Berbagi Ceria di Mana Saja
Berbagi Ceria di Mana Saja
"Ly, kita ke Tretes yuk," terdengar suara Hari dari ujung telepon pada suatu siang.
"Kapan?" jawabku antusias karena sudah beberapa minggu aku tidak keluar kota — sekalian refreshing, sekalian dapat duit. Berarti tarifnya adalah tarif menginap di luar kota yang besarnya bisa dua sampai tiga kali lipat short time.
"Ntar sore kujemput ke tempat kost-mu, gimana? Kita berangkat rame-rame," kata Hari, salah seorang langgananku yang sudah seperti seorang teman meski tak pernah melupakan bisnis.
"Rame-rame? Emang dengan berapa orang?" tanyaku penasaran.
"Kita tiga orang, tapi yang satu bawa pacarnya, sedangkan satunya lagi masih kosong — dia baru datang dari Jakarta nanti jam 5 sore. Kalau kamu ada teman boleh juga diajak sekalian, tapi yang bagus dong, minimal kayak kamu lah, ha... ha... ha."
"Berarti harus lebih cantik dong. Ah nggak ah, ntar aku dicuekin. Lagian susah nyari orang yang lebih cantik dari aku," jawabku tak mau kalah.
"Oke deh, terserah kamu aja lah. Yang jelas harus cantik, seksi, tinggi, putih, dan... ah kamu tahu sendiri deh gimana maunya. Ntar aku jemput jam setengah empat, ke Juanda dulu lalu langsung ke Tretes, oke?"
"Jangan setengah empat, jam limaan gitu lho." Aku mencoba menawar karena jam dua nanti aku harus melayani tamuku di Shangri-La — takut waktunya terlalu mepet.
"Jangan, ntar terlambat, kasihan dia menunggu kelamaan di Juanda," jawabnya.
"Setengah lima deh."
"Oke, tapi carikan temanmu ya..."
"Oke, aku carikan, tapi nggak janji lho. Aku kan kurang punya teman," jawabku menyanggupi.
Beberapa teman kucoba hubungi tapi banyak yang sedang off atau ada booking-an. Aku tidak mau mencari lewat GM karena khawatir tidak tahu ceweknya dan kalau ternyata tidak cocok akan menjadi bebanku. Akhirnya aku menyerah — tak bisa mendapatkan teman. Kucoba menghubungi Hari untuk melapor tapi HP-nya sibuk, sementara aku harus segera berangkat ke Hotel Shangri-La menemui tamuku yang sudah buat appointment. Untuk sementara kulupakan Hari — masih ada waktu tiga jam sebelum dia menjemputku, waktu yang lebih dari cukup untuk sekadar short time.
Perhatianku benar-benar kucurahkan pada tamuku ini. Meskipun aku belum pernah bertemu, tapi karena dia adalah rekanan bisnis dari Koh Toni — tamu langgananku yang sedang diservisi — maka aku harus memberikan servis dan kepuasan padanya supaya tamu langgananku tidak kecewa. Koh Toni menyambutku di lobby hotel; berdua kami naik ke lantai 9 menemui rekanan bisnisnya.
Ternyata ada tiga orang di kamar itu. Satu persatu aku diperkenalkan, sementara aku sendiri tidak tahu yang mana yang harus kulayani. Sepuluh menit kami berlima di kamar itu, satu persatu mereka meninggalkan kamar hingga tinggallah aku, Koh Toni, dan rekanan bisnisnya yang bernama Tio — inilah tamuku yang sebenarnya.
"Ly, aku tinggal dulu, kamu temanin Pak Tio ya. Ntar kalau udah selesai hubungi aku di lobby," kata Koh Toni seraya meninggalkan kami berdua.
Sepeninggal Koh Toni kami berbasa-basi sebentar, lalu seperti biasa kami pun berpacu menembus batas, mengejar nafsu, menggapai kepuasan. Detail permainan tak perlu diceritakan karena ini hanyalah pembuka alur cerita. Detailnya ya seperti biasa saja, tak ada yang istimewa pada diri Pak Tio. Seperti kebanyakan tamuku: besar nafsu, tenaga kurang. Meskipun kami bermain tiga babak, aku tidak mendapatkan orgasme darinya karena masing-masing babak tidak bertahan lebih dari lima menit — jadi kurang menarik untuk diceritakan. Kuhabiskan waktu satu setengah jam menemani Pak Tio, kutinggalkan dia sendirian dengan mengantongi beberapa ratus ribu rupiah sebagai tips. Aku langsung pulang lewat pintu samping — tidak sempat menemui Koh Toni yang katanya di lobby. Seperti biasanya dia akan mentransfer pembayaran lewat rekeningku.
Di perjalanan pulang ternyata Koh Toni meneleponku.
"Kamu udah pulang kok nggak ngomong-ngomong, ada apa?" tegurnya.
"Ah, nggak ada apa-apa. Kata Pak Tio tadi nggak usah nunggu Koh Toni, jadi aku langsung pulang aja. Gimana, dia puas nggak?" jawabku memancing.
"Pak Tio puas banget sama kamu. Dia malah minta kamu temanin dia ntar malam, gimana?"
Aku terdiam sejenak — baru sekarang teringat ajakan Hari.
"Maaf, Koh, aku nggak bisa. Ntar sore mau ke Tretes sama teman-teman, biasa refreshing," tolakku halus.
"Refreshing mah bisa menyusul. Ntar aku ajak ke Bali deh — inikan ada duitnya," dia berusaha merayuku.
"Nggak bisa, Koh, ini juga bisnis," aku berusaha menolak halus.
"Sayang deh, padahal dia suka kamu lho. Sampai kapan di Tretes?"
"Entahlah, mungkin besok malam baru balik."
"Ya udah, kita lihat besok deh, apa dia masih mau," akhirnya dia menutup telepon.
Sesampai di tempat kost yang hanya 15 menit dari Shangri-La, kucoba menghubungi Hari untuk melaporkan kegagalanku mendapatkan teman, tapi HP-nya selalu sibuk. Pukul empat hari menghubungiku — dia kecewa ketika tahu aku tidak bisa mendapatkan teman untuk tamunya yang dari Jakarta.
"Wah, sekarang udah nggak ada waktu untuk hunting," jawabnya pasrah.
"Kita cari aja di sana, kan banyak," hiburku.
"Mana mau dia dengan cewek-cewek di sana, bukan seleranya," jawabnya ketus.
Aku jadi serba salah. Tentu saja aku tidak mau ribut menyalahkan dia karena HP-nya selalu sibuk waktu dihubungi; biarlah kesalahan ini kutanggung saja.
"Ya udah, kita lihat saja nanti, kali-kali dia bisa nemukan cewek yang cocok di sana. Aku jemput kamu 10 menit lagi, udah di jalan nih," katanya memutus pembicaraan.
Berempat kami berangkat menjemput kedatangan Piter di Juanda. Aku dan Hari mengendarai Mercy E320 keluaran terbaru, sementara Ivan dan Nenny, pacarnya, membawa BMW 520. Untunglah selama perjalanan ke Juanda, Hari tidak mengungkit kegagalanku mendapatkan cewek untuk Piter. Justru Hari banyak bercerita tentang Piter — rupanya mereka adalah sahabat karib sejak sekolah di California, begitu juga dengan Ivan. Mereka adalah tiga serangkai yang menjalankan bisnis keluarga masing-masing dan sukses. Di usia mereka yang relatif muda, awal tiga puluhan, sudah menjadi pengusaha sukses dan bisa berfoya-foya tanpa perlu menunggu tua. Hubungan mereka bak saudara — sepiring bahkan seranjang bersama, berbagi kesenangan dan kesusahan.
Kami tidak perlu menunggu terlalu lama di Juanda. Begitu Piter keluar dari pintu kedatangan, mereka langsung berpelukan — termasuk Nenny yang memberikan ciuman di pipinya. Kedua mobil langsung meluncur ke arah Tretes, berhenti sebentar di Restoran Dewi Sri di Pandaan untuk sekadar mengganjal perut, dan tak lupa membawa bekal karena malam nanti tidak perlu keluar vila mencari makan.
Setelah melewati pasar di depan Hotel Surya, mobil belok kanan menyusuri jalan kecil yang hanya cukup untuk satu mobil. Lima ratus meter kemudian tampak vila yang dituju — vila milik keluarga Hari. Si penjaga vila buru-buru membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali setelah kami berada di dalam; lampu-lampu yang tadi hanya temaram sekarang terang benderang. Hari membawa kami masuk menjelajahi kamar-kamar yang ada — semua ada lima kamar dengan dua kamar besar, kolam renang berbentuk oval tidak terlalu besar namun indah.
"Oke, terserah kalian pilih kamar yang mana. Yang jelas aku dan Lily ambil yang depan di sebelah kolam. Pit, kamu kamar yang tempo hari kamu pakai aja, biar Ivan dan Nenny bisa bulan madu di kamarnya bokap," kata Hari mengatur.
"Sip, gue sih kamar mana aja oke, tapi temannya ini nih gimana?" Piter mulai menanyakan.
Aku dan Hari saling berpandangan.
"Van, kita mau hunting, kamu terserah mau ikut apa nggak," kata Hari pada Ivan dan pacarnya.
"Nggak, di sini aja, lagian ada Nenny," jawab Ivan sambil meringis dicubit pacarnya.
Bertiga kami turun menuju diskotik di depan Hotel Surya. Beberapa cewek berdiri di situ menjajakan diri secara terselubung — beruntunglah aku tidak dalam grup itu, batinku. Dari satu kelompok ke kelompok lain, sepertinya Piter belum mendapatkan yang cocok dengan seleranya.
"Maumu yang gimana sih?" tanya Hari yang sudah capek berkeliling jalan kaki.
"Ya, yang kayak cewekmu itu," jawabnya ringan sambil tetap memelototi satu persatu cewek yang ada di situ.
Jarum jam menunjukkan pukul 21.00. Makin banyak cewek yang datang ke diskotik, makin banyak pilihan, tapi sepertinya belum ada yang sesuai dengan seleranya. Entah sudah berapa banyak jagung bakar dan bir hitam yang mereka teguk, dan tak terhitung batang rokok yang berceceran di bawah, tapi sang idaman tak juga kunjung didapat. Mungkin karena sudah kedinginan dan pasrah — atau karena terpaksa — akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada salah satu gadis yang ada di situ. Aku yakin dia terpaksa memilih karena sudah tidak ada pilihan lain, daripada kedinginan sendirian. Kami pun kembali ke vila dengan membawa seorang gadis.
Sesampai di vila ternyata Ivan dan Nenny sudah masuk ke kamar; sayup-sayup terdengar jeritan kenikmatan Nenny dari dalam kamar. Kami hanya tersenyum berpandangan dan langsung masuk ke kamar masing-masing. Hari ngomel memaki-maki Piter yang terlalu banyak pilihan — sudah berapa jam waktu terbuang percuma. Aku semakin merasa bersalah. Sebenarnya bisa saja Hari memintaku menemani Piter, berarti mengorbankan diri sendiri, tapi itu tidak dilakukannya.
"Kasihan Piter, dia mendapat cewek yang bukan seleranya," kataku pelan sambil melepas sweater dan jeans-ku.
"Emang sih, tapi itu di luar rencana," jawabnya tanpa menyinggung kesalahanku tadi siang.
"Har, aku usul nih, jangan marah ya, janji?" aku memberanikan diri. Dia diam menatapku tajam, lalu menganggukkan kepala.
"Piter kan jauh-jauh dari Jakarta, sedangkan kamu di Surabaya. Gimana kalau aku temanin Piter malam ini? Toh kita bisa ketemu kapan saja, anytime. Tapi itu terserah kamu sih," aku memberanikan diri, takut dia tersinggung, tidak berani menatapnya.
Hari diam memandangku makin tajam. Sepertinya ada gejolak di batinnya — entah sedang mempertimbangkan, entah marah.
"Lalu aku harus tidur sama cewek kampung itu?" dengan nada tinggi.
Aku diam saja sambil berpura-pura sibuk melepas bra-ku, menyesal mengajukan usul. Kupeluk dia dan kucium bibirnya.
"Ya udah, lupakan usulku itu sayang," kataku sambil melepas baju dan celananya. Ternyata dia sudah tidak mengenakan celana dalam. Aku langsung berlutut di depannya, kuraih kejantanannya yang lemas, kuremas dan kukocok sambil menciuminya untuk membangkitkan gairah yang terpendam sejak tadi.
Hari meremas-remas rambutku ketika aku mulai mengocok dengan mulutku. Penisnya yang tidak disunat dengan cepat keluar-masuk menerobos bibirku, apalagi ditambah gerakan pantatnya yang seakan mempercepat kocokannya. Mulutku kewalahan menerima gerakan liarnya; tetesan air liur keluar dari celah bibirku.
Kami pindah ke ranjang yang besar. Baru kusadari ternyata kamar itu begitu erotis — dikelilingi cermin di sepanjang dinding-dindingnya, begitu pula atap di atas ranjang. Aku bisa melihat pantulan bayanganku telentang pasrah di atas ranjang. Hari langsung mendatangi selangkanganku, dilepasnya celana dalam ungu transparan yang menutupi kewanitaanku — dia mencium celana dalam itu sebelum melemparnya ke lantai. Tanpa buang waktu, bibirnya segera mendarat di vaginaku, dikulumnya sambil mempermainkan lidah; klitorisku dipermainkan dengan jari tangannya. Dia menyedot seperti seorang yang kehausan; aku menjerit kaget dan nikmat. Dengan cepatnya vaginaku menjadi basah, baik karena ludahnya maupun karena cairan vaginaku sendiri.
Jari-jari tangannya ikut menjarah permukaan kewanitaanku — dua jari sudah mengocokku, diselingi permainan lidah di klitoris. Aku makin menjerit nikmat, tak kuhiraukan apakah jeritan itu terdengar dari kamar sebelah, toh mereka juga melakukan hal yang sama. Aku benar-benar dibuatnya kelojotan karena permainan tangan dan oralnya; nikmat sekali. Kuremas-remas kedua buah dadaku. Berkali-kali kutarik rambutnya untuk segera memasukkan penisnya, tapi tak digubris — sepertinya dia menikmati "siksaan"nya.
