18px

Aku, Istriku, dan Temanku — Bagian 3

Aku, Istriku, dan Temanku — Bagian 3

Sambungan dari Bagian 02

Puas dengan posisi itu, ganti istriku ditelentangkan. Lud menindih istriku setelah penisnya dimasukkan semuanya ke vagina istriku, lalu pantatnya digoyang memutar sehingga bulu kemaluannya menggesek klitoris dan seluruh vagina istriku, sementara penisnya berputar di dalam lubang vagina. Istriku menggelinjang lagi dengan tangan menarik-lepas sprei. Mau mengerang pun sulit, karena bibirnya dikecup kuat-kuat oleh Lud. Menonton itu, penisku jadi tegang terus sampai kemeng rasanya. Adegan ini berjalan cukup lama, sekitar 10 menit lebih. Dalam waktu itu paling tidak istriku sudah mencapai klimaks dua kali.

Setelah itu, kaki Lud yang kekar keduanya ditumpangkan ke kedua kaki istriku yang ramping dan indah, lalu pantatnya digoyangkan naik-turun hingga penisnya ikut bergerak. Dengan posisi ini penisnya betul-betul terjepit oleh bibir vagina istriku sehingga gesekannya betul-betul terasa — sampai istriku berulang kali menelan air liurnya dan geleng-geleng kepala saat klimaks.

Lud minta ganti posisi lagi. Sekarang dia mengangkat sedikit pantatnya dan giliran istriku yang harus menggoyangkan pantatnya memutar hingga penis Lud diputar oleh vagina istriku. Kira-kira 5 menit lewat tapi belum lepas juga maninya — padahal kalau aku yang diputar penisnya oleh istriku, 5 menit langsung muncrat. Akhirnya malah istriku sendiri yang klimaks lagi.

"Aduh, Lud... aduh, Lud... nikmatnya luar biasa, aku sudah tak kuat menahannya lagi, semprotkan manimu, Lud," pinta istriku.

Baru kemudian posisi istriku ditarik ke bawah sehingga pantatnya berada di pinggir kasur. Lud turun, kaki istriku diminta mentang lebar-lebar dan diangkat tinggi, lalu Lud menancapkan penisnya dari bawah dengan sedikit membungkuk agar tangannya bisa meremas buah dada istriku.

Lalu mulailah ditembaknya vagina istriku dengan penisnya — pertama pelan-pelan, lalu makin lama makin keras dan cepat hingga tiap kali ditekan, pantat istriku terpental naik. Untuk itu terpaksa tangannya melepas buah dada istriku dan memegang pinggangnya supaya kalau ditembak keras, vaginanya tidak naik melainkan penisnya yang deras menghunjam masuk menerobos sampai mulut rahim istriku.

"Aduh, Lud... aduh, Lud... nikmat banget penismu, Lud, tapi aku tak kuat menahan nikmatnya... aku butuh manimu, Lud, dan penismu sudah makin hangat, Lud!" teriak istriku.

Akhirnya, "Huuh..." desis Lud, dan "crutt!" — maninya muncrat. "Huuh..." desis Lud lagi, dan "crutt!" — maninya muncrat lagi. Setiap kali maninya muncrat, istriku mengerang, "Aach, sset!" Setelah itu Lud menelungkup di tubuh istriku.

"Lud, tubuhku hangat rasanya terkena semprotan manimu," kata istriku.

Kemudian tubuh istriku diangkat naik dan Lud segera tidur di sebelahnya sambil memeluk istriku. Penisnya yang masih tegang itu dimasukkan lagi ke dalam vagina istriku, kemudian kedua tubuh yang bugil itu diselimuti. Melihat itu, walaupun penisku tegang, aku tak ikut masuk — kupikir istriku capai, apalagi vaginanya masih disumpal dengan penis Lud. Terpaksa aku masuk ke kamar dan tidur.

Suatu saat aku terbangun karena terasa penisku dipijit-pijit. Ketika membuka mata, ternyata istriku — masih dibopong dan berpelukan dengan Lud — tangannya memijit-mijit penisku.

Ketika aku bangun, istriku bilang, "Ayo, Pi, jangan tidur saja. Mami mau disemprot mani lagi, berdua bersamaan."

Ternyata pikiranku meleset — kukira istriku yang lemah lembut itu sudah capai, tapi ternyata masih ingin dikerjain berdua lagi. Kulihat vagina istriku tetap didongkrak dengan penis Lud. Jam saat itu sudah jam 1 tengah malam, jadi aku sudah tidur dua jam.

Kemudian istriku ditidurkan di bawahku dan langsung Lud mulai menembak vagina istriku dengan penisnya yang besar itu. Aku terpaksa bangun dan mendekatkan penisku ke mulut istriku untuk dihisap. Penisku terus dijilati dan disedot lubangnya sambil kantong penisku diremas-remas, rambut di bawah kantong penisku ditarik-tarik, dan pinggiran lubang anusku dielus-elus dengan jarinya — hingga aku terus bernafsu dan tegang lagi.

Memang kalau main bertiga begini tambah terangsang. Demikian juga Lud yang menembakkan penisnya semakin seru, nafasnya mulai ngos-ngosan, dan crot... crot... crot — maninya muncrat ke dalam vagina istriku. Melihat itu, tak tahan juga — langsung maniku kulepaskan memenuhi mulut istriku. Setelah ditelan, mulutnya dibuka dan ditunjukkan padaku bahwa maniku sudah habis masuk. Lud pun lalu menelungkup di atas istriku untuk istirahat, tapi mulutnya masih sempat menghisap-hisap puting istriku.

Lalu istriku bilang, "Waah, Pi, mani Lud rupanya masuk terus ke dalam rahimku sebab tiap nyemprot tak pernah keluar lagi. Apa karena vaginaku disumpal terus dengan penisnya ya, Pi? Sebab biasanya kalau punya Papi paling 1 jam sudah mengalir keluar lagi walaupun nyemprotnya keras banget."

Belum sempat kujawab, Lud bilang, "Gila, istrimu itu minta disumpal terus vaginanya. Pokoknya penisku malam ini tak boleh lepas dari vaginanya."

"Nggak, Pi. Lud yang minta dulu supaya penisnya dipendam semalam suntuk dalam vaginaku, dan aku setuju," jawab istriku.

"Penisnya terasa hangat terus di vaginaku, dan kalau mulai tegang terasa mulai goyang-goyang dan semakin keras menyodok-nyodok, Pi. Kalau tidur — walaupun penisnya sudah tidur pula — kepala penisnya tetap nyantol di bibir vaginaku jadi tak mau lepas, tidak seperti punya Papi yang biasanya lepas sendiri kalau tidur," kata istriku.

Setelah fit kembali, istriku dibopong lagi dengan penis Lud masih menancap di vaginanya dan dibawa balik ke kamar depan. Aku pun tertidur lagi karena mengantuk.

Seperti biasa aku selalu bangun jam 4.30 pagi. Pagi itu penisku tegang, lalu aku bangun dengan maksud mau menaiki istriku. Kumasuk ke kamarnya — ternyata istriku masih tidur berpelukan dengan Lud, tubuh diselimuti. Aku mencoba mendekati kepala istriku, membelai-belai pipinya, dan istriku pun terbangun.

"Penisku tegang nih. Ayo, tak semprotkan ke vaginamu," bisikku.

Istriku berbisik, "Aduh, Pi, penis Lud masih menancap terus dalam vaginaku. Kalau tak ditarik tak bisa lepas sebab nyantol kepalanya. Papie tak hisap saja ya penisnya?"

"Oke," sahutku.

Lalu istriku menengadah dan kudekatkan penisku supaya bisa masuk ke mulutnya. Kukocok sendiri penisku dan kugosok-gosokkan kepalanya ke bibirnya, kadang-kadang kumasukkan dalam-dalam ke mulutnya. Karena sudah cukup lama tegang, tak lama — hanya 5 menit — maniku sudah muncrat lagi ke dalam mulut istriku. Kemudian seluruh kepala penisku dijilati untuk membersihkan mani, dan setelah itu baru ditelan semua.

Aku bertanya, "Mami tidak menelan mani Lud ya, dan tidak dimasuki lubang anusnya juga ya?"

"Tidak, Pi. Semua maninya Lud masuk ke dalam vaginaku dan sampai sekarang belum keluar, sehingga rasanya ada sesuatu yang hangat dalam perut! Lud hanya mencabut penisnya kalau minta dihisap, setelah itu dimasukkan kembali ke vaginaku," jawab istriku.

Kukecup bibirnya dan kubisiki, "Baik-baik ya, Mi. Semoga mendapat kenikmatan lagi!"

Lalu aku keluar kamar dan tiduran lagi.

Aku terbangun lagi pukul 6 pagi, langsung mandi, kemudian duduk di sofa menonton TV. Ternyata istriku baru saja diajak bersetubuh lagi oleh Lud — karena Lud baru saja berada di atas istriku kemudian tidur lagi berpelukan. Karena bosan lihat TV, aku pergi keluar untuk melihat pemandangan alam dan jalan-jalan di taman. Kira-kira sejam kemudian aku balik ke motel dan kulihat kamarnya sudah kosong — rupanya mereka mandi berdua. Aku masuk ke kamar dan melihat di tempat tidur ada gelang karet berbulu dan cincin dari bulu buntut kuda. Aku nonton TV lagi.

Rupanya lama sekali mereka mandi. Kucoba mendekat ke pintu kamar mandi dan menempelkan kupingku di pintu — oh, ternyata mereka main lagi di dalam, karena terdengar rintihan istriku.

"Aduh, Lud... aduh, Lud... enaknya penismu, Lud, nikmat banget rasanya."

Kemudian suara Lud, "Aach, Hwa, vaginamu juga nikmat. Aku kangen terus dengan vagina dan payudaramu yang kenyal ini, Hwa!"

Aku balik nonton TV lagi. Kira-kira 30 menit kemudian mereka keluar dari kamar mandi, masing-masing berbalut handuk tubuhnya — dan sekarang sudah pisah, tidak nyantol lagi penis Lud di vagina istriku. Mereka masuk ke kamar dan ganti pakaian. Kulihat istriku memakai celana dalam mini warna merah dan BH mini warna merah juga, lalu pakai rok bawah mini hitam dan kaos strip hitam-putih yang pendek — hanya sampai bawah bra saja, jadi perutnya yang langsing putih agak kelihatan dari luar.

Melihat istriku memakai kaos agak ketat, Lud bilang, "Hwa, kamu jangan pakai bra saja, lebih bagus."

Istriku pertama menolak. "Aah, katanya mau keluar makan dan nanti mau pulang segala — nggak enak kalau tak pakai BH."

"Kita kan hanya makan di restoran sini saja sebelum pulang, sebab nanti aku masih mau main lagi, Hwa," kata Lud.

Jadi terpaksa istriku menurut dengan melepas lagi BH mininya. Ternyata benar juga pendapat Lud — sebab tanpa BH pun buah dada istriku tetap tegak menantang. Hanya bedanya, putingnya agak nampak jelas dari kaosnya, dan kalau jalan kelihatan sedikit bergoyang.

Setelah semua siap, kami pergi makan ke restoran hotel pukul 8.15. Di sana ada dua pasangan lain yang rupanya juga bermalam di hotel itu — salah satu ceweknya bahkan masih memakai pakaian tidur. Selesai makan, kami jalan-jalan di taman sebentar sambil ngobrol, lalu balik ke motel dan duduk menonton TV.

Baru beberapa menit, perutku terasa sakit. Terpaksa aku ke kamar mandi untuk buang air besar. Selesai, mau menonton TV lagi — ternyata mereka berdua sudah tidak ada dan sudah masuk ke kamar lagi. Kulihat istriku sudah tidak mengenakan kaos lagi, sedang memakai BH mininya kembali, sementara Lud sedang melepas celana lalu bajunya, kemudian menarik istriku dan menidurkannya ke ranjang lalu menindihnya lagi. Rupanya mau main lagi.

Benar saja — rok mini istriku dilepas, lalu CD mininya disingkap ke pinggir pangkal paha, penisnya dikeluarkan dari CD-nya dan dimasukkan ke vagina istriku. Jadi Lud main dengan masih memakai CD, sementara istriku memakai BH dan CD mini. Karena branya mini, otomatis payudara istriku mencuat keluar ketika terkena remasan tangan Lud, sambil pantatnya terus menggenjot naik-turun dengan cepatnya.

Kira-kira hampir 10 menit terdengar istriku berteriak, "Aduh, Lud, hangatnya manimu — lepaskan semua manimu, Lud!" Karena sebelumnya istriku cuma mendesis keenakan. Sesaat kemudian Lud jatuh menelungkup di atas istriku.

Karena sudah hampir jam 10, kubangunkan mereka — sebab Lud harus berangkat pulang dengan pesawat jam 11.00. Kuselesaikan semua rekening hotel sementara mereka berpakaian lagi. Kami langsung menuju bandara, tepat sampai pukul 10.30.

Kami ngobrol sebentar dan Lud mengusulkan, "Kalau lain kali kita main berempat dengan istriku, bagaimana?"

Pertama istriku keberatan, sebab aku tidak boleh main dengan wanita lain. Tapi Lud menjelaskan bahwa wanita itu adalah keponakannya sendiri yang bekerja sebagai sekretarisnya dan kadang-kadang melayani tamu-tamunya yang membutuhkan hiburan — jadi pasti bersih. Usianya masih muda, baru 19 tahun, cukup seksi, hanya buah dadanya agak sedikit lebih kecil dari istriku. Kalau istrinya sendiri, kata Lud, kurang ramai karena agak kerempeng dan tidak ceria, sehingga dikhawatirkan aku tak bisa tegang. "Jadi bisa ramai, Hwa, kita main dua pasang dalam satu kamar — pasti hot," kata Lud.

Akhirnya istriku setuju untuk main berempat suatu hari nanti.

Tiba-tiba istriku pergi lari-lari ke kamar mandi. Setelah kembali, aku bertanya, "Ada apa?"

Dia menjawab sambil menunjukkan CD mininya yang digenggam. "Waah, maninya Lud mulai keluar — CD-ku sampai basah dan lengket, jadi tak nyaman dipakai. Mungkin rokku juga basah belakangnya."

Ternyata benar, bagian bawah vaginanya basah. Karena Lud sudah hampir check-in, kami berdua langsung pamit pulang setelah dikecup bibirnya oleh Lud.

Kami segera menuju mobil dan jok tempat istriku duduk dilembari dengan kertas koran. Hampir sampai di rumah, istriku mengeluh lagi, "Aduh, Pi, maninya keluar lagi — rasanya basah dan lengket semua pahaku. Cepat dikit, Pi!"

Kukebut terus dan sampai di rumah. Mobil kuparkir di tepi jalan dan istriku turun lalu menekan bel. Setelah dibuka oleh pembantuku, istriku segera masuk ke kamar utama dan langsung ke kamar mandi dalam tanpa ditutup pintunya. Karena anakku sedang tidur di kamarnya, aku langsung masuk ke kamar utama. Kulihat istriku sedang melepas rok mininya lalu duduk di closet.

Melihat aku datang, istriku bilang, "Papi, sini lho. Lihat, Pi — pahaku kena cendol maninya Lud, dan itu keluar terus banyak."

Kulihat paha istriku dan bulu kemaluannya basah terkena mani, dan dari lubang vaginanya keluar jatuh mani Lud yang seperti cendol itu. Melihat itu aku malah jadi nafsu — penisku jadi tegang. Terpaksa aku melepas semua pakaianku.

"Papi pasti tegang kan kalau lihat vaginaku belepotan mani begini," kata istriku sambil mulai memegang penisku.

Lalu kutarik lepas kaos istriku.

"BH-nya jangan dulu ya, supaya Papi lebih terangsang kalau Papi mainan payudara Mami!" kata istriku.

Istriku lalu bercerita bahwa tadi malam sampai pagi tadi dia disemprot mani Lud sampai 7 kali: jam 8 malam saat bareng dengan saya, jam 11 malam saat main saya nonton TV, jam 1 tengah malam waktu main di kamar saya, jam 3 dini hari waktu penis Lud tegang sendiri, jam 6 pagi sehabis saya menyemprot ke mulutnya, jam 8 pagi saat di dalam kamar mandi, dan jam 10 pagi waktu mau pulang. "Hebatnya Lud itu, sejak dari awal sampai yang terakhir semprotannya keras terus — kental, hangat, dan banyaknya sama. Maka dari itu rasanya penuh dalam perutku tadi, sampai suatu saat kutekan perutku dan mulai keluar terus maninya," kata istriku.

"Mi, kalau sudah habis cuci dulu vaginanya — aku sudah tidak tahan nih."

Istriku buru-buru mencucinya dan mengeringkan dengan handuk, lalu kuangkat dia dan kuletakkan di atas tempat tidur. Tanpa tunggu macam-macam, aku segera menaiki istriku dan kutancapkan penisku ke vaginanya.

"Wah, Mi, vaginamu masih seret juga buat penisku — kukira jadi longgar kemasukan penis gedenya Lud," kataku.

Istriku lalu bercerita, "Waktu penis Lud ditanam semalam suntuk dalam vaginaku, begitu mulai kurang tegangnya, vaginaku kumulai renggangkan sehingga sampai kepalanya saja yang nyantol di bibir vaginaku — dengan maksud supaya jangan sampai longgar liangnya. Apalagi Lud selalu pakai cincin bulu kuda itu: kalau di dalam banget geli rasanya kalau goyang sedikit, kalau di luar kurang geli sebab yang kena cuma bibir vagina saja. Kalau mainnya Papi dan Lud sama saja, hanya Lud kalau sudah nafsu banget agak kasar mainnya, lain dengan Papi yang tetap semangat tapi mesra. Hanya punya Papi kalah besar dan panjangnya saja. Tapi Mami mau belikan alat yang bisa memperbesar dan memperpanjang penis — tiap pagi nanti Mami yang melakukannya supaya punya Papi bisa jadi panjang dan besar. Memang saat Lud mau menyemprot, Mami selalu tekan pantat Mami ke atas supaya penisnya bisa amblas masuk semua, sebab kalau nyemprotnya di dalam rasanya hangat dan nikmat. Papi punya kalau nyemprotnya keras dan kebetulan maninya agak encer juga bisa langsung kena mulut rahimku, jadi hangatnya nikmat, Pi."

"Pi, ini lho — selain leher, buah dadaku juga dicupang oleh Lud. Tapi nanti Mami gosok dengan minyak kayu putih supaya cepat hilang," kata istriku sambil memperlihatkan buah dadanya yang dicupang.

Mendengar cerita istriku itu, aku semakin menggebu. Mengangkat-turunkan pantat semakin bersemangat, aku segera membuka hak BH istriku yang terletak di bagian depan hingga buah dadanya yang semakin kencang itu tak tertutup lagi — yang sebelah kuremas dan yang sebelah kukecup serta kugigit-gigit putingnya.

"Aduh, Pi, nikmat banget, Pi — aku sudah kangen dengan penis Papi sejak Papi minta tadi malam. Masih seret ya, Pi? Aku masih merasakan seret gesekan penisnya Papi. Pi, mau keluar ya? Kok sudah anget banget penisnya?" tanya istriku.

Benar juga — tak lama lagi, creet... creet... maniku menyemprot.

"Waah, maninya Papi nyemprot ke dalam! Sebab semprotannya keras tapi agak encer — bisa jadi satu dengan punya Lud nih!" kata istriku.

Karena capai, kami berdua tiduran dan akhirnya tertidur juga.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya