18px

Berbagi Ceria di Mana Saja (Bagian 1)

Berbagi Ceria di Mana Saja (Bagian 1)

"Ly, kita ke Tretes yuk!" terdengar suara Hari dari ujung telepon pada suatu siang.

"Kapan?" jawabku antusias karena sudah beberapa minggu aku tidak keluar kota. Sekalian refreshing, sekalian dapat duit — tarif menginap di luar kota bisa dua sampai tiga kali lipat daripada short time.

"Ntar sore kujemput ke tempat kosmu, gimana? Kita berangkat ramai-ramai," kata Hari, salah seorang langgananku yang sudah seperti teman meski tidak pernah melupakan bisnis.

"Ramai-ramai? Emang sama berapa orang?" tanyaku penasaran.

"Kita tiga orang, tapi yang satu bawa pacarnya sedangkan yang satu lagi masih kosong. Dia baru datang dari Jakarta nanti jam lima sore. Kalau kamu ada teman, boleh juga diajak sekalian, tapi yang bagus dong, minimal kayak kamu lah, ha ha ha."

"Berarti harus lebih cantik dong? Ah, nggak ah — ntar aku dicuekin. Lagian susah nyari orang yang lebih cantik dari aku," jawabku tak mau kalah.

"Oke deh, terserah kamu aja. Yang jelas harus cantik, seksi, tinggi, putih, dan — ah, kamu tahu sendiri deh. Ntar aku jemput jam setengah empat, ke Juanda dulu lalu langsung ke Tretes, oke?"

"Jangan setengah empat, jam limaan gitu lho." Aku mencoba menawar karena jam dua nanti ada tamu di Shangri-La, takut waktunya terlalu mepet.

"Jangan, ntar terlambat; kasihan dia menunggu kelamaan di Juanda."

"Setengah lima deh."

"Oke, tapi carikan temanmu ya."

"Oke, aku carikan. Tapi nggak janji lho, aku kan kurang punya teman," jawabku menyanggupi.

Beberapa teman kucoba hubungi tapi banyak yang sedang off atau sudah ada booking-an. Aku tidak mau mencari lewat GM karena khawatir tidak kenal ceweknya, dan kalau ternyata tidak cocok malah jadi bebanku. Akhirnya aku menyerah — tidak berhasil mendapatkannya.

Kucoba menghubungi Hari untuk melapor, tapi HP-nya selalu sibuk. Sementara itu aku harus segera berangkat ke Hotel Shangri-La menemui tamuku yang sudah buat appointment. Untuk sementara Hari kulupakan — masih ada waktu tiga jam sebelum dia menjemputku, lebih dari cukup untuk sekadar short time.

Perhatianku sepenuhnya kucurahkan pada tamuku ini. Meski belum pernah bertemu sebelumnya, karena dia adalah rekanan bisnis dari Koh Toni — langgananku — yang sedang kuservis, aku harus memberikan servis dan kepuasan terbaik agar langgananku tidak kecewa. Koh Toni menyambutku di lobi hotel. Kami berdua naik ke lantai sembilan menemui rekanan bisnisnya.

Ternyata ada tiga orang di kamar itu. Aku diperkenalkan satu per satu, sementara aku sendiri tidak tahu yang mana yang harus kulayani. Sepuluh menit kami berlima di kamar, lalu satu per satu mereka meninggalkan ruangan hingga tinggallah aku, Koh Toni, dan rekanan bisnisnya yang bernama Tio — inilah tamuku yang sebenarnya.

"Ly, aku tinggal dulu ya. Kamu temanin Pak Tio, ntar kalau sudah selesai hubungi aku di lobi," kata Koh Toni seraya meninggalkan kami berdua.

Sepeninggal Koh Toni kami berbasa-basi sebentar, lalu seperti biasa kami pun berpacu menembus batas, mengejar nafsu dan kepuasan. Detail permainan tidak perlu diceritakan karena ini hanyalah pembuka alur cerita; detailnya ya seperti biasa saja, tidak ada yang istimewa pada diri Pak Tio. Seperti kebanyakan tamuku: besar nafsu, tenaga kurang. Meski kami bermain tiga babak, aku tidak mendapatkan orgasme darinya karena masing-masing babak tidak bertahan lebih dari lima menit — kurang menarik untuk diceritakan.