Tubuhku dibalik pada posisi menungging. Aku berharap dia segera melakukannya dengan posisi doggie, tapi kembali kurasakan tangan dan lidahnya yang menyentuh organ kenikmatanku. Jeritan makin keras ketika lidahnya menyentuh anusku — tak kusangka dia melakukan itu, meski aku sering melakukan hal yang sama padanya.
"Come on, Har, please..." desahku tak tahan menghadapi foreplay-nya. Napas sudah tersengal-sengal menahan gejolak birahi.
Aku mendekap bantal erat-erat saat kurasakan kepala penisnya mulai mengusap bibir vaginaku, bersiap mendapatkan kenikmatan darinya.
"Aauuwww... sshit!" teriakku kaget ketika tanpa aba-aba Hari langsung mendorong masuk penisnya dengan keras dan sekali dorong. Meskipun ukurannya tidak terlalu besar — alias rata-rata — dengan sodokan keras seperti itu tak urung membuatku kaget; sakit bercampur nikmat, semua beraduk menjadi satu. Dia tersenyum penuh kemenangan melihatku menggeliat karena sodokannya.
Dengan tempo tinggi dia langsung mengocok vaginaku tanpa ampun, diiringi remasan-remasan kuat di buah dadaku. Hari tidak mempedulikan jeritan, justru semakin aku menjerit semakin kuat dia menghentakkan penisnya. Berulang kali aku berusaha menahan sodokannya tapi tanganku selalu ditepisnya — sepertinya dia melampiaskan dendam yang sudah lama terpendam. Suatu permainan kasar yang tidak biasa dia lakukan. Lima menit kemudian aku sudah bisa menyesuaikan dengan irama permainannya. Kubalas setiap hentakan dengan hentakan lagi, bahkan aku menggoyang-goyangkan pantatku mengimbanginya. Tiba-tiba dia menarik penisnya dengan kasar — aku menjerit kecewa.
Dia meninggalkanku turun dari ranjang, sambil menyalakan rokok. Dikecilkannya lampu kamar hingga meredup, lalu dibukanya jendela yang menghadap ke kolam. Pemandangan kota Surabaya terlihat indah di malam hari, diiringi dinginnya udara pegunungan yang menerobos masuk ke kamar. Aku masih belum tahu apa maksudnya — menghentikan permainan yang lagi seru dan membuka jendela, memandang keluar sambil merokok. Kuselimuti tubuhku dengan selimut untuk menahan dinginnya udara malam pegunungan, kudekap Hari dari belakang.
"Kok tiba-tiba berhenti, sayang?" tanyaku manja sambil mengelus dadanya.
Dia diam, hanya menghembuskan asap rokok kuat-kuat keluar. Tubuh telanjangku kupepetkan ke punggungnya — terasa kehangatan yang mengalir. Elusanku turun ke perut dan selangkangan. Aku kaget — ternyata penisnya basah dan banyak cairan. Ketika kucium, aroma sperma yang kuat menyengat hidung. Ternyata dia menariknya keluar saat orgasme.
"Ih, curang! Begitu keluar ditarik keluar," protesku sambil menggigit ringan pundaknya.
Dia hanya tertawa terbahak-bahak. Kami kembali berpelukan di depan jendela yang terbuka. Selimut penutup tubuhku sudah jatuh ke lantai; udara dingin berubah menjadi kehangatan pelukan gairah birahi.
"Ntar dilihat orang," bisikku di sela-sela ciumannya.
"Nggak, mereka udah pergi kok. Lagian tempat ini terpencil," hiburnya meyakinkanku.
Maka kami pun kembali bercinta di depan jendela yang terbuka dengan pemandangan kelap-kelip kota Surabaya. Dinginnya angin malam tak mampu mengusir panasnya nafsu kami.
Aku tidak bisa mengingat sudah berapa kali orgasme dan berapa babak melayani buasnya nafsu Hari dengan berbagai posisi. Meskipun begitu bersemangat, kami harus menyerah pada yang namanya capek dan lapar — mungkin terlalu banyak energi yang keluar ketika kami bercinta tadi. Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan, merengkuh kenikmatan lebih lama, namun Hari sudah menyerah dan minta "time out". Terpaksa aku harus menunda keinginanku.
Akhirnya kami memutuskan untuk break dan membuka bekal yang dibungkus dari Dewi Sri tadi. Perlahan kami membuka bungkusan di temaram lampu ruang tamu yang sengaja tidak dibesarkan. Dalam waktu singkat habislah seekor ayam berpindah ke perut kami berdua, didorong setengah botol Aqua, masih menyisakan dua ekor lagi tapi kami biarkan tetap terbungkus.
Lima belas menit kami beristirahat di ruang tamu. Udara dingin mulai terasa menusuk kulit, apalagi aku hanya mengenakan kemeja tipis milik Hari tanpa dilapisi jaket — bahkan kakiku telanjang tanpa penutup, hanya kemeja Hari itulah yang menutupi tubuhku hingga ke paha. Begitu pula Hari yang hanya mengenakan celana pendek tipis. Kami pun duduk berpelukan menikmati sunyinya malam di pegunungan, diiringi suara jangkrik yang jelas terdengar — suasana begitu romantis.
Terbawa suasana, tak lama kemudian kami pun berciuman. Kuselipkan tanganku ke dalam celana Hari; dia melepas kancing kemejaku dan meremas kedua buah dadaku bergantian. Aku mendesah pelan ketika dia mengulum putingku; kuremas makin keras kejantanannya. Segera kami kembali dalam pergulatan penuh nafsu, lupa sudah di mana kami berada.
Hari duduk di sandaran sofa menerima kulumanku pada penisnya; dia mendesah perlahan, mungkin takut terdengar oleh yang lainnya. Hari berlutut di depanku, penisnya disapukan sejenak lalu menyodokku dengan keras — seperti sebelumnya. Aku hanya menggigit jariku menerima kocokan kerasnya, tidak berani bersuara. Tangannya ikut meremas dan memilin ringan putingku, membuatku semakin kepanasan; semakin keras kugigit jariku. Dia tersenyum melihat ekspresiku yang aku sendiri tidak bisa menggambarkan seperti apa, begitu bernafsu dia menggerakkan penisnya keluar-masuk vaginaku.
Kurebahkan Hari di atas sofa, langsung kubimbing penisnya memasuki liang kenikmatanku. Sama seperti yang dilakukannya padaku tadi — dengan sekali gerakan melesaklah kejantanannya mengisi rongga vaginaku dengan cepat. Dia menjerit kaget tanpa sadar; aku hanya tersenyum melihatnya. Sebelum dia sadar, kususul dengan gerakan dan goyangan pantat yang liar tidak beraturan. Aku ingin melihatnya terkapar dalam kenikmatan, seperti apa yang telah dilakukannya padaku. Lebih mengasyikkan lagi karena dia tidak berani mendesah keras. Gerakanku makin menjadi ketika dia mulai meremas-remas buah dadaku. Kami sadar bahwa permainan ini berisiko tertangkap basah, tapi kami tak peduli — hanya menjaga supaya tidak menimbulkan keributan.
