Aku Nikmati Istriku Digauli Orang - Bagian 4
Aku Nikmati Istriku Digauli Orang - Bagian 4
Adegan berikutnya adalah Surti yang menarik tubuh Ramon untuk menindih tubuhnya. Kembali kedua bibir mereka berpagutan. Tangan Ramon memainkan jari-jarinya pada klitoris istriku sesaat, untuk kemudian merogohi lubang vaginanya.
Bokong Surti naik turun menjemput jari-jari Ramon agar menusuki lebih dalam lagi.
Surti mengeluarkan jeritan kecil dan desahan, "Acchh... nggak tahaann... ayoo, Mas, aku tak tahan lagii..." sambil pantatnya terus naik turun.
Tahu bahwa sudah saatnya senjata utamanya dilepaskan, Ramon bergerak mendaki tubuh Surti. Surti secara refleks merentangkan paha kiri dan mengangkat paha kanan ke bahunya.
Kini saatnya kusaksikan detik-detik kerinduan istriku Surti — akan penis gede yang menembusi vaginanya — kesampaian.
Tangan Ramon meraih kemaluannya yang gede panjang itu dan mengarahkannya tepat pada lubang vagina Surti yang telah siap menerimanya. Dieluskannya kepala penisnya pada celah vagina itu untuk mendapatkan cairan pelumas. Dan kemudian... mulai nampak ada dorongan... dan dorongan... dan sekali lagi dorongan... dan blezz... blezz...
Istriku menyeringai tetapi sama sekali tidak kehilangan keayuannya. Dia tidak menunjukkan semacam rasa was-was — justru dia nampak sangat menantikan saat-saat ini. Penis sebesar itu mungkin akan menyobek vaginanya. Sesaat dia nampak kesakitan. Yaa, dia kesakitan.
Aku juga agak panik menyaksikannya.
Surti menjerit, mengaduh, minta ampuun... ampuunn...
Tetapi dorongan Ramon tak pernah terhentikan, hingga akhirnya batang yang gede dan keras sepanjang 20 cm itu masuk amblas ke lubang vagina istriku. Bukan main. Aku sempat menyaksikan bagaimana bibir vagina Surti melesak terbawa masuk saat penis Ramon menembus masuk.
Dengan tangannya Ramon merangkul paha istriku, bibirnya menciumi kaki Surti, dan mulai memompa. Penisnya berayun keluar masuk menembusi vagina. "Ohh... yaacchh... yeezz..."
Vagina Surti mencengkeram dengan kuat setiap tusukan dan tarikan penis Ramon, akibatnya bibir vagina itu nampak terbawa keluar masuk mengikuti irama tarikan dan tusukan.
Semakin banyak Ramon memompa, semakin naik gelinjang syahwat Surti. Kini nampak kepala Surti menggeleng ke kanan dan ke kiri menahan kenikmatan.
Aku sangat tahu — selama 15 tahun ini aku tidak pernah mampu memberikan kenikmatan sebesar itu.
Surti sendiri merasakan hal yang sangat dahsyat. Dinding kemaluannya menjadi demikian mengetat. Rasanya saraf-saraf erotiknya menciptakan jaring yang saling kompak untuk menjepit batangan penis Ramon. Dan hasilnya, bagi Ramon maupun Surti, adalah rasa yang sangat legit.
Dalam mengayun atau memompa, Ramon memiliki sense yang hebat. Terkadang pelan dan pelan sekali, kemudian cepat dan cepat sekali. Permainan yang silih berganti ini memberikan sensasi erotik pada syahwat Surti. Dan akibatnya ada semacam rasa haus yang melandanya — inilah yang disebut kehausan erotik.
Efek kehausan erotik itu membuat Surti limbung dan memerlukan media untuk penyaluran: meremas kain sprei, mencakari lawan seksualnya, atau menggigit bantal. Ramon tahu apa yang saat ini menyerang Surti. Dengan cepat diulurkan jari-jari tangannya ke mulut Surti. Dan benar — dengan cepat mulut Surti mengulum dan mengemuti jari-jari dan jempol Ramon. Macam anak orok yang menangis dan diam saat diberi dot, Surti menjadi lebih tenang walaupun terus merintih dan berdesah.
Sejenak kemudian Ramon mencabut penisnya dari kemaluan istriku, lalu menurunkan kaki dari pundaknya. Dia mengubah posisi: ditariknya tubuh Surti ke tepian kasur, kemudian kembali mengangkat tungkai kaki Surti, kali ini keduanya, ke bahunya. Dengan posisi ini penis Ramon kembali menembusi vagina istriku secara lebih melesak ke dalam lagi. Dan saat pertama kemaluan itu masuk, istriku sempat menjerit — mungkin karena kemaluan panjang itu langsung menyentuh G-spot-nya.
Kemudian kulihat Ramon kembali mengayun dan memompa secara ritmis. Surti mengimbangi pompaan Ramon dengan goyangan dan geliat pinggulnya.
Sungguh keduanya nampak serasi dalam kerja sama mengayuh samudra nikmat yang bertara itu. Tiba-tiba Surti bergerak agresif. Dia bangkit dari kasur dan menarik lengan Ramon agar dia ganti yang telentang.
Surti naik menindih tubuh Ramon. Dengan duduk mengangkangi, dia meraih kemaluan Ramon dan mengarahkannya memasuki vaginanya. Dan blezz — batang 20 cm itu langsung tenggelam dalam jepitan ketat vagina Surti.
Kini Surtilah yang bergerak seperti memompa. Gerakannya persis seperti orang mencuci di penggilesan: kalau tukang cuci mendorong tangannya maju mundur untuk menggilas pakaian, Surti mendorong dan menarik pantatnya untuk menarik-dorong vaginanya menggilas kemaluan Ramon.
Dengan cara itu kemaluan Ramon langsung menyodoki G-spot Surti. Perubahan posisi ini rupanya merupakan obsesi Surti dalam upaya menikmati secara maksimal penis Ramon. Aku yang menyaksikannya dari arah belakang melihat bagaimana bibir vagina Surti nampak ketat sesak keluar masuk mengikuti keluar masuknya penis sebesar itu.
Dengan tambahan inisiatif Ramon yang menggoyang naik turun pantatnya, sempurnalah harapan Surti dalam mengarungi samudra nikmat itu. Nampak keduanya saling berpacu mengejar puncak-puncak syahwat masing-masing.
Dan kembali kulihat Surti berada di ambang orgasmenya. Dia mengayunkan kepalanya ke depan dan ke belakang, ke kanan dan ke kiri, sehingga rambutnya yang panjang itu terlempar ke sana sini seperti rambut penyanyi rock yang sedang kesetanan.
Keringatnya nampak mengalir dalam dinginnya AC kamar. Surti benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggapai kepuasannya. Bermenit-menit telah lewat, gerakan mereka tidak nampak mengendor. Aku yakin Surti mendapatkan multi-orgasme — mungkin orgasme beruntun yang sangat panjang. Dan dia belum akan berhenti.
Berikutnya kembali Ramon yang mengambil peranan. Dipeluknya Surti, dipagut tengkuknya. Ramon menggeser tubuhnya ke arah punggung Surti. Dia mendorong Surti hingga merangkak. Ramon mengasongkan penisnya menembusi kemaluan Surti dari arah belakang — gaya anjing kawin, itulah yang mereka lakoni sekarang.
Dan Ramon kembali memompa dari arah belakang. Surti kembali melempar-lemparkan rambutnya yang panjang itu. Duhh, betapa cantiknya...
Dalam telanjang dan mengkilat oleh keringatnya, Surti menggeliat dan memaling-malingkan mukanya, mengantuk-antukkan kepala dan melemparkan rambutnya ke depan dan ke belakang. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mendebarkan dan amat erotis. Hingga akhirnya Ramonlah yang kewalahan.