Kuhabiskan waktu satu setengah jam menemani Pak Tio, lalu kutinggalkan dia sendirian dengan mengantongi beberapa ratus ribu rupiah tips. Aku langsung pulang lewat pintu samping — tak sempat kutemui Koh Toni yang katanya ada di lobi. Seperti biasanya, dia akan mentransfer pembayaran lewat rekeningku.

Di perjalanan pulang, Koh Toni meneleponku.

"Kamu sudah pulang kok tidak bilang-bilang, ada apa?" tegurnya.

"Ah, tidak ada apa-apa. Kata Pak Tio tadi tidak usah nunggu Koh Toni, jadi aku langsung pulang aja. Gimana, dia puas tidak?" jawabku memancing.

"Pak Tio puas banget sama kamu. Dia malah minta kamu temanin dia malam ini, gimana?"

Aku terdiam sejenak, baru teringat ajakan Hari.

"Maaf, Koh, aku tidak bisa. Ntar sore mau ke Tretes sama teman-teman, biasa refreshing," tolakku halus.

"Refreshing mah bisa menyusul, ntar aku ajak ke Bali deh. Inikan ada duitnya." Dia berusaha merayuku.

"Nggak bisa, Koh, ini juga bisnis," aku berusaha menolak halus.

"Sayang deh, padahal dia suka kamu lho. Sampai kapan di Tretes?"

"Entahlah, mungkin besok malam baru balik."

"Ya sudah, kita lihat besok deh, apa dia masih mau." Akhirnya dia menutup telepon.

Sesampai di tempat kos yang hanya berjarak lima belas menit dari Shangri-La, kucoba menghubungi Hari untuk melaporkan kegagalanku mendapatkan teman. Tapi HP-nya selalu sibuk. Pukul empat sore Hari akhirnya menghubungiku. Dia kecewa ketika tahu aku tidak berhasil mendapatkan teman untuk tamunya yang dari Jakarta.

"Wah, sekarang sudah tidak ada waktu untuk hunting," jawabnya pasrah.

"Kita cari aja di sana, kan banyak," hiburku.

"Mana mau dia dengan cewek-cewek di sana, bukan seleranya," jawabnya ketus.

Aku jadi serba salah. Tentu saja aku tidak mau ribut menyalahkan dia karena HP-nya selalu sibuk waktu dihubungi — biarlah kesalahan ini kutanggung saja.

"Ya sudah, kita lihat saja nanti. Kali-kali dia bisa menemukan cewek yang cocok di sana. Aku jemput kamu sepuluh menit lagi, sudah di jalan nih," katanya memutus pembicaraan.

Berempat kami berangkat menjemput kedatangan Piter di Juanda. Aku dan Hari mengendarai Mercedes E320 keluaran terbaru, sementara Ivan dan Nenny — pacarnya — membawa BMW 520. Untunglah selama perjalanan ke Juanda Hari tidak mengungkit-ungkit kegagalanku. Justru dia banyak bercerita tentang Piter: rupanya mereka adalah sahabat karib sejak sekolah di California, begitu pula Ivan — mereka adalah tiga serangkai yang menjalankan bisnis keluarga masing-masing dengan sukses. Di usia relatif muda, awal tiga puluhan, mereka sudah menjadi pengusaha sukses yang bisa berfoya-foya tanpa harus menunggu tua. Hubungan mereka bak saudara: sepiring, bahkan seranjang bersama, berbagi kesenangan dan kesusahan.

Kami tidak perlu menunggu terlalu lama di Juanda. Begitu Piter keluar dari pintu kedatangan, mereka langsung berpelukan, termasuk Nenny yang memberikan ciuman di pipinya. Kedua mobil langsung meluncur ke arah Tretes, berhenti sebentar di Restoran Dewi Sri di Pandaan untuk mengganjal perut, dan tidak lupa membawa bekal agar malam itu tidak perlu keluar vila untuk mencari makan.

Setelah melewati pasar di depan Hotel Surya, mobil belok kanan menyusuri jalan kecil yang hanya muat untuk satu mobil. Lima ratus meter kemudian tampaklah vila yang dituju — vila milik keluarga Hari. Si penjaga vila buru-buru membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali setelah kami masuk. Lampu-lampu yang tadi temaram kini terang benderang. Hari membawa kami menjelajahi kamar-kamar yang ada: semuanya ada lima kamar dengan dua kamar besar, serta kolam renang berbentuk oval yang tidak terlalu besar namun indah.