Tiba-tiba lampu ruang tamu menyala terang. Kami berdua kaget; bersamaan kami menoleh ke arah pintu depan. Ternyata Piter sudah berdiri di situ, matanya tertuju pada tubuhku. Dalam keadaan kaget, kami ternyata hanya terbengong — aku masih di atas Hari dengan penis yang masih tertanam, sementara tangan Hari masih meremas buah dadaku. Celakanya, begitu tersadar bukannya segera menutupi diri tapi aku justru langsung memeluk rapat tubuh Hari, bermaksud menutupi tubuhku dari pandangan Piter. Tapi justru posisi itu makin membuat pemandangan menjadi lebih erotis.
"Wah, curang! Kalian bermain begitu hot tapi aku kamu kasih si mayat hidup," komentar Piter sambil berjalan masuk dan duduk di depan kami.
Aku yang masih di pelukan Hari jadi serba salah, apalagi Piter duduk tepat menghadap kami yang sedang telanjang berpelukan. Sepertinya dia sudah terbiasa — tidak ada rasa segan menghadapi kami yang sedang dalam keadaan begini.
"Lho, cewek kamu ke mana?" tanya Hari yang masih memelukku.
"Aku pulangin. Habis udah hitam, nggak bisa ngapa-ngapain. Untuk apa dilanjutin? Aku tadi keluar mau nyari lagi tapi rupanya nggak ada yang bagus," jawabnya sambil menyalakan rokoknya.
"Jadi kamu belum main toh?"
"Nggak ah, sayang. Mending dikasih ke cewek lain yang cocok, entah kapan, entah di mana."
Tak mungkin kami ngobrol dalam keadaan begini. Kuberanikan diri turun dari tubuh Hari dengan risiko tubuh telanjangku terlihat Piter. Meskipun aku seorang call girl yang terbiasa telanjang di depan laki-laki, belum pernah aku telanjang di hadapan orang yang tidak mem-booking-ku.
"Wow, suit suit!" celetuk Piter melihat tubuhku. Langsung kututupi dengan kemeja yang ada di lantai. Aku ingin masuk kamar tapi Hari mencegahku dan meminta duduk di sampingnya menemani ngobrol dengan Piter. Agak segan juga aku karena sudah pasti kemeja tipis itu tidak mampu menutupi postur tubuhku, apalagi selangkanganku saat duduk. Terpaksa kuturuti kemauan Hari.
Hari tetap telanjang sambil memelukku ketika berbicara dengan Piter yang mengeluhkan cewek tadi. Pada dasarnya Piter kecewa, apalagi membandingkan denganku. Ternyata dia sudah lama berada di luar dan melihat semua yang kami lakukan — bahkan sesaat dia melihat kami bercinta di depan jendela kamar yang terbuka. Kembali rasa bersalah menyelimutiku.
"Kamu nggak fair, Har. Masak teman yang jauh disuruh cari sendiri? Terang aja nggak bisa. Bilang dong kalau kamu nggak bisa nyariin, kan aku nggak perlu jauh-jauh terbang hanya untuk ketemu si mayat hidup tadi," Piter mulai protes.
Aku diam saja, begitu pula Hari — entah apa yang ada dalam benaknya, karena apa yang diucapkan Piter, meskipun bergurau, ada benarnya dan sama dengan usulku tadi. Tapi semua itu tergantung pada Hari. Hari menatapku tapi kualihkan pandanganku ke luar sambil menyalakan rokok yang ada di meja.
"Oke, sekarang maumu apa?" tanya Hari.
"Ya cariin aku cewek yang seperti dia dong, kan nggak mungkin aku minta ke Ivan."
"Malam-malam begini? Ngaco kamu," kata Hari.
"Ya udah, selamat bersenang-senang deh. Aku mau tidur aja biar besok bisa tenang kembali ke Jakarta," kata Piter seraya berdiri meninggalkan kami berdua. Sepertinya dia ngambek.
Aku dan Hari terdiam melihat sikap Piter. Semua tergantung Hari — namanya orang dibayar, aku terserah yang bayar. Lagipula dari segi fisik, umur, maupun wajah mereka tidak jauh berbeda.
"Ly, kamu keberatan nggak kalau nemenin Piter malam ini?" kata Hari dengan suara terbata-bata.
"Terserah kamu saja, Har. Toh kamu yang booking. Lagipula apa kata Piter emang ada benarnya," kataku pelan, takut membuatnya tersinggung.
"Tapi rasanya aku nggak rela melepasmu ke Piter. Kamu nggak akan puas sama dia — aku tahu betul permainannya, mana bisa dia muasin kamu dengan permainan sejam nonstop kayak tadi," bisik Hari.
"Ya terserah saja. Kalau kamu nggak rela sama sahabat sendiri ya tungguin saja biar tahu aku lagi diapain," jawabku asal karena sudah kesal. Disamping itu aku juga ingin menebus kesalahanku — tidak ada pamrih lain.
"Kamu nggak keberatan aku ikut mendampingi?" tanyanya.
"Jangan tanya aku, tanya sama Piter — mau nggak dia main ditungguin dan dipelototin gitu?"
Tanpa menjawab, Hari langsung menuju ke kamar Piter. Aku sendirian kedinginan — kembali kudengar sayup-sayup desahan Nenny dan Ivan. Tidak lama kemudian Hari kembali menggandengku menuju kamar Piter.
"Oke, dia setuju," katanya.
Kini ganti aku yang salah tingkah. Baru kusadari konsekuensi atas ucapanku tadi — belum pernah aku bercinta ditonton laki-laki lain. Kalau dilihat atau bahkan main bertiga dengan dua wanita sih sudah sering, tapi kali ini keadaannya terbalik: penontonnya adalah Hari, tamu langgananku sendiri.
Aku berhenti di depan pintu kamar Piter. Entahlah — seolah ada yang menahanku; sepertinya aku belum siap untuk bercinta di hadapan laki-laki lain. Tapi Piter menyambutku dengan senyuman kemenangan, membimbingku ke ranjang, diikuti Hari yang sudah mengenakan celana pendeknya. Hari langsung duduk di sofa di ujung kamar setelah menyalakan lampu dengan terangnya, seolah ingin melihat dengan jelas bagaimana sobatnya memuaskanku — atau ingin melihat bagaimana aku melayani laki-laki lain.
Piter langsung melucuti pakaian satu-satunya penutup tubuhku. Kini aku telanjang di hadapan dua laki-laki — belum pernah aku mengalami hal seperti ini; kembali rasa nervous menghinggapiku.
"Nah, ini baru betul! Nggak rugi dibelain terbang dari Jakarta," komentarnya sesaat melihat tubuhku yang telanjang duduk di tepi ranjang.
Dia duduk di sebelahku, dielusnya punggungku, dan celotehan pujian terucap setiap kali tangannya bergeser ke bagian lain tubuhku. Tangannya mulai menjelajahi kedua buah bukit di dada; diremasnya dengan gemas sambil menciumi pipi dan leherku. Aku menggelinjang geli. Secara refleks tanganku menjamah selangkangannya, kubuka resliting celananya dan kususupkan tanganku ke dalam — langsung masuk di balik celana dalamnya. Ada perasaan aneh ketika tanganku berhasil meraih kejantanannya: ternyata jauh lebih pendek dari punya Hari yang berukuran sedang itu, meskipun besarnya hampir sama. Mungkin segenggaman sudah hilang, padahal sudah keras menegang.