Dia mempercepat pompaannya dan berteriak ke Surti, "Acchh... Surtii... akuu mauu keluarr..."
Dan yang kemudian aku saksikan sama sekali di luar perkiraanku. Dan itu sangat memukul harga diriku.
Teriakan Ramon itu disertai dengan menjambak rambut istriku, kemudian seakan memaksanya rebah telentang ke kasur. Dengan sigap Ramon bergerak mengangkangi Surti dengan tetap menjambak rambutnya, menekan kepalanya ke kasur, dan mengasongkan penisnya yang nampak berurat-urat itu ke mulut istriku.
Semula aku pikir Surti pasti akan menghindar dan menolak. Aku tahu persis dia sangat geli — atau jijik — untuk cara macam itu. Tetapi apa yang terjadi? Dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan.
Bahkan saat ujung penis Ramon menyentuh bibirnya, bibirnya langsung terbuka. Lidahnya menjulur-julur siap menerima apa yang akan tumpah ke mulutnya. Matanya nanar mengamati seluruh sosok Ramon — mata yang haus dalam penantian.
Dan dengan suara seperti teriakan kemenangan gorila jantan, Ramon memuntahkan spermanya ke mulut Surti istriku. Sesaat istriku gelagapan dan cairan sperma meleleh keluar dari mulut mungilnya.
Berkali-kali batang penis itu mengangguk-angguk setiap kali air mani itu menyemprot. Dan istriku ternyata dengan lahapnya menerimanya. Sungguh aku tak pernah membayangkan bahwa Surti akan minum sperma. Apalagi sperma orang lain. Dia tidak pernah menunjukkan gejala suka pada hal tersebut — bahkan ketika menonton BF atau VCD, dia selalu mau muntah kalau menyaksikan adegan macam itu. Tetapi kali ini, apa yang membuatnya menjadi demikian lain?
Adakah aku yang baru tahu?
Dan ketika penis itu memuncratkan berliter-liter sperma, Surti melahapnya dengan rakus. Bahkan yang tercecer di dagu, pipi, susu, dan tangannya pun masih dia colek dan jilati. Benar-benar deh si Surtiku...
Ramon langsung telentang kecapaian. Mereka telah bekerja keras untuk kepuasan yang mereka dapatkan. Surti bangun dan mengambil minuman dingin yang disertai makanan kecil — nampaknya sebungkus cokelat. Itu akan cepat menyegarkan dan memulihkan tenaga mereka. Dia ambilkan juga untuk Ramon.
Saat itu Surti melihat ke arahku dan kemudian melangkah. Aku buru-buru loncat ke ranjang berpura-pura tidur. Dia melongok ke ranjangku sesaat, untuk kemudian balik ke ranjangnya. Aku yakin dia tidak percaya kalau aku tidur.
Dia tahu aku dan membiarkan aku bebas memilih apa mauku. Dia tidak mau menggangguku yang bisa-bisa mengganggu kenikmatan yang akan dia raih berikutnya.
Beberapa saat kemudian kudengar kembali kecupan-kecupan lembut. Ah, mereka telah meraih staminanya kembali. Babak-babak lanjutan akan kembali berlangsung. Sesudah aku juga ikut minum dan makan cokelat, aku kembali ke connecting door untuk menyaksikan babak-babak lanjutan itu.
Malam itu mereka bergelut hingga menjelang pagi. Entah berapa kali mereka melakukan persetubuhan. Kulihat Surti berbelas kali meraih orgasmenya. Dia menemukan pengalaman yang orang sebut multi-orgasme atau orgasme beruntun. Dia benar-benar bak kuda liar atau cheetah yang lapar.
Dan yang lebih aku herankan adalah Ramon yang tetap saja tegak dan tegar melayani istriku di ranjang penuh nafsu itu. Bagaimana kemaluannya tetap saja tegak dan berkilat-kilat untuk terus memberikan kesempatan pada istriku meraih kepuasannya?
Aku sendiri sudah roboh kehabisan sperma. Aku melakukan berkali-kali onani sambil menyaksikan persetubuhan istriku dengan lelaki itu. Batang dan ujung kemaluanku kini berasa sangat pedih dan panas. Aku tidak tahan lagi menyaksikan mereka hingga usai. Aku rebah ke ranjang walaupun tidak tidur. Segala iri dan cemburuku pupus menerima kenyataan yang terus berlanjut.
Istriku belum bangun saat Ramon muncul di kamarku dalam keadaan sudah berpakaian rapi. Dia minta maaf untuk pergi lebih awal. Dia bilang istriku pasti sangat lelah dan membiarkannya tetap tidur. Aku memahami. Kusodorkan amplop imbalan jasa padanya.
"Kamu hebat. Apa resepnya?" tanyaku, yang hanya dijawab dengan senyuman sambil menerima amplopku.
Saat di ambang pintu dia berbalik dan berbisik padaku: nafsu syahwat istriku sangat besar. Jangan heran atau kaget kalau istriku akan minta lagi kenikmatan yang dia dapatkan seperti semalaman ini — mungkin akan berlangsung hingga beberapa bulan mendatang.
Ah, gayanya macam konsultan psikolog saja. Dia juga berpesan agar sebaiknya jangan lagi memanggilnya untuk menghindari tumbuhnya kontak batin yang bisa berkembang menjadi saling terikat. Dia juga menawarkan padaku: kalau diperlukan, dia bisa memberikan beberapa alamat pria yang memberikan jasa macam dia.
"Jangan khawatir. Mereka adalah orang-orang yang sehat, santun, dan rata-rata cukup terpelajar," katanya seperti sedang mempromosikan usahanya.
Istriku baru bangun jam 8 pagi. Dia bilang lapar dan minta aku untuk memesan makanan ke room service. Kami tidak banyak bicara pagi itu. Aku sendiri berlagak everything is OK.
Sesudah mandi dan makan, kami keluar dari hotel. Surti langsung jalan ke kantornya.
Ah, Jakarta terus bergulir dalam keriuhan paginya. Kemacetan jalan-jalan nampak menelan seluruh jalanan metropolitan ini.
Segalanya berlangsung sebagaimana hari-hari yang lain. Segala luka dan duka seakan terhapus dalam keriuhan ini.
Di kantor aku langsung tenggelam dalam tugas rutinku. Saat jam makan siang istriku menelepon, "Sudah makan, Mas? Makan apa? Enak?" — demikianlah seakan tak ada yang istimewa telah terjadi.
Yah, memang. Bagi metropolitan Jakarta, tak banyak yang istimewa terjadi.
Kini yang sering datang dalam benakku adalah bisikan Ramon saat di ambang pintu hotel itu: agar tidak heran atau kaget kalau istriku akan minta lagi kenikmatan yang dia dapatkan seperti semalaman itu.
Akan halnya aku sendiri, mungkin mengalami semacam metamorfosis. Rasanya kini aku berubah untuk lebih bisa menerima kenyataan. Atau lebih tepatnya: lebih bisa menikmati kenyataan.
Bahkan, diam-diam akulah yang ketagihan. Kapan lagi bisa menyaksikan Surti istriku digauli orang lain dengan penuh nikmat syahwat? Kapan lagi aku bisa mendengar rintihan atau desahannya saat menanggung derita birahi? Kapan lagi aku bisa menyaksikan bibir mungil dan lidah cantik istriku menjilat dan menciumi penis gede lelaki lain? Dan bahkan kemudian minum sperma yang muntah di mulutnya? Kapan lagi aku bisa menyaksikan bagaimana kemaluan si jelita yang sempit itu ditindas dan dilabas oleh penis sebesar milik Ramon?
Ah, kapan lagi...
TAMAT