuanya yang kelihatannya sudah terbawa oleh cerita masa lalunya.

"Tolong, Yan, aku sudah lama kesepian. Lagipula suamimu sedang tidak ada di rumah," desak mertuanya perlahan sambil menarik tangan Yanti ke arah kamar.

"Jangan, Ayah! Aku milik anak Ayah!" tolak Yanti sambil menepis kedua tangan Prambudi yang kini sudah hinggap di payudara 36B miliknya.

"Mau, ya, Yanti... sekali saja," rayu mertuanya sambil melepaskan semua pakaiannya.

"Sekarang kamu diam, ya. Kakinya diangkat ke atas... ya, begitu. Biar Ayah yang bantu melepaskan pakaianmu."

Sungguh, Yanti merasa bingung saat itu. Anehnya ia diam dan menuruti kemauan mertuanya begitu saja. Mertuanya dibiarkan melepaskan semua pakaiannya hingga ia telanjang bulat. Mungkin karena rasa kasihannya pada sang ayah mertua yang sudah lama kesepian. Apalagi sebagai seorang istri normal, Yanti jarang sekali mendapat kepuasan dari suaminya akibat kesibukan Pras.

Dengan lembutnya, Prambudi membaringkan tubuh Yanti yang tak bersehelai benang itu ke atas tempat tidur, lalu mulai menjilati seluruh lekuk tubuhnya โ€” dari pundak, belakang telinga, leher, payudara, hingga perut bagian bawah. Payudara Yanti dijilati dengan penuh semangat, sesekali diremas perlahan. Yanti menggelinjang diperlakukan seperti itu. Ketika sampai di bagian kemaluannya, Prambudi menyibakkan rambut-rambut kemaluan Yanti yang lebat dan hitam, lalu menjilati klitorisnya dengan gerakan memutar. Dengan sengaja ia memasukkan lidahnya ke dalam lubang senggama Yanti sambil kelentitnya dipegang-pegang.

Yanti tidak lama kemudian terhanyut oleh kenikmatan yang diberikan mertuanya. Ia pun mengimbangi permainan asmara itu dengan perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya. Ia meminta mertuanya untuk berbaring, lalu langsung meraih senjata andalan Prambudi. Kemaluannya sudah tegang. Lidah Yanti menjilati seluruh batang mertuanya yang tampak berurat itu dengan penuh semangat. Dihisap dan dikulumnya sepuas-puasnya, seperti orang yang haus akan hubungan seks. Batang kejantanan itu dikocoknya pula, dan kocokannya itu sungguh luar biasa โ€” terbukti Prambudi sampai terpejam-pejam merasakannya.

"Aku sudah tak tahan, Yanti... masukkan saja, ya, Nak?" ujar Prambudi di tengah kenikmatan yang menjalari segenap sarafnya.

Yanti hanya tersenyum penuh arti atas pernyataan ayah mertuanya itu. Segera ia naik ke atas perut Prambudi. Dengan tangan kirinya, dituntunnya batang kemaluan yang sudah sangat besar dan tegang itu masuk ke dalam liang senggamanya.

"Bles... jeb!" Yanti pun segera bergoyang maju mundur, lalu naik turun.

Sementara itu, Prambudi berusaha bangkit untuk menjilati kedua bukit kembar menantunya seperti bayi yang haus air susu ibu.

Segera setelah mulut Prambudi mencapai payudara indah Yanti, Yanti pun dengan sengaja mengarahkan payudaranya ke mulut sang mertua, bergantian antara yang kanan dan yang kiri.

"Uh... uh... uh..." terdengar erangan kenikmatan dari mulut Yanti mengiringi gerakan tubuhnya.

"Aku mau keluar, Yah!" ujar Yanti dengan napas memburu.

Dan benar, sesuatu dari dalam dirinya tiba-tiba seperti meledak. Ia mencapai orgasmenya. Namun Prambudi kelihatannya belum mau berhenti. Ia lalu menyuruh Yanti mengubah posisi. Kini Yanti menungging dengan kedua tangan memegang ujung ranjang, sementara Prambudi dengan semangat mengarahkan batang kejantanannya ke belahan bibir kemaluan Yanti.

Dengan sekali hentakan, "Bless!" โ€” batang kejantanan itu masuk seluruhnya.

Prambudi dengan posisi setengah berdiri terus menghajar Yanti dari belakang sambil kedua tangannya meraih payudara Yanti yang memang sangat merangsangnya. Setelah diraih, diremas-remasnya perlahan.

"Wah, coba dari dulu aku mencicipi tubuh mulus ini, pasti aku tambah awet muda," pikir Prambudi di tengah serangannya.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba Prambudi merasakan sesuatu akan keluar dari tubuhnya dan perasaannya melayang. Matanya yang bulat terbeliak. Yanti yang menyadari mertuanya akan ejakulasi segera melepaskan pantatnya dari serangan gencar batang keperkasaan Prambudi. Ia lalu meraih rudal panjang Prambudi dan mengocoknya agar mencapai puncak klimaks. Benar saja, cairan sperma dari batang keperkasaan Prambudi menyemprot deras. Melihat itu, Yanti segera menghisapnya hingga habis semua cairan itu, membuat mulutnya pun ikut basah. Batang kemaluan itu dijilatinya sampai bersih.

"Yan, kapan-kapan kita ulangi lagi, ya... Ayah benar-benar puas sekarang," ujar Prambudi sambil mengenakan pakaiannya kembali.

Yanti hanya mengangguk dan tersenyum kecil, memberikan kesan puas baik fisik maupun batin.

Dalam hatinya ia berkata, "Dasar tua bangka! Menantu aja dimakan!"

"Kamu memang benar-benar bisa memuaskan keinginanku yang selama ini sudah tidak bisa kulampiaskan lagi... sekali lagi Ayah benar-benar merasa puas," kata Prambudi menambahkan sambil mencium kening Yanti yang basah oleh peluh.

Malam itu mereka lalui dengan perasaan sedikit penyesalan, tetapi juga rasa puas, karena keinginan batin di antara mereka berdua tersalurkan. Namun sejak itu, setiap kali mertuanya mengajak berhubungan intim, Yanti selalu melayaninya dengan senang hati dan penuh semangat. Hal itu pun tidak hanya berlangsung sekali atau dua kali โ€” mereka melakukannya hampir seperti layaknya suami istri. Maklum, suaminya belum dapat memberikan kepuasan batin pada Yanti. Kasihan Yanti, ya?

Tamat

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’