Aku menggeser tubuhku ke bawah, berlutut di antara kedua kakinya — tidak kuhiraukan dinginnya lantai kamar yang menusuk. Kulepas celananya bersamaan dengan dia melepas kaos dan jaketnya. Ketika kutarik turun celana dalamnya, mencuatlah kejantanannya hampir mengenai mukaku. Kugenggam dan kuremas-remas — begitu kecil rasanya sehingga tidak ada sisa dalam genggaman tanganku. Bisa dibayangkan sebesar pisang emas yang manis dan mungil. Tak kupedulikan ukuran penis di genggamanku; segera kucium dan kujilati penisnya. Tidak ada aroma sperma — berarti dia memang tidak sempat melakukan dengan ceweknya tadi. Kukulum dan kulumat habis hingga pangkalnya; bukan masalah besar bagiku untuk melumat penis seukuran ini.
Piter mulai mendesis saat kocokanku makin cepat. Berulang kali dia memuji permainan oralku yang menurutnya the best, apalagi ketika lidahku menyusuri seluruh daerah sensitif di selangkangannya. Ditariknya tubuhku naik; aku duduk di pangkuannya sambil beradu lidah. Tangannya menggerayang di dadaku, terus turun hingga ke vagina. Dua jari masuk tapi cepat ditariknya lagi — mungkin dia merasakan sperma Hari yang masih ada di dalam.
Dia merebahkan diri sambil menarik tubuhku dalam pelukannya, dan kami pun saling bergumul penuh nafsu di atas ranjang — bergulingan dan saling memagut. Puting dan kedua bukitku dikulum dan dilumat dengan gemas; wajahnya ditanam dan dijepitkan di antara kedua payudaraku.
Kugenggam erat dan kukocok kejantanannya, kusapukan ke bibir vaginaku — tapi dia menolak dan berdiri menuju traveling bag-nya. Rupanya dia mengambil kondom dan diserahkan padaku. Dengan gerakan mulut tanpa kesulitan, kukenakan kondom bergerigi dan berasesori itu ke penisnya. Kini dia tidak menolak saat kubimbing memasuki liang kenikmatanku. Vaginaku yang sejak sore sudah di-obok-obok penis Hari yang jauh lebih besar, kini serasa begitu mudah ditembus.
Piter menelungkupkan tubuhnya di atasku; kami saling berpelukan rapat. Bibir kami kembali saling melumat seiring gerakan pantatnya turun naik — penisnya sudah keluar-masuk vaginaku makin cepat. Kini baru terasa pengaruh gerigi dan aksesori yang begitu nikmat menggesek dinding vaginaku, apalagi ketika mutiara di pangkal kondom mengenai klitorisku, membuatku mulai mendesis nikmat. Ternyata tidak terpengaruh oleh ukuran penisnya.
Sepertinya dia tahu bagaimana bermain dengan kondomnya. Seringkali dia memasukkan dalam-dalam lalu menekan kuat kemudian menggoyang-goyangkan pantatnya — kontan saja aku mendesah nikmat tak tertahan. Tubuhku menggeliat enak saat mutiara-mutiara itu bergerak liar menggesek klitorisku; ini pengalaman baru bagiku yang belum pernah kualami. Desahanku semakin keras, terlupa sudah keberadaan Hari di pojok ruangan yang sedang menonton permainan kami. Bunyi kecipuk cairan vagina dan sperma Hari jelas terdengar saat Piter mengocokku keras. Kupeluk tubuhnya yang sudah mulai berkeringat; desahan kami saling bersahutan.
Sepintas kulihat Hari ternyata sudah telanjang, mengamati kami sambil meremas-remas penisnya — aku sudah tidak peduli lagi, toh dia sudah menyerahkanku ke Piter. Kami beralih ke posisi doggie; dia menyetubuhiku dari belakang. Kugeser tubuhku tepat menghadap Hari — tanpa kusadari secara demonstratif ingin kutunjukkan padanya beginilah caraku melayani laki-laki lain. Ternyata posisi dari belakang tidak senikmat dari depan, mungkin karena mutiara-mutiara itu tidak bisa mengenai klitorisku; semakin cepat Piter mengocokku, serasa hanya berlarian di dalam vaginaku.
Tanpa permisi, kutarik keluar penisnya, kudorong dia telentang di ranjang, aku mengambil posisi di atas. Pinggulku langsung bergoyang lincah begitu penisnya tertanam ke dalam. Dengan posisi ini aku bisa leluasa mencari sudut yang kurasakan paling nikmat — di mana mutiara-mutiara itu bisa menggesek dan bergerak liar pada klitoris.
Aku benar-benar terbuai hingga tersadar ketika kurasakan pelukan dan remasan buah dada dari belakang. Ternyata Hari sudah berada di belakangku.
"Kamu memang membuatku tak tahan, dan aku benar-benar cemburu," bisiknya sambil menciumi telinga dan tengkukku.
Gerakanku terganggu ciumannya; sesaat aku berhenti. Konsentrasiku terpecah antara Piter di bawah dan Hari di atas. Apalagi Piter tidak mau gerakanku terhenti — kini dia yang mengocokku dari bawah. Sungguh aku dibuatnya kewalahan mendapat rangsangan dari dua arah yang berbeda; tubuhku pun menggeliat tidak karuan. Meledaklah jeritan, entah jeritan kenikmatan atau kegelian — yang jelas keduanya sama enaknya.
Beberapa menit kulalui dengan segala "kerepotan" dikeroyok dua orang sekaligus yang sama-sama tidak mau mengalah. Masing-masing ingin membuktikan dialah yang terbaik; akibatnya akulah yang jadi korban ajang pembuktian mereka. Belum pernah kualami keroyokan macam ini — ternyata cukup merepotkan, apalagi ada tuntutan untuk memuaskan mereka berdua. Ini pengalaman baru bagiku.
Perlahan aku mulai bisa menyesuaikan dengan kedua rangsangan yang ada; pinggulku mulai bisa bergoyang seraya berciuman dengan Hari. Baru sekarang kurasakan sensasi yang hebat bermain bertiga. Biasanya akulah yang mengeroyok laki-laki; kini aku dikeroyok laki-laki — pengalaman pertama yang tidak pernah terlintas dalam fantasiku sekalipun. Bahkan ketika Hari beranjak ke depanku, menyodorkan kejantanannya saat aku masih di atas Piter, tanpa ragu segera kulumat dan kukulum dengan bibirku. Sensasinya sungguh luar biasa — mendapat kocokan atas bawah sekaligus; apalagi mutiara itu selalu menggesek klitoris dengan liar tanpa ampun.
Mungkin karena sensasi yang terlalu berlebihan, aku tak bisa menahan lebih lama lagi. Meledaklah teriakan orgasme tanpa bisa kubendung. Segera kukeluarkan penis Hari dari mulutku — takut tergigit tanpa sengaja — berganti dengan kocokan tangan yang cepat. Tubuhku menegang dalam remasan Piter yang justru makin meningkatkan tempo kocokannya di vagina. Hari memaksakan memasukkan penisnya kembali ke mulutku tapi aku menolak — hanya kusapukan ke wajahku.
Teriakan orgasme kembali terdengar, kali ini dari Piter. Kurasakan denyutan sangat kuat di vaginaku, membuatku pun ikut menjerit nikmat. Kuremas makin kuat penis di genggamanku. Tubuhku langsung lemas dan terkulai dalam dekapan Piter yang langsung menyambutku dengan pelukan; napas kami menyatu dalam pacuan tak berirama. Kurasakan penis Piter sudah terlepas dari liangku.
Hari yang kutinggalkan sesaat ternyata sudah bergeser di antara kaki kami. Aku menoleh protes saat kurasakan penisnya menyapu vaginaku.
"Har, please, aku istirahat dulu..." aku menghiba. Tapi dia menyodokkan penisnya sebagai jawabannya. Gila dia — masak mau menyetubuhiku dari belakang saat aku masih dalam pelukan sahabatnya.
Kembali aku terdongak merasakan penisnya menerobos masuk mengisi liang basah kenikmatanku. Terasa nikmat yang aneh setelah merasakan penis Piter. Padahal sejam yang lalu penis itu sudah mengaduk-aduk vaginaku, tapi kali ini lain rasanya. Aku diselimuti sensasi yang erotis — dalam waktu kurang semenit kurasakan dua penis yang berbeda. Biasanya ini kualami dalam kurun sekitar satu jam, tapi ini secara simultan. Aku pun mendesah dan menggeliat dalam pelukan Piter yang semakin erat mendekapku.
Aku tidak menyangka sama sekali bahwa begitu nikmat bercinta keroyokan seperti ini, meskipun membutuhkan stamina yang lebih. Pantas banyak laki-laki yang ingin dikeroyok dan diladeni dua atau lebih cewek sekaligus. Penis Hari makin dalam dan cepat menghunjam di vaginaku; aku pun tidak mau terhanyut lebih lama dalam irama permainannya. Maka kuangkat tubuhku melepaskan diri dari pelukan Piter; posisi tubuhku seperti merangkak, dan aku pun bisa mengimbangi irama kocokannya dengan ikut menggoyang-goyangkan pantatku.
Ternyata posisi tubuhku membuat Piter jadi lebih leluasa berkreasi. Buah dadaku yang bergoyang-goyang indah karena kocokan Hari langsung mendapat kuluman darinya. Aku menjerit kaget tak menyangka mendapat rangsangan sekaligus seperti ini; desahanku kembali memenuhi kamar dingin yang sudah membara terbakar nafsu kami. Berulang kali kuluman Piter terlepas saat Hari menyodokku keras, tapi dengan sabar dia meraih dan mengulumnya lagi.
Piter menggeser tubuhnya keluar dari kungkunganku, duduk selonjor — penisnya tepat di mukaku. Segera kuraih, kulepas kondomnya, dan kumasukkan ke mulutku; tidak kuhiraukan aroma sperma yang menusuk. Meskipun kocokan Hari cukup keras menghantam vaginaku, tapi dengan ukuran penis Piter yang mini aku masih bisa mempermainkannya dengan mulut dan lidahku. Konsentrasiku sudah mulai terbiasa terbagi di antara dua kenikmatan.
Terbersit kebanggaan bisa membuat dua laki-laki mengerang kenikmatan dalam waktu bersamaan. Gerakan kepala dan pantatku semakin liar — aku ingin mengendalikan permainan ini meskipun dikeroyok. Desahan kami bertiga saling bersahutan membentuk simfoni nafsu yang indah.
Hari memang tipe laki-laki penikmat seks; belum ada tanda-tanda dia segera mengakhiri. Justru Piterlah yang untuk kedua kalinya menggapai orgasme lebih dulu. Kumasukkan semua penisnya saat kulihat tanda-tanda orgasme darinya; keluarlah sperma yang tidak banyak — mungkin hanya tetesan sisa. Penisnya berdenyut lemah dalam mulutku; Piter yang tidak menyangka mendapatkan servis seperti itu berteriak kaget, apalagi saat kupermainkan lidahku di penisnya yang sedang berdenyut.
Kocokan Hari tidak berkurang apalagi berhenti; justru dia lalu memintaku telentang, dan kami pun kembali bercinta satu-satu dengan lebih bergairah meskipun sensasinya tidak mengalahkan yang dua sekaligus. Giliran Piter yang menonton kami, sambil tangannya mengusap dan meremas buah dadaku. Saat kujepit pinggang Hari dengan kedua kakiku hingga penisnya makin dalam melesak, Piter menuntun tanganku ke penisnya yang lemas lunglai — kuremas-remas sambil merasakan kocokan Hari yang makin tidak beraturan.
Aku hanya menjaga supaya tidak orgasme terlebih dahulu. Kalau ini terjadi maka seluruh ototku langsung lemas dan tidak mampu lagi melanjutkan permainan yang mengasyikkan ini. Kuingin mereguk kenikmatan lebih dari mereka berdua — terlalu sayang untuk dilewatkan dengan cepat, meskipun sebenarnya sudah cukup lama berlangsung. Sepertinya tidak ada kata puas.
Aku harus mengagumi kondisi Piter — meskipun penisnya kecil tapi begitu cepat recovery. Tak lama dalam genggamanku dia sudah bisa tegak kembali, siap tempur. Dia turun dari ranjang, mengeluarkan kondom yang bentuknya berbeda dari sebelumnya — ada seperti kepala anjing di ujung dan rambut-rambut pada pangkalnya. Dari pengalamanku, bentuk kondom memang sangat banyak variasinya; sebenarnya semuanya hanya untuk memuaskan kaum wanita. Rupanya dia sudah mempersiapkan segalanya, tinggal menunggu giliran.
Rupanya dia tidak perlu menunggu terlalu lama ketika Hari memberinya kesempatan sebelum dia orgasme. Aku tahu trik ini — pasti sudah mau orgasme makanya buru-buru mencabut keluar. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya. Penis besar berganti penis kecil berkondom unik mengisi vaginaku. Tidak kurasakan keunikannya saat Piter mendorong masuk penisnya — biasa saja. Tapi begitu semua penisnya masuk barulah kurasakan kepala anjingnya menusuk vagina dalam dan bulu-bulunya menggelitik klitoris. Ketika dia mulai mengocok, barulah kurasakan sensasi keunikan yang sesungguhnya — membuatku mendesah kelojotan dalam kenikmatan.
Hari duduk di tepi ranjang sambil mengusap-usap buah dadaku, membuatku semakin terbakar birahi, apalagi saat dia mengulum dan lidahnya menari-nari di putingku. Kuraih penisnya dan kubalas dengan remasan kuat. Piter semakin cepat menancapkan penisnya; kepala anjingnya terasa makin dalam menyundul rahimku, apalagi ketika dia menekan kuat ke selangkanganku. Antara sakit dan nikmat bercampur menjadi satu.
