Aku, Istriku, dan Temanku — Bagian 3
Aku, Istriku, dan Temanku — Bagian 3
Puas dengan posisi ini, ganti istriku ditelentangkan. Lud menindih istriku setelah penisnya dimasukkan semuanya ke vagina istriku, lalu pantatnya digoyang memutar sehingga bulu kemaluannya menggesek clit dan seluruh vagina istriku. Penisnya berputar di dalam lubang vagina hingga istriku menggelinjang lagi dengan tangannya menarik-lepas sprei, sementara mulutnya sulit mengerang karena bibirnya dikecup kuat-kuat oleh Lud. Menonton itu penisku jadi tegang terus sampai kemeng rasanya. Adegan ini berjalan cukup lama, sekitar sepuluh menit. Dalam waktu itu paling tidak istriku sudah mencapai klimaks dua kali.
Setelah itu kedua kaki Lud yang kekar ditumpangkan ke kedua kaki istriku yang ramping dan indah, lalu pantatnya digoyangkan naik-turun hingga penisnya ikut bergerak. Dengan posisi ini penisnya betul-betul terjepit oleh bibir vagina istriku sehingga gesekannya betul-betul terasa di vagina istriku—sampai istriku berulang kali menelan air liur dan geleng-geleng kepala saat klimaks.
Lud minta ganti posisi lagi. Sekarang dia sedikit mengangkat pantatnya dan ganti istriku yang harus menggoyangkan pantatnya memutar hingga penis Lud diputar oleh vagina istriku. Kira-kira lima menit lewat, maninya masih belum lepas juga—padahal kalau aku yang diputar penisnya oleh istriku, lima menit langsung mancur. Akhirnya malah istriku sendiri yang klimaks lagi.
"Aduuh, Lud... aduh, Lud... nikmatnya luar biasa. Aku sudah tak kuat menahannya lagi. Semprotkan manimu, Lud," pinta istriku.
Baru kemudian posisi istriku ditarik ke bawah sehingga pantatnya di pinggir kasur. Lud turun, kaki istriku diminta mentang lebar-lebar dan diangkat tinggi, lalu Lud menancapkan penisnya dari bawah dengan sedikit membungkuk agar tangannya bisa meremas buah dadanya.
Mulailah Lud menembakkan vagina istriku dengan penisnya—pertama pelan-pelan, lalu makin lama makin keras dan cepat, sampai tiap kali ditekan pantat istriku terpental naik. Terpaksa tangannya melepas buah dada istriku dan memegang pinggangnya supaya kalau ditembak keras, pantatnya tak naik—tapi justru penisnya yang deras menghunjam masuk menerobos sampai mulut rahim istriku.
"Aduuh, Lud... aduh, Lud... nikmat banget penismu, Lud. Tapi aku tak kuat menahan nikmatnya. Aku butuh manimu, Lud, dan penismu sudah makin hangat," teriak istriku.
Akhirnya, "Huuh," desis Lud, dan "Crut"—maninya mancur. "Huuh," desisnya lagi, dan "Crut"—mancur lagi. Setiap kali maninya mancur, istriku mengerang, "Aach... sset!"
Setelah itu Lud tengkurap di tubuh istriku. "Lud, tubuhku hangat rasanya kena semprotan manimu," kata istriku. Kemudian tubuh istriku diangkat naik dan Lud segera tidur di sebelahnya sambil memeluk istriku. Penisnya yang masih tegang dimasukkan kembali ke dalam vagina istriku, dan kedua tubuh yang bugil itu pun diselimuti. Melihat itu, walaupun penisku tegang, aku tak ikut masuk—kupikir istriku pasti capai, apalagi vaginanya masih disumpal dengan penis Lud. Jadi terpaksa aku masuk ke kamar dan tidur.
Suatu saat aku terbangun karena terasa penisku dipijit-pijit. Begitu membuka mata, ternyata istriku—yang masih dibopong dan berpelukan dengan Lud—sedang memijit-mijit penisku dengan tangannya.
Ketika aku bangun, istriku bilang, "Ayo, Pi, jangan tidur saja. Mami mau disemprot mani lagi, berdua berbarengan."
Ternyata pikiranku tadi meleset—kukira istriku yang lemah lembut itu sudah capai, ternyata masih ingin dikerjain berdua lagi. Aku lihat vagina istriku masih didongkrak dengan penis Lud. Jam saat itu sudah pukul satu tengah malam—berarti aku sudah tidur dua jam.
Kemudian istriku ditidurkan, Lud mulai menembak vagina istriku dengan penisnya yang besar, dan aku mendekatkan penisku ke mulut istriku untuk dihisap. Penisku terus dijilati, disedot lubangnya, sambil kantong penisku diremas-remas dan rambut di bawah kantong penisku ditarik-tarik. Pinggiran lubang anusku pun dielus-elus dengan jarinya hingga aku terus bernafsu dan tegang.
Memang kalau main bertiga tambah terangsang. Demikian pula Lud yang menembakkan penisnya semakin seru, nafasnya mulai ngos-ngosan, dan "crot... crot... crot"—maninya mancur ke dalam vagina istriku. Melihat itu aku tak tahan juga; langsung maniku kulepaskan, memenuhi mulut istriku. Setelah ditelan, mulutnya dibuka dan ditunjukkanlah padaku bahwa maniku sudah habis masuk. Lud lalu menelungkup di atas istriku untuk istirahat, tapi mulutnya masih sempat menghisap-hisap puting istriku.
Lalu istriku bilang, "Waah, Pi, mani Lud rupanya masuk terus ke dalam rahimku sebab tiap nyemprot tak pernah keluar lagi. Apa karena vaginaku disumpal terus dengan penisnya, ya, Pi? Sebab biasanya kalau punya Papi, paling satu jam sudah mengalir keluar lagi walaupun nyemprotnya keras banget."
Belum sempat kujawab, Lud bilang, "Gila, istrimu itu minta disumpal terus vaginanya. Pokoknya penisku malam ini tak boleh lepas dari vaginanya."
"Nggak, Pi. Lud yang minta dulu supaya penisnya dipendam semalam suntuk dalam vaginaku, dan aku setuju," jawab istriku.
"Penisnya terasa hangat terus di vaginaku. Kalau mulai tegang, terasa mulai goyang-goyang dan semakin keras menyodok-nyodokku, Pi. Kalau tidur, walaupun sudah agak lemas, kepala penisnya tetap nyantol di bibir vaginaku jadi tak mau lepas—beda dengan punya Papi yang biasanya lepas sendiri kalau tidur," kata istriku.
Setelah fit kembali, istriku dibopong dengan penis Lud masih menancap di vaginanya dan dibawa balik ke kamar depan. Aku pun tertidur lagi.
Seperti biasa aku selalu bangun pukul empat setengah pagi. Pagi itu penisku juga tegang. Aku masuk ke kamarnya, ternyata istriku masih tidur berpelukan dengan Lud dalam selimut. Aku mendekati kepala istriku, membelai pipinya, dan istriku terbangun.
"Penisku tegang nih, yo tak semprotkan ke vaginamu," bisikku.
Istriku berbisik balik, "Aduuh, Pi, penis Lud masih menancap terus dalam vaginaku. Kalau tak ditarik tak bisa lepas sebab kepalanya nyantol. Papi tak hisap saja ya, penisnya?"
"Oke," sahutku.
Istriku menengadah dan kukokkan penisku supaya bisa masuk ke mulutnya. Kukocok sendiri penisku dan kugosok-gosokkan kepalanya ke bibirnya, kadang-kadang kumasukkan dalam-dalam ke mulutnya. Karena sudah cukup lama tegangnya, tak lama—hanya lima menit—maniku sudah mancur ke dalam mulut istriku. Kemudian seluruh bagian kepala penisku dijilati untuk membersihkan mani, lalu ditelan semuanya.
Aku bertanya, "Mami tidak menelan maninya Lud toch, dan tak dimasuki lubang anusnya juga ya?"
"Tidak, Pi. Semua maninya Lud masuk ke dalam vaginaku dan sampai sekarang belum keluar sehingga rasanya ada sesuatu yang hangat di dalam perut. Lud hanya mencabut penisnya kalau minta dihisap, setelah itu dimasukkan kembali ke vaginaku," jawab istriku.
Kukecup bibirnya dan kubisiki, "Baik-baik ya, Mi. Semoga dapat kenikmatan lagi!" Lalu aku keluar kamar dan tiduran lagi.
Aku terbangun lagi pukul enam pagi, langsung mandi, lalu duduk di sofa menonton TV. Ternyata istriku baru saja diajak bersetubuh lagi oleh Lud—karena baru saja berada di atas istriku, kemudian tidur lagi berberangkulan. Karena bosan lihat TV, aku pergi keluar untuk melihat pemandangan alam dan jalan-jalan di taman. Kira-kira sejam kemudian aku balik ke motel dan melihat kamarnya sudah kosong—rupanya mereka mandi berdua.
Aku masuk ke kamar dan melihat di tempat tidur ada gelang karet berbulu yang dipakai dan ada cincin dari bulu buntut kuda. Aku nonton TV lagi—rupanya lama sekali mereka mandi. Kucoba mendekat ke pintu kamar mandi dan menempelkan telingaku di pintu. Ternyata mereka main lagi di dalam, karena terdengar rintihan istriku, "Aduuh, Lud... aduuh, Lud... enaknya penismu, Lud. Nikmat banget rasanya."
Kemudian suara Lud, "Aach, Hwa, vaginamu juga nikmat. Aku kangen terus dengan vagina dan payudaramu yang kenyal ini, Hwa!"
Aku balik nonton TV lagi jadinya. Kira-kira tiga puluh menit kemudian mereka keluar dari kamar mandi, masing-masing berbalut handuk. Sekarang sudah pisah—penis Lud tidak lagi nyantol di vagina istriku. Mereka masuk ke kamar dan ganti pakaian. Kulihat istriku memakai celana dalam mini merah dan bra mini merah, lalu rok mini hitam dan kaos strip hitam putih pendek yang hanya sampai bawah bra, sehingga perutnya yang langsing putih agak terlihat dari luar.
Melihat istriku memakai kaos agak ketat, Lud bilang, "Hwa, kamu jangan pakai bra saja lebih bagus karena kaosmu ketat."
Istriku pertama menolak, "Aah, katanya mau keluar makan dan mau pulang, nggak enak kalau tak pakai BH."
Lud bilang, "Kita kan hanya makan di restoran sini saja sebelum pulang, sebab nanti aku masih mau main lagi, Hwa."
Terpaksa istriku menurut dengan melepas kembali BH mininya. Ternyata benar juga pendapat Lud—tanpa BH pun buah dada istriku tetap tegak menantang. Bedanya, putingnya agak nampak jelas dari kaosnya dan kalau jalan sedikit bergoyang buah dadanya.
Setelah semua siap, kami pergi makan ke restoran hotel pukul delapan seperempat. Di sana ada dua pasangan lain yang juga bermalam—salah satu yang perempuan masih memakai pakaian tidur. Selesai makan, kami jalan-jalan sebentar di taman sambil ngobrol, lalu balik ke motel dan duduk nonton TV.
Baru beberapa menit, perutku terasa sakit, terpaksa aku ke kamar mandi untuk buang air besar. Selesai buang air, aku mau nonton TV lagi, tapi ternyata mereka berdua sudah tidak ada dan sudah masuk ke kamar lagi. Aku melihat istriku sudah tidak mengenakan kaos—sedang memakai BH mininya—sementara Lud sedang melepas celana dan baju, lalu menarik istriku dan menidurkannya ke ranjang, menindihnya lagi. Rupanya mau main lagi.
Ternyata benar—rok mini istriku dilepas, CD mininya disingkap ke pinggir pangkal paha, lalu penisnya dikeluarkan dari CD-nya dan dimasukkan ke vagina istriku. Jadi Lud main dengan masih memakai CD, sedangkan istriku memakai BH dan CD mini. Karena branya mini, otomatis payudara istriku mencuat keluar ketika terkena remasan tangan Lud sambil pantatnya terus menggenjot naik-turun dengan cepatnya.
Kira-kira hampir sepuluh menit, terdengar istriku berteriak, "Aduuh, Lud, hangatnya manimu! Lepaskan semua manimu, Lud!" sebelumnya istriku hanya mendesis terus kenikmatan. Sesaat kemudian Lud jatuh menelungkup di atas istriku.
Karena sudah hampir pukul sepuluh, aku membangunkan mereka sebab Lud harus berangkat pulang dengan pesawat pukul sebelas. Kuselesaikan semua rekening hotel sementara mereka berpakaian. Kami langsung menuju bandara, tepat sampai pukul sepuluh tiga puluh. Kami ngobrol sebentar, lalu Lud mengusulkan, "Kalau lain kali kita main berempat dengan istriku, bagaimana?"
Pertama istriku keberatan sebab aku tak boleh main dengan wanita lain. Tapi Lud menjelaskan kalau wanita itu adalah keponakannya sendiri yang bekerja jadi sekretarisnya dan kadang-kadang melayani tamu-tamu yang membutuhkan hiburan. Jadi pasti bersih, dan usianya masih muda—baru sembilan belas tahun, cukup seksi, hanya buah dadanya agak sedikit lebih kecil dari istriku. Kalau istrinya dia pasti kurang ramai karena agak kerempeng dan tidak ceria, sehingga dikhawatirkan aku tak bisa tegang. "Jadi bisa ramai, Hwa. Kita main dua pasang dalam satu kamar, pasti hot," kata Lud.
Akhirnya istriku setuju kapan-kapan main berempat. Tiba-tiba istriku berlari ke kamar mandi. Setelah kembali, aku bertanya, "Ada apa?" Dia menjawab sambil menunjukkan CD mininya yang digenggam. "Waah, maninya Lud mulai keluar. CD-ku sampai basah dan lengket, jadi tak nikmat dipakai. Mungkin rokku juga basah belakangnya."
Ternyata betul—bagian bawah vaginanya basah. Karena Lud sudah hampir check-in, kami berdua langsung pamit pulang setelah dikecup bibirnya oleh Lud.
Kami segera menuju mobil dan jok tempat istriku duduk dilembari kertas koran. Hampir sampai di rumah, istriku mengeluh lagi, "Aduh, Pi, maninya keluar lagi, rasanya basah dan lengket semua pahaku. Cepat, Pi!" Kukebut terus dan sampai di rumah, kuparkir di tepi jalan, istriku turun lalu menekan bel. Setelah dibuka oleh pembantu, istriku segera masuk ke kamar utama dan masuk ke kamar mandi dalam tanpa menutup pintunya.
Karena anakku sedang tidur di kamarnya, aku langsung masuk ke kamar utama. Kulihat istriku sedang melepas rok mininya lalu duduk di closet.
Melihat aku datang, istriku bilang, "Papi sini, lho. Lihat, Pi, pahaku kena cendol maninya Lud dan itu keluar terus banyak." Kulihat paha istriku dan bulu kemaluannya basah kena mani, dan dari lubang vaginanya jatuh mani Lud seperti cendol. Melihat itu aku malah jadi nafsu—penisku tegang. Terpaksa aku melepas semua pakaianku.
"Papi pasti tegang toch kalau lihat vaginaku belepotan mani begini," kata istriku sambil memegang penisku.
Lalu kutarik lepas kaos istriku. "BH-nya jangan dulu ya supaya Papi lebih terangsang kalau Papi mainan payudara Mami," kata istriku.
Istriku lalu bercerita kalau tadi malam sampai pagi dia disemprot mani Lud sampai tujuh kali—jam delapan malam saat bareng dengan saya, jam sebelas malam saat main waktu saya nonton TV, jam satu tengah malam saat main di kamar saya, jam tiga dini hari waktu penis Lud tegang sendiri, jam enam pagi setelah saya nyemprot ke mulutnya, jam delapan pagi saat di dalam kamar mandi, dan jam sepuluh pagi waktu mau pulang.
"Hebatnya Lud itu, sejak dari awal sampai yang terakhir semprotannya keras terus, kental, hangat, dan banyaknya sama. Maka dari itu rasanya penuh dalam perutku tadi sampai suatu saat kutekan perutku dan mulai keluar terus maninya," kata istriku.
"Mi, kalau sudah habis, cuci dulu vaginanya. Aku sudah nggak tahan nih."
Istriku buru-buru mencucinya dan mengeringkan dengan handuk, lalu kuangkat dia dan kuletakkan di atas tempat tidur. Tanpa tunggu macam-macam, aku segera menaiki istriku dan kutancapkan penisku ke vaginanya.
"Wah, Mi, vaginamu masih seret juga buat penisku. Kukira jadi longgar setelah kemasukan penis gedenya Lud," kataku.
Istriku lalu bercerita, "Waktu penis Lud ditanam semalam suntuk dalam vaginaku, begitu mulai kurang tegangnya, vaginaku kumulai renggangkan sehingga sampai kepalanya saja yang nyantol di bibir vaginaku, dengan maksud supaya liangnya jangan sampai longgar. Apalagi Lud selalu pakai cincin bulu kuda itu—kalau di dalam banget geli rasanya kalau goyang sedikit; kalau di luar kurang geli sebab yang kena cuma bibir vagina saja. Kalau mainnya Papi dan Lud sama saja, hanya Lud kalau sudah nafsu banget agak kasar mainnya, beda dengan Papi yang tetap semangat tapi mesra. Hanya punya Papi kalah besar dan panjangnya saja, tapi Mami mau belikan alat yang bisa memperbesar dan memperpanjang penis; tiap pagi nanti Mami yang melakukannya supaya punya Papi bisa jadi panjang dan besar. Memang saat Lud mau menyemprot, Mami selalu tekan pantat Mami ke atas supaya penisnya bisa amblas masuk semua, sebab kalau nyemprotnya di dalam rasanya hangat, nikmat, dan nikmat. Punya Papi kalau nyemprotnya keras dan kebetulan maninya agak encer juga bisa langsung kena mulut rahimku, jadi hangatnya nikmat, Pi."
"Pi, ini lho—selain leher, buah dadaku juga dicupang oleh Lud. Tapi nanti Mami gosok dengan minyak kayu putih supaya cepat hilang," kata istriku sambil memperlihatkan buah dadanya yang dicupang.
Mendengar cerita istriku itu aku semakin menggebu, mengangkat-turunkan pantat, dan segera membuka hak BH istriku yang terletak di bagian depan hingga buah dadanya yang semakin kencang itu tak tertutup lagi. Yang sebelah kuremas dan yang sebelah kukecupi serta kugigit-gigit putingnya.
"Aduuh, Pi, nikmat banget, Pi. Aku sudah kangen dengan penisnya Papi sejak Papi minta tadi malam. Masih seret ya, Pi? Aku masih merasakan seret gesekan penisnya Papi. Pi, mau keluar ya? Kok sudah anget banget penisnya?" tanya istriku.
Benar juga—tak lama lagi, "Creet... creet"—maniku menyemprot. "Waah, maninya Papi nyemprot ke dalam, sebab semprotannya keras tapi agak encer. Bisa jadi satu dengan punya Lud nih!" kata istriku.
Karena capai, kami berdua tiduran dan akhirnya tertidur.
TAMAT