"Oke, terserah kalian pilih kamar yang mana. Yang jelas aku dan Lily ambil yang depan di sebelah kolam. Pit, kamu kamar yang tempo hari kamu pakai aja biar Ivan dan Nenny bisa bulan madu di kamarnya bokap," kata Hari mengatur.

"Sip. Gue sih kamar mana aja oke, tapi temannya ini gimana?" Piter mulai menanyakan.

Aku dan Hari saling berpandangan.

"Van, kita mau hunting. Kamu terserah, mau ikut apa nggak," kata Hari pada Ivan dan pacarnya.

"Nggak, di sini aja. Lagian ada Nenny," jawab Ivan sambil meringis dicubit pacarnya.

Bertiga kami turun menuju ke diskotek di depan Hotel Surya. Beberapa cewek berdiri di situ menjajakan diri secara terselubung. Beruntunglah aku tidak berada dalam grup itu, batinku.

Dari satu kelompok ke kelompok lain, Piter belum juga menemukan yang cocok dengan seleranya.

"Maumu yang gimana sih?" tanya Hari yang sudah capek berkeliling karena lebih praktis berjalan kaki daripada naik mobil.

"Ya yang kayak cewekmu itu," jawabnya ringan sambil terus memelototi cewek-cewek yang ada.

Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Makin banyak cewek yang datang ke diskotek, makin banyak pilihan, tapi belum ada yang sesuai dengan seleranya. Entah sudah berapa banyak jagung bakar dan bir hitam yang mereka teguk, dan tak terhitung batang rokok yang berceceran di bawah — tapi sang idaman tak juga kunjung didapat.

Mungkin karena sudah kedinginan dan pasrah, atau karena terpaksa, akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada salah satu gadis yang ada di situ. Aku yakin dia terpaksa memilih karena tidak ada pilihan lain — daripada kedinginan sendirian. Kami pun kembali ke vila dengan membawa seorang gadis.

Sesampai di vila, ternyata Ivan dan Nenny sudah masuk ke kamar. Sayup-sayup kami dengar jeritan kenikmatan Nenny dari dalam kamar. Kami hanya tersenyum berpandangan, lalu langsung masuk ke kamar masing-masing. Hari ngomel memaki-maki Piter yang terlalu banyak pilihan — sudah berapa jam waktu terbuang percuma. Aku makin merasa bersalah. Sebenarnya bisa saja Hari memintaku menemani Piter — berarti mengorbankan diri sendiri — tapi itu tidak dilakukannya.

"Kasihan Piter, dia mendapat cewek yang bukan seleranya," kataku pelan sambil melepas sweater dan jins-ku.

"Emang sih, tapi itu di luar rencana," jawabnya tanpa menyinggung kesalahanku tadi siang.

"Har, aku usul nih. Jangan marah ya, janji?" aku memberanikan diri. Dia diam menatapku tajam, lalu menganggukkan kepala.

"Piter kan jauh-jauh dari Jakarta, sedangkan kamu ada di Surabaya. Gimana kalau aku temanin Piter malam ini? Toh kita bisa ketemu kapan saja. Tapi itu terserah kamu sih," kataku, tak berani menatapnya.

Hari diam memandangku makin tajam. Sepertinya ada gejolak di batinnya — entah sedang mempertimbangkan, entah marah.

"Lalu aku harus tidur sama cewek kampung itu?" dengan nada tinggi.

Aku diam saja sambil berpura-pura sibuk melepas braku, menyesal mengajukan usul. Kupeluk dia dan kucium bibirnya.

"Ya sudah, lupakan usulku itu, sayang," kataku sambil melepas baju dan celananya — ternyata dia sudah tidak mengenakan celana dalam.

Aku langsung berlutut di depannya, kuraih kejantanannya yang lemas, kuremas dan kukocok sambil menciuminya untuk membangkitkan gairah yang terpendam sejak tadi. Hari meremas-remas rambutku ketika aku mulai mengocok dengan mulutku. Penisnya yang tidak disunat dengan cepat keluar-masuk menerobos bibirku, ditambah gerakan pinggulnya yang seakan mempercepat kocokannya. Mulutku kewalahan menerima gerakan liarnya; tetesan air liur keluar dari celah bibirku.

Bersambung.......

SebelumnyaDaftar BabSelanjutnya