Hari mengganjal kepalaku dengan bantal lalu memasukkan penisnya ke mulutku yang sedang terbuka mendesah dalam nikmat; dia langsung mengocok begitu penisnya masuk ke mulutku. Kembali aku mendapat dua kocokan bersamaan dengan posisi kebalikan. Akhirnya pertahananku runtuh juga dikeroyok secara bersamaan. Meledaklah jeritan kenikmatanku; kujepit Piter dengan pahaku erat-erat dan kuremas penis Hari. Tubuhku mengejang kaku — suatu orgasme yang menjebol segala dinding pertahanan dan menerbangkan semua energi yang tersisa. Beruntung Piter menyusulku beberapa detik kemudian; kepala anjing itu serasa membesar di vaginaku. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir bawah, tidak mampu lagi meneriakkan kenikmatan yang teramat sangat.
Piter langsung mencabut penisnya begitu denyutan berakhir, melepas kondom lalu menumpahkan isinya di perutku sambil mengusapkan penisnya di selangkanganku. Masih tersisa satu penis di tanganku; tanpa menunggu lagi Hari langsung mengocok mulutku dengan cepat. Tubuhku yang berada di bawah kangkangan kakinya tidak mampu menghindar, hanya pasrah menerima. Beberapa menit kemudian aku berhasil melaksanakan tugasku — Hari menyemprotkan spermanya memenuhi mulutku. Sebagian tertelan, sebagian menetes keluar dari celah bibirku, lalu dia menyapukannya ke wajahku dengan senyum penuh kepuasan.
Kedua laki-laki itu lalu menggeletak di sampingku. Napas kami masih tersengal-sengal — baru sekarang kurasakan betapa letihnya aku. Entah sudah berapa jam mulai di kamar Hari tadi; sama sekali aku tidak menyangka mengalami pengalaman seperti ini, ternyata kenikmatannya jauh lebih mengasyikkan. Akhirnya aku pun tertidur dalam pelukan kedua laki-laki ini, membawa sejuta kenikmatan dan kenangan. Kubiarkan sperma yang ada di vagina dan tubuhku seakan tidak mau terbangun dari mimpi.
Keesokan harinya aku terbangun kesiangan. Matahari sudah tinggi; sinarnya yang menerobos jendela menyilaukan pandangan mataku yang baru terbuka. Kulihat Hari dan Piter masih tertidur di sampingku — kaki kanan Hari menumpang kakiku, sedang tangan Piter masih memelukku. Perlahan kusingkirkan dan aku beranjak ke kamar mandi.
Kehangatan air dari shower menyegarkan tubuhku, terasa segar dan mengembalikan kebugaran, mengusir semua kelelahan yang ada. Kupejamkan mata rileks — entah berapa lama aku berendam dalam bathtub. Ketika kusadari, ternyata Hari dan Piter sudah berdiri menghadapku, masih telanjang.
"Hai, kamu bikin aku kaget saja!"
"Habis kamu sepertinya asyik banget," kata Hari langsung menyusulku masuk ke bathtub, diikuti Piter. Air bathtub meluber keluar.
"Sini aku mandiin," kata Piter yang posisinya di belakangku, seraya mengambil busa dan sabun. Digosoknya punggungku sambil tangannya meraba-raba bagian dada. Hari yang posisinya berhadapan di depanku ikut meraba bagian yang sama — empat tangan menjamah kedua buah dadaku.
Kuraih penis Hari dan mengocoknya dalam hangatnya air. Ciuman Piter dari belakang menjelajah telinga, tengkuk, dan punggung — aku menggeliat geli. Hari menarikku dalam pangkuannya; sesaat kemudian penisnya sudah berada dalam hangatnya vaginaku. Air beriak keras makin meluber saat aku mulai mengocoknya; kami mulai saling mendesah. Piter keluar dari bathtub dan berdiri di sampingku, menyodorkan penisnya ke mulut. Kusambut dengan jilatan dan kuluman yang membuat kami mendesah berbarengan. Aku sangat menikmati permainan bertiga ini; makanya kukerahkan segala kemampuanku untuk meraih kenikmatan demi kenikmatan.
Piter memegang kepalaku dan mengocoknya dengan cepat sementara pantatku juga bergoyang di atas kejantanan Hari. Tak kusangka permainan bertiga di kamar mandi di pagi hari membuatku lebih cepat melayang, dan aku pun mencapai puncak kenikmatan terlebih dahulu. Kali ini tidak kukeluarkan penis Piter dari mulutku — aku hanya menahannya di dalam. Suatu percobaan apakah aku bisa menanganinya tanpa gigitan, dan aku berhasil melalui puncak dengan penis di mulut.
Hari memintaku doggie, tapi sebelum dia sempat mengambil posisi, Piter sudah mendahului memegang pantatku.
"Aku ingin merasakannya tanpa kondom sebelum kamu mencemarinya, oke?" katanya sambil menyapukan penisnya.
Aku sih terserah saja siapa yang melakukannya, tapi dengan Piter tanpa kondom uniknya, aku bisa memperkirakan berkurangnya kenikmatan — apalagi setelah penis Hari mendahuluinya. Perkiraanku benar: penis Piter serasa meluncur begitu saja dalam vaginaku, jauh dari nikmat. Masih lebih nikmat kocokan dua jari yang bisa berputar-putar di dalam, apalagi dibandingkan dengan Hari.
Untunglah Hari membantu rangsanganku. Tubuhnya berada di bawahku yang nungging menghadap dinding kamar mandi — dikulumnya buah dadaku yang menggantung berayun-ayun di depannya. Inilah yang membuatku mendesah-desah. Hari memegangi tubuhku; kami saling berpelukan dan berciuman sementara Piter masih asyik mengocokku dengan sodokan-sodokan kerasnya dari belakang. Tapi apalah artinya untuk ukuran penisnya — bahkan lebih sering terlepas karena terganjal pantatku.
Mereka membalik posisiku; aku berpelukan dengan Piter dan ganti Hari mengocokku dari belakang. Barulah kini kurasakan nikmatnya. Beberapa kali posisiku berbalik mondar-mandir seperti itu; aku sudah tidak peduli lagi siapa yang akan memenuhi vaginaku dengan spermanya terlebih dahulu.
Mereka menuntunku keluar dari bathtub. Aku kira mereka mau melanjutkan di ranjang seperti tadi malam, tapi aku keliru — justru mereka memintaku jongkok. Dua penis yang berbeda ukuran dan dalam keadaan tegang telah siap di depan mulutku. Kuraih keduanya dan bergantian kukulum penuh gairah. Piter mengisi mulutku dengan spermanya tidak lama kemudian — kutelan habis tanpa sisa, lalu kusapukan ke wajahku. Dia langsung mandi setelah itu.
Giliran Hari — cukup lama mulutku mengocoknya hingga terasa pegal. Akhirnya dia menyemprotkan spermanya di wajahku, diusapkan ke seluruh mukaku, berakhir dengan kuluman membersihkan. Kujilati dan kutelan sisa-sisa sperma yang masih menempel di penisnya hingga bersih. Inilah sarapan pertamaku di Tretes — dua macam sperma yang berbeda rasa dan aroma.
Hanya mencuci muka membersihkan wajahku. Tanpa mandi lagi kukenakan kemeja Hari tadi malam karena setelah ini kami berencana menyusul Ivan dan Nenny ke kolam renang. Bersamaan kami keluar dari kamar Piter; ternyata terpergok Ivan dan Nenny yang sedang menuju kamarnya.
