18px

Ayah Boleh Mendapatkanku — Bagian 2

Ayah Boleh Mendapatkanku — Bagian 2

"Mana anggota keluargamu yang lainnya?" tanyaku.

"Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko perkakas untuk membeli suku cadang mesin cuci yang rusak. Dia ingin membawa serta anak kami—'perjalanan ke toko perkakas yang pertama bersama ayah', begitu katanya padaku." Mirna tersenyum.

"Apa ayah ingat pertama kali mengajak Yoyok ke toko perkakas?"

"Aku tak ingat," jawabku datar. Mirna mendekat dan menaruh tangannya melingkari leherku.

"Ini kesempatan ayah. Ayah boleh mendapatkanku jika ingin."

Mirna memandangku tepat di mata, lalu mengangkat tubuhnya dan menciumku panjang dan keras. Aku ingin mendorongnya, tapi tidak tahu harus menaruh tangan ke mana—aku tidak mau menyentuh pinggang telanjangnya, dan kalau kutaruh di dadanya pasti akan menyentuh putingnya. Di tengah kebingungan itu, aku menyadari diriku menikmati ciumannya. Sudah terlalu lama, dan lapar yang mulai tumbuh dalam diriku terasa hidup kembali. Akhirnya aku menghentikan ciuman itu, mundur, dan melepaskan tangannya dari leherku.

"Kita tidak boleh melakukannya." Kucoba menyampaikannya dengan lembut, tapi aku khawatir suaraku terdengar seperti rajukan.

"Ya, kita boleh."

Mirna kembali menaruh lengannya di leherku dan mendorong bibirnya ke arahku. Kali ini ada gairah yang lebih dalam ciumannya, dan akhirnya ada penerimaan dariku. Saat kami berhenti, napas kami sama-sama sedikit tersengal, dan aku semakin merasa bimbang. Mirna memandangku dengan binar di matanya dan senyuman di bibirnya.

"Ayah menginginkanku. Aku bisa merasakannya. Ayah tidak mendapatkan wanita setahun belakangan ini, dan tidak punya tempat untuk melampiaskannya. Dan aku menginginkan ayah. Jadi ambillah aku."

Pada sisi ini aku tidak bisa berkomentar. Aku memang menginginkannya. Tapi aku tidak bisa meniduri menantuku sendiri, bisa? Tapi aku menginginkannya. Pertahananku melemah, dan saat Mirna menciumku lagi, aku cukup terkejut menyadari diriku membalas ciumannya dengan rakus.

"Mm. Itu lebih baik," katanya saat kami berhenti untuk mengambil napas.

Mirna menarik tangannya dari leherku dan mulai melepaskan kancing celanaku sambil terus menciumku. Lalu ia mundur agar bisa melihat saat ia melepaskan kancing jeansku, menurunkan resletingnya, dan merogoh ke dalam untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut melihat itu tampak lebih besar di genggaman tangannya yang kecil. Sudah tidak tersentuh wanita selama setahun, dan bereaksi cepat—mengeras seketika saat Mirna mengocoknya dengan lembut, dengan sedikit cairan pra-ejakulasi keluar di ujungnya. Mirna mundur dan duduk pada bokongnya. Saat kepalanya turun, ia menempatkan bibirnya di pangkal penisku.

"Aku rasa aku menyukai bentuknya," bisiknya.

Lalu ia membuka mulutnya dan dengan perlahan memasukkan penisku ke dalamnya—ke dalam dan lebih dalam, masuk ke dalam kehangatan mulutnya yang lembut dan basah. Rasanya seperti berada di dalam vagina yang kenyal saat lidahnya menari di penisku. Akhirnya aku merasakan sudah sedalam yang kumampu; bibirnya menyentuh rambut kemaluanku dan kepala penisku berada entah di mana jauh di tenggorokannya.

Penisku tanpa sadar mengejang, pinggangku bergerak berlawanan arah dengannya, hampir-hampir menyetubuhi mulutnya. Tapi Mirna perlahan menjauhkan mulutnya, menimbulkan bunyi seperti sedang mengemut permen. Saat ia bangkit untuk menciumku lagi, aku mengarahkan tanganku di antara pahanya—kugosok jeansnya dan ia menggeliat karenanya.

"Mm, itu nikmat," katanya. "Tapi biar aku membuatnya lebih mudah."

Mirna melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya, memperlihatkan celana dalam katunnya yang bergambar beruang kecil. Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari tubuhnya. Kami sama-sama memandang ke bawah pada area gelap yang tersembunyi, dan kemudian aku sentuh perutnya yang kencang dan terus menurunkan celana dalamnya.

Mirna mengerang dalam kenikmatan saat tanganku mencapai sasarannya. Vaginanya terasa selembut kulit bayi—ia pasti telah mencukurnya sebelum kemari. Terasa basah dan licin oleh cairan kewanitaannya, dan aku heran bagaimana itu tidak meninggalkan bekas basah di luar jeansnya. Saat tanganku menyelinap ke balik bibir vaginanya dan menyentuh klitorisnya yang mengeras, Mirna memejamkan mata dan mendorong berlawanan arah dengan jariku.

Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan mendorong kami ke dalam ciuman intensif berikutnya saat tangannya yang lain mengocok penisku, sementara tanganku terus bergerak dalam lubangnya yang basah. Saat kami berhenti untuk bernapas, Mirna mundur dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

"Yoyok datang!"

Aku segera melepasnya dan menuju jendela. Ya, mobil Yoyok terlihat di jalan sedang menuju ke sini. Mirna pasti melihatnya melewati bahuku saat kami saling mencumbui. Tiba-tiba perasaan bersalah menyergap karena hampir ketahuan. Tidak percaya apa yang hampir saja kami lakukan, dengan tergesa-gesa aku kenakan kembali celanaku—tapi Mirna menghentikanku, menangkap tanganku, dan melanjutkan kocokannya.

