Aku Nikmati Istriku Digauli Orang
Aku Nikmati Istriku Digauli Orang
Sesudah kami menikah lebih dari 15 tahun, aku merasakan adanya ketidakpuasan istriku dalam hal hubungan seks kami selama ini. Beberapa bulan terakhir ini apabila kami berhubungan, khususnya saat-saat gairahnya naik dan dia menjelang orgasme, dia selalu mengerang dan mendesahkan kata-kata:
"Gede-in dong, Mas, ayoo, gede-in lagi, Mas... Ayyoo. Mas, aku pengin lebih gede lagii..."
Dan aku mesti tanggap akan desahan macam itu. Hal itu terutama karena aku maupun istriku sama-sama meyakini bahwa desahannya itu tak mungkin bisa kupenuhi. Penisku yang — yah, sedang-sedang saja — mungkin jauh dari khayalan kami berdua, yang selama ini juga termasuk senang menonton BF baik lewat VCD maupun internet.
Kita semua tahu tontonan fantasi itu banyak memicu libido, yang memang sering kami perlukan untuk mencari variasi dalam hubungan seks kami. Dan di sana kita menyaksikan betapa para pemerannya yang cantik dan tampan, plus perlengkapan yang menempel sebagai bagian tubuh mereka — penis, buah dada, pantat — maupun yang buatan seperti dildo dan sebagainya, ukurannya sungguh ideal, fantastis.
Dan itulah yang akhirnya menjadi obsesi kami, termasuk yang tersalur dalam desahan istriku tadi. Suatu malam ketika kami sedang asyik masyuk dan berada di ambang puncak-puncak gairah birahi, kudengar kembali desahan itu:
"Mas, gede-in dongg... ayyoo, Mass... Gedeinn... aku pengin yang gedeeii... Mass..."
Ah, Surti... benarkah ucapanmu itu? Benarkah keinginan kamu itu? Aku setengah bertanya dalam bisu. Aku tidak berani bertanya secara langsung.
Aku belum tahu akan risikonya apabila dia benar-benar menginginkan hal itu. Aku juga takut kalau dia benar-benar menginginkannya dan aku tidak mempedulikannya. Aku merinding dan gemetar kalau membayangkan dia sendiri yang mencari jalan di luar pengetahuanku. Aku sangat takut dia selingkuh. Aku sangat mencintainya. Aku percaya, kalau dia mau, dengan gampang dia bisa mendapatkan lelaki macam apa pun yang dia inginkan. Kecantikan dan sensualitasnya akan dengan cepat membuat setiap lelaki siap memuaskan syahwatnya.
Aku sangat menderita apabila memikirkan semuanya itu. Aku demikian gelisah dan gundah hingga sering terbawa dalam mimpi-mimpiku. Hanya pada mimpiku terakhir beberapa malam yang lalu — dari tidurku yang sama sekali sulit untuk nyaman — aku mendapatkan perasaan yang aneh.
Sepertinya aku sedang menyaksikan istriku digauli dan berhubungan seks dengan seorang pria yang sangat tampan. Yang aneh adalah aku merasakan birahi saat menonton Surti yang berteriak histeris dilanda nikmat syahwatnya. Sayang aku terbangun sebelum mimpiku selesai. Penisku ngaceng dan birahiku yang masih menyala-nyala mendesak untuk diselesaikan. Pagi itu aku melakukan onani dengan mengingat-ingat bagaimana istriku dengan penuh nafsu secara aktif meladeni segala kemauan pasangannya sebagaimana yang kusaksikan dalam mimpiku. Aku merasakan kepuasan yang amat sangat saat spermaku muncrat-muncrat.
Yaa, aku merasakan kepuasan syahwat yang luar biasa dengan mengingat gambaran istriku digauli orang lain. Sejak saat itu, aku sering onani dengan membayangkan istriku Surti digauli lelaki lain.
Pada suatu hari saat aku beranjak pulang dari kantor, dalam kebosananku aku iseng membeli "koran got". Aku suka sebut demikian karena isinya memang pantas untuk dicemplungkan ke got saja: penuh berita kriminal, kecelakaan yang serem-serem, cerita hantu, atau penyelewengan suami istri yang diungkapkan secara vulgar. Tetapi koran itu sangat laris. Pembacanya adalah masyarakat kelas bawah yang memang haus hiburan, seperti tukang ojek, supir metromini, atau pedagang K-5.
Singkat cerita, sesudah membaca headline-nya aku langsung membuka-buka halaman bergambar untuk sekadar pelipur lara, dan tak kulewatkan pula larik-larik iklan mini.
Pada kelompok iklan panti pijat aku membaca sederet iklan. Ternyata banyak informasi yang membuat libido bergoyang. Antara lain: "Panti Surgawi, buka 24 jam, sedia pemijat cantik dan ganteng. Hubungi no. HP xx8907." Kemudian: "Pijat Gairah untuk suami istri, ditanggung memuaskan, hubungi 021-8877xx." Dari sekian iklan itu tiba-tiba ada satu yang menarik bagiku, bunyinya begini: "Pijat Sehat, hubungi Pria, Ramon, usia 28 tahun, turunan Arab, tinggi 175 cm, berat 65 kg, tampan, berkumis dan bulu dada, size 18/5, ditanggung memuaskan. Bisa dipanggil ke rumah atau hotel. Hubungi 24 jam, HP no. 0818xx."
Ah, aku langsung ingat istriku. Aku mau tunjukkan padanya iklan macam itu. Aku pengin tahu, adakah memang itu yang dia butuhkan. Tapi aku tetap harus hati-hati agar tidak menyinggung perasaannya. Cari timing-lah.
Tadi malam aku kembali mendengar desahan itu. Saat-saat aku berkonsentrasi melepas spermaku, dia kembali:
"Gede-in Mas, ayoo... gede-in dulu Mas... Yang gede yang enak, Mas..."
Bagaimana mungkin? Dan aku terus saja mengayunkan kemaluanku yang pas-pasan ukurannya ini hingga spermaku tumpah ke liang vaginanya.
Tetapi kali ini ada yang aku cemaskan.
Kali ini dia — Surti istriku — mengakhiri hubungan seks tanpa mendapatkan orgasme sama sekali. Aku tahu itu. Aku tahu apabila dia mendapatkannya, dia akan menunjukkan luapan emosi syahwat yang nyata sekali. Tetapi kali ini tidak. Dan itu nampak membuatnya kecewa dan menderita. Akhirnya kami tidak bisa tidur hingga larut malam. Pada kesempatan itulah aku tunjukkan padanya koran yang kubeli dan kusimpan untuknya.
"Bagaimana, Ma, kalau itu kita coba saja? Mama percaya nggak ada iklan ini?"
Istriku ini sesungguhnya sangat pemalu, termasuk di depan aku suaminya. Walaupun dia membaca iklan itu, dia tidak akan menjawab tawaran macam ini. Dan akulah yang harus mengerti sendiri jawabannya. Ada satu hal lagi yang rasanya kini justru datang dari aku sendiri: kebiasaanku onani dengan membayangkan lelaki lain menyetubuhi istriku Surti telah mendorong syahwatku untuk melihat kejadian itu secara nyata.
Aku ingin mimpi-mimpiku itu menjadi kenyataan. Duhh... gigiku gemelutuk, menggigil dan gemetar membayangkan apa yang mungkin akan terjadi.
Aku jumpa istriku saat sama-sama kuliah di UKI. Dia adalah yuniorku dengan selisih tiga tahun kuliah. Surti, demikian panggilannya, memiliki postur tubuh yang langsing dan getas. Dengan warna kulit coklat kekuningan, dia masih termasuk berdarah biru. Kecantikannya dikenal di seputar kampus. Dari sekian pesaing, akulah yang beruntung memenangkan hatinya dan mengajaknya ke pelaminan.
Orang tuanya masih ada hubungan sebagai cucu raja Jawa, entah dari permaisuri atau selir yang ke sekian. Dengan tinggi 167 cm dan berat 55 kg, dia nampak sangat sportif dan lincah. Sepintas posturnya mengingatkan pada figur Dyah Permatasari, bintang sinetron itu. Dua orang anak hasil perkawinan kami dibesarkan di Solo sesuai dengan keinginan mertua kami agar lebih mengenal tradisi dan budayanya.
Di Jakarta kami masing-masing punya kegiatan dan bekerja. Kami memiliki kecukupan materi dan lingkungan sosial yang baik. Kami sama-sama sepakat bersikap demokratis dan liberal dalam memandang liku-liku kehidupan ini. Kami terbiasa berpikir positif dalam banyak hal. Dalam hal hubungan seks, saat ini kami lakukan sebagai penyaluran kebutuhan biologis semata, dan itu kami lakukan dengan semangat rekreasi penuh kesenangan.
Dan untuk masalah iklan tadi, kini aku tidak akan tanya untuk yang kedua kali. Aku cukup melihat cahaya di matanya. Aku tahu aku harus mengambil inisiatif. Artinya dia mempercayakannya padaku, dan aku bertanggung jawab atas apa pun risiko yang akan dihadapi. Saat itu pula, jam 23.35 WIB, tanpa mengambil risiko memakai nomor telepon rumah, aku putar nomor HP-nya melalui HP-ku.
Sesaat kemudian ada jawaban. Ternyata aku berhadapan dengan mesin perekam yang meminta agar aku meninggalkan pesan. Aku lakukan dengan cukup mengatakan, "Hubungi kami segera."
Ternyata tidak sampai 10 menit HP-ku bergetar. Aku memandang istriku, tetapi dia nampak acuh saja. Kuraih HP dan kubuka, "Halo."
Benar, aku berbicara dengan Ramon. Dia minta maaf tidak segera membuka HP-nya karena kebetulan sedang membereskan buku-bukunya. Dia ceritakan bahwa saat ini sedang melanjutkan kuliah untuk meraih S2-nya — dia seorang arsitek yang memerlukan dana untuk kelanjutan kuliahnya. Dia menyerahkan padaku di mana dan kapan kami sama-sama jumpa. Dan dia sangat tahu problem macam kami. Dia akan berusaha sebisanya untuk menolong kami, katanya. Kedengarannya santun dan intelek sekali. Benarkah?
Aku ceritakan pembicaraanku dengan Ramon pada istriku. Dia tetap saja menunjukkan keacuhannya — tidak menolak dan tidak mengiyakan. Mungkin dia malu untuk menunjukkan girangnya, siapa tahu.
Aku berjanji besok untuk mendapatkan konfirmasi tempat yang paling nyaman dan aman. Kami tidak ingin hal macam ini bertemu dengan orang-orang yang kami kenali.
Hotel IBS, Kamar 534 & 535
Sesudah berpikir-pikir dan berputar-putar, akhirnya aku memilih yang paling aman dan nyaman: Hotel IBS berbintang empat yang terletak di seberang perempatan Manggala Wana Bhakti. Hotel itu merupakan grup hotel internasional yang tersebar di seluruh dunia.
Di Jakarta mungkin ada tiga atau empat hotel dari grup dan nama yang sama. Sesudah konfirmasi dengan istriku apakah oke atau tidak, kemudian dengan Ramon untuk menetapkan waktu dan tempatnya, aku pastikan untuk memesan dua kamar connecting door dengan nomor 534 dan 535. Ini sebetulnya permintaan istriku, yang akhirnya keluar juga omongannya; alasannya akan dia ceritakan saat ketemu sore nanti.
Dengan cara yang rasional dan praktis, aku dan istriku sepakat ketemu di restoran hotel jam 19.00. Kupikir ada baiknya si Ramon juga kami temui dulu di sana. Jadi kami sama-sama makan malam sekalian.
Ternyata aku dan Ramon datang lebih dulu. Istriku datang belakangan karena terjebak macet dari kantornya di Jalan Sudirman. Sementara menunggu, aku sempat sedikit memberikan perkenalan kepada Ramon bagaimana kami sebagai suami istri. Aku tidak tahu apakah hal ini ada gunanya. Yang lebih penting lagi, ternyata Ramon ini orangnya sangat tampan dan nampak cerdasnya.
Dari ceritanya yang tidak terlampau banyak, aku tahu bagaimana dia memandang hidup ini juga dengan cara yang pragmatis dan positif saja — tidak begitu berbeda dengan kami. Mengenai usia istriku yang hampir 38 tahun, lebih tua sepuluh tahun darinya, bagi Ramon tidak masalah.
Mengenai hal-hal yang berkaitan dengan jasa untuk Ramon, tidak ada masalah. Dia akan tidur menemani istriku hingga besok pagi. Dan sesuai dengan yang tersebut dalam iklannya, dia juga menawarkan padaku kemungkinan untuk threesome, bersama bertiga dalam satu ranjang. Jawabanku adalah: untuk yang pertama ini, biarlah aku menyaksikan saja dari balik pintu kamar sebelahnya.
Nampak istriku di ambang pintu restoran mencari kami, kemudian melangkah masuk. Duh, cantik benar Surtiku ini. Mungkin dia mampir ke salon dulu sebelum ke sini. Lantai granit restoran yang mengkilat itu membuat bayangan tubuhnya bak peragawati yang sedang melangkah di catwalk-nya. Dia benar-benar bidadari.
Dan sesaat sesudah istriku datang dan duduk, sambil bersalaman kenalan, Ramon dengan spontan dan penuh kekaguman membisikkan padanya bahwa "Jeng Surti" amatlah cantik. Hal ini menjadi sangat penting dalam perjalanan petualangan ini selanjutnya.
Sikap istriku langsung cair, ditunjukkan dengan senyumannya yang sangat menawan. Panggilan "jeng" yang lekat dengan budaya Solo itu membuatnya langsung akrab dengan Ramon. Ramon ini sangat paham psikologi orang rupanya. Tentu saja, walaupun kobaran cemburuku menyala, hatiku gembira melihat perkembangan yang terjadi.
Syahwatku mengaliri urat-urat darahku. Kini aku sangat ingin selekasnya menyaksikan bagaimana istriku ini digauli orang lain. Aku pengin melihat bagaimana dia menerima kenikmatan syahwat yang akan diberikan Ramon padanya. Aku pengin lihat bagaimana wajahnya terhanyut dalam ayunan gairah libido bukan bersamaku, suaminya. Dan aku pengin lihat bagaimana istriku menikmati kemaluan Ramon yang gede itu. Ahh, rasanya celana dalamku menyesak.
Bersambung...