"Eh, kok kalian bertiga keluar dari kamar Piter? Baru bangun lagi siang-siang begini. Dan ke mana si cewek kampung itu?" tanya Nenny.
Kami hanya diam tersenyum tanpa menjawab, tapi kulihat mata Ivan yang menatapku dengan tatapan aneh — mungkin dia menebak apa yang telah kami lakukan.
Karena aku tidak siap untuk berenang, terpaksa kupakai bikini yang semi transparan. Toh mereka sudah tahu isi tubuhku, untuk apa ditutupi lagi? Begitu pikirku, tanpa mengingat bahwa masih ada Ivan dan pacarnya. Lebih dari satu jam kami berenang dan bermain di kolam. Ivan dan pacarnya kembali bergabung dengan kami. Sering kulihat tatapan nakal Ivan yang mengarah ke tubuhku, apalagi aku hanya mengenakan bra semi transparan yang bisa menggambarkan apa di baliknya.
"Piter sudah cerita apa yang terjadi tadi malam. Kapan-kapan aku ingin mencobanya, tapi yang jelas bukan sekarang," katanya pada suatu kesempatan di pinggir kolam, jauh dari pacarnya.
Sehabis makan siang, Hari mengajakku ke kamarnya, disusul Piter. Terjadilah adegan ulangan tadi malam — aku melayani mereka dengan penuh kenikmatan. Kami tidak hanya di ranjang bahkan di kursi dan di atas meja seperti santapan penutup makan siang. Hampir tanpa istirahat aku melayaninya hingga sore; kami hanya keluar kamar untuk makan malam, setelah itu melanjutkan lagi sampai keesokan paginya. Terlupakan sudah keberadaan Ivan dengan pacarnya.
Dengan penuh semangat kuhadapi mereka berdua — baik secara sendiri-sendiri, bergantian, maupun bersamaan. Aku paling menyukai ketika mereka bersamaan mengulum putingku, atau saat satu mengulum puting dan satunya menjilati vagina bersamaan. Sensasinya sungguh luar biasa — tentu hal ini tidak bisa dilakukan kalau hanya bermain dengan satu orang. Dan juga ketika kami bercinta bertiga di pinggiran kolam di tengah dinginnya malam udara Tretes beratapkan langit yang berbintang cerah — suatu momen yang tidak didapat setiap saat. Aku yakin Ivan dan Nenny sudah tahu apa yang kami lakukan selama di kamar bertiga, tapi tentu saja mereka tidak tahu detilnya.
Setelah menghabiskan segala nafsu selama tiga hari dua malam, sorenya kami pun kembali meluncur ke Surabaya mengejar penerbangan terakhir. Piter ingin melanjutkan lagi di Surabaya tapi pekerjaannya menuntut dia berada di Jakarta keesokan harinya. Perjalanan Tretes-Juanda terasa begitu cepat meski kecepatan kami tidak lebih dari 60 km/jam, tapi mulutku terpaksa bekerja sangat keras. Bergantian aku melakukan oral pada mereka di jok belakang mobil. Masing-masing mendapatkan satu kali orgasme dengan semua sperma keluar di mulutku. Kalau saja tidak diingatkan Hari, Piter sudah minta jatah lagi — tapi mobil sudah keluar dari tol; terlalu berisiko kalau melakukan di jalanan umum meskipun kaca filmnya tidak tembus pandang.
Kami mengantar hingga di depan Pintu Keberangkatan; aku berharap tidak ada orang yang memperhatikanku karena mungkin masih ada sisa-sisa sperma di wajah atau rambutku. Setelah mendapat ciuman perpisahan dari aku dan Nenny, dia masuk.
"Thanks atas segalanya. Kita lakukan lagi lain waktu — aku akan sering ke Surabaya," bisiknya ketika aku menciumnya.
Kami pun berpisah ke mobil masing-masing. Ivan dengan pacarnya entah ke mana lagi, sedangkan Hari mengantarku ke tempat kost.
"Ivan ngajak kita main bertiga seperti kemarin — entah besok, entah lusa, di Surabaya aja. Nggak perlu jauh-jauh dan nggak usah nginap, kita lakukan di jam kerja," kata Hari ketika kami meluncur di jalan.
Aku yang sudah merasakan nikmatnya bermain bertiga tentu saja menyambut gembira tawaran ini, tapi tentu saja aku harus bertindak profesional.
"Terserah, tapi jangan mendadak," jawabku mengiyakan. Asal nego-nya cocok, lanjutku dalam hati.
Sebelum sampai di tempat kost, HP-ku berbunyi — dari Koh Toni.
"Aduuh, susah banget dihubungi," katanya tanpa basa-basi. Memang selama di Tretes HP-ku sengaja kumatikan agar tidak mengganggu.
"Sorry, Koh, nggak ada sinyal. Ini baru sampai, belum juga mandi," jawabku bohong. Hari hanya memandangku sambil tersenyum — dia pasti sudah tahu siapa yang menelepon.
"Ya udah, langsung aja ke Shangri-La. Pak Tio udah nunggu tuh. Kemarin dia sama sekali nggak puas dengan cewek yang didapat dari GM-mu, minta aku carikan lagi. Untung kamu udah datang," kata Koh Toni mendesakku.
"Tapi aku masih capek, Koh, besok aja gimana? Aku janji deh," bujukku karena aku masih capek setelah tiga hari melayani Hari dan Piter. Paling tidak perlu semalam istirahat.
"Ly, please tolong aku. Aku nggak mau ngecewain Pak Tio dua kali. Please, temanin dia malam ini, ayo dong sayang," Koh Toni memelas.
Aku diam sejenak, rasa capek masih terasa.
"Oke deh, demi Koh Toni," akhirnya aku mengalah demi kepuasan tamuku — dan yang pasti juga demi uang.
"Gitu dong, aku tunggu di kamar ya sekarang," katanya seraya menutup HP-nya.
"Har, jangan marah ya," kataku tidak enak pada Hari yang masih menyetir.
"Nggak dong, masa gitu aja marah," jawabnya santai. Tentu saja dia tidak boleh marah meskipun ada nada cemburu pada jawabannya — toh dia tahu siapa aku.
"Turunin aku di pom bensin depan itu deh," pintaku.
"Nggak usah ragu, kamu mau ke mana, aku antar sekalian pulang — asal jangan minta diantar kembali ke airport," jawabnya enteng.
"Shangri-La," jawabku. Berarti memang sejalan.
Akhirnya malam itu hingga pagi aku menemani Pak Tio, berpindah dari satu ranjang ke ranjang lain, dari pelukan satu laki-laki ke laki-laki lain — itulah perjalanan hidupku. Pengalaman pertama melayani dua tamu sekaligus ternyata tidaklah seseram yang kubayangkan; justru semakin membuatku ingin mencoba lagi dan lagi. Sensasi yang kudapat sungguh luar biasa, berbeda kalau melayani tamu dengan gadis lain. Kutekatkan keberanianku untuk tidak menolak permainan bertiga seperti ini.
Hingga cerita ini dibuat, permainan bertiga dengan Hari dan Ivan tidak pernah terjadi.