"Hei, tidak semudah itu ayah boleh mengakhirinya. Aku sudah menunggu terlalu lama untuk ini."

"Tapi Yoyok hampir datang! Dia akan melihat kita!" Mirna mengeluarkan penisku dan berjalan ke arah meja dapur.

"Ini perjanjiannya," katanya. "Aku tidak akan mengadu pada Yoyok tentang apa yang baru saja kita lakukan, kalau ayah bisa mengeluarkan seluruh sperma ayah yang panas di dalam vaginaku sebelum dia sampai kemari." Sambil berkata begitu, ia menurunkan celananya hingga lutut dan membungkuk di atas meja.

"Dia segera datang!" hampir saja aku berteriak.

"Tidak." Mirna membentangkan kakinya sejauh celananya memungkinkan, lalu memandangku lewat bahunya. "Dia harus menggendong bayi dan mengeluarkan semua barangnya. Biasanya dia butuh beberapa menit. Sekarang kemari dan setubuhi aku."

Mirna telah telanjang dari pinggang hingga kaki, memohon agar aku segera masuk ke dalam tubuhnya. Aku menatap dua lubang yang mengundang. Pantatnya begitu kencang, dan aku tak terusik saat melihat lubang anusnya yang berkerut kemerahan. Di bawahnya, bibir vaginanya yang merah terlihat mengkilap basah. Tangannya bergerak ke belakang di antara pahanya dan menempatkan dua jarinya pada bibir vagina—dilebarkannya hingga terbuka, dan aku bisa melihat lubang merah mudanya mengundang penisku untuk segera masuk.

"Ayo," katanya. "Ambil aku."

Aku tidak tahu apakah ia bercanda. Yoyok atau bukan, rangsangan ini lebih dari cukup untuk meluluhkan sisa pertahananku. Aku melangkah ke belakang menantuku dan menempatkan penisku di kewanitaannya. Saat aku mendorong melewati lubang surganya yang sempit, aku merasakan jari Mirna menahannya agar tetap terbuka, dan ia melenguh saat aku memegang pinggangnya dan memasukkan penisku ke dalamnya.

Mirna sangat basah sehingga aku dengan mudah melewati vaginanya yang sempit dan muda. Aku mulai mengayunkan barangku di dalamnya—sebagian didorong oleh nafsu akan tubuhnya yang menggairahkan, sebagian oleh rasa takut jika Yoyok memergoki kami. Mirna mengerang, dan aku merasakan jarinya menggosok klitoris dan bibir vaginanya sendiri. Napasnya mulai tersengal, dan setelah beberapa goyangan, ia segera orgasme. Rintihan pelan keluar dari bibirnya saat ia mencengkeram pinggiran meja dengan kuat, letupan orgasmenya mengguncang kami berdua saat aku terus menghentaknya.

Itu sudah cukup untuk menghantarku. Aku tidak berhubungan dengan wanita dalam setahun ini, dan belum pernah mendapatkan yang sepanas Mirna. Aku menahan napas dan mendorong seluruh kelaki-lakianku ke dalam dirinya. Kami mematung, dan kemudian spermaku menyemprot dengan hebat jauh di dalamnya—rasanya seperti aku mengguyurnya dengan sperma yang panas. Ia mengerang dalam nikmat, menggetarkan pantatnya di seputar penisku saat aku mengosongkan persediaan benihku. Ia melemah seiring habisnya spermaku, dan kami akhirnya berhenti bergerak—kecuali untuk mengambil napas.

Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat berpisah, aku keluarkan diriku dengan bunyi plop yang basah, lalu mundur menjauh dan mengenakan celanaku. Mirna masih berbaring telungkup di atas meja, merasakan kehangatan sperma; pantat telanjangnya masih tetap memanggilku. Aku melihat spermaku dan cairannya mulai meleleh keluar dari vaginanya. Aku palingkan muka—Yoyok hampir sampai di pintu belakang, bayi di tangan yang satu dan belanjaan di tangan lainnya. Aku berbalik dan memohon pada Mirna.

"Ayolah!" kataku. "Kamu telah dapatkan keinginanmu. Dia hampir sampai kemari."

Mirna bangkit; tatapan matanya masih tampak linglung. Ia bergerak ke depanku, menjadikanku sebagai penghalang dari pandangan suaminya, saat ia dengan tergesa-gesa memakai celananya.

"Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?" tanya Yoyok sambil membuka pintu.

"Ya," jawabku dari balik punggungku, menunggu Mirna menaikkan resletingnya. Setelah selesai, aku segera berbalik untuk menyambut Yoyok.

"Ini," katanya, menyodorkan bayinya padaku dan meletakkan belanjaannya di atas meja dapur. "Urus ini, aku akan mengambil popok bayi." Yoyok melangkah ke pintu yang masih terbuka.

Aku menghampiri Mirna. Ia masih terlihat sedikit linglung. "Tadi hampir saja," kataku. "Mari, biar aku yang menggendongnya." Aku berikan bayinya. Mirna memberiku pemandangan seraut wajah seorang wanita yang puas sehabis bercinta, dan memberiku ciuman yang basah.

"Masih ada satu hal lagi yang harus kuketahui," katanya.

"Apa itu?"

"Kalau aku ingin lagi, bisakah aku mendapatkannya besok?"

Dan ia melenggang begitu saja tanpa menunggu jawabanku yang hanya melongo bengong. Ia yakin aku akan bersedia.

TAMAT

SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya